Tittle: The Journey

(4th Chapter)

Author: RoséBear

Pair : Kai x Kyungsoo (KaiSoo)

Warning! GS. Maaf untuk typo. Adult Story.


Start story!


"Sayang kau diluar sini?"

Kyungsoo mendongakkan kepalanya. Mengintip ke balik tubuh Chanyeol setelah mendengar suara barusan. Kemudian tersenyum mendapati sosok Jongin yang terlihat bingung.

"Maaf aku terlalu lama."

Jongin berjalan melewati Chanyeol. Menarik tangan Kyungsoo menjauh dari sana. Berjalan meninggalkan Chanyeol yang bahkan tak memiliki kesempatan untuk menyapa. Pria itu, dia telah menjadi bajingan yang sesungguhnya.

"Bagaimana kalau menyusul Sunny noona ke Timur. Kurasa mereka sudah sampai untuk bermeditasi."

Percakapan yang didominasi Jongin itu masih terdengar oleh Chanyeol. Tentu saja. Dia berjalan pelan sekali sembari menggandeng pundak Kyungsoo.

Setelah cukup jauh Kyungsoo tertawa keras. "Apanya yang lucu?" dahi Jongin berkerut tidak terlalu suka.

"Kau! Kau sangat lucu Jongin. Kenapa melakukan ini heum?"

Jongin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maaf aku melihatmu berlari keluar kuil. Lalu mendengar percakapan kalian."

"Yeah. Terima kasih."

Kyungsoo berjinjit. Bibirnya mencium pipi kanan Jongin.

"Jadi? Itu mantan kekasih yang ingin kau lupakan?"

Kyungsoo mengangguk. Keduanya sekarang berjalan bersebelahan. Gadis itu menautkan kedua tangannya di belakang, sesekali ia berjalan sembari berjinjit. Mereka tidak menuju ke hutan. Itu hanya tipuan Jongin saja. Buktinya dipersimpangan mereka memilih jalan pulang.

"Ya."

"Lalu gadis yang berdo'a tadi?"

"Calon istrinya."

Kini Jongin yang mengangguk mencoba memahami. "Oh.." Pria itu menjentikan jarinya. "Bukankah mereka pembaca acara berita pagi dan sore hari?"

Kyungsoo melotot mendengar Jongin masih membahas tentang Chanyeol.

"Sekarang aku mengerti kenapa kau tak pernah mau menonton berita tempo hari tapi tadi pagi begitu menikmati siaran televisi."

"Yak!" Kyungsoo menepuk pelan pundak Jongin. Tak menghentikan tawa pria Tan itu.


~ RoséBear


Sesederhana apapun perbuatan Jongin, lelaki itu mampu membuat Kyungsoo tertawa. Dia lelaki yang menawan. Rupawan dengan senyum yang tampan. Rahang tegas terpahat sempurna. Bibir tebal dan pandangannya begitu lembut. Wajar saja banyak wanita tergoda oleh Jongin. Dengan sendirinya pria itu mampu membawa suasana bahagia. Walau orang tuanya bercerai namun sepertinya ia menemukan kasih sayangnya sendiri. Membahagiakan Jongin itu sederhana, ketika ia tertawa artinya dia sudah bahagia.

Sejak kapan Jongin merasa begitu beruntung? Bertemu dengan Kyungsoo, mendengar cerita gadis itu, lalu dia menjadi bahagia. Masih lekat diingatan Jongin melihat Kyungsoo terdiam di depan kuil. Lalu gadis itu berlari, tepatnya setengah berlari. Ia segera menyusul dengan segera setelah menyadari seorang pria mengikuti Kyungsoo. Saat akan keluar Jongin mendengar percakapan mereka. Suara Kyungsoo... Terdengar seperti akan menangis. Dengan sendirinya Jongin keluar memotong perkataan Kyungsoo. Dirinya tidak sadar dengan kata yang baru saja ia ucapkan. 'Sayang' panggilan itu terdengar begitu tenang dan penuh perhatian. Seakan Kyungsoo memang miliknya. Tak boleh ada yang menyakiti atau sampai mengambilnya. Tidak! Jongin sadar dia akan begitu serakah. Tapi biarlah, dia menginginkannya.


~ RoséBear


Menikah dengan gadis cantik dan hidup bahagia selamanya.

Menjadikan Kyungsoo menantu untuk ibunya?

Jongin mengacak rambutnya frustasi. Ya Tuhan. Apa yang sedang terjadi dengan anak manusia satu ini. Dia merutuki sikapnya yang mulai berlebihan kepada Kyungsoo. Bukankah dia hanya pemandu wisata? Bolehkah Jongin memiliki perasaan terhadap tamu ibunya? Dia ingin. Bahkan sangat menginginkannya. Hanya Kyungsoo seorang.

Tangannya mengacak rambut sekali lagi. Menimbulkan curiga di mata orang yang melihat kelakuan Jongin. Orang itu tentu adalah Kyungsoo. Keluar dari kamar dengan pakaian yang baru. Rambut hitam setengah basah, Kyungsoo mandi lagi setelah sebelumnya membantu Jongin menyiram tanamam milik Jungsoo.

Jongin hanya ingin Kyungsoo melupakan pria yang mereka temui di kuil. Mengajak Kyungsoo menyiram kebun yang cukup luas dan bermain air dengan jet water di musim panas adalah yang terbaik. Dia ingat, dulu selalu menanam bunga matahari bersama Ryeowook. Mereka selalu punya tanaman setiap musim.

"Are you okey?"

Jongin mendongakkan kepalanya. Tersenyum canggung dan mengangguk pelan. Pria Tan itu bangkit. Tubuhnya lebih tinggi dari Kyungsoo. Baru Jongin sadari Kyungsoo itu cukup mungil. Tubuhnya berisi dan pasti sangat nyaman bisa memeluknya dalam posisi berdiri, bukan berbaring. Jika tadi mendongak. Saat berdiri Jongin harus menundukkan kepala untuk bisa melihat wajah kyungsoo. Ia tersenyum jahil membuat gadis itu mundur melangkah. Oh ayolah, Jongin tahu Kyungsoo pasti waspada. Di luar sini tidak hanya mereka berdua. Ada beberapa tamu yang beristirahat. Kyungsoo pasti tak ingin Jongin menciumnya. Ahh dia begitu menggemaskan sekali dengan kondisi sekarang.

"Mau melihat tarianku?"

Mata bulat itu terkejut. Berkedip beberapa kali. Begitu lucu ketika memikirkan maksud perkataan Jongin.

Tak

"Akhhhh!" Jongin berteriak kesakitan. Ia berjingkat kaget dengan memegang kakinya yang baru saja di injak Kyungsoo. Mereka baru saja menjadi perhatian para tamu. Jongin segera menunduk meminta maaf. Ia berbalik pada Kyungsoo yang melipat kedua tangannya di dada.

Tuk

Hanya jentikan ringan pada kening Kyungsoo. "Aku tidak bercanda." Bisiknya pelan sebelum melangkah masuk ke dalam kamar. Jongin butuh membersihkan diri. Ia juga basah karena bermain air tadi.


~ RoséBear~


Jongin tidak mengerti apa yang terjadi di luar selama dia membersihkan diri. Gadis ini, duduk di beranda kamar dan bersender di dinding. Menatap lurus ke depan namun pandangan itu kosong.

Bahkan tidak menyadari keberadaan Jongin yang telah duduk disebelahnya. Pria itu berkerut, Kyungsoo melamun. Jongin menjatuhkan kepalanya di pundak Kyungsoo membuat gadis itu kaget. "Sebentar saja," Jongin berbisik. Kyungsoo menghela nafas pelan batal mengeluarkan protes.

Selang beberapa waktu, "Kenapa panas sekali?" Ia berbisik membuat Kyungsoo terkekeh pelan. Jongin tahu Kyungsoo suka mendengarnya mengeluhkan hal-hal sepele. "Apa yang kau pikirkan?"

"..."

Oh ayolah. Kenapa Jongin diabaikan begini. Bukankah mereka berdekatan, harusnya Kyungsoo mendengar ucapan Jongin. "Kyung," telunjuknya menekan-nekan pipi Kyungsoo. "Kau melamun?"

"Akh? Apa Jongin?"

Pria itu menarik kepalanya kemudian duduk bersila. Menarik tubuh Kyungsoo untuk duduk berhadapan. Tentu saja Kyungsoo bingung dengan perlakuan Jongin. "Kau tidak baik-baik saja."

"Aku butuh istirahat. Maaf," Kyungsoo menurunkan tangan Jongin yang menahan pundaknya. Berdiri meninggalkan pria Tan yang masih menatapnya bingung. Pintu kamar bergeser tertutup.

Tak ingin menganggu, ia memilih berbaring di depan. Sekarang memang sangat panas. Bahkan Jongin penasaran berapa suhu udara sekarang? Nampaknya akan terdengar sebagai kabar buruk. Ia mengeluh beberapa kali.

"Jongin. Dimana nona Kyungsoo?" Itu suara Sunny. Noona nya itu membawa nampan. Rupanya sudah jam makan siang. Mereka membawakan nampan makanan untuk para tamu yang berada di penginapan. "Aku saja yang memberikannya."

"Ohn terima kasih." Sunny menyerahkan nampan makan siang Kyungsoo.

Sudah pasti ada yang tidak beres. Kyungsoo tertidur. Rasanya tidak tega harus membangunkan gadis ini. "Apa kau masih memikirkan mantan kekasihmu itu?" Bisiknya pelan. Percaya Kyungsoo tidak akan mendengar perkataannyan Jongin merapikan kamar mereka. Tertinggal space yang cukup besar ketika tirai di buka dan kasur dilipat. Kyungsoo memang tidak tidur di kasur. Gadis manis itu bergelung di atas lantai dengan selimut menutup bagian perut. Ia berkeringat cukup banyak karena tidak menyalakan kipas angin.

"Kyung! Makan siangmu," bisik Jongin pelan. Ia menepuk pipi gembil Kyungsoo. Dalam satu sentuhan gadis itu terganggu. Mengeram lucu sekali. Wajah berkerut dengan tangan mengangkat ke langit-langin mencoba merengganggan otot-otot tubuh.

"Makan siangmu." Sekali lagi Jongin memberitahu.

Kyungsoo bangkit dan tersenyum.

"Kau tidak mau berterima. Kasih padaku?"

Gadis itu mengangguk setelah meraih setengah kesadarannya. "Terima kasih."

Suasana hening. Jongin hanya melihat bagaimana Kyungsoo melahap makananya, ia menggeleng kan kepala tidak puas. Kenapa Kyungsoo hanya mengaduk dan menyuapkan sedikit sekali nasi. Ia tahu Ryeowook akan bertanya-tanya prihal makanan yang tak habis. Segera ia mendekat dan mengambil alih sendok di tangan Kyungsoo. "Jika aku menyuapimu. Apa kau akan makan?" Ia melihat wajah bingung Kyungsoo.

"Ryeowook akan kesal jika makanannya tidak dihabiskan."

Air matanya menetes membuat Jongin panik. Pria itu meletakkan sendok ke atas mangkuk nasi. "Kyungsoo. Kau baik-baik saja?"

"Hiks... Huhhh." Tangisnya semakin keras.

Oh ayolah Kyungsoo. Jongin tak tahu harus berbuat apa. Lelaki itu bangkit dan merengkuh Kyungsoo dalam sebuah pelukan. Jika ada orang yang melihat mereka seperti ini, sudah pasti semua tuduhan mengarah pada Jongin.

"Kyung." Jongin mengelus punggung Kyungsoo berulang kali. Sementara gadis itu meremas kuat kaos Jongin. Tapi tangisnya tak kunjung berhenti.

Chup

Berulang kali juga Jongin menciumi wajah Kyungsoo. Ia benar-benar ingin gadis ini berhenti menangis. "Jika kau tak ingin makan. Akan kuhabiskan untukmu."


~ RoséBear~


Jongin tidak mengerti. Kenapa dia harus melakukan hal ini. Musim panas membuat otaknya meleleh tak karuan. Gunung menjadikan Jongin serigala kelaparan yang hanya mampu memandang mangsanya tanpa berkesempatan menyerang. Setelah menghabiskan makanannya, Jongin hendak beranjak meninggalkan Kyungsoo.

"Jongin," suaranya terdengar serak. Menoleh melihat Kyungsoo menarik ujung celana yang ia gunakan. "Ya?"

"Aku boleh pinjam peralatan menggambarmu?"

Ia tersenyum begitu lembut. "Ada di dalam lemari biru laci ke tiga. Ambil saja sesukamu."

Ia melihat Kyungsoo menganggukkan kepala. Gadis itu, apa dia sadar betapa manisnya dia dengan wajah polos itu. Membuat birahi Jongin berperang dengan hatinya karena ia menginginkan Kyungsoo.

Ada setitik perasaan dimana Jongin ingin melindungi Kyungsoo. Menjaga gadis itu untuk tetap tersenyum. Haruskah Jongin sampaikan apa yang dia rasakan kepada Kyungsoo saat ini? Sepertinya bukan waktu yang tepat.

Ketika akan kembali ke kamar ia melihat Kyungsoo di beranda dengan peralatan menggambarnya. Tanpa meja dan hanya menggunakan lantai sebagai alasan. Gadis itu tengkurap sembari mencoret-coretkan pensil warna, tidak ada pola awal. Jongin bergabung. Ikut berbaring di lantai. Udara panas terasa sejuk ketika kulitnya menyentuh lantai kayu yang dingin. Menurunkan tirai di depan kamar menghalangi panas matahari yang mendengat.

Di luar sini orang-orang berinteraksi. Tertawa bersama. Ada yang bermain ttakji, ada pula yang menyulam atau sekedar menonton. Begitu juga dengan Jongin dan Kyungsoo. Jongin bangkit dari posisi berbaring. Ia masuk ke kamar sebentar mengambil barang pribadinya. Menyalakan media player di ponsel dengan headset yang telah terpasang sempurna.

"Hng?" Kyungsoo kaget saat Jongin menempelkan sebelah headsetnya. Pria itu berbaring di sebelah Kyungsoo. Menghadap langit dan memejamkan matanya. "Lagi kesukaanku." Ia bicara dengan mata tertutup.

Usaha Jongin berhasil. Kyungsoo mulai larut dalam alunan musik yang mereka dengar. Rasanya menyenangkan. Andai saja mereka adalah sepasang kekasih, sudah tentu orang-orang akan memasang sedikit perasaan iri. Ketika Kyungsoo dengan posisi menghadap lantai masih sibuk menggunakan pensil warna dan Jongin berbaring menghadap langit. Ada alunan musik yang menyatukan keduanya. "Kyung? Kau masih memikirkan pria itu?" Jantung Jongin berdegup cukup cepat menanti jawaban Kyungsoo. Ia memberanikan diri mengatakan isi hatinya.

"Tidak lagi. Aku terlalu sibuk menggambar."

Ahh Jongin tersenyum miris. Itu artinya tadi Kyungsoo masih memikirkan pria brengsek itu. Tapi dia juga brengsek.

Mereka hening kembali.

"Jongin?"

"Hm?"

Kyungsoo diam sejenak. "Tentang ucapanmu yang tadi..." Ia kembali terdiam. Sementara pria itu menunggu kata-kata selanjutnya. "Tentang tarianmu." Kata-katanya terdengar ragu. "Ya?" Pria Tan itu tersenyum. Diam-diam mengintip ekspresi wajah Kyungsoo. Sungguh menggemaskan melihatnya sekarang. Rona merah di wajah itu entah karena suhu panas atau desiran panas dari dalam tubuhnya.

"Mau menunjukkan nya padaku?"

Gotcha!

Jongin bersorak senang. Tapi ia menahan diri. "Kau mau melihat tarian jenis apa? Ballet, shuffle..."

"Jonginnnn!" Gadis itu berseru malu bercampur kesal. "Astaga Kyungsoo~ kau manis sekali. " ia membuka mata dan menarik kedua pipi gembil Kyungsoo. Musik masih mengalun di telinga kanan keduanya. "Jika kau berjanji akan mendesah kan namaku." Bisiknya begitu pelan.

Jongin bisa melihat Kyungsoo menggigit bibir bawahnya pelan. Jongin ingin melakukannya. Tapi ia menginginkan Kyungsoo menyadari keberadaan Jongin. Jika pria itu yang melakukannya, maka Kyungsoo harus melihat itu. Perlahan ia mengangguk pelan.

"Kalau begitu tunggu di sini. Ada beberapa hal yang harus kupersiapkan."

Jongin beranjak setelah melepas headsetnya dan meninggalkan Kyungsoo. Pria itu pergi keluar dari penginapan meninggalkan kebingungan pada diri Kyungsoo. Ada tempat yang harus dia datangi.


~ RoséBear~


Jongin pergi beberapa jam dan kembali dengan banyak barang. Bahkan Ryeowook yang melihatnya kembali saja kebingungan. Begitu juga dengan Kyungsoo. Kenapa Jongin membawa potongan karpet. Pria itu juga mengambil alat-alat pertukangan dari gudang.

"Kau mau apa?" Kyungsoo bertanya namun Jongin hanya tersenyum.

"Kau tak mau orang lain mendengar kan?"

Alis tebal Kyungsoo terangkat. Dia masih tidak mengerti ucapan pria ini. Di bawah sana Kyungsoo hanya menurut memegang peralatan tukang. Sementara Jongin menaiki kursi kayu. Pria itu mulai memasangkan potongan karpet di sela-sela dinding.

"Kau lihat sekeliling kamar ini? Dulu ini adalah ruang pribadiku. Tidak pernah ada yang masuk kemari dan aku tak pernah menganggu orang lain"

"Lalu?"

Jongin terkekeh pelan melihat kebingungan Kyungsoo. "Dulu ini kedap suara. Aku melakukan banyak hal di dalam kamar hingga malam hari."

"Errr."

Pria itu mengulum senyum sembari melanjutkan pekerjaannya. "Dan kau gadis pertama yang berjalan bebas di sini."

Kyungsoo terdiam. Sungguh dia punya wajah yang manis. Rona merah yang trus saja menggoda Jongin. "Tapi karena kau datang mereka melepas bagian pereda suara di pintu. Makanya hari itu ibuku mendengar teriakkanmu."

Ia mengangguk paham akan penjelasan Jongin yang terakhir. Sementara pria itu menunggu response Kyungsoo selanjutnya. Yahh dalam hitungan detik gadis manisnya mendongak ke atas. Tatapannya menusuk Jongin begitu dalam. "A-apa malam itu ada yang mendengar?" Suaranya pelan. Terkesan takut. Ia menyadari sepenuhnya perkataan Jongin setelah menghubungkan percakapan mereka sebelumnya.

"Tidak. Pendengaran penghuni kamar sebelah tidak terlalu bagus. Lagian.." Pria itu meloncat turun hendak bergeser ke sisi lain. Ia melewati Kyungsoo dan mengambil beberapa paku baru. Mendekatkan wajahnya untuk berbisik. "Kau hanya mendesah pelan. Malam ini aku ingin mendengarnya lebih... Karena kita akan melakukan sesuatu yang luar biasa."

Kyungsoo meneguk salivanya susah payah. Kata-kata Jongin keterlaluan. Namun pria itu yakin Kyungsoo tidak akan menolaknya. Buktinya ia masih membantu Jongin.

Pintu bergeser beberapa kali ketika pria tan mengetes hasil kerjanya Kyungsoo berdiri di luar kamar sementara Jongin berteriak di kamar. Gadis itu menggeleng beberapa kali. Ia sungguh tak mendengar teriakan Jongin. Usaha pria itu berhasil. Ruangan menjadi kedap suara lagi.

"Sekarang keluarlah. Aku mau mandi!"

"Ya-yak!" Jongin berteriak protes ketika Kyungsoo mendorong tubuhnya keluar kamar. "Yaishhh anak itu. Aku kan sudah melihat tubuh telanjangnya." Ia bergumam pelan.


~ RoséBear~


Malam hari setelah makan malam. Penghuni penginapan melakukan aktivitas santai, sebagian pergi beristirahat sementara lainnya menonton reality show akhir pekan. Gelak tawa terdengar di penjuru penginapan. Jongin tertawa kaku kala dia diminta menemani sekelompok pria paruh baya memainkan permaianan traditional.

Mereka sudah membuat kesepakatan. Selepas makan malam Kyungsoo berada di kamar. Namun ketika Jongin hendak menyusul masuk. Seseorang memanggilnya.

Pria itu merutuki kondisi ini. Percayalah, Jongin bahkan sudah membayangkan Kyungsoo mendesah kan namanya di bawah tubuh Jongin, meminta penyatuan dan remasan yang lebih kuat lagi. Memulai percintaan dengan rayuan dan kecupan penuh nafsu.

Arrgghhhhhhh!

Jongin frustasi karena kondisinya sekarang di kelilingi pria paruh baya. Para wanita paruh baya sibuk memuji ketampanan dan keunggulan Jongin dalam bermain yut. Dia pria beruntung, Jungsoo yang mengantarkan cemilan ikut tertawa. Mengabaikan Kyungsoo karena mereka pikir gadis itu butuh istirahat setelah membantu Jongin sepanjang sore tanpa tahu apa yang mereka rencanakan.

Yuri sudah tidur lebih dulu. Di ruangan lain, Sunny belajar merajut bersama Ryeowook. Sementara Jungsoo menemani para wanita paruh baya. Menanggapi pujian mereka terhadap anak-anaknya.


~ RoséBear~


Malam semakin larut. Jongin bahkan tidak yakin Kyungsoo masih terjaga. Lampu kamar terlihat telah padam sejak dua jam yang lalu. Dia masih menemani tiga pria paruh baya yang masih terjaga.

"Mari kita akhiri permaianan hari ini. Anak muda, besok kami akan mandi di air terjun."

"Jalannya sudah di buka kembali?"

"Baru kemarin. Noona mu yang cantik itu memberitahu kami. Apa kau akan ikut?"

Tentu saja Jongin sudah tahu jalan itu telah dibuka kembali. Namun dia ingin bersama Kyungsoo. Dengan menyesal dia meminta maaf. "Aku tidak terlalu yakin tentang besok."

"Yah masih ada hari lain bukan?"

Jongin mengangukkan kepalanya. Mereka kembali ke kamar masing-masing. Sementara Jongin harus membereskan permaianan ini, menyimpan kembali ke dalam loker yang memang diletakkan di luar ruangan. Jalannya menjadi lunglai memikirkan Kyungsoo telah tetidur. Bahkan terpikir untuk membangunkan gadis itu paksa. Atau dia akan mengeram sendirian malam ini.

Jongin masuk ke kamar dengan berjingkat setelah mengunci pintu kamar. Tirai itu terpasang dan hanya ada kasur Kyungsoo yang terbentang. Gadis itu telah terlelap. Jongin menghela nafasnya pelan. Apa dia akan melewatkan malam ini?

Hanya untuk memastikan Jongin mendekati Kyungsoo."Kau akan tidur sendirian malam ini? Tidak ingin kupeluk?" Bisiknya pelan.

"Kau kembali?"

Degh

Jantung Jongin berpacu. Gadis itu bangkit dan menggenggam tangannya erat. Dengan pencahayaan yang remang Jongin masih bisa melihatnya mem-pout kan bibir lucu.

Chup

Satu kecupan ringan. Jongin menarik bibir bawah Kyungsoo. "Kau benar-benar berhasil menggodaku Kyung." Kyungsoo terkekeh mendengar perkataan Jongin. Bergeser untuk semakin dekat. Memeluk lengan pria itu.

"Jadi? Kapan kau akan melakukannya?"

"Kau benar-benar menginginkanku Kyung?"

"Sangat..." Suaranya terdengar setengah bergumam. Jongin merasakan jari-jari lentik Kyungsoo bermain di dadanya yang masih terlapisi kaos. Dalam satu gerakan pria itu mengangkat tubuh Kyungsoo ke pangkuannya. Duduk saling berhadapan membuat kedua kaki Kyungsoo melingkar di pinggang Jongin. Hidung mereka bersentuhan. Sementara nafas saling menyatu. Jongin menautkan bibir mereka, saling memagut satu sama lain di dalam kegelapan yang tak sempurna.

Lama.

Jongin menggigit bibir bawah itu berkali-kali. Mengecup lembut mencoba bertahan. Pada akhirnya lidah Jongin berhasil masuk, merasakan hangat mulut Kyungsoo. Tangan Kyungsoo melingkar di leher Jongin. Ia memperdalam ciuman mereka.

Ketika tubuh saling menempel. Jari Jongin mengusap punggung sempit Kyungsoo. Ia tersenyum tak merasakan tali bra di sana. Dalam satu gerakan tangannya masuk ke dalam pakaian Kyungsoo. Gadis itu menggunakan kemeja tidur sepaha. Sepertinya Kyungsoo sudah menunggu nya cukup lama. Jari-jari Jongin merasakan mulusnya kulit Kyungsoo, benar-benar seperti menyentuh kulit seorang bayi, lembut.

"Ahhhhhhhh." Gadis itu mulai mendesah. Tubuhnya setenga bergetar. Ciuman Jongin turun ke rahang Kyungsoo. Semakin ke bawah menyentuh perpotongan leher gadis itu. Malam ini biarkan Jongin berfikir Kyungsoo adalah gadisnya. Ya, miliknya.

Tangan Kyungsoo berpindah. Masuk ke dalam kaos Jongin merasakan. Otot-otot itu mengeras. Melepaskan kaos Jongin berarti menghentikan ciuman Jongin paksa. Pria itu merasa kesal. Ia membaringkan tubuh Kyungsoo membuat gadis nya mengangkang ringan. "A-ada apa?" Wajah Kyungsoo tampak manis dengan rambut di kuncir ke atas. Saliva berceceran di wajahnya.

Tidak ada suara dari bibir Jongin. Kedua lutut Jongin masih membelah selangkangan Kyungsoo. Ia menunduk agar jemari lentiknya bisa membuka satu persatu kancing kemeja Kyungsoo. Dua buah payudarah bulat dan kenyal. Dengan puting yang mengeras kini tepat berada di hadapan wajah Jongin. Kyungsoo hendak menutupi miliknya namun Jongin menghalangi. "Biarkan aku melihatnya sebentar. " kancing kemeja tidur gadis itu terbuka sepenuhnya. Ikut memperlihatkan belahan vagina Kyungsoo di bawah sana. "Ahhh aku menginginkan ini juga Kyungsoo. " bisik Jongin menepuk bibir vagina Kyungsoo membuat gadis itu terlonjak kaget. Tubuhnya merasakan getaran sesaat.

"K-kau memiliki pengamannya bukan?" Terdengar Kyungsoo bertanya ragu dan Jongin mengangguk cepat.

"Jongin membaringkan tubuhnya di atas Kyungsoo. Kembali menciumi wajah gadis itu. Meemberinya kesenangan agar tidak merasa cemas. " hngghhhhhhhhh." Desahan nikmat itu meluncur kembali ketika Jongin meremas kedua payudarah Kyungsoo. Cairan kental mengalir dari bibir vagina Kyungsoo. Pria itu merasakannya karena Kyungsoo melingkarkan kakinya di pinggang Jongin. Membuat lubang itu mengarah ke pusar gairahnya.

Jongin beringsut kebawah. Sementara gadis itu masih belum mengerti, dia melirik apa yang akan Jongin lakukan di bawah sana. Kyungsoo menopang tubuhnya dengan siku tangan mencoba mengintip Jongin.

"Ahhhhhhhh."

Bugh

Desahan itu disusul tubuh Kyungsoo yang jatuh ke atas kasur. Ia terlenang karena kehilangan tenaga sesaat. Jongin menjilati lubang kewanitaan Kyungsoo. Kedua tangannya menahan paha Kyungsoo agar tidak menjepit kepalanya. Pria itu menyudahi godaannya lalu terkekeh pelan melihat reaksi yang Kyungsoo timbulkan. "Relax Kyung." Bisik Jongin. Ia kembali bergerak. Menjilati bibir vagina Kyungsoo. Tubuh gadis itu bergetar. Cairan kental tak henti mengalir dari sana. Jongin tersenyum senang. Tubuh Kyungsoo menerima sentuhannya dengan suka rela.

"Aaaaaahhhhhhhhhhhhhhhh." Sementara Kyungsoo sibuk mendesah. Tangannya meremas kasur dengan kasar melampiaskan perasaannya yang kacau. "Bukankah kukatakan desahan namaku sayang."

Jongin merangkak naik ke atas tubuh Kyungsoo kembali. Membelai wajah gadisnya yang terengah-engah. Gadis itu telah mencapai puncak kenikmatan yang pertama.

Mengangguk pelan. Kyungsoo membuat Jongin kembali mencium bibirnya. Ciuman itu berlangsung lama dan begitu panas. Tangan Jongin tak berhenti meremas payudarah Kyungsoo. Ia melepas ciumannya merasakan Kyungsoo butuh udara segar. Kepalanya kembali turun ke bawah. Kali ini hanya sebatas payudara saja. Jongin menciumi milik Kyungsoo membuat gadis itu menggelinjang kegelian. Tak hanya sebatas menciumi. Kini ia menjilati dan mengecup puting berkali-kali. Menyedot seolah cairan putih kental tanpa rasa akan keluar dari sana.

"Jonginhhhhhh." Untuk pertama kali Kyungsoo menyebut nama Jongin. Terdengar begitu merdu di telinga pria Tan itu. Ia menyeringai dan kembali melanjutkan aksinya. Jongin mengangkat tubuh Kyungsoo. Ia kembali dalam posisi duduk dan berpelukan. Mereka kembali berciuman panas. saling memagut lidah lawan masing-masing.

"Apa yang kau inginkan sayang? Akan kulakukan malam ini."

"Kau. Kau memasukiku."

Senyum Jongin semakin terkembang. Ia mengelus punggung Kyungsoo. Memberikan kissmark di bagian atas payudarahnya. "Kau tidak bertanya kenapa aku begitu lama?"

Kyungsoo menggeleng pelan. Keduanya saling bertatap. Jongin merasakan Kyungsoo mendekatkan wajahnya hendak berbisik. Tapi tebakannya tidak benar sepenuhnya. Gadis itu menjulurkan lidah ke dalam telinga Jongin. "Aku tahu kau akan menepati janji."

"Akhhhhhh Kyung." Pria itu mendesah. Kyungsoo telah berhasil menyentuh salah satu titik sensitive Jongin.

Jemari lentik Kyungsoo turun ke bawah. Perlahan membuka kancing jeans yang masih digunakan Jongin. "Apa sekarang boleh?" Tanya Kyungsoo memohon.

Jongin menganggukkan kepalanya pelan. "Kau boleh menyentuhnya." Jongin telah membantu Kyungsoo. Membukakan ziper jeans dan menuntun jemari Kyungsoo untuk menyusup ke dalam. Merasakan adik kecilnya yang setengah mengeras.

"Aaahhhhhhh." Pria itu mendongak kan kepala. Mendesah hebat saat jari-jari halus Kyungsoo meremas miliknya. Rasanya terlalu nikmat. Seperti sedang di bawa terbang menikmati langit.

Tak cukup. Jongin menuntun Kyungsoo untuk menyentuh bagian lainnya. Sisi skrotum dengan ujung jari Kyungsoo, hanya sebuah belaian lembut. Jongin menggila merasakan nikmat luar biasa saat bola kemaluannya merasakan belaian sekali lalu Kyungsoo. Kembali pria itu mendesah nikmat. Ini pertama kalinya Jongin membiarkan tangan seorang gadis menyentuh miliknya.

Perlahan ia kembali membaringkan Kyungsoo ke atas kasur. Mereka tertawa sejenak untuk kenyamanan suasana. "Apa aku yang pertama untukmu?" Jongin bertanya memastikan. Sejak malam itu dia sangat ingin bertanya pada Kyungsoo. Jantungnya berdegup cepat. Kyungsoo tak kunjung menjawab. Gadis itu memainkan jarinya di dada Jongin. Memutar puting Jongin membuat pria tan menahan desahan. Jongin merendahkan kepalanya. Mengecup bibir Kyungsoo membuatnya mengejar bibir Jongin meminta ciuman yang lebih lama dan panas lagi. "Apa ada orang lain?" Jongin hampir melanjutkan Kata-katanya. Ia menebak mantan kekasih Kyungsoo yang brengsek adalah yang pertama. Namun Kyungsoo berhasil mendapatkan bibirnya. Mencium pria tan itu dengan lembut. "Apa kau akan percaya jika kukatakan aku hanya menggunakan jariku dan vibrator?"

Jongin melotot. Tangannya reflek meraih jemari Kyungsoo. Menjilati satu persatu jari-jari lentik itu."Tangan ini sungguh tidak sopan huh?"

Kyungsoo kembali tertawa diperlakukan begitu lembut oleh Jongin. Ia meraih tangannya yang sudah basah oleh saliva Jongin. Kyungsoo menangjup wajah pria tampan itu. Hanya beberapa detik sebelum memalingkan wajahnya.

Sungguh Jongin tidak mengerti. Keningnya berkerut. Ia kecup pelan pipi gembil Kyungsoo "Apa ada yang salah sayang?" Bisiknya lembut.

Kyungsoo menggeleng pelan. "Bisa kita lanjutkan?"

Hati Jongin seolah dilempari sesuatu namun ia tidak bisa menebaknya dengan baik. Ekspresi Kyungsoo barusan. Ia tidak mengerti

Tapi ciuman paksa Kyungsoo membuatnya lupa. Gadis itu menekan kepala Jongin. Kakinya bergelung di pinggang Jongin. Ia memagut lidah pria itu dengan kasar seakan ingin menumpahkan semua beban perasaan.

Tangan Jongin sibuk melepas celana jeansnya, sungguh ini menyulitkan. Jongin harus melepas ciuman mereka tapi Kyungsoo tak mengizinkan. Jari kaki Kyungsoo bergerak menjepit celana Jongin. Menarik nya kebawah dan ia berhasil menyisahkan selapis boxer lagi. Untuk ini mudah saja bagi Jongin melepasnya.

Jongin membalik posisi mereka ketika dia tinggal mengenakan celana dalam saja. Kyungsoo bangkit. Lubang vaginanya merasakan sentuhannya di balik kain selapis itu.

"Kau merasakannya?" Suara Jongin terdengar serak. Setengah tertawa. Tangan Kyungsoo menekan perut Jongin. Ia membenamkan tubuhnya. Mengangkat pinggulnya ke atas merasakan gundukkan itu. Kyungsoo mendesah akibat ulahnya sendiri.

"Kau tidak mau melepasnya?"

Mata Keduanya saling bertatap beberapa detik. Seakan mendapat persetujuan Kyungsoo mengangguk pelan. Ia mundur hingga menduduki paha Jongin. Jemarinya mulai menarik celana dalam Jongin.

Susah payah Kyungsoo meneguk salivanya. Penis jongin terlihat lebih besar daripada vibrator uang pernah ia mainkan. Apalagi jika dibandingkan dengan jari-jari kurusnya. Benda inikah yang tadi sempat ia sentuh dan membuat Jongin mendesah. Tangan Kyungsoo perlahan memegang penis Jongin. Tubuhnya menunduk supaya mulutnya bisa meraih benda itu, mengecup ujungnya membuat pria itu mendesah.

"Ahhhhhhhh." Hanya sebuah desahan pendek. Kyungsoo semakin memasukkan kejantanan Jongin ke dalam mulutnya.

Rasanya hangat. Jongin baru tau Kyungsoo punya mulut yang begitu hangat. Gigi-gigi gadis itu menggelitik batang penisnya. Sementara lidah membelai. Penis besar itu tak muat seluruhnya di dalam mulut Kyungsoo. Ia beberapa kali mengeluarkan benda itu melumurinya dengan saliva.

"Cukup Kyung! Aku tak tahan lagi." Jongin bangkit. Membuat Kyungsoo tersedak. Ia segera menarik Kyungsoo untuk sejajar kembali. Membaringkan wanita tanpa busana itu di atas kasur. Jongin kembali menciumi leher Kyungsoo. Meremas kedua payu darahnya. Sementara lututnya menekan daerah selangkangan Kyungsoo. Desahan Kyungsoo mampu membuat penisnya semakin mengeras. Jongin menuntun jari Kyungsoo untuk mengurut miliknya.

Pria itu. Segera mengambil kotak kondom di balik sebuah buku di atas rak. Kyungsoo bahkan tak yakin kapan Jongin meletakkan benda itu di sana. Ia bangkit membuat jarak. Memasang karet itu pada tempatnya. "Aku tidak akan berhenti Kyung." Seakan mendapat persetujuan Jongin mendekatkan ujung kejantannya pada bibir kewanitaan Kyungsoo yang sudah kembang kempis. Lembab dan basah akibat cairannya sendiri. Tidak ada pemanasan. Jongin pikir lidahnya tadi sudah cukup melonggarkan milik Kyungsoo.

"Koleh boleh menjambakku, berteriak sekeras mungkin atau ingin memukulku sekuat tenaga. Aku yakin ini akan menyakitkan di awal, lebih menyakitkan dari pengalaman pribadimu."

Kyungsoo kembali mengangguk. Ia berdesis pelan saat ujung penis Jongin mulai meluncur masuk. Pria itu mengeram. Kenapa lubang Kyungsoo terasa begitu sempit. Bukankah Kyungsoo bilang dia bermain dengan vibrator?

"Kau sempithhhh Kyunghhhh." Jongin mengeram. Dilain sisi ia tak mau menyakiti Kyungsoo namun di sisi lain ia ingin melesat masuk.

Kyungsoo menjambak rambut Jongin kuat, menarik kepala pria itu menciumnya saat penis Jongin berhasil masuk setengah.

"Hmphhh ahhhhhhhh." Dia tak bisa. Ciuman itu tak bisa menahan desahannya. Kyungsoo mendesah. Menaikkan pinggulnya untuk merasakan milik Jongin semakin masuk. Ia pikir itu akan meredakan rasa sakit yang mendera.

"Ahhhhhhhh!" Gadis itu berteriak nyaring merakasan Jongin melesat masuk.

Perlahan Jongin mulai menggerakkan pinggulnya. Penis itu ikut keluar lalu masuk ke dalam lubang Kyungsoo.

"Hnghhhhhh... deeper Pleasehhhhh." Racau Kyungsoo menggila.

Jongin tersenyum puas. Hanya dalam beberapa kali hentakan dia menemukan titik tersensitive Kyungsoo.

"Hnghhh uhhmmmmm." Gadis itu mendesah berkali-kali saat Jongin tak henti menumbuk g-spotnya. Meluncur masuk dengan lebih cepat. Tangan Jongin beralih dari pundak Kyungsoo ke pinggang gadis itu. Ia ingin masuk lebih dalam. Seolah tergelincir, penisnya semakin dalam.

"Nghhhhhh fasterhhhh," Kyungsoo mulai memohon. Membuat jongin semakin tersenyum.

Ia mempercepat gerakannya. Membenturkan kedua lututnya ke kasur lipat yang tak cukup tebal. Kasur itu kehilangan bentuknya. "Pleasehhhhh!" Kyungsoo berteriak semakin kuat.

"Hnghhhhhh." Jongin menggertakkan giginya. Ia tahu Kyungsoo hampir sampai. Gadis itu pasti akan segera mencapai klimaks lagi. Jongin mengecup ujung hidung Kyungsoo. "Keluarkan saying," Bisiknya lembut." Tapi Kyungsoo sepertinya tak mendengar ucapan Jongin lagi. Ia trus saja meracau meminta tempo yang lebih cepat. Hingga berani menggerakkan pinggulnya sendiri agar bertumbukkan dengan penis yang mulai melonggarkan dinding vaginanya.

"In a moment. Aakkhhh."

"Come out sayang." Jongin mempercepat temponya. Sejujurnya ia ingin mencapai puncak kenikmatan itu bersama Kyungsoo. Mata pria itu tak berkabut, dia melakukannya dengan memandang wajah Kyungsoo yang tampak sangat memelas.

"Chanhhhhh Chanyeol ahhhhhh~."

"..."


~ RoséBear~


Hal terburuk adalah jika kau tak terlihat. Sebaik apapun pekerjaanmu orang-orang tetap tidak peduli. Itu karena mereka tidak menyadari keberadaanmu. Seperti shenreng. Jika kau mampu kau bisa melewatinya.

Seorang pemuda harus menjadi seorang putra yang berbudi saat berada di rumah dan seorang pemuda yang penurut di luar, tidak banyak bicara tetapi selalu dapat di percaya dalam setiap perkataannya, dan wajib mengasihi semua orang tetapi bersahabat kepada rekan-rekannya. Jika ia memiliki tenaga lebih, maka biarlah ia berdisiplin untuk menjadikan dirinya terlatih.

_naskah .Gui


To Be Continue...


Wahhh sesuai janji ini chapter 4 Up juga... clap clap clap. Haha

Jadi bagaimana? Bagaimana? Aku harus bagaimana?

Terima kasih banyak atas yang telah memfollow serta mem favourite kan cerita ini. Aku juga udah bacaa review kalian. Pada udah dapat balasan kan? Cek PM ya :)

Review chapter ini dari aku pribadi... Aduhhh! Kenapa yang di panggil malah nama Chanyeol.

Dan terima kasih banyak buat respon positif-nya untuk fanfic yang kemarin aku publish 'Lady Rose'. Sedikit bocoran, kalian bisa merasakan cerita di fanfic itu sesungguhnya pada chapter ke empat-kelima. Sungguh aku berkata jujur... chapter awalnya ku culik dari cerita lama, sebuah novel serta catatan lama. Terima kasih jika kalian menikmatinya.

Preview chapter 5

Lebih parah dari nightmare yang merampas mimpi indah. Pria itu tidak berkata kasar. Tidak pula berlaku kurang ajar.

"Jika Jongin kembali. Bisa beritahu aku?" _Kyungsoo

"Kau benar-benar suka melihatku telanjang?" _Jongin

"Kyungsoo…Aku ingin bertanya hmmm mungkin terdengar tidak sopan." _Ryeowook

Salam hangat,

.

~ RoséBear

2017, 28 April.

(11.37 PM)

Ketika wanita itu menyembuhkan patah hati,,,