Sudah cukup menikmati fanfic-nya? Mari kita lanjutkan lagi.
Bagi yang bertanya apakah Happy Nine ini benar-benar ada, ada alasan kenapa namanya FanFiction. Jenis narkoba itu tidak ada.
But okay. Kita akan lanjutkan lagi ceritanya!
SoniCanvas presents...
A "Dynasty Warriors" fan fiction...
Genre: Humor/Mystery
Rate: K+
Summary: Li Dian menemukan dirinya selamat dari kecelakaan yang menimpanya, tapi tidak dengan Yue Jin. Meski begitu, Pak Zhang Liao tetap meminta operasi pembongkaran identitas Huanglong tetap dilanjutkan, dimana nyawanya kembali terancam...
.
.
Cinderella Man
Stake Out
"Li Dian..."
Yue Jin, tolong jangan bangunkan aku dulu. Aku sudah begadang untuk belajar...
"Li Dian..."
Yue Jin, hentikan.
"LI DIAN!"
"AKU BILANG HENTIKA—HAAAAAAAA!"
Aku tanpa sadar meerenggut kerah baju Pak Zhang Liao.
"M-maafkan saya, Pak. Terjadi sebuah kecelakaan yang menimpa kami. Saya sebenarnya tidak mau ikut Yue Jin ke mobil tapi Dong Zhuo dan anak buahnya mengikuti kita dan tak punya pilihan lain..."
"Saya sudah tahu." Pak Zhang Liao mengarahkan telapak tangannya ke hadapanku. Memberi isyarat untuk berhenti.
Aku berhenti sejenak untuk meneliti keadaan ruangan di sekitarku. Semuanya serba putih, dan ada satu kantong mayat yang sedang digeret oleh pria dan wanita berseragam serba putih keluar kamarku.
Tunggu, ini bukan kamarku di kampus atau rumahku.
"K-kenapa saya ada di rumah sakit? Dimana Yue Jin?" Tanyaku.
"Kau tidak sadar selama satu minggu setelah seseorang menaruh bom rakitan yang tak terlacak di bawah mobil kalian. Setelah keringat yang tercurahkan oleh tim dokter dalam tiga hari, nyawamu bisa selamat." Jelas Pak Zhang Liao. "Sayangnya, hanya tungkai kaki dan pantat Yue Jin saja yang selamat dari ledakan itu. Dua bagian yang selamat itu kami gunakan untuk menyelamatkan ruas-ruas tungkai kaki dan pantatmu yang hancur karena hantaman keras pasca ledakan."
"Sebentar..." Aku meraba tungkai kakiku yang tampak terdapat bekas jahitan yang mulai memudar. "Kaki dan pantatku...itu punya Yue Jin?"
"Seusai ledakan itu, kami menelusuri mobil sitaan yang akan digunakan Binteliwei. Semuanya terpasang bom. Saya mencurigai seseorang di dalam Binteliwei membongkar lokasi rahasia markas kita. Orang itu akan melakukan pergerakannya malam ini. Sebaiknya kau segera bersiap untuk tugas keduamu."
Aku masih menggaruk kepala bingung. Seingatku, kaki dan pantatnya Yue Jin itu kecil. Kenapa bisa muat untukku? Dan aku juga tidak tahu apa golongan darah kami memang cocok.
"Hei, jangan bengong. Apa itu firasat burukmu lagi?" Pak Zhang Liao melambaikan tangannya padaku.
"Saya tidak apa-apa, Pak." Aku mengangguk pelan. "Ngomong-ngomong, kalau semua mobil yang akan kita pakai terpasang bom dan harus dijinakkan, untuk pengintaian malam ini aku pakai mobil siapa?"
"Soal itu, aku sudah atasi." Pak Zhang Liao tersenyum tipis.
Tak lama kemudian, seorang pria berambut klimis dengan kemeja biru muda dan jas putih yang sangat tertata rapi masuk ke dalam kamarku. Wajahnya yang merengut tak terlihat sebagai pria yang ramah.
"Ah, ini Pak Zhuge Dan. Dia pengurus ruang barang bukti di Binteliwei." Pak Zhang Liao memperkenalkan teman di sebelahnya. "Dia yang akan meminjamkan mobilnya padamu untuk malam ini."
Aku kembali gugup. Mulutku kembali terkunci seperti waktu itu. Tubuhku gemetar seperti sedang kecepirit.
Sial, kenapa aku harus terdiam lagi? Ayo perkenalkan dirimu!
Belum sempat aku berkenalan, Pak Zhuge Dan menyerahkan kunci mobilnya dan berkata, "Hanya untuk malam ini, jadi jaga mobil saya agar tidak sampai—"
"HIIIIIIIIIIY!"
Bagus, aku malah lari ke toilet dan buang air kecil.
"—lecet."
Pak Zhang Liao dan Pak Zhuge Dan terdiam dengan canggung dan sunyi.
.
.
.
Sepulangnya dari rumah sakit berkat dana dari Pak Zhang Liao yang memotong gajiku, aku bergegas menuju mobil Pak Zhuge Dan untuk dikendarai ke lokasi yang ditunjukkan di dalam berkas investigasiku.
Di dalam mobil sembari mengemudi, firasat buruk dan rasa menyesal turut bercampur menjadi satu. Menciptakan beribu pertanyaan yang tak bisa kujelaskan oleh akalku.
Kenapa aku tak memaksa Yue Jin untuk kembali?
Kenapa aku tidak mengabaikan usul Yue Jin?
Kenapa aku harus terjebak dalam masalah besar karena tingkah Yue Jin?
Aku sudah sampai di sebuah gedung tinggi nan mewah yang diabaikan, dengan pondasi batu pualam yang kokoh berdiri di sisi dermaga. Aku mepangkah keluar dari mobil dan bermodalkan sebuah kamera tahan air. Firasatku membawaku pada kamera tahan air karena suatu saat aku pasti akan berlari dan menyelam jika ketahuan.
Seiring dengan firasat buruk di dalam dada, aku melangkah dengan hati-hati menuju bangunan tua itu. Dalam sembunyiku, aku mencoba memotret sekitar. Memastikan aku berada di sebuah sudut dengan pencahayaan yang sesuai.
"Ah, Dong Zhuo datang..." Gumamku.
Seorang pria gendut dan jelek berjas hitam berjalan bersama anak buahnya. Sebuah transaksi pengedaran narkoba, sesuai dengan info Pak Zhang Liao. Mereka tampak berbincang-bincang dengan sosok yang tertutup oleh bayangan gelap. Aku tak bisa melihatnya dari dekat. Seluruh tubuhnya tertutup bayangan, jadi aku harus memotretnya menggunakan lampu senter dari kameraku.
BIIIIP, CEKREK!"
Sial, aku lupa matikan suara kameranya.
"Siapa itu?" Kata sosok misterius itu.
"Tangkap orang yang bawa kamera itu!"
Dong Zhuo memerintahkan anak buahnya untuk mengejarku. Aku gelagapan dan ikut berlari. Sembari berlari, aku menjatuhkan kamera yang tidak ada isinya dan menyimpan kamera tahan airku di dalam saku celanaku. Membuatku bukan berlari keluar, tapi berlari naik ke atas tangga.
Aku sudahh jauh dari mereka, tapi para penjahat itu masih mengejarku. Kini aku hanya terpojok di satu lantai dengan satu jendela.
Sial, seharusnya aku tidak naik tangga. Kenapa di saat seperti ini tidak ada Yue Jin?
Aku akan terluka parah dan basah, tapi setidaknya aku tak perlu tertangkap oleh mafia Cina yang gemuk dan jelek itu.
"YUE JIN, AKU AKAN MELOMPAT DARI JENDELA!"
PIIIP! PIIIP! PIIP!
PRAAAAAAAANG!
BYUURRRRRRRRRRRRRRRR!
"Bagaimana caranya kau terobsesi menjadi polisi?"
"Tubuh mungilnya tidak memenuhi syarat untuk menjadi polisi pada umumnya."
"Tapi, Pak, Yue Jin..."
"Kalian akan menyamar sebagai mahasiswa kuliahan."
"YES!"
"No..."
"Berlari ke parkiran mobil bisa jadi ide buruk."
KA-BOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOM!
"Hnnnngh!" Aku menarik napas refleks. Aku teringat kilasan-kilasan, seperti sesuatu yang terlewatkan dari hidupku. Aku perlahan melihat sekitarku, kemudian meliha—
Sebentar...
Kenapa aku pakai jas yang longgar? Dimana aku? Ini baju siapa? Dimana Li Dian?
"Tidak usah panik. Kau baru mati satu minggu." Kata sebuah suara di belakangku.
Aku menoleh ke belakang. Tampak sesosok naga yang tubuhnya seukuran diriku. Tubuhnya bersinar dengan sisik kuningnya.
"... Aku sudah mati?" Kataku bingung. "Berarti kau... Huanglong? Naga pembawa keberuntungan?"
Naga itu mendengus.
"Yue Jin, apakah aku harus beritahu seluruh manusia kalau Huanglong itu AYAHKU?!" bentak sang naga. "Aku anaknya, Vincent!"
"Tunggu, Huanglong punya sepuluh anak?" Aku mengernyitkan dahiku.
"Itu hebatnya cerita rakyat, bukan? Terkadang isinya berubah dari mulut ke mulut dan melupakan aku." Sindir naga itu.
"Baiklah, Hu—maksudku Vincent. Apa yang terjadi sebelumnya? Kenapa aku pakai baju yang longgar dan basah kuyup ini?"
"Itu bukan hanya baju longgar dan basah kuyup. Itu bajunya Li Dian." Sang naga berdehem sebentar. "Ehm, kau mati selama satu minggu. Hanya tungkai dan pantatmu yang selamat jadi aku berikan pada Li Dian agar kalian bisa berbagi satu tubuh yang sama."
"Eww, menjijikkan." Aku memasang wajah jijik. "Pertama aku sekamar, dan sekarang berbagi satu tubuh dengan Li Dian?"
"Aku masih membutuhkan kalian, dan kalian masih saling membutuhkan." Naga bernama Vincent itu merapatkan kedua tangannya. "Kita mencari orang yang sama: orang yang mencemarkan nama baik ayahku."
"Kenapa kau tak sekalian saja hidupkan aku di tubuh lain atau bunuh aku?" Aku berusaha menyingsingkan lengan bajuku.
"Kau sudah bilang sendiri. Aku naga pembawa keberuntungan, bukan dewa langit. Seharusnya aku tak boleh berurusan dengan hidup dan mati manusia, tapi aku butuh kalian." Vincent memutar bola matanya. "Lagipula, jika aku ingin kalian mati, aku bisa biarkan Li Dian cacat dan kau membusuk hingga diotopsi setelah ledakan yang membunuh kalian."
"Lalu apa? Kau memintaku mengungkap sosok Huanglong si bandar narkoba agar aku bisa bebas?"
Vincent mengangguk pelan.
"Tapi sebelum itu terjadi, waktumu hidup di tubuh itu hanya dua belas jam terhitung dari pukul dua belas tengah malam. Dan sebaiknya kau membantu menyelesaikan investigasinya sebelum Li Dian menyadarinya. Mentalnya masih belum siap dengan kepergianmu."
"Kenapa Li Dian tak boleh tahu? Maksudku, bukankah dia senang jika aku masih hidup?"
"Hanya setiap dua belas jam? Kurasa kau tidak akan bisa." Vincent menggoyangkan ekornya. "Selain itu, semua penjahat mengira kau sudah mati. Jadi sebaiknya tetap seperti itu. Oh, dan terus perhatikan jam tanganmu. Aku sebaiknya tidak berlama-lama. Ayahku memanggilku."
"Vincent, t-tunggu du—"
SIIIIIIING!
Belum sempat aku berbicara, naga itu menghilang dalam cahaya cinta perlahan menyilaukan. Itulah mimpi kehidupan kedua. Mimpi itu darimana datangnya?
Jawabnya ada di ujung langit.
...tidak, aku takkan kesana dengan seorang anak tangkas dan pemberani untuk saat ini. Sekarang aku harus memikirkan apa yang kulewatkan dari misi pengintaian Li Dian.
Aku merogoh saku celanaku, berjaga-jaga jika aku menemukan sesu—ah, kamera tahan air!
Aku mengambil kamera itu dari saku celana, kemudian kulihat hasil fotonya. Semuanya memperlihatkan Dong Zhuo, namun tidak dengan sosok di dalam bayangan kegelapan. Kecuali...
"Dapat!"
Lampu senter kamera memberiku satu petunjuk: sebuah kipas bulu.
Aku pernah melihat seseorang dengan kipas bulu. Tapi aku akan mencoba mencarinya di sekolah nanti.
~To be Continued...
