Seducing Cinderella
by
Gina L. Max well
.
.
.
.
.
Pairing : Kaisoo (Kai x Kyungsoo)
Cast : temukan sendiri :)
Genre : funny, sweet, Romance
Rate : M
.
.
.
.
Awas typo
.
.
.
.
Happy reading
.
.
.
.
.
Berminggu-minggu, bukan bertahun-tahun. Jongin harus mengingatkan dirinya sendiri hanya beberapa minggu ia keluar dari apartemen Kyungsoo. Terasa sangat lama. Kadang, saat ia sendirian di malam hari, berbaring di ranjang ukuran king California-nya yang sekarang anehnya terasa kosong setelah ia senang dengan cara Kyungsoo memeluknya di ranjang queen milik Kyungsoo, ia curiga mungkin semua itu hanya khayalannya.
Tapi ia teringat akan malam terakhir mereka bersama. Bagaimana Kyungsoo meresponnya saat ia bercinta dengan pelan dan lembut yang belum pernah ia lakukan dengan wanita lain. Sepertinya tak akan pernah ia lakukan lagi pada wanita manapun.
Bulan-bulan mereka bersama terasa sangat nyata, dan sekarang kehidupannya tanpa Kyungsoo terasa sangat hampa.
Segera setelah ia pulang ke Vegas, ia langsung tenggelam dalam rutinitas sesi latihannya dan juga beberapa sesi dengan spesialis fisioterapis bersama Kasper. Meskipun pria itu adalah dokter yang handal dan bahu Jongin sudah mendekati sempurna sebelumnya di pertarungan besarnya, ia harus mengekang dirinya sendiri supaya ia tidak membandingkan yang Kasper sudah lakukan dengan teknik milik Kyungsoo.
Ia terus-menerus memikirkan Kyungsoo dan ia mendapati dirinya sendiri menyebut nama Kyungsoo setiap kali ia membuka mulut besarnya. Hingga pada suatu ketika ia memutuskan lebih aman untuk berkomunikasi secara tidak langsung seperti mendengus. Sial, itu berguna untuk orang purba, kenapa ia tidak?
Ini adalah hari sebelum pertarungan. Secara fisik, ia dalam kondisi sangat baik. Ia dalam kondisi fisik yang bagus, bahunya cukup membaik, dan berat badannya saat penimbangan hari ini tercatat 202 pound.
Namun secara mental, ia tak pernah merasa lebih kacau lagi dari sekarang. Normalnya saat mendekati pertarungan yang terlintas dipikirannya adalah bayangan dirinya menyerang lawannya. Tapi yang melintas dipikirannya sekarang adalah bayangan ekspresi terluka milik Kyungsoo saat ia dengan sengaja merenggut jantung Kyungsoo dari dadanya.
Jongin menggeram, rasa frustasinya dengan cepat berubah menjadi kemarahan murni, sampai ia berteriak seperti seorang Sparta yang siap berperang. Ia mengambil medicine ball (bola untuk berlatih) yang ada di kakinya dan melemparnya ke tembok gym dimana ada beberapa teman timnya yang berdiri di samping target imajinernya.
"Woa!" teriak Taemin saat ia terlonjak dari tembok. "Apa masalahmu, Kim?"
Yang seharusnya ia lakukan adalah meminta maaf dan membiarkannya saja. Sayangnya pengukur hal baik sedang rusak tak bisa diperbaiki. "Mungkin kau, Lee" katanya saat ia bertatap muka dengan pria itu.
"Atau mungkin juga kau yang marah karena kau terlalu pengecut untuk mengejar gadis yang selalu kau bicarakan sampai bolamu menjadi nyeri."
Otak Jongin langsung beralih ke mode stand-by saat tubuhnya yang mengambil alih. Hal terakhir yang diingatnya ia luar biasa murka dan memukul pinggul temannya, menjatuhkannya ke karpet dengan raungan keras mengimbangi suara darah yang terpompa di telinganya. Hal selanjutnya yang ia tahu disana banyak tangan-tangan yang menjauhkannya dari Taemin dan pria-pria yang meneriakkan hal berbeda secara bersamaan jadi ia tak tahu dengan jelas.
"Cukup! Hentikan dan mandilah sebelum aku memberi beberapa jam kardio untuk menguras energi kalian." Taecyeon. Akhirnya suara yang menyadarkannya. Jongin menepis beberapa tangan terakhir yang memeganginya dan pergi mengumpulkan barang-barangnya.
"Kim! di kantorku, sekarang."
Jongin berputar dan menatap pelatihnya. "Aku tidak butuh ceramahmu. menenangkanku. Mengerti, pesan diterima. Aku mau pulang."
"Hey! Aku belum memberikanmu pesan yang harus kau terima. Bawa dirimu ke kantorku."
Mengepalkan tangan dan mengeretakkan giginya, Jongin berjalan ke arah kantor pelatihnya dan menjatuhkan dirinya di salah satu kursi tamu. Taecyeon mengikutinya, menutup pintunya dan duduk di samping kursinya, membungkuk ke depan dengan siku di lututnya.
"Apa sebenarnya yang sedang mengganggumu, nak?"
"Aku tak tahu apa yang kau bicarakan," Jongin berkata saat sambil bersedekap. Saat pria tua itu hanya menatapnya, ia menunjuk tangannya ke arah gym. "Aku mencoba fokus dalam pertarunganku dan mereka mengejekku tentang sesuatu. Mereka lebih tahu dari pada itu, Pelatih."
"Aku melihat apa yang terjadi. Kau hampir memotong kepala Taemin dengan medicine ball."
Jongin memalingkan kepalanya, tidak dapat menatap mata biru langit milik lelaki tua itu. Ia tahu ia bertingkah seperti orang brengsek dan ia akan minta maaf pada Taemin nanti tapi Jongin tak tahu apa yang harus ia katakan.
"Jongin." Nada yang Taecyeon gunakan padanya berkata bahwa ia akan menunggu seharian sampai Jongin memberikan apa yang ia mau. Dengan helaan nafas menyerah Jongin mengalihkan perhatiannya kembali ke pelatihn ya. "Saat kau kembali dari Reno aku kagum dengan peningkatan kondisi fisikmu. Aku khawatir tanpa rutinitas normalmu kau akan menjadi lemah di tengah-tengah, tapi kau melakukannya dengan baik dan kau kembali pada kami sesehat kuda dan sekuat sapi jantan."
"Tapi secara mental " Taecyeon menggelengkan kepala dan berdecak beberapa kali. "Secara mental kau kembali dengan sedikit bersikap aneh, dan aku punya kecurigaan ini pasti berhubungan dengan fisioterapis wanita yang bersamamu. Apa aku benar?"
Jongin tidak tahu bagaimana menjawabnya atau dimana memulainya. Jadi ia tidak menjawab.
"Oke, baik. Aku akan mengatakan yang kukira," kata Taecyeon, bersandar dengan tangan terlipat di dadanya. "Kau jatuh cinta dengan gadis DO itu, tapi kau memutuskan bahwa kau tidak cukup baik untuknya, jadi bukannya mengatakan apa yang kau rasakan tapi kau mungkin malah mengatakan atau melakukan sesuatu yang mengacaukannya sebelum kau kembali ke sini. Seberapa dekat perkiraanku?"
Menekan kakinya, Jongin menggeser tangan yang masih berada di wajahnya lalu mengaitkannya di belakang leher. "Tepat sekali."
"Kupikir juga begitu," kata Taecyeon, bangkit dari kursinya. "Jadi apa rencanamu?"
Jongin menjatuhkan tangannya dan menyipitkan mata pada pelatihnya. "Apa yang membuatmu berpikir aku punya rencana?"
"Kau tak pernah pergi dalam pertarungan atau masalah tanpa rencana." Taecyeon menaikan pinggulnya ke meja dan mengeluarkan permen mint lalu mengganti dengan rokok ke mulutnya. "Tapi jika caramu bertingkah sebagai indikasinya, rencanamu pastilah buruk."
"Apa sebenarnya maksudmu?"
"Seperti yang kubilang. Ketika kau punya keyakinan pada rencanamu kau tak akan bersikap berbeda seperti kau yang biasanya. Rencana kita pada pertarungan sangat kuat. Tapi kau tetap mengacaukannya. Ergo (Tapi) "
Jongin menaikkan alisnya. "Apa kau benar-benar berkata 'ergo'?"
"Ya, aku mengatakannya, sok pintar ergo, rencanamu buruk."
Jongin tak dapat membantah logika pria itu. Dia benar. Saat Jongin memiliki rencana yang bagus, tak ada yang dapat mengganggunya. Bukan trik menyesatkan yang dilemparkan lawan padanya di media, bukan cedera yang ia tahu bisa ia sembuhkan setelah pertarungan, tidak ada.
"Rencanaku buruk karena aku tak punya satu pun. Tak peduli apapun yang kucoba aku tidak menemukan solusi untuk membuat kami bahagia."
Taecyeon menggosok janggutnya saat ia sedang memikirkan tentang —well, apapun yang sedang ia pikirkan. "Hmm. Ya, aku bisa melihat bagaimana itu bisa mengganggumu."
Jongin melangkah kearah jendela interior kantor dan menatap keluar pada segala hal yang telah menjadi bagian dalam hidupnya selama yang bisa ia ingat. Ring untuk bertarung, alas untuk bergulat, padded dummies (sasaran pukul buatan), samsak, angkat beban, dan mesin kardio. Perasaan ketidakacuhan menetap di tengah dadanya seperti beban berat. Ia merasakannya akhir-akhir ini saat masuk ke gym. Bahkan bukan bau yang familiar dan suara yang membawa ketertarikan seperti biasanya.
Ia mengangkat bahu, merasakan ketegangan di bahunya. "Yang sudah ya sudah, Taecyeon. Kyungsoo tidak akan cocok dengan kehidupan ini. jika aku membawanya kedalamnya, ia akhirnya hanya akan pergi. Ia layak mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku. Lebih baik dari seorang petarung."
"Oh,Tuhan." Taecyeon kembali ke kursinya dan menunjuk satu kursi untuk Jongin. "Duduklah." Terlalu lelah untuk berdebat, Jongin melakukan seperti yang ia bilang. "Sekarang aku ingin kau mendengarkanku baik-baik. Aku yakin kau tahu sebelumnya, tapi aku tak pernah mengatakannya secara langsung, jadi begini: Kau tau aku dan Soohyun tidak dapat memiliki anak sendiri. Sial, itulah kenapa ia seorang guru dan aku memutuskan untuk mengurus anak muda sepertimu."
"Sekarang aku peduli pada semua petarungku jika aku tidak, mereka akan keluar dan mencari pelatih baru tapi kau sudah lama bersamaku, dan kau sudah seperti anakku sendiri. Dan tidak ada anakku yang punya citra diri sebegitu kacaunya. Itulah yang ayahmu katakan padamu, yang terjadi terjadilah, dan itu semua adalah omong kosong."
"Taecyeon, sebelum aku datang dia sudah setengah jatuh cinta pada ahli bedah ortopedi. Pria itu mengajaknya berkencan dan menginginkan lebih. Dia punya uang, tampang menarik, dan memiliki kesamaan dengannya.
"Jadi?"
"Jadi aku sudah datang sebagai pihak yang tidak diunggulkan! Dalam skema besar apa yang wanita cari dari seorang pria, Dr. brengsek itu menang telak."
"Di atas kertas. Dia hanya menang di atas kertas, nak." Taecyeon condong kedepan dan tersenyum. "Apa yang selalu kukatakan padamu, kartu truf apa yang harus dimiliki dalam setiap pertarungan?"
Jongin membalas tatapan tajam pelatihnya dan mulai melihat secercah cahaya diujung lorong panjang yang gelap dimana dia berada selama berminggu-minggu ini. "Hati. Setiap petarung dapat menang melawan rintangan apapun jika ia lebih memiliki hati dibanding lawannya."
Taecyeon menepuk bahunya dan duduk kembali dengan seringaian puas. "Tepat. Dan kau tidak hanya memiliki hati, nak, aku bertaruh kau juga akan mendapatkan gadis itu, jika kau menginginkannya. Tapi itu terserah padamu. Sekarang, pulang dan istirahatlah. Apapun yang kau putuskan kau masih tetap punya pertarungan besok dan aku ingin pikiranmu fokus atau kau akan kalah. Mengerti?"
"Ya, Sir," jawabnya sambil berdiri. Saat ia membuka pintu pelatihnya memanggil namanya.
"Apapun yang terjadi, aku disini untukmu. Semoga berhasil, nak."
Itu terdengar normal. Setiap orang mendengar berapa kali dalam hidupnya. Tapi, ini seakan pertama kalinya Jongin pernah mendengar kata-kata itu.
Ia mencoba bicara atau berguman "terima kasih" pasti sudah cukup tapi tenggorokannya benar-benar tercekat, belum lagi matanya yang mulai berair. Sebelum ia benar-benar menangis ia memberi pelatihnya anggukan singkat dan menutup pintunya.
.
.
.
.
Jongin menduduki kursi secara terbalik dengan pergelangan tangan ditopang pada sandarannya saat Kasper membalut seputar tangan dan jarinya dengan perban atletik, menyiapkan pertarungannya dengan Sanchu.
Semalaman dan hampir seharian ia mencari tahu apa yang harus dilakukannya tentang situasinya dengan Kyungsoo. Beberapa jam yang lalu ia sudah membuat keputusan. Keputusan yang tak bisa ia putuskan beberapa bulan yang lalu, tapi ketika Jongin sudah mengambil keputusan dia jadi begitu tenang.
Ketukan pintu terdengar dan Kasper menatap Jongin. Beberapa petarung benci ada gangguan sebelum bertarung. Jongin tak pernah menjadi orang yang butuh menenggelamkan diri dengan musik yang meledak ditelinganya saat ia melompat-lompat disekitar ruangan, mempersiapkan diri. Ia lebih seperti ular yang bersembunyi di rerumputan. Diam, sabar, dan intropeksif sampai pintu cage tertutup di belakangnya dan itulah saatnya untuk beraksi.
Jongin mengangguk ke arah Kasper yang kemudian memanggil orang itu untuk masuk.
Beranggapan bahwa itu salah satu rekan setimnya yang ingin nongkrong diruangan itu dengannya, ia tidak mendongak. Tapi pada saat suara pertama dari pria itu, kepala Jongin mendongak saat melihat ayahnya berdiri di pintu masuk, meremas topi kotak-kotak di tangannya.
"Hei," kata Jongkook sebelum membersihkan tenggorokannya. "Aku tak bermaksud mengganggumu, tapi aku hanya ingin kau tahu aku disini, jadi..."
Kasper merobek gulungan plester dan mengencangkan ujungnya dengan beberapa tepukan keras. "Kau sudah siap, Kim. Kau punya waktu kurang lebih setengah jam." Melirik ayah Jongin, Kasper menambahkan, "Aku akan mengatakan pada timmu untuk menunggu di luar aula."
"Terima kasih Kasper." Ia menunggu pintu tertutup sebelum berdiri dan melihat pria yang belum pernah datang dalam pertarungan profesional Jongin sebelumnya. "Kenapa kau disini, Kim?"
"Dengar, jika kau ingin aku pergi "
"Bukan itu yang kumaksud. Aku hanya ingin tahu...kenapa baru sekarang?"
Sikap defensif Jongkook terpancar darinya, bahunya agak membungkuk, matanya yang ada di bawah topi sangat tersiksa di tangannya yang menua. Setelah beberapa saat, laki-laki tua itu mendesah, menggosok belakang kepalanya dengan tangan, dan menatap Jongin.
"Saat ibumu pergi, aku merasa ia merenggut jantungku dan mebawa pergi bersamanya. Aku bertekad untuk tidak akan pernah mencintai siapapun lagi. Dan kurasa termasuk padamu." Dengan berat Jongkook berjalan di salah satu sofa dan duduk. "Aku luar biasa marah padanya, dan melihatmu sama seperti..."
Jongkook menggelengkan kepalanya seperti sedang bicara pada diri sendiri untuk tidak mengutarakan pikirannya, tapi terlihat jelas apa yang ingin diucapkannya. "Kurasa aku berpikir jika aku cukup keras padamu sampai kau membuktikan teoriku benar dan menyerah —sama seperti saat dia menyerah dengan kita."
Jongin menduduki kursi yang tadi dipakainya, takut bahwa tanpa dukungannya, ia akan jatuh karena syok. Tak pernah sekalipun ia berpikir akan pernah membicarakan hal ini dengan ayahnya. Meskipun Jongin selalu mengira alasan kelakuan ayahnya, untuk mendengarnya secara langsung darinya hampir seperti mimpi.
Kekuatan merembes di tubuh kekar ayahnya, dan dengan rahang terkatup dan mata coklatnya terkunci pada Jongin, keteguhannya sangat terasa. "tapi apapun yang pernah kulakukan, kau tak pernah menyerah. Dan aku sangat menghormatimu karenanya."
Jongin menolak menyadari rasa menyengat dibalik matanya, tapi itu lebih sulit untuk memecahkan es yang mengubur perasaan untuk ayahnya bertahun-tahun yang lalu. "Kurasa aku mendapatkannya dari ayahku dalam hal itu."
Ayahnya menelan dengan susah dan berkedip beberapa kali sampai cairan yang menyelubungi matanya tidak ada lagi disana. Lalu ia berdiri dan memakai topinya yang sekarang sudah kusut di kepalanya. "Mungkin saat kau ada di kota, kita dapat minum bir atau apapun."
Bersosialisasi dengan ayahnya? Ide itu mengherankan. Saat ia tidak menjawabnya, pria itu melangkah ke pintu berkata, "Atau tidak, terserah. Itu hanya ide "
Jongin berdiri dengan cepat dari kursi. "Aku menyukainya."
Jongkook menarik pintu sedikit dan melihat ke belakang dengan sesuatu yang hampir seperti kelegaan, lalu menutupnya dengan anggukan kaku pada Jongin. "Semoga berhasil malam ini."
"Terima kasih, Kim."
Jongin tidak yakin sudah berapa lama ia berdiri sendiri di ruang itu setelah kepergian ayahnya, tapi mungkin sudah beberapa lama karena rekannya sudah masuk dan memberitahu bahwa ini waktunya memakai sarung tangan dan keluar.
Berpikir bahwa ia pasti sedang tersesat kedalam suatu lamunan twilight zone, Jongin berbalik ke salah satu temannya dan berkata, "Pukul aku." Ketika yang ia peroleh hanyalah alis yang terangkat sebagai balasan, Jongin menepuk perutnya dengan kedua tangannya. "Ayolah!"
Pria itu hanya mengangkat bahu dan memukul perutnya sekali. Ia sudah bersiap, tapi Minho memiliki pukulan sekeras palu godam jadi tetap saja membuat udara keluar dari paru-parunya. Tidak. Sungguh-sungguh bukan mimpi. Menggosok perutnya, Jongin bersungut-sungut, "Terima kasih. Kurasa."
"Kapanpun, man. Kau sudah siap?"
Jongin mengangguk dan menerima sarung tangan merah untuk dipakainya. Saat ia berjalan di lorong panjang ke arena dan teriakan penonton, Jongin merasa seperti sudah menang di pertandingan malam ini. Ayahnya sudah menawarkan semacam rekonsiliasi dan berkata ia bangga padanya. Sangat-luar-biasa.
Sekarang yang tersisa hanyalah memenangkan pertarungan melawan Sanchu dan bicara dengan Kyungsoo. Terlihat cukup mudah, tapi keduanya akan jadi pertarung sekali seumur hidupnya dengan caranya sendiri. Satu, ia bisa bertahan menghadapi kekalahan. Kekalahan melawan petarung lain akan menghancurkan Jongin sepenuhnya, membuatnya jadi patah.
Tapi seperti kata ayahnya, Jongin bukanlah orang yang mudah menyerah, dan kemenangannya praktis melampaui kekalahannya. Jadi ia melakukan apa yang selalu ia lakukan. Ia bertarung seakan hidupnya dipertaruhkan. Karena kali ini, itu mungkin benar.
.
.
.
.
.
.
.
T.B.C
