Tittle: The Journey

(5th Chapter)

Author: RoséBear

Pair : Kai x Kyungsoo (KaiSoo)

Warning! GS. Maaf untuk typo. Adult Story.


Start story!


Perlakuan terburuk adalah melupakan orang yang penting. Keputusanmu salah besar jika berfikir dengan kata maaf semua bisa kembali seperti semula. Dari perlakuanmu yang salah, kau menyakiti perasaan seseorang.

Tanpa sadar air mata mengalir begitu saja. Tubuh menggigil dikarenakan udara dingin malam hari. Oh musim panas, bisakah kita akhiri semuanya?

Lebih parah dari nightmare yang merampas mimpi indah. Seharusnya kita mampu tertawa bersama dunia ini, menjauh dari sifat apatis yang membawa kemurungan kita dengan dunia.


~ RoséBear~


Kyungsoo takut akan besok pagi yang telah menunggunya. Ia bergelung di balik selimut tanpa mengenakan pakaian. Air matanya mengalir deras, hatinya merasakan nyeri yang luar biasa. Keadaannya semakin memburuk sejak Jongin tak kembali.

Tidak!

Pria itu tidak berkata kasar, tidak pula berlaku kurang ajar. Kyungsoo sadar kesalahan ada pada dirinya. Dia yang merasa tersakiti tapi ternyata malah menyakiti orang lain, dan orang itu adalah Jongin.

Matanya tak henti mengeluarkan liquid bening. Menangis dalam kegelapan malam yang mengurungnya di kamar. Selain tak punya hak, dia juga tak punya tenaga untuk menahan Jongin.

Dalam keadaan lelah dia masih ingat. Beberapa saat lalu dia masih punya kesadaran, tapi saat menatap mata kelam Jongin, bayangan Chanyeol muncul kembali. Merusak jalan pikiran Kyungsoo. Merusak semuanya. Kyungsoo sudah berusaha menyadarkan dirinya, pria yang sedang bersetubuh dengannya bukanlah Chanyeol. Pernah dulu dia mengharapkan itu tapi nyatanya penghianatan terjadi lebih dulu. Kyungsoo semakin menangis. Rasanya dingin, padahal dia masih bergelung dalam selimut tebal. Aroma sex tercium di ruangan itu. Tak bisa Kyungsoo pungkiri dia menyesal. Tapi Jongin telah pergi.


~ RoséBear


Wajah pria itu mengeras mendengar nama laki-laki lain di desahkan Kyungsoo saat mencapai klimaks-nya. Ia menghentikan hujaman yang memabukkan lubang Kyungsoo. Dengan menahan diri lelaki itu merapikan Kyungsoo. Menyudahi kegiatan bercinta mereka. Sebuah kecupan hangat lebih terasa seperti salam perpisahan.


~ RoséBear


Ia lelah hingga tertidur. Bibirnya sesekali mengeluarkan segukan. Kyungsoo masih menangis. Ketika malam mulai menarik fajar, pria tan itu masuk ke dalam kamar. Dilihatnya Kyungsoo masih bersedih hati.

Jongin tidak tahu harus melakukan apa. Sisi lain ia ingin merengkuh Kyungsoo. Menenangkan gadis itu tapi menjadi ragu, Jongin sadar akan siapa dirinya. Ia hanya pemandu wisata Kyungsoo. Yang telah kurang ajarnya menawarkan dirinya sendiri.

Tanpa suara yang menganggu Jongin menyelipkan tangannya di perpotongan lutut dan leher Kyungsoo. Ia memindahkan Kyungsoo ke kasurnya. Melipat kasur Kyungsoo yang mereka gunakan semalam dan membawanya ke sumur. Dia harus membersihkan ruangan itu dari aroma sex yang sangat kuat.


~ RoséBear


Fajar menyingsing, Kyungsoo melewatkan pagi itu. Ia terbangun dengan kondisinya tidak terlalu baik. Tubuhnya tidak hanya merasa pegal sehabis bercinta singkat dengan Jongin, di dalam hatinya terasa lebih sakit. Tanpa sadar Kyungsoo kembali menangis, ia telah berusaha menahan diri. Tubuhnya terlalu pegal dan juga nyeri. Gerakannya terlalu pelan. Gadis itu bangkit hendak keluar dari selimut.

Greettttt

Pintu bergeser membuatnya terlonjak kaget. "Nona sudah bangun? Aku mengantarkan sarapan," wajah ramah Yuri menyapa Kyungsoo. Buru-buru gadis itu menarik selimut menutupi sebagian tubuhnya. Seingat Kyungsoo dia tak mengenakan pakaian semalam. Tapi kejadian malam tadi seperti mimpi. Ruangan ini wangi vanilla seperti dirinya, Yuri tertawa membuat Kyungsoo menaikkan alisnya. Bertanya tak mengerti dengan pandangan, "Nona kenapa?"

Wanita itu meletakkan nampan di atas lantai. Mengambil meja lipat lalu menyusun sarapan Kyungsoo.

"Nona mencuci kasur lagi? Jika butuh sesuatu katakan saja."

Kyungsoo melotot menatap Yuri, "Kasur?" Gumamnya menyuarakan isi hati.

"Yeah saat terbangun aku melihat pakaian Nona dan kasur terjemur. Tuan muda bilang anda yang melakukannya."

"Tuan muda?" Dia kembali bertanya.

Ahhh Kyungsoo menundukkan kepalanya. Ia baru sadar telah berpakaian. Tapi siapa yang melakukannya. Kyungsoo sangat yakin tadi malam tak mengenakan apapun dan kini dia juga mengenakan pakaian dalam. Jongin. Sudah pasti pria itu yang melakukannya, mendadak hati Kyungsoo kembali merasa nyeri.

"Jongin dimana?" Kyungsoo ingat pria itu. Ia keluar dari dalam selimut tapi rasanya sakit. Ini pertama kali lubang Kyungsoo di hantam penis seseorang. Rasanya lebih nyeri dibandingkan dengan jari ataupun vibrator yang memberi getaran.

"Nona kau baik-baik saja?" Yuri hendak membantu Kyungsoo tapi gadis itu langsung menolak. Yuri tak boleh menyentuhnya. Masih sangat lengket.

"I'am fine. It's okey."

Wanita itu mengangguk, "Tuan muda. Dia pergi mendaki menggantikan aku. Hari ini aku akan menemani Nona. Punya rencana sendiri?"

Kyungsoo terdiam. Apa Jongin sedang berusaha menghindar? Kenapa pria itu pergi mendaki? Ahh apa dia merasa jijik pada Kyungsoo? Hanya memikirkan itu saja berhasil membuat Kyungsoo sesak. Dia ingin menangis tapi itu tak mungkin. Kyungsoo cukup tahu diri.

"Aku ingin istirahat seharian."

"Ba-baiklah. Aku tidak akan menganggu Nona hari ini. Selamat menikmati istirahat Nona. Jika butuh sesuatu, aku akan ada di sekitar penginapan."

Kyungsoo merasa tidak enak. Tapi memang dia ingin istirahat. "Yuri." Panggilnya membuat wanita itu menoleh. "Ada yang bisa kubantu Nona?"

"Jika Jongin kembali. Bisa beritahu aku?"

"Tentu."

Kyungsoo menghembuskan nafasnya. Entah apa yang akan dia lakukan hari ini, apapula yang akan dia lakukan jika Jongin sudah kembali. Kelompok mendaki biasanya pulang lebih sore. Mereka biasanya membawa bekal makan siang.

Tidak ada kamera Jongin, pria itu pasti membawanya. Sekali lagi ia menangis. Belum lagi tentang Chanyeol. Kenapa dia ada di sini? Kepala Kyungsoo merasa pening karena terlalu banyak yang ia pikirkan. Rasanya menambah waktu untuk kembali berbaring tidak akan merugikan.

~ RoséBear

Dari dalam kamar yang telah dibuat kedap suara itu Kyungsoo menghubungi Luhan. Hanya gadis itu yang ia pikirkan. Beberapa saat yang lalu orang tuanya bertanya kabar kyungsoo. Dia telah berbohong dengan bilang semua baik-baik saja, kecuali bagian menghabiskan libur musim panas di gunung. Orang tuanya tak banyak bertanya, mereka tinggal cukup jauh dengan Kyungsoo.

'Bagaimana liburan musim panasnya? Pesan yang kau kirim terdengar menyenangkan,' suara lembut milik Luhan mengalun di telinga Kyungsoo. Ia mendesah pelan. Bersender di tembok, Kyungsoo menatap seisi kamarnya. Seperti sedang menonton film dewasa dimana ada dia dan Jongin yang sebagai peran utama. Tiba-tiba Kyungsoo mengharapkan itu.

'Kyung? Sambungannya tidak terputus 'kan?'

Kyungsoo terkekeh mendengar suara Luhan. Dia telah mengabaikan temannya itu. "Aku bertemu Chanyeol dan Luhan kemarin."

'Yeah aku sudah tahu.'

Kyungsoo mengernyit mendengar perkataan Luhan. Seingat Kyungsoo dia belum memberitahunya.

'Kemarin sore mereka kembali dan bertemu denganku di restoran. Itu kampung halaman Baekhyun. Ibunya meninggal disana. Dia bilang melihatmu bersama kekasih barumu.'

Degh

Kyungsoo terdiam sejenak. Kampung halaman? Ibunya meninggal disini? Pantas saja mereka ada di kuil pagi itu.

'Ya Do Kyungsoo! Sebaiknya kau jelaskan mengenai kekasih barumu padaku!'

Kyungsoo tergagap. Kekasih baru? Miris sekali hidupnya. Jongin bukan kekasih Kyungsoo. Pria itu menjadi pelarian yang sangat berguna. Sekarang Kyungsoo yakin dia benar-benar dilupakan oleh Chanyeol dan lebih buruknya lagi ditinggalkan Jongin.

'Kyung!' Seruan Luhan mengejutkan Kyungsoo. "Ahh maafkan aku."

"Nona," Dari balik pintu terdengar ketukan dan ada suara Yuri Kyungsoo memang tak menutup rapat pintunya. "Lu, sebentar ya."

Kyungsoo bangkit dengan menahan rasa perih pada bagian bawah tubuhnya, lalu membuka pintu kamar. Yuri muncul dengan senyum yang ramah. "Aku ingin mengembalikan kasur dan juga pakaian Nona. Sudah di setrika."

"Oh terima kasih banyak. Hm," sebenarnya Kyungsoo ragu ingin menanyakan keberadaan Jongin tapi dia sudah menunggu terlalu lama untuk setengah hari ini sejak ia terbangun, langit bahkan mulai kembali meredup.

"Aku ingin bertanya."

"Ya?" Wanita pelayanan itu menanggapi Kyungsoo. Bersiap menunggu Kyungsoo mengatakan pertanyaannya.

"Mengenai Jongin. Apa dia belum kembali?"

Yuri terlihat terkejut. "Nona tidak bertemu dengan Tuan muda tadi? Tuan muda kembali beberapa jam yang lalu mengambil pakaiannya. Kupikir dia mengantarkan makanan Nona sekalian untuk berpamitan. Dia menginap di tempat temannya."

Degh

"Hah?" Nafasnya tergelincir begitu saja. Kyungsoo kehilangan Kata-katanya.

"Masih ada yang nona butuhkan?"

"Ti-tidak. Terima kasih."

Yuri izin masuk untuk meletekakan kasur Kyungsoo, meninggalkan gadis itu di ambang pintu. Dia kembali ditinggalkan.

Hanya beberapa saat saja Yuri di dalam, pelayan muda itu kemudian berpamitan meninggalkan Kyungsoo segera. Kyungsoo ingat sambungan dengan Luhan belum terputus. Ia menyeka air matanya dan menyapa Luhan kembali.

'Kau menangis Kyung? Apa yang terjadi?'Gadis itu tak bisa di bohongi. Kyungsoo harusnya tahu.

"Lu, dia bukan kekasihku."

'Aku tidak Tanya dia kekasihmu atau bukan. Aku tanya kenapa kau menangis?' Suara Luhan terdengar meninggi. 'Aku akan kesana Kyung.'

"Tidak perlu kemari Lu. Liburanku akan berantakan jika kau kemari." Kyungsoo tahu betapa khawatirnya Luhan. Dia beruntung setidaknya masih ada Luhan yang sangat peduli.

"Oh iya Kyung. Sebenarnya kemarin aku mengirimkan Surat lamaran kerja atas dirimu."

"A-apa?"

"Aku minta maaf padamu. Kupikir sehabis berlibur kau butuh pekerjaan."

Kyungsoo tak mungkin marah pada Luhan. Dia sudah memberikan perhatiannya.

Mereka mengakhiri panggilan itu. Sekarang Kyungsoo kembali berfikir. Jika Jongin tadi kembali, mengantarkan makan siang Kyungsoo dan masuk ke dalam kamarnya harusnya Kyungsoo sadar hanya Jongin yang akan masuk tanpa izin ke kamar ini saat dia di kamar mandi, sementara orang lain akan menunggu dibukakan pintu. Kyungsoo menjadi begitu gelisah. Kenapa dia memikirkan pria itu?

Ahh Kyungsoo~ coba tanyakan pada dirimu.


~ RoséBear~


Satu malam Kyungsoo kembali bermimpi buruk. Lebih buruk dari malam sebelumnya. Ia bahkan tak bisa melanjutkan tidurnya jika biasanya dia akan tertidur setelah dua jam terjaga. Bayangan mimpi itu terlalu mengerikan. Kyungsoo membuka pintu kamarnya berharap Jongin datang seperti malam-malam sebelumnya. Sayangnya itu tak pernah terjadi. Lalu malam berikutnya ikut berlalu.

Sudah dua malam pria itu tidak kembali. Kemarin Kyungsoo menyempatkan diri mengikuti kelompok Sunny untuk bermeditasi di hutan. Ternyata tidak hanya bermeditasi dengan kaki bersila. Mereka melakukan beberapa gerakan yoga yang aman.


~ RoséBear~


Pernah, seseorang berkata 'Bagus bila membantu, tapi buruk bila berlebihan.'

Hah! Kyungsoo telah lelah menunggu Jongin kembali. Akhirnya dia melihat pria itu. Tawa pria itu menggemaskan ketika dia bercerita dengan Ryeowook. Mereka baru saja memanen strawberry. Keduanya tersenyum ramah menyapa kedatangan Kyungsoo.

"Kyungsoo. Mau strawberry?" Ryeowook menawarkan. Gadis itu bergabung. Matanya tak henti menatap Jongin namun pria itu menghindar. Kyungsoo di anggap seperti kotoran.

"Noona tidak membutuhkan bantuanku lagi kan? Aku mau mandi."

Pria itu beranjak dari tempatnya. Mengacuhkan tatapan Kyungsoo.

"Yeah. Bersihkanlah dirimu."

Jongin menunduk permisi pada Ryeowook. Juga Kyungsoo.


~ RoséBear~


Gadis itu bergegas mengikuti langkah Jongin. "Kau benar-benar suka melihatku telanjang?"

Degh

Kyungsoo terdiam di depan pintu kamar. Jongin bersender di sela pintu geser. Pria itu menatap Kyungsoo tajam. Seketika nyali Kyungsoo menciut, pundaknya perlahan tampak merosot, gadis manis itu menundukkan kepala menggigit bibir bawahnya. Kyungsoo hampir menangis. Dia tidak tahu kenapa tiba-tiba menjadi begitu lemah di hadapan Jongin. Sekuat apapun Kyungsoo menahan diri ia tak bisa. Air matanya mengalir begitu saja.


~ RoséBear~


Lama. Jongin terlalu lama di dalam sana. Kyungsoo semakin lelah menunggunya keluar dari kamar. Matahari siang menerpa ke beranda kamarnya. Lebih panas dari hari-hari biasanya dan angin berhembus lebih kencang.

Ia bersender di dinding depan kamar. Kyungsoo memejamkan matanya, ia tahu seseorang sedang berusaha menurunkan tirai di depan kamar agar ia tak kepanasan dan Kyungsoo tahu itu bukan Jongin. Tempatnya bersender tidak mengeluarkan bunyi. Ia mengintip, itu adalah Ryeowook. Wanita itu tidak hanya cantik dan pandai memasak namun juga baik. Kyungsoo rasa dia sedikit berkeringat tertidur di depan kamar. Entahlah sudah berapa lama, tiba-tiba pintu bergerak dan menimbulkan bunyi. Ia yakin Jongin keluar dari sana.

"Noona?" Kyungsoo mendengar suara Jongin cukup jelas. Sudah tentu jaraknya bahkan tidak sampai satu meter. Ia masih berpura-pura terlelap.

"Hm? Kau lama sekali di dalam. Kasihan Kyungsoo sampai tertidur di luar."

Sekarang Kyungsoo percaya, Jongin pasti menatapnya.

"Kau mau kemana?" Sekali lagi Ryeowook bertanya. Terdengar suara langkah kaki mendekat. Kyungsoo menebak itu adalah Ryeowook yang selesai menurunkan tirai.

"Ke tempat uncle Jung. Dua hari ini aku membantunya memanen jagung. Sekarang dia memintaku mengambilnya."

"Sebelum kau pergi bisa pindahkan Kyungsoo ke dalam? Kasihan dia harus tidur di sini "

Jongin tak kunjung mengambil keputusan. Sementara Kyungsoo menunggu sangat lama. Ini, seperti luka gores yang kemudian disiram air dingin. Perih.

Namun kemudian tubuh Kyungsoo merasakan getaran luar biasa. Jemari lembut Jongin menyusup di antara perpotongan lutut dan lehernya. Pria itu menurut pada Ryeowook. Menggendong Kyungsoo berpindah ke dalam kamar.

Kyungsoo sadar, Jongin melakukannya dengan begitu hati-hati. Tubuhnya dibaringkan di atas kasur. Aroma coklat yang begitu menggoda. Kyungsoo menyukai aroma tubuh Jongin.

Apa di luar angkasa yang tanpa oksigen itu rasanya seperti ini? Hampa. Tubuh terombang ambing tak tahu arah. Ia menyerah pada keadaan. Air mata itu mengalir lagi.

Jemari lembut Jongin mengusap wajah Kyungsoo. Gadis itu menangis tanpa suara. Mereka terlalu lelah dengan pikiran masing-masing. Kyungsoo pikir dia bisa berdamai dengan keadaan. Sayangnya Jongin akan segera beranjak.

Gadis itu bangkit segera. "Kau akan meninggalkanku?" Ia menyeka paksa air matanya. Kyungsoo tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Tapi ia butuh bicara. Dia tak bisa begini trus dengan Jongin.

"Jo-jongin," Bahkan suara Kyungsoo terdengar seperti bisikan. Dia sedang menahan tangisnya. "Ke-kenapa kau menghindariku?" Akhirnya pertanyaan itu meluncur.

"Hng?" Pria itu menoleh. Seketika tatapan Jongin membuat Kyungsoo merinding. Seolah jantungnya berpacu ingin keluar dari organ tubuh. "Maaf," Bisik Kyungsoo pelan.

Dia kembali menunduk dan menangis lagi. Kasur Kyungsoo sedikit bergeser karena Jongin kini berjongkok di depannya. Jemari lembutnya mengusap pipi Kyungsoo. "Kau harus ingat. Aku hanya ingin membantumu agar tidak terpuruk lagi."

Kyungsoo terdiam. Jongin memang benar, niat awalnya begitu tulus. Tapi kini ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Pria itu memiringkan wajahnya untuk menatap Kyungsoo lebih dekat. "Apa – Kau – Merasa – Lebih - Baik?" Ia bertanya lembut. Setiap kata punya jeda yang sama.

Mata bulat itu berkedip. Otaknya mulai memproses ucapan Jongin. "Maksudku. Yeah mari akhiri semua ini. Jika kau butuh sentuhan seseorang, sebenarnya aku menyimpan banyak pengaman di dalam tas ku. Tapi kini aku tidak mau melakukannya lagi, kau bisa cari orang lain."

Pandangan Kyungsoo menjadi kabur. Sebenarnya Jongin menganggapnya apa. Kenapa terdengar seperti dia adalah seorang 'pelacur? Lebih buruk lagi seperti seseorang yang sangat membutuhkan sex.'

Ya. Kyungsoo akui dia menderita karena Chanyeol meninggalkannya atau lebih tepat, Kyungsoo yang menghindari pria tinggi itu. Dia sakit hati, sungguh. Hanya saja, kenapa rasanya menjadi tidak waras ketika Jongin yang meninggalkannya.

"Aku harus pergi. Jika kau butuh sesuatu katakanlah setelah aku kembali."

"Kau akan kembali?" Kyungsoo mendongak meminta kepastian Jongin. Dari matanya terpancar sepercik harapan.

Tidak ada jawaban. Jongin berdiri dan hanya memandang Kyungsoo dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Lalu dia pergi begitu saja.

Kyungsoo membaringkan tubuhnya di kasur. Kepalanya mendadak pusing, sudah berkali-kali ia mengatur nafasnya yang terasa berat.


~ RoséBear~


Gadis itu menghabiskan sore dengan memandangi Ryeowook memasak. Dia hanya duduk di beranda dapur penginapan mereka. Menyaksikan dua wanita cantik tengah sibuk kesana kemari menyiapkan makan malam para tamu. Ia bosan saat ini.

"Kyungsoo cobalah." Ryeowook mengantarkan puding coklat yang sudah dilumuri vla vanilla.

"Te-terima kasih," Ia menerima piring kecil itu. Tampak lezat dan manis. Kyungsoo menyuap dessert pemberian Ryeowook.

"Kyungsoo. Aku ingin bertanya hmmm mungkin terdengar tidak sopan."

"Tanyakan saja " Kyungsoo tersenyum. Ryeowook menarik kursi dan duduk. Wajahnya maju tak ingin Jungsoo mendengar percakapan mereka.

"Apa Jongin menyakitimu?"

Mata bulatnya membola beberapa saat sebelum berkedip cepat. Dia terlihat sangat lucu dimata Ryeowook. "Ti-tidak."

"Syukurlah. Kupikir dia aneh karena menginap di tempat uncle Jung. Kau tau, anak uncle Jung begitu menggilainya. Tapi apa kalian bertengkar?"

"Ka-kami?"

"Yeahhh kalian tampak dekat. Kau membantunya beberapa hari yang lalu tapi kemudian kalian tak banyak bicara lagi sekarang."

Jujur saja Kyungsoo ragu harus berkata apa. Kenapa tiba-tiba Ryeowook bertanya demikian. Kyungsoo tak punya jawaban yang tepat. Dia diam beberapa detik. Membiarkan otaknya menyusun kata-kata kebohongan untuk menutupi rahasia mereka. "I-itu karena tidak ada lagi tempat yang bisa dikunjungi. Jongin mengajakku berkeliling ke banyak tempat menyenangkan. Jadi aku tinggal beristirahat saja."

Wanita itu mengangguk paham. Tapi tatapannya tak lepas dari Kyungsoo, semakin membuat gugup.

"Kau belum ke air terjun di hutan bambu kan? Akses jalannya baru saja diperbaiki. Akan ku bilang Jongin untuk mengajakmu kesana."

Perlahan bibir Kyungsoo mengembang. Dia tersenyum senang dengan saran Ryeowook. "Kau harus menikmati liburan di sini Kyung."

Kyungsoo mengangguk semangat. "Aku sangat menikmatinya. Terima kasih banyak."

Hatinya menjadi ringan. Kyungsoo merasa bahagia sekarang. Bahkan gadis itu lupa akan perkataan Jongin beberapa waktu lalu. Mencoba dengan pria lain? Dia tidak pernah memikirkan untuk melakukannya. Tapi bersama Jongin? Kyungsoo tiba-tiba menginginkannya.


~ RoséBear~


Senandung dari bibir hati Kyungsoo menandakan betapa senangnya dia. Tapi ketika pertanyaan mengenai 'apa Jongin akan setuju? Apa Jongin akan menemaninya? Atau meminta Yuri seperti beberapa hari belakangan ini?' Dadanya terasa sesak jika membayangkan Jongin datang lalu menolak untuk menemaninya. Pria itu membuatnya tak bisa melakukan hal apapun.

Sesungguhnya Kyungsoo tidak yakin dengan apa yang terjadi padanya sekarang. Kenapa dia begitu takut pada Jongin? Lebih tepatnya sangat merasa kehilangan. Mereka tidak punya hubungan spesial. Hanya pemandu wisata dan tamu penginapan. Lalu skandal kecil.

Tapi kenapa sudah sesore ini Jongin tak terlihat. Kyungsoo keluar dari kamarnya. Ia duduk di halaman, bergabung dengan dua orang tamu wanita yang menikmati siaran televisi. Kyungsoo baru saja akan beranjak lagi karena wajah Chanyeol muncul disana. Tiba-tiba tangan seseorang menahan tubuhnya. Ia kembali terduduk paksa, pantatnya menghantam panggungan kayu.

Kim Jongin.

Genggaman ini terlalu kuat. Kyungsoo hanya menatap wajah menawan itu. Rahang tegas yang mulai ditumbuhi oleh janggut dan juga kumis di bagian atas bibirnya. Dia duduk tanpa bicara apapun.

Oh ayolah. Ini terlalu menyakiti Kyungsoo. Dia tidak tahu maksud perbuatan Jongin, seharusnya pria itu tahu Kyungsoo tak ingin melihat wajah Chanyeol, lalu kenapa dia menahan Kyungsoo di sini? "Le-lepaskan. Aku mau pergi," Kyungsoo berbisik pelan. Dia tak mau dua wanita disebelah menyadari tindakan Jongin. Begitulah, sejujurnya Kyungsoo senang Jongin datang tapi kenapa harus seperti ini.

Seringai itu. Pria Tan menyeringai membuat nyali Kyungsoo menciut. Apa yang direncanakan Jongin? Kenapa melakukan ini terhadapnya. "Le-lepaskan aku," Kyungsoo sudah tak tahan melihat Chanyeol bercengkerama dengan Baekhyun disana. Bahkan mendengar suara santai mereka membuat Kyungsoo kesal.

Akhirnya Jongin melepaskan Kyungsoo. Segera gadis manis itu beranjak tanpa berpamitan. Kakinya melangkah cepat kembali ke kamar. Di belakangnya, Jongin menyusul. Pria itu menahan pintu geser.

"Jangan menatapku garang Kyungsoo. Melihat reaksimu tadi, aku sadar tak bisa membantumu lagi. Jadi mari akhiri semua ini."

Degh

Kyungsoo tengah menahan dirinya. Sekuat tenaga ia memberanikan diri menatap Jongin. Pria itu tersenyum cukup ramah. Bibir Kyungsoo ikut tertarik. "Aku mengerti."

"Kuharap kau bisa melupakan pria itu Kyungsoo."

Kyungsoo hampir saja menangis mendengar ucapan Jongin. Ia merutuki kelemahan dirinya. Kenapa menjadi begitu lemah hanya karena perkataan Jongin. Mereka bahkan tak mengenal satu sama lain. "Aku berterima kasih padamu Jongin. Kau membantuku agar tidak terpuruk lagi tapi kini membuatku merasa tidak waras."

Btak!

Kyungsoo menggeser pintunya kasar. Menimbulkan suara dentuman yang menarik perhatian di luar sana. Gadis itu mengunci pintu rapat.

Di luar sana Jongin mendapat tatapan menusuk Jungsoo dan Ryeowook.

"Aku hanya menggodanya. Maafkan aku," Segera Jongin pergi dari sana. Ia memilih pergi ke dapur.

"Ibu... Aku membawa banyak Jagung apa kita akan membakarnya nanti malam?"

Jungsoo menghampiri Jongin. Menepuk pelan kepala anaknya beberapa kali. "Ibu tidak tahu apa yang terjadi. Tapi jika itu maumu. Siapkanlah peralatannya. Setelah makan malam kita bakar jagungnya." Jungsoo hanya tersenyum.


~ RoséBear~


Saat jam makan malam, Jungsoo sendiri yang mengantarkan makanan ke kamar Kyungsoo. Wanita itu tersenyum sangat ramah, ia masuk ke dalam kamar. Menyusun makanan di atas meja kecil. Tadinya Kyungsoo pikir dia akan makan dengan lahap atau membiarkan makanan itu disana. Sayangnya porsi yang diberikan ada untuk dua orang. Keningnya berkerut menatap Jungsoo. Seperti tahu maksud Kyungsoo, perempuan itu mengangukkan kepala. "Aku ingin menemani Nona makan. Boleh?"

Butuh beberapa detik bagi Kyungsoo untuk menyetujui permintaan Jungsoo. Mereka makan dalam diam. Tidak ada pembicaraan sampai ketika Kyungsoo tersedak kuah sup-nya. Jungsoo beralih ke sebelah Kyungsoo. Menepuk pelan pundaknya sembari menyerahkan air minum. Ketika Kyungsoo mengangkat tangannya, wanita tua itu menyudahi pertolongannya. Ia kembali lagi ke tempat semula, "Bagaimana perasaan Nona? Saya ingin minta maaf atas perlakuan Jongin."

Kyungsoo hanya tersenyum. "A-aku baik-baik saja. Nyonya jangan terlalu khawatir."

"Bisakah aku meminta sesuatu?"

"Ya?" Kyungsoo harus bersikap sebaiknya mungkin. Ia sudah berjanji tidak akan menyusahkan orang lain lagi. "Tolong tersenyum lah." Seketika Kyungsoo terkekeh pelan mendengar permintaan Jungsoo. Ini pertama kalinya seseorang meminta Kyungsoo tersenyum atau yeahhh dulu pernah ada yang memintanya tersenyum juga. "Nona sangat cantik saat tersenyum. Jongin membawa banyak Jagung, Nona ingin bergabung membakarnya?"

"Boleh?" Tanpa sadar kyungsoo berkata demikian. Jungsoo tentu saja mengangguk membolehkan.


~ RoséBear~


Banyak hal buruk terjadi. Bahkan berurutan tanpa jeda sedikitpun. Gadis manis itu mendengus kesal saat ia bergabung ke dalam rombongan. Jujur saja Kyungsoo tidak mengenal banyak orang. Tapi ia yakin seorang gadis berambut panjang dengan rok di atas lutut dan kaos putih transparan menampakkan pakaian dalamnya sedang menempel pada Jongin 'nya'.

Sampai akhirnya Kyungsoo tahu, gadis berparas manis itu bermarga Jung. Dia anak dari paman yang memberi Jongin Jagung. Itu artinya tempat Jongin menginap selama dua hari. Akhh Seketika ucapan Ryeowook terngiang kembali di pikirannya Kyungsoo mengenai betapa gadis ini menyukai Jongin.

Tapi kecemburuan Kyungsoo tak berlandaskan. Terbantahkan dengan ingatannya tentang ucapan Jongin tempo hari. Ya Tuhan. Anak manusia ini mengalami masa yang sulit. Dia tidak tahu harus bagaimana. Hati, perasaan dan tubuhnya sedang tak berada di dalam ruang yang sama. Pikiran Kyungsoo tak hanya bercabang, tapi dia sedang berdiam diri menghadap tembok besar yang menghalangi jalan. Ini jalan buntu. Haruskah dia kembali mencari persimpangan dan mencoba jalan lain? Bagaimana jika terpaksa menemukan jalan pertama? Apa kenangannya akan menghilang juga? Kyungsoo ingin menangis saat ini. Tapi itu tidak mungkin. Terlalu banyak mata dan telinga disekitarnya sekarang.

Chup

"Terima kasih Jongin."

Kepala Kyungsoo menoleh mendengar suara kecupan dan ucapan terima kasih. Gadis bermarga Jung itu mengecup pipi Jongin.

'Oh Kyungsoo. Jongin bukan siapa-siapamu. Dia berhak melakukan apapun.' Kyungsoo mencoba mengingatkan dirinya.

Sekarang bukan hanya tentang Chanyeol. Pertama-tama Kyungsoo harus melupakan Jongin terlebih dahulu. Dia harus meninggalkan tempat ini. Tapi sesuatu menghalangi Kyungsoo untuk pergi, dia akan terlihat tidak sopan jika pergi begitu saja.

"Hm," Deheman Kyungsoo berhasil menarik perhatian beberapa orang diantaranya Ryeowook. "Kyungsoo. Ada apa?" Wanita itu bertanya.

"Kupikir aku harus istirahat," Tangannya menunjuk ke belakang. Tepat ke kamarnya.

"Baiklah. Oh aku hampir lupa. Besok bangun pagi agar bisa ke air terjun. Disana ada air panasnya jika kau ingin mandi Kyungsoo."

Air panas di musim panas. Terdengar tidak terlalu baik tapi Kyungsoo mengangguk saja.


~ RoséBear~


Kilat di langit tak hentinya menyerang permukaan bumi, suara guruh bersahutan satu sama lain. Air hujan terlalu deras dan gadis itu telah berlindung di bawah naungan atap halte yang mulai berkarat.

Kemudian tidak berapa lama, terdengar pula langkah kaki yang berlari beriringan. Seseorang mendorong tubuh gadis itu keluar dari naungan, mengganti dengan mereka hingga gadis itu kebasahan dan...

CTARRRRRRRR!

.

Sepertiga malam. Kyungsoo terbangun dengan nafas tersenggal. Tangannya merayap mencari sakelar lampu. Ruangan menjadi terang benderang. Disibaknya tirai dan tak menemukan Jongin disana. Kyungsoo tidak tahu dimana Jongin tidur. Ia menarik kakinya. Bersimpuh pada kedua lutut dan mulai menangis. Air mata ini membuatnya sangat lemah. Seingat Kyungsoo, saat mengetahui fakta Chanyeol akan menikahi Baekhyun dia tak seperti ini. Kyungsoo hanya tak bekerja dengan baik, karena pikirannya sering kali kosong. Tapi ia tak menangis sebodoh ini. Jongin. Kau membuatnya benar-benar tak waras.

Tanpa tahu kenapa Kyungsoo menyadari ia merasa nyaman di dekat Jongin. Hanya dengan berada disisi pria itu ia melupakan Chanyeol, kenangan bersama pria tinggi itu. Akhh untuk malam itu Kyungsoo menyesal. Sungguh.


~ RoséBear~


Di luar kamar itu. Seorang pemuda masih terjaga. Ia telah menghabiskan beberapa buku bacaan setelah pesta bakar Jagung selesai.

Kim Jongin

Menatap terkejut pada kamarnya atau kini yang ditempati Kyungsoo. Lampu tiba-tiba menyala. Lama sampai lampu itu tak kunjung dimatikan. Hatinya tak karuan memikirkan banyak hal. Jongin menekan dadanya, kenapa terasa begitu sesak. Ia ingat perkataan Ryeowook. Ketika dirinya tak di penginapan. Kyungsoo selalu bangun pagi dengan lingkaran mata dan wajah pucat, pergi mengikuti meditasi dan pendakian. Menemani Ryeowook memasak atau melakukan hal membosankan lainnya.

"Kyungsoo... Aku ingin berada di sampingmu tanpa tahu kenapa."


To be Continue...


Wahhhh maaf mengecewakan. Tanggal tiga kemarin aku publish ff bertema KaiSoo, judulnya The First Stage. Itu Cuma kisah sekilas. Terima kasih banyak untuk respon yang telah diberikan. Semoga kalian gak bosan. Aku harap demikian. Silahkan di baca bagi yang berminat, tinggalkan review bagi yang ingin aku harus bagaimana.

Besok,,, besok atau besok lagi aku update bagian 2 secepatnya. Fighting!

Dan terima kasih buat review di chapter sebelumnya, pada komentar 'woaghhhh' dan beginilah jadinya. Kalian pada terkejut? Merasa tidak enak? Hahaha

Preview Chapter 06

"Katamu kau sering bermimpi buruk, aku hanya ingin menemanimu berbaring. Aku akan pergi jika kau sudah tidur."

.

"Lu... Bantu aku keluar dari sini..."

.

"Ibu ingin bicara denganmu."

Degh

Salam hangat,

.

~ RoséBear

2017, 06 May.

(Summer Break... Seimbangkan diriku dengan hembusan hangat nafasmu. Biarkan aku mendengar tawa ringanmu hanya untuk membiarkanku berdiri di sini. Setidaknya biarkan aku melakukan sesuatu yang akan membuatmu senang.)