I know it's late but Happy 4th Anniversary BTS!

Spread your wings and fly higher!

Keep support BTS guys^^

[You and I, if we're together, We can smile] -ynwa


Taehyung benci jungkook? Andwaeee! T.T

Kkk yukk dibaca lanjutannya~

Happy reading guys!^^

Last section on part 6 :

['Apa dia sangat membenciku?'

Jungkook menunduk lesu.]


Part 7 : I'm Sorry

"Baiklah aku pergi, baju dan bukumu sudah ku siapkan" ucap jungkook dan keluar kamar dengan perasaan sedih.

Jungkook berjalan lesu menuju gedung sekolah. Kini semangatnya benar-benar tidak ada. Ia terus memikirkan tentang V. Ia takut V akan pergi darinya. Ia sudah benar-benar menyayangi V.

"Heyyy"

Jungkook terkejut pelan karena tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. Jungkookpun menoleh dan mndapatkan rapmon yang tersenyum. Jungkook ikut tersenyum melihatnya.

"Aku benar-benar bahagia hari ini" ucap rapmon dengan senyuman lebarnya.

"Waeyo? Ada apa?" Tanya jungkook.

"Pacarku sudah keluar dari rumah sakit"

"Jinjja? Wahh titipkan salamku padanya ya, kuharap dia akan cepat pulih" ucap jungkook yang ikut tersenyum.

"Tentu, ini semua berkat V. Aku benar-benar harus berterima kasih padanya"

Jungkook tersenyum tipis.

"Sejak kapan kau menjadi roomatenya V?" Tanya rapmon.

"Sejak pertama kali aku masuk disini" ucap jungkook.

"Apa dia tidak mengganggumu?" Tanya rapmon.

"Dia mengiraku pencuri lalu mencekikku" ucap jungkook dan tertawa.

"Jinjja?" Tanya rapmon.

"Ne, tetapi dia baik kok. Dia tidak seperti yang orang-orang bicarakan" ucap jungkook.

"Aku awalnya tidak menyangka jika V yang menyumbangkan uang sebanyak itu untuk namjachinguku Jin karena banyak sekali yang mengatakan bahwa sifat V sangat buruk" ucap rapmon.

"Memangnya apa saja yang mereka katakan?" Tanya jungkook.

"Ada yang berkata bahwa V itu sangat menyeramkan, perilakunya sangat buruk. Ia juga sering berkelahi hingga wajahnya mengeluarkan banyak darah dengan musuhnya. Beberapa kali sekolah hampir mengeluarkannya tetapi ntah karena alasan apa dia masih tetap sekolah disini" ucap rapmon.

"Ya, dia memang sering berkelahi dengan jimin" ucap jungkook.

"Ya benar, V dan juga jimin sangat terkenal di sekolah ini. Hanya saja V lebih terkenal karena keseramannya dan ketampanannya. Kalau jimin lebih terkenal karena karisma yang ia miliki. Banyak yang menyukai jimin, karena menurut yang aku dengar jimin itu jauh lebih baik dari V. Dia juga dikatakan romantis" ucap rapmon.

'Cih, V yang terbaik. V lebih baik dan juga romantis. Oh ayolah apa mereka gila?' batin jungkook.

"Hey jungkook?"

"Ah ne hahaha aku tidak terlalu mengenal jimin" ucap jungkook.

"Ooh begitu" ucap rapmon.

Merekapun terus berbincang bersama hingga masuk ke kelas dan pelajaran dimulai.

Jungkook membereskan bukunya karena bel istirahat telah berbunyi. Ia dengan semangat naik keatap berharap bertemu V disana. Tetapi semangatnya seketika meredup ketika membuka pintu atap dan tidak memperlihatkan siapapun didalamnya.

'Ah mungkin nanti dia kesini' batin jungkook yang masih berharap.

Jungkookpun mendekati pagar pembatas atap. Ia tersenyum ketika angin kencang menerpa wajahnya. Jungkook perlahan menutup matanya. Tak lama kemudian, ia mendengar suara pintu atap yang dibuka.

'Itu pasti V!'

Jungkook langsung tersenyum senang dan menoleh ke belakang. Senyumnya tiba-tiba memudar karena yang membukanya adalah jimin bukan V.

"Hai jungkook" ucap jimin dan berjalan menuju ke arah jungkook.

"Ah tumben kau kemari?" Ucap jungkook.

"Setiap pulang sekolah aku menyempatkan diri kemari" ucap jimin.

"Ah aku tidak pernah melihatmu karena aku kesini saat jam istirahat saja"

"Bolehkah aku menemanimu jungkook?" Tanya jimin.

"Tentu saja" ucap jungkook dan mengedarkan padangannya ke langit.

"Apa setiap hari kau kesini saat istirahat?" Tanya jimin.

Jungkook hanya mengangguk.

"Lalu kau? Apa yang kau lakukan saat istirahat?" Tanya jungkook.

"Berkelahi" ucap jimin.

Jungkook menatap jimin sebentar lalu kembali menatap langit.

"Aku sudah ingin berubah, maka dari itu aku pergi ke atap" ucap jimin.

"Baguslah" ucap jungkook.

"Apa kau tidak bosan diam di atap?" Tanya jimin.

"Tidak. Biasanya V akan menemaniku" ucap jungkook.

"Ya dan kau sedang berkelahi dengannya. Sekarang apa kau tidak bosan di atap?" Tanya jimin.

"Tidak. Kau menemaniku" ucap jungkook.

Jimin tersenyum mendengarnya.

"Baiklah, selama kau berkelahi dengan V, aku akan menemanimu" ucap jimin.

"Wae?" Tanya jungkook.

"Agar kau tidak bosan sendirian diatap" ucap jimin.

"Gomawo" ucap jungkook dan tersenyum.

"Jungkook, apa aku boleh meminta nomor telefonmu?" Tanya jimin.

"Mm tentu" ucap jungkook dan mengeluarkan hpnya.

Jungkook memberikan jimin hpnya dan jimin dengan cepat menukarkan nomor telefon masing-masing.

"Terima kasih" ucap jimin dan mengembalikkannya.

"Untuk apa kau meminta nomor telefonku?" Tanya jungkook.

"Entahlah" kekeh jimin.

"Jika kau bosan, kau bisa memberikanku pesan. Aku akan membalasnya dan menemanimu" ucap jimin.

"Baiklah" ucap jungkook.

"Apa kau dan V berpacaran?" Tanya jimin menatap jungkook.

"Tidak" ucap jungkook.

"Wae?" Tanya jimin.

"Belum waktunya kurasa" ucap jungkook.

"Apa kalian masih berkelahi?" Tanya jimin.

"Ne, aku belum minta maaf padanya. Aku semalam menungguinya tetapi dia tidak kunjung pulang hingga aku tertidur" ucap jungkook.

"Cepatlah minta maaf, kau sepertinya sangat frustasi saat berkelahi dengannya" kekeh jimin.

"Ne, aku akan menunggu waktu" ucap jungkook tersenyum.

Jimin dan jungkook terus berbincang hingga bel masuk berbunyi. Jungkookpun pamit untuk balik duluan sedangkan jimin tetap diam di atap.

"Anak itu memang dari awal sudah manis" ucap jimin dan tersenyum.

Jungkook membereskan buku-buku yang ada dimejanya dan segera memasuki ke dalam tas. Bel pulang sudah berbunyi. Iapun segera meninggalkan kelas dan kembali ke asrama. Ia tidak melihat adanya V disana.

"Ahh dia belum pulang" ucap jungkook.

Karena lelah, jungkookpun tidur.

Jungkook terbangun karena mendengar suara berisik dari handphonenya.

"Ahh siapa yang menelfon" ucap jungkook.

Jungkookpun dengan malas bangun dan mengangkatnya.

"Yeobboseyo"

["Hai jungkook"]

"Ahh jimin? Waeyo?"

["Mengapa suaramu serak?"]

"Aku baru bangun tidur"

["Apa kau ada waktu nanti jam 6?"]

"Mau kemana?"

["Temanilah aku ke taman belakang. Mari bersantai bersama"]

"Baiklah, lagipula aku tidak memiliki tugas untuk besok"

["Kalau begitu, sampai jumpa nanti ditaman"]

"Ne"

Jungkook mematikan telefonnya. Ia mengedarkan pandangannya dan menatap V yang juga menatapnya. Jungkook terkejut karena ia tidak mengetahui bahwa ada V sedari tadi. V hanya duduk terdiam di atas kasurnya.

"V?" Ucap jungkook.

V hanya menatap jungkook sebentar lalu mengubah posisinya menjadi tiduran. Ia juga membelakangi jungkook. Jungkookpun dengan memberanikan diri mendekati kasur V dan duduk diatasnya.

"V, kumohon maafkan aku" ucap jungkook menatap punggung V.

V tidak merespon.

"Aku benar-benar menyesal telah berbohong denganmu. A-aku tidak akan mengulanginya" ucap jungkook.

V tetap tidak merespon.

"Taehyung" ucap jungkook.

"Aku bukan taehyung" ucap V.

"Kau taehyung sahabatku" ucap jungkook.

V membalikkan tubuhnya mengubah posisinya menjadi duduk. V menatap jungkook dengan tatapan tajam.

"Namaku adalah V. Aku bukan sahabatmu" ucap V.

"K-kau kau adalah sahabatku" ucap jungkook.

V mendekatkan wajahnya ke wajah jungkook.

"Aku bahkan tidak mengenalmu" ucap V.

Seketika jungkook merasakan sakit hati. Matanya mulai berkaca-kaca. V langsung menjauhkan wajahnya dari jungkook dan kembali dengan posisi tidurnya membelakangi jungkook.

"Aku tidak akan menyerah. Aku akan meminta maaf lagi padamu" ucap jungkook dan meneteskan air matanya.

Bayangkan saja, jungkook sangat menyayangi V. Mereka bahkan selalu berdua setiap harinya. Kini mereka dengan tiba-tiba tidak saling berbicara. Jungkook tidak nyaman dengan hal itu. Ia sudah menyayangi V dan V mengatakan bahwa dia tidak mengenal jungkook. Itu menyakitkan. Jungkookpun dengan berat hati berdiri dan meninggalkan kasur V. Ia memilih untuk mandi karena akan pergi ke taman bersama jimin. Setelah selesai bersiap-siap, dengan lesu jungkook keluar dari kamar asrama. Ia pergi menuju taman dan memilih duduk di bawah pohon besar. Ia tidak melihat kehadiran jimin disana maka dari itu jungkook memilih menutup matanya dan menikmati angin yang menerpa tubuhnya dengan lembut. Jungkook secara tiba-tiba memutar kenangannya bersama V di pohon ini.

'Aku merindukanmu V' batin jungkook.

Ia tetap menutup mata dan memikirkan V dalam diam. Tak terasa air matanya turun dengan perlahan. Jungkookpun membuka mata dan mengusapnya.

"Jungkook"

Jungkook menoleh dan mendapati jimin yang tersenyum berjalan mendekatinya.

"Sudah lama?" Tanya jimin dan segera duduk disamping jungkook.

"Ahh tidak juga" ucap jungkook.

"Mengapa matamu berkaca-kaca?" Tanya jimin memperhatikan.

"Tidak ada" ucap jungkook dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman.

"Ada apa kau menyuruhku kemari?" Tanya jungkook.

"Tidak ada. Aku tau kau pasti bosan dikamar, maka dari itu aku mengajakmu kemari" ucap jimin.

"Ahh begitu" ucap jungkook.

"Apa kau sudah makan?" Tanya jimin.

"Belum" ucap jungkook.

"Mau makan bersama?" Tanya jimin.

"Kurasa tidak. Aku tidak ingin makan" ucap jungkook menolaknya.

"Mm baiklah. Apa kau akan ke atap lagi besok saat istirahat?" Tanya jimin.

"Ne, aku tidak memiliki tempat lain untuk beristirahat" ucap jungkook.

"Lalu bagaimana hubunganmu dengan V? Apa sudah membaik?" Tanya jimin.

Jungkook menggeleng pelan. Ia seketika kembali mengingat V.

"Aku sekarang sudah mulai memiliki banyak teman karena perubahan sikapku. Aku sudah tidak lagi berkelahi. Rasanya enak menjadi orang yang tidak bermasalah" kekeh jimin lalu menatap jungkook.

"E-eh jungkook?" Jimin terkejut melihat jungkook yang mulai menangis.

Sepertinya omongan jimin tidak didengarkan oleh jungkook.

"Kau mengapa menangis?" Tanya jimin dan mencakup wajah jungkook.

Jungkook terisak pelan. Pikirannya hanya dipenuhi oleh seorang namja bernama V.

"Aku hiks aku merindukannya" ucap jungkook menangis lebih kencang.

GREP

Jungkook terkejut. Jimin memeluknya.

"Nangislah. Keluarkan semuanya padaku. Aku akan mendengarkannya" ucap jimin dan mengelus punggung jungkook.

Jungkook tambah terisak keras. Ia memang sangat membutuhkan orang lain untuk bercerita.

"Hiks V sa-ngat jahat hiks d-dia berkata tidak hiks mengenalku" ucap jungkook.

"Hey mungkin V sedang memiliki mood yang jelek tadi" ucap jimin.

"D-dia jahat hiks dia s-sangat jahat hiks" ucap jungkook dan meremas baju depan jimin.

Jimin tersenyum pelan.

"Sudahlah jungkook, mungkin V belum bisa memaafkanmu" ucap jimin yang masih setia mengelus punggung jungkook.

"T-tapi hiks meng-apa dia harus hiks dingin kepadaku hiks" ucap jungkook.

Jimin melepas pelukannya lalu mencakup wajah jungkook.

"Aku yakin suatu hari nanti dia pasti memaafkanmu jungkook" ucap jimin.

"T-tapi hiks tapi-"

"Sst, hilangkanlah kekhawatiranmu" ucap jimin.

Jimin terpukau melihat wajah jungkook yang dipikirnya sangat imut dari dekat. Gigi kelinci tersebut terlihat bergetar ketika jungkook terisak keras.

"Berhentilah menangis" ucap jimin dan melepas tangannya dari kedua pipi jungkook.

Ia lalu mengusap air mata jungkook. Perlahan tangisan jungkook semakin mereda. Jimin tersenyum menatapnya.

"Kau terlihat lebih tampan jika berperilaku baik" ucap jungkook dan menghentikan tangisannya.

"Jinjja?" Tanya jimin.

"Gomawo jimin" ucap jungkook.

"Ne, jika kau ingin bercerita kau bisa menceritakannya padaku" ucap jimin.

Jungkook mengangguk.

"Mm aku ingin balik ke kamar ne?" Tanya jungkook.

"Tentu, mau kuantar?" Tanya jimin.

Jungkook menggeleng pelan.

"Baiklah, hati-hati jungkook. Sampai ketemu besok" ucap jimin.

"Ne jimin gomawo" ucap jungkook.

Jungkook segera melangkahkan kakinya menjauhi taman. Ia tidak berniat kembali ke kamar. Ia hanya berniat sendirian. Perasaannya kini benar-benar menyuruhnya untuk sendiri. Ia butuh ketenangan. Jungkookpun dengan nekat berjalan ke gedung sekolah. Ia melangkahkan kakinya menuju ke atap. Walaupun hari sudah malam dan gedung sudah sangat sepi, jungkook tidak takut. Ia benar-benar ingin sendiri. Sesampai di atap, ia berdiri mendekati pembatas pagar. Ia menatap lurus dan memperhatikan lampu-lampu kota seoul yang terlihat sangat indah. Jungkook tersenyum tipis. Angin kencang menerpa kulitnya membuat jungkook menggigil sedikit.

"Enaknya sendiri" ucap jungkook.

Jungkook kemudian mengubah posisinya menjadi duduk bersender pada pagar pembatas atap. Ia terus memikirkan V dan kembali menangis sendirian hingga akhirnya ia tertidur di atap.

"Jungkook! Yak!"

Jungkook terbangun perlahan karena tubuhnya diguncang. Ia mengerjapkan matanya dan menatap jimin.

"J-jimin?" Ucap jungkook.

Tubuhnya terasa lemas dan membeku.

"Yak! Apa yang kau lakukan disini?" Ucap jimin dan memegang kening jungkook.

"Astaga tubuhmu panas, wajahmu sangat pucat jungkook" ucap jimin.

"Aku ketiduran" ucap jungkook pelan.

"Baliklah ke kamar" ucap jimin.

Jungkook dapat melihat jelas jimin sudah memakai seragamnya lengkap.

"Ahh apa sekolah sudah dimulai?" Tanya jungkook dan berniat untuk berdiri.

"Sebentar lagi" ucap jimin.

Jimin membantu jungkook berdiri. Tubuhnya sangat lemas. Jungkook berjalan hendak keluar dari atap tetapi tubuhnya sangat lemah. Pandangannya mulai kabur. Tangan kanannya memegang tubuh jimin dengan sangat erat sedangkan tangan kirinya memegang kepalanya yang berat. Detik kemudian, jungkook terjatuh tidak sadarkan diri. Jimin dengan sigap menangkap tubuh jungkook sebelum berbenturan di tanah.

"Jungkook!"

Jimin langsung menggendong jungkook ala bridal style dan langsung membawanya kembali ke kamar. Ia tidak peduli tatapan banyak orang yang melihatnya turun dari tangga. Setelah sampai didepan pintu kamar, jimin dengan cepat mengetuk pintu tersebut. Tak lama kemudian, pintu tersebut terbuka. Memperlihatkan V yang sudah memakai seragamnya juga. V menatap jimin dengan tatapan tidak suka.

"Apa?" Ucap V.

"Jungkook pingsan" ucap jimin.

V yang melihat jungkook langsung terkejut. Ia mengambil tubuh jungkook secara paksa dari gendongan jimin.

"Apa yang kau lakukan?!" Ucap V dan langsung menaruh jungkook di atas kasurnya.

"Aku akan merebut jungkook darimu" ucap jimin tersenyum.

SRET BUGH!

V dengan cepat menarik jimin keluar dari kamar dan memukul jimin. Jimin langsung terkapar dilantai koridor karena menerima pukulan tiba-tiba dari V.

"Apa yang kau rencanakan kali ini?! Jangan pernah sakiti jungkook!" Ucap V dan kembali memukul jimin.

"Jungkook sudah mempercayaiku. Namja itu terlalu bodoh" ucap jimin.

Ya, jimin hanya berpura-pura baik pada jungkook. Oh ayolah, jimin tetaplah jimin. Mana mungkin dia mau berteman dengan jungkook yang jelas-jelas merupakan teman dekat atau mungkin pacarnya V. Jimin tidak mengetahui hal itu. Tetapi yang pasti, dia akan menyakiti V lewat jungkook.

"Mwo?!"

"Dia selalu datang kepadaku untuk menceritakan kesedihannya. Itu berarti dia mempercayaiku" ucap jimin.

"Jika kau berani menyakitinya lagi, aku tidak akan pernah memaafkanmu" ucap V menatap tajam mata jimin.

"Aku juga tidak akan pernah meminta maafmu, lihat saja apa yang akan terjadi. Dia akan segera menjadi milikku" ucap jimin dan terkekeh.

V kembali memukul jimin.

"Aku tidak akan membiarkan jungkook mempercayaimu lagi" ucap V dan segera masuk ke kamar meninggalkan jimin yang sudut bibirnya sudah mengeluarkan darah.

V dengan emosi dan nafas tersenggal-senggal menatap jungkook yang masih pingsan. Ia menenangkan diri terlebih dahulu baru duduk disamping jungkook. V memegang kening jungkook.

"Panas" ucap V.

"Apa yang dia lakukan?" Ucap V lagi.

V menyelimuti jungkook dan segera mengganti bajunya menjadi baju rumah karena sebelumnya ia menggunakan seragam. V memutuskan untuk tidak bersekolah karena jungkook sedang sakit. Setelah mengganti baju, V segera keluar kamar untuk membeli makanan dikantin. Ia juga mengambil obat penurun panas di uks. Setelah itu, ia kembali ke kamarnya. Sesampai dikamar, ia melihat jungkook yang sudah sadar. Jungkook terduduk di atas kasur sambil memegang kepalanya.

"Kau sudah sadar" ucap V.

Jungkook menoleh ke arah V.

"A-ah n-ne" ucap jungkook.

"Makanlah" ucap V dan memberikan kotak makanan untuk jungkook.

Jungkook hanya mengangguk dan memakan makanan tersebut. V hanya melihat jungkook dalam diam membuat jungkook takut. Ya, jungkook takut. Setelah selesai, V memberikan jungkook obat. Jungkook menatap V bingung.

"Ini obat penurun panas" ucap V.

Jungkookpun mengambilnya dan langsung meminumnya.

"G-gomawo" ucap jungkook.

V duduk di atas kasur jungkook dan memperhatikan jungkook.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya V.

"N-ne?" Tanya jungkook.

"Mengapa kau bisa pingsan?" Tanya V.

"A-aku ketiduran di atap" ucap jungkook.

"Wae? Mengapa kau bisa diatap pada malam hari? Apa kau bersama jimin disana? Mengapa jimin yang menggendongmu kemari?" Tanya V.

"A-aku aku tidak tau mengapa jimin mengetahui bahwa aku ada di atap. Aku hanya ingin sendirian" ucap jungkook.

V mendekatkan wajahnya pada jungkook.

"Aku minta maaf" ucap V.

Jungkook membelalakkan matanya.

"N-ne?" Tanya jungkook.

"Maafkan aku. Aku benar-benar kesal karena kau membohongiku. Tetapi kurasa aku sudah keterlaluan hingga membuatmu menangis seperti itu" ucap V.

"B-bagaimana kau bisa tau?" Tanya jungkook.

"Aku mengikutimu jungkook. Aku mengikutimu ke taman kemaren. Aku melihatmu menangis dan aku memutuskan untuk kembali. Aku tidak suka melihatmu menangis. Maafkan aku" ucap V.

TBC!


Ciee taehyung minta maaf.

Takut jungkook diambil ya? Hihihi~

Gimana kelanjutannya? Jangan lupa review yaa^^

Terima kasih sudah baca guys, see ya!