Tiga hari setelah Sasuke memberitahukan kenyataan dibalik meniggalnya Minato, sifat Naruto pun menjadi sangat berbeda. Tatapan dingin yang tak pernah hilang dari wajahnya akhir-akhir ini membuat kecemasan Sasuke semakin bertambah. Bahkan sekarang Naruto pun telah pergi entah kemana tanpa kabar sedikit pun. Hanya catatan kecil yang memintanya untuk mengawasi pergerakan Terumi.

Disisi lain Terumi yang kehilangan jejak Naruto menjadi sangat gelisah. Ia tau firasatnya selalu benar, dan sebelum hal buruk itu terjadi kepadanya ia harus segera meleyapkan Naruto.

Ditengah pemikirannya untuk menyusun sebuah rencana, tiba-tiba terdengar ketukan pintu dan disusul dengan munculnya sosok yang dari kemarin terus membuatnya resah.

"Aku pulang ibu..." Ucap Naruto yang kini berdiri dihadapan sang ibu tirinya dengan seringai yang membuat Terumi sedikit ketakutan.

"Da-dari mana saja kau Naruto !"

"Aku hanya sedang menyegarkan pikiranku saja, rasanya hidupku sangat berat setelah..."

Naruto sengaja menggantungkan kalimatnya dan melihat ekspresi Terumi yang sedang menatapnya penasaran karena menuggu jawaban darinya.

"Setelah ayahku dibunuh..."

Raut terkejut begitu kentara diwajah Terumi. Bahkan Naruto bisa melihat kegelisahan dan kegugupan Terumi yang semakin terlihat dengan jelas.

"A-Apa maksudmu Naruto ! kau menuduhku begitu ?" Balas Terumi dengan meninggikan nadanya.

"Jadi itu benar ya..." Ucap Naruto sambil tertawa keras, namun dimata Terumi tawa Naruto seperti seorang psikopat yang akan segera menghabisi nyawanya. "Padahal aku tidak meyebutmu sebagai pelakunya ibu..." lanjut Naruto yang telah berhenti tertawa dan kini menatap dingin Terumi.

Kini wajah Terumi memucat.. baru sadar dengan kebodohannya yang telah terperangkap dengan perkataan anak tirinya ini.

Langkah demi langkah Naruto yang semakin dekat dengannya membuat Terumi merasakan aura yang begitu dingin dari Naruto. Seakan-akan hawa itu bisa membunuhnya kapan saja.

"Aku tidak peduli jika kau merebut harta warisanku, tapi kenapa.. KENAPA KAU MEMBUNUH AYAHKU !" teriak Naruto dengan emosi yang meluap, mencoba mengeluarkan rasa sakitnya dengan membentak Terumi.

Mendapatkan perlakuan seperti itu dari Naruto, ia pun hanya menahan emosinya agar tidak terpancing lagi. Dan lebih dari itu Terumi bahkan tidak tahu dari mana bocah ini mengetahui apa yang terjadi dengan Minato sebenarnya.

"Lalu kau mau apa ? tidak ada bukti jika aku adalah pelakunya bocah." Jawabnya dengan suara yang dibuat setenang mungkin.

"Khe.. bukti ? bahkan aku sudah mendapatkan lebih dari itu."

Setelah perkataan Naruto, tiba-tiba dibalik pintu tersebut munculah sekelompok polisi yang salah satunya sedang memegang seseorang yang Terumi kenal dengan pasti, Yakushi Kabuto.. pengacara yang bersekongkol dengannya telah tertangkap. Bahkan keterkejutan Terumi semakin menjadi tatkala putra sulungnya, Yahiko tengah berjalan menuju kearah Naruto dan menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. 'I-Ini tidak mungkin ...' Pikir Terumi semakin kalut.

"Ya-Yahiko... ada apa ini...ke-kenapa kau datang bersama polisi ?"

"Ibu.. sudah cukup... kumohon jujurlah..." Balas Yahiko lirih .

"Apa maksudmu ! ibu tidak mengerti..."

Terumi terus saja mengelak walaupun telah disudutkan. Dalam benaknya kenapa putra tercintanya dapat melakukan semua ini kepada ibu kandungnya sendiri.

"Dengan tertangkapnya Yakushi Kabuto kau tidak bisa lagi mengelak. Ditambah dengan pengakuan anakmu sendiri yang mengatakan kau ingin mengambil alih saham-saham milik Ayahku." Jelas Naruto yang sudah dapat mengendalikan emosinya.

"Y-Yahiko kau... kenapa kau melakukan hal setega ini pada ibu kandungmu sendiri !" Teriaknya marah kepada Yahiko. Ia sangat tak menyangka anaknya yang paling bisa diandalkan dan dipercaya malah membantu Naruto untuk menjebloskannya kedalam penjara.

"Justru karena aku sangat menyayangi ibu.. aku ingin ibu tidak tersesat dijalan yang salah." Jawab Yahiko dengan menundukan kepalanya karena ia pun tak cukup tega melihat keadaan ibunya yang tengah diborgol oleh para polisi.

"Yahiko... tolong ibu...ibu tidak mau dipenjara.. Hiks.. Yahiko.." teriak Terumi histeris ketika ia tengah digiring oleh para polisi menuju mobil untuk dibawa ke Bui. Sedangkan Yahiko sendiri semakin menundukan kepalanya dan berusaha agar air matanya ini tidak keluar.

Sebagai seorang anak, seharusnya ia bisa melindungi ibu kandungnya sendiri. Tapi disisi lain ia juga tak ingin menjadi lelaki pengecut yang hanya akan berdiam diri melihat kejahatan yang dilakukan ibunya, apalagi sampai membunuh ayah tirinya yang jujur sangat ia sayangi.

Sudah cukup ia setiap hari melihat perlakuan buruk ibu serta kedua adiknya kepada Naruto. Walaupun ia tak melakukan kekerasan kepada Naruto tapi baginya orang yang hanya berdiam diri tanpa membantunya bahkan lebih buruk dari pada itu.

Naruto yang melihat kegalauan Yahiko pun lantas menepuk bahunya pelan.

"Terima kasih... Nii-san." Ucap Naruto beserta dengan senyum tulus yang hadir pada raut wajahnya.

Kini senyum kecil pun mengembang dari bibir Yahiko setelah melihat raut wajah Naruto. Kenapa bisa ia sempat-sempatnya menggalau jika hal yang dilakukannya ini adalah benar.

"Justru aku yang berterima kasih karena kau masih bersedia untuk tidak membalas dengan membunuh ibuku." Jawabnya dengan tersenyum hangat.

"Aku tidak sekejam itu Nii-san." Jawab Naruto dengan kekehan kecil. Ia sangat bersyukur bahwa Yahiko bersedia membantunya walaupun kakak tirinya itu harus melawan ibu kandungnya sendiri. Naruto masih ingat bahwa ia hampir saja putus asa karena tidak mendapatkan bukti sedikit pun. Tak sia-sia selama tiga hari ia meyusun rencana untuk menangkap pengacara ayahnya serta Terumi yang sangat licik itu.

"Shit ! Aku melupakan sesuatu.." Tiba-tiba saja Naruto mengumpat keras dan bersiapa-siap untuk beranjak pergi. Namun sebelum itu terjadi, kembali ia arahkan padanganya pada Yahiko dan membungkuk kecil.

"Sebelum usiaku pantas untuk menjadi seorang peminpin, aku percayakan perusahaan ayah pada Nii-san. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya." Lanjut Naruto dengan senyum lima jarinya.

Dan setelah itu pun ia benar-benar berlari menginggalkan Yahiko yang masih kaget dengan apa yang didengarnya.

BRAKK

Pintu kamar berwarna coklat itu didobrak dengan kencang hingga terlihat engsel pintu tersebut rusak akibat hantaman yang terlalu kuat.

"Sasuke !"

"Ck, bisakah kau lebih tenang sedikit, Dobe." Balas Sasuke cuek dengan masih fokus membaca bukunya diatas kasur Naruto.

Melihat Sasuke yang nampak tenang disana, langsung saja Naruto naik keatas kasurnya dan memeluk Sasuke erat.

"Maaf aku meninggalkanmu tiga hari ini." Ucap Naruto lembut, mengeratkan pelukannya pada Sasuke.

"Aku bukan anak kecil yang bisa kau khawatirkan, Dobe."

"Hehe.. maksudku maaf untuk membuat mu menjadi khawatir kepadaku." Goda Naruto pada Sasuke yang kini berdecak kesal.

"Sasuke."

"Hn,"

"Kau.. adalah miliku." Ucap Naruto tiba-tiba dengan suara beratnya. "Walaupun kau ingin kembali ke dunia siluman, aku tidak akan membiarkanmu pergi dari sisiku sampai kapan pun." Lanjut Naruto mutlak tanpa melonggarkan pelukannya sedikitpun.

"Siapa juga yang akan meninggalkan pria yang bisa membuatku merasa nikmat hmm?." Balas Sasuke dengan seringai menggodanya.

"Sasuke... apa kau ingin mempermainkan ku lagi ?"

"Lebih tepatnya, Menggoda mu Dobe..." jawab Sasuke yang kini telah terlepas dari pelukan Naruto dan duduk bersandar pada bantalan dengan posisi kakinya yang terbuka lebar.

Melihat undangan didepannya segera saja Naruto menarik kepala Sasuke hingga kedua bibir mereka bertemu. Rasa khawatir Naruto pun hilang sudah, ia mengira bahwa Sasuke akan kembali ke tempat asalnya setelah kejahatan Terumi terungkap. Dan ia sangat senang mendengar perkataan Sasuke barusan.

Ia benar-benar tak akan melepas Sasuke sampai kapan pun.

"Ugh~"

Lenguhan kecil Sasuke membuat suhu badannya memanas, semakin tergoda karena ciuman meraka semakin menggila. Bibir manis serta desahan Sasuke benar-benar membuat ia candu. Begitu candunya hingga ia kerap kali terbawa sisi liar dalam tubuhnya. Cumbuan itu pun terlepas tatkala kebutuhan oksigen meyerang mereka berdua.

"Ahh Naru~ sentuh aku." Bisik Sasuke sensual tepat ditelinga kanan Naruto.

"Kau akan menyesal telah membuat ku tergoda Sasuke.." Geram Naruto menahan hasratnya karena ulah Sasuke yang kini malah menjilat cuping telinganya.

"Hmm.. Fuck me as much as you want.. ahh Naru~."

Dengan beringas Naruto mendorong Sasuke hingga terlentang diatas kasur dan menindih tubuh sexy itu. Menahan kedua tangan Sasuke keatas hingga mangsanya ini tak bisa berkutik sedikit pun.

"Persiapkan lubang nakalmu itu untuk 12 jam kedepan, Jalang..."

Dan setelah itu yang terdengar hanyalah suara desahan nikmat yang terus keluar dari bibir merah sang siluman gagak sampai batas waktu yang tidak terhitung lagi.

END

Sorry karena gak ada lemon yang asem2 wkwk, gak kuat saya buatnya.

Akhir kata,

Review, please.

OMAKE

Kamar bergaya minimalis itu terlihat sangat berantakan, terlihat pakaian yang berserakan serta lelehan sperma yang cukup banyak diatas lantai tersebut. Namun yang terparah adalah keadaan kasur yang bahkan kondisi sprainya sudah robek dimana-mana.

"Naru..." Panggil Sasuke yang kini tengah menyamankan dirinya diantara dekapan hangat Naruto.

"Ada apa Suke ?" Jawab Naruto yang setengah sadar karena ia sendiri sudah cukup mengantuk.

"Apa yang akan kau lakukan pada kedua wanita meyebalkan itu ?" Tanyanya sedikit penasaran.

"Hmm.. Entahlah, mungkin aku akan tetap membiarkannya tinggal disini." Balas Naruto tenang.

"Kau itu gila atau apa Hah !" bentak Sasuke setelah mendengar jawaban pemuda pirang ini.

"Haha.. tenanglah Suke~ bukankah aku bisa mendapatkan dua pembantu gratis jika mereka tetap disini hmm ?."

Mengerti maksud Naruto, tiba-tiba saja raut wajah kesal Sasuke tergantikan dengan seringai terlicik yang pernah ia buat .

"Hn. Itu ide yang bagus, Dobe." Ucap Sasuke kemudian dan kembali menyamankan diri pada pelukan sang dominan.

'Saatnya aku membalas dendam' pikir Sasuke keji.

X_

Di lain tempat nan jauh disana tepatnya didunia para siluman, terlihat sesosok pria yang telah berumur itu malah tersenyum senang melihat apa yang terjadi didalam bola Kristalnya. Ternyata mempercayakan Sasuke untuk merubah sifat Naruto sangatlah tepat.

"Haha.. akhirnya dunia siluman bisa tenang karena Sasuke sudah terikat dengan keturunan Uzumaki itu." Ucapa Indra sang tetua siluman gagak.

"Apa maksud anda, Indra-sama." Tanya tetua lain bernama Madara.

"Jika Sasuke terus didunia ini maka kekacauan akan semakin bertambah Madara." Ucapnya sambil melihat kearah adiknya berada. "Apa kau tidak lihat dia sering sekali menggoda para siluman kuat disini ? huh.. aku sih tidak masalah dengan itu.. hanya saja para siluman itu selalu saja merecoki ku agar menikahkan Sasuke dengan mereka." Lanjutnya sambil menghela nafas berat.

"Jadi itu rencana mu yang sebenarnya!?" Balas Madara tak habis pikir dengan kelakuan kakaknya ini.

Mendapat tanggapan dari Madara, ia pun hanya tertawa senang. "Haha.. begitulah, menghadapi siluman kuat dimasa kawin itu sungguh sangat meyusahkan." Lanjutnya tanpa bersalah.

Dan setelah itu terjadilah keributan antara kakak beradik Uchiha hingga meyebabkan guncangan besar didunia siluman.

FIN benaran.

Ditunggu ya sequel full lemon nya. wkwk..