Hello, well... aku masih newbie di Fanfiction dan untuk cerita ini kalau di Wattpad Marauders sudah membaca sampai buku ketiga hampir keempat gitu heheAku juga mau buat di sini gitu juga sih, cuma aku masih kurang ngerti cara menggunakan app ini maafkan aku karena nyimpen ceritanya suka susah wkwkDi sini ada cerita kayak gini tapi cuma empat chapter dan nggak dilanjut yaaa? yah, cerita ini aku terinspirasi dari cerita itu, tapi kalau yang itu aku nggak ngerti sama pemikiran Authornya mengenai ceritanya mau di bawa ke mana, tapi kalau ceritaku di sini lebih ke Paradoks Waktu.jadi buat yang mau baca cepet-cepet silakan aja buka di Wattpad, judulnya sama kok hehe aku cuma iseng update di sini wkwk...
Pelajaran Ramuan yang diajarkan Profesor Slughorn sama sekali tidak bisa masuk ke dalam pemikiran para Marauders yang sudah sangat ingin menyelesaikan ramuan mereka dan makan malam dan bergegas ke ruang rekreasi dan membaca buku masa depan. Hanya Remus Lupin yang terlihat biasa saja dan masih bisa untuk berkonsentrasi terhadap apa yang diajarkan Slufhorn dan guru lainnya meskipun tetap saja James yakin, Remus memikirkan bagaimana nasib Harry di rumah keluarga membosankan dan selalu menyiksanya.
"Baiklah, anak-anak." Kata Slughorn lambat-lambat, "bereskan semua perlengkapan kalian dan masukkan Ramuan Penua kalian ke dalam botol yang telah disediakan dan silahkan keluar." Slughorn mendudukkan dirinya ke atas kursi nyamannya dan menatap anak-anak yang mulai sibuk menuang dengan hati-hati ramuan mereka ke dalam botol kecil bening.
James dan Sirius yang selesai pertama segera keluar menunggu Remus dan Peter untuk segera menuju Aula Besar dan makan malam. Menuntaskan segalanya dan cepat kembali untuk membaca hal yang seharusnya tidak mereka ketahui.
"Kalian tahu, buku itu sangat-"
"Menggoda."
"Menarik."
"Menakjubkan."
"Membuat penasaran."
"Membuat konsentrasiku terbelah."
"Dan aku ingin mengetahui aku berada di mana dalam cerita itu." Kata Sirius datar.
"Padfoot, mungkin kau tidak tahu di mana Harry dan kau sedang mencarinya?" Sahut James tak yakin.
"Yeah."
Mereka duduk saling berhadapan dengan Lily, Frank, dan Alice yang juga telah bergabung dengan mereka. Meskipun Lily terlihat sudah lebih baik kepada James sejak mengetahui masa depannya adalah menikah dengan James tak jarang Lily akan tersipu jika James tersenyum padanya dan membuat James bersorak girang dan menarai-nari dengan Sirius membuat Aula Besar Heboh.
"Aku harus mengerjakan tugas Telaah Muggle-ku, dan Sirius pun juga." Lily berkata di sela-sela makannya.
Sirius menyipit, mengingat-ingat kapan ia pernah memiliki tugas Telaah Muggle, "oh, ya ampun! Bisakah ditunda, aku sudah sangat dan sangat penasaran!"
"Satu chapter dan setelah itu kita membuat tugas hingga selesai dan mulai membaca lagi."
James dan Sirius ber-tos dan bersorak girang. Lily mendelik pada mereka berdua dan mereka langsung terdiam menikmati makan malam mereka dengan senyum yang mengembang.
Ruang rekreasi Gryffindor sangat ramai setelah makan malam, Frank mengambil buku tersebut dan bergabung dengan kelompoknya di pojok ruangan dan mereka mulai duduk melingkar, berdekatan. Lily menggumamkan mantra Muffliato agar tidak ada yang mendengar mereka dan Alice mulai membacakan cerita itu.
Surat Dari Entah Siapa
"Mungkin Hagrid?" Celetuk James.
KABURNYA ular boa pembelit membuat Harry menerima hukuman kurungan paling lama. Saat dia diizinkan keluar lemari lagi, liburan musim panas telah mulai
Lily membelalak menatap buku yang dipegamg Aluce dengan tajam. "Berapa lama mereka mengurungnya hanya karena kesalahan yang bukan kesalahannya?!"
James menenangkan Lily agar tidak kembali merajuk dan tidak menginginkan cerita itu kembali, cepat-cepat Alice melanjutkan.
dan kamera baru Dudley sudah rusak, pesawat terbang mainannya sudah menabrak sesuatu dan jatuh hancur, dan pertama kali menaiki sepeda balapnya, dia menabrak jatuh Mrs Figg yang sedang menyeberang jalan raya Privet Drive dengan tongkat ketiaknya.
Harry senang sekolah libur, tetapi dia tak bisa menghindari geng Dudley yang setiap hari datang. Piers, Dennis, Malcolm, dan Gordon semuanya bertubuh besar dan bodoh, tetapi karena Dudley bertubuh paling besar dan paling bodoh, dia jadi pemimpin geng. Mereka semua senang ikut permainan yang paling disukai Dudley: berburu-Harry.
"Oh, anak-anak yang baik." Ujar Lily sinis.
James masih menenangkannya dengan merangkulnya dan Lily berada dalam dekapan James, tidak memberontak.
"Aku tidak mengerti, kenapa orang tua mereka tidak mengajarkan mereka hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan?" Kata Remus memandang buku tersebut dengan mata merahnya.
"Mereka menganggap Harry aneh, Lupin." Lily terisak. James memeluknya erat.
Inilah sebabnya Harry melewatkan waktu sebanyak mungkin di luar rumah, berjalan-jalan dan memikirkan akhir liburan, saat dia bisa melihat secercah kecil harapan. Dengan datangnya bulan September nanti, dia akan masuk SMP, dan untuk pertama kali dalam hidupnya, dia tidak akan bersekolah bersama-sama Dudley. Dudley akan masuk sekolah Paman Vernon dulu, Smeltings. Piers Polkiss akan masuk ke sana juga. Harry, sebaliknya, akan bersekolah di Stonewall High, SMP lokal. Dudley menganggap ini sangat lucu.
"Sekolah macam apa itu?" Sirius bertanya, suaranya kasar.
"Sekolah muggle, Padfoot."
"Yeah, aku tahu Prongs, tapi-"
"Lanjutkan saja." Kata Lily, matanya masih berair.
"Hari pertama, mereka memasukkan kepala anak-anak baru ke toilet di Stonewall," katanya kepada Harry. "Mau latihan dulu di atas?"
"Apakah itu sungguhan?" Lily mulai gusar dengan cerita tersebut.
"Tentu saja tidak, Lils. Guru tidak akan membiarkan muridnya tersiksa." Ujar Alice bijak.
"Tidak, terima kasih," kata Harry. "Kasihan toilet, belum pernah kemasukan benda lain yang lebih mengerikan daripada kepalamu-jangan-jangan toilet itu sekarang sedang mual." Kemudian Harry lari, sebelum Dudley bisa mencerna ucapannya tadi.
Mereka semua terbahak.
"Oh, Harry kau sangat pintar!" Seru Sirius menepuk bahu James keras-keras. "Harry pintar meledek orang seperti kau, Prongs!"
James menjitak kepala Sirius. Sirius nyengir dan berhenti tertawa.
Dapur berbau busuk ketika Harry esok paginya turun untuk sarapan. Bau itu datangnya dari ember metal besar di tempat cuci piring. Harry melongoknya. Ember itu penuh gombal kotor yang mengapung di air berwarna abu-abu.
"Apa ini?" tanyanya kepada Bibi Petunia. Bibir Bibi Petunia langsung cemberut, seperti biasanya jika Harry berani mengajukan pertanyaan.
"Seragam sekolahmu yang baru," jawabnya.
Lily melebarkan matanya yang mulai berair kembali, "bahkan mereka tidak membelikan seragam baru untuknya!"
"Mereka sangat baik." Ujar Sirius dingin. "Kau memiliki kakak yang sangat baik, Lil."
"Jangan salahkan Lily, Padfoot!" Gigi James saling bergemeretak dan memandang Sirius dengan tajam.
"Aku hanya berkomentar mengenai kakaknya yang sangat-bahkan terlalu baik," jawab Sirius santai tidak mempedulikan James yang bola matanya sudah akan mau keluar dari tempatnya.
Alice menyadari akan ada perang dingin, dia pun melanjutkan bacaannya.
Harry memandang ke dalam ember lagi.
"Oh," komentarnya. "Tak kusangka harus basah begitu."
"Jangan bego," tukas Bibi Petunia. "Aku sedang mencelup pakaian lama Dudley dengan wenter abu-abu untukmu. Kalau sudah selesai nanti, akan sama seperti punya yang lain."
"Yeah, akan sangat cantik nantinya saat dipakai Harry."
Harry jelas meragukan ini, tetapi dia pikir lebih baik tidak membantah. Dia duduk di depan meja makan dan mencoba tidak memikirkan bagaimana penampilannya pada hari pertamanya di Stonewall High nanti-seperti memakai potongan-potongan kulit gajah tua, mungkin.
Dudley dan Paman Vernon muncul, keduanya mengernyitkan hidung gara-gara bau seragam Harry yang baru. Paman Vernon seperti biasa membuka korannya dan Dudley memukul-mukulkan tongkat Smeltings-nya-yang selalu dibawanya ke mana-mana-di atas meja.
Mereka mendengar bunyi klik kotak surat dan jatuhnya surat-surat di keset.
"Ambil surat, Dudley," kata Paman Vernon dari balik korannya.
"Suruh saja Harry."
"Beraninya anak itu menyuruh Harry!" Seru James tak terima.
"Suruh saja Dudley."
"Yeah, bagus Harry, suruh saja Duddley babi itu." Ujar Sirius tak kalah kesal akan kelakuan orang-orang dalam buku itu.
"Sodok dia dengan tongkat Smeltings-mu, Dudley."
"Dan aku akan melemparmu dengan Bludger hingga kepalamu pecah!"
"Jaaaames!" Lily menggenggam tangan James.
James tersenyum.
Sirius menyorakinya.
Lily bersemu merah.
Harry menghindari sodokan tongkat Smeltings dan keluar untuk mengambil surat. Ada tiga benda tergeletak di keset: kartu pos dari adik perempuan Paman Vernon, Marge, yang sedang berlibur di Pulau Wight, sebuah amplop cokelat yang kelihatannya berisi tagihan, dan-surat untuk Harry.
Lily tersenyum bahagia, "Harry mendapatkan surat!"
"Mungkin dari Dumbledore yang telah menyadari kekeliruannya kerena telah menempatkan Harry pada kekuarga yang tidak tahu belas kasihan!" Seru James kesal.
"Atau mungkin dari Hogwarts?" Kata Frank antusias. "Dia akan sebelas tahun, tahu!"
Mr H. Potter
Lemari di Bawah Tangga
Privet Drive no. 4
Little Whinging
Surrey
Amplopnya tebal dan berat, terbuat dari perkamen-kulit yang digunakan sebagai pengganti kertas. Warnanya kekuningan dan nama serta alamatnya ditulis dengan tinta hijau zamrud. Tak ada prangkonya.
Membalik amplop itu dengan tangan gemetar, Harry melihat segel ungu bergambar lambang huruf "H" besar yang dikelilingi singa, elang, musang, dan ular.
"Hogwarts!" Seru mereka bersama-sama.
Beruntung mantra Muffliatonya masih berfungsi dan Lily memperkuatnya lagi agar bertahan lebih lama lagi. Dia melupakan tugasnya.
"Dad!" mendadak Dudley berkata. "Dad, Harry dapat apa tuh!"
Harry sedang akan membuka lipatan suratnya, yang ditulis di atas kertas perkamen tebal yang sama dengan amplopnya, ketika tiba-tiba surat itu disentakkan dari tangannya oleh Paman Vernon.
"Itu suratnya!" Seru James tak terima mendengar surat Harry direbut begitu saja.
"Itu suratku!" kata Harry, berusaha merebutnya kembali.
"Sangat ayah dan anak sekali." Lily bergumam kecil.
James kembali memeluknya tapi Lily mendorongnya agar menjauh dan James terlalu mendramatiair keadaannya hingga ia jatuh menimpa Sirius yang tersungkur dan menimpa Remus yang berhasil menjaga keseimbangannya dengan baik. Sirius dan James nyengir.
"Siapa yang menulis padamu?" seringai Paman Vernon, sambil mengibaskan surat itu dengan satu tangan agar membuka. Dan melirik isinya. Wajahnya berubah warna dari merah ke hijau lebih cepat daripada lampu lalu lintas. Dan tidak berhenti di situ. Dalam sekejap saja wajahnya sudah putih abu-abu seperti bubur busuk.
"Ternyata dia mengetahui Hogwarts, mengejutkan!" Gumam Remus sambil memandang buku tersebut dengan bengis.
"Dia tahu karena Tuney pasti pernah menceritakannya." Sahut Lily yang matanya mulai mengekuarkan air lagi. Dia mengusapnya cepat-cepat.
"P-P-Petunia!" gagapnya.
Dudley berusaha merebut surat itu untuk membacanya, tetapi Paman Vernon mengangkatnya tinggi-tinggi hingga jauh dari jangkauannya. Bibi Petunia mengambilnya dengan ingin tahu dan membaca kalimat pertamanya. Sesaat kelihatannya dia akan pingsan. Dia memegangi lehernya dan mengeluarkan suara seperti tercekik.
"Vernon! Oh, astaga... Vernon!"
Mereka berpandangan, tampaknya lupa bahwa Harry dan Dudley masih berada di ruangan yang sama. Dudley tidak biasa diabaikan. Diketuknya kepala ayahnya keras-keras dengan tongkat Smeltings-nya.
"Anak yang sangat sopan."
"Aku mau membaca surat itu," teriaknya.
"Aku mau membacanya," kata Harry marah, "karena itu suratku."
"Ya, itu surat Harry dan biarkanlah Harry membaca suratnya!" James berteriak-teriak kepada buku itu seakan buku tersebut akan mengeluarkan orang dari dalam buku.
"Keluar, kalian berdua," kata Paman Vernon parau, seraya memasukkan kembali surat itu ke dalam amplopnya.
"Paman yang baik." Remus berkata sinis.
Harry bergeming.
"AKU MAU SURATKU!" teriaknya.
"Sini aku lihat!" Dudley memaksa.
"KELUAR!" gerung Paman Vernon. Dicengkeramnya kerah baju Harry dan Dudley dan dicampakkannya mereka ke lorong, lalu dibantingnya pintu dapur menutup. Harry dan Dudley segera berkelahi seru, tanpa suara,
"Pukul terus, Harry! Aku sangat jago memukul!" Seru James sambil meninju-ninjukan kepalan tangannya ke sembarang arah dan mengenai Remus dan Sirius. Dia hanya nyegir.
Sirius mencekiknya dan Remus mengangkat bahu tidak peduli.
memperebutkan siapa yang boleh mendengarkan lewat lubang kunci. Dudley menang, maka Harry, kacamatanya tergantung pada satu telinga, berbaring tengkurap untuk mendengarkan dari celah antara pintu dan lantai.
"Ap-apa?" James berteriak, "Harry kalah?" James kembali memandang buku yang dipegang Alice dengan bengis.
"Dia mewarisi kelembutanku, James." Lily berkata sambil menerawang.
"Kelembutanmulah yang membuatku jatuh cinta padamu, Lils." Kata James memandang Lily penuh harap.
Lily menyipitkan matanya. Pipinya bersemu mereah, laku James dan Sirius ber-tos ria karena Lily tidak memandangnya curiga.
Alice memandang Lily senang dan Lily menundukkan wajahnya karena malu.
"Vernon," Bibi Petunia berkata dengan suara gemetar, "lihat alamatnya. Bagaimana mungkin mereka tahu di mana dia tidur? Apa menurutmu mereka mengawasi rumah kita?"
"Mengawasi-memata-matai-mungkin juga membuntuti kita," gumam Paman Vernon cemas.
"Tapi apa yang harus kita lakukan, Vernon? Apakah sebaiknya kita balas? Kita katakan bahwa kita tak ingin..."
Harry bisa melihat sepatu Paman Vernon yang hitam mengilap mondar-mandir di dapur.
"Tidak," katanya akhirnya. "Tidak, kita abaikan saja. Jika mereka tidak mendapat balasan... ya, itu yang paling baik... kita tak akan melakukan apa-apa..."
"Tetapi..."
"Aku tak mau dengar, Petunia! Bukankah kita sudah bersumpah waktu mengambilnya bahwa kita akan membasmi omong kosong yang berbahaya itu?"
"Jadi, alasannya hanya itu?" Lily memandang buku itu tak percaya.
"Membasmi omong kosong mengenai penyihir." Sahut Remus.
"Mereka benar-benar buta." James menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku yakin surat itu akan datang lagi." Kata Sirius yakin.
Hari Jumatnya, tak kurang dari dua belas surat untuk Harry datang. Karena tak bisa dimasukkan ke dalam kotak surat, surat-surat itu disorongkan di bawah pintu, disisipkan ke celah pintu, dan beberapa di antaranya bahkan dijejalkan lewat jendela kecil toilet bawah.
"Oh, Hogwarts sangat menginginkan Harry." Sirius berujar sambil tersenyum-senyum.
"Yeah, siapa yang tidak menginginkan Harry, Padfoot?" James melirik Sirius yang masih tersenyum-senyum.
"Oh keluarga Dursley tentu saja." Remus bergumam menimpali pertanyaan James.
James mendengus, "lupakan orang-orang sinting seperti mereka, Moony, mereka gila!"
Hari Sabtunya, yang terjadi sudah di luar kendali. Dua puluh empat pucuk surat untuk Harry berhasil diselundupkan masuk rumah, digulung dan disembunyikan dalam dua lusin telur yang dijulurkan tukang susu mereka yang sangat kebingungan kepada Bibi Petunia lewat jendela ruang keluarga.
"Mungkin tukang susu itu terkena imperius?" Frank berujar sambil memandang mereka semua bergantian.
"Kementrian sihir melarang menggunakan sihir kepada muggle, Frank." Sahut Lily yang telah membaca berupuluh-puluh buku mengenai dunia sihir tersebut.
Frank mendengus mendengar jawaban Lily. James dan Sirius cekikikan melihat Frank.
Sementara Paman Vernon marah-marah menelepon kantor pos dan perusahaan susu mencari orang yang bisa disalahkan, Bibi Petunia menghancurkan surat-surat itu dalam mixer makanannya.
"Siapa sih yang begitu ingin bicara denganmu?" Dudley bertanya kepada Harry dengan keheranan.
"Tentu saja banyak yang ingin berbicara dan mewawancarai Harry, gendut!" Sirius mendesis ke arah buku yang dibawa Alice.
Pada hari Minggu pagi, Paman Vernon duduk di meja untuk sarapan, kelihatan lelah tetapi senang.
"Tukang pos tidak datang pada hari Minggu," dia mengingatkan mereka dengan riang seraya mengoleskan selai pada korannya, "jadi tak ada surat sialan hari ini..."
"Kuharap Dumbledore tidak kehabisan cara."
Ada yang berdesis meluncur turun dalam cerobong asap ketika Paman Vernon bicara, dan mengemplang belakang kepalanya. Detik berikutnya tiga puluh atau empat puluh surat meluncur-luncur dari perapian seperti peluru. Keluarga Dursley menunduk menghindar, tetapi Harry melompat mencoba menangkap satu di antaranya...
"Nah! Itu baru hari minggu yang indah!" Sirius dan James bersorak girang dan mulai menari-nari mengelilingi lingkaran mereka membuat beberapa anak yang masih berada di ruang rekreasi menolehkan kepalanya menatap mereka.
"Kalian akan mengundang perhatian banyak orang."
"Tenang saja, Lils, akan banyak yang memperhatikan anak kita nantinya." James tersenyum menatap Lily yang mendelik dan mendengus kesal.
"Sudah kelewatan," kata Paman Vernon, berusaha berbicara dengan tenang, tapi pada saat bersamaan mencabuti kumisnya dengan panik. "Aku mau kalian semua kembali ke sini lima menit lagi, siap berangkat. Kita akan pergi. Bawa saja pakaian secukupnya. Jangan membantah!"
"Kurasa dia ingin membuat para surat kehilangan jejak mereka." Remus bergumam pelan. Dia sudah bersender pada dinding di belakangnya.
"Tidak, surat itu akan kembali lagi, Moony." Sirius mengangguka mantap akan asumsinya.
Paman Vernon kelihatan berbahaya sekali dengan separo kumisnya lenyap, sehingga tak seorang pun berani membantah. Sepuluh menit kemudian mereka berhasil keluar dari pintu yang sudah dipaku rapat dan berada dalam mobil, yang ngebut menuju jalan tol. Dudley terisak-isak di jok belakang. Ayahnya tadi memukul kepalanya gara-gara mereka harus menunggunya mencoba menjejalkan televisi, video, dan komputernya ke dalam tas olahraganya.
"Memangnya mereka akan pindah rumah?" Lily menggeleng tak percaya akan kelakuan Dudley tersebut.
James terkikik, "anak yang tidak mau rugi, ingat?"
Semuanya mengangguk dan terkikik geli.
Mobil terus meluncur. Terus meluncur. Bahkan Bibi Petunia pun tak berani bertanya ke mana mereka pergi. Sekali-sekali Paman Vernon tiba-tiba menikung tajam dan meluncurkan mobilnya ke arah berlawanan.
"Sesatkan mereka... sesatkan mereka," gumam Paman Vernon setiap kali dia melakukan ini.
"Dia tak akan bisa."
"Yeah, tak akan."
Paman Vernon akhirnya berhenti di depan hotel suram di luar sebuah kota besar. Dudley dan Harry berbagi kamar dengan dua tempat tidur dan seprai lembap yang berbau lumut. Dudley mendengkur, tetapi Harry tak bisa tidur. Dia duduk di ambang jendela, memandang lampu-lampu mobil yang lewat dan bertanya-tanya dalam hati...
"Hotel yang murah, kurasa?"
"Mereka tidak akan repot-repot menyewa hotel mahal untuk menyembunyikan diri dari kejaran surat, James." Lily bergumam.
Mereka makan cornflake melempem dan tengik serta tomat kalengan di atas roti panggang sebagai sarapan keesokan harinya.
"Apakah mereka tidak menyediakan makanan yang sehat dan bergizi tinggi?" Remus berkata sambil memejamkan mata dan menggelengkan kepalanya.
"Seandainya aku tidak mati di tangan Voldy." James mengeluh keras-keras, menundukkan kepalanya dan bersandar dibahu Lily yang langsung didorong oleh Lily hingga menubruk Sirius.
"Maaf, tapi apakah salah satu dari kalian Mr H. Potter? Ada kira-kira seratus surat begini di meja resepsionis."
"Seratus?" Mata James membelalak.
"Hebat!" Seru Sirius.
Wanita itu mengangkat surat itu sehingga mereka bisa membaca alamatnya yang ditulis dengan tinta hijau:
Mr H. Potter
Kamar 17
Hotel Railview
Cokeworth
"Dumbledore bahkan tahu di mama Harry berada!" Seru Frank girang.
"Apakah Harry diberi mantra pelacak saat masih bayi?" Lily bertanya sambil menatap James menuntut jawabab.
"Kurasa tidak, Lils."
"Itu mungkin saja, Dumbledore tidak ingin kehilangan Harry maka dia menyelundupkan mantra pelacak sebelum benar-benar meninggalkannya."
"Atau memang Hogwarts yang tahu sendiri di mana keberadaan Harry setiap saat!" Remus menutup perdebatan dengan kesimpulan yang amat jelas dibenak Lily, Dumbledore tidak mungkin memantrai Harry.
Senin. Harry jadi ingat sesuatu. Kalau hari ini Senin, dan Dudley bisa diandalkan dalam hal ini, sehubungan dengan kegemarannya nonton televisi-maka besok, Selasa, adalah hari ulang tahun Harry yang kesebelas.
"Harry ulang tahun, apakah ada tanggalnya di sana?" Lily bertanya penuh harap.
"Tidak ada." Alice menjawab pelan-sangat pelan hingga Lily hampir tidak mendengarnya.
"Harry baru keluar dari kamarnya saat liburan musim panas akan berakhir, dan sudah seminggu berlalu sejak kejadian tersebut," Remus memulai hitungan matematika mugglenya. "Tanggal 31 Juli sepertinya."
"Perhitungan yang bagus, Moony, aku bangga memilikimu!" James sudah akan memeluk Remus namun Remus segera mendorong Sirius agar James menimpanya dan ternuata perkiraannya tidak meleset! James menimpa tubuh Sirius dengan bunyi gedebuk yang keras dan Sirius mengaduh kesakitan bersiap akan membunuh James jika tulangnya ada yang patah.
Tentu saja hari-hari ulang tahunnya yang telah lewat bukanlah hari yang menyenangkan. Tahun lalu, misalnya, keluarga Dursley menghadiahinya satu gantungan mantel dan sepasang kaus kaki bekas Paman Vernon. Tapi, kita kan tidak berumur sebelas tiap hari.
"Malangnya nasib Harry." Alice bergumam sedih.
Paman Vernon menunjuk sesuatu yang kelihatan seperti batu karang besar yang menjorok ke laut. Bertengger di atas karang itu ada gubuk kecil yang sangat kumuh dan bobrok.
"Dia benar-benar akan membuat Harry bunuh diri di sana."
"Malam ini diramalkan akan ada badai!" kata Paman Vernon senang, sambil menepukkan tangan. "Dan Bapak ini sudah berbaik hati mau meminjamkan perahunya!"
"Dia berniat sekali menghilangkan jejak mereka." James berdecak jengkel.
"Aku sudah beli bekal untuk kita," kata Paman Vernon, "jadi, semua naik!"
Dingin sekali di perahu, sampai mereka serasa membeku. Cipratan air laut dan tetes hujan sedingin es merayap menuruni tengkuk dan angin dingin menerpa wajah mereka. Setelah rasanya berjam-jam kemudian, tibalah mereka di batu karang. Paman Vernon, terpeleset-peleset, memimpin menuju ke gubuk reyot itu.
Bagian dalam gubuk sungguh menjijikkan. Bau ganggang laut menyengat, angin bersuit-suit menembus lewat celah-celah di dinding papan. Perapiannya lembap dan kosong. Hanya ada satu kamar.
"Sangat jelas Harry tidak akan menempati kamar tersebut."
Ketika malam tiba, badai yang dijanjikan menerjang di sekitar mereka. Cipratan air dari ombak-ombak yang bergulung tinggi menyembur ke dinding pondok dan angin kencang mengguncangkan jendela-jendela yang kotor. Bibi Petunia menemukan beberapa selimut apak bulukan dari kamar dan menyiapkan tempat tidur untuk Dudley di sofa yang sudah berlubang-lubang dimakan ngengat. Dia dan Paman Vernon tidur di tempat tidur reyot di kamar dan Harry dibiarkan mencari sendiri tempat yang paling empuk di lantai dan meringkuk di bawah selimut paling tipis dan paling compang-camping.
Kepala mereka mulai mengeluarkan asap.
Lily berteriak, "TUNEY, YA, TERUS SAJA MENYIKSANYA DI LUAR BADAI DAN SANGAT DINGIN DAN DIA MEMBIARKAN BOCAH BERUMUR SEPULUH TAHUN TIDUR DI LANTAI? DI LANTAI!" Lily merosot kembali, James mencoba menenangkannya sebelum Lily merubah kembali keputusannya.
"Sudahlah, Lil, itu hanyalah cerita belum tentu terjadi, kan?" Remus mencoba menenabgkan Lily yang wajahnya telah memerah menahan kekesalannya.
"Ya, belum tentu terjadi, dan jangan sampai terjadi."
Harry tak bisa tidur. Dia gemetar kedinginan dan membalikkan tubuh, mencoba mencari posisi yang lebih nyaman. Perutnya yang lapar berkeroncongan.
"Aku tidak mau mendengarnya lagi!" Lily sudah akan bangkit dari duduknya namun James mencegahnya.
"Sebentar lagi selesai."
"Aku harus mengerjakan tugas!"
"Kau dengar kata Alice, kan? Sebentar lagi, oke, sebentar lagi." James menarik Lily agar kembali duduk dan menenabgkan Lily kembali.
Lima menit lagi. Harry mendengar sesuatu yang berkeriut di luar. Dia berharap atap gubuk tidak akan runtuh, walaupun kalau iya, dia mungkin akan lebih hangat. Empat menit lagi. Mungkin rumah di Privet Drive akan penuh surat kalau mereka pulang nanti, sehingga dia bisa mencuri satu.
Tiga menit lagi. Ombakkah itu, yang menghantam karang begitu keras? Dan (dua menit lagi) bunyi derak aneh apa itu? Apa karangnya remuk dan berjatuhan ke laut?
Semenit lagi dia akan berusia sebelas tahun. Tiga puluh detik... dua puluh... sepuluh... sembilan, mungkin dia akan membangunkan Dudley, sekadar supaya Dudley marah saja... tiga... dua... satu...
BOOM!
James berteriak, "ADA BOM MELEDAK! HA-HARY!"
"Chapter ketiga selesai." Alice menutup bukunya dan bersender pada Frank.
"Kurasa itu Dumbledore." Kata Frank datar sambil mengusap-usap rambut Alice.
"Aku tidak peduli, aku akan mengerjakan tugas dan segera tidur!"
"Lily, kau melupakan janjimu." James berkata sambil menatap mata hijau cemerlang Lily yang berair.
"Aku tidak mau mendengar cerita masa depan anakku yang begitu menyedihkan dan dia terkena ledakan bom!" Lily terlihat gusar, dia bangkit dan masuk ke kamarnya lalu keluar lagi dengan beberapa buku dan mulai menukis di atas perkamennya.
Satu persatu dari mereka mulai membubarkan diri dan mengambil buku mereka masing-masing dan mulai mengerjakan tugas bersama dengan duduk melingkar seperti tadi. ]
