DISCLAIMER: I DON'T OWN THE STORY. FIC INI ADALAH TERJEMAHAN DARI FIC BERJUDUL SAMA YANG DITULIS OLEH LULULELE DI ARCHIVEOFOUROWN. SAYA CUMA NGETRANSLATE SOALNYA INI BAGIAN DARI SERIES FAVORIT SAYA. ALL CREDIT GOES TO THE ORIGINAL AUTHOR.

Haloooo, ini dia chapter sambungannya sekaligus penutup dari bagian kedua series ini ^^ Btw, baru sadar kalo saya belom pernah nyantumin nama keseluruhan series ini. Judulnya adalah "winter, spring, summer, fall (in love)" dan entah kenapa saya suka banget sama double meaningnya fall(musim gugur) sama fall in love(jatuh cinta). Kesannya so sweet banget hehehe. Jadi intinya, masing" bagian ceritanya tuh mewakili setiap musim. Bagian pertama (Lobsterman) terjadi waktu winter/musim dingin, nah, bagian kedua ini aku rasa sih di spring/musim semi ya, meskipun gak tertulis di ceritanya. Soalnya bagian ketiganya jelas banget waktu summer/musim panas dan bagian keempatnya waktu fall. Oke, cukup ane nyerocos gajenya, langsung aja yok ke ceritanya. Warning: endingnya bikin kuku ngecap di telapak karena greget ngeremes tangan saking gemesnya sama anak-anak ini. Unch!

.

.

Mereka semua mengerubungi Chenle, masing-masing mencari namanya di antara sejumlah besar pokemon. Setelah periode kekacauan dimana setiap anak menaruh jari mereka di layar, menggerakkanya ke arah yang berbeda-beda dan berlawanan, Chenle berteriak agar mereka mundur untuk sementara. Dia mendengus dan memutar lengannya yang tertindih oleh anggota badan teman-temannya, dan pindah duduk ke atas sofa untuk mempersentasikan handphonenya.

"Renjun itu charmander. Karena rambutnya." Chenle memencet monster api itu dan mengarahkan perhatian mereka ke mulutnya. "Liat tuh taringnya. Renjun banget."

"Tapi Renjun kan cuma punya satu gigi taring," celah Jeno.

Chenle melirik ke Jeno, lalu ke Renjun, diam untuk sebentar. "Gakpapa. Yang penting itu image keseluruhannya." Ia lanjut mengusap ke bawah layar. "Habis itu Jeno. Kamu cyndaquil."

Mark yang sudah diberi makan dan minum dan sekarang wajahnya lebih berwarna, mendengung setuju. "Beneran lumayan mirip."

"Matanya itu lho, bentuknya kayak tanda kurung," kata Haechan. "Jeno, coba senyum."

Jeno senyum dan sekelompok langsung berpadu mengeluarkan suara 'ooh' dan 'ahh'. Chenle mengangguk ke dirinya sendiri, senang menerima persetujuan komplit atas perbandingannya.

"Next. Jaemin itu jigglypuff."

"Apa!?"

Chenle mengangkat tangannya untuk menghentikan bantahan yang akan diucapkan Haechan. "Biarin aku ngomong sampai selesai. Liat senyumannya, senyuman permanen yang kecil itu." Mereka merapat untuk menginspeksi secara detail. "Dan matanya, yang gede banget."

Setelah beberapa saat berlalu, Mark tiba-tiba berbisik, "Rasanya dia seperti lagi menerawang tembus sampai ke dalam jiwaku."

Chenle menghentikkan jarinya. "Tepat sekali. Coba liat tuh." Dia menunjuk ke kanan.

Jisung mengikuti arah pandangnya dan terkejut ketika melihat Jaemin menatap balik padanya, tersenyum.

"Jigglypuff itu cute banget, tapi kalo dilihat kelamaan jadi agak serem," kata Chenle dengan santai, seakan-akan dia tidak baru saja memanggil Jaemin menyeramkan secara tidak langsung. "Oke, lanjut ya. Ini Mark the cutie. Dia pikachuku yang paling baru."

Haechan tadinya sudah cemberut, tetapi sekarang dia benar-benar kesal melihat betapa banyaknya pikachu yang dimiliki Chenle. "Ini perbandingan yang paling nggak masuk akal. Plus, gimana bisa kamu dapet segini banyak pikachu? Gak adil banget."

"Apa boleh buat? Mereka cinta padaku."

"Yang bene—tunggu. Tunggu." Secepat halilintar, Haechan merebut handphone di genggaman Chenle. "Apa kamu beneran pake nama aku buat seekor pidgey?"

"Soalnya kamu—"

"Pidgey? Serius? Aku ambil balik kata-kataku, ini sama sekali nggak masuk akal. Ada berapa ratus pokemon lain dan aku cuma jadi pidgey? Aku nggak tau kamu sebenci ini sama aku, sakit banget rasanya. Apa aku ada salah sama kamu, jadi ini semacam balas dendam gitu?

"Kamu ada salah sama semua orang," cela Jaemin dengan senyuman. Jeno membungkam mulutnya dan menggeretnya pergi jauh dari Haechan.

Chenle mengambil kesempatan untuk meraih handphonenya kembali selagi perhatian Haechan sedang teralihkan. "Jangan ngehina pidgey, mereka yang bikin aku bisa naik level cepet." Dia memencet makhluk yang diatasnamakan Haechan dan memaksanya untuk memandang layar. "Kalo kamu cuma lihat penampilannya, pidgey itu sebenernya keren juga, kan? Liat deh mukanya. Beneran mirip sama kamu, apalagi kalo kamu lagi angkat poni."

"...Aku bisa paham. Agak."

Semua mata tertuju kepada Renjun. Chenle menggenggam tangannya dan memeluknya dengan penuh semangat.

"Ada kemiripannya," timpal Mark, dan dia pun langsung ditarik kedalam pelukan.

Haechan memandang mereka dengan sebal. "Kamu cuma bilang gitu supaya aku jengkel. Whatever. Habis aku siapa?"

Sebuah tangan mencuat dari dalam gumpalan tubuh yang betumpukan. Chenle menopang dagunya di bahu Renjun dan mengusap layar handphonenya ke ujung halaman.

Jisung merengut saat ia menemukan namanya. "Kok aku cuma squirtle yang cpnya 10 doang?"

"Iya, kenapa?" seru Haechan. "Squirtle tuh terlalu imut buat Jisung."

Sekarang Jisung tahu ia telah membuat keputusan yang tepat untuk tidak membela Haechan tadi meskipun merasa perbandingannya dengan pidgey tidak mirip. Anak itu pantas mendapatkannya.

"Aku memang tadi bilang yang penting itu image keseluruhannya, tapi si kecil ini spesial." Chenle tersenyum lembut. "Dia ini pokemon pertamaku."

Melihat sang squirtle untuk kedua kalinya, Jisung baru menyadari bintang kuning yang menandai pokemon itu sebagai favorit.

"Jadi?"

Jisung menyaksikan dengusan kesal menggantikan senyuman Chenle dan lupakan saja pidgey, bahkan rattata pun terlalu bagus untuk Haechan.

"Jadi," Chenle membuka dan membungkam mulutnya, seperti ragu hendak melanjutkan kalimatnya atau tidak. "Jisung itu teman pertamaku disini, jadi…"

Mereka bertemu mata untuk sesaat. Chenle menyimpulkan kedua ujung bibirnya dan bergeser kebelakang Renjun, menyembunyikan separuh wajahnya dari pandangan Jisung. Jisung bisa merasakan atmosfir di antara mereka berubah; dia tahu dia seharusnya mengatakan sesuatu pada saat-saat seperti ini, tetapi otaknya selalu kembali tertuju kepada senyuman hangat yang menghias wajah Chenle ketika ia berbicara tentang si squirtle—tentang Jisung, sebenarnya—dan dia menjadi tidak bisa memikirkan hal lain.

Untungnya, atau sialnya, ada Haechan yang hadir untuk merusak mood.

"Apa-apaan ini, disney channel?"

"Cute, kok, kalo menurutku." Jaemin beranjak dari lantai untuk meregangkan tubuh kurusnya. "Jangan peduliin Haechan, dia capek habis camping dan karena itu jadi lebih nyebelin dari biasanya. Dia bakal balik ke tingkat menyebalkan yang seperti biasa kalo udah cukup tidur."

Haechan mengumpat dan melempar bola bungkus makanan berminyak ke arah Jaemin, yang menghindar dengan mulusnya tanpa perlu melihat. Tidak putus asa oleh kegagalan, Haechan memungut bola kertasnya dan membuntuti Jaemin kedalam kamarnya.

"Tapi bener kata Jaemin, campnya bikin capek banget." Renjun bersender balik ke Chenle. Jeno mengangguk, mengangkat badannya ke atas.

"Aku juga mau istirahat."

Renjun cepat-cepat memisahkan dirinya dari Chenle dan menghalangi Jeno dengan tangannya. "Bantu aku bangun," pintanya, mengayunkan tangan sambil membelokkan kepalanya ke tubuh yang tak bergeming di sampingnya. "Nanti aku bantuin kamu gotong Mark ke kasurnya."

Jeno mengeluarkan rintihan keras. Dengan segan hati, dia menarik tangan Renjun dan betul seperti yang dikatakan, mereka menggeret Mark melalui lantai sampai ke kamarnya. Itu terlihat seperti adegan rekayasa ulang tindak kriminal. Hanya kurang jejak darah yang tertinggal di tkp. Jisung mendengar cekikikan kecil dari belakangnya dan membuang segala imajinasi skenario pembunuhan.

"Mark itu cute," ujar Chenle singkat. Dia masih menghindari melihat ke arah Jisung, tetapi sekarang cuma ada mereka berdua dan dia pastinya tidak berbicara dengan orang lain. Jadi, Jisung mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan pendapat yang sudah lama tertahan di tenggorokannya setiap kali Chenle memanggil Mark cute.

"Kamu lebih imut."

Suaranya pecah. Jisung sangat berharap Haechan tiba-tiba muncul dan mengeluarkan komentar cemoohannya, tapi tentu saja itu tidak terjadi karena ia tidak seberuntung itu.

"...Apa?" Chenle bisa saja gagal menangkap kata-katanya dengan jelas, atau mungkin dia sudah menangkapnya dan tetap berpikir dia salah dengar. Jisung memutuskan untuk mengambil ini sebagai kesempatan kedua.

"Menurutku kamu lebih cute."

Akhirnya, rasanya amat lega bisa mengatakannya. Meskipun perasaan itu menguap dengan cepat ketika ia mendapat kilasan expresi Chenle yang tidak bisa dibaca.

"Oh," adalah satu-satunya respon Chenle. Anak yang tidak bisa dibayar untuk berhenti bicara sekarang diam seribu bahasa karena ucapannya. Jisung sudah melakukan hal yang mustahil. Dia sedang memainkan iringan lagu penguburan dan menebar bunga-bunga di batu makamnya sendiri dalam imajinasi saat Chenle akhirnya membuka mulut dan memandang ke arahnya.

"Well… jangan bilang-bilang Mark, oke?" dia mulai berbisik, bola matanya berpindah-pindah arah. Jisung mencoba mengabaikan rasa jengkel yang muncul ketika mendengar nama Mark untuk kesekisan kalinya, memilih fokus kepada hal yang ingin Chenle ungkapkan. "Menurutku kamu yang paling cute."

Sekarang giliran Jisung yang merespon dengan "Oh."

Jisung bahkan tidak suka dipanggil cute, tapi kali ini, kali ini dia tidak bisa memungkiri bahwa itu membuatnya senang.

"Aku cool kok," sangkalnya, berusaha menyembunyikan senyumannya yang melebar.

"Nononononono," Chenle tertawa terbahak-bahak, kembali bersikap seperti biasa. Tawanya itu berisik dan menusuk telinga, kalau menurut Haechan. Tawanya itu adalah suara favorit Jisung diseluruh dunia saat ini.

"Jisung is the cutest~"

.

.

Dan begitulah bagian kedua berakhir, gimana, so cute kan mereka berdua? Jadi inget waktu saya pertama kali baca sampe mukul" paha sendiri saking gakuatnya... Dosis ke so sweet-an mereka bakal bertambah banyak lagi sampe meluap-luap di bagian yang ketiga, jadi harap dinantikan ya translateannya hehehe. As always, saya menghimbau anda-anda sekalian yang menikmati cerita ini untuk memberi kudos atau comment kepada author aslinya sebagai tanda apresiasi ^^ Terimakasih ya buat review dan penyemangat dari kalian semua, spread the SungLe love epribadeehhhh

balasan review:

yunkaikai: Amat sangat menggemaskan! Makin lanjut makin minta diculik

callmemrs: Duh, kayanya gaboleh deh, ntar Jisung ngambek :P hahahaha. Cute overdosis itu deskripsi yg akurat banget buat Chenle ^^ akupun pengen punya adek kaya dia hiks.

MarkeuhyuckLee: Super cute indeed! ^^