Tittle: The Journey

(2nd Chapter)

Author: RoséBear

Pair : Kai x Kyungsoo (KaiSoo)

Warning! GS. Maaf untuk typo.


Start story!


...

Jika di pantai orang-orang membuat istana pasir, berlari, bermain voli pantai, berenang, berselancar, memancing atau sekedar duduk di atas hamparan pasir menerima tamparan ringan angin laut.

Sekedar bikini dan selembar kain. Menggunakan sunblock untuk melindungi kulit dari sengatan matahari. Orang-orang rela berjemur untuk mendapatkan bronze skin yang terlihat sexy.

Tidak untuk Jongin. Pemuda itu telah memiliki kulit tan yang membuatnya terlihat maskulin. Sejak kecil Jongin telah disukai banyak wanita Ibunya cantik dan Ayahnya tampan. Kakak perempuannya? selain cantik juga pandai memasak. Sayang Ibu dan Ayahnya bercerai ketika Jongin akan memasuki junior high school. Dia berpisah dari Ibu dan Kakaknya. Sejak itu hanya libur musim panas saja yang membuat Jongin kembali ke rumah Ibunya. Dia menghabiskan banyak waktu untuk menganggu pekerjaan mereka. Jongin mendapatkan kebahagiaan dari hal-hal sederhana, Ayahnya terlalu sibuk sebagai seorang Pilot dengan jam penerbangan yang memisahkannya dengan rumah. Dia benci sendirian di rumah. Hari-hari jongin habiskan dengan bermain bersama teman-temannya. Mengikuti kegiatan klub dan tiba umurnya 17 tahun ia mulai bermain ke pub. Disana Jongin seakan merasakan dunia yang luar biasa. Bersenang,-senang di lantai dansa dan melakukan sexy dance bersama puluhan wanita yang menggilainya.

Sudah dua kali musim panas Jongin tak berkunjung kemari. Sekali nya berkunjung dia mendapat kejutan.

* RoséBear*

Membiarkan Jongin harus duduk di luar saat Kyungsoo sedang bersiap-siap. Gadis itu tentu membuat peraturan untuk Jongin. Jongin pikir tidak akan lebih dari setengah jam. Tapi Nyatanya gadis itu bahkan melewatkan jam makan siang.

Dia mulai bosan duduk sendirian sementara Ibunya melarang pergi seorang diri. Kyungsoo harus ditemani. Sempat terlintas di benak Jongin. Apa istimewanya gadis itu. Tidak ada hal buruk yang terjadi malam tadi. Kenapa Jongin harus melakukan sampai sejauh ini.

Do Kyungsoo.

'Kau pasti memohon untuk disentuh olehku.'

Gadis itu hanya punya mata bulat mengintimidasi. Bibir hati yang cukup tebal, pikiran lelaki itu mulai melayang untuk merasakan benda kenyal di wajah Kyungsoo. Ah! Kim Jongin. Apa yang barusan kau pikirkan. Do Kyungsoo hanya membuat berantakan libur musim panasnya.

srett

Pintu bergeser. Jongin tersigap. Ia membenarkan posisi duduk untuk menyambut kehadiran Kyungsoo. Baiklah. Jongin pikir dia harus menarik kata-katanya kecuali bagian merasakan bibir Kyungsoo.

Gadis itu cantik.

Tubuhnya sintal, berbentuk menawan dengan rok selutut dan kaos bergaris horizontal khas pelaut. Rambut setengah basah, mata bulat itu tampak begitu polos, seperti pertama dia membuka mata hari ini. Tidak mengintimidasi. Kulit putih dengan sedikit rona, Jongin yakin itu adalah efek suhu bukan karena perona pipi. Lalu keinginan untuk merasakannya bibir hati itu semakin kuat. Tanpa sadar Jongin berdiri.

Oke, nilai tambahan kepada aroma vanilla yang menguar ketika Kyungsoo melewati Jongin.

Disana Ryeowook menyapa Kyungsoo. Memberikan mangkuk berisi strawberry segar dan mangkuk kecil berisi madu. Jongin bisa mendengar saat Kyungsoo bertanya bagaimana cara memakannya dengan madu. Niat jahilnya muncul, Jongin menyusul dan mengambil satu strawberry dari mangkuk Kyungsoo. Mencelupkan ujungnya pada madu dan...

Tidak.

Jongin tidak memakan strawberry itu. Dia hanya sebatas menggigit memperlihatkan pada Kyungsoo membuat wajah polos Kyungsoo menatap bingung. Jongin melanjutkan aksinya, dia mengulum madu itu hingga habis tanpa menggigit terpotong strawberry. Malah buah segar itu berlabuh di dalam mulut Kyungsoo.

"Err..." Kaget Kyungsoo mengeluarkan buah itu dari mulutnya. "Apa yang kau lakukan?" Tanyannya sedikit kesal.

Jongin baru tahu Kyungsoo punya suara yang merdu. Tapi pria itu hanya terkekeh. "Memang begitu cara memakannya di sini. Kau gadis kota yang tidak tahu apa-apa huh?"

Ryeowook datang menengahi. "Jangan menggodanya Jongin." Wanita cantik itu tersenyum pada Kyungsoo. Mengambil satu buah dan mencelupkannya ke dalam madu seperti yang Jongin lakukan. "Disini kami menggunakan madu sebagai ganti gula." Jelasnya pelan. "Cobalah. Ini madu dari lebah ternak di hutan. Strawberry nya dari kebun pribadi." Ryeowook berkata begitu ramah. "Noona. Kenapa tidak mengirimkan strawberry kepalaku?" Suaranya terdengar begitu manja. Jongin memeluk Ryeowook dari belakang. Melingkarkan tangannya di pinggang dan menjatuhkan kepalanya di pundak Ryeowook. Demi apapun, Jongin sangat suka dimanja Ryeowook dan Ibunya. "Kami baru saja mengirimnya. Tapi kau keburu tiba disini."

"Berarti ini milikku?"

Jongin bisa melihat Kyungsoo sangat terkejut ketika ia paksa mengambil mangkuk yang telah diberikan Ryowook pada pertengahan percakapannya dengan Jongin. Susah payah Jongin menahan tawanya melihat Kyungsoo menggigit bibir bawah menahan kesal.

"Jongin, ini memang milik Kyungsoo. Punyamu sudah dikirim melalui paman Yunho sebelum kami tahu kau kemari."

"Akhh Baiklah. Aku akan berbagi dengannya." Sungguh pria ini tidak sadar diri.

Ryeowook berpamitan pada Kyungsoo. Dia punya pekerjaan lain saat ini. Meninggalkan dua anak manusia itu berdua saja. Orang-orang sedang menikmati istirahat siang mereka.

"Kenapa kau tidak berlibur ke pantai?"

Jongin berjalan mengikuti langkah Kyungsoo. Kembali ke depan kamarnya. Duduk dengan kaki menjuntai tidak sampai ke tanah. Gadis itu hanya tersenyum memandang langit biru. Wajahnya tampak berkilau, namun senyum itu terlalu buruk. Terlihat menyedihkan.

"Orang-orang muda lebih menyukai pantai daripada gunung. Dan para orang tua mengutamakan perjalanan ke gunung. Jika tidak hujan di hutan selalu ada kelompok yang bermeditasi, sebagian lain mendaki. Ohh apa kau pernah mendaki?"

Mereka saling bertetap untuk beberapa detik ketika Kyungsoo menoleh. Hanya sebentar sebelum Kyungsoo merebahkan tubuhnya ke lantai kayu.

"Kenapa kau cerewet sekali."

Jongin yakin mendengar ucapan sinis itu. Dia melotot menatap Kyungsoo yang memejamkan matanya. Menikmati semilir angin, perlahan rambut gadis itu mulai mengering.

"Yah! Kau akan pergi atau tidak? Jika tidak aku ingin keluar."

"Pergilah."

Baik! Kesabaran Jongin habis. Beginilah rasanya diusir seorang perempuan? Seperti cintanya ditolak saja. Sejak pagi gadis ini tak memberi kesan baik pada Jongin. Kalau bukan karena ibunya Jongin pasti sudah menendang pantat gadis ini. Ia bersumpah akan benar-benar melakukannya.

"Berhentilah memandangku seperti serigala kelaparan."

Akh? Jongin mengeram dalam diam. Bagaimana bibir itu bisa bicara dengan lantang seolah Jongin adalah pelaku kriminal.

Brakk

Jongin berdiri dalam satu sentakan. Ia menghentakkan kaki memasuki kamar. Memakai kaos putih yang masih baru dan mengambil kamera. Pergi begitu saja dari rumah. Setiap kemari ada beberapa tempat yang akan pria Tan itu kunjungi.

Meninggalkan Kyungsoo yang mengintip punggung lebar Jongin semakin menjauh. Gadis itu menghela nafas lega. Ia hanya ingin menikmati waktu tenang. Beberapa jam saja ia butuh tidur siang.


* RoséBear*


Longsor musim dingin kemarin tidak hanya terjadi di jalan menuju desa. Namun juga di beberapa bagian lain dari desa. Pria Tan itu hanya berdiri menatap tak percaya gundukkan tanah bercampur batu-batu besar menghalangi jalannya. Semak belukar pun tumbuh dengan kurang ajarnya. Padahal suara aliran air telah terdengar oleh telinga Jongin. Berjalan beberapa meter saja dia bisa menemukan air terjun. Jongin belum mandi sejak ia tiba disini. Tadi terlanjur kesal jadi segera meninggalkan kamar begitu saja. Pada akhirnya usaha Jongin sia-sia.

Perjalanan pulang ia menyapa beberapa penduduk. Tentu saja para gadis dengan senang hati melambaikan tangan kembali.

Kembali ke rumah Jongin mendapati Ryeowook sedang menurunkan tirai di depan kamarnya. Untuk mencegah sinar matahari yang berlebihan. Disana Kyungsoo masih berbaring, sepertinya dia benar-benar menikmati tidur siangnya.

"Kebetulan kau pulang. Bisa Bantu noona memasang tirai di kamarmu."

"Dia tidur disana sejak tadi?" Tangan Jongin mengambil gulungan kain dan tali dari tangan Ryeowook. Namun matanya memandang pada Kyungsoo.

"Heum. Aku tidak tega membangunkannya untuk pindah. Kupikir dia punya masalah pribadi makanya berlibur kemari."

Jongin naik ke lantai kayu dan menggeser pintu kamar. Dibantu arahan Ryeowook pria tan itu berhasil membagi ruang dikamarnya. Dia mendapatkan sudut yang sempit namun menuju kamar mandi. Tadinya Jongin ingin protes namun Ryeowook memelototinya. Ia baru saja akan mandi ketika saudara perempuannya itu meminta Jongin memindahkan Kyungsoo ke kamar. Sedikit tidak rela ia menggendong bridal Kyungsoo menuju kamar. Membaringkan gadis itu di kasur lipat lalu menyalakan kipas angin.


* RoséBear*


Rasanya menyegarkan bisa mengguyur tubuh dengan air dingin. Beberapa kali Jongin merengganggkan tubuhnya. Satu kebiasaan Jongin yang kadang membuat orang tidak paham atau memandangnya aneh. Jongin sangat suka melakukan dance di kamar mandi. Dia memutar tubuhnya di bawah guyuran bathroom shower. Menghentakkan kaki dan sedikit menggoyang selangkangannya.

Yeah! Dia rajanya sexy dance. "Akhhhhhh~," suara erangan tertahan kala jemari meremas sendiri penisnya. Pria itu dewasa secara umur. Terkadang pikirannya terlalu kotor. Jongin kembali mengguyur tubuhnya lalu membentuk gerakan berputar dan sekilas dia seperti melihat wajah Kyungsoo di depan pintu kamar mandi.

Mata Jongin berkedip beberapa kali. Ia memutar badan memastikan apa yang dia lihat. Pintu kamar mandi baru saja ditutup kembali.

Yak! Itu benar-benar Kyungsoo! Gadis itu pasti sudah terbangun dan masuk begitu saja. Jongin tidak marah jika Kyungsoo melihat tubuhnya tapi ini tidak adil. Bukankah tadi Kyungsoo melarang Jongin mengintip bahkan untuk berada di kamar ketika dia mandi. Lalu tanpa izin gadis itu masuk kemudian keluar seolah tidak terjadi apapun.

Bergegas Jongin membilas tubuhnya yang masih dilumuri sabun. Menarik handuk dan melingkarkannya di pinggang.

Pintu kamar mandi dihempas cukup kuat. Ia menyibak tirai dan menemukan Kyungsoo kini duduk di atas kasur dengan laptop yang menyala. Mendongak memandang Jongin dengan raut pertanyaan.

"Kau!" Jongin tidak tahu dia harus memulai dari mana. Amarahnya meluap hingga menunjuk wajah Kyungsoo. "Kenapa masuk kamar mandi. Harusnya kau bisa mendengar suara air mengalir. Artinya aku ada di dalam!" Pria itu berteriak sembari menunjuk-nunjuk wajah Kyungsoo dan pintu kamar mandi bergantian.

Gadis itu terlalu polos atau memang tidak peduli. Mengacuhkan Jongin dan kembali sibuk dengan laptop nya. "Yak! Aku bicara denganmu Nona Do Kyungsoo!" Ia mulai frustasi hingga menarik rambutnya acak. Rasanya ingin sekali Jongin mencekik Kyungsoo saat ini juga.

"Aku tanya kenapa kau masuk kamar mandi?"

Sepertinya Kyungsoo akan menjawab pertanyaan Jongin kali ini. Dia menatap bosan pada Jongin "Karena pintunya tidak terkunci."

Hening...

Sekali lagi Jongin tidak tahu bagaimana menghadapi gadis ini. Dia hanya menghembuskan nafas kasar beberapa kali. Lalu tertawa canggung. Dada Jongin naik turun, memalingkan wajah kemanapun selama itu tidak menemukan keberadaan Kyungsoo. Ia memilih memutar badan lalu menutup tirai kembali.

"Aaaaarrrrgggghhhh!" Jongin berteriak frustasi. Dengan kesal ia berganti pakaian. Meninggalkan kamar dan Kyungsoo.


* RoséBear*


Pemuda itu duduk di panggungan. Menikmati langit sore. Melihat sekelompok lansia yang baru pulang bersama Sunny, noona manis yang telah bekerja membantu usaha ibunya sejak penginapan ini pertama kali dioperasikan. Ia menyapa ramah para tamu penginapan yang tampak lelah.

Seseorang duduk di sebelah Jongin, sepertinya dia baru selesai mandi.

"Kau baru sampai di penginapan ini?" Pria tua bertanya setelah menyapa.

"Tadi malam. Aku merindukan ibuku."

"Ibu?"

"Yeah Park Jungsoo. Pemilik penginapan ini ibuku."Barulah pria tua itu paham. " oh maafkan aku anak muda. Aku kemari bersama istriku. Kami baru saja pulang mendaki. Suasana disini sangat menyegarkan."

Jongin memutar duduknya. Kini ia bersila di atas panggungan persegi itu. "Kakek lelah? Mau ku pijit?" Ia menawarkan diri. Dengan senang hati pria tua itu menyerahkan punggungnya.

Mereka punya obrolan para lelaki. Mulai dari masakan Ryeowook dan juga kebun strawberry di sebelah penginapan ini. Sampai akhirnya pria tua itu menawarkan putrinya pada Jongin. Oh Tuhan, pesona lelaki itu benar-benar tak bisa pudar. Bahkan pria tua saja mengaguminya. Sunny yang mendengar percakapan itu sedikit terkekeh pelan melewati Jongin.

Di sudut lain. Para tamu bersama-sama menikmati siaran televisi sembari menikmati cemilan sore. Mereka sedang menanti jam makan malam. Riuh suara tawa kala mereka menyaksikan acara reality show bersama-sama. Sekelompok lansia itu seperti sedang berada di panti jompo. Berkumpul dengan orang-orang satu generasi, dengan percakapan yang tak menggurui, saling berbagi satu-sama lain. Jongin merasa seperti memasuki kafe lansia. Dimana ia terlihat seperti bocah ingusan.

Sudut matanya menangkap sosok Kyungsoo yang keluar dari kamar. Gadis itu sepertinya baru selesai mandi. Dia satu-satunya tamu yang tak punya kegiatan. Pria paruh baya berterima kasih atas pijitan Jongin. Kini mereka duduk bersebelahan setelah Kyungsoo bergabung . Ikut menyaksikan siaran televisi yang baru berganti ke tayangan berita. Tiba-tiba pandangan Kyungsoo mengeras. Jongin sadar perubahan itu.

"Mau mencicipinya?" Saat itu Sunny ikut bergabung. Membawa semangkuk kue coklat dan membaginya kepada mereka bertiga.

"Cobalah," wanita cantik itu menawarkan pada Kyungsoo. Hanya anggukan pelan dan ia mencoba sepotong kecil.

Jongin rasa Kyungsoo seperti orang idiot. Ah bukan. Orang idiot tidak bersikap tenang hanya saja aneh. Gadis itu tak banyak bicara. Pada siapapun. Dia juga menghindari makan malam bersama. Padahal para tamu lain begitu antusias, setelah acara berita tadi berakhir. Gadis itu beranjak dari tempat duduknya. Jika pikirannya Jongin benar, ia melihat sudut mata Kyungsoo berair. Artinya gadis itu menangis? Tapi kenapa? Tidak ada yang menyakitinya bukan?


* RoséBear*


Ragu. Jongin benar-benar ragu untuk kembali ke kamarnya padahal ia bisa masuk sembarang. Toh itu adalah kamarnya, semua barang pribadi disana.

Sudah malam, Jungsoo mulai lelah mendengar ocehan Jongin. Tapi ia belum mau kembali ke kamar. Kyungsoo membuatnya seperti melakukan kesalahan. Berada di kamar yang sama saja adalah kesalahan.

Akhirnya Jungsoo mengambil keputusan. "Jika kau tidak mau tidur. Maka terjaga saja sekalian jaga penginapan ini. Ibu mau tidur." Kini ia ditinggal sendirian. Bintang-bintang itu bersinar seakan mengejek kesendirian Jongin. Tetap saja Jongin memilih duduk diluar sendirian. Ekor matanya memandang ke sudut. Kamar itu adalah miliknya sejak berusia enam tahun. Ia tidur bersama puluhan robot-robotan yang dibelikan sang ayah, miniatur mobil-mobilan dan berbagai jenis mainan yang kini berlabuh di dalam gudang. Ayah dan ibunya, meskipun mereka bercerai tetap memiliki hubungan yang baik, setidaknya begitu yang dilihat orang-orang. Tentang saudara perempuannya, Jongin berharap ia segera dilamar oleh kekasih tampannya. Mereka sudah berhubungan begitu lama.

Wajah Jongin mengernyit, lampu kamarnya baru saja padam. Apa gadis itu baru saja akan tidur? Bukankah dia sudah di dalam sana selama berjam-jam. Lantas apa yang ia lakukan seorang diri? Terlalu banyak kegelisahan. Kenapa seorang gadis bisa membuat Jongin merasa frustasi. Bukan karena tubuhnya, tapi hanya karena ekspresinya. Oke! Apa pria ini merasa kasihan? Tidak mungkin. Sudut kecil hatinya ingin bersimpati dan membantu sejak Ryeowook bilang kemungkinan Kyungsoo punya masalah pribadinya.

Pada akhirnya Jongin beranjak kembali ke kamar. Ia sempat ragu untuk masuk. Menggeser pintu dengan begitu pelan. Jongin akui ia sangat terkejut. Ia yakin yang baru saja diinjaknya adalah tisu. Basah? Kenapa?

Melewatkan hal itu Jongin menyalakan kembali lampu. Tidak ada protes dari Kyungsoo ia melanjutkan dengan membentangkan kasur lipat di lantai. Oke! Sejauh ini semua baik-baik saja sampai Jongin sadar ia tak punya bantal. Menyibak tirai dan menemukan Kyungsoo bergelung dalam selimut dalam cuaca panas. Jongin tidak peduli itu. Ia ingin bantalnya.

"Hey Kyungsoo. Berikan aku satu bantal."

Tanpa jawaban gadis itu mengeluarkan satu bantal dari dalam selimut. Melemparnya asal ke sumber suara. Ia hanya berdecih menerima perlakuan tamu istimewa ibunya itu.

Jongin mulai berbaring di kasurnya sendiri setelah mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur. Setidaknya kini bisa melihat bayang-bayang susunan barang di dalam kamar.

Beberapa kali tubuh atletis itu merasa gelisah. Secara pribadi ia mengakhiri memikirkan gadis yang kini berbaring di sebelahnya.

"Kyungsoo," panggil Jongin. Ini terlalu sulit.

"Kau mendengarkanku?" Ia bertanya dan yakin gadis itu pasti mendengarkannya. "Baiklah. Kini Kau menganggapku menganggu? Aku yakin itu." Kyungsoo sama sekali tak bergeming. "Tapi sejujurnya sikapmu juga mengangguku. Bisakah kita bersikap normal? Bukan kita tapi hanya kau. Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan sepuluh hari di sini? Aku sudah bertanya pada Ibu berapa lama kau di sini. Ibu bilang temanmu membayar untuk sepuluh malam. Kenapa kau hanya diam saja Kyungsoo?"

Jongin bangkit dari berbaring. Ia duduk bersila beberapa detik lalu berdiri dan menyingkap tirai, lagi.

"Maksudku. Mari menjadi teman. Jika kau punya masalah katakan saja. Ibuku sangat khawatir kau sedikit sekali berinteraksi. Jika kau bertanya kenapa aku begini. Aku peduli pada Ibuku, dia menjadikan rumah ini sebuah penginapan agar tidak kesepian. Dia ingin tamunya pulang dengan membawa cerita bahagia. Yeah,,, harusnya kau bisa melihat wajah bahagia tamu lainnya bukan?"

"..." Kyungsoo sama sekali tak menjawab. Tidakkah udara begitu panas?Jongin beranjak dari tempatnya.

Srettt

Dalam satu gerakan ia memaksakan tubuh Kyungsoo berbalik. Gadis itu telentang dengan kedua lengan yang di tahan Jongin. "Aku sedang bicara denganmu Nona muda."

Suaranya tak keras namun penuh penekanan. Jongin benci ketika dia diabaikan. Kyungsoo tidak berteriak dengan perlakuan Jongin, ia hanya sedang berusaha melepaskan diri.

"Akan kulepaskan jika kita bisa bicara baik-baik." Wajahnya hanya berjarak beberapa centimeter saja.

Seperti dihantam ombak besar. Dada Jongin tersentak. Dalam cahaya yang remang ia bisa melihat kilauan dari sudut mata Kyungsoo. Gadis itu menangis. Kyungsoo sedang berusaha menahan diri, seolah tidak ingin Jongin melihatnya. Tapi ia tak bisa menawan. Bagaimanapun Jongin adalah pria, ia kuat dan mampu mempertahankan posisi mereka. Berbeda dengan ketidaksiapan pria itu tadi pagi.

Hati pria itu melunak saat satu isakan lolos dari bibir Kyungsoo. Satu tangannya lepas dari lengan Kyungsoo, mengusap lembut sudut mata Kyungsoo. "Kau menangis? Karena aku?"

Gelengan pelan. Perih sekali melihat gadis ini berusaha terlihat kuat. Jika biasanya Jongin melihat para gadis memohon untuk di sentuh. Kali ini dia yang memohon untuk menyentuh Kyungsoo. Entahlah keberanian dari mana Jongin menawarkan diri.

"Kau punya masalah? Apakah itu menyakitimu? Jika sakit dihatimu, aku bisa membantunya. Malam ini saja."

Jongin menunjuk dada Kyungsoo. "Katakan sesuatu Kyungsoo." Gila rasanya Jongin tak bisa menahan hasratnya. Ia menenangkan gadis ini.

"Apa yang bisa kau lakukan?" Akhirnya Jongin bisa mendengar suara itu lagi. Terdengar serak karena ia yakin Kyungsoo telah menangis sejak tadi. Pria itu menyeringai. "Katakan masalahnya."

Kyungsoo memalingkan wajahnya. Posisi mereka masih bertahan dengan Jongin menindih Kyungsoo. Pria itu tanpa busana atasan dengan dada yang naik turun. "Apa kau akan tertawa jika kukatakan aku kemari karena pelarian?"

"Heum? Masalahnya?" Jongin masih menuntut Kyungsoo.

"Kekasihku berselingkuh dan kini dia akan menikah. Lalu aku baru saja di keluarkan dari pekerjaan."

Jika biasanya Jongin akan tergelak mendengar cerita picisan semacam ini. Tapi entahlah kenapa dadanya terasa sesak. Jongin yakin ia masih sadar, Ryeowook memberinya makanan bergizi sejak terbangun hari ini. Tapi kenapa kepalanya semakin mendekat dan dengan sendirinya mencium Kyungsoo. Lembut dan berlanjut. Bibir hati yang sangat ingin Jongin rasakan kini ia mendapatkannya. Rasanya manis dan juga lembut. Tidak selembut permen kapas karena masih bisa merasakannya. Ahh ini lebih seperti permen lolipop yang dibelikan noona nya ketika ia sekolah dulu.

Dari sini Jongin melihat wajah terkejut Kyungsoo. Ia kembali mencium bibir itu, awalnya Kyungsoo menolak namun seperti terkena candu Jongin memaksa untuk masuk. Sesekali ia gigit bibir bawah Kyungsoo, memaksa lidahnya untuk bisa melesak masuk. Akhirnya gadis itu membuka mulutnya. Mulai membalas ciuman Jongin.

Masih bertumpu pada kedua sikunya, Jongin berusaha memegang kepala Kyungsoo. Menenangkan gadis itu jika mereka akan baik-baik saja. Tangannya menyusup ke tengkuk Kyungsoo, sedikit mengangkatnya untuk memperdalam ciuman mereka.

Lutut Jongin sedikit terangkat maju tanpa sengaja menyentuh selangkangan Kyungsoo membuat gadis itu tersentak. Berusaha mendorong tubuh Jongin menjauh. Melepas ciuman mereka. "Maaf, aku janji akan melakukan nya dengan lembut." Jongin tidak tahu sepolos apa Kyungsoo itu. Tapi dengan rona malu-malu dan bibir yang sedikit bengkak membuatnya tersenyum lembut. "Kau percaya padaku? Malam ini aku bisa membuatmu melupakan mantan kekasihmu yang brengsek itu?"

Brengsek? Bukankah Jongin juga brengsek telah berani mencium Kyungsoo?

Ragu Kyungsoo mengangguk. Seperti memberi sinyal untuk Jongin melanjutkan. Ia kembali mencium bibir Kyungsoo lembut. Menggilai benda kenyal itu, sesekali disela kecupannya Jongin memberanikan diri menggigit bibir Kyungsoo.

"Ahhh," satu desahan lolos membuat Jongin melebarka seringai, gadis itu mulai menikmati sentuhannya. Jongin semakin memberanikan diri. Jemarinya tak hanya menganggur. Mulai bergerilya melewati piyama yang Kyungsoo gunakan. Jongin semakin tersenyum puas tidak mendapati kaitan bra. Ia baru sadar puting Kyungsoo mulai mengeras hanya dengan ciuman dan sentuhan dingin pada punggungnya. Jongin meraba-raba punggung mulus Kyungsoo, terasa seperti kulit bayi. Wajahnya mulai menjauh, melepas ciuman mereka dan turun ke leher Kyungsoo. Menjilati leher mulus yang mengeluarkan aroma vanilla. Satu ciuman disertai gigitan kecil kembali membuat Kyungsoo mendesah. "Ahhhhhhhh." Suaranya terdengar begitu merdu.

Jongin suka jika Kyungsoo menikmati sentuhannya. Dengan berani tangan Jongin berpindah ke perut Kyungsoo. Memutar jarinya di sana membuat tubuh itu menggelinjang kegelian. Jongin menangkup payudara Kyungsoo. Meremasnya cukup kuat membuat kaki Kyungsoo menggelinjang. Sepertinya ia baru saja menyentuh salah satu pusat kenikmatan Kyungsoo. Kaki gadis itu naik ke atas menabrak kejantanan Jongin yang masih terhalangi celana tidurnya.

"A-aku penasaran." Sudah payah Lelaki itu mulai bicara saat ia sibuk mengatur nafas bibirnya menandai leher Kyungsoo.

"Apa?"

"Kenapa tadi sore kau masuk kamar mandi. Ha-harusnya kau tahu ada orang di dalam."

"Haha"

Sepersekian detik Jongin terperangah. Kyungsoo tertawa. Ya gadis itu baru saja terkekeh pelan. Lebih merdu daripada desahannya.

Jongin mengeluarkan tangannya dari balik pakaian Kyungsoo. Ia kembali menopang tubuhnya. Menunggu Kyungsoo untuk bicara.

"Katakan padaku."

Kini ia tersenyum. Tangannya bermain di dada Jongin. Susah payah Jongin harus menahan birahinya. Kenapa gadis ini begitu menggoda. Ia menghentikan tangan Kyungsoo membuat gadis itu menatapnya bingung. Pandangan itu terlalu polos.

"Malam ini aku milikmu. Tapi katakan dulu padaku. Itu membuatku pensaran. Apa kau malu melihat tubuh telanjanngku?"

Kyungsoo menggeleng pelan. Itu artinya ia tidak malu melihat tubuh telanjang Jongin. "A-aku mendengar suara desahan. Ka-karena penasaran aku membukanya begitu saja." Suara Kyungsoo terdengar serak.

A-apa? Kim Jongin. Kau harus ingat kau mendesah di kamar mandi. Dia mendesah karena membayangkan jari-jari lentik Kyungsoo meremas penisnya. Dan kini gadis itu tepat di bawahnya. Dalam kukuhannya yang begitu kuat.

"Kau penasaran kenapa aku mendesah?" Seringai jahil tercetak di bibir Jongin. Wajahnya turun menggigit puting payudarah Kyungsoo dibalik piyama yang mulai berantakan itu.

"Ahhhhhhhh."

"Aku membayangkanmu," bisik Jongin penuh penekanan. Ia beralih ke payudarah Kyungsoo yang satu lagi. "Menyentuh milikku."

"Ahhhhhhhhhhh."

Tubuh di bawah itu bergetar. Jongin tersenyum puas dengan pekerjaannya. Menuntun tangan Kyungsoo untuk merasakan miliknya. Kyungsoo terkejut, gundukkan di balik celana selutut itu terasa mengeras.

Kini beralih menarik tangan Kyungsoo untuk memeluk lehernya. Nafas Keduanya membaur satu sama lain. Aroma Vanilla dan coklat berpadu bersama ginger yang menghangatkan satu sama lain. Saling menggoda membuat lawannya mabuk.

Kembali kedua bibir kissable itu berpagutan. Tangan Jongin tak pernah menganggur. Ia membuka satu persatu kancing piyama Kyungsoo. Sedikit kesulitan kala ia juga harus menopang bobot tubuhnya supaya tak menimpa Kyungsoo. Ia berhasil. Tiga kancing berturut-turut terbuka. Dua payudarah Kyungsoo memcuat. Kulit sehalus bayi itu sungguh putih. Jongin pikir ia akan bersetubuh dengan bayi jika menyentuh kulit Kyungsoo. Namun desahan itu meyakinkan Jongin bahwa Kyungsoo cukup dewasa untuk ini.

Ia kembali membuat kissmark di tulang depan Kyungsoo. Tubuh Jongin turun perlahan. Kepalanya melewati payudarah Kyungsoo. Kedua tangannya memegang lembut pinggang ramping Kyungsoo. Bibirnya menjilati pusar Kyungsoo membuat kedua kaki gadis itu menggelinjang menahan rasa geli luar biasa.

Ciumannya semakin dalam. Jongin merasakan kaki Kyungsoo melingkar di pinggangnya.

"Ahhhhhhhh." Gadis itu kembali mendesah frustasi dengan sentuhannya Jongin. Lelaki itu benar-benar membuatnya frustasi. "Ahhhhhhhh." Tubuh Kyungsoo melengkung. Jongin kembali merangkak naik. Ia menenangkan Kyungsoo dengan rayuan. " . ." Kata-kata Jongin membuat Kyungsoo sekali lagi tersenyum.

"Aaakhhhhhhh," Kyungsoo tersentak. Ia melotot pada Jongin. Pria itu hanya memamerkan deretan gigi putih yang terlihat rapih. Menggigit bibir pelan atas perbuatannya barusan. Entahlah sejak kapan tangan Jongin masuk kebalik celana Kyungsoo yang tak menggunakan pakaian dalam. Menyentuh titik kemaluan Kyungsoo menimbulkan gelenyar aneh ketika jari Jongin menyentuh dalam sekali lewat.

Kyungsoo mengatur nafasnya. Menyatu dengan nafas Jongin. Keduanya bertatap untuk waktu yang lama. Tanpa izin Jongin kembali menggerakkan jarinya. Menyentuh selangkangan Kyungsoo. Membuat kedua kaki Kyungsoo reflek menjepit tangannya. Pria itu terkekeh pelan. Ia pisahkan kedua kaki Kyungsoo. Membuat lubang itu kini merasakan kehadiran jari Jongin. Terasa lembab dan basah.

Jongin mendekatkan kembali wajahnya. Mengecup sebentar bibir hati Kyungsoo. "Kau harus tidur dengan tenang." Bisiknya pelan.

Tidak ada respon dari Kyungsoo. Namun pria itu sudah terlanjur memasukkan ujung jarinya. Ia semakin memasukkan jari tengahnya. Merasakan milik Kyungsoo yang menolak kehadiran benda asing itu. "Ssshhhhhh," Jongin berdesis ketika ikut memasukkan telunjuknya ke lubang vagina Kyungsoo. Rasanya lebih hangat daripada matahari musim semi.

"Kau boleh mencakar pundakku. Ini akan terasa sedikit sakit Kyung." Dia berbisik disusul dengan jari manis yang ikut menusuk lubang vagina Kyungsoo.

Percayakah, Jongin punya jari-jari yang panjang. Ia merasakan kehangatan di lubang Kyungsoo.

"Aaaaahhhhhhhhhhh," gadis itu mendesah panjang. Ia mengangkat pinggulnya meminta Jongin menusuk miliknya semakin dalam. Ini benar-benar membuat keduanya gila. Jongin mulai menggerakkan jari-jarinya seirama.

Tangan satunya meremas satu payudarah Kyungsoo. Memilin putingnya kasar.

"Kenapa sempithhhh Kyung?" Jongin mulai kesulitan berkata.

"Kkkhhhhh~"Kyungsoo mencoba menahan diri. Tapi seperti telah terhipnotis Kyungsoo tidak peduli. Ia hampir mencapai puncaknya. Kyungsoo menjambak rambut Jongin kasar. Mendekat kan wajahnya untuk menahan ucapan kasar dari mulut Jongin. Mencium lelaki itu dengan panasnya.

"Aku menemukannyahhhhh," desah Jongin semakin merasakan lengannya dijepit paha Kyungsoo.

Ia mulai memaju mundurkan ketiga jarinya menyentuh pusat kenikmatan Kyungsoo.

"Pleasehhhhh," Kyungsoo mendesah kasar di sela permohonannya.

"Sssshhhhhh. Damn!" Di atas sana Jongin masih kesulitan.

Jarinya trus mengaduk lubang Kyungsoo membuat gadis itu makin mendesah hebat.

"Aaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh."

Desahan panjang itu diikuti cairan kental keluar dari vagina Kyungsoo. Gadis itu mencapai puncaknya. Jongin tersenyum puas melihat Kyungsoo tersentak ke bawah. Jongin mengeluarkan jarinya. Ia menjilati ketiga jari dengan begitu seduktif. Sengaja membiarkan Kyungsoo melihatnya, tak disangka gadis itu kembali tertawa dengan apa yang Jongin lakukan. "Mau mencobanya?" Bujuk Jongin lembut. Ia mencium Kyungsoo pelan.

"Kau telah berhasil menggodaku Kyung." Jongin kembali mencium Kyungsoo.

Jari Kyungsoo bergerak hendak membuka kancing celana Jongin. Namun pria itu menahannya. Jongin menggeleng pelan. "Aku tidak punya pengaman. Jangan lakukan Kyung. Aku tidak mau menjadi brengsek untukmu."

Jongin mengecup tiap inchi wajah Kyungsoo mencoba menyadarkan gadis itu. "Aku akan membereskanmu. Aku tetap milikmu malam ini." Dengan kata terakhir itu Jongin mulai beranjak dari tempatnya. Rasanya sungguh pegal dalam posisi ini hampir setengah jam. Ia melepas semua piyama Kyungsoo yang telah basah oleh keringat. Jongin telah menahan diri untuk tidak kembali menyentuh tubuh Kyungsoo saat melihat gadis itu tanpa busana. Ia mengambil kaosnya yang tersusun di meja dan segera memasangkannya kepada Kyungsoo. Mengangkat tubuh gadis itu untuk pindah ke kasurnya yang masih bersih. Ia tidak yakin Kyungsoo akan nyaman tidur di kasur tipis yang kini lembab dan basah karena miliknya sendiri.

Jongin beranjak ke dalam kamar mandi ia mengurus tubuhnya cukup lama seorang diri. Mencoba menenangkan adik kecilnya. Jongin keluar dengan handuk di pinggang. Ia kemudian mencari celana pendek lainnya. "Kau kenapa?" Jongin bertanya karena Kyungsoo trus memandangnya. Gadis itu belum tidur, ia bisa melihatnya di bawah cahaya lampu tidur yang menyala.

"Kau akan tidur dimana?"

"Tentu saja di kasurku." Jawab Jongin enteng. Dia memang berniat tidur di kasurnya. Langsung saja Jongin berbaring di sebelah Kyungsoo. Memeluk gadis itu dengan posesif.

"Jangan mencoba menggodaku kembali." Bisik Jongin pelan. Ia mencium pucuk kepala Kyungsoo lembut.

Tanpa disadari wanita itu berbalik memunggungi Jongin. Kyungsoo menekan dadanya yang terasa sesak. Ia berhasil melupakan mantan kekasihnya. Selama Jongin menyentuhnya tadi tak sekalipun bayangan pria tinggi itu melintas di pikiran Kyungsoo. Ia tersenyum.

Disisi yang sama, Jongin belum terlelap. Ia mencoba mengenali aroma Kyungsoo. Ini pertama kalinya Jongin tergoda oleh seorang wanita. Dia menahan dirinya. Pengaman? Yang benar saja. Jongin punya alat itu di dalam ransel yang ia bawa. Tapi dia ingin meyakinkan Kyungsoo Perasaan Jongin teraduk menjadi kacau. Bagaimana besok mereka harus memulai hari? Oh tidak. Bagaimana jika Ibunya, Saudara perempuannya atau kedua noona yang membantu membersihkan penginapan menemukan cairan Kyungsoo di kasurnya? Dan bagaimana Jongin harus mulai bicara dengan Kyungsoo besok pagi?

Rasa lelah membawa Keduanya terlelap. Melupakan tentang esok yang sebentar lagi akan menyapa.


To Be Continue...


Selamat malam dan senang sekali bisa update chapter dua. Ughhhh adegan dewasa chapter ini sekal lewat aja. haha namanya baru mulai...

Kalian masih penasaran mantan kekasih Kyungsoo? Chapter depan mungkin muncul... lalu masalah ketakutan Kyungsoo, itu benar-benar mendekati phobia. Rasa takut yang membuat seseorang gemetar, berkeringat dingin, tiba-tiba Mong. Sedangkan di FF Flash Kyungsoo hanya kaget, just shock bukan takut. Aku mau kalian mengerti...


Next The Journey Chapter 03...


"Ahh maaf. Aku hanya khawatir terhadap tamu kami."

.

"Kau suka sekali melihatku telanjang heum?"

.

"Ja-jangan memotretku."

.

Tidak hanya dirinya namun dua orang yang sedang berciuman tadi menoleh padanya...

The Journey,

RoséBear

(1 April 2017)