Trapped
Author : Nakayumii
Desclaimer : *like others*
.
.
Aku bersamamu.
.
.
DRAP
DRAP
DRAP
Suara langkah itu semakin cepat membelah malam yang semakin larut. Seseorang dibelakangnya juga ikut mempercepat langkahnya mengikuti seseorang didepannya. Ketakutan, hanya itu yang ia rasakan sekarang, langkahnya berubah menjadi berlari kecil, sesekali ia melihat ke belakangnya dilihatnya seseorang yang mengikutinya telah pergi. Dengan perasaan sedikit lega ia mulai untuk mencari pertolongan, setidaknya ia dapat menelfon seseorang.
"yeobeseyo eomma, bisakah kau menjemputku ? Barusan-"
HEP
KKYAAAA
"Halo ? Taeyong-ah ? Halo ? Ada apa disana ? Taeyong-ah jawab eomma!"
"tuuuttt..tuuttt"
Suara itupun menghilang mengembalikan keheningan malam yang dingin ini.
.
"KETUA ! ADA KASUS ORANG HILANG LAGI DI DAERAH HYOSAN."
"Lagi ? Ini ketiga kalinya orang hilang di daerah Hyosan!". Seseorang yang dipanggil 'Ketua' itupun hanya memijat kepalanya pelan.
"TAEIL SUNBAE! ADA YANG INGIN BERTEMU DENGANMU!." Panggil seorangpada Taeil, sang ketua tim.
"Hiks.. Pak Detektif kumohon selamatkan anakku hiks.. kumohon temukan Taeyongie ku kumohon hiks.." ucap seorang ahjuma yang langsung menangis dan memohon-mohon pada seseorang yang ia panggil 'Pak Detektif', Moon Taeil.
"Baik baik, tolong tenanglah dulu nyonya, supaya saya dapat bertanya kronologis sebelum Taeyong hilang." Pinta Taeil, bagaimanapun ia tahu bagaimana kalutnya seorang ahjuma didepannya.
"Tengah malam tadi, Taeyongie menelfonku dia memintaku untuk menjemputnya, dia sepertinya ingin mengatakan kalau dia sedang diikuti seseorang. Tapi sebelum mengatakan yang sepenuhnya tiba tiba ada suara seseorang seperti membekapnya dan suara teriakan Taeyongie terdengar sangat keras. Dan saat kupanggil-panggil sambungan kami terputus. Aigoo Taeyongieku yang malang hiks.. kumohon bantu aku detektif Moon." Pinta ahjuma tadi.
"Ah, baiklah .. sebaiknya nyonya kembali kerumah. Kami akan mencari Taeyong dan korban yang lain. Tenanglah dan jaga diri anda." Pinta Taeil dengan lembut memberi pengertian pada wanita didepannya.
"Kumohon hiks .. tolong temukan Taeyongiku.. kumohon hiks .."
"Ne, kami akan berusaha. Sekarang nyonya pulang dan beristirahatlah, petugas Kim, tolong antarkan nyonya Lee menuju rumahnya dengan aman." Perintah Taeil pada seorang petugas polisi yang tengah berjaga didepan ruangannya.
"Baik Ketua! Mari nyonya, lewat sini." Ucap petugas Kim sambil menuntun jalan nyonya Lee yang mulai limbung.
"YAISH! MENGAPA ADA DI TEMPAT YANG SAMA ?! SUDAH TIGA ORANG ? WHOAH DIA BENAR BENAR PSYCHO!." Teriak Taeil melampiaskan kekesalannya. "Baik, sebelum kita memulai pencarian kita rapat darurat sekarang!." Perintahnya pada bawahan-bawahannya.
"YEY KETUA."
"Ah, anu .. maaf mesin yang rusak itu sudah selesai saya perbaiki."
"Ah, ne ne .. baiklah, terima kasih atas pekerjaanmu. Apakah ada yang perlu tambahan peerbaikan tadi ?"
"Tidak ada, saya tadi hanya mengganti beberapa baut nya saja. Kalau begitu, baiklah saya permisi."
"berhati- hatilah."
PIIIP
.
"HIKS .. KUMOHON LEPASKAN AKU! HIKS .."
"EOMMA TOLONG AKU HIKS .. LEPASKAN INI!."
"HIKS .. HIKS.."
"HIKS .. SESEORANG TOLONG AKU .. KUMOHON.. HIKS."
Suara itu amat sangat menyakitkan untuk didengar. Suara tangisan dan teriakan yang sangat menggema ke seluruh ruangan kedap suara itu. Tapi tidak bagi orang dengan topeng wajah menyeramkan ini. Kedua tangannya bergerak pelan seolah menikmati musik dengan alunan yang tenang. Dia menikmati tiap suara memilukan itu.
KKKYYYYAAAA
Gerakan tangannya berhenti dan matanya menatap seseorang yang daritadi menangis sampai berteriak tadi. Tanpa mengubah posisi kedua tangannya. Suasana ruangan tersebut yang gelap dan lembab hanya ditemani sedikit cahanya senter UV menambah suasana mencekan di tempat itu. Ia pun menghampiri jeruji dari pria manis yang berteriak tadi.
.
"Korban pertama, Kim Doyoung usianya 21 tahun. Seorang pekerja paruh waktu di sebuah toko kue di daerah Hyosan no.27. Kim Doyoung dilaporkan hilang saat pukul 23.19 dan toko kue itu tutup pada pukul 20.30. " Jelas salah seorang detektif dengan nametag 'Jung Jaehyun'.
"Korban kedua, Chittapon Leechaiyapornkul usianya 20 teman-temannya menanggilnya dengan sebutan 'Ten' dia adalah salah satu mahasiswa Universitas XXX yang berasal dari Thailand. Ten tinggal di Korea bersama keluarga jauh dari sang ibu. Menurut laporan bibinya, Ten malam itu masih sempat voice call bersamanya sebelum tiba-tiba sambungannya berhenti. Awalnya, keluarganya mengira itu sinyal yang hilang, tetapi Ten tidak juga sampai dirumah dan handphone dan barang-barangnya ditemukan berada di tempat sampah samping rumah keluarganya di daerah Hyosan no.04."
"Dan korban ketiga adalah Lee Taeyong, ia berusia 22 tahun, salah seorang pegawai toko hewan di daerah Hyosan no.98. Menurut laporan, sepertinya dia tengah dalam perjalanan menuju rumahnya. Dikarenakan dia merasa diikuti, Taeyong pun mencoba menghubungi ibunya namun si penculik langsung membekapnya. Dan ibunya hanya mendengar teriakan Taeyong. Sekian laporan dari saya." Jaehyun pun mengakhiri laporannya dan membungkuk pelan dan berjalan menuju tempatnya.
"Jadi, bagaimana ketua ?." tanya Hansol, salah satu bawahan Taeil.
"Lihatlah dan perhatikan baik-baik. Ketiga korban mempunyai banyak kesamaan. Yang paling terlihat adalah wajahnya. Lihatlah, wajahnya sangat manis dan juga si penculik mengambil orang orang dengan tubuh yang ideal sampai kurus, seperti Ten atau Taeyong. Dilihat dari sisi pekerjaan mereka, mereka bukan orang yang mudah dikenal oleh semua orang. Atau setidaknya, mereka mengenal karena rekan kerja atau antara pelanggan dan penjual." Ucap Taeil sambil melihat ke arah wajah wajah pria manis dalam sebuah monitor.
"Caranya menculik pria manis itu juga sepertinya dia hanya langsung membekapnya dan memebawa mereka. Metode yang umum dilakukan oleh penculik seperti mereka." Tambah Jeno.
"ekhem, baiklah mulai sekarang kita mulai investigasinya. Dan juga, perketat penjagaan di daerah Hyosan. Kita akhiri rapat darurat ini. Mari langsung bekerja go!go!go!." koor Taeil membubarkan.
.
"Caranya menculik pria manis itu juga sepertinya dia hanya langsung membekapnya dan membawa mereka. Metode yang umum dilakukan oleh penculik seperti mereka."
Seseorang tengah menyeruput kopinya dengan nikmat sambil mendengarkan percakapan beberapa orang di monitornya dengan senyum meremehkan.
.
"Eomma ... hiks.. tolong aku .. hiks." Lirihan tangis itu sangat terdengar putus asa, seakan meminta ampunan dari orang yang membawanya ke tempat ini untuk mengembalikannya pada rumahnya. Isakan itu berhenti saat 'orang itu' menghampirinya.
"Taeyongie, kumohon jangan menangis. Matamu akan membengkak dan kecantikanmu akan memudar." Ucap seseorang bertopeng menyaramkan sambil mengelus pipi Taeyong yang tengah berbaring di tempat tidur dengan keadaan tangan dan kakinya yang terikat pada besi ranjang. Taeyong menjauhkan wajahnya dari tangan 'kotor' si penjahat yang membuat tubuhnya semakin mendekat pada tubuh Taeyong.
"Sayang ... kenapa menghindariku ?." tanyanya lirih, hampir seperti bisikan.
"kumohon .. hiks .. kembalikan aku ke rumah hiks.." isakan Taeyong muncul lagi seiring dengan tubuhnya yang semakin mendekat.
"ke rumah apa sayang ? Rumahmu disini sekarang. Aku adalah suamimu, dan mulai sekarang kau harus patuh padaku." Ucapnya sambil mengelus pipi Taeyong dan menghapus air matanya yang mengalir.
"berhentilah menangis sayang selagi aku masih bisa menahan diriku."
"hiks .. kumohon .. hiks.."
BRUGH
"SUDAK KUBILANG DIAM LEE TAEYONG!."
"AAAHH" rintihan kesakitan keliar dari mulut Taeyong akibat pukulan yang kencang.
BRUGH
"TAKKAN ADA YANG MENDENGARKAN TERIAKANMU !."
BRUGH
"AKU ADALAH SUAMIMU ! KAU HARUS PATUH PADAKU!."
"AAHH .."
Tangannya mendekat ke arah leher Taeyong, bersiap untuk mencekiknya.
'kau harus memperlakukan seseorang dengan lembut'
"AAHHH!" Teriakan itu berganti, bukan Taeyong yang mengeluarkannya. Tapi 'orang itu'. Ia memegang kepalanya dengan kuat, merasakan sakit yang amat sangat pada dirinya. Ia tak mengerti, mengapa hal itu harus kembali lagi.
"AAAAAAAAAHHHHHHHHHHH." Teriakan yang sangat kencang memenuhi ruangan gelap itu. Setelah berteriak tadi diapun meninggalkan ruangan itu.
.
Suatu siang yang cerah itu diisi dengan kemeriahan dari sebuah pesta yang diadakan di halaman sebuah rumah mewah kota Seoul. Para tamu tak henti-hentinya memberikan sebuah ucapan selamat atas kelulusan sang pemilik acara. Musik makin menggema dengan kencang, seolah mengajak para tamu untuk menikmati pesta kecil-kecilan ini.
"Congratulation, Renjun-ah."
"Thanks, Haechan-ah." Jawab Renjun -sang pemilik pesta- dengan pelukan ringan untuk sahabatnya, Haechan.
"Aku masih tak menyangka kau sudah lulus, perasaan baru kemarin kau dan aku dihukum ketika ospek dulu." Ucap Haechan sambil terkekeh.
"hahaha, sudah lama sekali ya ? Kupikir itu karena kau terlalu cepat mengambil waktu kuliahmu sehingga kau bisa lulus lebih cepat dariku."
"itu karena aku pintar, Njun-ah."
"Ne, kau memang pintar. Kuakui itu." Keduanya terkekeh kecil dan bersulang atas kebahagiaan Renjun.
Renjun pun mengalihkan pandangannya pada sesosk namja yang tengah menatap ke arah mereka dengan tatapan seolah memanggil. Renjun hanya tersenyum melihat namja itu dan mencolek pinggang Haechan.
"Chan-ah, pangeranmu sepertinya ingin berbicara dengan tuan putrinya ?." goda Renjun.
"apa maksudmu ?."
"lihatlah! Ada Jeno memperhatikanmu, sepertinya ada yang ingin dia bicarakan denganmu. B-E-R-D-U-A." Tekan Renjun.
"Jeno-ssi, kemarilah ! Jangan hanya berdiam diri disitu." Ajak Renjun dengan senyum manisnya. Jeno pun mendekati Renjun dan Haechan.
"sepertinya ada yang akan kalian biacarakan berdua, kalau begitu kalian bicaralah, aku akan menyambut tamu yang lain. Kutitip Haechan padamu Jeno-ssi. Baiklah, selamat tinggal." Pesan Renjun dan meninggalkan Haechan dan Jeno berdua.
"Ada apa, Jeno-ah?."
"Bisakah kita tidak membicarakannya disini ? Bagaimana dengan Latte ?." tawar Jeno.
"Baiklah."
Mungkin mereka tidak menyadari ada seorang lagi yang tengah memperhatikan mereka.
.
"Ini pesananmu." Ucap Jeno sambil memberikan segelas Latte yang barusan ia pesan pada Haechan.
"Gomawo, Jeno-ya." Ucap Haechan dan meminum sedikit Latte nya. "Jadi, apa yang ingin kau bicarakan denganku ?." tanyanya.
"Eum begini Haechan-ah, kau tahu kasus penculikan itu ?."
"Lalu ?."
"Dia menculik seseorang lagi, kali ini Lee Taeyong."
"uhukk.. uhuk.. MWO ?!." kaget Haechan hingga ia tersedak latte nya sendiri.
"Maka dari itu, aku ingin kau berhati-hati. Apalagi rumahmu melewati daerah itu."
"ne, aku paham kekhawatiranmu, terima kasih Jeno-ya. Kau memang teman yang baik." Ucap Haechan dengan senyuman manis. Membuat perhatian Mark hanya terfokus pada Haechan yang tengah tersenyum padanya dan kembali menikmati latte nya.
"eummm.. Haechan-ah.." panggil Jeno
"ne ?." jawab Haechan.
"bi.. bisakah kita.. menjadi lebih dari teman ?." tanya Jeno dengan gugup. Haechan hanya menunfuk dan tersenyum. Lalu tangannya memainkan gelas latte tersebut dengan perlahan.
"Maaf Jeno-ya .. aku .. aku merasa nyaman dengan hubungan kita yang seperti ini .. maafkan aku." Ucapnya dengan nada penyesalan. Jeno pun membalasnya dengan senyuman, menenangkan Haechan.
"tak apa Haechan-ah, jika kau merasa nyaman dengan hubungan kita yang sekarang, aku menghargainya. Jangan merasa bersalah seperti itu." Jawab Jeno dan menggenggam kiri Haechan yang bebas.
"Terima kasih, Jeno-ya."
"bukan masalah. Haechan-ah, bolehkah aku memelukmu ?." tanya Jeno.
"tentu, kemarilah." Jawab Haechan seraya berdiri dan merentangkan kedua tangannya yang dibalas oleh Jeno.
"Saranghae, Haechan-ah."
"Nado saranghae, Jeno-ya." Jawab Haechan. Ya, mereka saling mengungkapkan bahwa mereka saling mencintai. Bukan sebagai pasangan yang memiliki ikatan khusus,tetapi sebagai teman yang siap menerima kita. Walaupun sebenarnya Jeno harus menelan pahitnya penolakan dari Haechan, tapi Jeno tetap mencintai Haechan, baik sebagai teman maupun 'orang spesial'.
"Jeno-ya, bagaimana jika kita makan ayam dengan bir ?." tanya Haechan.
"tentu, jika aku tidak investigasi dadakan." Jawabnya.
"bailah, mari bertemu di jam makan malam nanti. Selamat bertugas kembali, Jeno-ya." Salam Haechan dan berlalu meninggalkan Jeno.
Jeno hanya memandang Haechan yang semakin menjauh darinya. Entah mengapa Haechan sangat sulit untuk ia gapai, padahal Haechan selalu ada untuk Jeno. Entah mengapa Jeno sangat mengharapkan Haechan untuk dapat berada di sisinya. Dan dengan penolakan Haechan tadi membuat hatinya dicubit keras, ingin rasanya Jeno berteriak dan memohon—mohon agar Haechan menerimanya. Tapi ia sangat menghargai keinginan Haechan. Jeno sangat mencintai Haechan. Ia menghargai dan menghormati Haechan. Jeno berfikir bukankah selama ia bisa bersama Haechan walaupun dengan status teman saja dia harus bersyukur ?. Cinta memang tak harus saling memiliki bukan ?.
.
.
TBC
.
.
Kaliaann maaf harus menunggu lama. Mau minta maaf juga karena cerita ini belum sesuai sama di teaser. Aku lupa kalau itu ada bagian dimana seharusnya ada di chap.2 maafkeun aku ㅠ.ㅠ
Semoga kalian bisa menikmati chapter ini. Chapter ini khusus JenoxHaechan. Nahloh, udah dikasih spoiler kan ? Jangan lupa RnR.
Typo bertebaran kek bintang dilangit ? Bahasa acak-acakan ? Maafkeun yaaaa
Love,
Nakayumkk
