Tittle: The Journey
(3th Chapter)
Author: RoséBear
Pair : Kai x Kyungsoo (KaiSoo)
Warning! GS. Maaf untuk typo.
Start story!
Ada di salah satu hari ketika musim panas masih berlangsung. Hujan mengguyur. Udara menjadi dingin namun tak berlangsung lama. Besoknya segera panas kembali. Orang-orang bersorak, bersiap menyambut pesta kembang api. Hanya di musim panas kembang api terlihat menarik.
Kyungsoo bangun. Terasa berat ketika lengan Jongin masih melingkar di pinggangnya. Mereka tidur dalam posisi berpelukan selama semalaman penuh. Ah Kyungsoo rasa tidak semalam penuh. tidak yakin ini jam berapa. Nampaknya masih sangat gelap di luar sana. Kyungsoo berbalik badan. Lelaki itu masih terlelap. bergumam mengucapkan terima kasih. Kyungsoo yakin ia berterima kasih karena Jongin benar-benar membuatnya lupa tentang mantan kekasihnya. Tidur dalam dekapan Jongin membuatnya tenang tanpa khawatir apapun. Bahkan jika ibu atau saudara perempuan Jongin melihat mereka. Kyungsoo tersenyum, tangannya terangkat menekan wajah Jongin. Baru Ia sadari pria itu punya rahang yang tegas. Sepertinya Jongin terusik membuatnya mengendurkan pelukan.
Jika Jongin masih menikmati alam bawah sadarnya maka Kyungsoo harus bergegas. Walau dirinya tidak khawatir namun tetap saja tidak enak rasanya jika pelayan penginapan melihat kasurnya yang berbau. Gadis itu keluar dari pelukan Jongin. Mencari ikat rambut dan bergegas melepas sarung kasur lipatnya. Kyungsoo menggulung kasur itu. Tidak berat dan ia masih mampu mengangkat benda itu keluar dari kamar. Di sudut lain penginapan ini ada sumur. Tempatnya bersebelahan dengan dapur yang sering Ryeowook gunakan untuk masak. Tidak jauh dari sana ada pintu kayu setinggi anak-anak. Jika ada orang dewasa yang ingin pergi ke kebun maka harus menundukkan kepala. Kyungsoo menjemur kasurnya di atas bambu. Merendam kain di dalam baskom. Ia beruntung cahaya di luar begitu terang. Keadaan sunyi namun Kyungsoo tak terlalu takut. malah khawatir suaranya bisa membangunkan penghuni lain. Jadi ia sangat berhati-hati dalam mengangkut air.
"Selamat pagi Nona."
"Heih?" Kyungsoo terlonjak kaget.
Itu Yuri.
Salah satu pelayan penginapan. Ia tampak baru saja bangun. Namun berhasil menyapa Kyungsoo. Gugup Kyungsoo menyapanya kembali.
"Kenapa mencuci kasurmu nona? Biar aku saja yang melakukannya."
"Ahh tidak! Tidak! Aku ingin melakukannya sendiri."
Yuri mempout bibirnya lucu mendengar penolakan Kyungsoo mempertahakan Kasurnya yang telah basah total.
"Apa nona tidak nyaman?"
Kyungsoo tahu dia hampir melukai perasaan wanita ini. "Aku nyaman di sini. Hanya saja aku ingin mencucinya. Yeah aku terbiasa membersihkan kasurku sendiri."
"Apa karena tuan muda menidurinya kemarin? Maaf seharusnya kami menukar kasur Nona."
Kyungsoo melambaikan tangannya di udara. Dia semakin merasa tidak enak mendengar ucapan Yuri. "Jangan khawatir. Banyak hal yang tak biasa terjadi. Aku sudah memaafkan itu. Apa kau selalu bangun sepagi ini?"
Yuri menganggukan kepala. "Aku yang paling cepat tidur jadi aku terbiasa bangun lebih pagi. Nona," Yuri kembali menarik perhatian Kyungsoo. Gadis itu hanya berdehem pelan. "Sebenarnya aku khawatir Nona tidak melakukan apapun kemarin. Bahkan melewatkan makan malam. Hmm apa Nona baik-baik saja?"
Kyungsoo menoleh menatapnya.
"Ahh maaf. Aku hanya khawatir terhadap tamu kami." Dia menunduk meminta maaf karena telah kurang sopan bertanya pada Kyungsoo.
"Ahh maafkan aku. Aku punya mata silinder. Kau pasti tidak enak melihatku kan? Sebenarnya kemarin aku melakukan banyak hal. Tapi tidak terlihat oleh kalian."Jawab Kyungsoo yakin. Dia mengedipkan sebelah matanya untuk meyakinkan Yuri.
Keduanya mulai sibuk dengan urusan masing-masing Kyungsoo selesai mencuci lapisan kasurnya. Sementara Yuri juga menyelesaikan tugasnya mencuci kain-kain lain.
Dari pintu ruangan lain Ryeowook keluar menyapa keduanya. Wanita itu cantik dipagi hari. Ia sudah terlihat segar dengan rambut setengah basah. Sepertinya akan menyiapkan sarapan.
Fajar mulai menyingsing. Kyungsoo hanya duduk di halaman memperhatikan Jungsoo yang kini membantu Ryeowook menyiapkan sarapan. Nampaknya akan ada sup hangat di pagi hari. Sementara penghuni lain mulai bermunculan. Mereka tampak mengantuk dan Kyungsoo mengulum senyumnya melihat sekelompok orang tua itu berbagi kamar mandi yang sama.
"Nona Muda. Kau sendirian? Aku boleh duduk di sini?" seorang wanita paruh baya menyapa Kyungsoo.
Reflek ia menggeser tubuhnya.
"Hmm duduklah di sebelahku Nek."
"Apa kau mau bergabung dengan kami? Pagi ini kami akan bermeditasi sedikit jauh."
Sungguh Kyungsoo tidak tahu dia harus menolak bagaimana. Kyungsoo bahkan tak yakin ia akan tahan duduk bersila dalam waktu yang lama. Bermeditasi di tengah hutan? Sepertinya tidak untuk saat ini.
Kyungsoo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia beruntung seseorang memanggil nenek itu untuk mengajaknya sarapan. Karena Yuri dan Sunny mulai membagikan makanan yang dibuat Ryeowook.
"Apa Jongin belum bangun?" Itu suara mendapati wanita cantik itu membawa nampan berisikan semangkuk sup ayam dan bubur. Dengan teh beraroma melati. Kyungsoo mengangkat alisnya bingung kala Jungsoo terlalu memperhatikan kondisinya. Kyungsoo akui dia memang belum mandi namun akhhh ini kaos Jongin. Sudah pasti ibunya tahu akan hal itu.
Kyungsoo merutuki dirinya kenapa tak berganti pakaian setelah memakai pakaian dalam dia masih mengenakan kaos Jongin. "Kau mau membangunkan Jongin? Putraku sangat sulit bangun di pagi hari."
Nafasnya meluncur. Rasanya begitu lega hilang dari prasangka buruk. Kyungsoo bergegas bangkit dan menunduk. "Aku akan membangunkannya untukmu."
"Yeah setelah itu bersiap lalu sarapan bersama kami." Kyungsoo melambaikan tangan pada Jungsoo. Ia menutup kasar pintu kamar. Menarik kerah baju mencium aroma dari tubuhnya sendiri. Tidak terlalu berbau ia berharap mereka yang bicara dengannya pagi ini tidak mencium aroma sex dari tubuhnya. Tapi sepertinya tidak. Jongin punya aroma kaos yang wangi. Seperti parfum yang memang sudah melekat di bajunya.
Mata Kyungsoo menatap Jongin yang masih terlelap. Rasanya kasihan harus membangunkan pria itu. Alih-alih membangunkan Jongin ia melangkah ke kamar mandi setelah mengambil pakaian baru.
Kyungsoo pikir ia sudah lama berada di kamar mandi tapi pria itu tak kunjung bangun. Mengingat ucapan Jungsoo ia kini berjongkok. Menggoyang pundak Jongin pelan.
"Hey pemalas. Ibumu menyuruhku membangunkanmu."
"Hmmm?" Jongin semakin bergelung dalam selimut. Dia hanya bergumam tidak jelas.
"Jongin. Aku ingin berjalan-jalan. Bukankah kau pemandu wisataku? Cepatlah bangun!" Guncangannya semakin kuat.
Sayangnya Jongin bukan pria penurut. Ia menarik Kyungsoo membuat gadis itu terkejut. "Kau mulai berani memaksaku heum?"
"Le-lepaskan aku Jongin! Aku akan memanggil Ibumu jika kau trus begini."
Akhirnya pria itu melepaskan Kyungsoo. Setengah sadar Kyungsoo bisa melihat Jongin bangkit langsung menuju kamar mandinya setelah mengecup cepat bibir Kyungsoo.
Seharusnya Kyungsoo marah, tapi dia melewatkan begitu saja. Bahkan tak bangkit dari tempat tidur Jongin. Seperti anak baik Kyungsoo menunggu Jongin keluar dari kamar mandi. Pria itu punya waktu yang singkat di kamar mandi. Dalam beberapa menit dia sudah keluar dengan handuk di pinggang. Menatap Kyungsoo sedikit terkejut lalu tersenyum. Jongin punya senyum yang menawan. Sedikit lebih tertarik ke sudut kanan. Ia berjongkok meraih susunan pakaian yang tertata rapi di dalam kolong lemari tanpa pintu.
"Kau akan tetap duduk disana?"
"Ya?" Kyungsoo bertanya balik. Memandang Jongin tidak mengerti.
"Kau suka sekali melihatku telanjang heum?" Kyungsoo diam beberapa saat mencerna ucapan Jongin. Ia menggeleng pelan lalu segera beranjak. Menutup tirai dan bersiap diri. Kyungsoo hanya menyisir rambutnya dan memoleskan lipstik tipis. Ia menyingkap tirai kembali. Mendapati Jongin sudah berpakaian rapi sedang membereskan tempat tidurnya dengan handuk masih di atas kepala.
Air dari rambut Jongin ikut membasahi lantai kayu. Kyungsoo berjalan mendekat. Ia bersimpuh dengan kedua lutut. "Duduklah. Aku akan mengeringkan rambutmu." Jongin duduk bersila menghadap Kyungsoo. Menikmati sentuhan lembut jemari gadis itu.
"Anggap saja terima kasihku. Kau membuatku tidur nyenyak semalam."
Kyungsoo kembali tersenyum mengingat apa yang mereka lakukan semalam. Tangan Jongin tak bisa diam. Ia memegang kedua sisi pinggang Kyungsoo. Gadis itu hanya mengenakan kemeja putih lengan panjang yang sedikit kebesaran dan celana pendek di atas lutut.
"A-apa yang kau lakukan?" Kyungsoo bertanya terkejut sedang pria itu masih melanjutkan aktivitasnya.
"Kau menggunakan bra?"
Dugh
"Kau keringkan sendiri!" Kyungsoo mendorong tubuh Jongin meninggalkan kekehan ringan di sana. Gadis itu beranjak meninggalkan Jongin. Ia merasa malu dan juga kesal di saat bersamaan.
Kyungsoo tak tahu kenapa dia begitu membuka diri pada Jongin. Sejak pagi itu Kyungsoo merasa tak perlu khawatir apapun. Masalahnya menguap beberapa saat. Gemas dengan tingkah Jongin yang mencuri perhatian ibu dan saudara perempuannya.
Pria itu juga baik, peduli pada orang yang baru dikenalnya. Ia bahkan menawarkan diri untuk memijit kakek paruh baya. Kyungsoo tak hanya menerima kehadiran Jongin. Otaknya menyetujui semua keisengan pria tan itu. Terlebih lagi dengan gamblang Kyungsoo menceritakan masalahnya yang mana sejauh ini hanya Luhan saja penjaga rahasia Kyungsoo.
Lebih dari itu ia membiarkan Jongin menyentuh tubuhnya. Kyungsoo menggigit kecil bibir bawahnya mengingat kejadian semalam. Ya Tuhan. Dia benar-benar gila. Kenapa tubuhnya menginginkan sentuhan Jongin lebih jauh lagi? Bahkan semalam jika saja Jongin menuruti nafsunya ia bisa saja menghamili Kyungsoo. Oke! Agak kelewatan memang. Tapi kini Kyungsoo dihadapkan oleh empat wanita yang memang sudah dekat dengan Jongin. Pria itu duduk berhadapan dengannya. Mereka ada di ruang makan keluarga. Ruangan sempit yang hanya mampu penampung meja makan duduk dengan sebuah lemari. Percayalah itu pasti lemari penyimpanan peralatan kamar. Barusan Yuri membukanya dan mengambil beberapa selimut baru.
Lalu ruangan itu hanya meninggalkan Kyungsoo bersama Jongin. Jungsoo telah mengangkat semua peralatan makan untuk segera dibersihkan. Sempat wanita cantik itu bertanya prihal pencucian kasur. Kyungsoo malu setengah mati dia bingung harus menjawab bagaimana ditambah dengan gelak tawa Jongin yang tiba-tiba memecah keheningan.
"Mau menonton?" Tanpa izin pria itu menarik Kyungsoo untuk berdiri. Menariknya menuju ke halaman. Dimana kini beberapa orang tua tengah bersantai menunggu pemandu mereka bersiap dan segera pergi. Udara pagi masih sangat segar. Televisi menyala menampilkan pembawa berita yang menyampaikan kabar terkini. Dada Kyungsoo berdenyut sakit melihat mantan kekasihnya masih bisa tersenyum di balik meja itu. Bekerja dengan sangat baik tanpa peduli perasaan Kyungsoo. Sama seperti kemarin sore. Pria itu duduk bersama seorang wanita muda cantik. Kyungsoo sangat mengenalnya, dia juga berada di perusahaan yang sama dengan mereka beberapa minggu yang lalu sampai Kyungsoo harus menyerahkan Surat pengunduran diri dan mengambil pesangonnya.
Tidak! Kyungsoo sudah berjanji pada Luhan dia harus melupakan bajingan itu. Bukankah tadi malam Jongin bisa membantu meringankan hatinya. Harusnya sekarang juga bisa.
"Aku mau keluar." Putus Kyungsoo segera.
Jongin menatap Kyungsoo sedikit bingung.
"Yuri bilang di dekat sini ada kuil."
"Kau mau berdo'a?" Selidik Jongin. Gadis itu mengangguk, dia segera berjalan meninggalkan siaran televisi.
Luhan bilang sebaiknya berada jauh dari apapun yang menampakkan mantan kekasihnya. Jika Kyungsoo menjauh perlahan dia bisa melupakan pria brengsek itu. Jarak memisahkan banyak orang. Jarak membuat orang lupa. Jarak menghapus kenangan. Kali ini Kyungsoo harus percaya perkataan Luhan.
Langkah nya terhenti saat menyadari Jongin tak ada di belakang. Kyungsoo mengitari seisi penginapan yang tampak jelas dari pintu masuk. Pria itu keluar dari kamar mereka dengan menenteng sebuah kamera. Susah payah Kyungsoo meneguk salivanya. Tidak sekarang, dia memohon. Kyungsoo tidak takut pada benda mati itu. Hanya saja ia takut jika berada di hadapan kamera yang siap. Apalagi jika benda itu mengeluarkan blitz. Tubuhnya bisa kaku seketika atau bergetar hebat. Bukan phobia yang kelewatkan hanya perasaan buruk seperti dihantui ketakutan.
Jongin berlari menghampiri Kyungsoo. Menepuk pelan pundak gadis itu untuk mengajaknya melangkah. Sepertinya Jongin sadar Kyungsoo tak bergerak dari tempatnya. Ia berbalik lagi dan menarik lengan Kyungsoo.
Sepanjang jalan Kyungsoo hanya diam. Jongin tidak berniat memotretnya bukan. Lelaki itu sama sekali belum menggerakkan tangan untuk mengambil gambar.
Jalan tanah bercampur sedikit batu-batuan. Beberapa pohon bambu tumbuh berjejer dengan rapi. Ia trus saja menunduk sampai ketika Jongin bilang mereka sudah sampai.
Mata bulat Kyungsoo berkedip beberapa kali. Ia terpesona dengan kuil ini. Sangat bersih dan lihatkah di gerbangnya terdapat patung Naga. Lalu air mengalir dari pipa bambu. Kyungsoo sedikit berlari memasuki kuil. Ia menuju bangunan utama. Berdiri dengan tegap lalu membunyikan lonceng. Nyaring sekali bunyinya. Mereka adalah pengunjung pertama pagi ini.
Gadis itu menangkupkan kedua tangannya. Kepala sedikit menunduk dan menarik nafas dalam.
"Ja-jangan memotretku." Kyungsoo yakin Jongin mendengar suaranya walau tidak yakin dimana keberadaan pria itu. Entahlah kenapa dia berkata demikian. Kyungsoo melanjutkan aktivitasnya. Ia membuka mata dan menemukan Jongin berdiri tepat di sampingnya. Pria itu juga sedang berdo'a.
Tampan. Dia punya rahang yang tegas. Kulit tan mempesona dan bibir tebal yang semalam melahap bibir hati Kyungsoo dengan begitu hati-hati. "Kau sudah selesai?" Sapa Jongin segera.
"Apa yang kau harapkan?" Kyungsoo bertanya.
"Semoga cita-citaku tercapai. Kenapa kau tahu aku akan memotretmu?" Kyungsoo tersenyum. Sudah berapa kali dia tersenyum didekat pria ini. Kyungsoo lupa menghitung.
"Memangnya apa cita-citamu? Kulihat kau punya banyak buku bacaan di kamar itu. Dokter? Jaksa? Professor?"
"Kau tidak mau menjawabku?" Jongin bersiap mengangkat kamera menyiapkan bidikannya.
Kyungsoo mengangkat tangannya. Berlindung di balik punggung tangan mungil "berhenti kumohon."
"Ada masalah? Kau bukan artis dan aku juga tak akan menyebarkan gambarmu."
Ckrek
"..."
"Kyung?"
Kyungsoo terdiam di tempat. Kilatan itu membuatnya sesak. Bukankah ketakutan ini berlebihan? Tapi mau bagaimana lagi. Kyungsoo tidak tau pasti sejak kapan tubuhnya bereaksi berlebihan terhadap kilatan kamera. Hingga ikut menyeretnya takut dihadapan kamera.
Mata Kyungsoo berkedip beberapa kali. Berusaha menopang tubuhnya untuk tetap berdiri. Jangan sampai menyulitkan Jongin. Lebih lagi ia tak mau Jongin mengejeknya nanti.
"Kyung?" Jongin menggoyang tubuh Kyungsoo berusaha menyadarkan gadis itu. Sayangnya Kyungsoo kehilangan tenaga. Tubuhnya mendadak lemas. Ia beruntung Jongin sigap menopang. Jika tidak, sudah dipastikan Kyungsoo akan menghantam ubin.
Seperti melayani seorang nona muda. Tubuh Kyungsoo di bawa mendekat ke dinding, Jongin memeluknya dalam pangkuan. Menepuk pelan pipi gembil Kyungsoo. Lelaki itu panik setengah mati. Bukan hanya takut terjadi hal buruk pada Kyungsoo. Lebih lagi ibunya akan marah besar Ia menyakiti tamu penginapan. "Kyung?" Dia kembali menepuk-nepuk wajah Kyungsoo. Cukup lama hingga gadis itu berangsur sadar. Meremas kuat kaos yang digunakan Jongin. "Jangan memotretku lagi. Kumohon," suaranya terdengar lirih dan seperti akan menangis.
"Maafkan aku." berulang kali Jongin mengucapkan kata yang sama.
Kyungsoo duduk mengayunkan kakinya. Bersender pada pohon persik. Mereka masih di kuil, gadis itu menunggu Jongin yang sedang mencari minum. Ia tersenyum dan melambaikan tangan melihat sosok tampan itu sedikit berlari dengan membawa cangkir bambu berisikan air. "Minumlah."
Kyungsoo meneguk setengah ia berharap Jongin menerima sisahnya. Nyatanya pria itu menolak dengan halus. "Kau habiskan saja. Untuk yang tadi aku benar-benar minta maaf."
"Don't worry. Sejak kecil aku memang punya ketakutan pada kamera."
"Jadi benar-benar ada ya?"
"Hm?" Kyungsoo menoleh pada Jongin. Pria itu menggeleng pelan. Kyungsoo tahu Jongin tak mau menyinggungnya. Sekali lagi entah kenapa Kyungsoo tak khawatir membicarakan ketakutannya pada Jongin.
"Setiap kali di depan kamera yang menyala aku selalu ketakutan. Tubuhku bergetar, terkadang menjadi kaku. Rasanya tersentak begitu kuat. Aku gelisah jika ada kamera yang menyala dan mengarah padaku. Seperti nervous dan kegelisahan yang berlebihan."
Sekali lagi. Kyungsoo tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Mulutnya begitu saja bercerita pada Jongin. Lelaki itu mendengarkan dengan seksama. Menganggukkan kepalanya memahami masalah Kyungsoo.
"Sekali lagi aku minta maaf. Akan kusimpan kameraku."
"Terima kasih Jongin. Ahh tentang cita-citamu. Apa sudah tercapai?" Kyungsoo mengalihkan pembicaraan mereka. Pria itu menoleh. Mengangkat alisnya lalu tersenyum.
"Kau masih penasaran? Cita-citaku adalah menikah dengan gadis cantik lalu hidup bahagia selama-lamanya."
Dalam detik itu juga Kyungsoo menyesal bertanya. Pria ini punya selera humor yang luar biasa. Lihatkah sekarang ia tertawa sangat lebar.
"Kau sendiri bagaimana?"
"Aku?" Kyungsoo kaget di tanya tentang dirinya. "Tadinya aku mau menjadi pilot. Tapi kulepas cita-citaku ketika pertumbuhanku juga berhenti."
"Hahaha" kini tawa Jongin benar-benar lepas. Yeah! Kyungsoo akui tubuhnya memang tak terlalu tinggi. Hanya mengikuti standard masyarakat saja. Jadi dia tak mempermasalahkan tawa Jongin.
"Maafkan aku Soo."
"Kau berhak tertawa."
Jongin mengelus pelan rambut Kyungsoo. Membuat nyaman gadis itu. "Jadi sekarang kita mau kemana? Aku akan menyenangkan tamuku hari ini "
"Aku ikuti keputusanmu."
"Baiklah! Mari berkeliling di desa."
Hari itu berjalan baik. Perjalanan yang menyenangkan. Kaki Kyungsoo trus saja mengikuti langkah Jongin. Kyungsoo mengeluh pergelangan kakinya sakit. Padahal mereka tak banyak berjalan. Lebih banyak duduk di atas bukit kecil menghadap hamparan padang rumput di tengah hutan.
"Harusnya kubawa peralatan menggambarku."
Kyungsoo menoleh menghadap Jongin setelah mendengar ucapan pria itu. "Kau bisa menggambar? Berencana melukis?" Tanya kyungsoo memastikan. Mereka mulai berjalan pulang.
"Aku pria multitalenta mengerti. Akhh kau mau melihat tarianku?"
Kyungsoo mengangkat alisnya. Mereka berhenti di persimpangan yang sepi.
"Aku sudah melihat tarianmu di kamar mandi. Kau lupa?"
Jongin terdiam. Pria itu menoleh menatap Kyungsoo dengan gerakan yang pelan. Seakan ingin menelan gadis itu hidup-hidup. "Kau belum melihat sepenuhnya tarianku. Apalagi di atas ranjang. Aku sangat hebat Nona Do." Kyungsoo meneguk salivanya gelisah. Akhh Jongin. Kau membuat gadis ini merinding sekarang.
"Sebaiknya kita pulang. Kau bisa tunjukkan kemampuan menggambarmu padaku sembari menunggu malam hari." Sedikit tenaga yang Kyungsoo punya untuk mendorong tubuh Jongin.
"Wahhh kau juga mau melihat tarian ranjangku?"
Hah! Kyungsoo yakin kini wajahnya memerah malu. Dia berlari kecil meninggalkan Jongin yang masih trus tertawa.
Hari itu, harusnya dia bisa melihat kemampuan menggambar Jongin. Tapi Kyungsoo lebih memilih belajar memasak pada Ryeowook. Menghindari berada di dekat Jongin adalah yang terbaik hari ini.
Duduk di beranda depan kamarnya. Kyungsoo melihat kelompok orang tua itu sedang berkumpul menonton televisi, lagi. Ia berdiri dari tempatnya ketika sadar wajah mantan kekasihnya kini muncul lagi di layar televisi itu. Heoh! Dia benci pria itu. Lebih memilih masuk kamar dan mandi. Kyungsoo mengunci pintu kamar dari dalam. Dia tak mau jika Jongin masuk saat ia sedang mandi.
Berkirim pesan dengan Luhan adalah hal yang menyenangkan. Kyungsoo benar-benar berterima kasih pada tetangga apartemennya itu. Bukan hanya tetangga. Dia teman terbaik yang Kyungsoo punya.
Malam hari Kyungsoo menyingkap tirai membuat jongin terpaksa bangun. Pria itu menatap aneh Kyungsoo. "A-aku."
"Ya?" Lama sekali Kyungsoo mengingatkan keinginannya membuat Jongin jengah. Pria itu lelah sore ini diminta membersihkan rumah kaca yang akan ditanami oleh Ryeowook dengan tanamam baru. Menggunakan peralatan kebun bukan sepenuhnya keahlian Jongin.
"Aku boleh tidur denganmu?" Tanya Kyungsoo malu-malu. Jongin tersenyum mendengarnya. Kyungsoo yakin Jongin mengerti ia meminta bukan untuk disentuh. Hanya untuk berbaring bersama. Kyungsoo juga tahu betapa lelahnya Jongin. Tanpa disangka pria itu bergeser memberi space untuk Kyungsoo. Gadis itu tersenyum dan segera masuk kedalam selimut Jongin. "Kau tidak mengenakan baju?"
"Kebiasaan. Bukankah kau juga tidak mengenakan pakaian dalam?" Jawab Jongin dalam keadaan mata tertutup. "Jangan menggigit bibir bawahmu Kyung. Kau mau menggodaku?" Gumamnya pelan.
Kyungsoo mendongak menatap Jongin. Ahh sebaiknya dia tidur. Kyungsoo benar kali ini. Dia nyaman didekat Jongin, tayangan berita sore tadi menghilang saat Jongin memeluknya. Sekarang ia bisa tidur dengan tenang.
Besok pagi. Kyungsoo tak mendapati wajah mantan kekasihnya muncul di layar televisi. Tak mungkin pria itu mengambil cuti. Tapi calon istrinya juga tak ada.
Tidak!
Tidak!
Kyungsoo tak boleh memikirkan itu. Dia hanya membuang tenaga saja. Bukankah menikmati sarapan Ryeowook adalah yang terbaik. Yuri dan Sunny mulai membawa para tamu keluar.
Kyungsoo merasa bosan ketika Ryeowook dan Jungsoo juga meninggalkan area penginapan. Tidak terlalu jauh. Kedua wanita itu sedang membereskan kebun pribadi mereka. Memindahkan beberapa tunas strawberry ke dalam rumah kaca yang dibersihkan Jongin kemarin. Sedang pria tan itu bahkan belum bangun saat jam di tangan Kyungsoo menunjukkan pukul sebelas pagi menjelang siang hari. Matahari berangsur meninggi. Dia hanya duduk sendirian di depan beranda. Tidak seperti kemarin Jungsoo memintanya membangunkan Jongin. Sepertinya ia tahu anak laki-lakinya lelah.
Brak!
Kyungsoo dikejutkan dengan suara hentakan kasar. Sebuah meja lipat jatuh di hadapannya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Jongin. Rupanya pria itu sudah bangun dan membersihkan diri.
"Kau kenapa?" Tanya Kyungsoo bingung. Dia memang tampak sudah mandi. Rambut setengah basah dan kulit lembab. Tapi wajah kusut itu membuat Kyungsoo bingung.
"Aku mau menggambar."
Benar saja. Sekotak pensil warna dan peralatan tulis lainnya menyusul diletakkan Jongin. Pria itu sudah duduk bersila dihadapan Kyungsoo. Tangannya bergerak mulai menggambar sesuatu di atas buku gambar. Kyungsoo hanya mengamatinya. Tak ada yang bisa ia kerjakan selain mengamati Jongin dari dekat. Rambut setengah basah menutupi wajah atas Jongin. Rambutnya sedikit panjang dari pria kebanyakan Kyungsoo melepas jepit rambutnya.
Srak srak
Dia hanya tersenyum pada wajah bertanya Jongin. Jemari lentik yang kini mengusap rambut depan Jongin. Ia menyeret helaian halus itu ke atas dan menjepitnya. "Begini lebih baik."
Pria Tan itu mem-pout kecil bibirnya.
Chup
Jongin mendekatkan kepalanya mencium Kyungsoo dengan gerakan cepat. Bahkan menimbulkan suara hentakan karena meja pendek itu ikut terangkat oleh lutut Jongin. Ia terkekeh pelan mendapati wajah kaget Kyungsoo. "Tutup mulutmu," pensil gambarnya menyentuh bibir bawah Kyungsoo. "Kau! Bagaimana kalau ada yang melihat?" Kata-katanya pelan namun penuh penekanan.
"Biar saja. Kau mau menjadi menantu ibuku?"
Sepertinya Jongin tidak tahu wajah Kyungsoo yang memerah. Akhhhhhh hatinya terasa nyeri.
Hening beberapa saat. Entah kenapa mereka tak bicara lagi.
"Kalian butuh strawberry?"
Keduanya dikejutkan kedatangan Ryeowook. Wanita cantik itu muncul dengan semangkuk strawberry dan juga madu. Kyungsoo menerimanya dengan senang hati.
"Apa yang sedang kalian lakukan? Kau pamer pada Kyungsoo huh? Dasar tukang pamer!" Kyungsoo tertawa geli mendengar Ryeowook mengejek adiknya sendiri.
"Kupikir dia menggambar dengan baik." Kata-katanya meluncur begitu saja. Kyungsoo tidak sadar ia membela Jongin. Pria itu menyeringai tanpa suara. "Yeah. Dia memang menggambar dengan baik. Dari kecil Jongin hanya bermain dengan pensil warna. Jadi jangan terlalu terkesan Kyungsoo. Aku harus masak. Kutinggal kalian ya."
Kyungsoo menundukkan kepala pelan.
"Jadi? Kau bermain dengan pensil warna?"
"Yeah. Ibu dan Ryeowook melarangku masuk ke dapur setelah insiden kekecauan yang pernah kubuat."
"Apa yang kau perbuat jongin?"
"Heih!" Pria itu berseru. Ia tidak terima kaki telanjang Kyungsoo menyusup melewati meja menyentuh perutnya. Menggelitik dengan jempol kaki sementara tubuhnya ditopang dengan tangan.
"Hahaha." Sekali lagi Kyungsoo tertawa begitu lepas. Mereka kembali bercakap satu sama lain.
"Kau menggambar karakter hewan? Mau kubantu mengecatnya?"
"Kau boleh melakukannya." Gadis itu bersorak senang menerima pensil warna yang Jongin berikan.
Pensil warna warni. Menari di atas lembaran putih bersih. Berbagai bentuk mulai bermunculan. Langit yang cerah dengan sedikit awan. Ahh terlihat matahari musim panas. Di bagian bawah terbentang gulungan ombak dan pasir. Ada Istana pasir yang setengah roboh diterjang oleh bola pantai. Ember-ember dan sekop plastik berserakan disekitarnya.
Tampaknya mulai sore. Langit menjadi Jingga. Matahari bersinar berkilauan bagai emas di pelataran. Disana, bangunan-bangunan terlihat berwarna gold. Ada gang-gang kecil yang tidak mendapati sinar matahari sore. Menjadi sedikit gelap. Kenyataan bahwa lampu jalan belum menyala adalah hal buruk hari ini.
Di sisi lain. Gedung bertingkat riuh akan suara-suara anak manusia. Ramainya orang berlalu lalang menunjukkan waktu sarapan sedang berlangsung. Orang-orang di lantai empat gedung itu rata-rata membawa nampan berisikan makan siang mereka. Seseorang menunggu dimeja sementara orang lain mengantre makanan. Gadis manis dengan rambut dikuncir satu ke belakang. Kakinya melangkah pelan. Rasa lelah menghampiri ketika ia baru selesai lembur. Menyelesaikan beberapa laporan dan juga pengeditan artikel mingguan seperti biasa. Gadis itu dituntut untuk ke ruang penyimpanan barang oleh atasannya. Padahal dia belum mengambil sarapan pagi ini. Sesungguhnya gadis itu terlihat berantakan dengan mata yang biasanya bulat kini hanya terbuka setengah. Dia tampak mengangguk. Perlahan memilih beberapa barang yang harus dibawa kembali ke ruang kerjanya. Kakinya berhenti melangkah. Di dalam ruangan ini bukan hanya dirinya. Terlihat dua orang sedang berpelukan dari lubang kecil susunan kertas. Lalu suara kecipak saliva. Gadis itu berjinjit menghindari suara gaduh. Dia baru saja akan meninggalkan ruangan itu dengan tenang. Terlalu fokus dengan langkah kaki ia lupa jika kepala bisa menabrak tumpukan kertas yang tak beraturan.
Brugh
Benda-benda itu berjatuhan. Ia terkejut. Tidak hanya dirinya namun dua orang yang sedang berciuman tadi menoleh menatapnya...
.
.
.
"HAH!" Kyungsoo terbangun dari tidurnya. Mimpi buruk lagi. Padahal sudah beberapa hari ini ia tidak memimpikan kejadian itu. Nafasnya tersenggal. Perlahan disingkapnya tirai kain. Dengan cahaya lampu tidur Kyungsoo bisa melihat bayangan Jongin tidur dengan nyenyak. Ia menyesal menolak saran Jongin sebelum mereka tidur. Kini ia beringsut mendekat. Menggoyang tubuh atas Jongin yang tak mengenakan baju seperti biasanya.
"Jo-jongin." Panggil Kyungsoo pelan.
"Jo-jongin." Sekali lagi dan pria itu tak bergeming. Kyungsoo hampir saja menyerah dan hendak beranjak. Namun tangan pria itu menarik lengannya membuat tubuhnya terbaring paksa. Merengkuh Kyungsoo dalam satu pelukan. Kaki panjang Jongin menyingkap selimut dan meenutupi tubuh keduanya.
"Jangan berisikan lagi. Sekarang tidurlah." Suaranya terdengar serak di telinga Kyungsoo.
Gadis itu tersenyum kecil. Dia merasa hangat dalam pelukan Jongin. Sekali saja dia menjadi wanita tidak tahu diri untuk menyembuhkan hatinya yang masih terluka.
Kyungsoo duduk dengan nyaman di halaman penginapan. Mengayunkan kakinya pelan dan bersenandung ringan. Melihat tamu lain menikmati acara pagi mereka. Sebagian menonton televisi. Melakukan perengganggan badan atau sekedar menikmati kopi hangat.
"Kita pergi sekarang?" Suara Jongin membangunkan Kyungsoo dari lamunanya. "Tunggu. Kita selesai kan beritanya dulu." Tunjuk Kyungsoo pada layar televisi. Pagi ini dia bangun dengan masih dipeluk Jongin. Moodnya bertambah baik menyaksikan pembawa acara berita junior menyampaikannya berita pagi. Sudah lama kyungsoo tak menonton berita.
Nyatanya permohonan Kyungsoo membuat Jongin heran. Namun lelaki itu tetap duduk disebelah Kyungsoo. Mengunyah kue kering menunggu Kyungsoo siap.
Mereka berangkat ke kuil lagi pagi ini. Tanpa kamera. Hanya berjalan beriringan. Kyungsoo maju lebih dulu. Ia mulai menghapal jalanan disekitar penginapan.
Membunyikan lonceng lalu bersidekap tangan. Kembali seperti sebelumnya. Bedanya Jongin meninggalkan Kyungsoo sendiri karena dia butuh ke toilet tanpa sepengetahuan gadis itu.
Kyungsoo selesai. Sedikit terkejut tidak mendapati Jongin didekatnya. Ia berbalik badan dan seseorang segera menyapa Kyungsoo membuat tubuhnya kaku. Nervous. Entah kenapa sama seperti dihadapkan dengan kamera. Kyungsoo terdiam di tempatnya.
"Kyungsoo?" Suara itu terdengar tinggi dan begitu merdu. Seorang wanita cantik bagaikan seorang model. Tersenyum hangat pada Kyungsoo. Wanita itu tidak sendirian. Dia menggandek seorang pria tinggi.
"Kyung?" Pria disebelahnya juga ikut menyapa Kyungsoo. "Suatu kebetulan bertemu denganmu. Apa yang kau lakukan disini? Kudengar kau keluar dari perusahaan?"
Terlalu banyak pertanyaan. Kyungsoo tak tahu harus menjawab apa. Di hadapannya kini adalah Chanyeol. Mantan kekasihnya yang berselingkuh. Ah sebenarnya Kyungsoo kurang yakin. Chanyeol berselingkuh atau hanya menjadikan Kyungsoo pelarian selama dua tahun. Nyatanya tak banyak orang mengetahui hubungan mereka. Chanyeol menutupi itu semua. Menggunakan alasan ketakutan Kyungsoo pada kamera. Akan terasa aneh jika dia yang pembawa acara berita berpacaran dengan seseorang yang memiliki ketakutan berhadapan dengan kamera. Buktinya Baekhyun, calon istri Chanyeol selalu bersikap baik-baik saja pada Kyungsoo. Tak segan menampilkan kemesraan mereka.
Kyungsoo menundukkan kepalanya. Jarinya bergetar. Sulit sekali menangani tremor disaat seperti ini. Dia berharap Jongin datang menyelamatkannya seperti malam tadi ketika bermimpi buruk.
"Hey. Kau baik-baik saja?" Baekhyun melepaskan pegangannya pada lengan Chanyeol hendak menyentuh pundak Kyungsoo.
Plak
Gadis itu menepis tangan Baekhyun cukup kuat membuat korban meringis karena sakit. Chanyeol tampak panik melihat perlakuan Kyungsoo.
"Kyungsoo?"
"Aku baik-baik saja. Aku harus pergi." Bergegas Kyungsoo berlari kecil meninggakkan mereka. Dia keluar dari kuil. Nafasnya memburu. Di belakang sana Chanyeol mengejar Kyungsoo. Menahan langkahnya membuat mereka saling berhadapan. "Kau masih marah padaku?" Bisiknya pelan seolah hanya mereka berdua yang boleh mendengar suaranya. "Aku akan menikah Kyung. Kuharap kau tidak seperti ini lagi. Kyungsoo yang kukenal tidak sejahat ini."
Kyungsoo menggigit bibir bawahnya kuat. Dadanya terasa begitu nyeri. Jahat? Apa dia seperti itu di mata Chanyeol. Perasaan selama dua tahun ini cukup dalam. Kyungsoo kesulitan menguburnya. butuh banyak kenangan indah untuk menutup lubang dalam itu.
"Aku tidak berselingkuh Kyung..."
"Ti-tidak Chan jangan salah paham. A-aku..." Kyungsoo memotong ucapan Chanyeol namun kemudian seseorang memotong ucapannya.
To Be Continue...
Dan begitulah Chapter ini berakhir. Kebimbangan di chapter sebelumnya terjawab sudah.
He is Chanyeol... Chanyeol mantan Kyungsoo. Maaf. Cuma di Fanfic aja. Hahaha
Masalah mulai muncul, di chapter depan ya. Jadi gimana sama Jongin?
preview The Journey Chapter 04
"Kau tidak mau berterima. Kasih padaku?" Gadis itu mengangguk. "Terima kasih."
"A-apa malam itu ada yang mendengar?" Suaranya pelan. Terkesan takut.
"Nghhh uhhmmmmm."
Oke. Masih ada yang bingung? Bilang aja biar aku coba jelasin. Maaf sebagian gak di dikirim balasan Review-nya. Aku baru menyetel ulang ponsel. Jadi agak gimana gitu sama tampilan surel-nya. Aku harap kalian terhibur sama Fanfic KaiSoo GS.
Salam hangat.
RoséBear
