"Jeno-ya, disini." Panggil Haechan memanggil Jeno yang baru sampai di restoran tempat mereka akan makan malam bersama. Jeno yang melihatnya langsung tersenyum dan melambaikan tangannya pada Haechan yang telah menunggunya.

"kau sudah menunggu lama ? Mianhae, aku baru selesai mengerjakan tugasku." Sesal Jeno.

"Tak apa, aku paham kesibukanmu Detektif Lee." Ucap Haechan dengan terkikik pelan, ia sedang menggoda Jeno.

"Aku benar-benar bertanya serius, Lee Haechan." Kesal Jeno, sebenarnya ia juga sedang rindu pada Haechan dan segala keusilannya. Melihat penampilan Haechan saat ini membuat Jeno gemas hingga mencubit pipi gembil Haechan yang terlihat menggoda.

"aa..aakh.. Jeno-yaa sakiitt! Neee aku sudah menunggumu dengan lama. Tapi aku tidak merasa kesepian, karena aku bersamanya. Aakh, lepaskan tangan usilmu dari pipiku Lee Jeno!." Kesal Haechan sambil berusaha melepaskan tangan Jeno yang mencubit pipinya.

"Haechan-ah aku kem...bali ?." ucap Renjun yang baru kembali dari kamar mandi dan langsung disuguhi Jeno dan Haechan dan saling mencubit pipi-Jeno- dan mencubit hidung-Haechan-. Jeno yang menyadari kedatangan orang lain pun melepaskan tangannya dari pipi Haechan dan tersenyum pada Renjun.

"Annyeong, Renjun-ssi." Sapa Jeno.

"Ne, Annyeong Jeno-ssi." Jawab Renjun.

"Jeno-ya, selama menunggumu tadi aku bersama Renjun. Tak masalah kan aku mengajaknya ?." tanya Haechan yang dijawab gelengan Jeno.

"Apa aku takkan mengganggu waktu berdua kalian ?." tanya Renjun yang membuat suasana menjadi canggung.

"Tidak, bukankah semakin banyak akan semakin seru?." Jawab Jeno dengan senyuman yang selalu terpatri di wajahnya. Padahal dalam hati dia kecewa karena waktu berduanya dengan Haechan akan terbatasi dengan adanya Renjun.

"Ne, kau tak perlu canggung pada kami, Renjun-ah." Jawab Haechan dengan riang.

"Terima kasih sudah mengundangku, Haechan-ah." Renjun tersenyum dan memeluk Haechan. Dalam hati ia menyesali untuk menerima ajakan Haechan ini. Renjun tak ingin menjdi obat nyamuk antara Jeno dan Haechan.

"Baiklah, cukuo basa-basinya, aku sudah lapar. Selamat makaaaaann." Ucap Haechan dan langsung menyantap ayam goreng di depannya.

"hahahha, kau masih saja gila makanan. Kapan kau akan kurus jika kau makan seperti ini." Ejek Jeno dan membersihkan sisa ayam yang berada di sekitar mulut Haechan.

'tuh kan aku hanya jadi obat nyamuk. Sudah seharusnya aku tidak mempedulikan ajakan si gendut ini.' Batin Renjun miris. Setelahnya ia menyeringai tipis.

"Ekhem .. Haechan-ah, Jeno-ssi bukankah hanya sekedar makan seperti ini tidak akan seru ? Bagaimana jika kita membuat makan malam ini menjadi menyenangkan?."

"Maksudmu Renjun-ah ?"

"Bagaimana jika kita membuat permainan siapa yang kalah harus meminum setengah gelas bir." Ajak Renjun yang disambut antusias oleh Haechan.

.

'Lee Jeno'

'Huang Renjun'

'Lee Haechan'

'hmm.. Lee Haechan, sepertinya menarik'

.

"Ahahahahaha.. ternyata kepintaranmu tidak bisa menjawab pertanyaan yang seperti ini hahahha.. lihatlah, sudah berapa banyak bir yang kau minum Lee Haechan." Tawa tersebut semakin kencang dan objek tertawanya hanya menunduk lemas dengan sekitar lima gelas bir didepannya.

"sialan.. hik.. kau Huang hik.. Renjun.. akan ku berikan .. hik.. setumpuk soal fisika setelah ini.. hik." Jawab Haechan sesegukan.

"coba saja hahahaha." Tawa Renjun semakin keras. Haechan hanya mendengus mendengar perkataan Renjun. Dengan lemas ia melihat jam yang menunjukkan pukul 11:27 malam. Artinya, ia harus segera pulang atau dia mendapat masalah.

"aah, sudah malam. Ayo pulang." Ajak Haechan pada kedua sahabatnya.

"Haechan-ah, kau akan pulang bersama Jeno-ssi ?." tanya Renjun yang agak khawatir melihat Haechan sempoyongan.

"Tidak, aku akan pulang sendiri. Jeno-ya, tolong antarkan Renjunnie pulang,ne ?" Jawab Haechan enteng dan hendak berdiri tetapi ditahan Jeno.

"Kau gila ? Sekarang ini rawan penculikan dan kau akan pulang sendiri ? Melewati jalan itu ?!." kesal Jeno ketika mendengar Haechan yang akan pulang seorang diri.

"Jeno-ya .. kau lupa siapa aku ? Apa yang kau khawatirkan ? Aku bisa menjaga diriku sendiri." Jelas Haechan agar Jeno dapat mengerti.

"Ne, kau adalah Lee Haechan, wae ?! Aku mengkhawatirkanmu! Dapatkah kau mengerti ? Kita bisa kan mengantarkan Renjun dulu sebelum aku mengantarmu pulang?."

"Itu sangat jauh, dan akan membuatmu lelah. Jadi, setelah mengantar Renjun pulang kau bisa langsung ke kantormu kan. Lagipula aku sudah menyewa jasa antar, kau tak perlu khawatir lagi." Ucap Haechan menjelaskan pada Jeno. Jeno yang luluh pun mengangguk mengizinkan.

"Asal kau harus berjanji akan sampai di rumah dengan selamat." Syarat Jeno yang hanya dianggap angin lalu oleh Haechan dan membalasnya dengan anggukan. Jeno pun memapah jalan Haechan yang tengah mabuk berat menuju mobil jasa antar dibantu Renjun.

"Aku mencintaimu, Haechan-ah." Ucao Jeno sambil memeluk tubuh Haechan.

"Aku juga mencintaimu, Jeno-ya." Jawab Haechan dengan lirih.

"aku titip temanku ya, pak supir." Ucap Renjun yang dibalas anggukan si supir mobil.

Mobil jasa antar itu pun meninggalkan Jeno dan Renjun yang masih menatap mobil yang membawa Haechan semakin menjauh. Suasana canggung pun menerpa mereka.

"aah.. baiklah Renjun-ssi aku akan mengantarmu pulang, kkaja." Ajak Jeno yang diangguki Renjun.

.

"Aigoo.. Pak supir, jika sudah sampai bagunkan aku ne .." ucap Haechan dengan tubuh yanh sempoyongan.

"Baik, nanti saya akan membangunkan anda." Jawab sang supir. Haechan yang mendapat jawaban langsung memejamkan matanya. Dan sempat senyuman samar dari si supir sebelum dirinya terlarut dalam kegelapan.

"Istirahatlah dengan nyaman, sayang." Ucap si supir dengan senyuman tipis dan mulai melanjutkan rencana selanjutnya.

.

Sepeninggal Haechan, suasaa canggung langsung menyerang Renjun dan Jeno. Terbukti dari Jeno yang nampak tenang memperhatikan jalan dan Renjun disampingnya yang hanya memainkan jarinya dengan pelan. Jeno yang mulai melirik ke arah Renjun yang terlihat canggung mulai membuka suara.

"Selamat atas kelulusanmu Renjun-ssi, maaf aku baru mengatakannya sekarang." Buka Jeno dengan agak canggung.

"Terima kasih Jeno-ssi." Jawab Renjun dengan terkikik kecil. "Oh ya, sudah berapa lama kau dan Haechan saling mengenal ?." tanya Renjun.

"Aku dan Haechan saling mengenal sejak kami masih anak-anak. Dulu aku baru pindah ke daerah itu dan tidak memiliki teman. Tapi, dengan konyolnya dia mendekatiku dengan membawa sendok pasir ditangannya. Aahh, aku merindukan masa-masa itu." Cerita Jeno mengingat masa kecilnya. "Bagaimana denganmu ? Bagaimana kau dan Haechan saling mengenal ?." tanya Jeno.

"Aku mengenalnya saat masa orientasi di universitas. Aku adalah siswa pindahan dari China waktu itu, dan para senior menjahiliku. Dengan tingkahnya yang sok heroik itu dia mulai melawan senior dan membelaku. Dan pada akhirnya dia kalah melawan senior itu dan kita berdua dihukum hehehe." Cerita Renjun dan tertawa diakhirnya.

"Aku heran, mengapa dia bisa seaneh itu ?." tanya Jeno sambil tertawa.

"Kupikir dia spesies yang hanya ada satu di dunia ini." Ucap Renjun. "oh iya Jeno-ssi, apa kau menyukai Haechan ?." tanya Renjun agak berhati-hati.

"Ya, aku menyukainya. Apa jelas terlihat ?" Jawab Jeno dengan senyuman.

"apa kau pernah menyatakan perasaanmu pada Haechan ?."

"Ya, aku sudah pernah menyatakannya."

"Lalu apa balasannya ?." Renjun sangat penasaran pada hal ini.

"Huft .. dia .. menolakku, dia ... dia lebih nyaman dengan hubungan kami yang sekarang. Dan aku menghargai keputusannya." Jawab Jeno dengan helaan nafas berat.

"Kuharap kau dapat menerimanya, Jeno-ssi. Dan terima kasih atas tumpangannya. Maaf aku merepotkanmu, padahal kita baru pertama kali berbicara." Ucap Renjun saat mobil yang mereka tumpangi telah sampai di depan rumah megah Renjun.

"Sudah, tak perlu sungkan. Teman Haechan adalah temanku. Bukankah begitu ? Renjunnie ?." jawab Jeno dan memanggil Renjun dengan panggilan akrab.

"Ahh, terima kasih Jeno-ya ? Kau ingin mampir ?." ucap Renjun dengan panggilan akrab juga.

"Tidak, terima kasih. Masuklah, udara semakin dingin."

"Kau juga, hati-hati di jalan."

"Ah, Renjunnie." Panggil Jeno saat Renjun akan membuka pintu mobilnya.

"Ne ?."

" Aku Mencintaimu." Ucap Jeno sambil memeluk Renjun. Renjun hanya diam mematung, mencerna apa yang telah terjadi. "Ah, wajar kau kaget. Ketika berpisah, aku dan Haechan biasa mengatakannya, karena kau sudah menjadi bagian dari kami bukankah seharusnya kita juga melakukannya ?." jelas Jeno karena melihat Renjun yang terdiam.

"Aah .. aku mengerti, aku juga mencintaimu, Jeno-ya. Jja, aku duluan ne." Jawab Renjun dan melangkah menuju rumahnya.

DEG

DEG

DEG

'Apa yang kau fikirkan Huang Renjun! Aahh, ini adalah pertama kalinya nanti juga kau akan terbiasa.'

.

Haechan terbangun setelah dirasakannya udara yang semakin dingin. Dengan penglihatannya yang masih buram dia dapat melihat sebuah ruangan yang gelap dengan beberapa besi di sekelilingnya. Dan sekarang dia mulai mencium bau ruangan lembab di sekitarnya. Dia mulai menyadari bahwa tangan dan kakinya diikat pada pinggiran kasur. Panik, ya Haechan mulai panik dengan keadaannya. Ia menggerakkan tangan dan kakknya dengan brutal, tapi apa daya ikatan pada tangan dan kakinya sangat kencang.

DRAP

DRAP

DRAP

Haechan mulai berhenti menggerakkan tangan dan kakinya ketika mendengar suara langkah kaki yang semakin lama semakin mendekat ke arahnya. Haechan semakin panik dan semakin brutal menggerakkan tangan dan kakinya, berharap akan terlepas dan dia dapat keliar dari ruangan gelap ini.

DRAP

DRAP

DRAP

DRAP

Suara langkah kaki itu semakin dekat, tapi Haechan tidak dapat melepasan ikatan pada tngan dan kakinya. Menyerah ? Tidak! Ia tidak menyerah tapi semakin Haechan menggerakkan tangan dan kakinya maka akan semakin sakit pula. Takut ? Ya ! Haechan sangat takut! Ia menyesal tidak mendengarkan perkataan Jeno. Haechan semakin takut ketika ia melihat seseorang dengan topeng menyeramkan mendekatinya, Haechan mulai menangis ketika orang itu mendekatinya.

"Kumohon, jangan sakiti aku kumohon." Suaranya semakin mengecil yang diiringi suara tangisnya.

"Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu." Dapat Haechan dengar suara dibalik topeng itu. Suaranya sangat lembut. Suara itu sedikit menenangkan Haechan walaupun dia masih agak takut. Tangan orang dibalik topeng itu menghapus air mata Haechan dengan agak keras.

"ss.. siapa.. k.. kau?." Tanya Haechan dengan suara bergetar.

"Aku Glue." Jawab orang itu. Dan membuka topengnya perlahan.

DEG

'Tampan ...'

Sungguh, wajah ini bukan yang Haechan bayangkan. Bayangannya mengatakan seseorang dibalik topeng ini adalah wajah yang sangat menyeramkan seperti topengnya. Namun Haechan salah besar, dapat Haechan lihat wajahya yang tampan namun tidak menyembunyikan raut kekejamannya.

Tangannya membawa piring berisi makanan yang kemudian pria itu bawa menuju ke sebuah sel dimana seseorang tengah meringkuk menangis ketakutan. Tangan seseorang di dalam sel itu terikat, walau tak terikat seperti Haechan sekarang. Seakan mendapat penolakan, pria bertopeng itu memukul namja manis di dalam sel itu sambil memakinya.

"AKU SUDAH BERBAIK HATI MEMBERIMU MAKAN DAN KAU MENOLAKNYA CHITTAPHON?! CEPAT MAKAN ATAU KAU TAKKAN MENDAPATKANNYA LAGI !." teriak pria bertopeng itu dan kembali mendekati Haechan.

"Kau tak ingin mendapat pukulan seperti itu kan ? Jadi, ikuti kata-kataku !." ucap pria itu dengan tatapan dinginnya.

"Sekarang kau istriku, mengerti ?." ucapnya yang dijawab Haechan dengan diamnya.

"KENAPA DIAM ? KAU MENOLAKKU?! JAWAB ! KAU ADALAH ISTRIKU LEE HAECHAN!." Bentak orang itu dengan menjambak rambut Haechan kencang. Haechan pun hanya mengangguk dengan air mata yang kembali membasahi wajahnya.

"Uljima, sayang. Kau jelek ketika menangis." Ucap pria itu dan menghapus air mata Haechan-lagi-. Kemudian meninggalkan ruangan itu.

'sebenarnya apa yang terjadi ?'

'ada apa dengannya ?'

.

.

Pagi hari yang cerah, burung berkicauan saling bersahut membuat pagi Renjun sangat indah. Apa ini karena Jeno kemarin malam ? Renjun langusng menggelengkan kepalanya cepat saat mengingat malam itu. Malam pertama kalinya seseorang mengakatan 'Aku Mencintaimu' selain orang tuanya. Tidak ! Itu hanya ungkapan selamat tinggal antara mereka. Bolehkan Renjun berharap lebih ? Aahh.. fikirannya itu semakin kemana-mana.

Renjun pun keluat kamarnya dan menemukan adiknya Chenle dan gege nya Winwin yang tengah menyiapkan sarapan.

"Pagi, Renjun-ge." Sapa Chenle ketika melihat kakak keduanya.

"Pagi, Chenle." Sapanya kembali.

"Ekhem, Renjun-ah jangan bertingkah seperti aku tidak tahu apa yang kau lakukan tadi malam." Introgasi Winwin yang membuat Renjun terdiam.

"A.. apa yang aku lakukan Win-ge ?." tanya Renjun gugup.

"Kau pulang larut malam, Huang Renjun." Jelas Winwin.

"ah.. itu .. duibuqi gege ku sayaangg." Pinta Renjun dengan sedikit tingkah imut.

"Jangan karena kau sudah lulus kau masih boleh berkeliaran larut malam! Ingatlah sekarang sedang marak penculikan! Jaga dirimu. Kajja Chenle-ya kita berangkat." Ucap Winwin dan mengajak Chenle.

"Oh iya Renjun-ge, tadi gege mendapatkan paket." Ucap Chenle.

"dari siapa Chenle-ya ?." tanya Renjun heran. Jarang sekali ada yang mengirimnya paket.

"entahlah, paketnya aku simpan di meja belajar gege. Aku berangkat dulu ya Renjun-ge." Pamit Chenle dan meninggalkan Renjun.

Renjun yang penasaran pun kembali ke kamar setelah menghabiskan sarapannya. Dapat dilihatnya sebuat kotak berukuran sedang dengan tulisan 'Untuk Huang Renjun'. Renjun pun membuka paketnya.

DEG

'Apa ini ?!'

.

.

.

TBC

.

.

.

Terima kasih untuk yang sebesar-besarnya buat kalian yang udah Review T.T awalnya udah mau nyerah aja bikin ff chapter dan bikin ff yang gesrek dan lawak kek biasanya. Tapi liat revoew kalian bikin gak tega kalau harus berenti T.T.

Dan sekarang yumii mau jawab review kalian nih, yang dari Prolog-Chapter 1 yeaaay *selebrasi*

JeongCTLee : Udah dilanjut niihh~ makasih yaa udah review. Jangan lupa review lagi *bow*

Safa : Udah dilanjut niihh~ makasih yaa udah review. Jangan lupa review lagi *bow*

Rimm : Bikin penasaran yaaa ? Siapa hayooo .. udah dijawab nih, walaupun belum sepenuhnya ketauan. Mark typo ? Yaaa aku baru sadar itu typo parah banget :v. makasih yaa udah review. Jangan lupa review lagi *bow*

Duabumbusayur : Beda nggak ya ? Beda nggak ya ?. Ikutin aja deh, pasti tau :"). makasih yaa udah review. Jangan lupa review lagi *bow*

Kiyo : Udah dilanjut niihh~ makasih yaa udah review. Jangan lupa review lagi *bow*

.

.

Love, Nakayumii