Tittle: The Journey
(9th Chapter)
Author: RoséBear
Pair : Kai x Kyungsoo (KaiSoo)
Warning! Just a fiction story. Mature Scane. Adult Story. Romance. GS. Sorry for typo.
"Aku sampai."
Degh
Jongin mendongak mendapati Kyungsoo yang juga terkejut melihatnya masih di apartemen.
"K-kau belum pergi bekerja?"
"Aku akan berangkat," Pria itu mengambil jaket yang tergantung di dekat pintu masuk. Melangkah melewati Kyungsoo begitu saja.
"Jo-jongin. Tunggu!"
"Kyungsoo! Aku perlu bicara denganmu."
Start Story!
Chanyeol berlari mengejar Kyungsoo, menahan gadis itu agar tak meninggalkannya. Tapi Kyungsoo tak bisa dihentikan, Ia mencoba lepas dari Chanyeol.
"Jongin tunggu!" Dia trus saja meronta hingga tubuh Jongin tak terlihat lagi, menghilang di sudut koridor.
"Kyungsoo!" Pekik Chanyeol menyadarkan Kyungsoo. Gadis itu berhenti meronta, ia mendongak. Chanyeol jauh lebih tinggi dari Kyungsoo. Tangan pria itu memegang kedua belah pundak Kyungsoo. Memperlihatkan wajah yang sarat akan kerinduan.
"Maaf Chan. Aku akan meminta Luhan menjelaskan padamu. Dia akan kemari sebentar lagi."
Ia bergegas pergi meninggalkan Chanyeol. Pria tinggi itu meninju dinding apartemen meluapkan kekesalannya. Kyungsoo bisa mendengar itu, tapi ada hal yang lebih penting. Jongin! Pasti salah paham. Nada bicaranya terlalu tidak bersahabat, dia juga tak mau berhenti walaupun Kyungsoo memanggilnya.
Kyungsoo tiba-tiba takut akan itu. Dia sudah bertekad tidak akan menyakiti Jongin tanpa tahu alasan yang lebih jelas.
Saat Kyungsoo tiba di lantai dasar apartemen. Dia tidak menemukan sosok Jongin. Tidak seharusnya dia panik, tapi Kyungsoo mulai menggigiti bibir bawahnya. Nafasnya pendek, dada naik turun dan detak jantung berpacu begitu cepat. Berlari keluar apartemen. Kyungsoo melihat pria itu. Pedestrian yang tidak terlalu ramai karena ini sudah masuk jam kerja. Ada beberapa orang berlalu lalang.
"Jongin!" Untuk pertama kalinya Kyungsoo merutuki kaki pendeknya. Ia kesulitan mengejar pria itu. Sementara Jongin benar-benar tidak peduli karena telinganya tersumpal sepasang headset hitam. Pria itu berjalan menghentakkan kakinya. Ia menarik perhatian beberapa orang di sana.
Kyungsoo mulai kesal, kakinya semakin kesulitan karena menggunakan heels sementara dia trus dipaksa berlari. Mereka tampak seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
Dugh!
"Arkhhh!" Pria itu berteriak sakit. Baru saja ia akan mengumpat karena seseorang melempari kepalanya. Jongin melepas headset kasar, ia berbalik badan.
"Kyung-Kyungsoo?"
Mereka sukses menjadi pusat perhatian orang-orang karena Kyungsoo melempar Jongin menggunakan sepatunya. Dia beruntung bukan bagian runcing sepatu yang memukul kepalanya. Gadis itu berjalan cepat, memakai kembali sepatunya sembari mengomel, "Pria bodoh! Kenapa kau tidak berhenti saat aku memanggilmu!"
Kyungsoo terlalu marah dengan nafas yang tersenggal. Wajahnya memerah karena amarah. Jongin sadar itu, ia segera meraih tangan Kyungsoo. Menghentikan taxi yang melintas.
Beberapa saat hanya diam, terlalu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
~ RoséBear~
"Tuan? Nona? Kita akan berhenti dimana?" Supir taxi menyadarkan Keduanya.
"Berhenti!"
Taxi itu berhenti tepat di sebuah halte. Kyungsoo menarik Jongin untuk duduk di sana. Tidak ada orang di sana karena memang sudah tak beroperasi lagi. Karat di beberapa tiangnya adalah bukti berapa lama halte ini tidak pernah digunakan dengan sebagaimana mestinya.
Kembali duduk dalam keheningan. Kyungsoo tidak tahu harus mulai bicara darimana, bahkan ia ragu alasan kenapa mengejar Jongin. Begitu juga dengan lelaki Tan.
"Jongin / Kyungsoo!"
Mereka sama-sama memanggil nama lawan masing-masing, "Kau duluan."Jongin mengalah pria itu menerawang ke depan. Jalanan yang sepi, hanya ada hembusan angin musim panas dan... mereka.
"Kau marah padaku?"Kyungsoo bertanya. Pria itu mendengus mendengar pertanyaan Kyungsoo, sudah jelas dia marah. Kyungsoo mengundang Chanyeol ke apartemennya tanpa sepengatahuan Jongin. Terlebih lagi apa yang sudah Chanyeol sampaikan tadi.
"Kau sudah bicara dengannya?" Jongin bertanya tanpa memandang Kyungsoo, membuat gadis itu membalik tubuh Jongin paksa. "Bagaimana aku bisa bicara dengannya kalau kau mendadak pergi melewatiku seperti tadi. Aku memangilmu! Tapi kau membuatku berlari dengan heels ini."
Mengangkat sedikit kakinya yang lecet akibat berlari. Jongin meringis melihat kaki mulus Kyungsoo terluka. Rasanya pasti perih.
"Sakit?" Jongin mendesis. Turun dari tempat duduk, mengeluarkan sapu tangan dan mengelap kaki Kyungsoo.
"Biarkan seperti itu. Aku baik-baik saja Jongin," Dia kembali membawa Jongin untuk duduk.
"Chanyeol trus ingin bicara denganku. Kupikir aku harus memberinya kesempatan. Aku juga ingin mengembalikan beberapa barang, jika dia menolak akan kubuang."
'Apa kau yakin akan membuangnya jika dia mengatakan semuanya?' Jongin menatap Kyungsoo dalam. Pikirannya bercabang, terlalu banyak kemungkinan buruk yang tiba-tiba melintas.
"Kyungsoo," panggil Jongin cepat. Gadis itu hanya memberi respon kecil. "Aku boleh menciummu?"
"Hm?" Mata Kyungsoo membulat. Ini pertama kalinya Jongin meminta, biasanya juga pria itu melakukannya secara tiba-tiba. Tapi tatapannya terlalu mengintimidasi. Tubuh Kyungsoo terasa lemas ketika Jongin memegang lengan atasnya. Wajah pria itu tak kunjung mendekat. Dia benar-benar menunggu persetujuan Kyungsoo.
Gadis itu diliputi banyak pertanyaan karena bingung. Tapi perlahan ia mengangguk.
Menarik nafas panjang sebelum bibir Jongin menempel pada bibirnya. Tapi lama Kyungsoo memejamkan mata, ia tak menerima benda lembut itu.
Chup
Hangat! Sesuatu yang lembab namun hangat menempel di keningnya. Jongin mencium pucuk kepala Kyungsoo. Sangat lama dan penuh perasaan seolah ingin melarang Kyungsoo pergi. Tangannya memegang erat pundak Kyungsoo.
Hanya dengan sentuhan sederhana ini Kyungsoo merasa merindukan semuanya. "Jong-Jongin?" Panggil Kyungsoo pelan. Pria itu membuka matanya.
"Aku pernah bilang tidak akan memaksamu memberi jawaban sekarang. Aku akan menunggu Kyungsoo. Kau hanya harus ingat, aku selalu ada di sisimu dan membuatmu nyaman."
Kyungsoo mengangguk mengerti. Dia memang berniat menyelesaikan semuanya dengan Chanyeol karena tidak mau membuat Jongin menunggu terlalu lama. Kyungsoo ingin memberikan hatinya pada Jongin.
Karena Jongin, Kyungsoo melewatkan Chanyeol. Ia meminta Luhan yang menemui Chanyeol.
~ RoséBear~
Di tempat lain. Tepatnya apartemen Kyungsoo. Luhan menunggu bosan sejak Kyungsoo meminta bantuannya agar bicara pada Chanyeol untuk membuang semua kenangan mereka. Keberadaan gadis itu tidak dipedulikan.
Sudah lima belas menit dia diam berdiri dengan televisi menyala. Menunggu Chanyeol bangkit dari sofa dan mulai bicara. Pria itu mengacaukannya, asyik dengan siaran televisi. Jika Luhan bicara, dia memotong dengan mengatakan akan menunggu kepulangan Kyungsoo.
"Yak pria beristri!"
"Kenapa kau sama saja dengan pria brengsek itu? Aku memang sudah beristri. Lantas apa yang salah?"
Degh
Luhan terkejut dengan bentakan Chanyeol. Pria brengsek? Chanyeol tidak mungkin mengatakan Sehun, kekasihnya. Sudah barang tentu itu Jongin.
Plak!
Luhan memukul kepala Chanyeol dengan majalah di tangaannya membuat pria itu meringis. Tapi tak berani membalas. Mau bagaimana pun, Luhan pernah menjadi senior Chanyeol di kampus dulu.
"Tentu saja kau salah. Karenamu Kyungsoo menderita! Bagaimana kau bisa berselingkuh lalu menikah dengan jarak yang begitu cepat. Kau tidak pernah pikirkan perasaan Kyungsoo." Gadis ini, jika dia sudah marah akan sangat mengerikan. Chanyeol terdiam, kepalanya menunduk menatap karpet berbulu. Mereka masih berada di ruang tamu Kyungsoo.
"Kyungsoo ingin melupakanmu. Sebaiknya jangan temui dia."
"Aku tidak bisa."
Luhan mengernyit mendengar ucapan Chanyeol. Pria itu berdiri, dia melangkah menuju tumpukan kardus di sudut. Beberapa kardus terbuka, Luhan mengikuti langkah Chanyeol.
"Aku mencintainya. Sangat." Bisiknya pelan. Setidaknya Luhan bisa mendengarkan suara Chanyeol. Pria itu berjongkok, jemari tangannya perlahan mengambil satu persatu lalu mengeluarkannya. Menata berjejer di lantai, menikmati kenangan lamanya bersama Kyungsoo. "Kau tahu betapa aku mencintai Kyungsoo. Kulakukan banyak hal agar dia bahagia bersamaku."
"Tapi kau berselingkuh Chanyeol!" Luhan sakratis.
"Aku tidak berselingkuh. Kami dijodohkan," Chanyeol membuka ceritanya.
Fakta baru yang Luhan ketahui. Apa maksud Chanyeol? Dia harus percaya atau bagaimana?
Chanyeol membaringkan tubuhnya di lantai. Menatap langit-langit kamar ruangan. Dari sudut ini ia melihat Luhan berjongkok. Gadis itu memasukkan kembali barang-barang yang tadi dikeluarkan Chanyeol. Kyungsoo berpesan padanya untuk membuat Chanyeol membuang sendiri barang-barang ini. Kyungsoo benci jika harus membuka semuanya kembali.
"Keluarga menjodohkan kami ketika aku berumur 15 tahun. Aku masih sangat kecil untuk menolak itu. Saat akan masuk kuliah, Ayahnya meninggal, dibunuh oleh perampok. Musim dingin tahun lalu ibunya meninggal. Sejak itu Baekhyun hanya punya aku. Dia tidak tahu aku berpacaran dengan Kyungsoo, tapi aku berniat memberitahunya."
"Kau baru saja berniat heoh?" Luhan menyindir. Dia memaksakan kembali kardus-kardus itu agar tertutup. Duduk bersila menghadap Chanyeol.
"Aku tidak mungkin memberitahunya sebelum pernikahan. Ayah pasti akan mengusirku dari rumah. Ayahku, dia mencintai ibu Baekhyun. Tapi wanita itu tidak sekalipun menduakan mantan suaminya. Makanya Ayah begitu menjaga Baekhyun," Chanyeol menjeda sejenak. Ia menelan ludahnya sendiri dengan pandangan trus menatap ke langit-langit.
"Harusnya kau tidak berpacaran dengan Kyungsoo kalau sudah tahu dijodohkan."
"Maafkan aku. Aku berencana akan menceraikan Baekhyun setelah satu tahun, setelah aku mengembangkan perusahaanku sendiri, setelah aku bisa menjalani hidup dengan baik tanpa campur tangan Ayah."
"Chan.. Apa kau berharap Kyungsoo akan kembali padamu setelah satu tahun? Kau tidak melihat betapa dia membencimu. Kau telah salah menilainya," Luhan benar-benar kehabisan kata-kata. Dia benci Chanyeol saat ini. Karena Luhan tahu betapa Kyungsoo tersiksa oleh perbuatannya. Mengingat jam makan siang bersama mereka setelah Kyungsoo menyaksikan Chanyeol berciuman dengan Baekhyun di ruang penyimpanan. Gadis itu memesan begitu banyak makanan. Meluapkan emosinya, lalu membolos kerja. Menghancurkan kariernya sendiri untuk menghindari Chanyeol. Terkadang malam hari dia bermimpi buruk membuatnya terbangun dengan nafas berat. Butuh hingga dua jam untuk bisa kembali tidur lagi.
"Jika kukatakan alasannya. Aku yakin Kyungsoo mau menunggu satu tahun. Itu tidak akan lama."
Luhan tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak bisa menghalangi Chanyeol mengingat betapa Pria ini mencintai Kyungsoo. Tapi dia juga tak bisa mendukung keputusan Chanyeol karena dia tahu betapa tersiksanya Kyungsoo dan lagi... Jongin. Pria itu mencintai Kyungsoo. Jongin seperti malaikat yang diminta Tuhan untuk trus berada disisi Kyungsoo. Tidak bisa Luhan pungkiri, Kyungsoo seperti besi yang menempel pada magnet bernama Kim Jongin. Dia tidak bisa jauh dari pria itu. Bukankah alasan Luhan disini juga karena Kyungsoo memilih mengejar Jongin yang tampak marah oleh kehadiran Chanyeol.
Gadis ini tersenyum miris. Kenapa semua menjadi rumit dan sulit dimengerti akal sehat, ini terlalu dipaksakan. Otaknya kesulitan memikirkan jalan keluar.
"Sebenarnya Kyungsoo ingin aku mengembalikan semua ini padamu, jika kau menolak aku akan membuangnya," Chanyeol bangkit dan duduk. Tangannya meraih sebagian besar kardus melindungi barang-barang itu. Sungguh protective pria ini sekarang. Luhan sedikit terkejut.
"Jangan. Biarkan Kyungsoo menjaganya. Aku akan menunggunya kembali."
Luhan menghela nafas mendengar perkataan Chanyeol. "Jongin pulang lebih cepat dari Kyungsoo. Jika dia masih melihat semua di sini, aku yakin dia akan membakarnya saat itu juga. Bisa jadi termasuk apartemen ini," Geram Luhan. Ia juga sudah mendengar cerita Kyungsoo tentang mawar Juliet yang Jongin berikan padanya di hari pernikahan Chanyeol dan Baekhyun. Sudah barang tentu pria itu bukan pengangguran seperti yang dilihat orang-orang. Luhan bahkan sedikit penasaran tentang keakraban Sehun dan juga Jongin yang terjalin cepat. Bahkan kekasihnya itu butuh waktu lama itu untuk bisa akrab dengan Chanyeol maupun Kyungsoo.
Saat itu ponsel Luhan berdering. Panggilan dari kantornya. Ia bergegas mengangkat takut itu prihal yang penting.
"Apa? Lima belas menit lagi? aku kesana sekarang," Gadis itu panik setelah menerima panggilan. Dia mematikan panggilan dan menatap Chanyeol segera.
"Jadi kau akan menunggu Kyungsoo hingga dia pulang?"
"Tidak. Noona~" Chanyeol memanggil Luhan lembut. "Bisakah kau yang mengatakannya? Entah kenapa aku merasa begitu sulit menemui Kyungsoo karena pria itu. Besok, jam enam pagi kutunggu keputusan Kyungsoo di tempat pertama kami berkencan. Setelah itu aku akan pergi ke Thailand menyusul Baekhyun. Ayah memintaku mengurus cabang perusahaannya di sana."
"Akan kusampaikan. Tapi apapun keputusan Kyungsoo. Kuharap kau menerimanya Chanyeol."
Pria itu mengangguk. Mengerti dengan ucapan Luhan jika dia tidak bisa memaksa Kyungsoo.
~ RoséBear~
Ketika Selatan bumi lebih miring ke matahari, saat itu titik balik musim panas dari belahan bumi sedang mengalami fase siang terpanjang di bumi bagian Selatan.
Ia telah menjadi lelaki dewasa yang mempesona. Kebimbangannya tak kunjung luntur. Di ruangan yang paling bisa membuatnya nyaman sekalipun, bayangan tentang gadis itu trus menghantuinya. Entah sudah hembusan nafas berat yang keberapa kali sejak dia berhadapan dengan beberapa pekerja lainnya.
Kim Jongin.
Pria tampan dengan sejuta pesona luar biasa. Hidupnya tampak biasa saja di luar sana. Tak banyak yang mengenalnya sebagai pekerja keras, hanya segelintir orang saja. Di pub, para wanita mengenalnya sebagai sosok 'KAI' yang luar biasa. Tiada pesona Jongin yang bisa pudar, penampilan semacam bad boy dengan seringai mematikan. Wanita berpakaian minim dengan senang hati menempelkan tubuhnya di atas pangkuan Jongin. Merasakan kejantanannya yang sering mengetuk celana dalam mereka. Tapi tak pernah bisa menyentuh benda itu. Jongin bukan orang yang cepat mabuk, dia bisa menghabiskan beberapa botol minuman beralkohol tanpa kehilangan setengah kesadaran. Hanya saja, kapan terakhir kali dia mendatangi pub malam? Rasanya terakhir kali adalah sebelum pergi berlibur ke penginapan ibunya. Setelah itu semua bergulir membentuk aliran baru untuk cerita hidup Jongin.
Lain di luar, lain pula di dalam. Dia seperti burung dengan sangkar emas. Puluhan pelayan berlalu lalang di rumahnya melayani apapun kemauan sang tuan muda yang sering ditinggal Ayahnya.
Dia tidak perlu khawatir mengenai keuangan, keluarganya sangat kaya raya. Walau di rumah, pandangannya sering kali mengarah ke luar jendela. Jongin merindukan sosok ibu dan kakak perempuannya. Semasa tinggal di desa ibunya, puluhan pelayan itu juga melayaninya, setelah orang tuanya berpisah, para pelayan itu mengikuti jejak Tuan Kim. Apa yang dia dapat berbeda dengan yang di dapat kakaknya. Tidak pernah ada yang menanyakan perjalanan Jongin hari ini, bagaimana sekolahnya, gurunya dan teman-temannya. Setiap pulang dia selalu di sambut puluhan pelayan dan dia tidak pernah menyambut kehadiran siapun di rumah itu. Ayahnya selalu pulang ketika dia sudah tidur, terkadang benar-benar tidak pulang.
Hidupnya berubah ketika bertemu Kyungsoo. Ia membiarkan Kyungsoo menyentuh dirinya, seutuhnya. Menyambut kepulangan gadis itu lalu mendengarkan keluh kesahnya di tempat kerja. Jangan salahkan Jongin jika dia sangat takut kehilangan Kyungsoo. Kyungsoo, satu-satunya wanita yang dicintai sepenuhnya dan tidak menolak kehadiran Jongin. Gadis itu menerimanya, atau tidak bisa menolak kehadirannya? Kebimbangan itu mendatangi Jongin sepanjang hari ini.
Sejak pertemuan ketiga dengan Chanyeol, alasan Chanyeol harus menikah dengan gadis lain, dia menjadi lebih banyak diam.
"Tuan Kim? Maaf, kau mendengarkanku?"
"Jongin~" Minseok yang duduk di sebelah Jongin menyenggol lengan pemuda itu. Mengembalikannya ke alam sadar. "Oh ya?" Dia terkejut. Matanya berkedip beberapa kali menatap bingung beberapa orang yang duduk melingkar di meja bulat hijau.
"Anda akan ikut ke pagelaran musiman di Paris?" Wanita yang paling tua mengungkapkan inti penjelasannya.
Jongin menarik nafasnya, beberapa detik otaknya mencerna kejadian saat ini. Dia salah satu pimpinan Perusahaan ini. Sebagai salah satu pimpinan di cabang terbesar perusahaan keluarganya, keputusan Jongin mempengaruhi nilai jual produksi. Setelah selama ini dia menghabiskan waktu bekerja melalui telepon dan juga asisten pribadi. Setelah saran Ayahnya, Jongin datang kemari. Mereka sudah membentuk Tim untuk di berangkatkan ke Paris menghadiri fashion week. Acara besar yang diselenggarakan selama satu minggu penuh.
"Maaf aku tidak bisa. Kalian semua bisa pergi," Semua orang di dalam ruangan menghela nafas. Tuan muda ini tampak sulit sekali bersosialisasi.
"Baiklah... Kami akan berangkat sore ini akan kuminta beberapa manager menyerahkan dokumen langsung kepada anda."
"Ah maaf," Minseok yang duduk disebelah Jongin mengangkat tangan melakukan instrupsi.
"Nyonya Choi, sebelumnya aku minta maaf. Tapi bisakah aku berangkat besok malam? Masih ada yang harus kukerjakan di sini."
Jongin menghela nafas, dia bersama Minseok yang terakhir berada di ruang rapat para pimpinan. Pria itu sibuk dengan beberapa kertas yang harus di tempel di ruang pribadinya, sementara Minseok membereskan dokumen pribadi miliknya. Gadis cantik itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
"Untukmu."
"Hng?"
"Kau bilang Kyungsoo takut pada kamera. Jadi aku ambil gambarnya diam-diam."
Jongin menerima satu gulungan kertas photo. Kenapa Minseok harus mencetaknya sebesar ini. Tapi Kyungsoo tampak sangat bahagia ketika mengenakan pakaian yang ia buat. Beberapa detik, Jongin tersenyum bahagia menyaksikan senyum tulus Kyungsoo. Dia mengangguk mengucapkan terima kasih.
Keluar dari ruang rapat menuju ruang pribadinya. Jongin menyukai tempat yang luas. Karena dia bisa melakukan banyak hal secara bebas. Seperti menari. Menabur pensil gambar dimanapun dia mau. Mendesain pakaian dan kini dia menempel photo Kyungsoo di balik pintu. Ruangan itu memiliki sebuah sofa kulit yang cukup nyaman, ranjang besi, lalu meja lebar dengan satu kursi kayu. Di sudut kanan ada beberapa patung, ada yang setengah di tempeli dasar pakaian. Lalu miniatur patung di atas meja nampak cantik menyerupai pakaian yang dikenakan Kyungsoo saat pergi ke pesta bersama. Pria itu juga memiliki kamar mandi sendiri di dalam serta cermin memenuhi dinding barat. Ruangan ini tidak memiliki jendela karena di buat di bawah gedung. Jadi langit-langit di lukis menyerupai langit musim panas dengan warna biru sedikit goresan tinta putih.
~ RoséBear~
Karena rapat yang panjang, ia harus pulang larut malam. Ini pertama kalinya Jongin pulang semalam ini. Ia terpaksa membawa mobilnya karena tidak ada taxi yang terlihat.
Saat pulang, pria itu menemukan pintu apartemen tidak terkunci. Keningnya berkerut, segera saja mencari keberadaan Kyungsoo. Tapi hasilnya nihil padahal makan malam masih terasa hangat di atas meja. Entah kenapa malam itu dia melangkah ke apartemen Luhan.
"Oh. Kau mencari Kyungsoo? Dia di dalam bersama Luhan," Sehun yang baru menutup pintu di kejutkan oleh kehadiran Jongin.
"Kau sudah mau pulang?" Tanya Jongin bingung.
"Luhan mengusirku. Jadi aku harus bagaimana ketika para gadis punya rahasia mereka sendiri?" Sehun mengangkat bahunya menjawab pertanyaan Jongin. Pria itu menepuk pundak Jongin. "Bawalah gadismu pulang. Aku akan kembali setengah jam lagi. Setelah membeli makan malam."
Jongin terkekeh mendengar perkataan Sehun. Dia tertawa kecil dan mengangukkan kepala.
Sebisa mungkin tidak menimbulkan keributan, Jongin melangkah tanpa suara mengganggu dia sudah terbiasa karena dia pernah belajar balet. Pantulan Kyungsoo dan Luhan dari kaca hitam yang menempel di lemari penuh dengan keramik-keramik koleksi Luhan terlihat oleh Jongin. Kedua gadis itu diruang makan. Mereka tidak menyadari keberadaan Jongin karena terhalangi tembok.
Sekali saja Jongin penasaran kenapa Kyungsoo duduk sementara Luhan berdiri. Mereka sedang mengobrolkan sesuatu. Instingnya bekerja untuk mendengarkan.
Dada Jongin seperti tersentak mendengarkan Perkataan Luhan. Mereka membicarakan kedatangan Chanyeol tadi pagi. Barulah Jongin sadari jika Kyungsoo benar-benar meminta Luhan menemui Chanyeol.
"Terima kasih sudah mengeluarkan barang-barang itu sebelum Jongin pulang Lu."
"Yeah... Akan buruk jika dia membukanya. Tentang Chanyeol... Dia ingin aku menyampaikan sesuatu padamu," Dada Jongin bergemuruh. Ia berfirasat buruk. Kebimbangannya kembali muncul, mengikuti saran Sehun membawa Kyungsoo pergi atau mendengarkan. Tapi sedikit rasa penasaran membuat kakinya bertahan ditempat.
"Mereka di jodohkan Kyung. Ayah Baekhyun meninggal saat dia masuk kuliah. Ibunya menjadi korban longsor musim dingin tahun lalu. Mereka dijodohkan sejak berumur 15 tahun. Chanyeol berencana menceraikan Baekhyun setelah satu tahun pernikahan mereka untuk menghindari kecurigaan Ayahnya. Dia ingin aku menyampaikan ini padamu."
Kyungsoo mendengus. Beberapa menit mereka hanya diam. "Lalu kenapa dia memintaku menjadi kekasihnya?"
Luhan menarik nafas dalam. "Aku sudah bertanya padanya. Chanyeol ingin bertemu denganmu di tempat kencan kalian pertama kali. Besok jam enam pagi. Apa kau akan memenemuinya?"
Saat itu ponsel Luhan berbunyi. Terdengar seperti panggilan Sehun yang menanyakan menu makan malam apa yang Luhan inginkan. Jadi Jongin memilih beranjak meninggalkan apartemen Luhan.
Sementara Luhan menerima panggilan. Kyungsoo masih saja berfikir. Luhan kembali bicara saat panggilan diakhiri.
"Dia masih mencintaimu Kyungsoo."
"Tapi juga mencintai Baekhyun. Aku bisa merasakan itu Lu, dan lagi... Aku tidak mau menyakiti orang lain."
~ RoséBear~
Di dalam kamar mandi. Jongin telah memakan waktu hingga satu jam lamanya. Mencoba menenangkan diri sendiri. Dia keluar dengan tampilan yang lebih baik. Kaos hijau lumut dan celana jeans selutut. Pria itu mendapati Kyungsoo telah menunggu di ruang makan.
"Kau pulang malam?."
Entah kenapa ketakutan Jongin tentang Kyungsoo akan menemui Chanyeol muncul. Ia memalingkan wajahnya, menatap apapun. Sebisa mungkin menghindar dari tatapan Kyungsoo. "Banyak pekerjaan," Tapi dia berusaha untuk memberi jawaban. Pria itu duduk di hadapan Kyungsoo.
"Hmm. Kalau begitu makanlah yang banyak," Kyungsoo melayani Jongin. Menuangkan nasi secukupnya, menyodorkan mangkuk berisi daging serta sayuran.
Mereka makan dalam keheningan. "Jongin~"
"Hng?" Keningnya Jongin berkerut karena Kyungsoo menatapnya. Gadis itu sukses membuatnya tidak karuan. Ada rasa penyesalan karena melihat Kyungsoo tampak khawatir kepadanya. "Setelah makan mau menemaniku menonton film?"
"Uhm."
Jongin merasa menjadi orang yang pelit memberikan suaranya untuk Kyungsoo. Dia lebih banyak diam dan memilih menghabiskan makanannya. Jongin beranjak lebih dulu tidak seperti biasanya menuju wastafel. "Malam ini biar aku yang mencuci," Ucapnya berusaha menenangkan Kyungsoo. Gadis itu tersenyum mendengar ucapan Jongin. Dia tidak membiarkan pria itu melakukan pekerjaan rumah sendiri, Kyungsoo tahu Jongin sangat kikuk untuk hal semacam ini. Jadi dia berdiri di sebelah ikut membantu. "Aku senang bisa melakukannya bersamamu," Ungkapan itu tulus dari hati Kyungsoo.
Malam ini Kyungsoo mengambil posisi Jongin. Dia membaringkan kepalanya di pangkuan Jongin. Menikmati bagaimana cara pria tampan ini menghabiskan cemilan malam mereka. Rasanya sedikit berbeda daripada melihat Jongin dari samping ataupun dari depan. Entah perasaan Kyungsoo atau memang Jongin tampak lebih dewasa malam ini. Rahang itu sangat tegas, hidungnya tidak terlalu mancung, Jongin juga menjaga mulutnya untuk tidak tertawa lebar. Tanpa sadar Kyungsoo terlelap sembari memeluk perut Jongin.
~ RoséBear~
Langit malam musim panas terasa sedikit hangat. Bintang dan sinar bulan yang terang menjadikan langit tak terlalu gelap. Hiruk pikuk kota yang tak pernah tidur semakin semarak dengan hawa musim panas. Ketika para angsa bermigrasi, mereka mampir untuk menghilangkan dahaga. Suara angsa-angsa itu membangunkan Kyungsoo menjelang fajar. Ia merasakan berat pada perutnya, tangan Jongin melingkar di sana. Memeluknya begitu posesif. Pria itu juga membiarkan Kyungsoo menggunakan lengannya sebagai bantalan. Kyungsoo akan sulit untuk melepaskan pelukan Jongin dalam posisi ini. Padahal dia harus pergi ke suatu tempat sebelum fajar berakhir. Kyungsoo sedikit bergerak. Membuat Jongin makin mengeratkan pelukannya. Gadis itu menghela nafas panjang, otaknya mulai berfikir. Ia bergeser mendekatkan wajah mereka. Mencium bibir Jongin lembut membuat pria itu mengerang dalam tidurnya.
"Hgnhhhh."
Kyungsoo tersenyum, Jongin melonggarkan pelukannya. Ia menepuk dada Jongin yang tak terlapisi pakaian. Pelan untuk menenangkan pria itu. Perlahan dia bangun.
Jika ia tertidur di luar kamar, biasanya Kyungsoo akan terbangun dengan pakaian lengkap. Jongin tak pernah menyetubuhinya sejak pria itu tiba di sini, tapi Luhan bersikeras Kyungsoo harus menjaga diri dan Jongin juga benar-benar berusaha menjaga diri agar tidak menyakiti Kyungsoo. Meyakinkan Kyungsoo agar percaya padanya.
Ia bergegas mengambil kunci mobilnya dan juga mantel. Jika pergi sepagi ini, hanya ada satu tempat yang bisa Kyungsoo singgahi. Dia pernah berkencan dengan Chanyeol untuk pertama kalinya di sana. Menjelang fajar sebelum pria tinggi harus bekerja membawakan acara berita pagi.
Kyungsoo datang lebih dulu. Dia menikmati udara pagi, tiupan angin musim panas, suara desiran air serta angsa-angsa yang bermigrasi. Salah satu jembatan menuju kantor lamanya, jika di musim panas biasanya akan ada angsa liar yang bermigrasi. Chanyeol yang menunjukkan tempat ini pada Kyungsoo. Sama seperti dulu, sangat menyenangkan berada di sini pada pagi hari.
"Maaf aku terlambat," Pria itu akhirnya tiba. Ia mengenakan pakaian rapi serta sangat tampan. Senyuman riang itu tak pernah pudar dari wajahnya. Kyungsoo hanya tersenyum tipis. Ia kembali duduk di kursi kayu. Menghadap ke sungai dan juga gedung-gedung bertingkat dimana lampunya masih menyala. Sungguh pemandangan yang sangat indah.
Chanyeol mengambil posisi duduk di sebelah Kyungsoo.
~ RoséBear~
Sementara itu seorang pria tan tak mengenakan mantel berdiri di balik pohon. Bersembunyi seperti seorang pengecut.
Jongin.
Merasakan sesak di dadanya. Terlalu banyak yang membuatnya merasa sakit. Kyungsoo yang pergi saat fajar tanpa memberitahunya apapun, Kyungsoo yang menemui mantan kekasihnya di tempat kencan pertama mereka, tempat yang sudah tentu memberikan kesan mendalam, pemandangan seperti ini hanya akan ada saat musim panas, saat para angsa liar bermigrasi dan apa yang baru saja di lihat Jongin, ia pikir pengintaiannya akan berakhir. Mereka hanya mengobrol dalam tenang. Chanyeol tidak akan menyakiti Kyungsoo 'nya. Itu yang Jongin harapkan, hingga dia mengikuti Kyungsoo kemari. Ia sungguh beruntung rapat panjang kemarin membuatnya membawa mobil untuk pulang. Memudahkan agar mengikuti Kyungsoo.
Tapi kejadian setelah itu ingin membuatnya melompat dari semak. Hanya dengan melihat, nafasnya tertahan, mata membelalak lebar. Tapi tubuh Jongin terlalu kaku seperti kakinya tertanam di dalam tanah.
Jika saja Chanyeol memaksanya sepihak mungkin dia benar-benar akan berlari untuk menghajar pria bermarga Park itu. Hanya saja, tangan Kyungsoo terlihat jelas memegang mantel yang digunakan pria itu. Kyungsoo, menikmati ciuman dengan Chanyeol.
Air matanya mengalir. Jongin tidak mengerti kenapa dia harus seperti ini. Terlihat seperti bocah idiot yang baru saja kehilangan permen gula.
Kepalanya tertunduk tak ingin melihat kelanjutannya. Dia memilih berbalik dan pergi. Seperti yang Chanyeol katakan, Kyungsoo akan kembali pada pria tinggi itu. Untuk sementara, Jongin merasa sebagai pelarian. Apa masih pantas dia menunggu jawaban Kyungsoo? Dengan apa yang ia saksikan sudah seperti jawaban langsung.
Mobil mewah itu melaju membelah angin di jalanan. Tak ada tempat pasti yang ia tuju hingga matahari menyingsing. Perjalanan setengah hari membuat mobil berhenti karena bensinnya habis.
~ RoséBear~
Sejak kembali Kyungsoo kehilangan Jongin. Ia pikir semua baik-baik saja, mungkin Jongin pergi bekerja lebih cepat. Tapi ucapan Sehun beberapa menit lalu membuatnya terdiam cukup lama.
"Kau bertemu Jongin di bawah?"
"Hng? Kupikir kau yang kekasihnya. Kenapa bertanya padaku? Terakhir kali aku melihatnya dia ingin menjemputmu dari apartemen Luhan-ie tadi malam."
Tadi malam? Pikirannya melayang pada perbincangannya dengan Luhan. Apa Jongin mendengar semuanya?
Perasaannya menjadi tidak enak karena tadi pagi seperti mendengar laju mobil kencang setelah dia mengucapkan perpisahan dengan Chanyeol. Kyungsoo bergegas ke Kantor pengelola apartemen. Memeriksa CCTV area parkir tadi pagi. Benar saja, mobil mewah itu ikut keluar sesaat setelah Kyungsoo melaju.
Ini sudah lewat tengah malam dan Jongin belum juga kembali. Hatinya semakin gelisah.
'Maaf aku harus melakukannya untuk menemukamu.'
To Be Continue...
Mohon respon positif nya untuk KaiSoo Shipper. Jangan sampai ketinggalan. Aku bakal update secepatnya agar kita selesai dengan cerita ini dan berlanjut ke cerita lainnya. Terima kasih banyak buat yang baca favourite- follow – review cerita ini. Buat yang baru menemukan cerita ini silahkan tunggu bagian selanjutnya bersama-sama dengan yang lain. Aku mohon dukungan untuk ff 'SEDUCED'. Aku publishnya di EXO NEXT DOOR. Bisa cek profil langsung tentang Lady Rose yang juga update chapter dua.
Tolong siapkan diri untuk chapter selanjutnya. Kalian inginkan Preview tapi jangan sampai salah paham ya. Biar aku beritahu, setelah tamat cerita ini tidak memilik bagian tambahan.
Preview Chapter 10
"Kau kemari karena menyerahkan dirimu huh?"-KAI
"Ya. Tentu saja. Kau suamiku. Kita bisa berbaring di ranjang yang sama Chan." –Baekhyun
"Melamarmu."
Salam hangat
.
RoséBear
[2017, 27 July]
Hari-hari yang indah.Sedang langit begitu biru dan mempesona. –Complementary [KAISOO FF]
