My Cute Little Jeon

Pledis Ent, SM Ent, BigHit Ent, Plan A Ent.

Jeon Wonwoo

Kim Mingyu

Kang Seulgi (Wonwoo's Mom)

Choi Seungcheol

Kim Taehyung

MEANIE


Suasana makan malam di rumah besar itu lengang, seperti biasa.

Tak ada keributan, yang terdengar hanya sesekali denting suara sendok, sumpit dan alat makan lain yang saling berbenturan ringan.

Dan juga suara lirih nyonya rumah yang meminta tambahan air minum untuk gelasnya.

Kang Seulgi menyuapkan makanannya dengan tenang. Dihadapannya ada putra satu-satunya yang juga sedang menghadap makanannya.

Hanya menghadapnya, memainkannya dengan sumpit, tanpa menyuapkannya.

Semua pelayan disitu tak ada yang berani menegur.

Hingga sang ibu sendiri yang mengetahuinya.

"Kau sakit?".

Bocah kecil itu menggeleng.

"Makanannya tidak enak?".

Gelengan lagi yang didapat.

"Kau sudah diajarkan bagaimana mengutarakan keinginanmu dengan jelas." Ucap Seulgi tegas sambil mengelap bibirnya.

Dia kehilangan selera makannya melihat piring utuh sang putra.

"Ingin menanyakan sesuatu Mama," ungkap Wonwoo lirih, tapi tertangkap jelas di telinga Seulgi.

Helaan nafas panjang terdengar.

"Tidak di meja makan, Jeon Wonwoo."

Ada getaran tersembunyi setiap Seulgi menyebutkan nama putranya sendiri.

Getaran tak menyenangkan yang tak boleh disadari oleh siapapun.

"Kau lanjutkan makanmu, pastikan piring dan gelas susumu kosong, nanti aku akan datang kekamarmu,"

Tak ada bantahan.

Seulgi lalu bangkit dari duduknya.

Melenggang pergi kembali ke kamarnya.

Jarang ada waktu yang diberikan Seulgi untuk Wonwoo, walau hanya sekedar duduk sejenak dan bicara beberapa patah kata.

Mereka dekat, tapi terlalu jauh.

Wonwoo menyuapkan makanannya tanpa semangat.

Mengingat-ingat saat yang sudah-sudah Seulgi menjanjikan mereka untuk bicara sebentar, tapi selalu berakhir dengan Seulgi yang sudah terpulas dengan wajah lelah di ruang kerjanya.

Wanita cantik yang dipanggil mama itu sudah melakukan banyak hal untuk Wonwoo, untuk mereka berdua.

Hingga tak tahu apa yang sedang diinginkan putranya.

Kebodohan yang terlalu klise untuk seorang single parents, yang sayangnya tak bisa di terima buah hatinya dengan benar.

Seulgi melangkahkan kaki ke arah pintu setengah terbuka berwarna baby blue bertuliskan Wonwoo's.

Jemari kurusnya menggenggam kenop pintu perlahan, untuk membukanya lebih lebar.

Tapi gerakannya terhenti melihat ada seorang bocah mungil yang sedang melompat-lompat kecil di depan almarinya untuk mengambil piyamanya.

Sendiri, tanpa menggerutu, tanpa mengeluh.

Genggaman Seulgi pada kenop pintu mengencang.

Ada dorongan kecil di dalam hatinya untuk masuk dan mengambilkan piyama yang ada di rak atas itu.

Tapi ada sesuatu lain di hati kecilnya untuk membiarkan.

'Kau bisa minta tolong bibi Ahn.' Batin Seulgi.

"Mmm, akhir-akhir ini tuan muda sudah tidak mau dibantu untuk melakukan semuanya, dia ingin melakukan semuanya sendiri."

Seulgi tercekat, sesuatu mengikat tenggorokannya, melarangnya untuk bisa bernafas dengan benar.

Dan tanpa membuat suara Seulgi membalikkan tubuhnya, meninggalkan kamar bernuansa biru lembut itu, tanpa berkata sepatah katapun.

"Panggil bibi Ahn dan paman Kim ke ruanganku, sekarang." Ucap Seulgi dibalik telepon.

Tak lama kemudian dua orang pelayan yang dipanggil Seulgi datang.

"Wonwoo bilang tak mau dibantu untuk melakukan segala hal." Ucap Seulgi.

Suara seraknya karena terkena dingin tak mengurangi wibawanya sama sekali.

"B-benar, Nyonya." Sahut bibi Ahn takut-takut.

"Dan kau langsung menurutinya."

Bibi Ahn mengangguk lagi.

"Kau tak melihat seberapa tingginya benda-benda yang ada di kamar putraku? Apa yang akan terjadi jika dia memaksakan dirinya dan melompat terlalu tinggi dan terjatuh? Kau tak pernah berfikir sampai segitu kah?"

Wanita paruh baya itu semakin mengkeret melihat murka nyonya rumahnya yang tak biasa itu.

Ditambah tatapan tajam Seulgi.

Seulgi menghela nafas berat lalu ganti menghadap pada laki-laki yang berdiri di samping bibi Ahn.

"Paman Kim, aku ingin renovasi penuh untuk kamar Wonwoo. Kau sesuaikan semua perabot dan benda yang ada disana dengannya. Tanyakan padanya dia ingin ganti warna atau tidak. Dan aku tak mau terlalu lama. Wonwoo sudah melihat kamar barunya besok sepulang dia dari sekolah. Jelas?"

Laki-laki paruh baya itu mengangguk jelas, lalu Seulgi membiarkan kedua orang itu meninggalkan ruangannya.

Seulgi memijat keningnya sebentar lalu menghadap laptopnya yang memberi peringatan e-mail baru dari sekretaris eksekutifnya.

Melupakan sosok mungil yang terkantuk-kantuk menunggunya di kamar.


Pagi-pagi sekali Wonwoo membuka matanya, tubuhnya terbaring dengan selimut menyelimuti, padahal seingatnya semalam dia masih duduk terkantuk kantuk ditepian tempat tidur.

Wonwoo menatap pintu kamarnya sedih.

Mamanya tak datang lagi.

Bocah itu mendengar deru mobil dari garasi, lalu berlari kecil mengintip dari jendela besar kamarnya.

Melihat mobil kerja mamanya bergerak meninggalkan halaman.


"Jeon Wonwoo tidak punya ayah." Ucap sebuah suara di tengah jam istirahat.

Wonwoo sedang menikmati makan siangnya tanpa gangguan hingga suara menyebalkan itu hinggap di telinga bocah kecil pendiam itu.

Jeon Wonwoo menghentikan suapannya sejenak lalu kembali menyuapkannya dengan tenang seakan tak ada apapun yang terjadi.

"Dan mamanya sangat membencinya, kalian lihat, kan? Setiap hari yang mengantar jemputnya hanya sopir."

Suara menyebalkan itu berdengung lagi ditelinganya.

Genggamanya di sumpit mengetat, tapi tak ada pergerakan berarti yang dibuatnya.

Seakan dia sudah terlatih untuk itu.

Dengan gerakan tidak peduli Wonwoo hampir meraih karton jus jeruknya.

Hampir, karena sebuah tangan lain mendahuluinya.

"Berikan ini padaku, dan aku akan membuat mereka diam."

Wonwoo mengedipkan matanya sekali dan melihat seorang bocah lain berdiri dihadapannya.

"Tidak perlu, mereka akan diam sendiri jika lelah." Ucap Wonwoo tak peduli.

Tangan mungilnya masih berusaha meraih minumannya.

Tapi pemilik suara yang bahkan baru Wonwoo dengar itu menjauhkannya lagi.

"Aku yang mual mendengar perkataan mereka."

Wonwoo menatap sebal ke arah bocah itu, melirik name tag didadanya.

Menemukan nama Choi Seungcheol.

Lalu melihat badge di lengan kirinya.

Tiga garis warna merah. Kelas tiga.

'Apa urusan anak ini denganku?'

Bocah bermata rubah itu lalu terdiam dan membiarkan Choi Seungcheol melakukan apa yang diinginkannya.

Terdengaran pekikan keras dari arah suara menyebalkan yang menghinanya tadi datang.

Gadis kecil pemilik suara menyebalkan itu basah kuyup oleh jus jeruk milik Wonwoo.

Membuat Wonwoo terkejut dan langsung bangkit mendekati mereka.

"Apa yang kau lakukan, sunbae?"

Bisikan-bisikan lalu muncul disekitar mereka.

"Aku? Membuatnya diam tentu saja." Sahut Seungcheol tak peduli.

Gadis kecil dihadapan Wonwoo itu mulai terisak.

Wonwoo tak tahu apa yang harus diperbuat, karena bukan dia yang berbuat.

Tapi secara tidak langsung, dia yg melakukannya.

"Kau tak apa?" tanya Wonwoo yang langsung membuat Seungcheol berdecih.

"Akan ku adukan pada ibuku." Desis gadis itu lirih.

"Aku-"

"Biarkan saja. Kau itu kenapa sih. Biar dia dan mulut pedasnya mendapat balasan" potong Seungcheol.

'Itukan Choi Seungcheol dari kelas 3-A!'

'wah,,, apa yang dilakukan gadis malang itu?'

'dan siapa dia yang berdiri disamping Seungcheol?'

"Hei, hei.. apa yang terjadi?"

Sebuah suara lembut membungkam semua suara disitu.

"Ah, seongsaengnim."

Taehyung lalu membungkuk menjajarkan tingginya dengan yang basah kuyup.

"Kau basah kuyup begini, apa yang terjadi?" tanya Taehyung hangat.

"S-sunbaenim itu menyiramku tiba-tiba. Aku bahkan tak melakukan apapun. Hiks."

Jari gadis itu menunjuk Seungcheol takut-takut.

Wali kelas Wonwoo itu menghela nafas panjang dan ganti menghadap ke arah Seungcheol.

"Benar, Choi Seungcheol?"

Mata Seungcheol menyipit tajam ke arah gadis yang barusan mengadukannya itu.

"Benar hingga bagian aku menyiramnya tiba-tiba, Seongsaengnim. Aku tak kan melakukannya jika dia benar-benar tak melakukan apa-apa yang menggangguku." Desis Seungcheol.

"Aku tetap akan mengadukanmu ke wali kelasmu sayangnya. Dan Jeon Wonwoo, kau ikut ke ruanganku. Aku akan menyuruh guru piket untuk mengantarkan Jennie pulang."


Mata Kim Taehyung menerawang keluar jendela ruangannya.

Lalu helaan nafas dalam keluar perlahan dari mulutnya.

"Kau boleh mengatakan hal-hal yang mengganggumu Jeon Wonwoo."

Wonwoo hanya mengeratkan genggaman tangannya.

"Tak apa, kau boleh mengatakannya."

"Tidak ada seongsaengnim. Tak ada yang menggangguku."

Taehyung sudah mengira akan susah berhadapan dengan anak pendiam seperti Wonwoo.

Tapi kasus Wonwoo benar-benar berbeda.

Taehyung benar-benar tak bisa membaca apa yang dipikirkan anak kelas satu elementary school itu.

Sebenarnya, selain Taehyung mengkhawatirkan Wonwoo, Taehyung juga mengkhawatirkan kekasihnya.

Setelah pertemuannya dengan Wonwoo, entah mengapa Jungkook menjadi sering melamun.

Dan sekali kemarin, Jungkook menanyakan tentang Wonwoo padanya.

Jungkook beralasan, Wonwoo sangat mirip dengan seseorang.

Dan Taehyung tak berani bertanya lebih dalam karena Jungkook langsung mengalihkan pembicaraanya cepat.


"Kudengar dari paman Kim kau dipanggil wali kelasmu, Woo?".

Sore itu Mingyu menemani Wonwoo belajar lagi di cafe.

Wonwoo mengangguk dengan mata fokus pada buku pelajarannya.

"Apa yang terjadi?"

"Tak ada,"

"Kau tidak akan dibawa keruangan wali kelasmu jika tak terjadi apapun, bocah."

"Bukan hal besar, dan itu bukan salahku."

Mingyu tak lagi bertanya mendengar ucapan bernada final dari Wonwoo.

Tapi redupan sinar di mata Wonwoo mengganggu pandangannya.

"Mau pindah belajar?" tawar Mingyu.

Wonwoo hanya melirik sedikit, lalu kembali ke tugas rumahnya.

"Disini sudah menyenangkan, ahjusshi."

"Kedai es krim?" lirikan dua kali, dan ini lebih lama.

Membuat Mingyu tahu Wonwoo tertarik denga tawarannya.

Mingyu bersorak senang di dalam hati.

"Dua sekop es krim strawberry dengan taburan keju dan potongan buahnya?"

Sebuah binar kecil muncul dari mata rubah Wonwoo.

"Tiga?"

"Hah?" tanya Mingyu tak mengerti.

"Tiga sekop es krim, ahjusshi,,,"

"Baik, tiga sekop dengan syarat panggilan hyung untukku."

Bibir mungil Wonwoo mengerut tak senang.

"Tap-"

"Panggil aku hyung, kau akan dapat tiga sekop es krim strawberrymu, dengan taburan keju, potongan buah strawberry segar, plus lelehan coklat."

'cup'

Mata Mingyu membelalak tak percaya.

"Tiga sekop ahjusshi~"

Wonwoo mencium pipinya! Demi Namjoo noona-nya yang menyebalkan! Bocah kecil kesayangannya mengecup pipinya!

Ditambah aegyo alami Wonwoo yang keluar tidak sengaja.

"Oke, tiga sekop! Empat sekop, atau berapapun terserah!"

Dengan girang Mingyu membawa Wonwoo kedalam gendongannya.

Wonwoo tidak tahu, kalau kecupan ringan yang sering Wonwoo berikan kepada Paman Kim dulu akan berefek sebesar ini pada Mingyu.


Hai, ini bukan surprise event atau apa padahal.

hehe.

Padahal aku lagi UAS, loh.

Makasih buat semua yang udah reviews, advice-advice kalian bikin aku hidup lagi, walau lama bgt prosesnya.

Thanks for all.

and i still hoping your reviews, my dear sunshine.

Mikhaela