Tittle: SEDUCED
(3th Part)
Author: RoséBear
Pair : Kai x Kyungsoo (KaiSoo)
Content warning: Sensitive subject matter, Sexual Content
original fanfiction, GS, some typo
Rosébear Pov and Kai Pov
Create : 2017, 17 June
Publish: 2017, 14 July
Start Story!
Pagi itu ketika matahari bersinar dengan begitu hangat, setidaknya masih hangat di pagi hari. Menjelang siang maka kau harus percaya jika udara semakin panas mengingat mereka berada di pertengahan musim panas.
Suara burung berkicauan, saling bersahutan membentuk melodi yang indah layaknya anggota paduan suara. Angin bertiup pelan, menerbangkan helaian daun kering, menembus jendela yang terbuka dan menyibak berkali-kali gorden pada sebuah bangunan apartemen milik seorang pengacara.
Suara gesekan kain perlahan menyadarkan seseorang. Kyungsoo membuka matanya. Rasa nyeri dan ngilu menjadi yang pertama dia rasakan. Wajah manisnya mengernyit berkali-kali, rasanya sangat tidak nyaman. Susah payah ia paksa mata bulatnya terbuka sempurna. Ketika ingin bangkit, rasa pening menyerang kepalanya.
"Owghh astaga!" Itu membuatnya meringis, desisan seperti ular berbisa bisa terdengar di dalam kamar. Masih berusaha menarik diri ke kepala ranjang ia terkejut saat selimut yang membungkus tubuhnya melorot ke bawah. Tampaklah tubuh bagian atasnya yang telanjang tanpa sehelai benang 'pun. Ia tarik paksa kembali selimut tebal itu membalut dirinya.
Astaga! Apa yang telah terjadi pada anak manusia satu ini? Telapak tangannya menahan rasa pening, mata bulat itu mengedarkan pandangan ke penjuru kamar. Terdapat figura photo dirinya dan Sehun.
Ini kamar Sehun.
Bayangan kedatangannya ke Seoul siang kemarin, masuk ke apartemen adik tirinya lalu berkemas. Ketika selesai dan baru akan beristirahat dia mendapat panggilan dari Kantor polisi, tanpa pikir panjang dia bergegas ke sana. Bicara sesuatu dan membawa pulang seorang pria yang dikenalnya. Mereka bicara beberapa hal, minum soju dan...
Dan semua yang ada di dalam pikiran Kyungsoo melebur menjadi satu.
"Kau sudah bangun?"
Ia mendongak mendapati sosok pria yang ia bawa pulang tadi malam baru keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobe milik adiknya. Rambutnya setengah basah berusaha dikeringkan dengan handuk terpisah, tersenyum masih pempertahankan langkah yang mendekati Kyungsoo, duduk di pinggir ranjang.
Kai!
Bayangan kejadian semalam seperti kaset rusak di dalam otak Kyungsoo. Tidak sepenuhnya dia mengingat, tapi bayangan mereka bercinta, bagaimana dia memohon, mendesahkan nama pria ini mulai terlihat sangat jelas.
Kai menjulurkan tangannya pada wajah Kyungsoo, menyentuh leher membuat Kyungsoo mengernyit kaget.
Pria itu terkekeh pelan.
'Oh shit! Apa yang sudah kami lakukan?' Kyungsoo mengumpat tertahan. Dia tidak bisa menolak sentuhan punggung tangan Kai yang kini beralih pada kening. Tenggorokkannya seperti terisi bola-bola keju yang tak kunjung larut.
"Masih terasa pening?"
Seperti anak lima tahun yang bertemu Ibunya setelah dia mengambil uang di dalam tabungan. Kyungsoo menjadi sangat gugup. Matanya tak lepas dari wajah Kai. Dia butuh penjelasan singkat yang membuat otaknya bekerja lebih cepat. Maksudku, Kyungsoo seperti idiot yang tak bisa ditinggalkan Ibunya. Wajahnya sangat polos, dia menggemaskan terlihat seperti pussy.
"Apa yang terjadi?"
Akhirnya satu pertanyaan singkat itu meluncur dengan lancar dari bibirnya. Kai merengkuh Kyungsoo dalam pelukannya. Mencium pucuk kepala Kyungsoo berkali-kali. Kebingungan Kyungsoo semakin menjadi-jadi.
"Apapun yang terjadi aku tidak ingin menyakitimu."
Seperti menerima hantaman batu dari tebing, Kyungsoo terdiam.
"Apa yang telah kita kakukan?" sekali lagi pertanyaan sejenis dikeluarkan dari isi kepalanya. Kyungsoo mendongak dan yang dia dapatkan adalah ciuman lembut Kai pada bibirnya. Tangan Kyungsoo reflek memegang bathrobe yang Kai kenakan. Melupakan pertahanan selimutnya.
Mereka berciuman untuk waktu yang cukup lama. Kai melepaskan Kyungsoo, menaikkan kembali selimut menutupi tubuh gadis ini.
"Kai? Apa yang kau lakukan?"
Kai menyatukan kepala mereka.
"Mengingatkanmu akan percintaan kita semalam?"
Seketika wajah Kyungsoo merah merona. Dia tidak terlalu pandai mengingat sampai Kai meraih ponselnya, menyalakan salah satu rekaman dan perlahan mata Kyungsoo melebar. Dia mengigit bibir bawahnya sendiri, menggeleng lalu menunduk.
"Kumohon matikan audio itu."
Kai menyeringai, mendekatkan wajahnya lalu mencium pipi Kyungsoo. "Kau sudah mengingatnya? Perlu kugunakan cara yang lain?"
Alis Kyungsoo bertautan satu sama lain seakan mereka baru selesai dijahit hingga bersatu.
Tubuh Kyungsoo tertarik ke bawah membuatnya telentang di atas ranjang. Kai menyibak selimut, berlutut di bawah Kyungsoo. Matanya menjadi setengah berkabut, mendorong kaki Kyungsoo ke atas hingga selangkangannya terbuka lebar.
Kyungsoo mencoba bangkit melihat apa yang Kai lakukan. Lidah pria tan itu bermain pada kewanitaannya membuat tangan Kyungsoo reflek mencengkram sprei.
"Owghhh! Kai!" Dia berteriak nyaring lalu tubuhnya terhempas ke ranjang. Nafasnya pendek-pendek akibat sentuhan Kai barusan. Kai tidak berhenti, dia memandangi Kyungsoo dan kembali mendekatkan wajahnya, menggunakan lidahnya untuk bermain-main pada kewanitaan Kyungsoo. Wanita itu mencengkram sprei kuat menahan gairah yang hampir meledak di bawah sana. Tapi dia tidak berhasil ketika bibir Kai menjepit klitorisnya, dia meledak.
"Aku mengingatnya. Cukup Kai!" Ucapnya terengah-engah. Kai merangkak naik, menarik Kyungsoo dalam sebuah pelukan.
"Jadi kau sudah mengakuinya?"
Kai bertanya menggoda. Pria itu merapikan helaian rambut di wajah Kyungsoo. Kyungsoo mempout bibirnya lucu, aegyo yang sama sekali tidak direncanakan. Tangannya membelai dada Kai.
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Bertanya padamu. Memastikan ucapanmu tadi malam bukan sebuah gurauan."
Kyungsoo mendengus mendengar perkataan Kai. Tangannya bebas masuk ke dalam bathrobe yang Kai gunakan. Meremas kejantanan pria itu membuatnya mengeram dan mendongakkan kepala.
"Owhhh Kyungsoo! Kau mau mencoba menggodaku?"
"Apa itu berhasil?" Kyungsoo bertanya.
"Tentu saja Kyungsoo sayang. Kalau begitu aku ingin mendengar kau mendesahkan namaku dalam keadaan sadar."
Detik itu Kyungsoo kembali ditindih.
"Kai!"
Tapi suara ribut-ribut di luar membuat mata keduanya melebar.
"Dia tidak ada di sini aunty! Aku baru saja kembali dan aunty menerobos masuk ke apartemenku!"
Suara Sehun.
Kai dan Kyungsoo saling berpandangan. Mereka dalam masalah besar saat ini.
~ RoséBear~
Brak!
Pintu dibuka.
"Mom!" Dia masih menggunakan bathrobe. Keluar dari kamar Sehun dengan senyum sumringah.
"Ya! Apa yang terjadi padamu?"
Ibunya panik melihat luka di bagian wajah Kai. Itu akibat perkelahiannya semalam. Kai buru-buru menutup pintu kamar Sehun.
"Oh hai!" Dia juga tidak lupa menyapa Sehun.
Kedua orang yang baru tiba itu saling berpandangan. Tiba-tiba saja ibu Kai melewati anaknya, membuka paksa pintu kamar. Beberapa detik dia terdiam di depan pintu.
Brak!
Pintu tidak bersalah itu dibanting tertutup kembali. Ibunya terengah-engah seperti peserta lari marathon. Dia menatap Kai tajam.
"Apa yang sudah kau lakukan dengan seorang perempuan di dalam kamar? Tanpa pakaian?" Ibunya setengah histeris membuat Sehun yang berada di belakang menatap Kai menuntut. Dia setengah penasaran lalu ikut membuka pintu. Saat membuka pintu pemuda Oh itu terdorong lagi keluar.
Sakit.
Seseorang baru saja melemparkan bantal padanya.
Kai bergegas memegang handle pintu rapat-rapat.
"Akan kujelaskan. Tunggu lima menit saja!"
Pria tan itu bergegas masuk ke dalam kamar lalu mengunci diri.
Dia berhadapan dengan Kyungsoo yang telah mengenakan pakaian kasual. Kai benar-benar terpesona pada Kyungsoo.
"Kau baik-baik saja?" Kyungsoo bertanya.
Dia gugup dan mengangguk pelan.
"Biarkan aku keluar dan menyelesaikan masalahnya. Kita melakukannya karena mabuk, mereka akan percaya."
Saat itu Kai menahan tangan Kyungsoo.
Matanya menatap tajam. "Apa perkataan sukamu tadi malam juga karena kau mabuk?"
Kyungsoo memandangi Kai tidak tahu harus berkata apa.
"Oh Kai. Aku tahu sulit bagimu, kau tidak ingin berkomitmen! Aku sangat paham itu! Aku tidak akan memaksamu, semua keputusan ada pada diriku. Mereka akan menganggap aku pihak yang dirugikan jadi mereka akan mendengarkan keputusanku."
"Kau memang dirugikan. Apa kau tahu aku tidak menggunakan pengaman tadi malam? Aku terlalu menikmatimu seolah kau adalah milikku. Aku benar-benar menginginkanmu. Tapi kau benar. Itu keputusanmu. Keluarlah. Aku akan menyusul sebentar lagi."
Tubuh Kyungsoo di dorong keluar dengan pelan. Dia terdiam saat berhadapan dengan Adiknya dan juga Ibu Kai. Bukan karena tatapan mereka tapi kata-kata Kai barusan.
"Ya! Sebaiknya kita bicara di sini."
Kyungsoo mendongak menatap panggilan ibu Kai. Ia berjalan mendekat, mengabaikan tatapan mengintimidasi dari adiknya sendiri.
"Duduk dan katakan darimana kau berasal? Lalu bagaimana Kai bisa tidur denganmu?"
"Dia kakakku!"
Saat itu ibu Kai terdiam mendengar suara lembut Sehun. Bibir dan giginya terpisah membentuk sebuah keterkejutan luar biasa.
Kyungsoo menunduk, bukan karena intimidasi dari kedua orang ini. Pikirannya melayang pada Kai.
Pria itu bersungguh-sungguh menyukainya?
Lalu bagaimana perasaannya sendiri? Dia tidak peduli lagi Sehun akan menganggapnya bagaimana. Tiba-tiba saja Kyungsoo merasa hancur. Sudah sangat lama dia menyukai pria itu. Berkencan dengan banyak pria tidak bisa menghapus bayangan Kai.
Tiba-tiba saja dia menangis membuat ibu Kai dan Sehun panik. Adiknya bergeser lalu merengkuh Kyungsoo.
"Dia menyakitimu? Walau aku Ibunya, aku tidak akan melarangmu untuk menghukumnya Nak."
Naluri seorang wanita selalu bekerja lebih cepat. Dia ikut memeluk Kyungsoo, mengusap pundak Kyungsoo dengan pelan.
Saat itu Kai keluar dari kamar.
Bugh
Tanpa sadar Sehun telah berlari menghantam Kai membuat pria itu tersungkur membentur tembok!
Kyungsoo menyadari bunyi gedebuk dan saat dia menoleh matanya menatap bayangan Kai yang tersungkur. Pria itu menggeleng menahan kesadarannya akibat pukulan Sehun. Kyungsoo melepaskan diri dari ibu Kai, berlari mendekat dan menyilangkan tangan di dada.
"Ini urusanku dengannya Noona!"
"Kau salah paham. Aku yang menyakiti Kai! Aku yang memintanya! Aku menyukainya. Tapi aku tahu Kai tidak bisa," Kyungsoo menunduk dalam.
"Kyung?" Kai menyentuh pundak Kyungsoo pelan.
"Jangan menyentuhku!" Kyungsoo berbalik badan mentap Kai dalam.
"Aku sangat ingin mengatakannya. Tapi kau selalu memproteksi diri dengan berkata jika kau tidak bisa berkomitmen. Apalagi sampai ke pernikahan, kau menolak mengikuti rencana kencan buta ibumu. Aku tahu semua itu dari Sehun! Aku pikir aku tidak punya kesempatan. Aku sengaja mabuk agar bisa mengatakannya."
Saat itu Kai menarik Kyungsoo dalam pelukannya.
"Bodoh! Kau satu-satunya alasan kenapa aku tidak bisa menjalin hubungan dengan wanita manapun."
"Kalian seperti idiot!"
Kyungsoo memandang Sehun. Adiknya itu beranjak lalu melangkah ke dapur.
"Nyonya Kim. Mau kubuatkan sarapan?"
Saat itu ibu Kai yang tidak tahu situasi mencoba mengikuti saran Sehun. Pemuda itu pasti akan memberitahunya sesuatu saat sampai di dapur.
Saat di dapur ibu Kai segera duduk.
Dia menerima air mineral dalam gelas. Sehun tidak benar dalam mengatakan 'sarapan'.
"Jika wanita itu adalah kakakku. Apa nyonya akan mengizinkan mereka berkencan? Maksudku, setelah kejadian ini jika nyonya tidak mengizinkan aku akan menuntut Kai hingga ke pengadilan. Tidak peduli kakakku yang meminta atau..."
"Ya! Ya! Bocah ini! Jika dia menolak aku juga akan menuntutnya!"
Ibu Kai beranjak, dia kembali berjalan keluar dapur. Melihat Kyungsoo membantu Kai berjalan. Dia menatap kedua anak itu.
"Well... Mom sangat ingin marah karena kau kabur dari rumah. Tapi sepertinya kita butuh sebuah perayaan. Kai~ kau tahu betapa Mom sangat menginginkan cucu~"
Kyungsoo melotot pada Kai dan ibu Kai bergantian. Wanita cantik itu mendekati Kyungsoo, membelai lembut wajah manisnya.
"Jika dia menyakitimu. Laporkan padaku, kita akan menuntutnya bersama-sama."
Kai mencebik atas ucapan Ibunya.
Tidak tahu jika akan semudah ini, tapi siapa yang tahu. Prasangka orang terkadang terlalu buruk.
Kyungsoo membantu Kai duduk di kursi, ia melihat Sehun memunggungi keduanya. Meninggalkan Kai dan mendekati Sehun dalam kewaspadaan.
"Tunggu dulu! Kau juga tidak marah pada kami? Maksudku... Kami resmi berkencan."
Sehun berbalik badan. Memicing menatap Kai dan Kyungsoo bergantian. Melipat tangan di dada dia mencibir keduanya.
"Tidakkah kalian sadar aku lelah menjadi jembatan diantara kalian? Kalian sangatlah bodoh dan menyusahkan. Maksudku... Jika menyukai seseorang, bagian mana yang menyulitkan?"
Plak
Saat itu Sehun mendapat hantaman buah apel di kepalanya dari Kyungsoo akibat ceramah panjang yang meluncur dari bibir mungilnya.
Kakak perempuannya itu menggigit satu bagian buah, "Pria itu trus menjaga jarak dariku!" Ia menunjuk Kai membuat pria tan bingung.
"Adikmu bilang dia ingin pria baik untuk saudara perempuannya. Aku masih mencari definisi baik itu. Bahkan aku membiarkan dia berhutang satu dollar setiap hari di kafe milikku!" Kai berkata untuk membela diri, walau bagaimanapun dia tetaplah lelaki dengan harga diri tinggi.
"Ya! Mulai sekarang aku akan makan gratis di sana!" kali ini Sehun menuntut.
~ RoséBear~
Empat bulan kemudian.
Kai Point Of View.
Ibuku benar-benar cekatan. Maksudku, kami berkencan empat bulan. Kyungsoo mendapatkan pekerjaan di Seoul, dia menolak bekerja padaku dan lebih memilih mengajar pada sebuah sekolah swasta.
Aku sangat bahagia. Gadis yang kusukai, dia menyukaiku.
Bayangkan bagaimana perasaanku? Seperti kembang api yang di nyalakan. Meluncur ke langit memperlihatkan pesona pada dunia. Tapi aku tidak menghilang begitu saja. Terekam dengan baik dalam pikiran semua orang sepanjang tahun sebagai kembang api terbesar. Lalu aku muncul lagi di tahun berikutnya.
Terima kasih banyak Kyungsoo.
Kalian bertanya apakah dia hamil karena perbuatanku malam itu?
Tidak semudah itu! Tapi mulai besok aku akan mencobanya lagi. Dalam sebuah ikatan pernikahan.
Owhh astaga! Aku tidak sabar menunggu esok hari pernikahanku dengan Kyungsoo.
Orang tuanya bersama Mom merencanakan sebuah pesta pernikahan yang luar biasa. Walau kami memaksakan sebuah upacara sederhana yang hanya dihadiri keluarga dan teman dekat.
"Terima kasih untuk saladnya."
Aku tersenyum memandangi Kyungsoo menghabiskan makan siang di kafeku. Jarak tempat kerjanya dengan kafe milikku tidak terlalu jauh. Sementara dia telah tinggal dengan adiknya, Sehun. Tapi Mom bilang jika sudah menikah Kyungsoo akan tinggal bersama kami. Mom tidak ingin ditinggalkan sendirian walau jika kami pikirkan Mom yang sering meninggalkan kami, aku dan Johnny.
Dia memiliki hubungan yang baik dengan Johnny, adikku bilang Kyungsoo sangat cantik, baik dan begitu perhatian. Aku pernah memberitahu kalian, jika Johnny punya sedikit pembelaan terhadap kaum wanita. Tapi aku merasa dia semakin menghindariku karena keberadaan Kyungsoo.
"Noona tahu? Kai hyung pernah memukul bokongku karena menemukan majalah dewasa hmphhh,' kubekap mulutnya dan membawa bocah ini menjauh dari Kyungsoo. Dia baru saja tiba dan berlari menghampiri kami.
Kami tiba di ruang pribadiku, " akan kutendang bokongmu jika kau berani mengatakan hal tidak senonoh seperti itu lagi."
"Kyungsoo noona."
Aku menyerah. Kyungsoo telah berdiri di depan pintu ruangan dan menggeleng menatap apa yang telah kami perbuat. Tapi beginilah kami, kami menjadi saudara sejak empat tahun yang lalu. Saling menyayangi satu sama lain dengan cara kami sendiri.
"Akan kulaporkan kau pada Mom karena membolos kelas tambahan."
Johnny mempout bibirnya lucu. Dia memang membolos kelas tambahan dua hari lalu dan aku menemukannya di pedestrian mengikuti seorang perempuan. Kutebak dia menyukai anak perempuan itu.
~ RoséBear~
Pernikahan kami berjalan sangat lancar, Kyungsoo sangat cantik. Tapi bukan itu yang kupikirkan. Ya! Kalian bisa menebaknya, malam pertama kami. Untuk pertama kalinya aku akan menyentuh Kyungsoo dalam keadaan sadar. Dia sendiri yang menyerahkan diri padaku, jangan salahkan aku jika langsung memeluknya ketika dia keluar dari kamar mandi. Kulitnya lembab, basah karena tetesan air, Kyungsoo mendongak menatapku yang berada di belakangnya.
"Kai?"
"Hmm?" Kurasakan tubuhnya menegang karena getaran dari bibirku.
Astaga! Kyungsoo benar-benar menggoda.
"Mom berpesan satu hal padaku."
Aku berbisik pelan padanya. Dengan tangan yang makin mengeratkan, dia tidak bisa melepaskanku.
"Mom bilang bagaimana jika anak pertama adalah laki-laki?"
Dia diam sejenak. "Aku berencana memenuhi permintaan Mom. Tapi laki-laki atau perempuan, selama kita membesarkannya bersama aku tidak akan protes."
Kyungsoo membalikkan badan menghadapku, aroma sabun segar dari tubuhnya benar-benar menggoda.
"Mau minum bersamaku?" Dia meminta.
"Ya. Tapi hanya satu gelas saja," dia langsung memalingkan wajah.
"Ayolah Kyungsoo sayang, aku sudah menjadi suamimu. Kau masih malu padaku?" Wajah Kyungsoo menatapku. Kami berciuman sebentar. "Aku mencintaimu Kyungsoo sayang," dia menatapku dengan terpana.
"Kau sangat menggemaskan... Bagaimana jika kita melewatkan makan malam?"
Aku hanya bercanda. Aku tahu Kyungsoo lapar dan begitu lelah. Dia butuh satu atau dua jam relaksasi sebelum kami memulai sesuatu yang panas di atas ranjang hotel. Tapi sebelum itu dia pergi ke balik ruang ganti. Aku hanya menunggu beberapa menit saja sampai Kyungsoo keluar dan aku mengernyitkan dahi. Wanitaku menggunakan pakaian tidur Victoria secret, kalian pasti mengenal merek terkenal itu. Pakaian tidur dengan belahan V - neck yang membuat payudaranya tampak penuh, sangat nyaman dengan pita cantik dan tambahan sedikit renda. Ini benar - benar simple tapi terlalu menggoda.
"Tampaknya aku hanya punya ini," Dia mengangkat bagian bawah. Sekilas aku melihat Kyungsoo mengenakan celana dalam renda.
Tidak ingin terlihat idiot aku tersenyum sembari berjalan mendekatinya. Aku tahu Mom yang menyediakan pakaian kami selama berbulan madu di sini.
"Kau merasa nyaman dengan pakaianmu?" Dia menunduk dan aku tahu Kyungsoo masih merasa malu.
Dia menggeleng pelan dan segera kurengkuh dalam sebuah pelukan.
"Kalau begitu kenapa tidak lepaskan saja?" Aku hanya bercanda. Aku tidak suka suasana canggung dan dia melotot menatapku. Ya Tuhan. Istriku benar-benar menggemaskan.
"Jadi? Kita bisa memulai tanpa makan malam atau sedikit salad?"
"Salad," Putusnya cepat dan aku tidak bisa menahan kekehan.
Wanita ini membuatku sulit menahan diri. Sejak kami resmi berkencan, berkali-kali melakukan kegiatan bersama Kyungsoo masih bersikap seperti biasanya, tapi seminggu yang lalu setelah dia menemukan novel erotis di balik meja kasir kafeku. Dia sedikit menghindar. Owh! Aku benar-benar penasaran siapa yang memiliki novel itu sejak dulu. Dia pikir aku mengoleksi benda semacam itu.
~ RoséBear~
Author POV
Pernikahan keduanya berjalan sangat baik, tanpa terasa tujuh tahun berlalu begitu cepat. Kyungsoo dan Kai memiliki seorang anak laki-laki yang sangat cerdas. Mereka berjanji akan membesarkan anak itu dalam lingkungan yang baik. Kai telah berhasil menggembangkan kafe pizza miliknya menjadi sebuah bangunan Hotel berbintang.
Tidak pernah ada yang menyangka bangunan satu lantai yang begitu tenang ini adalah pusat utama dari bisnis seorang Kim Jongin. Dia memang memiliki sebuah bangunan Hotel bertingkat, tapi Kai lebih sering berada di Kantor utama, Kafe pizza pertamanya. Tetap menjadi Pizza terbaik di kota ini. Tiga tahun yang lalu Sehun juga menikah dengan kekasihnya, dia tetap menjadi pengacara publik yang handal. Ibunya mengambil pensiun dan berhenti menjadi seorang jaksa. Menikmati kehidupan bersama keluarga kecilnya karena Kai dan Kyungsoo masih tinggal di bangunan yang sama.
"Dad,,, apa itu pussy whipped? Aku membaca buku yang ada di kasir."
"Uhuk!" Pria tan itu tersedak minumannya sendiri ketika bocah enam tahun bertanya padanya. Ia setengah melotot tidak tahu harus marah atau memberikan jawaban yang benar. Pandangan Kai mengitari seisi kafe yang sedang sepi setelah melewati jam makan siang.
Satu-satunya orang yang menahan tawanya ada di balik mini bar.
"Sooyoung noona!"
Dia setengah berteriak. Setelah mengumpulkan semua kesimpulan di otaknya. Jadi buku bacaan erotis selama ini adalah milik wanita itu. Astaga! Dimulai dari Johnny dan kini anaknya, Tae Oh. Kai mengurut pelipisnya pelan. Ia pandangi putranya yang tampan.
"Daddy mau menjemput Mommy. Kau mau ikut?"
"Ya!" Dia berhasil mengalihkan perhatian Tae Oh. Dia harus di jauhkan dari kafe ini.
Selama kita menunggu pasti akan ada yang terbaik, tapi tidak ada salahnya untuk memutuskan berhenti pada satu titik yang merasa kita nyaman dengan sebuah komitmen.
~END~
Just a Short Story!
Reader, prepare to be another Story. I had a hard time putting it down. I see everything get resolved so that everyone had their happy ending. I don't think you will be disappointed. Bersenang-senanglah dengan cerita selanjutnya ^^
Salam hangat
.
RoséBear
