.
Ghost Kiss
.
Romance, Drama, Fantasy, A Lot of OOCnes, A Little Bit Hurt/Comfort
Rate : T
Cast : Huang Zi Tao, Wu Yi Fan, and Other
Pair : KrisTao / TaoRis
Disclaimer : Tuhan Yang Maha Esa
Length : 4 / ?
.
.
Summary :
-Huang Zi Tao pemuda biasa yang selalu di tolak pada kencan pertamanya. Mereka selalu meninggalkan Tao begitu saja ketika Tao mulai berkata 'Ah ada hantu nenek-nenek di pundakmu' atau 'Kau diikuti hantu mengerikan sejak tadi'. Wu Yi Fan a.k.a Kris pemuda tampan yang mengubah takdir kehidupan dan percintaan seorang Huang Zi Tao-
.
.
.
Nampak seorang Tao kecil tengah menangis sesenggukan dipelukan seorang pemuda yang mengenakan hanfu, pakaian khas Cina. Pemuda tersebut terlihat sangat cantik dengan rambut hitam panjang sepinggangnya dan memiliki bibir kucing yang sama persis dengan Tao kecil. Pemuda tersebut berkata lembut "Sshh.. Tenanglah Tao, semua akan baik-baik saja." Pemuda tersebut mengelus kepala Tao dengan sayang.
"Ta-tapi Ge.."
"Tidak apa-apa Tao, Gege janji akan menjagamu."
"Be-benarkah Ge?"
"Iya sayang."
Setelah mendengar janji pemuda itu, perlahan-lahan Tao kecilpun mulai berhenti menangis tetapi masih diselingi beberapa kali isakan kecil. Pemuda tersebut masih mengelus kepala Tao dengan sayang hingga lama-kelamaan kelopak mata Tao kecil pun mulai memberat, sepertinya akan tertidur sebentar lagi. Samar-samar Tao kecil mendengar perkataan pemuda yang dipanggilnya dengan sebutan Gege tersebut. Layaknya sebuah mantra yang mengantarkan Tao kecil ke dalam tidur nyenyaknya disore hari.
Saat kau mengutuk seseorang dengan kebencianmu, maka kau akan kehilangan ingatanmu
Saat kau mengutuk seseorang dengan cintamu, maka kau akan kehilangan suaramu
Saat kau mengutuk seseorang tanpa melibatkan perasaan sedikitpun, maka kau akan menjadi kuat. Seperti ku
Di dunia ini, setiap hal yang kau lakukan akan selalu mendapatkan ganjaran yang setimpal.
.
.
.
Bunyi alarm yang berasal dari ponsel yang berada di atas nakas secara perlahan namun pasti mulai menarik Huang Zi Tao dari bunga tidurnya. Seperti sudah terprogram otomatis, Tao kini sudah terduduk di atas ranjang ukuran queen sizenya, merengganggkan ototnya yang kaku, dan mengambil ponsel untuk mematikan alarm. Setelah mematikan alarm, ia menekan tombol homepada ponselnya dan terpampanglah wallpaper pada ponselnya. Nampak foto selfie seorang Tao kecil bersama dengan pemuda cantik sedang mengenakan pakaian khas Cina.
'Aku merindukan mu Ge.' Ucapnya dalam hati.
Ia pun bergegas ke kamar mandi. Sebenarnya ia berniat untuk tidak masuk sekolah hari ini sebab ia takut akan menjadi bahan pembicaraan di sekolah akibat kejadian kemarin yang menjadi konsumsi tontonan hampir seluruh masyarakat sekolahnya. Tetapi, berkat bunga tidurnya semalam yang justru mengantarkan perasaan tenang padanya, seolah-olah mimpi itu nyata adanya, mimpi yang selalu datang saat ia terpuruk layaknya sebuah mantra. Hal itulah yang menyebabkan ia mengurungkan niatnya tersebut.
.
.
.
Tao kini sedang berjalan di koridor sekolahnya. Beberapa kali sempat ia mendengar cuitan-cuitan kecil dari orang-orang yang ditemuinya sepanjang jalan sejak masuk ke lingkungan sekolah, seperti 'Bukankah kemarin dia yang berciuman diacara penyambutan?' 'Apa mereka berpacaran' dan malah ada yang memujinya 'Untung dia manis' 'Damn! He is so cute' dan lain sebagainya.
Ia hanya bisa menghembuskan nafasnya keras dan mempercepat langkahnya menuju kelas. Saat ia membuka pintu, nampak semua orang tengah memperhatikannya. Lalu terdengar suara deheman keras yang membuat mereka semua kini mengalihkan diri dari acara "mari menatap Tao".
Bahunya merosot turun dan ia pun mulai berjalan dengan malas ke arah tempat duduknya.
"Selamat pagi Huang Zi Tao." Sapa Kai saat Tao mulai mendekat ke arah kursinya.
"Pagi Kai." Balas Tao dengan nada yang tidak seceria milik Kai. "Ah~ Terima kasih Kai." Tao memandang Kai dengan tatapan memelasnya, kemudian mendudukan diri di kursinya.
"Tidak masalah, aku juga akan merasa risih jika dipandangi seperti itu." Tao hanya bisa melemparkan senyuman yang dipaksakannya.
Kai yang mungkin menyadari keadaan mood Tao yang sedang berada dititik terendah tidak lagi membuat percakapan dengannya dan ia pun mulai sibuk mengotak-atik ponselnya.
Tao yang kini sedang bad moodmulai melipat tangan ke atas meja dan menyembunyikan wajah diantara lipatan tangannya. Tidak, ia tidak tidur, hanya saja sedang merenungi nasib yang tengah menimpanya. Tanpa ia sadari seorang pemuda kini berjalan ke arahnya dan duduk di kursi tepat di samping kanan Tao. Menyadari bahwa ada orang lain di sampingnya, ia pun mendongakkan kepalanya hanya untuk bertemu dengan pemuda bersurai dirty blonde dengan iris berwarna hazel.
Cukup lama Tao memandangi pemuda tersebut sebelum pemuda tersebut juga berbalik menatap tepat padanya dan membuat Tao seketika tersadar akan perbuatannya.
"Ma-maaf." Cicitnya pelan dan mengalihkan pandangannya.
"Tidak masalah, aku sudah biasa dipandang tampan seperti itu."
Tao menoleh cepat dan membulatkan matanya. 'Astaga, narsis sekali.' Kata Tao dalam hati.
"Ah.. perkenalkan, Aku Wu Yi Fan, tapi kau bisa memanggilku Kris." Kata Kris cepat sambil memberikan telapak tanggan kanannya tepat dihadapan wajah Tao.
Tao yang refleks karena perbuatan Kris, memundurkan sedikit tubuhnya. Ia mengerutkan keningnya dan menatap kesal ke arah Kris. Bagaimana tidak kesal, ketika moodnya sedang buruk dan ada orang narsis tiba-tiba saja muncul dihadapannya bahkan orang tersebut nyaris mengahantam hidungnya. Kalau saja ia tidak memiliki pengontrolan emosi yang baik, mungkin saat ini juga ia akan langsung meninju senyum manis yang ditunjukkan oleh Kris.
"Aku Huang Zi Tao." Kata Tao sambil menjabat tangan Kris dan secepat mungkin melepasnya. Mood Tao benar-benar mengerikan saat ini sehingga ia malas meladeni lebih jauh teman barunya tersebut. Tao kembali ke posisi awalnya yaitu menyembunyikan wajahnya di balik lipatan tangannya.
Kris yang melihat reaksi Tao hanya bisa menunjukkan seringainya tipis. Sangat tipis sampai-sampai Kai yang tengah memperhatikan reaksi keduanya tidak menyadari seringai tersebut dan hanya bisa mengendikkan bahu acuh lalu melanjutkan kegiatannya.
Kris pun memperbaiki posisi duduknya dan berdecak, pura-pura kesal "Ck.. Aku sudah tau meskipun kau tidak memberitahukan namamu."
Tao memang mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh Kris, sangat jelas malah. Tetapi ia malas untuk membalasnya karena sepagi ini ia benar-benar merasa lelah seperti seharian telah berlatih wushu.
Karena tidak ada tanggapan lebih jauh dari Tao, Krispun menoleh menghadap Tao "Sombong sekali." Kata Kris dengan nada yang menyebalkan.
Tao mengangkat wajahnya dan mengacungkan jari telunjuknya tepat dihadapan wajah Kris "Kau!" Suara Tao cukup keras hingga menarik atensi seluruh teman-teman sekelasnya. "Kau yang sombong dan tidak punya sopan santun dan menyebalkan dan hampir mengantam wajahku kalau saja aku tidak..."
"Tuan Huang!" Suara tegas seorang wanita yang saat ini telah berada di depan kelas memotong kalimat kekesalan yang sedang Tao lontarkan dan semakin membuat emosi Tao semakin naik.
"APA!" Teriak Tao sambil menolehkan wajahnya ke depan kelas.
Suasana kelas menjadi sepi bahkan suara nafas Tao yang memburu sangat terdengar jelas.
Tao membulatkan matanya. Kaget, ia benar-benar kaget 'Shit! Mati aku.' Umpatnya dalam hati.
Dengan cepat Tao berdiri di atas ke dua kakinya dan membungkukkan tubuhnya dalam-dalam "Ma.. Maafkan Bu!" Kata Tao.
Guru Tao menggelengkan kepala dan menghela nafas pelan "Ku maafkan karena hari ini pertama aku mengajar, duduklah."
"Ba.. Baik Bu, sekali lagi aku minta maaf." Katanya dengan penuh penyesalan dan mendudukkan dirinya.
Seluruh kelas akhirnya mulai memperhatikan apa yang dikatakan oleh guru tersebut. Lain halnya dengan Tao yang malah menatap tajam kearah Kris 'Sial.. Sial.. Sial..!' Umpatnya dalam hati sebab tidak ingin membuat dirinya dalam masalah bodoh lagi.
Kris yang merasa sedang ditatap akhirnya menolehkan wajahnya ke arah Tao dan menunjukkan gestur 'What?'
Tao menoleh ke arah depan sambil memutar matanya malas dan mulai memfokuskan pikirannya pada penjelasaan guru kelasnya.
.
.
.
Di suatu tempat di Cina. Di rumah bergaya tradisional yang sangat luas dan mewah. Di salah satu kamar diantara banyaknya ruangan. Kamar sederhana tetapi rapi dan nyaman karena balkonnya langsung berhadapan dengan taman yang asri dan kolam ikan koi kecil sehingga dapat menggambarkan bagaimana karakter penghuni kamar tersebut yang sangat tenang. Di dalam kamar tersebut nampak seorang pemuda cantik berambut panjang memakai hanfu sedang duduk bersilah di atas karpet tebal dan menghadap pintu balkon yang dibiarkan terbuka untuk menghantarkan angin malam. Matanya terpejam menyembunyikan iris sekelam malamnya, rambutnya yang tergerai dibelai perlahan oleh angin membuatnya tiba-tiba tersenyum tipis.
Kelopak matanya perlahan terbuka. Iris matanya yang awalnya menunjukkan warna biru cerah perlahan berganti menjadi hitam.
"Keberuntungan berada dipihak mu heh?" Tanyanya entah pada siapa. Senyumnya awalnya manis berubah menjadi seringai. Ia memandang kedua telapak tangannya dan mendengus pelan "Di dunia ini, setiap hal yang kau lakukan akan selalu mendapatkan ganjaran yang setimpal Ren." Katanya lagi.
Pemuda itu pun menoleh ke arah pintu kamarnya, sepertinya ia telah menyadari akan kedatangan seseorang bahkan ketika orang tersebut belum sampai ke depan pintu. Pintu itupun perlahan bergeser dan menampilkan seorang wanita yang sangat mirip dengan keponakan kesayangannya.
Senyuman manisnya ia nampakkan sekali lagi "Ada apa Jie?"
Wanita itupun tersenyum "Apa kau sudah makan Ren?" tanyanya dengan suara yang lembut.
"Sudah Jie" jawabnya pelan "Ah.. bisakah aku beristirahat Jie, aku benar-benar tidak ingin membicarakan apapun itu yang berada dipikiran mu." Lanjutnya lagi sambil menolehkan pandanganya kembali pada pemandangan yang disuguhkan di luar balkon kamarnya.
Wanita itu hanya tersenyum kecut "Baiklah, aku mohon jangan memaksa dirimu." Ia pun menggeser pintu kamar Ren hingga tertutup.
Setelah mendengar pintu kamarnya yang telah tertutup, Ren merebahkan badannya kesamping dengan pandangan tetap di luar balkon "Ganjaran yang benar-benar setimpal." Ia pun memperhatikan telapak tangannya lagi. Nampaknya ada semacam gambar atau simbol pada kedua telapaknya.
"Maafkan gege sayang." Katanya perlahan sambil memejamkan mata mencoba tertidur atau sekedar mengistirahatkan jiwanya yang mulai digerogoti oleh kejamnya kekuatan yang dimilikinya.
.
.
.
"Baek! Bahkan aku berteriak pada guru dikelasku. Aish benar-benar."
"Makan dulu panda Cina, aku tau kelaparan telah membuatmu gila."
"Aku tidak gila Baek!" Tao melototkan matanya tanda tidak percaya dengan kalimat yang baru saja dilontarkan sahabatnya mengenai kegilaan karena lapar. Demi semua panda yang ia cintai, ia hanya kesal itu saja.
Baekhyun memutar bola matanya malas "Atau jangan-jangan karena ciuman kemarin hmmppfftt."
Tao membekap cepat mulut berbisa Baekhyun "Yak.. Yak.. hentikan bodoh!"
Baekhyun mengigit tangan Tao "Arrgghh.. Apa kau mengigitku?" tanya Tao sambil meringis dan memperhatikan bekas gigitan Baekhyun yang memerah.
"Haeishh..!"
"PLAK!" Karena kesal Baekhyun mengeluarkan jurus andalanya, yup! Neck Slice.
"Yak Baek! Apa yang kau lakukan bodoh! Ini sakit!" Kata Tao heboh karena mendapat tindakan aniyaya dari Baekhyun.
"Mengembalikan kesadaranmu, sepertinya hantu-hantu di kelas mu telah membuat otakmu yang sudah korslet malah tambah korslet dan ajaibnya semakin parah Tao." Jawab Baekhyun dengan gestur yang siap melayangkan neck slice lagi. "Dan apa kau sadar sedari tadi kau berbicara dengan keras dan menyebabkan kita berdua menjadi tontonan huh?" lanjutnya lagi.
Tao pun terdiam dan mulai memperhatikan. Ia tidak sadar jika mereka sedang berada dikantin karena terlalu semangat menceritakan kekesalannya pada Baekhyun. Ya, sejak kelas pertama berakhir ia langsung bergegas ke kelas Baekhyun dan menyeretnya sambil bercurhat ria sepanjang perjalanan. Dan mungkin karena ia merasa lapar jadi instingnya menuntunya hingga ke kantin.
Tao menepuk keras jidatnya "Maafkan aku Baek sungguh. Aku.."
"Hai Huang Zi Tao."
Seseorang memotong kalimat Tao dan menyebabkan Tao menoleh cepat kearahnya.
"Kai?"
Kai terkekeh pelan "Maafkan aku mengganggu kalian berdua, tetapi bisakah kita duduk dulu, kalian menghalangi banyak orang." Kata Kai menunjukkan orang-orang di belakang mereka yang nampak kesal.
"Ayo!" Tao bergegas mencari tempat duduk sambil tangannya menggandeng Kai dan Baekhyun disebelah kiri dan kananya.
Tao benar-benar kesusahan mencari tempat yang strategis karena ada beberapa tempat disudut kantin yang dikerubungi banyak hantu dan ada pula tempat duduk yang bersebelahan dengan siswa yang banyak dikerebungi hantu 'nampaknya mereka berandalan, pantas saja.' Kata Tao dalam hati saat melihat siswa-siswa tersebut. Akhirnya pilihannya jatuh pada meja yang dekat dengan jendela dengan penerangan yang bagus.
"Apa kau selalu lama dalam memilih tempat Tao?" Tanya Kai yang heran karena mereka sempat berputar-putar di dalam kantin.
Baekhyun terkekeh mendengar pertanyaan Kai "Tao tidak suka tempat yang banyak han.."
"Shhh Shhh Baek jangan mulai." Potong Tao cepat sambil mencoba membekap Baekhyun lagi tapi kali ini gagal karena Baekhyun refleks menjauh dari Tao.
"Ah baiklah baiklah."
Kai yang bingung dengan tingkah kedua orang di depannya ini hanya bisa mengernyitkan alisnya bingung "Han.. maksudmu apa?"
"Handsome men!" Kata Baekhyun mantap.
Tao hanya bisa menempuk jidatnya keras mendegar jawaban Baekhyun yang ambigu.
"Aku mengerti, aku juga men, tapi lebih ke beautiful men." Kata Kai dan setelahnya ia tertawa keras.
Tao berusaha menenangkan Kai yang tertawanya sudah berlebihan"Sudahlah sudahlah."
"Ehem okay, baiklah kalau begitu siapa beautiful men yang satu ini Tao?"
Baekhyun menunjuk dirinya sendiri "Aku?"
Kai mengangguk cepat dengan senyum lebar yang tidak lepas dari bibirnya.
"Perkenalkan dia Baekhyun, sahabatku." Kata Tao sambil menepuk pundak Baekhyun yang berada di sebelahnya dan menurunkan telunjuk Baekhyun.
Baekhyun tersenyum paksa "Ah, Baekhyun, Byun Baekhyun, salam kenal."
"Kim Jongin, Kai." Kai mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan dengan Baekhyun yang berada dihadapannya.
Baekhyun yang awalnya ragu akhirnya menjabat tangan Kai. Ia pun menatap wajah Kai yang tersenyum padanya dan membuatnya ikut tersenyum pula. Tetapi dengan cepat wajah Baekhyun memerah hingga ketelinganya dan segera melepas jabatan tangan mereka.
'Ah sial! tidak lagi.' Umpat Baekhyun dalam hati.
Kai yang melihat tingkah Baekhyun yang berubah sangat drastis pun khawatir jika Baekhyun tiba-tiba saja jatuh sakit "Kau sakit Baek?"
"Ti.. tidak." Baekhyun menggeleng keras dan berusaha untuk tidak menatap wajah Kai.
Tao yang cepat membaca situasi akhirnya mengalihkan perhatian Kai "Kai bisakah kau memesankan makanan untuk kita?" Tanya Tao.
"Tentu saja." Jawab Kai. Setelah mendengar pesanan dari Baekhyun dan Tao ia pun segera bergegas pergi.
Tao meyakinkan jika Kai telah jauh dari tempat mereka, dan akhirnya ia pun mulai menginterogasi Baekhyun "Apa yang kau dengar darinya?" Tanya Tao sambil mendekatkan diri pada Baekhyun.
"Ti.. tidak ada." Jawab Baekhyun gugup. Tidak ingin memberitahukan apa yang kekuatanya perdengarkan padanya.
"Astaga Baek, aku bahkan sangat tau bagaimana kemampuan spesial keluarga Byun." Tao mendesah kasar.
Bekhyun mendesah tanda ia menyerah dengan kekeraskepalaanya, toh percuma saja ia menutupinya dari Tao, karena Tao sudah paham betul dengan gesturnya saat ia kaget dengan isi pikiran seseorang
"Hah.. Ia mengatakan kalau aku cantik jadi ia tidak masalah jika ia harus membantu.. ah siapa tadi yah.." Baekhyun lupa dengan nama yang disebutkan oleh Kai di dalam pikirannya.
"Tao?" Mereka berdua tidak menyadari kehadiran Kris di samping meja mereka.
Baekhyun dan Tao mendongakkan wajah mereka kearah Kris.
"Siapa dia Tao?" Tanya Baekhyun bingung sambil kembali menatap wajah Tao lamat-lamat.
"Ah.. dia teman sekelasku dengan Kai, namanya Kris." Jawab Tao tidak bersemangat karena ia tiba-tiba saja ia mengingat sumber bad moodnya hari ini.
Baekhyun melototkan matanya "Ah aku ingat, namanya Kris!"
"Maksudmu?" Tanya Tao dan Kris berbarengan.
"Jadi Kai tidak masalah jika ia harus membatu Kris dalam mendekatimu karena kau punya teman secantik aku Tao!" Jawab Baekhyun semangat tidak menyadari perubahan air wajah dari Tao dan Kris.
"Apa yang kau katakan Baek?" Tanya Kai yang ternyata telah tiba sejak tadi tetapi wujudnya terhalangi oleh tubuh Kris dan mendengarkan percakapan dari tiga orang dihadapannya sambil memegang nampan.
Keempatnya terdiam hingga seorang perempuan datang dan langsung bergelayut manja di lengan Kris "Aku sudah dapat tempat duduk yang pas untuk kita Kris." Katanya dengan nada ceria yang dibuat-dibuat.
"Ayo." Ajak Kris "Dan setelah ini, aku perlu berbicara dengan mu Kai." Kata Kris tegas dan pergi dari meja Tao dan kawan-kawan.
Melihat kepergian Kris dengan perempuan itu membuat Baekhyun kesal "Dasar playboy! Aishh!" umpatnya keras menarik atensi Tao dan Kai padanya.
"Sepertinya aku harus pergi, aku ada urusan mendadak." Kata Kai sambil menaruh nampan di atas meja "Dan kalian makanlah." Lanjutnya lagi sambil tersenyum kecut.
Kai hendak pergi sebelum Tao mencegatnya "Kai tunggu!" Kai yang baru saja membalikkan badan akhirnya berhenti dan menoleh kembali ke arah Tao dan Baekhyun. Sebulir keringat nampak mengalir melewati pelipisnya.
"Santai saja Kai, kau terlalu serius." Kata Baekhyun dengan nada jahilnya. "Dan berhentilah mengumpat di dalam pikiranmu." Kai membulatkan matanya.
"Baek~" Kata Tao dengan nada memohon.
"Tidak panda, pemuda ini harus tau dengan siapa dia berhadapan." Kata Baekhyun "Ah karena sepertinya kau mulai berpikiran yang aneh-aneh tentangku jadi langsung saja. Aku Byun Baekhyun, keturunan keluarga Byun yang bisa membaca pikiran seseorang saat aku fokus pada orang tersebut." lanjutnya lagi "Dan ngomong-ngomong kau lah seseorang itu untuk saat ini." Baekhyun pun terkekeh yang melihat tingkah Kai hanya bisa membulatkan matanya dan tidak bisa berkata-kata.
"Sudahlah Baek, dia tidak akan percaya." Tao menghela nafas "Oiya Kai, apa maksudmu dalam membantu Kris untuk mendekatiku?"
"..."
"Sudahlah Tao, pikirannya benar-benar kosong karena pernyataan ku tadi heheheh." Kata Baekhyun sambil terkekeh pelan.
"Baiklah-baiklah, Kai kau boleh pergi sekarang." Kata Tao sambil mengambil semangkuk ramen yang masih ada di atas nampan yang dibawa oleh Kai.
"I..Itu A..Aku."
"Sshhh pergilah Kai. Datanglah pada Tao saat kau sudah mampu memberi alasan yang baik dan benar." Kata Baekhyun final.
Kai menghela nafas dan mengangguk "Aku pergi."
Tao dan Baekhyun hanya menggumam karena mulai sibuk dengan makanannya dan tidak terlalu memperdulikan kepergian Kai.
.
.
.
Baekhyun dan Tao berpisah saat diperjalanan menuju kelas, karena Baekhyun yang harus ke toilet karena panggilan alam katanya. Tao yang kini berjalanan sendrian di koridor tidak terlalu ambil pusing dengan banyaknya mata yang menatapnya atau banyaknya mulut yang membicarakannya, yahh sepertinya dia mulai terbiasa dengan kontroversi tentang dirinya.
Kini Tao telah sampai di kelas dan tanpa menyapa teman-teman sekelasnya ia langsung saja menuju bangkunya, toh mereka fine fine saja tanpa disapa olehnya. Tao mendudukan dirinya dan belum ada tanda-tanda keberadaan Kai disebelah kirinya tapi..
"Tao."
Nah itu dia, Wu Yi Fan aka Kris sudah sejak tadi berada di bangkunya tapi malas Tao perhatikan karena jujur saja kekesalannya terhadap Kris masih nyangkut sedikit dihatinya.
Tao menghela nafas 'sekali lagi aku menghela nafas hari ini dan umurku akan memendek 10 tahun' umpatnya dalam hati.
"Kita baru berkenalan dan kita baru dua kali bertemu, dan kau selalu membuatku kesal atau membuat masalah." Kata Tao sambil menoleh ke arah Kris.
"Kita tidak hanya dua kali bertemu." Kata Kris sambil mengangkat sebelah alisnya. 'Dan kita sudah lama saling mengenal pandaku.' Lanjutnya dalam hati.
"Maksudmu?" Tao mengernyitkan dahinya tanda tidak mengerti.
"Kita di aula, bertabrakan, berciuman." Kata Kris santi sambil memperagakan kata –ciuman-.
"A.. A.. Apa?"
Kris menyeringai. Seringai teraneh yang pernah dilihat oleh Tao seumur hidupnya.
Seperti disadarkan oleh petir di siang bolong, Tao membulatkan matanya tidak percaya. Mulutnya terbuka dan tertutup, benar-benar tidak bisa berkata apa apa lagi. 'Astaga dia berbeda sekali! Tidak ada hantu disekitarnya dan ia nampak baik-baik saja what the hell is this!' Pekik Tao dalam hati.
Tiba-tiba merasakan getaran disaku celananya, sepertinya ada seseorang yang menelponnya. Langsung saja ia melihat kelayar ponselnya dan meggeser warna hijau pada layarnya.
"I.. Iya Ha.. halo?" Tao tergagap saat berbicara dengan masih menatap ke arah Kris yang masih menyeriangai.
"Tao ini Gege, ada apa dengan suara mu? Apa kau baik-baik saja sayang?"
Air wajah Tao tiba-tiba saja berubah menjadi ceria "Ge.. Gege? Ini Gege?" Tanyanya dengan nada kelewat ceria. Tidak menyadari perubahan wajah Kris yang menjadi datar saat mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Tao.
"Iya ini Gege, apa Gege mengganggu mu?"
"Tidak Ge, Tidak sama sekali, Tao sedang disekolah tapi sedang istirahat."
"Ah.. bisakah Gege minta bantuan mu Tao?"
"Tentu saja Ge." Kata Tao senang.
"Besok malam bisa Tao jemput Gege dibandara Manhattan?"
"Gege datang kesini oh my God!"
Pemuda diseberang telpon terkekeh pelan "iya, jadi bisa kan sayang?"
"Tentu tentu saja bisa, apapun demi Gege."
"Baiklah, ah sudah dulu ya Tao disini sudah larut malam, sampai jumpa. Aku menyayangimu."
Tao menggumam lirih "Aku juga menyayangi mu Ge." Katanya sambil tersenyum.
Kris yang awalnya tidak terlalu memperhatikan, langsung menoleh dengan cepat ke arah Tao saat mendengar kata sakral tersebut 'Brengsek kau!' umpatnya dalam hati.
Tao yang moodnya jadi sangat baik setelah menerima telepon tadi, jadi tidak terlalu memperdulikan kehadiran Kris. Ia terlampau senang ketika mendapat telepon dan bisa mendengar suara seseorang yang selama ini ia rindukan. Saat Tao akan menyimpan ponselnya, Guru untuk pelajaran selanjutnya telah memasuki kelas dan sontak saja ia langsung mempersiapkan diri. Kai juga telah masuk bersamaan dengan masuknya guru mereka. Nampak di wajah Kai beberapa luka memar tapi tidak terlalu kentara karena warna kulitnya yang lumayan gelap, sepertinya seseorang telah memberi beberapa "hadiah" untuknya.
Kris benar-benar marah karena kejadian telpon-telponan antara Tao dan "Si Brengsek" tadi, ia pun meminta izin ke UKS pada gurunya. Kepergiannya hanya dipandang angin lalu oleh teman-teman sekelasnya. Tao hanya memperhatikannya saat berjalan keluar dan mengendikkan bahu tanda tidak peduli. Beda dengan Kai yang hanya bisa menghela nafas dan menggelengkan kepalanya pelan seperti ia baru saja terbebas dari amukan susulan dari naga api.
.
.
.
Kris kini tengah bersandar di dinding pembatas atas sekolah. Sangat nampak gurat kekesalan diwajahnya.
"Sial!" Teriaknya sambil menghantam tembok pembatas dengan kepalan tanganya.
"Kutukan sialan ini akan patah bagaimanapun caranya!" Katanya dengan nada emosi "Bahkan jika kau menghalanginya brengsek!" Teriaknya.
Kris mendudukkan dirinya dan nafasnya terdengar memburu "Akan kubuat kau jatuh cinta padaku panda sialan!"
.
.
.
Ren sedang duduk di ujung balkon sambil memejamkan mata dan mengayunkan kaki telanjangnya. Kelopak matanya perlahan terbuka dan menampilkan iris berwarna biru cerah yang perlahan menjadi hitam kelam tanpa cahaya seperti jiwanya sedang tidak berada di dalam raganya saat ini.
"Patah huh?" Katanya dengan nada sarkastik "Aku mengorbankan banyak orang untuk membuat kutukan itu padamu Wu." Katanya sambil terkekeh pelan. "Bahkan dengan nyawaku dan ingatan Tao." Bibir kucing yang semerah delima itu pun menyeringai, seringai yang bisa membuat bulu kuduk siapapun yang melihat akan langsung meremang dibuatnya.
.
.
.
TBC / END?
.
.
.
Terima kasih buat yang sudah review di chapter kemarin. Terima kasih juga yang sudah membuat aku kembali semangat dalam melanjutkan ff ini, kata2mu jadi penyemangat bgt *kiss* *colek author soonhoon* oiya dan buat "anda" seseorang yang pakai nama Guest? Lalu mereview dengan mengatakan bahwa aku menjiplak dari manga seseorang. "anda" WAJIB baca ini : sekali lagi aku minta maaf kalau ini ada kemiripan atau kesamaan jalan cerita dengan manga yang "anda" maksud, jujur aku tidak tau sama sekali dengan manga yang "anda" baca itu. Dan jujur lagi, berkat atas review anda tiba2 mood aku turunnya drastis pake banget, jadi males bgt ngelanjutin ff ini karena aku merasa gagal. Sumpah rasanya tidak enak sekali *hikseu* jadi dengan tekad baja *alay* aku pun mencoba mencari manga yang kamu maksud, dan iya juga sih mirip, tapi kan aku nggak ngejiplak atau meremake atau apapun itu. Jadi dengan segala HORMAT, aku tidak akan menggunakan credit owner dari penulis manga itu *bow* tapi kalau "anda" masih ngotot juga bahwa aku ngejiplak dsb, aku SARANIN : NGGAK USAH baca dan review ff ini, aku rela kok *bright smile* aku hanya menunaikan kewajibanku buat nuntasin ini, karena akan sangat merasa bersalah kepada readers yg nungguin ff ini. oiya YANG PUNYA IDE CERITA MACAM INI PASARAN KOK, BUKAN CUMA AKU AJA ataupun MANGAKA ITU AJA. WASALAM. *very bright smile* *curhat gue kepanjangan Anjir! XD*
Ada yg ke BunkaNoHi2017 hari ini di IteBe nggak? *nanya doang* *no offense* XD
Read and Review...
Typo? Manusiawi kok yahh..
Terima kasih banyak buat yang sudah Follow dan Favorit, Love Love Love Love 1000 kali XD XD XD
See you on the next story, bubyee~~
