Hehehehee author balik nii,
Langsung dibaca ajaa yaa~
Happy reading guys! Jangan lupa review yakk^^
Last section on part 5 :
("Nanti sore, aku ingin kau pergi ke taman belakang. Aku ingin menjadikan jungkook sebagai pacarku. Apa yang harus ku persiapkan?" Ucap V.
["NE?! JINJJA?!"])
Part 6 : Caught In A Lie
V langsung menjauhkan telefon tersebut dari kupingnya.
"Yak jangan berteriak!"
["Aku siap membantumu! Kau hanya perlu menyatakan perasaanmu. Aku yang akan mengurus lainnya"]
"Terima kasih hoseok, jangan lupa jam 6 yaa di taman belakang"
["Ne"]
"Kau harus membuat dekorasi yang romantis, awas saja jika tidak"
Terdengar suara ketawa dari hoseok.
["Aigoo ketua gangster akan berpacaran! Aku tidak sabar ingin mengetahui caramu memperlakukan namja secara lembut eoh"]
"Berisik" kekeh V.
["Tenang saja aku akan menyiapkan yang terbaik"]
"Hm gomawo"
["Ne"]
BEEP.
V tersenyum. Ia lalu memakan makanannya dan mandi. Setelah mandi, ia duduk di atas kasur sambil menyalakan televisi.
"Ahh ini sangat membosankan" ucap V karena ia sudah mengganti banyak channel tetapi belum menemukan tontonan yang bagus.
"Kapan jungkook pulang" ucap V dan melihat jam.
"Ck masih lama" ucap V lalu membanting remot televisi tersebut di atas kasurnya.
Ia benar-benar bosan sekarang. Jika saja ia dibolehkan keluar, ia pasti sudah berada di taman sekarang. Hanya saja ia sudah berjanji pada jungkook. Ia pun mengedarkan pandangannya pada kamar asramanya ini. Ia melihat sebuah dompet di atas meja sebelah kasurnya.
"Eoh? Dompetnya jungkook? Ketinggalan? Bagaimana ia bisa membayar makanan ini kalau dompetnya ketinggalan?" Ucap V yang bingung lalu mengambil dompet tersebut.
"Dasar ceroboh" ucap V.
Ia membuka dompet tersebut dan langsung melihat cetakan foto jungkook tersenyum manis di dalamnya. V ikut tersenyum melihatnya.
"Jungkook muda sangat imut" ucap V lalu terkekeh pelan.
V melihat ada dua foto didalam tempat foto tersebut, tetapi foto satunya ditutupi oleh foto jungkook yang tersenyum manis tadi. Karena penasaran, V pun mengeluarkan kedua foto tersebut dari dalam dompet jungkook. Ia melihat foto kedua. Seketika tubuhnya membeku.
KRINGGGGG!
V terkejut. Ia segera mengambil telefon genggamnya karena berbunyi nyaring.
"Eoh tumben ada yang menelfonku" ucap V lalu mengangkatnya.
"Ne ada apa?"
["Yeobboseyo, apakah ini taehyung?"]
V terkejut karena yang menelfon menyebut nama aslinya. Sangat jarang orang-orang menyebut nama aslinya. Lalu V melihat layar hpnya yang menunjukkan beberapa angka bukan sederet huruf yang membuktikan bahwa nomor ini tidak ada dikontaknya V.
"Nuguseyo?"
["Aku ayahnya jungkook, apa kau mengingatku?"]
DEG
V terdiam.
["Halo? Apa kau masih disana?"]
"N-ne ahjussi, waeyo?"
["Ahh kau memang taehyung bukan? Bagaimana kabarmu? Aku sudah lama mencari kontakmu dan aku baru saja menemukannya"]
"Ne aku taehyung. Aku baik-baik saja"
["Apa benar kau sekolah di balvaria school?"]
"Ne"
V takut untuk menanyakan jungkook. Seharusnya ia sudah mengeluarkan beratus-ratus pertanyaan sekarang. Tetapi ia takut.
["Apa kau ingat jungkook?"]
"T-tentu ahjussi"
["Dia juga sekolah disana. Apa kau tidak pernah bertemu dengannya?"]
"N-ne?"
V langsung melihat foto kedua yang baru saja ia keluarkan dari dompet jungkook.
["Kuharap kau berteman baik dengannya lagi taehyung-ah"]
"A-ah tentu ahjussi"
["Baiklah, sepertinya aku harus pergi sekarang. Aku akan menghubungimu lagi. Jaga diri baik-baik ya"]
BEEP
Hati V perlahan sakit. Ia menatap nanar foto kedua yang dikeluarkan V dari dompet jungkook tadi. Foto tersebut memperlihatkan dua bocah yang sedang bermain pasir bersama sambil tersenyum menghadap kamera menunjukkan eye smile masing-masing. Satu bocah yang disisi kanan adalah jungkook. Dan disebelahnya adalah V. Dirinya sendiri.
"Kau.. kau jeon jungkook sahabatku. Mengapa kau membohongiku?" Ucap V.
Ia bingung. Apakah ia marah sekarang? Ia senang mengetahui bahwa jungkook yang sekarang adalah jungkook sahabatnya dulu. Tetapi ia merasa marah karena jungkook membohonginya. V yakin jungkook tau bahwa dia adalah kim taehyung dari awal. Perlahan rasa marahnya semakin meninggi melihat foto tersebut. Ia memasukkan foto tersebut lagi dan menaruh dompet tersebut di atas meja tadi. Ia benar-benar tidak menyukai orang yang membohonginya. Ia kembali mengambil telefon genggamnya dan menelfon hoseok.
["Yeobboseyo V"]
"Jangan datang ke taman belakang"
["Waeyo? Mengapa nada bicaramu seperti ini? Kau sedang marah?"]
"Rencana dibatalkan"
BEEP.
Tanpa banyak bicara, V memutuskan sambungan telefonnya. Ia sedang badmood dan tidak ingin diganggu.
Jungkook yang baru saja menyelesaikan pelajarannya segera memasukkan buku-buku yang ada di atas mejanya ke dalam tasnya. Ia tidak sabar bertemu dengan V maka dari itu ia mempercepat langkahnya menuju ke gedung asrama. Semakin dekat dengan asrama, detak jantungnya semakin cepat. Entah mengapa ia merindukan V. Dengan senyuman yang mengembang, jungkook memasuki kamar asrama. Ia langsung melihat V yang sedang duduk di atas kasurnya.
"Aku pulang" ucap jungkook.
Sunyi. Tidak ada jawaban apapun dari V.
"Kau kenapa? Mengapa tidak menjawabku?" Tanya jungkook yang berdiri disamping kasur.
V perlahan menggenggam tangan jungkook dan menatap mata jungkook.
"Ada apa?" Tanya jungkook yang bingung karena V tidak berbicara sedari tadi.
Detik kemudian, V menarik keras tangan jungkook hingga jungkook terjatuh di atas kasur. V mencengkram baju jungkook dan mendorongnya hingga membentur tembok diujung kasur. Jungkook terkejut.
"Yak-"
"Jawab aku" ucap V menatap jungkook.
Jungkook terdiam. Tubuhnya kini dikunci oleh kedua tangan V. Wajah mereka sangat dekat.
"Siapa kau?" Tanya V.
"Aku jungkook temanmu" ucap jungkook.
"Apa kau jeon jungkook sahabatku?"
"T-tida-"
"Jangan bohong!" Bentak V membuat jungkook terkejut bukan main.
'Apa dia tau siapa diriku?' Batin jungkook yang perlahan merasakan rasa takut.
Ini pertama kalinya jungkook merasakan takut saat bersama V.
"Apa kau jeon jungkook?!"
Jungkook dapat melihat emosi V dari dalam matanya.
"A-aku ngh aku-"
"Mengapa kau membohongiku?" Tanya V.
"Aku t-takut ka-"
"Wae?!" Bentak V.
Jungkook menutup matanya. Ia benar-benar takut pada V sekarang.
"Aku selama ini merindukanmu dan kau? Kau berada di dekatku tetapi kau tidak mengatakannya padaku jungkook!"
"M-mianhae V aku tidak ma-"
"Kau bahkan mendengarkan semua ceritaku dan kau masih bisa membohongiku? Apa kau punya perasaan? Aku disini sakit merindukanmu!"
"A-aku-"
"Aku membencimu" ucap V.
Jungkook terdiam. Ia tidak bisa lagi berbicara. Hatinya terasa sakit. Ketakutannya kini terasa semakin nyata. Perlahan air mata turun dari kedua matanya. V melepas kedua tangannya pada tubuh jungkook dan segera pergi keluar kamar. Pikirannya sedang kacau, ia butuh ketenangan. Ia memilih taman belakang untuk menenangkan pikirannya. Sedangkan jungkook masih menangis tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi. Ia berpikir bahwa ia dapat menyimpan dengan baik rahasia tersebut. Ia juga berpikir kalau dia menyembunyikannya, V tidak akan membencinya. Dan ternyata semua dugaannya salah. Kini V membencinya. Jungkook mengusap air mata yang terus keluar dari matanya. Ia memilih untuk keluar dan pergi ke atap. Ia tau bahwa V pasti ke taman belakang, maka dari itu ia pergi ke atap. Ia juga butuh ketenangan kali ini. Sesampai di atap, jungkook langsung berdiri di ujung pembatas pagar. Ia menikmati angin disana sambil menutup mata.
"Ahh tenangnya" ucap jungkook yang berusaha melupakan sejenak masalahnya bersama V.
Jungkook tersenyum disaat angin menerpa wajahnya. Ia merasakan dirinya ingin menangis lagi dan lagi. Tak lama setelah ia menikmati angin disana, ia mendengar pintu atap terbuka. Ia langsung menolehkan wajahnya kebelakang. Ia melihat jimin yang juga menatapnya. Perlahan bibir jimin terangkat ke atas memperlihatkan senyuman lebarnya pada jungkook.
"Hai jungkook" ucap jimin.
"Apa yang kau inginkan?" Ucap jungkook.
"Aku tidak akan mengganggumu, aku kemari untuk mencari kesenangan saja dan ternyata kau ada disini" ucap jimin dan berdiri disamping jungkook.
Jungkook langsung mengalihkan pandangannya ke bawah bangunan lagi dan tidak memperhatikan jimin.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya jimin menatap jungkook.
Jungkook menghela nafas pelan.
"Wae? Kau sedang ada masalah?"
"Mengapa kau tiba-tiba baik padaku?" Tanya jungkook.
"Aku ingin meminta maaf atas semua perilaku burukku padamu, aku tidak seharusnya memperlakukanmu seperti itu. Kau tidak memiliki kesalahan apapun padaku jadi kumohon maafkan aku" ucap jimin menatap jungkook.
Jungkook mengangguk pelan.
"Apa boleh aku menjadi temanmu?" Tanya jimin tersenyum.
"Boleh jika kau menjadi temannya V" ucap jungkook lagi.
"Itu tidak mungkin" ucap jimin.
Jungkook terdiam. Jimin mengedarkan pandangannya ke depan.
"Aku merindukan V, aku merindukan disaat aku berkelahi dengannya. Tidak berkelahi satu sama lain, tetapi berkelahi melawan satu orang bersama. Hatiku terus merindukan semua tentang V. Aku ingin kembali menjadi sahabatnya seperti dulu, tetapi pikiranku terus membencinya" ucap jimin dan melihat ke arah jungkook lagi.
Jimin terkejut melihat jungkook yang tiba-tiba mengeluarkan air mata.
"Yak mengapa kau menangis? Apa kau sakit? Apa aku salah berbicara?"
Jungkook menggeleng pelan. Perlahan suara isakannya terdengar. Jimin yang bingung langsung mengelus punggung jungkook. Jujur saja, jimin tidak pernah mengurus orang menangis. Jadi wajar saja jika ia kaku melihat jungkook menangis apalagi tidak tahu sebabnya.
"Hiks d-dia memarahiku" ucap jungkook.
"Nugu?" Tanya jimin.
"V" ucap jungkook.
"Waeyo? Mengapa dia memarahimu?" Tanya jimin.
Jungkook menggeleng pelan.
"Gwaenchana, kau bisa menceritakan semuanya padaku" ucap jimin.
"Tidak hiks aku tidak mempercayaimu" ucap jungkook.
"Ne, suatu saat kau akan percaya. Aku benar-benar ingin meminta maaf. Aku juga kesini dan tanpa sengaja bertemu denganmu. Aku berjanji tidak akan mengganggumu jungkook. Musuhku hanya V dan kau tidak" ucap jimin.
Jungkook menghiraukannya dan tetap menangis. Perlahan ia duduk bersender pada tembok pembatas pagar. Jimin juga mengikutinya dan duduk disamping jungkook. Jimin terus memperhatikan jungkook yang menangis tanpa tahu apa yang harus ia lakukan.
"Ahh apa yang harus kulakukan? Aku tidak pernah mengurus orang menangis" ucap jimin menggaruk kepalanya.
Jungkook memeluk kakinya dan menenggelamkan kepalanya diantara kedua kakinya.
"Berhentilah menangis" ucap jimin dan dengan perlahan menyentuh rambut jungkook.
Ia dengan ragu mengelus puncuk kepala jungkook yang menunduk.
"Ugh apa ini membuatmu nyaman?" Tanya jimin yang bingung.
Jungkook tidak menjawabnya. Jiminpun tetap mengelus rambut jungkook dengan lembut dan terus mengatakan untuk berhenti menangis. Setelah beberapa lama, tangisan jungkook mereda. Ia perlahan mengangkat kepalanya.
"Apa perasaanmu sudah membaik jungkook?" Tanya jimin.
Jungkook mengangguk.
"Jangan menangis lagi" ucap jimin.
"Aku bosan mendengarmu berkata itu" ucap jungkook dengan suara yang serak.
"Hehe aku tidak tau harus bagaimana, jujur saja aku tidak pernah mempedulikan orang lain menangis"
"Walaupun V suka berkelahi, setidaknya dia lebih baik darimu" ucap jungkook.
"Ne aku tau itu, dia memang lebih baik dariku" ucap jimin.
"Apa kau tidak pernah memiliki pacar?" Tanya jungkook.
"Tidak" ucap jimin.
"Kau harus mencoba memilikinya, sifatmu bisa berubah jika memiliki pacar atau orang yang kau sayangi, percayalah" ucap jungkook menatap jimin.
"Apa V memiliki orang yang dia sayang?" Tanya jimin.
"Tentu, dia orang yang sangat baik. Aku yakin jika kau memiliki orang yang kau sayangi, aku pasti akan berubah"
Jimin tersenyum senang.
"Mengapa jadi membicarakanku? Seharusnya aku bertanya mengapa kau menangis?" Tanya jimin.
"Rahasia" ucap jungkook tersenyum.
"Aku penasaran" ucap jimin.
Jungkook terkekeh.
"Untuk apa kau penasaran? Lagipula ini tentang V" ucap jungkook.
"Siapa tau aku bisa membantu memecahkan masalahmu, ya walaupun aku ini musuhnya V, aku dulu pernah menjadi sahabatnya dan mengetahui semua tentangnya" ucap jimin.
"Benarkah? Wah kalian pasti sangat dekat" ucap jungkook.
"Tentu, kami sudah seperti saudara. Aku sering tidur di kamarnya karena dia memang sangat jarang memiliki roomate" ucap jimin.
Jungkook tersenyum membayangkan jimin dan V yang akur dulunya.
"Mengapa kau menghancurkan persahabatan kalian?" Tanya jungkook.
"Aku menyadarinya. Aku menyadari bahwa aku salah. Tetapi entah mengapa aku masih membencinya. Dia telah merebut posisiku" ucap jimin.
"Kau harus meminta maaf padanya" ucap jungkook tersenyum.
"Apa dia mau memaafkanku? Aku bahkan hampir membunuhnya" kekeh jimin.
"Dia juga ingin membunuhmu, tetapi dia sudah berjanji padaku untuk tidak membunuhmu" ucap jungkook.
"Kau memang anak yang baik" ucap jimin.
Jungkook tersenyum tipis.
"Cobalah meminta maaf, aku akan membantumu" ucap jungkook.
"Sudah dua hari yang lalu semenjak aku berhenti mengganggunya. Aku memang sengaja tidak menganggunya karena tidak mau berbuat ulah lagi. Maafkan aku karena hmm yang ditaman kemarin" ucap jimin.
"Ne" ucap jungkook tersenyum.
"Mengapa kau dengan sangat mudah memaafkan seseorang?" Tanya jimin.
"Setiap orang pantas mendapat kesempatan kedua untuk berubah" ucap jungkook dan tersenyum lagi.
Jimin tertegun mendengar jawaban dari jungkook.
"Ne, aku akan menggunakan kesempatan keduaku untuk menjadi temanmu" ucap jimin dan terkekeh.
"Ne, sepertinya aku harus kembali. Hari mulai gelap" ucap jungkook.
"Terima kasih sudah mendengarkan dan percaya padaku jungkook" ucap jimin.
Jungkook hanya tersenyum lalu meninggalkan atap. Ia pergi ke kantin dengan lesu dan langsung makan disana. Ia masih takut untuk kembali ke kamar asrama. Ia takut melihat V. Ia takut bertemu V. Ia takut pada V. Apa yang terjadi? Jungkook tidak pernah merasa takut pada V. Tetapi entahlah, tatapan V untuknya tadi sangat menyeramkan.
'Walaupun aku takut, aku harus tetap meminta maaf padanya. Aku yang salah' batin jungkook.
Setelah selesai makan, ia memantapkan hatinya untuk berjalan ke asrama. Sesampai dikamar, ia tidak melihat adanya V. Jungkookpun naik ke kasur dan menunggu V pulang. Tetapi sebelum V datang, jungkook ketiduran.
Jungkook terbangun. Ia langsung menatap ke arah kasur V. Ya V ada di sana. Jungkookpun tersenyum. Ia segera bangun dan membersihkan diri lalu menyiapkan barang barangnya untuk sekolah. Ia juga menyiapkan seragam dan baju milik V. Setelah semua siap, ia membangunkan V dengan keberaniannya.
"V bangun" ucap jungkook dan menggoyangkan badan V secara pelan.
V perlahan membuka matanya. Ia langsung menatap jungkook.
"Bangunlah aku suda-"
"Pergilah" ucap V dan langsung membalikkan tubuhnya membelakangi jungkook.
Jungkook terdiam seketika.
'Apa dia sangat membenciku?'
Jungkook menunduk lesu.
TBC!
Heol.. TBC mulu ya? Kkk~
Ditunggu kelanjutannya yaa^^
Terima kasih yang udah baca dan review yaahh!
