'MY CUTE LITTLE JEON'
Cr. Pledis Ent, SM ent, Plan A Ent.
Kim Mingyu
Jeon Wonwoo
Kim Namjoo (Mingyu's nuna)
Kang Seulgi (Wonwoo's nuna)
others.
Meanie
"Wonwoo!". Panggil seorang bocah bermata sipit dengan pipi gembil saat Wonwoo baru saja masuk kelas.
Bibir mungilnya yg sedari tadi terkatup rapat kemudian mengulas senyum. Tangan si sipit tak hentinya melambai pada Wonwoo. Wonwoo memberi salam pada wali kelas yg duduk didepan kelas dan berjalan menghampiri bocah sipit itu.
"Selamat pagi Soonyoung...". Sapa Wonwoo kalem kemudian mengambil tempat duduk disamping Soonyoung.
"Pagi juga! Siap untuk hari ini Woo?".
Wonwoo mengangguk. Kemudian Soonyoung kembali sibuk menyapa semua teman satu kelasnya. Bocah disamping Wonwoo itu memang sama sekali tidak bisa diam. Hingga bocah lain yg Wonwoo tau bernama Hansol duduk disampingya.
"Selamat pagi Hansol." Sapa Wonwoo.
Bocah itu menoleh pada Wonwoo dan tersenyum.
"Pagi juga... eung... Wonwoo?". Balasnya ragu-ragu.
Wonwoo mengangguk. Dia tidak kaget ataupun marah saat teman sekelasnya sendiri selama dua tahun itu tak mengenalinya, dia terlampau pendiam dan tidak mencolok untuk dikenali.
Berbanding jauh dengan Soonyoung.
Saat Wonwoo lihat bocah bermata sipit itu tau-tau sudah duduk dipangkuan bu guru Yoon. Soonyoung berceloteh dengan riang dan ibu Yoon mendengarkannya dengan antusias.
Hari ini adalah hari wisuda kindergarten mungil itu. Semua wali murid datang, seharusnya. Tapi Wonwoo diantar oleh supir dan bocah Kindergarten itu menolak untuk ditemani.
"Hari ini yg datang hyung kesayanganku yg pernah kuceritakan itu Woo... Aku senang sekali! Padahal kemarin ketika kuminta dia datang dia hanya diam, ku kira dia tak mau datang...". Celoteh Soonyoung saat acara sudah dimulai dan semua diminta kembali ke tempat duduk masing-masing.
Wonwoo hanya mengangguk-angguk.
Ngomong-ngomong soal hyung kesayangan, kemarin ahjusshi tampan bertaring yg beberapa hari terakhir menjaganya menanyakan tentang tgl wisudanya. Wonwoo menjawab dan ahjusshi itu tidak bicara lagi. Wonwoo tak berharap dia akan datang, walau sebenarnya dia ingin ditemani seseorang yang menurutnya berharga seperti Soonyoung.
"Kalau kau, siapa wonwoo?".
Wonwoo menoleh pada Soonyoung lalu menatapnya tidak mengerti. Soonyoung menggeleng-geleng.
"Kau tak dengar? Siapa yg akan datang hari ini untukmu Woo?".
Bocah bersurai hitam legam itu tampak berfikir sebentar lalu menggeleng. Mata sipit Soonyoung melebar.
"Aku serius!". Pekiknya yg membuat sebagian anak menoleh padanya. Soonyoung meringis lalu kembali menghadap Wonwoo.
"Aku tidak bercanda... mamaku sangat sibuk, dan aku tidak mau ditemani paman Kim."
Paman Kim adalah supir yg selalu mengantar Wonwoo kemana-mana, Soonyoung tahu itu. Wonwoo terdiam lagi lalu melihat buku berisi lagu perpisahan yg nanti akan mereka nyanyikan. Soonyoung terkadang merasa dirinya sangat kesepian dan sendiri karena ayah ibunya sudah meninggal. Tapi, setidaknya dia hidup di panti asuhan bersama anak-anak lainnya. Melihat Wonwoo yg seperti itu membuatnya sangat bersyukur.
Wonwoo masih memiliki ayah dan ibu tapi dia tak pernah terlihat senang. Kemana-mana bersama supirnya.
Yah walau beberapa hari kemarin bersama ahjusshi tampan yg punya gigi vampir itu.
Tapi mungkin itu yg membuat Wonwoo menjadi sangat kaku dan tidak menyenangkan menurut Soonyoung. Soonyoung tau mama Wonwoo sibuk, tapi ini hari kelulusan.
Soonyoung menatap Wonwoo yg masih sibuk menghafal.
Apa Wonwoo tak pernah protes pada mamanya?
Semua berdiri diatas panggung untuk menyanyikan lagu perpisahan. Soonyoung senang karena dia berdiri paling depan dan menemukan hyung kesayangannya ada dibarisan para orang tua yg sibuk merekam putra-putri mereka.
Setelah acara selesai semua anak berpencar menemui orang tua mereka masing-masing karena setelah ini akan ada foto bersama wali murid.
Wonwoo tak ingin ikut, dia akan menelpon paman Kim untuk menjemputnya sekarang. Walau sebenarnya jauh didalam hatinya dia menangis iri melihat teman-temannya. Bahkan iri melihat Soonyoung yg bisa tertawa bahagia walau tak bersama orang tuanya. Namun tak setitikpun air matanya jatuh. Terlalu sering.
Piagam siswa teladan digenggamnya erat-erat. Piagam itu diterimanya dipanggung tadi ditemani oleh bu guru Yoon yg tau dia datang sendiri.
Baru saja telfonnya terhubung dengan nomor paman Kim. Seseorang menyentuh bahunya.
"Emm... Wonwoo... ".
Wonwoo menoleh dan melihat teman sekelasnya, Arin berdiri didepannya dengan wajah merona.
"Ya?". Sahutnya.
"Kau... dicari oppa itu!". Ungkap Arin sambil menunjuk kearah gerbang sekolah mereka.
Mata Wonwoo menatap kearah yg ditunjuk bocah cantik itu dan menemukan seseorang dengan mantel hitam melambaikan sebuket bunga.
Senyum orang itu merekah semakin cerah saat tau bocah mungil yg dicarinya itu berjalan kearahnya.
"Selamat untuk kelulusanmu, Wonwoo...". Ucap Mingyu sambil jongkok menyamakan tingginya dengan Wonwoo. Namun bocah mungil itu hanya menunduk dengan kedua tangan yg terkepal.
"Wonwoo...".
Bukannya mendapat jawaban, Wonwoo malah menubruk Mingyu dan melingkarkan kedua lengannya di leher Mingyu erat-erat. Mingyu panik mendapat serangan tiba-tiba itu.
"Wonwoo... kau... Kau tak apa?!".
Wonwoo mengangguk-angguk.
"Terimakasih..." . Ucapnya lirih.
Senyum hangat kemudian muncul di bibir Mingyu, kedua lengannya membalas pelukan Wonwoo erat. Telapak tangannya yg besar mengelus rambut halus Wonwoo.
"Ayo kita pulang dan masak makanan kesukaanmu...". Ajak Mingyu.
Bocah yg masih ada dipelukannya itu mengangguk lagi. Karena si mungil tidak segera melepaskan pelukannya, sekaligus dia juga tak mau, akhirnya Mingyu membawa Wonwoo kedalam gendongannya.
"Ini... kubelikan untukmu...". Ucap Mingyu sambil memberikan buket bunga yg tadi dibawanya. Wonwoo menerimanya dengan satu tangan karena tangan yg lain masih membawa piagam siswa teladan dan juga ijazahnya.
"Hei... apa ini?" Tanya Mingyu.
Wonwoo menoleh ke arah Mingyu.
Dan langsung menghadap ke wajah pemuda bertaring itu. Berhadapan langsung dengan wajah mempesona Mingyu. Bocah itu langsung memalingkan wajahnya.
Bocah belum genap enam tahun itu merona.
"Woo?".
"Piagamku! Mm... sebagai murid teladan..." jawab Wonwoo kemudian tanpa menghadap Mingyu.
"Wahhh... kau hebat sekali! Kau harus mendapatkan hadiah... katakan kau ingin apa!"
Heboh Mingyu sambil membuka pintu mobilnya dan mendudukkan Wonwoo dibangku sebelah sopir.
Bocah itu menggeleng.
"Oh ayolah wonwoo... sekali-kali kau boleh minta sesuatu padaku...". Coba pemuda itu lagi.
"Tidah ahjusshi... nanti aku bisa minta pada mama...".
Mamanya akan memberikan apapun yg dia minta. Apapun itu. Kecuali satu.
Waktu.
Pemuda yg sedang menyetir itu mendengus.
Mereka melewati cafe milik Mingyu. Dan Wonwoo melihat cafe itu tutup.
"Ahjusshi... kau tidak bekerja?". Tanyanya penasaran.
"Kututup lebih awal... Aku harus datang ke wisudamu kan?".
Wonwoo terdiam.
'Andai mama juga melakukan hal yg sama...'
Bocah itu menatap Mingyu dalam-dalam. Lalu tersenyum diam-diam. Setidaknya Wonwoo bahagia sekarang. Walau dia tau suatu saat nanti Mingyu juga pasti akan meninggalkannya. Sama seperti apa yg ayahnya lakukan padanya dan mamanya dulu.
"Aku tau aku tampan bocah...".
Astaga, Mingyu menggoda seorang bocah.
Wonwoo terkesiap dan menatap ke arah lain.
"Aku tidak sedang melihat ahjusshi!".
"Siapa yg bilang kau melihatku? Aku cuma bilang kalau aku tampan...".
Bocah itu tak bisa menjawab lagi dan hanya mengerucutkan bibirnya imut membuat Mingyu ingin mengecupnya.
Pikiran mu, gyu!
Thanks you very much!
Love You alll!
See you all in the next chapter,
oh fyi,,,
i'll post once on ameek, but this week is an speciall week, for my debut, hehe,,,
Once again, Thanks!
Mikhaela
