Tittle: The Journey

(8th Chapter)

Author: RoséBear

Pair : Kai x Kyungsoo (KaiSoo)

Warning! Fiksi. GS. Maaf untuk typo. Adult Story.


Kronologisnya tak terlalu dahsyat. Jongin hanya menerima luka gores akibat pecahan kaca serta lebam di pelipis kanan. Dia beberapa kali meringis dan mendesis terkejut karena tekanan yang Kyungsoo berikan. Pria itu duduk bersila menghadap Kyungsoo. Tangannya di remas Kyungsoo cukup kuat untuk menahan gerakan Jongin yang terkadang bisa dikatakan berlebihan.

"Akhhhhhh... Kyung. Pelan-pelan~" Ringis Jongin terdengar sedikit meronta. Kyungsoo mengompres lebam di wajahnya. Sedetik Jongin melihat ekspresi Kyungsoo. Gadis itu terlihat hampir menangis. Hatinya tersentak kuat menyesali perbuatannya. Entah apa yang Kyungsoo pikirkan, tapi Jongin tak suka melihatnya. Telapak tangannya terluka, namun punggung tangannya yang bebas membelai lembut wajah Kyungsoo. "Maafkan aku~" sungguh Jongin menyesal jika telah melakukan kesalahan hingga membuat Kyungsoo bersedih. "Kyungsoo~" dia memanggil gadis itu. Ada sesuatu yang ingin Jongin pastikan. "Kau mengkhawatirkan aku?"

Tak!

"Arghhh!" Jongin berteriak kencang karena Kyungsoo memukul area lebamnya dengan handuk hangat. "Maafkan aku~" dia segera menunduk. Perbuatan Kyungsoo barusan adalah jawaban kegelisahan Jongin. Gadis itu sudah pasti sangat khawatir.

Kyungsoo berpindah pada tangan Jongin sejenak gadis itu diam memperhatikan darah di telapak tangan Jongin. Dia menghela nafas mengakibatkan uap hangat itu menyentuh permukaan tangan Jongin. Kyungsoo menghela nafasnya panjang. Ia letakkan handuk baru di atas pangkuannya, disusul oleh tangan Jongin.

Tangan telatennya mulai mengelap jemari Jongin. Dalam diam Kyungsoo membersihkan luka gores Jongin dengan kain kasa. Ia menghela nafas panjang sekali lagi. Beberapa kaca kecil masih menempel di sana. Memang bukan luka serius namun harus dibersihkan dengan hati-hati. Jika tidak bisa jadi infeksi atau mengalami komplikasi lainnya.

Kyungsoo meletakkan kembali tangan Jongin dalam pangkuannya ia berpindah membuka kotak p3k dan mencari pinset. Tak lupa menuangkan alkohol untuk mencuci ujung pinset. Sebelum melakukan pekerjaannya, Kyungsoo menatap Jongin.

"Aku tidak akan berteriak Kyungsoo," Jongin tahu apa yang dicemaskan Kyungsoo.

"Ngssshhhhhhhh," Pria itu mendesis, wajahnya mengernyit menahan perih ketika alkohol ikut menetes di luka goresnya. Satu persatu pecahan kaca mulai terangkat.

"Sudah?" Suara Jongin tertahan.

Gadis itu menggelengkan kepala. Ia memoleskan salep antibiotik. Sekali lagi Jongin sedikit meringis, rasanya perih. Barulah Kyungsoo merekatkan perban di tangan Jongin. Itu baru satu tangan... Jongin harus bertahan dengan tangan lainnya lagi.

Pria Tan tersenyum melihat mahakarya Kyungsoo. Perbannya cukup rapi. Ia mengangkat tangan dan memutarnya bagai seorang model yang sedang melambaikan tangan di sebuah pertunjukkan. Jongin hanya tersenyum melihat Kyungsoo membereskan sampah penuh darah. Masih tersisa rasa penyesalan melihat Kyungsoo hanya diam.

"Kyungsoo~" panggil Jongin lembut. Gadis itu menoleh, alis tebalnya terangkat.

Ada sedikit keraguan ketika Jongin ingin mengatakannya. Bibir tebalnya bergelung di dalam, sementara otaknya berfikir keras. "Apa kau marah? Aku memukulnya."

Setelah mengucapkan itu Jongin bisa mendengar Kyungsoo mendengus. "Aku tidak tahu harus berkata apa."

Sekarang Jongin tidak tahu. Kekhawatiran Kyungsoo tidak sepenuhnya untuk dirinya. Chanyeol masih tertinggal di sana, di hati Kyungsoo. Sesaat dirinya merasa tersakiti, tapi Jongin menepis rasa itu. Kyungsoo pasti sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.

"Kemarilah," bisik Jongin lembut. Pria itu bergeser meminta Kyungsoo untuk mendekat.

"Lupakan saja," Ia menolak permintaan Jongin. Lebih memilih membereskan peralatan yang ia gunakan. Kyungsoo berdiri, ia harus membuang sampah-sampah ini, ahh dia juga harus membersihkan kekecauan di luar tadi. Tempat sampahnya berserakan.

"Kyungsoo~" Jongin memanggil membuat langkahnya terhenti. Terdengar langkah kaki Jongin mendekat.

Chup

Pria itu mencium bibir Kyungsoo. Tidak ada nafsu di sana. Hanya sebuah kecupan bepersekian detik tanpa ada balasan dari Kyungsoo. Jongin menjilati bibir hati itu, dia benar-benar menciumnya dengan pelan.

"Aku lapar~" bisiknya manja.

Jongin pikir dengan bertingkah seperti ini mungkin Kyungsoo akan memperhatikan nya. Tapi...

Terkadang pandangan mata seseorang lebih jujur daripada perkataannya. Kyungsoo bisa merasakan itu. Tapi dia kemudian tersenyum, Kyungsoo mengerti apa yang Jongin lakukan. Pria itu selalu mengingatkannya selama seminggu ini.

"Tunggulah sebentar. "


~ RoséBear~


Kyungsoo lelah, sungguh. Dia sudah bekerja seharian penuh. Setumpuk dokumen serta beberapa agenda pertemuan dalam satu hari. Ketika pulang dia menyaksikan kejadian tak terduga dan kini dihadapan dengan Jongin. Pemuda yang memaksanya untuk memasak ramen.

Aroma mie itu menggoda. Kyungsoo menyediakan semangkuk ramen dan juga sumpit. Tapi beberapa menit pria itu tak bergerak, hanya menatap ramen dan Kyungsoo bergantian.

"Makanlah. Jika sudah selesai letakkan di wastafel, aku mau mandi." Dia beranjak. Namun panggilan Jongin membuat Kyungsoo berhenti.

"Kyungsoo~ aku tidak bisa makan. Kau memasang perban di kedua tanganku."

Kini gadis itu terdiam. Sementara Jongin mengangkat kedua tangannya. Dia tidak berbohong tentang itu.

"Suapi aku~" permintaan itu meluncur didukung muka puppy yang Jongin buat.

"..."

"Kyungsoo~" panggilnya sekali lagi pada gadis itu.

Satu hembusan nafas meluncur. Kyungsoo menarik kursi untuk duduk di sebelah Jongin. Dia mengambil alih mangkuk ramen beserta sumpit. Mengayunkan sumpit yang menjepit mie dan mulai menyodorkan tepat di mulut Jongin.

Pria itu tersenyum sumringah, mencondongkan kepalanya untuk meraih pemberian Kyungsoo. Hari ini saja, atau malam ini saja Jongin ingin Kyungsoo memperhatikannya hanya ada dirinya dimata Kyungsoo.

Dia menyuapi pria itu dalam diam. Namun Jongin menolak untuk mengesap sisa kuah. Ia beralih memberikan pada Kyungsoo. Ia tahu gadis itu juga lapar. Yeah, satu minggu bersama. Jongin tahu Kyungsoo sedikit menyukai kuah ramen.

Gadis itu hanya mengangkat pundaknya. Mengacuhkan Jongin sesaat untuk mengesap bagian terakhir dari ramen.

"Akhhh... Aku akan memhmphhhhhhh."

Ucapan Kyungsoo terhenti karena Jongin menciumnya. Semula Kyungsoo terkesiap, matanya melebar. Tapi Jongin sadar akan itu. Berulang kali dia mengecup bibir Kyungsoo, menjilati dan semakin mencondongkan kepalanya. Jongin merasakan tangan Kyungsoo meremas kaos yang ia gunakan. Pria itu tersenyum. Semakin melesakkan lidahnya, membelit lidah Kyungsoo. Merasakan bibir yang begitu lembut nan manis, lelaki itu mengerang ketika Kyungsoo membalas ciumannya. Ia semakin memperdalam ciuamannya. Jongin menyukai bibir ini, sangat lembut dan terasa manis yang luar biasa.

Lama setelah itu Jongin merasakan Kyungsoo memukul dadanya. Ia melepaskan ciuman mereka. Pria itu menunduk, mendapati bibir Kyungsoo yang sedikit bengkak. Kepala mereka masih beradu. Nafas mereka hangat dan berbaur satu sama lain. "Kau hanya harus ingat, aku akan membuatmu nyaman disisiku," Jongin berbisik lembut.

Chup

Satu kecupan terakhir sebelum dia beranjak dari kursinya. Pria itu meninggalkan Kyungsoo menuju sofa.

Sementara gadis itu masih terdiam di tempatnya. Ia membereskan peralatan makan di dapur. Saat Kyungsoo kembali ke ruang tengah. Ia mendapati gelak tawa Jongin menonton film kartun. Pria itu tak pandai melakukan pekerjaan rumah. Sekeras apapun dia mencoba tetap saja berakhir menjadi kekecauan. Tapi berapa hal menjadi lebih baik ketika Jongin berusaha memperbaiki barang, walau kemudian dia mengeluh karena lelah. Jadi dia lebih tampak seperti orang yang tidak bekerja. Selalu bersantai dan nyaman. Namun Jongin bergerak cepat jika Kyungsoo meminta bantuannya.


~ RoséBear~


Beberapa menit kemudian Kyungsoo pergi ke kamar untuk membersihkan diri lalu ikut bergabung. Membawa potongan buah sebagai cemilan.

"Jongin."

"Hng?" Pandangan pria itu tak teralihkan dari televisi. Ia menerima suapan potongan buah dari Kyungsoo. Beberapa kali Jongin bersyukur Kyungsoo memasangkan perban padahal lukanya akan tertutup dengan cepat karena hanya luka gores-gores kecil.

"Apa besok kau ada pekerjaan?"

Pria Tan menggeleng. "Besok libur Kyungsoo."

Jongin menjauh ke sudut. Ia mengambil posisi untuk berbaring, "Biarkan sebentar saja. Hari ini aku bekerja keras. Besok mau berkencan denganku?"

Kyungsoo menggeser tubuhnya ke belakang, ia menerima kepala Jongin dalam pangkuannya menggantikan mangkuk berisi potongan buah. Gadis itu menatap wajah Jongin. Rambutnya sedikit lebih panjang hampir menutup mata.

Jongin menerima belaian di rambutnya. Tidak ada orang yang berani membelainya seperti ini kecuali Jungsoo dan Ryeowook. Tapi kini Jongin menikmati sentuhan Kyungsoo.

"Humm. setelah kau menemaniku ke upacara pernikahan Chanyeol?"

"..."

"Jo-jongin~" Panggil Kyungsoo ragu. Ia menahan nafas menunggu jawaban pria ini. "Kau bilang akan membuatku nyaman."

"Ya.. Ya.. Aku menunggu ajakanmu sejak kemarin. Jadi biarkan seperti ini sebentar."

Kyungsoo hanya tersenyum. Dia melihat Jongin memejamkan mata. Pria itu tampak mencari posisi ternyaman dalam baringan. Menempelkan wajahnya ke perut Kyungsoo. Menikmati aroma tubuh Kyungsoo.


~ RoséBear~


Malam itu Ketenangan dan kesunyian menyelimuti apartemen Kyungsoo. Suara televisi yang kecil dan dengkuran halus dari kedua anak manusia yang terlelap.

Jongin terbangun. Ia mendapati dirinya masih berbaring di pangkuan Kyungsoo. Pria itu menyadari sekarang sudah sepertiga malam. Ia bangkit dan menguap sebentar. Merenggangkan tubuh lalu tersenyum melihat Kyungsoo tak membangunkannya. Pasti melelahkan untuk Kyungsoo berjam-jam dalam posisi duduk seperti ini. Jongin mengambil ponselnya, mengirim pesan untuk seseorang yang ia yakini pasti masih bekerja di jam seperti ini.

'Noona. Tolong bawakan kardus biru diruang kerjaku besok pagi saat noona pulang. Sekalian mampir dengan peralatanmu aku ingin meminta tolong.'

Setelah itu Jongin berdiri. Ia melepas perban di tangannya. Sungguh luka-luka itu akan lebih cepat sembuh jika dia melepas benda ini. Menyelipkan kedua tangan di perpotongan leher dan lutut Kyungsoo. Mengangkat gadis itu bridal untuk kembali ke kamar. Jongin tidak melepas pakaian dalam Kyungsoo, ia takut gairahnya bergejolak jika melihat tubuh polos Kyungsoo. Gadis ini hanya mengenakan kaos putih dan celana pendek. Ia ikut menyusul setelah melepaskan kaosnya. Hanya berbaring, untuk sementara tidak akan lebih.


~ RoséBear~


Pagi menjelang. Jam weeker berbunyi nyaring mengalahkan kicauan burung. Waktu mulai beralih. Dari gelap malam menuju fajar... Raja telah tersenyum pada dunia.

Tapi masih saja ada anak manusia yang menginginkan kehangatan dari segumpalan kain tebal.

Di dalam kamar itu, Kyungsoo masih bergelung di balik selimut untuk beberapa saat. Ia baru terbangun ketika jam weeker berbunyi untuk kedua kalinya. Rambutnya sedikit kusut, mata yang setengah sadar dan bibir hati mengerucut lucu. Sementara suara guyuran air tak berhenti dari dalam kamar mandi.

Sejujurnya Kyungsoo telah bangun sejak tadi. Tapi Jongin tak kunjung keluar dari kamar mandi. Inilah resikonya jika Jongin terbangun lebih dulu.

Kyungsoo tak perlu curiga, Jongin sudah pasti melakukan kebiasaannya di kamar mandi. Kyungsoo pernah membuka pintu kamar mandi untuk menghentikan aktifitas Jongin. Pria itu terlihat sedang melakukan gerakan penari ballet. Kadang Kyungsoo bingung sebenarnya apa yang dilakukan pria itu. Apa dia seorang pelatih tari? Pelukis ah entahlah. Kyungsoo mulai mengeram kesal Jongin tak kunjung keluar. Tapi dia tak mau menerobos masuk lagi. Pria itu bisa benar-benar melakukan ancamannya beberapa hari yang lalu. Memandikan Kyungsoo lalu bisa berlanjut ke aktifitas yang lebih intim lagi.

Memikirkannya saja membuat bagian bawah Kyungsoo panas, berkedut dan meminta diisi. Tapi Jongin telah membuang semua alat 'mainan'nya. Kyungsoo terlalu malu menggunakan jari tangannya. Keadaan ini membuatnya frustasi.

Ekor mata Kyungsoo menangkap surat undangan pernikahan Chanyeol yang masih tergeletak di atas meja. Disana pula ponselnya berada. Kyungsoo meraih ponsel itu, mengirim sebuah pesan singkat kepada Luhan. Meminta gadis itu pergi duluan dengan Sehun. Membiarkan dia bersama Jongin. Sejak hari itu, Kyungsoo benar-benar percaya jika trus bersama Jongin dia bisa melupakan Chanyeol. Semakin sering bersama dan tidak menjadikan pria Tan ini sebagai pelarian. Kyungsoo tak ingin membuat Jongin menunggu terlalu lama.

'Kau selalu berada di sisiku. Membuatku benar-benar nyaman tanpa tahu alasannya. Kuharap karena aku benar-benarbisa mencintaimu Jongin.'

Kyungsoo menunggu pintu kamar mandi itu terbuka. Akhirnya penantian panjang selesai, pria itu keluar dengan handuk melingkar di pinggang. Rambut basah dan dada Tan yang lembab.

"Hai. Kau sudah bangun?"

Mata Kyungsoo fokus pada dada Jongin. Dia beranjak dan melompat dari atas kasur. "Kau juga di pukul disini?" Tanya Kyungsoo sembari menyentuh dada kiri Jongin. Pria itu meraih tangan Kyungsoo. "Tidak apa Kyungsoo."

"Ya! Bagaimana jika tulang rusukmu terluka? Paru-parumu terkena..."

Jongin terkikik geli mendengar kecemasan Kyungsoo. "Aku baik-baik saja. Aku serius Kyungsoo. Lebih baik kau mandi. Aku punya sesuatu untukmu."

"Tapi?"

"Tidak ada penolakan. Apa perlu kumandikan? Kurasa akan butuh waktu yang lama."

Kyungsoo melotot. Dia meraih handuk di gantungan pintu lalu masuk meninggalkan Jongin. Kyungsoo tak akan melakukannya lagi. Jongin tak mau menyentuhnya lebih jauh. Hanya menyenangkan Kyungsoo dan gadis itu tak mau mendengar Jongin memuaskan dirinya sendiri di kamar mandi.


~ RoséBear~


Bagi Kyungsoo, pagi ini ia tak butuh banyak waktu di kamar mandi. Dia keluar dengan rambut basah digulung handuk kecil. Matanya membulat lucu, setengah terkejut mendapati seorang perempuan cantik, tersenyum dengan pipi bao 'nya yang khas.

"Akhh kau sudah selesai Nona? Perkenalkan aku Kim Minseok. Jongin meminta bantuanku untuk datang kemari."

Kyungsoo mengerjap beberapa kali. Tubuhnya reflek menunduk memperkenalkan diri juga tanpa mengeluarkan pertanyaan.

Perempuan cantik itu memberinya pakaian dalam berenda yang sangat lucu. "Pakailah ini dulu," Kyungsoo hanya menurut. Mengambil dan memakaikannya tanpa curiga apapun. Pandangan matanya menangkap Minseok mengeluarkan sebuah gaun soft blue selutut menerawang dengan bordiran bunga mawar di bagian bawah. Jika melihat dalam jarak yang dekat ia semakin yakin, ini jenis pakaian couture. Sebuah mahakarya tertinggi dari dunia mode. Ibunya punya beberapa pakaian seperti ini yang akan dikenakan dalam acara-acara penting saja. Salah satunya, gaun pernikahan ibunya, lalu gaun ulang tahun pernikahan dengan sang Ayah. Oh ya Luhan juga punya jenis pakaian ini, ketika menghadiri pesta ulang tahun perusahaan keluarga Sehun, dan kini ia bisa melihat baju mahal itu mendekatinya.

"Kau suka? Jongin membuatnya dengan sangat cepat dan juga hati-hati."

"Jo-jongin?" Kyungsoo membeo. Dahinya berkerut membuat Minseok terkikik kecil. "Ya. Dia yang membuatnya. Maaf terlalu sederhana. Karena hanya dibuat satu minggu di sela pekerjaannya."

Kyungsoo meneguk lidahnya ketika Minseok menggantung pakaian itu di dekat meja rias. Perempuan itu menutup tubuh Kyungsoo dengan kain hangat. Ia juga meminta Kyungsoo untuk duduk.

Dan ini pertama kalinya Kyungsoo melihat kotak make up sebesar yang Minseok buka. Itu juga dari merk terkenal. Ia merasakan hawa dingin ketika Minseok mengelap mukanya menggunakan handuk. Perlahan perempuan itu merias wajah Kyungsoo kemudian beralih ke rambut. "Kalung ini memang cocok untukmu."

"Hm?" Kyungsoo mengintip Minseok dari cermin. Tangan perempuan itu masih sibuk merapikan rambut Kyungsoo yang cukup panjang.

"Kau tahu Kyungsoo? Aku sedikit terkejut mendengar Jongin datang ke kota ini. Uncle tak bicara apapun, tiba-tiba dia sudah mendatangiku begitu saja. Dia cerita banyak tentangmu."

"Aku?"

"Ya. Gadis yang disukai adik sepupuku. Kau cantik seperti yang kubayangkan, tidak banyak menuntut seperti yang diharapkan laki-laki, menyenangkan di ajak bicara."

Hati Kyungsoo menghangat mendengar pujian Minseok. Apalagi mendengar kata adik sepupu. Dia tersenyum sangat tulus menjawab ucapan Minseok.

"Sekarang pakailah gaunnya," Minseok beranjak mengambil pakaian Kyungsoo. Kyungsoo tak bisa memakainya sendiri, terlalu banyak tali di bagian punggung. Minseok harus membantu Kyungsoo sebelum membereskan peralatannya.

Tadinya Kyungsoo malu untuk keluar seperti ini. Ia pikir sedikit berlebihan, penampilannya seperti artis di red karpet. Memikirkannya saja membuat Kyungsoo mual. Bayangan tentang banyaknya kamera. Padahal dia tak akan pergi ke tempat seperti itu. Lagian Jongin akan berada disisinya.

Di luar pria Tan telah menunggu Kyungsoo. Ia hanya mengenakan kemeja bergaris vertikal rapat dimana krem dan cokelat tua berkolaborasi menjadi warna senada. Dipadu dasi polos dan jas hitam. Pria itu tampak formal namun tetap easy. Wajah Jongin terlihat lebih segar karena ia baru memotong rambut. Kyungsoo sangat yakin itu, semalam dia membelai rambut Jongin. Walau pemuda itu menata sebagian rambutnya ke atas, tapi potongan rapi di bagian pinggir itu tak bisa tertutupi. Tak di pungkiri lebam di pelipisnya sedikit memudar karena make up. Hanya dalam beberapa menit saja dia berubah banyak hal. Jongin terlihat errr lebih tampan dari biasanya. Kyungsoo yakin, Minseok telah membantu pria itu selama dia di kamar mandi.

"Apa tidak berlebihan tamu undangan akan lebih cantik dari pengantin perempuan?"

Kyungsoo membulatkan matanya mendapat pujian dari Jongin. Pria itu mengulurkan tangan meminta Kyungsoo untuk mendekat. Rasanya seperti dia diserahkan pada lelaki ini. Minseok terkekeh pelan. "Aku tidak berlebihan Jongin. Kalau begitu aku akan pergi."

"Hmm terima kasih noona," Jongin mengecup pipi kanan Minseok sebelum perempuan itu pergi.

"Kau sangat cantik Kyungsoo," pujinya untuk terakhir kali kepada Kyungsoo.

"Terima kasih banyak," Kyungsoo berucap sungguh-sungguh.

Gadis itu baru saja akan mengambil kunci mobil namun tarikan Jongin membuatnya bingung. "Jo-jongin. Kunci mobilku masih di sana," Protes Kyungsoo mencoba menarik Jongin masuk. Heels dark blue ini menyulitkan langkah kaki Kyungsoo.

"Tidak. Hari ini pakai mobilku."

"Mobilmu?"

Jongin melirik Kyungsoo berkerut. "Tentu saja."

Seingat Kyungsoo Jongin tak pernah menggunakan mobil. Pria itu terkadang minta Kyungsoo mengantarnya ke halte bus. Atau dia akan menggunakan taxi. Sampai sekarang Kyungsoo masih sedikit penasaran tentang Jongin. Pria ini penuh misteri tak banyak bercerita kehidupan pribadinya.

"Bagaimana kau mendapatkannya?"

Tanya Kyungsoo ketika Jongin membukakan pintu penumpang mobil Porsche dengan seri boxster yang diakui Jongin miliknya. Mengenal Porsche adalah mobil yang dikenal serba mewah dan cepat.

"Aku bekerja. Ingat itu!" Kata-kata Jongin diselipi sebuah seringai jahil. Pria itu bergegas memutar menuju kursi penumpang.


Ia membawa mobil dalam kecepatan rendah. Tentu saja dia harus menahan tekanan pada telapak tangannya, ingatkan Jongin bahwa Kyungsoo sesekali meringis melihat dia memutar stir mobil sekalipun Jongin trus meyakinkan luka ini tidak menghalangi. Sesekali Jongin melirik Kyungsoo, ia mengagumi betapa cantik dan polosnya gadis ini.

"Setelah itu kita berkencan. Ingat?"

"Ya. Aku ingat itu. Kau akan membawaku kemana dengan pakaian dan juga mobil ini?" Kyungsoo baru sadar dan ia segera bertanya.

"Suatu tempat yang pasti kau akan suka. Tapi sebelum itu mari bergandengan tangan denganku selama di upacara pernikahan ini. Aku tahu kau bisa melakukannya."

Kyungsoo mengerti arah percakapan Jongin. Dia mengangguk paham agar Jongin tidak khawatir.


Mereka tiba setelah menempuh perjalanan selama satu jam. Jongin mendapat tempat parkir tak terlalu jauh dari gerbang. Banyak mobil-mobil mewah lain yang terparkir rapi di sana. Kyungsoo akui, keluarga Chanyeol memang sangat kaya. Sudah tentu rekan bisnis Ayahnya akan hadir. Namun tentang Baekhyun, tidak banyak yang Kyungsoo ketahui. Hanya sebatas pembawa acara berita terbaik, cantik, dia juga punya pengaruh cukup besar di perusahaan karena pamannya salah satu pemilik saham dengan nilai cukup tinggi. Lalu kabar tentang kematian Ibunya yang disampaikan Luhan.

Puas mengagumi sederet mobil mewah itu, Kyungsoo disadarkan dengan pintu mobil yang terbuka, Jongin telah menunggunya. Mengulurkan tangan agar Kyungsoo mau bergandengan.

"Tuan putri?"

Sontak dia terkikik geli mendengar panggilan Jongin. Kenapa pria ini benar-benar membuatnya sangat nyaman. Padahal ini pernikahan mantan kekasihnya. Harusnya Kyungsoo merasakan sesak luar biasa, namun hatinya menjadi seringan kapas hanya karena ucapan Jongin.

"Kita masuk sekarang?"

Konsep yang dipakai adalah outdoor. Kursi bersarung soft gold dengan meja bulat terbagi menjadi dua bagian. Dengan karpet merah membentangkan dari gerbang kecil yang dihias banyak bunga segar.

Langit musim panas seakan menyetujui pernikahan mereka. Musik klasik mengalun dengan merdu. Kyungsoo membawa Jongin bergabung bersama Luhan dan Sehun. Kedua orang itu telah sampai lebih dulu. Luhan agak terkejut melihat pelipis kanan serta telapak tangan Jongin yang diberi plester luka.

"Kau kenapa?" Sehun yang pertama bersuara. Mereka telah menjadi teman untuk beberapa hari ini. Tidak terlalu dekat tapi memiliki obrolan yang terdengar akrab. "Aku berkelahi," Jawab Jongin santai.

"Dengan siapa?"

Detik itu pengantin pria masuk, musik yang tadi terdengar berganti dengan alunan piano yang hanya diiringi biola. Dua orang anak muda dengan setelan jas serta gaun putih memainkan kedua alat musik itu beriringan.

"Pengantin pria," Jawab Jongin berbisik membuat Luhan dan Sehun terkejut. Keduanya meneliti Chanyeol. Wajahnya tetap tampan dengan sedikit polesan makeup. Tapi tak bisa dipungkiri, lebam di wajahnya masih sedikit nampak ketika Chanyeol melintas di hadapan mereka. Posisi yang di ambil terlalu dekat dengan red karpet.

Di bawah meja. Jongin mengeratkan tautan jemarinya pada Kyungsoo. Pria itu hanya tersenyum.

Beberapa menit kemudian Baekhyun datang bersama seseorang. Itu pamannya, salah seorang pemilik saham terbesar di Perusahaan lama tempat Kyungsoo bekerja.

"Kudengar Ayahnya meninggal saat dia baru akan masuk kuliah," Luhan berbisik membuat Kyungsoo mengerti situasi.

Perempuan itu cantik mengenakan gaun putih berekor panjang dengan dua orang anak kecil mengiringi mereka. Dia membawa buket mawar putih yang tampak segar.

Kyungsoo menghela nafasnya menyaksikan penampilan Baekhyun. Sangat cantik, tamu undangan terpesona akan kemunculannya. Senyum riang dan begitu lembut diberikan agar Chanyeol menerimanya. Pria itu mengulurkan tangan untuk menerima kehadiran Baekhyun.

Dalam beberapa menit lagi janji pernikahan akan diucapkan.

Jongin mencondongkan kepalanya mendekati Kyungsoo. "Aku punya hadiah untukmu. Bersabarlah~" Bisiknya pelan. Perhatian Kyungsoo tampaknya teralihkan. Dia menatap penuh tanya pada Jongin. Padahal gaun dan make up pagi ini sudah sangat luar biasa. Apa lagi yang akan Jongin berikan?

Tanpa sadar janji pernikahan telah selesai diucapkan. Kyungsoo tersadar ketika mendengar suara riuh tamu serta tepuk tangan. Jongin melepaskan jemari Kyungsoo ikut bertepuk tangan, dia memberi isyarat agar gadis itu ikut larut dalam pesta.

Pesta selesai siang hari. Kyungsoo maupun Jongin meninggalkan lokasi dan tidak ikut menikmati makan siang bersama. Tidak juga untuk memberi salam kepada pengantin baru.

Jongin berjalan mengekor di belakang Kyungsoo sewaktu mereka keluar.

"Tunggulah di sini. Aku akan mengambil mobil untukmu," Dia menepuk pelan pundak Kyungsoo. Meninggalkan gadis itu sendirian lalu berlari menuju parkiran.

Kyungsoo tak tahu harus bagaimana. Tak mungkin dia berlari dengan heels dark blue ini sekedar menyusul Jongin. Kalau jatuh akan sangat memalukan. Jadi menurut saja pada ucapan Jongin. Tidak lama kemudian mobil yang membawa mereka kemari muncul. Jongin menepi mendekati Kyungsoo. Pria itu membuka kaca mobil mengejutkan Kyungsoo. Dia mengeluarkan kotak dengan lukisan lama. Kotak kuno yang menakjubkan. Berukuran cukup besar.

"Bukalah. Aku sudah memesannya sangat jauh."

Perintah Jongin menyerahkan kotak persegi itu pada Kyungsoo. Gadis itu tersenyum.

Tidak ada yang bisa Kyungsoo katakan. Dia mengehela nafas panjang. Kotak ini berisi buket bunga mawar. Tepatnya sepuluh tangkai mawar Juliet dengan beberapa bunga mungil menemaninya. Bentuk kelopaknya yang tidak biasa membuatnya sangat populer. Dengan warna yang super lembut dan aroma yang khas menjadi pesona yang menyihir Kyungsoo. Gadis itu tersenyum, ia menunduk bergumam terima kasih.

"Masuklah," Suara Jongin menginstrupsi.

Gadis itu bergegas masuk. Kado dari Jongin sungguh luar biasa. Tak henti-hentinya Kyungsoo mengagumi pemberian Jongin. Ia pernah berkunjung ke situs pemilik bunga mawar Juliet. Harusnya, melebihi harga apartemen Kyungsoo. Hal itu membuatnya bertanya-tanya bagaimana Jongin bisa mendapatkan bunga ini.

"Jongin," Panggil Kyungsoo pelan. Pria itu hanya menjawab singkat. "Terima kasih banyak."

"Sama-sama. Apa kau merasa senang?"

Kyungsoo mengangguk. "Aku sangat senang. Tapi..." Dia tahu Jongin menyadari kebimbangan Kyungsoo.

"Ya?"

"Terlalu banyak yang membuatku bingung. Aku tidak terlalu mengenalmu... Maksudku,,,"

"Apa yang mau kau bicarakan Soo?" Jongin tetap fokus berkendara. Ia sedang menuju ke suatu tempat. Untuk melanjutkan rencana kencan mereka. Jauh dari hiruk pikuk perkotaan.

"Semuanya terlalu tiba-tiba. Maksudku, pagi ini kau memberiku banyak kejutan luar biasa... Mahal~" Kyungsoo memelan pada kata terakhir namun Jongin bisa mendengarnya. Pria itu mengangguk.

"Sebenarnya bagaimana kau mendapatkan semua ini?" Kyungsoo bertanya penuh kehati-hatian.

Jongin melepas satu tangannya, pergi mengelus lembut rambut Kyungsoo dengan punggung tangan. "Mau mendengar cerita keluargaku?" Tanyanya memastikan.

"Keluarga?"

"Ya. Kau sudah bertemu ibu dan saudara perempuanku," Kyungsoo mengangguk membenarkan.

"Ibuku adalah anak yatin piatu. Dia hanya punya rumah itu sebagai peninggalkan kakek dan nenek. Sedangkan Ayah adalah anak tunggal. Kakek dan nenekku cukup kaya Kyungsoo. Kau lihat Minseok noona, dia cucu dari adik kakek. Sepupu jauh ku. Kau harus tahu jika marga kami sama."

Sebatas itu Kyungsoo mulai memahaminya.

Jongin melanjutkan ceritanya. Ia tak perlu berbohong tentang apapun. "Ayah adalah seorang pilot dan kakek tak bisa menentang keinginannya. Aku satu-satunya yang bisa diharapkan, sejak kecil kakek menggiringku untuk bisa melanjutkan usahanya. Buktinya aku bisa melakukan banyak hal bukan? Menyenangkan bisa terlihat pintar," Jongin terkekeh pelan mengatakan ceritanya pada Kyungsoo. Sementara gadis itu hanya mengangguk. "Lalu Ayah dan ibuku bercerai. Di persidangan ibu mengatakan akan memilih Ryeowook noona dan memintaku tinggal dengan Ayah, teman dekat Ayahmu." Jelas Jongin mengingatkan.

"Hidupmu menyenangkan memiliki semuanya," Kyungsoo terdengar sedikit iri.

"Tidak jadi menyenangkan ketika kau tidak bisa berbagi dengan orang yang kau sayangi. Ibuku menolak kekayaan ini, mengerti?" Seketika Kyungsoo terdiam.

"Dia membiarkan aku hidup seperti ini sementara dia sering mengalami kesulitan. Ibu akan marah jika aku membantu keuangannya."

"Maafkan aku Jongin~" lirih Kyungsoo menyesal.

"Tapi sekarang aku bisa berbagi denganmu. Kuharap kau tidak pernah menolak."

"Jangan terlalu sering. Atau aku akan merasa tidak berguna," Potong Kyungsoo cepat.

Mendengar jawaban Kyungsoo sepertinya Jongin baru sadar kenapa selama ini ibunya menolak pemberian keluarga Kim. Wanita tua itu selalu merendahkan diri namun menjaga harga diri.

Berjam-jam mereka menghabiskan waktu di sepanjang jalan yang menatap langsung ke pantai dan juga laut. Hanya duduk berkendara di dalam mobil. Menjelang malam pergi ke kelas memasak, Jongin hanya menungu hasil karya Kyungsoo dan sebelum pulang keduanya menghabiskan waktu di hall teater. Menyaksikan penampilan drama musikal musim panas.


~ RoséBear~


Terkadang, hal sederhana akan membuat seseorang bahagia. Tapi hal istimewa justru lebih menyenangkan lagi. Perlakuan Kyungsoo tak berubah meski tahu Jongin penerus perusahaan keluarganya. Dia bahkan tidak tahu dimana lelaki ini bekerja. Ia hanya percaya pada perkataan Jongin. Pria itu juga tak menggunakan mobilnya lagi, dia lebih senang di antar Kyungsoo hingga ke halte atau menggunakan taxi.

Beberapa hari setelah pernikahan Chanyeol. Jongin melihat Kyungsoo merapikan beberapa kardus. Setelah gadis itu berangkat lebih dulu, rasa penasaran yang muncul sepanjang pagi mengerubuni pikirannya. Ia membongkar kardus itu pelan-pelan. Kepalanya tertunduk. Senyum miris menyaksikan betapa Kyungsoo menjaga barang-barang ini.

Sudah pasti semua kenangan dengan Chanyeol. Barang-barang ini tidak semewah apa yang Jongin berikan, tapi... Terkesan sangat mendalam. Album photo berisikan kebahagiaan Kyungsoo dan Chanyeol yang di ambil dari jarak jauh tanpa kesadaran dari Kyungsoo. Jongin tahu, Kyungsoo mengalami ketakutan pada kamera. Jadi Chanyeol pasti memasang kamera otomatis jarak jauh. Dia tak pernah sekalipun melihat Kyungsoo tertawa terbahak seperti ini. Mata gadis itu tampak bersinar. Beberapa dari permaianan prize boneka. Pasti usaha Chanyeol cukup gigih untuk mendapatkan boneka ini dari mesin capitnya. Jongin sangat yakin akan hal itu. Di album photo juga terlihat beberapa gambar tentang Chanyeol yang sedang melakukan pekerjaan rumah.

Jika dibandingkan, Jongin tak pandai melakukan hal-hal yang bisa membuat Kyungsoo sangat bahagia. Gadis itu kini memang terlihat bahagia, tapi tak sebahagia ketika bersama pria sebrengsek Chanyeol.

Bel rumah berbunyi. Jongin benar-benar terkejut. Ia yakin itu bukan Kyungsoo, gadis itu akan langsung masuk jika dia kembali. Tergesa-gesa ia membuka pintu untuk menemui siapa yang bertamu sepagi ini.

Tubuhnya terdorong ke dalam secara terkejut.

"Kau masih di sini? Dimana Kyungsoo?"

Itu Chanyeol.

"Ada perlu apa pria beristri mencari mantan kekasihnya?"

"Katakan dimana Kyungsoo? Aku tidak ingin membuat keributan dengan orang sepertimu."

Chanyeol mengintimidasi Jongin yang masih berpakaian kasual. Ia terlihat meremehkan.

"Dia pergi bekerja? Sementara pria yang mengejarnya menunggu di rumah? Kau pelayannya?"

Emosi Jongin tersulut. Namun ia tidak ingin membuat Kyungsoo khawatir lagi. Akan sangat lucu jika saat Kyungsoo pulang nanti sore melihatnya dengan luka. Jongin tak bisa menjamin akan menangkis pukulan Chanyeol sepenuhnya.

"Kau benar-benar tidak tahu diri Jongin."

Tidak heran jika Chanyeol mengenal namanya. Pria itu sudah mendengar percakapan Luhan dan Sehun mengenai keberadaan Jongin di apartemen Kyungsoo.

"Aku sudah menghubungi Kyungsoo agar dia kembali. biarkan aku menunggunya di dalam."

Tubuh Jongin sedikit terhuyung ke belakang saat Chanyeol menerobos masuk ke dalam. Pria itu tak langsung duduk di sofa. Ia melangkah menuju kardus yang tadi di buka Jongin.

Sialnya, tak semua kardus di kembalikan dalam posisi rapi. Jongin tahu pria itu sedang berbangga diri. "Sudah kukatakan dia masih mencintaiku. Kyungsoo akan kembali jika kukatakan prihal pernikahanku dengan Baekhyun. Dia akan menerima itu dan kembali padaku."

Jongin terdiam. Pria itu sedikit penasaran namun ia menepisnya.

"Aku dan Baekhyun hanya akan menikah selama setahun karena permintaan orang tuanya. Kami di jodohkan, dan ibunya baru meninggal musim dingin lalu karena longsor yang terjadi di desa kalian. Kudengar dari Baekhyun ibumu pemilik penginapan itu bukan? Sayangnya istriku tak mengenalmu. Dia hanya tahu karena mengenal kekasih saudara perempuanmu. Dokter muda itu."

Jongin menahan nafasnya, ia tak mau berbalik dan menatap Chanyeol lebih lama lagi.

"Jika kukatakan alasan itu, Kyungsoo sudah pasti akan kembali padaku."

"Aku sampai."

Degh

Jongin mendongak mendapati Kyungsoo yang juga terkejut melihatnya masih di apartemen.

"K-kau belum pergi bekerja?"

"Aku akan berangkat!" Pria itu mengambil jaket yang tergantung di dekat pintu masuk. Melangkah melewati Kyungsoo begitu saja.

"Jo-jongin. Tunggu!"

"Kyungsoo! Aku perlu bicara denganmu."


To Be Continue...


OKE! Ini terasa sedikit lama. Aku harap tidak ada yang keberatan. Pada akhirnya setelah berfikir. Tidak masalah aku update. Malam hari ~

Silahkan sampaikan sesuatu tentang sesuatu yang ada pada Chapter ini. Aku senang bisa berbagi dan mendapat sesuatu yang baru dari kalian. Terima kasih banyak telah mengingatkan dengan baik ^.^


Preview Chapter 09

"Bagaimana aku bisa bicara dengannya kalau kau mendadak pergi melewatiku seperti tadi. Aku memangilmu! Tapi kau membuatku berlari dengan heels ini." –Kyungsoo

"Kenapa kau sama saja dengan pria brengsek itu? Aku memang sudah beristri. Lantas apa yang salah?" –Chanyeol

"Luhan mengusirku. Jadi aku harus bagaimana ketika para gadis punya rahasia mereka sendiri?" –Sehun

Salam hangat,

.

~ RoséBear

(2017, 10 June)

Kau begitu bahagia dengan sebuah keberuntungan heum? Kalau begitu kau juga harus bahagia dengan pengalaman malam ini.'Kai -Unlucky Girl (Cosmopolitan)