Tittle: The Journey

(Chapter 10)

Author: RoséBear

Pair : Kai x Kyungsoo (KaiSoo)

ChanBaek - HunHan

Warning! Cerita ini ditujukan untuk dewasa. No Children -21. SMUT.

GS. a bit Violence. Chaptered. Suprised story!


Setengah jam berkendara, Kyungsoo tiba di depan sebuah gedung. Sebuah bangunan bertingkat dimana banyak produk mewah dijual di sini. Ini pertama kali Kyungsoo melangkahkan kaki mendekat. Terlihat sangat mewah, penataan halaman yang diberi taman beberapa petak serta penjagaan di depan pintu gerbang bangunan.

Ini adalah tempat terakhir di kota yang Kyungsoo pikirkan. Tapi penjaga di pintu gerbang tak memperbolehkannya masuk.

Ia baru saja akan menyerah hingga ekor matanya menangkap seorang perempuan cantik sedang memasukkan koper ke dalam bagasi mobil ditengah malam. "Minseok-ah!" Teriak Kyungsoo sembari melambaikan tangan. Teriakkannya cukup nyaring, perempuan di dalam sana menoleh. Kyungsoo melambaikan tangan meminta Minseok agar membantunya.

"Kyungsoo? Kenapa di sini?" wanita itu menutup bagasi mobilnya lalu berjalan mendekat.

"Kau baru akan pulang?" Kyungsoo bertanya cepat. Mereka terpisah oleh pagar besi yang menjulang sangat tinggi.

Perlahan Minseok memberi isyarat agar penjaga di gerbang membukakan pintu untuk Kyungsoo. Rasanya tidak enak bicara dengan sebuah penghalang di tengah malam seolah mereka akan melakukan sebuah transaksi underground.

"Ah tidak. Aku akan berangkat ke Paris."

Degh

Hanya perasaan Kyungsoo atau memang dadanya tersentak cukup kuat. Mata bulat itu berkedip beberapa kali.

Paris?

Yeah, dia memang sedang berdiri di depan sebuah bangunan tinggi. Dimana Fashion dan kemewahan menjadi pusat mereka. Ini seperti surga para wanita di dunia ini. Banyak baju mahal yang diproduksi serta di jual disini. Tidak sekedar memproduksi dan menjual, mereka menjalankan bisnis yang luar biasa dengan beberapa bagian departemen serta cabang pada beberapa daerah lainnya.

Koleksi setiap musim senantiasa menghiasi arsip usaha mereka. Kyungsoo menghela nafasnya membayangkan Jongin bekerja di bangunan ini.

"Kau mencari Jongin? Kurasa dia masih di ruang pribadinya. Tadi masih menyala."

Bibir hatinya melengkung ke atas. Setidaknya Kyungsoo punya kesempatan. Dia berharap tidak melakukan hal bodoh seperti di penginapan dulu, perpisahan yang mengerikan. Sekarang Kyungsoo tidak mau berpisah dari Jongin.

"Bisa beritahu aku dimana ruangannya?"

Tanpa banyak bertanya Minseok memberitahu Kyungsoo. Perempuan itu juga punya keperluan mendesak. Dia sudah harus pergi ke bandara atau harus menunggu penerbangan selanjutnya jika terlambat.

"Minseok-ah," Kyungsoo memanggilnya sekali lagi, terdengar sangat ragu. Jantung Kyungsoo berdetak tidak terlalu beraturan. Sebelum melangkah masuk, dia ingin memastikan sesuatu.

"Jo-jongin?"

"Oh. Dia tidak ikut berangkat ke Paris. Kau tahu, dia baru dua minggu di sini. Tolong jaga dia dengan baik Kyungsoo," Sepertinya Minseok mengerti arti tatapan Kyungsoo.

Hatinya menjadi begitu lega mendengar ucapan Minseok, gadis itu melambaikan tangan saat mobil Minseok melaju. Setelah sebelumnya Minseok memberi izin agar Kyungsoo bisa masuk ke dalam bangunan. Penjaga itu segera mengambil alih mobil Kyungsoo sementara gadis itu mulai melangkah masuk dengan pelan.


Pada malam hari pun kota ini tetap terasa hidup. Keadaan di pinggir jalan sedikit berbeda ketika melewati pos penjagaan masuk ke dalam kawasan bangunan. Hanya beberapa orang yang berlalu lalang, Kyungsoo bersyukur Minseok meminjamkan sebuah tanda pengenal agar mudah mengelilingi bangunan yang memiliki sistem keamanan tinggi.

Beberapa kali ia melewati pintu harus menggunakan benda itu. "Jongin~" lirih Kyungsoo pelan. Ia melangkah memasuki ruang bawah tanah. Minseok bilang, Jongin punya ruangan pribadi di bagian bawah bangunan. Tidak terlalu gelap, namun pencahayaan terbilang redup. Kyungsoo melewati beberapa pintu kayu namun terkunci, ia mengetuk tak ada jawaban. Minseok bilang ruangan terbesar di bagian bawah. Yeah, ada satu pintu kayu bercat putih gading. Ia tersenyum, dari sekian pintu ada satu yang tidak terkunci. Kyungsoo berhati-hati dalam melangkah. Matanya terkaget melihat ruangan yang sangat luas. Bahkan ada pintu lain di dalam sana, lalu sebuah ranjang, lemari pakaian, meja kerja, beberapa patung di sudut, gulungan kain dan peralatan lainnya.

Kyungsoo mencoba melangkah masuk. Bibirnya trus saja menggumamkan nama Jongin. Ada suara guyuran air dari pintu di dalam ruangan, terdengar seperti seseorang yang sedang mandi. Kyungsoo sangat berharap itu adalah Jongin dan dia tidak salah masuk ruangan. Pelan Kyungsoo menutup pintu, matanya terbelalak menatap cetak photo. Sangat yakin itu dirinya, background itu juga penataan kamarnya. pasti di ambil secara diam-diam.

Kyungsoo menggigit bibir bawahnya untuk semakin masuk ke ruangan. Kakinya melangkah hati-hati. Menghilangkan semua dampak buruk yang bisa saja terjadi, Kyungsoo memberanikan diri membuka pintu kamar mandi. Namun ia tertarik ke dalam karena seseorang lebih dulu membuka pintu itu.

"Hoaaahhh~" ia berteriak nyaring. Menabrak tubuh yang terasa dingin.

Jongin.

Pria itu memandangnya tajam. Seketika tubuh Kyungsoo merasa lemas. Ini pertama kalinya dia melihat mata Jongin sangat kelam. Tangannya berpegangan erat pada handle pintu. Nyalinya menciut, Jongin seakan raksasa yang bisa menginjak tubuhnya kapan saja. Kening pria itu berkerut bingung.

"Ma-maafkan aku. A-aku mencarimu," Kyungsoo tergagap. Ia menelan ludahnya sendiri. Aroma coklat dan ginger dari tubuh Jongin menghipnotis penciumannya. Pria itu berjalan melewati Kyungsoo. Berjalan menuju lemari, tampak seperti tumpukan pakaian.

"Jongin!" Panggil Kyungsoo menarik perhatian pria itu. "Ada yang mau kubicarakan denganmu," gadis itu berusaha kuat agar bisa berjalan mendekat. Sementara pria itu terhenti, ia berdiri dengan pakaian di tangan. Tubuhnya hanya terbalut handuk dari pinggang hingga lutut, membiarkan air masih menetes dari rambut basahnya.

"Tentangku dan Chanyeol," Kyungsoo menundukkan kepalanya, kedua ibu jarinya bertautan karena gugup. Kakinya trus saja melangkah mendekati pria itu.

Brak

Rasanya seperti melayang, tubuhnya terhempas menghantam ranjang dalam hitungan detik pria itu mengurungnya dengan tatapan tajam dan tindihan yang membuat Kyungsoo menarik diri semakin menempel ke kasur. Mata bulatnya melebar, kesulitan untuk meneguk salivanya sendiri.

Kyungsoo pikir ada yang salah pada Jongin. Tetesan air dari rambut pria itu memercik ke wajah Kyungsoo.

"Jongin~" dia panggil pria itu walau ragu. Kyungsoo hanya berusaha menyadarkan Jongin dengan posisi mereka yang sangat tidak enak rasanya.

"Hmphhhhhh," pria itu menyerang bibirnya. Menekan Kyungsoo untuk semakin terpojok, tidak ada kata-kata manis, tidak pula ada usapan atau jilatan yang lembut. Yang Kyungsoo rasakan Jongin menciumnya beringas. Menggigiti bibir bawahnya dengan kasar, lumatan yang terlalu penuh gairah. Lidahnya menelusup, menjelajah di dalam bibir Kyungsoo. Menghisap bibir itu berkali-kali dengan rakus. Tekanan gigi-gigi pria itu membuat bibirnya nyilu. Kyungsoo terlalu lemah untuk mendorong tubuh Jongin menjauh. Pria itu jauh lebih kuat darinya, tenaga Kyungsoo tak cukup untuk menjauhkan Jongin yang tengah berusaha menekan tubuh mungilnya. Sementara tangan Jongin menarik pakaiannya yang memang menggunakan gaun sabrina dengan area pundak terbuka, salah satu koleksi musim panas yang Kyungsoo punya. Baju itu dengan mudah tertarik kebawah membuat bra berenda yang ia kenakan mencuat keluar.

"Jongin!" Kyungsoo berteriak. Tangannya menolak kedekatan yang pria ini ciptakan. Kaki-kaki Kyungsoo menggelinjang di bawah sana. Merusak tatanan sprei hingga Jongin menaiki tubuhnya, menindih sepenuhnya tubuh Kyungsoo. Kyungsoo hampir kesulitan bernafas, ia memukul lemah dada Jongin. Pria itu kembali menciumnya, mengakhiri ciumannya namun tak lama. Kyungsoo hanya sekali menarik nafas. Jongin kembali menciumnya. Pria itu seolah menuntut sesuatu pada Kyungsoo melalui ciuman kasarnya.

Tangan Jongin terlalu cepat, melepas tali bra yang Kyungsoo gunakan dan dalam sekali tarikan dia melepas pakaian Kyungsoo. Hanya menyisahkan celana dalam hitam tanpa renda. Jongin melepas ciumannya. Ia duduk bersimpuh tanpa menindih kaki Kyungsoo. Di hadapannya, gadis itu tengah meraih udara sebanyak yang ia mampu. Payudaranya naik turun seakan menggoda jemari Jongin. Pria itu menyeringai. Tangannya menarik celana dalam Kyungsoo sebatas mata kaki membuat tubuh wanita itu terekspos sangat indah. Ia kembali menghimpit Kyungsoo. Membelai wajah manis itu memberikan kecupan pada setiap inchi kulit mulusnya. Sama seperti Jongin menyentuh Kyungsoo dulu, terasa seperti kulit seorang bayi karena sangat halus.

"Jongin~ kumohon..." hanya sebuah desisan pelan. Kyungsoo memalingkan wajahnya mencoba menghindari tatapan Jongin. Dia sama sekali tidak memiliki tenaga atas kendali yang pria tan ciptakan. Nafas mereka bertautan, Jongin terlalu dikuasai gairah sementara Kyungsoo merasa ketakutan.

"Jonginhhhmpphhh."

Ciuman kasar Jongin sekali lagi membungkam mulut Kyungsoo. Gadis itu kehilangan kepercayaan dirinya. Pria ini terlalu menakutkan, tanpa kata dan hanya sebuah seringai mengerikan.

"Nghhhhhh.. Arkhhhh~" Kyungsoo tak bisa melanjutkan perkataannya. Jongin meremas payudaranya kuat membuat tubuhnya menggelinjang naik lalu tersentak ke ranjang. Rasanya sakit, seperti dikejutkan oleh sengatan listrik. Tenaga yang tersisah hanya mampu untuk merebut beberapa udara saja.

Pria itu bangkit dengan tangan yang menahan kedua tangan Kyungsoo. Menolak semua perlawanan yang diberikan gadis ini. Dada keduanya naik turun setelah membakar gairah seksual masing-masing, atau mungkin Jongin seorang.

"Bukankah kau menginginkan sentuhanku Kyungsoo?"

Tubuh Kyungsoo bergetar mendengar ucapan Jongin. Ia merasa seperti akan diperkosa oleh orang lain. Jongin yang ia kenal tidak seperti ini. Selalu menjaga tiap inchi tubuh Kyungsoo dengan baik. Tapi ini? Dia seperti orang kelaparan yang menjadi sangat rakus setelah melihat makananya.

"Kau kemari karena menyerahkan dirimu huh?"

"A-aku..." Kyungsoo tergagap. Pria itu membelai tulang selangkangannya membuat panas di bagian selatan Kyungsoo. "Mencarimuhhhhh!" Sekali lagi tubuhnya menggelinjang karena jemari Jongin menusuk lubang vaginanya. Sudah lama tidak ada yang memasukinya, ini terasa sedikit aneh untuk Kyungsoo.

Ia mengatur nafas."a-aku bisa jelaskan Jonginhhhhhhh~" dia kembali mendesah setengah terpekik saat Jongin menambahkan jumlah jarinya di sana. Kepalanya naik lalu membentur kasar kasur. Itu menyakitkan bagi Kyungsoo, sungguh. Pria itu memegang pundak Kyungsoo agar ia tetap berbaring.

"Ya Kyungsoo! Bukankah sudah kukatakan aku menginginkanmu? Tapi kau sangat menginginkan pria brengsek itu."

"Arkgghhhhh~" Kyungsoo mendongak, merasakan perih yang teramat di bagian vaginanya. Lehernya terekspos sempurna untuk tidak sekedar dipandangi. Pria itu merunduk, mengigit kecil kulit Kyungsoo yang menegang, meninggalkan jejak saliva dan bercak keunguan disana.


~ RoséBear~


Kyungsoo terlalu terkejut, Jongin memberinya ciuman-ciuman tanpa jeda, melampiaskan hasrat yang sudah tidak bisa di tahan lagi. Ketika Jongin mengangkat kepalanya, samar-samar Kyungsoo bisa melihat mata pria itu berkabut.

"Aku akan bercinta denganmu seperti yang kau inginkan selama ini."

Degh

Nafas Kyungsoo terputus-putus, dadanya naik turun dan area kewanitaannya sudah lembab dan basah. Ia merasakan panas disana, jari Jongin terdiam beberapa saat. Tiba saat pria itu kembali mendekatkan wajahnya, lidahnya menjilati puting payudara Kyungsoo. Rasanya amat panas, ikut membakar gairah Kyungsoo. Di bawah sana tangan Jongin mulai kembali bermain. Mengaduk kewanitaan Kyungsoo yang mulai berkedut kembali. Mulutnya tak henti menggigiti dan menghisap payudara Kyungsoo.

"Jongin... kumohon~ " Tangan Kyungsoo yang terapit tubuh Jongin berusaha mendorong pria itu.

"Argkkhhh~" Kyungsoo berteriak panik setelah Jongin turun dari tubuhnya, pria itu memiringkan tubuh telanjang Kyungsoo, mengangkat satu kaki kanannya membuat Kyungsoo berusaha menopang tubuh sendiri. Rasanya sakit dan Kyungsoo kehilangan kata-kata saat Jongin trus menggoda dengan tangan. Kecupan-kecupan basah nan dalam pada setiap inchi tubuh Kyungsoo. Pundak dengan kulit sehalus bayi itu mulai nampak berwarna kemerahan akibat perbuatan Jongin.

"Ahhhhhh~" tubuh Kyungsoo yang panas mengelinjang hebat ketika berhasil mengeluarkan cairan dari kewanitaannya. Nafas gadis itu tersenggal, berbeda dengan Jongin. Ia diam sejenak memperhatikan lekuk tubuh Kyungsoo, pria itu mendengus.

Ia membalik tubuh Kyungsoo tengkurap kemudian menindihnya. Memberikan ciuman pada wajah kanan Kyungsoo dari belakang. Pria Tan menahan kedua tangan Kyungsoo dengan tangan kirinya yang diletakkan di atas kepala.

"Kau pasti sangat menyukainya bukan?" Bisik Jongin seduktif sembari menjilati telinga Kyungsoo. Gadis itu memalingkan wajahnya menjauhi tatapan Jongin ketika jari kanan pria itu keluar dari lubang kewanitaannya. Pandangannya menemukan cermin besar yang mempertontonkan perbuatan Jongin pada tubuhnya. Itu membuat sekujur tubuh Kyungsoo merah merona. Namun dia merasa terhina, ini seperti sebuah pemerkosaan.

Entah kapan handuk yang digunakan Jongin telah terlepas membuat tubuh keduanya telanjang di atas kasur bersprei putih yang telah kusut dan ternoda.

Kyungsoo itu terlalu mungil dalam kukungan Jongin di atasnya, pria tan bisa saja meremukkan tubuhnya dalam sekali hentakan.

Jongin melepaskan tangan Kyungsoo, ia menarik bantal, mengangkat tubuh Kyungsoo dengan satu tangan, memposisikan bantal bersarung putih itu menahan bagian intim Kyungsoo.

Ia berjingkat dengan posisi menunduk sedikit memberi jarak pada tubuh Kyungsoo. Kyungsoo merasakan kehangatan Jongin yang sudah tak terhalangi apapun itu mencoba menyentuh kewanitaannya. Membuat kaget, Kyungsoo menatap Jongin dengan mata yang bulat. "Kau sudah siap menerimaku Kyungsoo?" Erangnya pelan.

"Kau tak akan bisa kembali dengan utuh kepada pria itu."

Ini yang Kyungsoo rasakan. Perih. Ketika kejantanan Jongin mencoba mesukinya. Ia terpekik tapi Jongin tak terlalu peduli atau pria itu menulikan pendengarannya. Tangannya bertautan dengan punggung tangan Kyungsoo yang meremas sprei dengan kuat meluapkan semua rasa sakit di sana. Sungguh Kyungsoo merasakan sakit. Rasanya panas, otot tubuhnya berkontraksi dengan hebat.

"Jonginhhhhhh~" Kyungsoo tidak tahu apa ini sebuah kesalahan atau bagaimana. Dia yang telah melangkah memasuki kandang singa yang kelaparan. Inikah bentuk kemarahan Jongin karena sikap Kyungsoo?

Ia mulai merasakan penyatuan yang Jongin ciptakan. Kyungsoo mengerang kesakitan. Tangan Jongin beralih ke pinggangnya, sedikit mengangkat membuat kejantan lelaki itu makin menyatu. Sementara mulutnya menggila pada punggung belakang Kyungsoo.

"Hahkhh!" pria itu mengerang saat menghentakkan kejantannya dalam diri Kyungsoo.

Rasanya sangat perih, Kyungsoo melampiaskan sakitnya dengan mencakar sprei. Lututnya merasakan sakit karena gesekan pada sprei.

Kyungsoo terlalu rapat, kewanitaannya juga panas membuat jongin terbakar gairah, pria itu mulai mengerang dengan brutal. Menghentakkan kejantannya menumbuk lubang kewanitaan Kyungsoo kasar.

Wanita itu berteriak menahan sakit luar biasa. Semua bagian tubuhnya habis disentuh Jongin. Otaknya lumpuh untuk berfikir apa yang harus dilakukan. Mulutnya mendesah begitu saja beriringan dengan hentakan yang Jongin buat. Jongin tak berhenti menghujam dengan kasar, lagi dan lagi.


~ RoséBear~


Kemudian tubuh Kyungsoo merasakan lelah yang teramat. Jongin membuat Kyungsoo mencapai orgasme bersamaan dengan dirinya. Pria itu menenggelamkan kepala pada perpotongan leher Kyungsoo. Dia merasakan belaian dingin dari kalung yang masih Kyungsoo gunakan.

Jongin mengerang pelan, ia menggigit kalung itu serta kulit leher Kyungsoo. Meninggalkan bercak merah dan pasti terasa perih. Tangannya menarik paksa menimbulkan goresan di leher Kyungsoo.

"Arghhhhh~" gadis itu terkesiap, kepalanya mendongak. Jongin mencondongkan wajahnya, "Kau merasa sakit?" Kyungsoo mengigit bibir bawahnya mendengar suara Jongin yang rendah. Entah kenapa hatinya terasa mengecil. Penyatuan mereka belum berakhir, tubuhnya masih merasakan hangat dari milik Jongin.

Pemandangan ekspresi Kyungsoo saat ini mendorong Jongin untuk melakukannya lagi. Meminta Kyungsoo mengantarkannya ke puncak kepuasan tertinggi. Kejantanannya yang masih setengah tertanam di kewanitaan Kyungsoo kembali menegang. Ia benar-benar ingin meledak di dalam Kyungsoo.


Orgasme itu terasa luar biasa, Jongin melepaskan hasratnya yang sudah ia tahan selama ini. Mengabaikan rintihan dan cakaran yang Kyungsoo lakukan di ranjangnya. Pusaran gairah yang tak tertahankan lagi, melebur bersama amarah dan ia berhasil menenggelamkannya ke dalam diri Kyungsoo.

"Kau berhasil membuatku gila Kyungsoo!" Erangnya kasar sembari bergerak cepat di atas sana. Kembali menuju puncak kenikmatan.


Jongin membaringkan tubuh ringkih Kyungsoo yang telanjang. Kabut dimatanya mulai memudar, sementara gadis itu hanya memiliki tenaga untuk meraup udara di sekitar. Jongin menyingkirkan handuk lembab dari atas ranjangnya, ia merangkak memeluk Kyungsoo. Sayangnya hormon bercinta Jongin ingin meledak kembali. Orgasme barusan telah menumbuhkan perasaan yang mengikat terhadap Kyungsoo, rasanya terlalu kuat. Jongin menarik gadis itu dalam pelukannya.

Beberapa saat hingga Kyungsoo terlelap. Dia trus memeluk Kyungsoo. Menggumamkan kata maaf, jemarinya tak berhenti membelai wajah Kyungsoo.

Gadis itu tertidur dalam kelelahan. Jongin harusnya sadar itu.


~ RoséBear~


Di sisi lain bumi ini.

Pria tinggi itu telah menunggu beberapa jam di dalam sebuah hotel. Menunggu serang wanita cantik yang belum kembali dari urusan pribadinya.

Hendle pintu berbunyi. Ia menoleh menatap sosok wanita cantik itu telah tiba.

"Aku membuatmu menunggu lama?"

Chanyeol

Pria itu menggeleg pelan. "Tidak terlalu. Jadi?" ia berdiri dari tempat duduknya. Berjalan mendekati Baekhyun. Perempuan yang beberapa waktu lalu resmi menjadi istrinya. Merentangkan tangannya menerima kehadiran Baekhyun dalam sebuah pelukan.

"Kita bisa pindah besok pagi. Aku sudah mengurus semua keperluan rumah. Apa kau akan beristirahat di sini malam ini?"

Chanyeol merengkuh Baekhyun dalam pelukannya. Menenggelamkan kepalanya menyelip di antara helaian rambut kecoklatan Baekhyun. "Bisakah malam ini aku tidur di ranjang bersamamu?"

Baekhyun terkesiap. Ini pertama kalinya Chanyeol menawarkan diri. Mereka telah diperkenalkan sejak lama, Baekhyun tahu betapa Ayah Chanyeol mencintai Ibunya dan cinta itu diteruskan pada Chanyeol untuk dirinya. Tapi Chanyeol terlalu menutup diri. Usaha Baekhyun seakan sia-sia mendekati Chanyeol.

Dia bahkan berangkat ke negara ini seorang diri karena Chanyeol mengatakan ada urusan pribadi. Baekhyun pikir ini dampak urusan pribadi Chanyeol.

"Ya. Tentu saja. Kau suamiku. Kita bisa berbaring di ranjang yang sama Chan."

Suara Baekhyun terdegar begitu merdu. Sebelumnya mereka tak banyak bicara, hanya sekedar membawakan acara berita yang sama tak lantas membuat keduanya akrab. Beberapa bulan lalu Chanyeol menuruti perkataan Ayahnya, tidak sekalipun dia meninggalkan Baekhyun yang terpuruk karena kehilangan ibunya.

Hanya ketika pergi bekerja Baekhyun merasa lebih baik, ia bersama Chanyeol. Hari itu ia beranikan diri untuk mengatakan semuanya. Ia mencintai pria tinggi ini, amat sangat mencintainya. Baekhyun masuk menjadi pembawa acara berita karena dia ingin mencoba dekat dengan Chanyeol tanpa mengetahui hubungan apa yang telah di bangun Chanyeol selama ini. Yang Baekhyun tahu Chanyeol adalah tunangannya. Dia berhak hanya saja sedikit takut untuk mendekatkan diri.

Sosok Baekhyun begitu periang ketika di lingkungan bekerja karena dia merasakan kesepian saat pulang. Setelah meresmikan hubungan mereka, Baekhyun pikir dia seharusnya meminta untuk tinggal bersama Chanyeol. Pria itu terlalu baik, tidak sekalipun dia meninggalkan Baekhyun. Walau beberapa kali Baekhyun melihatnya melamun.

"Aku ingin memelukmu Baek."

Baekhyun mengangguk sekali lagi. Tangannya menjalar menaiki punggung Chanyeol. Mengusap rambut tebal pria itu. "Tentu saja. Kau bisa melakukannya. Aku istrimu, sepenuhnya aku milikmu. Apa kau tidak lapar? Aku membeli beberapa potong roti dan sup hangat."

Chanyeol mengendorkan pelukannya. Ia menyatukan dahi mereka dan tersenyum. "Ya, kau bisa siapkan sementara aku membersihkan diri."

Satu kecupan lembut membuat pipi Baekhyun merona. Chanyeol menciumnya tanpa sebuah permintaan dan ciuman itu terasa begitu dalam hingga memabukkan.

'Seperti katamu Kyung. Aku harusnya berbahagia dengan Istriku.'


~ RoséBear~


Ditengah keramaian kota yang tertinggal di malam hari. Mobil mewah itu melaju membelah jalan, berjalan pelan dengan pintu kaca penumpang terbuka.

"Ponselnya tetap tidak bisa dihubungi Hun."

Tadinya Sehun ingin mengajak Luhan, kekasihnya yang cantik ini menghabiskan makan malam di luar walau sebenarnya mereka telah melewatkan jam tersebut, karena ini sebuah perayaan. Jaz mahal yang ia kenakan menjadi sia-sia kala Luhan ingin berpamitan dengan teman terbaiknya, Kyungsoo. Kekasihnya tidak menemukan keberadaan Kyungsoo. Ponselnya tak bisa dihubungi dan pihak pengelola apartemen menyatakan Kyungsoo pergi mengendarai mobilnya sedikit tergesa-gesa.

"Arghhh~ kemana perginya dia?"

Sehun tak banyak bicara. Kekasihnya sedang dalam mode yang panik. Bisa-bisa di menjadi tumbal kekejaman Luhan jika salah bicara. Dalam kondisi seperti ini sebaiknya Sehun diam dan menurut saja. Luhan masih ingat batasan Sehun, dia tidak akan membiarkan kekasihnya ini kelelahan ataupun kehilangan hal penting, seharusnya seperti itu.

"Arghhh Kyung~ kau kemana?" sekali lagi gadis itu mengomel. Mereka telah melewati tengah malam. Sehun menghentikan mobilnya di pinggir jalan saat melihat sebuah kedai. Perutnya lapar, dan setidaknya di ingin makan.

"Hun! Kenapa kau berhenti!? Kita masih harus mencari Kyungsoo! Tadi pagi dia menemui Chanyeol dan kudengar Chanyeol telah berangkat ke luar negeri."

Sehun hampir saja mengumpat namun dia menahan amarahanya. Kakinya menginjak pedal gas dan kembali beranjak dari tempat itu. Lelaki ini sedang kebingungan bagaimana cara memberitahu kekasihnya jika di sedang kelaparan.

Hening sejenak hingga...

Kruyukkk

Luhan menoleh menatap Sehun. Kepala mungilnya sedikit miring, "Hun? Kau benar-benar lapar?"

Suara perut Sehun ternyata menyadarkan Luhan. Pria itu memalingkan wajahnya, dia marah namun tidak bisa melampiaskan kemarahannya.

"Kita cari minimarket 24 jam."

"Baiklah~" Sehun setengah berteriak. Melajukan mobilnya keluar dari jalan utama. Tidak berapa jauh sebuah ruko masih menyala dengan lampu yang terang. Luhan yang pertama masuk diikuti Sehun. Mereka hanya membeli mie cup instan dan juga beberapa cemilan ditemani minuman soda.

Ahh jaz mahal berpadu dengan gaun indah selutut itu berbanding terbalik dengan kondisi bangunan. Sebuah minimarket 24 jam dengan meja dan kursi di yang menggeser sedikit ke badan jalan di depan pintunya, ini hanyalah jalan pintas yang dihalangi tembok tinggi.

Sehun menarik satu kursi untuk Luhan duduk, kemudian pria itu duduk di bagian kanan Luhan. Mereka masih menunggu mie instan yang telah diseduh air panas dari pemilik mini market untuk sedikit melunak.

"Aku tahu kau panik. Tapi..."

"Maafkan aku membuatmu kelaparan."

Sehun mengangkat tanganya. Mengelus pelan rambut Luhan. "Tidak masalah. Setelah ini kita cari keberadaan temanmu lagi. Kyungsoo tidak terlalu bodoh untuk melakukan hal-hal mengerikan karena di tinggal Chanyeol." Sehun yang lebih dulu mengangkat cup mie instannya. Tampaknya pria itu sudah tidak bisa menahan laparnya.

"Tapi kurasa dia telah jatuh cinta pada Jongin. Tadi sebelum menjemputmu aku bertemu dengannya di koridor apartemen. Dia bertanya apa aku melihat Jongin. Kurasa pria itu belum kembali."

"Heoh? Apa yang barusan kau katakan?"

Slurpppp

Satu tarikan panjang. Sehun berhasil mengisi mulutnya dengan mie instan. Ia menyedot mie cukup panjang sebelum di potong.

"Ya. Kurasa dia sedang mencari Jongin."

"Kenapa kau tidak katakan itu padaku dari tadi?"

Sehun tak berhenti makan, dengan mulut penuh dia masih bicara. "Kau tidak memberiku kesempatan, kau langsung menarikku ke ruang pengelolaan apartemen lalu keluar dari bangunan itu."

Luhan menunduk malu menghadapi Sehun, kekasihnya ini sudah sangat sabar ternyata. "Tapi kenapa ponselnya tak kunjung bisa dihubungi Hun, Kyungsoo tak pernah seperti ini jika bukan dalam masalah."

Saat itu ponsel Sehun berdering. Nama Jongin muncul di layarnya. Bukan sebuah panggilan, hanya sebuah pesan.

'Hun, Kyungsoo pergi berlibur denganku. Tolong berikan dia izin beberapa hari.'

Wajah Luhan berkerut membaca pesan Jongin.

Yah. Sehun sekarang memang atasan Kyungsoo.

Tapi dia tidak menyangka Sehun memiliki kontak Jongin sampai membuat gadis cantik itu bertanya-tanya seberapa dekat hubungan pertemanan mereka. Kenapa Sehun bisa begitu akrab dengan Jongin?

"Dia menjadi rekan bisnisku dua minggu yang lalu."

Jawaban Sehun tampaknya membantu otak Luhan berfikir lebih cepat.

"Dia adalah penerus Kim Pro. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang barang mewah mulai dari fashion, jam tangan, make up, parfum hingga ke perawatan wanita. Selama ini Jongin hanya bekerja melalui asisten pribadinya, aku sendiri terkejut melihatnya pada pertemuan dua minggu yang lalu. Lantas kau bilang dia tinggal di apartemen Kyungsoo."

Sepertinya pria ini telah mengumpulkan kembali tenaganya hingga bisa memberikan penjelasan yang cukup panjang pada Luhan.

"Apa Kyungsoo juga tahu, sebab dia bilang Jongin memberinya banyak barang mewah? Kenapa hanya aku yang tidak tahu?"

"Kurasa Kyungsoo tidak menyadari yang sebenarnya. Jongin tampak seperti pengangguran bukan. Haha."

"Sekarang aku mengerti kenapa kau begitu akrab dengannya. Harusnya kau beritahu aku," Luhan menarik cup ramen miliknya.

"Maaf sayang. Kau tahu aku tidak terbiasa membicarakan orang. Bagaimana dengan makan malam ini? Kau tidak tahu rencanaku apa malam ini? Kau membawaku berakhir di minimarket 24 jam."

Luhan menoleh dengan pandangan bingung. "Rencanamu makan malam di restoran mana? Besok aku yang mentraktirmu."

"Bukan itu," Sehun tampak merajuk. Bibir tipis pria berkulit putih itu mengerucut. Ia menyudahi mengesap kuah mie miliknya.

"Memang apa lagi rencanamu?"

"Melamarmu."

Hening sejenak, gadis itu terkesiap sejenak. Oh Tuhan. Dia mengacaukan rencana Sehun sangat sempurna dengan berakhir di pinggir jalan yang hanya diterangi lampu jalan dan mini market. Dihadapan dua cup mie instan, beberap cemilan serta minuman soda.


To Be Continue...


Ya. Masih ada kelanjutannya. Sekali lagi aku mengingatkan ini tidak akan ada sekuel atau apapun semacamnya. Oh ya, mohon maaf kesalahan penempatan tanggal publish di chapter sebelumnya. Seharusnya itu adalah juni. Aku terlalu menginginkan Juli. hehe

Khusus untuk chapter depan tidak ada preview ya. Harap menunggu satu minggu lagi bersamaan aku publish SEDUCED part terakhir.

Tanggal 19 dan tanggal 21 pun tunggu sesuatu yang baru di akun ffn ini. Sesuatu yang dewasa dan begitu manis. [Cosmopolitan – Complementary]

Salam hangat

.

RoséBear

2017, 07 July

[Ketika Beethoven sudah mulai mengalami ketulian, ia pun mulai mengubah sebuah karya dengan kehendak sendiri, sudah mulai melenceng dari aturan-aturan yang ada pada periode klasik, dan ketika itu terjadi maka dimulai periode Romantic.]