Tittle: The Journey

(6th Chapter)

Author: RoséBear

Main Cast: Kai x Kyungsoo (KaiSoo)

And Other Cast

Warning! GS. Maaf untuk typo. Adult Story.


Start story!


Sudah dua jam berlalu dan lampu kamar tak kunjung meredup, apalagi mati. Pria itu sudah bersabar dalam waktu yang cukup lama. Ia duduk bersila di atas panggungan dengan sebuah selimut tebal.

Cukup!

Jongin tak bisa seperti ini. Ia tahu Kyungsoo akan terlelap jika kembali dalam dekapannya atau mungkin persepsi itu harus dirubah menjadi 'dekapan seseorang.'

Brak

Pintu kamar ternyata tidak dikunci. Jongin melihat Kyungsoo mendongak terkejut.

Gadis itu bangkit dan segera berlari menghampiri.

Memeluknya begitu erat.

Oh. Jantung Jongin tak merasakan apa-apa lagi. Ia ragu harus menjauh atau bagaimana. Alih-alih menjauh, Jongin memegang kedua sisi pinggang Kyungsoo. Merambat ke atas hingga menangkup wajah mungilnya.

"Hmphhhhh."

Bibir hati yang selalu menggodanya. Akhirnya Jongin kembali merasakan benda kenyal nan basah itu. Ia mencium Kyungsoo. Mengecup bibirnya berkali-kali menunggu gadis itu membalasnya.

Gotcha!

Kyungsoo menggeratkan pelukannya. Mencengkram kedua pundak Jongin dari sisi tangannya. Menekan bibir tebal itu agar tidak terlepas. Perasaannya mengambang. Ia menerjang gadis itu untuk terpundur masuk. Satu kaki panjang Jongin bergerak ke belakang menggeser pintu tanpa menghentikan ciuman panasnya. Tangannya memegang sisi kepala Kyungsoo yang mungil hingga memudahkan Jongin memutar ke kiri dan ke kanan. Kini ia kembali merasakan ciuman Kyungsoo. Memberitahu Kyungsoo Jongin ada di sini. Bukan orang lain, pria yang kini menciumnya adalah seorang Kim Jongin.

Ya. Dia Kim Jongin.

"Hahhh~" Keduanya melepas ciuman. Menarik udara sebanyak-banyaknya. Istirahat tak berlangsung lama. Jongin kembali menarik Kyungsoo dalam ciumannya. Namun kali ini lebih pelan. Tangannya melingkar di pundak dan pinggang Kyungsoo. Memeluk gadis itu dengan penuh perasaan. Cukup lama hingga Jongin melepasnya, memandang wajah sayu Kyungsoo yang kini menunduk. Jemari gadis itu menggenggam erat sisi kaos yang Jongin kenakan.

"Katamu kau sering bermimpi buruk, aku hanya ingin menemanimu berbaring. Aku akan pergi jika kau sudah tidur."

Sesungguhnya bukan itu yang Jongin pikirkan. Ia ingin Kyungsoo. Tidak hanya sebatas tubuh tapi juga hati gadis manis ini. Lebih dari itu malah.


~ RoséBear~


Merengkuh Kyungsoo dalam sebuah pelukan. Lampu yang terang berganti menjadi redup. Jongin tersenyum, hanya hitungan detik Kyungsoo terlelap. Nafasnya mulai teratur, tapi ia tak bisa beranjak. Kyungsoo memegang kaos yang Jongin kenakan. Meremasnya begitu kuat. Karena sebelumnya berada di luar, ia tak melepas pakaiannya seperti biasa. Entah kenapa rasanya sesak. Tapi bukan di dadanya saja, tepatnya di selangkangannya.

Damn! Jongin menggunakan jeans panjang. Sentuhan tubuh Kyungsoo atau tepatnya payudarah Kyungsoo pada dadanya membuat adik kecilnya terbangun. Jongin merutuki sebesar itukah pengaruh Kyungsoo padanya? Kenapa harus Kyungsoo? Gadis yang jelas-jelas masih merasakan hatinya untuk lelaki lain. Tidak bisakah gadis lain yang jelas-jelas merelakan diri untuk Jongin.


~ RoséBear~


Pukul lima pagi ketika fajar mulai menyapa. Diluar sana masih sangat gelap. Jongin terbangun, Ia tersenyum mendapati pelukan Kyungsoo mulai mengendur, pria itu mencium pucuk kepala Kyungsoo lembut. Tangannya mengangkat wajah Kyungsoo. Ciuman Jongin turun, merasakan bibir Kyungsoo dalam waktu cukup lama.

Setelahnya Jongin melepaskan Kyungsoo. Sesungguhnya dia ingat. Malam tadi Ryeowook telah mengingatkan Jongin untuk mengajak Kyungsoo ke air terjun di balik hutan bambu.

Tidak. Jongin tak ingin berurusan dengan Kyungsoo dalam waktu dekat ini. Ia tersiksa melihat Kyungsoo begitu mencintai Chanyeol. Ekspresi Kyungsoo sore kemarin adalah buktinya. Jongin bisa melihat kecemburuan dimatanya. Seakan mengharapkan sesuatu dari pria yang jelas-jelas akan menikah dengan orang lain.

Sejujurnya Jongin penasaran tentang apa yang sebenarnya sudah dilakukan Chanyeol hingga Kyungsoo begitu mencintainya. Kenapa gadis ini sulit melepaskan Chanyeol.

'Akhh Kim Jongin. Kenapa kau begitu berharap pada gadis ini?' Jongin tersenyum miris. Ia menekan dadanya keras. Pria itu mengenakan kaos tanpa lengan serta kemeja kotak-kotak dipadu celana cream selutut.

Jongin juga membawa kameranya.


~ RoséBear~


Kabar buruk dari musim panas adalah hujan. Bagaimana ia bisa turun dikala orang-orang sedang menikmati liburan mereka? Hujan membuat orang-orang tak bisa pergi kemana-mana. Mereka butuh mantel hujan jika hendak keluar rumah.

Dan yang terburuk jika hujan mengguyur tanah kering di daerah pegunungan.

Longsor.

Kemungkinan terjadi cukup besar.


~ RoséBear~


"Jo-jongin. Kau melihatnya?"

"Hah?"

Kyungsoo berlari tergesa-gesa dari kamarnya. Hanya ada satu orang di pagi hari. Yuri. Wanita itu selalu bangun pagi. Ia terkejut dengan pertanyaan Kyungsoo.

"Tuan muda. Dia baru saja keluar," Dalam kebingungan wanita itu menjawab pertanyaan Kyungsoo. Tangannya menunjuk ke arah pintu yang memang telah terbuka sedikit.

"Baru saja? Kemana?"

"Kupikir dia ke air terjun."

Kyungsoo mengangguk mengerti gadis itu masih mengenakan gaun tidurnya ia berlari ke dalam kamar. Memakai pakaian dalam dilapisi kaos biru laut dan celana jeans panjang. Kyungsoo bergegas mengejar Jongin.

Apapun yang akan di katakan pria itu tentang dirinya. Kyungsoo tak mau mendengarkan. Dia ingin memastikan sesuatu. Pagi ini kenapa dia begitu merasa kehilangan?


~ RoséBear~


Jika merasa ragu bukankah sebaiknya meninggalkannya? Tapi kenapa Kyungsoo trus saja melangkah.

Chanyeol hanya memberinya kenyamanan, rasa kebersamaan, dan selalu berada di dekat Kyungsoo selama dua tahun. Tapi Jongin? Pria itu baru ditemuinya dalam hitungan hari. Jongin hanya ingin ibunya bahagia. Dia melakukan semua perkataan ibu dan saudara perempuannya. Kyungsoo tidak tahu harus merasa beruntung atau terbebani.

Gadis itu tersesat di hutan bambu. Sepenuhnya ini bukan hutan, hanya saja tanaman bambu tumbuh dengan sangat baik, hanya ada bambu tanpa tumbuhan lainnya. Ia sudah mencoba berjalan lurus, tetap saja tak kunjung keluar dari sana. Seharusnya Kyungsoo menemukan anak tangga yang disusun dari batu-batu pegunungan agar dia bisa keluar dan menemukan jalan semen. Tapi hanya bambu-bambu yang menjulang begitu tinggi. Alunan musik terdengar dari tiupan angin, daun-daun bambu itu bersiul seperti mengejeknya.

Dia sudah kembali mencoba berjalan lurus dan menemukan jenis tanamam lain. Tadinya Kyungsoo ingin tersenyum tapi menemukan fakta bahwa dia di pinggir jurang adalah hal terburuk. Ponsel Kyungsoo berdering, oh itu Luhan.

'Aku sudah setengah jalan ke tempatmu.'

Kyungsoo tak menjawab perkataan Luhan. Sejak bertemu dengan Chanyeol, Luhan segera berinisiatif menemui Kyungsoo. Tapi sulit sekali menemukan waktu yang tepat. "Lu... Bantu aku keluar dari sini. Aku tersesat. " Kyungsoo sedikit berteriak. Gadis itu hendak berbalik arah tapi kakinya yang lemah tersandung membuatnya terjatuh. Berguling-guling beberapa meter ke bibir jurang.

"ARRRGHHHHHHH!"

Dari peristiwa itu hanya menyisahkan teriakan Kyungsoo.


~ RoséBear~


Di sisi lain. Jongin menenggelamkan tubuhnya ke dasar kolam kecil yang memang dibuat untuk menampung air panas. Uap hangat dipagi hari. Musim panas ini sedikit dingin bagi Jongin. Mungkin karena apa yang menimpa dirinya.

Ia bangkit. Tidak peduli jika ada orang lain yang melihat tubuh telanjangnya. Jongin berpindah ke bawah air terjun yang cukup jauh. Melewati batu berlumut dan duduk bersila. Menenggelamkan sebagian tubuh dan membiarkan derasnya air terjun menimpa kepalanya. Jongin membutuhkan percikan kasar air terjun atau mungkin benturan agar otaknya bisa tenang.

Bayangan Kyungsoo tak bisa pudar begitu saja. Semakin dia menutup mata. Senyum, kekehan ringan hingga bagaimana Kyungsoo mendesah adalah hal yang selalu melintas. Silih berganti dengan ekspresi Kyungsoo yang mengharapkan…

'Chanyeol'

Kenapa suara Kyungsoo terdengar begitu frustasi ketika mendesahkan nama itu.

Hidupnya menjadi tidak jelas. Jongin telah menghabiskan dua hari di tempat uncle Jung bahkan membiarkan putri bungsu pria tua itu trus menggodanya. Tapi bayangan Kyungsoo semakin jelas dan ia tak bisa melupakan Kyungsoo seperti melupakan gadis lain.

Semalam gadis itu begitu nyaman dalam pelukan Jongin. Wajahnya tampak begitu damai seperti tak memiliki masalah apapun.

Cukup Kim Jongin! Sebaiknya Jongin mengakhiri libur musim panas ini. Biarkan Kyungsoo mengatasi masalahnya sendiri. Jongin tak akan bisa membuat gadis itu melupakan mantan kekasihnya.

Tidak ada cela untuk Jongin masuk sekalipun dia menerobos. Sudah cukup pula ia mendinginkan tubuhnya. Jongin beranjak dari tempatnya bersila. Sempat terpeleset beberapa kali karena kakinya menginjak bebatuan yang berlumut.

Pria itu menggunakan kameranya. Mengambil beberapa gambar dan saat memeriksa ia sampai pada bagian terakhir. Wajah Kyungsoo yang terlihat dari cela-cela jari manisnya. Jongin ingat, gadis itu menolak dipotret.

Ingin jarinya menekan tombol delete tapi kemudian Jongin tersenyum kecil. "Aku bahkan tak bisa mendapatkan gambarmu seluruhnya." Ia menghapus gambar itu sebelum pergi meninggalkan air terjun.

Masih ada beberapa tempat yang ingin Jongin kunjungi. Namun saat tiba di desa ia berhenti sejenak menatap langkah kaki beberapa orang bergegas menuju rumah ahh penginapan milik ibunya. Ia pun berlari kesana karena takut terjadi sesuatu. Jongin masuk dan menemukan wajah panik sang ibu yang bicara dengan beberapa orang tua.

"Kau pulang sendirian?" Sautan Ryeowook membuat Jongin menoleh. Saudara perempuannya itu segera menghampiri Jongin.

"Dimana kyungsoo?"

Pertanyaan yang tak mungkin bisa Jongin Jawab. Dia bahkan tak mengerti pertanyaan Ryeowook.

"Yakk Kim Jongin. Yuri bilang Kyungsoo menyusulmu ke air terjun."

"A-aku memang ke sana. Tapi tidak bersamanya," Jawab Jongin tergagap, namun jujur.

"A-apa?" Sepertinya Jungsoo baru sadar putranya telah kembali. Dia bergegas mendekati Jongin. "Kau tahu teman Kyungsoo dari kota menghubungi. Katanya Kyungsoo tersesat. Tapi Yuri bilang dia mengejarmu tadi pagi."

Mata Jongin membulat. Pupilnya mengecil dan mulut sedikit ternganga mendengar ucapan ibunya. Kyungsoo mengikutinya? Kapan? Dia meninggalkan Kyungsoo ketika gadis itu masih terlelap. Apa dia terbangun setelah Jongin beranjak pergi?

"Mereka bilang ponselnya tak bisa dihubungi lagi," Pernyataan Jungsoo selanjutnya semakin membuat Jongin kesulitan meneguk salivanya.

"Aku akan mencarinya."

Pria itu dengan sisa tenaga yang ia punya. Berlari keluar dari penginapan. Menyusuri jalan setapak menuju air terjun.

Nihil!

Seperti tidak ada jejak Kyungsoo disana. Jongin pikir sudah berapa lama dia mengitari jalan yang mungkin membuat Kyungsoo bingung karena terlalu banyak persimpangan.

Pria itu berhenti sejenak. Mengigiti jari kukunya saat ia hendak berfikir dengan cepat. Bibirnya trus saja menggumamkan nama Kyungsoo.

Jongin sadar betapa ia takut kehilangan Kyungsoo.

Ponsel pria itu berdering. Panggilan dari Ryeowook mengatakan Kyungsoo baru saja kembali ke penginapan. Seseorang menemukannya di bibir jurang dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan beberapa luka. Ryeowook meminta Jongin untuk kembali bersama dokter. Mereka takut bila terjadi hal buruk pada gadis itu.


~ RoséBear~


Yahh. Jongin memang datang bersama seorang dokter laki-laki. Mereka memeriksa Kyungsoo di dalam kamarnya. Ryeowook bilang teman Kyungsoo dari kota juga baru sampai sehingga di kamar itu hanya ada ibunya, Dokter dan teman Kyungsoo.

Pria tan menunggu di panggungan. Seketika penginapan menjadi begitu tegang. Beberapa orang mulai kembali ke penginapan menjelang siang hari. Disebelah Jongin seorang pemuda berkulit putih tengah duduk sembari mengutak atik ponselnya.

"Oh Sehun."

"Hng?" Jongin melotot mendengar pria itu tiba-tiba bicara.

"Yeah. Namaku oh Sehun. Kekasihku teman dekat Kyungsoo."

Lelaki itu berkedip beberapa kali mendengar penuturan pria yang mengaku bermarga Oh kini.

"Aku punya banyak pekerjaan tapi kekasihku memaksa kemari karena khawatir pada Kyungsoo," Jelasnya membuat Jongin mengangukkan kepala pelan.

"Kim Jongin. Ibuku pemilik penginapan ini," Ia memperkenalkan diri dengan singkat.

Pintu kamar tiba-tiba bergeser. Seorang gadis cantik nan polos keluar dari sana. Gaun kuning khas musim panas dengan rambut grey yang menawan. Gadis itu menunduk pelan, berjalan menuju Jongin atau tepatnya pemuda disebelah Jongin.

"Hun, dokter bilang Kyungsoo harus dirawat," Mereka hanya bicara berdua. Mengabaikan fakta bahwa Jongin sedang menguping.

Baru saja Jongin akan beranjak dari tempat ia duduk. Pria di sebelahnya bertanya.

"Jadi kita akan menginap disini?" Sehun, pemuda itu mengernyitkan wajahnya. Sepertinya dia tidak senang jika harus menginap untuk merawat Kyungsoo.

"Aku tahu tentang rapatmu besok. Jadi aku bilang pada dokter untuk membawa Kyungsoo kembali. Dokter memberi izin selama kau membawa mobil pelan-pelan."

Jongin melotot pada gadis yang bagaikan model ini. Membawa Kyungsoo pergi? Sekarang? Yang benar saja.

Tap itu kabar baik bukan? Mereka teman Kyungsoo. Sudah pasti mereka lebih baik disisi Kyungsoo ketimbang dirinya. Tapi sebagian diri Jongin menolak usulan itu.

Dia hanya diam di tempat. Tidak berapa lama kemudian dokter keluar. Jongin bertanya dalam hatinya kenapa ibunya belum keluar. Sungguh Jongin ingin masuk dan merengkuh Kyungsoo dalam satu pelukan hangat. Apa ini saatnya berpisah dengan Kyungsoo? Jongin pikir begitu.

Dokter menghampiri Ryeowook dan berbincang sebentar. Pria itu memang kekasih saudara perempuannya. Sudah pasti mereka punya obrolan yang lebih pribadi lagi. Tapi Jongin tak mengerti dengan tatapan Ryeowook yang melotot padanya. Pria itu hanya terdiam hingga sosok ibunya terlihat keluar dari kamar dengan koper milik Kyungsoo.

"Hun, bisa kau tolong pindahkan Kyungsoo ke mobil? Dia belum sadarkan diri," Gadis di dekat Jongin berkata meminta pertolongan kekasihnya.

"Biar aku saja," Jongin menyela. Ia pikir ini kesempatan terakhir menyampaikan salam perpisahan dengan Kyungsoo. Beruntung karena Luhan tak keberatan, dia bahkan menunjukkan dimana letak mobil mereka.

Jongin semakin tak mengerti dengan tatapan ibunya ketika dia melewati wanita paruh baya itu. Ibunya menyerahkan koper Kyungsoo kepada Luhan dan berkali-kali menunduk. Hampir semua kesalahan terletak pada Jongin. Dia telah gagal membantu ibunya, tidak bisa memenuhi permintaan ibunya.

Lebih lagi ketika mendapati Kyungsoo terbaring dengan beberapa plester luka. Dikepala, lengan, kaki dan apa yang barusan dilihat Jongin?

Gadis itu mengenakan sweater Jongin. Tampak bersih dan tak sepadan dengan luka yang ia dapat. Sweater dingin musim panas? Sedikit keterlaluan memang untuk mengatakannya. Itu akan membuatnya gerah bukan?

Jongin mendekati Kyungsoo. Jemarinya mengelus lembut kening Kyungsoo. Turun mengusap pipi Kyungsoo. Jempolnya menyentuh bibir hati Kyungsoo, sedikit getaran di hati Jongin menyadari betapa brengseknya dia menambah beban bagi gadis ini, "Maafkan aku."

Tangan Jongin meraih tas ranselnya, disana kotak biru berisikan kalung Kristal berbentuk bunga. Menawan, elegan, dan eksotis. Menjadi symbol keindahan dan kekuatan istimewa dari wanita yang memakainya. Begitu cantik dan tahan lama dalam lapisan rhodium asli, kalung ini berhiaskan liontin anggrek yang anggun bertaburkan kristal swarovski. Tadinya ingin Ia hadiahkan pada Jungsoo tapi dia memakaikannya pada Kyungsoo. Menutupi kalung itu dengan sweaternya agar tidak nampak oleh siapapun. Saat itulah Jongin sadar, leher Kyungsoo masih meninggalkan kissmark perbuatannya beberapa hari yang lalu.

Entah kenapa Jongin sangat ingin memiliki Kyungsoo. Ia rengkuh tubuh ringan Kyungsoo. "Maaf karena aku menodaimu," Bisiknya begitu pelan.

Pria itu tak bisa berlama-lama menatap gadis 'nya. Ia tak mau membuat teman-teman Kyungsoo menunggu terlalu lama. Segera saja Jongin mengangkat Kyungsoo bridal. Sekali lagi dia melewati Jungsoo. Kini Jongin tahu maksud tatapan ibunya, sudah pasti ibunya melihat bercak-bercak keunguan di sekujur tubuh Kyungsoo. Ibunya pasti yang mengganti pakaian Kyungsoo. Makanya dikenakan sweater dan rok panjang. Jongin yakin teman Kyungsoo belum menyadari ini. Jadi dia bersikap begitu tenang ketika mendudukkan Kyungsoo di kursi penumpang.

Dengan pelan Jongin memakaikan sabuk pengaman. Ia menerima selimut yang diberikan Luhan. Menyelimuti gadis itu dan membuat gerakan selembut mungkin.

Sekali lagi Luhan dan Sehun masuk ke penginapan untuk berpamitan dengan Jungsoo. Jongin menunggu di sisi mobil. Ia benar-benar tak bisa mengendalikan diri. Wajah polos Kyungsoo ketika tidur telah menggodanya.

Satu ciuman lembut untuk menyampaikan semua perasaan Jongin. "Aku mencintaimu Kyungsoo," Bisiknya pelan.


~ RoséBear~


Semuanya terjadi begitu cepat. Kini hanya sebuah lambaian tangan saja ketika Sehun memacu mobilnya menjauh.

Siang itu suasana hening, jam makan siang terlambat dua jam membuat Jungsoo benar-benar meminta maaf pada pengunjung lain.

Jongin hanya diam di kamarnya. Ruangan ini masih kedap suara, sepintas ia tersenyum miris mengingat pertemuan pertama dengan Kyungsoo. Tatapan mata bulat itu membuatnya sungguh penasaran dan ingin menaklukkan Kyungsoo. Saat matanya menatap pintu kamar mandi, Jongin ingat Kyungsoo membuka pintu itu dan menutupnya dalam sepersekian detik.

Ia kembali membayangkan tawa khas Kyungsoo saat mendengar musik bersama. Lalu bayangan tentang sentuhan pertama Jongin...

"Ibu ingin bicara denganmu."

Degh

Jongin terkejut mendapati Jungsoo masuk ke dalam kamar. Wanita itu menutup rapat pintu kamar. Dari posisi duduk Jongin bisa melihat kalau Jungsoo tersenyum mengejek menatap kondisi kamar ini.

"Ibu tidak tahu kau membuat ruangan ini menjadi kedap suara kembali hanya untuk melakukan hal semacam itu."

Tak perlu jauh berfikir. Jongin tahu kemana arah percakapan ibunya. Ia hanya tersenyum miris. Menunduk tanpa berani menatap ibunya. Wanita tua itu mengambil posisi duduk di sebelah Jongin.

Menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar. Terdengar sangat tidak bersahabat. "Sudah berapa kali kau melakukannya?"

Dia tak punya keberanian untuk mengakui semua kesalahannya bahkan kepada ibunya sendiri.

"Kau marah karena permintaan ibu untuk menjaga Kyungsoo?".

Tentu saja tidak. Jongin itu anak penurut, namun sedikit di luar batas.

"Apa yang telah ayahmu ajarkan hingga kau berani meniduri anak gadis orang."

Sekarang Jongin bisa mendengar suara isakan yang tertahan.

"Ayahmu harus bertanggung jawab untuk perbuatannya."

Degh

Jongin menoleh menatap ibunya. Wanita yang paling dihormati dan begitu diagungkannya. Bagaimana wanita ini bisa berkata demikian? Apakah semua salah Ayahnya yang terlalu sibuk? Salah Jongin karena tidak memiliki teman baik? Tidakkah ibunya juga merasa bersalah? Bukankah wanita itu menolak pindah ke kota dan memilih menetap disini. Lalu dia juga tak memilih Jongin pada hari sidang perceraian itu.

"A-ayah?" Gagapnya pelan. Jongin menggigit bibir bawahnya menahan emosi.

"Aku akan memberitahu ayahmu Jongin."

"Yahh! Katakan saja padanya. Sekalian katakan jika anak laki-lakinya begitu kesepian hingga menghabiskan malam - malam di pub bersama puluhan wanita. Katakan padanya betapa aku benci tinggal di rumah sendirian dan tolong katakan pada mantan istrinya, betapa aku iri pada kakak perempuanku sendiri yang selalu dilimpahi kasih sayang ibunya." Nafas pria itu tersenggal setelah sedikit berteriak. Ini pertama kalinya Jongin berteriak pada ibunya dan ini pertama kalinya ia berkata jujur tentang isi hatinya.

"Jo-jongin?" Jungsoo menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia sudah tak bisa membendung air matanya. Mereka mengalir begitu saja. Hatinya seperti ditusuk ribuan jarum. Putra bungsunya,,,

Ada penyesalan mendalam dari Jongin. Tapi ia tak bisa menarik kata-kata lagi. Pria itu bangkit, Ia keluar dari kamar dan menghempas pintu dengan sangat kuat.

Kaki-kaki panjangnya mengginjak tanah. Berjalan tak tentu arah, tidak melewati pintu depan karena akan mengundang perhatian lebih banyak orang. Pria itu memilih pintu belakang menuju ke kebun strawberry milik keluarga mereka.


~ RoséBear~


Lama dia menghabiskan waktu sendirian. Mengumpat adalah kepandaian orang yang sedang tersulut emosi dan Jongin melakukan itu sejak tadi.

"Apa kau tidak lelah?"

Dia menatap sinis sosok Ryeowook yang kini berdiri di sebelah dengan segelas jus. "Minumlah."

"Kau akan menghakimiku juga?" Sinis Jongin pada Ryeowook

Plak

Dia mendapat hantaman yang terdengar cukup keras dikepala karena ucapannya barusan.

"Anak kurang ajar. Berani sekali kau bicara tidak sopan padaku." Ryeowook melotot namun itu terlihat menggemaskan. Dia tidak memukul Jongin dengan keras, hanya sebuah peringatan. Wanita itu duduk di sebelah Jongin. "Minumlah," dia memberikan jus semangka sekali lagi pada Jongin. Dalam sekali teguk, pria itu menghabiskan minuman pemberian Ryeowook.

"Yesung-ie."

Ah Jongin ingat. Itu nama kekasih Ryeowook.

"Dia bilang Kyungsoo tidak apa-apa. Hanya mengalami shock saja. Dia butuh istirahat beberapa hari untuk pulih kembali."

"Dia akan pulih cepat jika tidak di dekatku," Jawab Jongin ketus.

"Kupikir akan lebih cepat jika di dekatmu," Saudara perempuannya terdengar terkekeh. "Kau? Membentak ibu?" wanita cantik itu menjeda ucapannya, ia menatap Jongin dengan sebuah senyum yang akan mudah diartikan Jongin. "Ibu masih menangis dikamarmu sekarang."

Tidak ada respon apapun dari Jongin. Ryeowook menarik nafas dalam dan ia tersenyum. Menepuk pelan pundak adiknya, menarik pria itu dalam satu pelukan. "Ibu menyayangimu. Dia menghawatirkanmu setiap malam. Tapi Jongin, ayah tak bisa ditinggal sendirian. Ibu tahu kau lebih kuat daripada aku, dia butuh kau untuk menjaga ayah. Kau tahu betapa idiotnya ayah jika bekerja. Kita jangan membahas kenapa mereka berpisah. Bukankah kita sudah dewasa? Tapi kau harus tahu betapa aku mencintai adik laki-laki ku ini."

"Apa noona tidak marah padaku?" Jongin mendongak. Mengintip bagaimana Ryeowook bereaksi. Wanita itu tersenyum. Menatap ke atas, bukankah langit begitu cerah?

"Apa yang bisa membuatku dan ibu marah padamu?"

"Aku menyetubuhi Kyungsoo... Yeahh dia yang meminta."

Suara tawa meluncur dari bibir Ryeowook. Jongin mengernyit tidak mengerti. Kenapa dia harus ditertawakan? Ryeowook melepas pelukannya. Ia tersenyum menatap Jongin dalam.

"Aku menemukan bekas pengaman yang kau gunakan. Apa kau mencintainya?"

Sejenak Jongin terdiam. Dia mengangguk pelan. "Kalau begitu minta maaflah pada ibu."

"Noona tidak memintaku menemui Kyungsoo?" Tanya Jongin bingung.

"Memangnya bisa menghubungi Kyungsoo?"

Ahh bodohnya kau Kim Jongin. Dia tidak punya nomer maupun surel Kyungsoo. Tapi kemudian senyum Ryeowook menyadarkan Jongin. Ibunya pasti memiliki kontak yang bisa menghubungkan Jongin dengan Kyungsoo lagi.


~ RoséBear~


Bunga matahari selalu menghadap ke Matahari. Warnanya yang ceria membuat orang-orang ikut bahagia. Banyak yang bilang arti dari bunga matahari itu adalah sebuah keceriaan dilihatdariwarna keningnya, keharmonisan dan kesetiaan, dimana dia selalu mengikuti arah matahari. Tapi, ternyata ada makna tersembunyi dari balik itu semua… Bunga matahari yang yang tegap mengisyaratkan sebuah ketegaran, dan ketegaran yang luar biasa.

Pria tan itu kembali ke dalam. Mengikuti saran saudara perempuannya. Berjalan mengendalikan diri menuju kamar. Benar kata Ryeowook, ibu mereka masih di sana. Wanita itu menangis dalam diam membuat hati Jongin sesak. Ia kesulitan bernafas menyaksikan lelehan bening yang tak mau berhenti dari sepasang mata milik Jungsoo.

Terdiam di depan pintu cukup lama, menunggu Jungsoo menyadari kehadirannya. Akhirnya wanita itu sadar, buru-buru ia menghapus air matanya. Memalingkan wajah dari tatapan Jongin.

Pria itu mengingat ucapan Ryeowook. Bagai langkah penari balet, Jongin masuk mendekati Jungsoo. Tubuhnya jauh lebih besar dan kuat dari Jungsoo. Dengan kedua tangan yang mengalung lembut mendekati ibunya. Jongin berkata lirih "Ibu maafkan Jongin." Berkali-kali Jongin mengatakan itu. Dibalik tujuannya untuk bisa bertemu Kyungsoo lagi dia memang benar-benar menyesal.

"Aku menyesal," Bisiknya lembut. Jongin menenggelamkan kepalanya di pundak Jungsoo. Merasakan tubuh ibunya bergetar. "Kyu-Kyungsoo. Aku menyukainya. Jongin bersungguh-sungguh Ibu," kini Ia mulai berani mengaku. "Jongin sangat ingin memiliki Kyungsoo. Tapi dia tidak bisa melupakan mantan kekasihnya."

Perlahan Jungsoo memutar badannya. Hatinya tergugah mendengar cerita Jongin. Mata Jungsoo meminta kejujuran dari lelaki ini. "Se-setiap malam aku berusaha menjaganya agar terlelap. Aku berharap dia melupakan mantan kekasihnya," Pria itu memberi jeda, "Tapi dia tidak bisa melupakan mantan kekasihnya."

"Sudah berapa kali kau melakukannya?"

Jongin mengendorkan pelukannya. Ia menggigit bibir bawahnya tidak berani mengakui bagian ini. Jungsoo terlalu mengintimidasi hingga Jongin tak menemukan kalimat untuk menghindar. "Dua.. Tapi aku pikir satu kali."

"Bukan hanya Kyungsoo. Tapi semuanya..."

Ia terkesiap mendengar pertanyaan selanjutnya. Apa mungkin ini saatnya pengakuan dosa bagi Jongin? Haruskah ia menyakiti perasaan ibunya?

"Jongin?" Panggilan itu terlalu menuntut.

"A-aku tidak menghitungnya ibu."

Bugh

Tubuh nan kokoh itu terjungkal ke belakang, mata Jongin terbelalak menatap Jungsoo mendorongnya sekuat tenaga.

Bugh bugh

Tidak hanya berhenti disana. Wanita cantik itu memukuli Jongin berulang kali. Tenaganya terlalu lemah, tidak akan menyakiti Jongin secara fisik, namun hati pria itu merasakan nyeri luar biasa, "Maafkan Jongin Ibu. Aku bersumpah hanya dengan Kyungsoo aku bersungguh-sungguh. Aku hanya tergoda oleh Kyungsoo."

"Lalu bagaimana dengan wanita lainnya?"

"Aku tidak pernah memasuki mereka dengan milikku. Aku bersumpah Ibu... Kyungsoo yang pertama... dan terakhir," Jongin melirih di kata terakhirnya. Pengakuan Jongin menghentikan aksi pemukulan Jungsoo. Pria itu merenggangkan jari tangannya berusaha mengintip Jungsoo. Mata ibunya terlalu mengintimidasi.

"Jongin bersumpah Ibu. Jongin hanya menyentuh tubuh mereka saja. Tidak pernah lebih,,,"

Sungguh ini menjijikkan untuk diteriakkan. Jungsoo kembali memukuli Jongin. Tepat saat itu Ryeowook masuk kamar. Ia terlampau kaget melihat ibunya yang lemah tak berhenti memukuli Jongin. Wanita cantik itu melindungi Jongin. "Ibu... Maafkan Jongin."

"Minggir Ryeowook-ie... Anak ini telah salah."

"Ibu~" Suara lembut Ryeowook dan tangannya berhasil menangkap kedua lengan Jungsoo, ia berhasil menghentikan wanita itu sepenuhnya. "Aku juga salah. Aku tidak bisa menjaga Jongin."

Detik itu Jungsoo memeluk Ryeowook erat menumpahkan semua kekesalan dirinya. "Kenapa aku tidak bisa mendidik anakku dengan baik. Kenapa?"

Hati Jongin merasakan nyeri yang teramat sakit mendengar tangisan Jungsoo. Ia memeluk ibunya, berbisik kata maaf berkali-kali.


~ RoséBear~


Beruntunglah Jongin memiliki saudara perempuan seperti Ryeowook. Berkat wanita itu, ibunya berjanji tidak akan melaporkan Jongin pada Ayahnya. Hidup Jongin bisa berakhir jika ayahnya tahu kelakuakan Jongin selama ini. Ayahnya terlalu menyeramkan untuk diberitahu. Tapi sebagai hukumannya, Jungsoo ingin Jongin mengakhiri masa libur musim panasnya di sini secepat mungkin. Dia ingin Jongin bicara dengan Ayahnya prihal masa depan. Pembicaraan antar Lelaki. Jongin harus mengikuti apapun perkataan ayahnya nanti.

Itu mengerikan bagi Jongin. Sangat!

Yang lebih mengerikan ibunya tak memiliki kontak Kyungsoo. Sebab gadis itu di daftarkan oleh Luhan, teman yang menjemputnya. Kontak Luhan pun tak diberikan ibunya.

Sudah berkali-kali kemanjaan dan rayuan yang Jongin keluarkan tetap saja tak mampu meluluhkan hati Jungsoo. Ibunya bilang, jika terjadi sesuatu pada Kyungsoo maka Jongin harus bertanggung jawab. Namun mereka akan menunggu konfirmasi. Satu minggu tak ada kabar dari Luhan.

Artinya, Jongin kehilangan jejak Kyungsoo. Besok pagi dia juga sudah harus kembali ke Busan. Ayahnya sudah kembali dari perjalanan. Jongin dituntut menepati janji pada Jungsoo. Bicara dengan Ayahnya tentang masa depannya sendiri.


~ RoséBear~


Jika dilambangkan dengan bunga, Kyungsoo pikir dia tidak cocok dengan bunga matahari. Dia tidak tegar sama sekali sekalipun dia bersikap begitu ceria dan juga setia. Musim panas, tidak cocok dengan Kyungsoo.

"Soo~ sampai kapan kau akan bergelung di dalam selimut heoh? Ini benar-benar hari terakhirmu bekerja di sana. Cepatlah bangun! Kau harus ucapkan salam perpisahan!"

Suara teriakan disertai rasa kehilangan sebuah kehangatan membuat wajah Kyungsoo cemberut. Ia baru saja bangun. Mendudukkan diri di atas ranjang. Menatap Luhan yang sedang berkacak pinggang menuntut Kyungsoo bangun.

"Aku masih bermimpi buruk." Guman Kyungsoo pelan.

"Yeah... Aku tahu itu. Sampai aku juga sulit tidur. Tapi segeralah bersiap. Ini benar-benar akan menjadi hari terakhirmu bekerja di sana.."

Kyungsoo mem-pout bibirnya lucu. Sungguh menggemaskan jika dilihat.

Mimpinya terlalu buruk untuk diceritakan. Dia pikir ia benar-benar bermimpi panjang.

Tentang Chanyeol? Rasanya itu bukan bagian mimpi Kyungsoo. Saat beranjak dari kasur menuju kamar mandi, Kyungsoo melihat kilauan kertas undangan berwarna biru laut. Terukir dengan tinta emas nama Chanyeol dan Baekhyun. Pesta pernikahan mereka seminggu lagi. Semoga hari ini dia bisa menghindari Chanyeol.

Kyungsoo tersenyum miris. Dia ingin mengambil libur yang panjang selama musim panas ini. Sungguh...

"Oh ya... Tadi ayahmu mengirim pesan."

Samar-samar Kyungsoo mendengar Luhan meneriakkan sesuatu...


To Be Continue...


Oke maafkan aku bikin nyesek tiga chapter berturut-turut. Lalu aku harus bagaimana?

Dari review Woahhhh lalu Yahhh entah apalagi sekarang. T.T

Jika saja kalian mau meluangkan waktu menunggu sebentar lagi agar tidak salah paham. Haha

Aku trus berusaha memperbaiki diri agar bisa update dalam keadaan baik.

Ini masih To Be Continue sampai cerita memang benar-benar selesai atau beberapa orang memintaku menghentikannya dengan paksa. Tapi sebenarnya ini udah complete di document ku.

Terima kasih banyak kepada kalian yang telah sangat sabar menunggu cerita ini berlanjut. Untuk The First Stage, mari berjumpa besok pagi.


Preview chapter 07

"Ini kenyataan." –Jongin

.

"Hng. Jangan menganggu! Duduk diamlah di sana!"-Kyungsoo.

.

"Tadinya takut kau kesepian jika aku bekerja." –Kyungsoo.

.

"Tak ada salahnya dengan dua wanita. Aku bisa mendapatkan kedua-duanya." –Chanyeol

Salam hangat,

.

~ RoséBear

2017, 13 May

(I am sorry for all my mistakes, but I have no regret for my life)