Terima kasih atas review di chapter sebelumnya :

Oh. ILoveCupcakes—Sibuk? Banget, Kak!#woy! Tapi, sekarang udah sedikit lowong gara-gara waktu ngajar saya yg malam sampe jam 10, sekarang udah pindah siang (gara2 dicemahin org rumah)./ yah, konfliknya sesederhana itu, Kak. Toushiro sibuk, dan yah Rukia yg pasti sebel juga. Makasih udah nyempetin review, Kak. Muach~muach~
Guest 1—Toushiro di sini jadi Raja Ingkar Janji. Tipe cowok paling nyebelin, nih#dibekuin Makasih udah nyempetin review, ya.
Guest 2―setuju! Sekali-kali Toushiro harus juga digituin, harus diberi pelajaran#woy! Makasih udah review ya.
Hanamitan
Yah, Toushiro ma Rukia sama2 terluka sih./ saya memang penggila fiction setting canon/shinigami. Mau di fandom mana pun, pasti fic yg setting canon yg saya baca. Biarpun setting AU juga tidak kalah (mungkin lebih baik dari segi cerita dan menantang), tapi tujuan saya baca2 cerita di ffn adalah untuk lebih dekat dgn kehidupan tokoh di manga-nya (komentarnya udah meluber ke mana2, nih)/ Tenang, saya akan tetap ada di arsip HR, Hana-san. makasih udah nyempetin review, ya.

Terima kasih pula ma yg udah login (sudah sy balas di PM-nya masing-masing): Yuki ChibiHitsu-chan | Xiumin Snape | hikarishe | Eonnichee835


Disclaimer: Bleach milik Tite Kubo
Warning: author yg kembali jadi newbie, bahasa kaku, diksi mengenaskan

Pairing: HitsuRuki dan pasangan lain

.

.

.

.

.

"Bodoh." Suara itu bagai terserak di antara gerimis.

"...Apa?" Tidak tersinggung, justru sirat mata hijaunya meminta penjelasan.

"Anda betul-betul bodoh," Rukia mengulang macam permohonan. Kilatan manik ungunya meminta Toushiro untuk paham―paham bahwa kata 'meninggalkan' tidak pernah menyusup di kepalanya.

Sepasang tangan mendorong dada Toushiro, memberinya jarak; paling tidak, bernapas. Pori-pori kulit menangkap detak jantung menggila si kapten.

"Rukia―"

"Ukitake-taichou segera kemari. Tolong, jangan biarkan masalah kita membuat beliau khawatir." Sudah cukup masalah kesehatan dan kelangsungan divisi mengganggu kaptennya.

Tangan imajiner menamparnya keras, Toushiro sadar sudah bertindak kekanakan. Apa yang terjadi? Sejak kapan tali kendali emosi yang sekuat baja putus semudah jaring laba-laba?

Tanpa izin, Rukia mendorong pintu. Ukitake, dengan tangan siap mengetuk, menjemput pandangan.

"A-apa semuanya baik-baik saja?" Tangan itu turun kembali dengan rikuh, mengerling Toushiro yang penuh minat menatap lantai.

"Iya, semuanya baik-baik saja, Taichou. Anda sudah puas jalan-jalannya?"

"A-ah." Ukitake cuma pergi ke kamar mandi untuk mendengar bisik-bisik anggota divisi ke-10, dan segera kembali.

"Bersiap menuju divisi ke-7? Saya sudah bilang pada Iba-fukutaichou kalau kita akan datang berkunjung."

Semangat Ukitake, yang sebelumnya setinggi menara, sudah menjadi sekerdil bonsai. Namun, "Iya, tentu saja," membuat Rukia cemas adalah hal yang terakhir yang ia inginkan sekarang.

Berujar pamit dan berkata maaf sudah mengganggu, sepasang pemimpin divisi ke-13 hengkang pergi.

Toushiro lantas menatap Rangiku yang berwajah kecewa. "Jangan mencoba menceramahiku, Matsumoto, kalau kau tidak mau aku membuang semua botol sake-mu."

Kesabaran Toshiro sudah tiba di titik kritis. Buktinya, bukan kembali ke meja kerja, kapten itu menjatuhkan diri ke sofa dan berbaring.

Rangiku membuang napas panjang sekali dan sembarangan. Ia menuju meja kerja, menukar map yang salah. Mengerling pada sofa, keluar menutup pintu, tanpa ceramah atau kalimat petuah romansa. Bergeming di tempatnya sebentar saja.

"O-oi sepertinya Hitsugaya-taichou dan Kuchiki-fukutaichou sedang bertengkar."

Ketimbang berceramah sampai mulut berbusa, mengatasi gosip yang akan menular secepat malaria adalah yang paling penting.

Beranjak meninggalkan wilayah kantor, memberi waktu si kapten jenius menata kembali kesabaran, dan juga perasaannya.


#3#

.

Chrysanthemums - truth and innocence


Kesimpulan paling akhir Byakuya, buku itu berada di perpustakaan pribadi. Namun, masih nirhasil selama dua hari ini.

Memutuskan mencarinya lagi nanti, ia meraih segulung kertas. Lalu meminta pelayannya membawa beberapa gulung yang masih berserakan di meja panjang, sekitar enam atau tujuh. Membawanya menyusuri koridor hingga tiba di depan kamar yang didonasikan untuk klub kaligrafi. Menggeser pintu setengah, ia melangkah masuk menghampiri Unohana yang santai menyesap secangkir teh.

Meletakkan gulungan di depan kapten berambut kepang panjang, menyusul gulungan lain yang dibawa si pelayan. Tepat saat pelayan pria itu undur diri, Byakuya duduk di seberang Unohana.

Retsu kaget sekaligus kagum. Banyak juga. Menyimpan cangkir di piring, ia membuka satu gulungan, lebar sekali. Terpajang ukiran kaligrafi indah di sana.

"Itu beberapa karyaku yang masih dalam kondisi bagus."

Unohana tersenyum cerah. "Ini luar biasa, Kuchiki-taichou. Walaupun akan sangat disayangkan jika kaligrafi sebagus ini saya pajang di kamar mandi."

Urat pelipis Byakuya berkedut. "Jangan harap aku akan memberikannya jika kau memasang di tempat se-menjijikkan itu."

Unohana tertawa, tawa yang elegan dan keibuan. Memisahkan gulungan yang sudah ia lihat-lihat dan belum. "Saya bercanda."

Bercanda tidak ada dalam kamus hidup Byakuya. "Aku tidak keberatan jika kau ingin kaligrafi karyaku jadi pajangan dinding rumah sakit. Tapi, bukankah kau bisa memajang karyamu sendiri, Unohana-taichou?"

Ya, bukahkah itu lebih praktis? Selain bahwa Retsu jauh lebih berpengalaman darinya.

Masih antusias melihat-lihat, mengamati, dan mencermati. "Rumah sakit adalah rumah saya yang sebenarnya. Waktu saya lebih banyak habis di sana. Rasanya sangat aneh jika setiap jam, saya memandang kaligrafi buatan sendiri."

Sorot mata Byakuya meminta penjelasan lebih.

Unohana sudah membuka gulungan terakhir. "Saya tidak mau jadi orang narsis, Kuchiki-taichou."

Setengah terdengar seolah Unohana yakin bahwa karyanya sudah sampai ke taraf masterpiece. Setengah lagi terdengar seolah ia tidak berminat untuk mencintai diri sendiri kelewat berlebihan dengan mengagung-agungkan karya bila menjumpainya setiap saat. Mungkin seperti memajang lukisan wajahmu dalam bingkai raksasa dan mengagumi tampangmu yang begitu rupawan.

Byakuya cukup menyukai cara pandang itu.

Meraih secangkir teh; menyeruputnya pelan, penuh kebangsawanan, detail, dan fokus. Byakuya menikmati aktivitasnya sampai pada detik Unohana memekik kecil, memecah konsentrasinya dalam ratusan keping. Hampir saja, ia tersedak; meletakkan bokong cangkir cukup keras mencium piring, Byakuya tidak suka orang yang berisik.

"Kenapa? Apa itu tidak bagus?" jengkelnya.

Unohana terpana, menggeleng. "Bukankah ini," memperlihatkan lukisan kaligrafi dengan gaya ukir yang berbeda dengan gulungan lain, "karya Hisana-san?"

Ah, iya. Itu karya istrinya. Byakuya lupa kalau Hisana juga suka membuat kaligrafi selain melukis dan merajut.

Byakuya termenung seketika.

Unohana menggulung karya Hisana, memisahkan dari tujuh karya lainnya. Ia yakin Kuchiki-taichou tidak akan mau memberikan karya istrinya yang cuma segelintir.

"Saya ambil semuanya kecuali satu. Nanti sore saya akan meminta bawahan―Kuchiki-taichou?"

Byakuya bangun dari kubangan lamunan. Ia tahu di mana Hisana menyimpan buku itu.


. . . . .


Sepasang tangan disimpannya di pinggang. Renji Abarai berdiri menjulang, belagak sombong, ingin memamerkan sesuatu pada empat rekannya.

"Apa?"

"Ada apa, Renji?"

"Tidak ada apa pun yang berbeda."

"Dia sepertinya lupa minum obat."

Persimpangan murka menonjol di pelipis si letnan merah. "Lihat kepalaku! Ada yang berbeda! Iya, kan? Iya, kan?"

"Apa? Rambut api?"

"Tato…"

"Nanas?"

"Kepalamu sedang kutuan, Renji?"

Persimpangan marah meledak jadi ribuan. "Aku tidak kutuan, Rukia!" Gadis itu lanjut mengupas pisang, mendorong masuk. "Apa kalian semua buta?! Ikat kepala baru! Baru! Hadiah dari Hinamori!"

Ooooooooooooooooooooooooooohhhhh.

Hanya itu.

Iba kembali menghitung uang keping demi keping, menambah koleksi kacamata. Ikkaku menyandarkan kepala di batang pohon, menguap lebar. Yumichika membolak-balik majalah fashion, mencari mode rambut terbaru. Rukia masih sibuk dengan si buah pisang.

Wajah Renji tertekuk jatuh, kecewa berat. Duduk menghempaskan bokong di sebelah Rukia, melirik si sobat dengan paras pucat mayatnya.

"Ada apa denganmu, Rukia?" tanyanya, kering.

"Apa? Aku sedang makan pisang."

Renji menoleh ke belakang. Kulit pisang menggunung; tiga piring, Rukia menghabiskan sendirian.

"Kau sedang ngidam?"

Seketika, wajah Renji mencium tanah.

Pria sisanya cepat-cepat melanjutkan aktivitas tertunda. Hampir saja mereka mengutarakan spekulasi yang sama ngaco-nya. Untung saja ada Renji.

Keributan sampai di telinga dua kapten yang duduk di koridor, berdampingan dengan berbagai camilan dan buah.

"Jangan terlalu khawatir pada Kuchiki-fukutaichou, Ukitake-taichou. Dia adalah perempuan yang pintar."

Karena itu, Ukitake pantas cemas. Orang pintar selalu mengedepankan akal sehat ketimbang mimpi muluk.

"Anda sudah dengar tentang divisi ke-5 dan ke-10?" Komamura membelah potongan semangka yang seperti kipas. Disimpannya setengah di piring, menenggelamkan lainnya di mulut penuh gigi runcingnya.

"Iya, tentang Turnamen Musim Panas."

"Bukan hanya itu." Air semangka merembes di bulu lebat sekitar mulut. "Katanya beberapa anggota diminta menginap di penginapan dekat akademi. Kesempurnaan yang diminta Genryuusei-dono tidak main-main."

Ukitake menatap lalat yang hinggap di potongan semangka sebelum terbang pergi oleh kibasan tangan berbulu si kapten serigala. Genryuusei-sensei kali ini kelewatan. "Apa itu berarti tidak ada pengecualian untuk para kapten?"

"Justru mereka yang diwajibkan."

Ukitake memandang barisan semut yang mengendap menuju piring kue kering. Lirihnya, "Ini menjadi semakin rumit."


. . . . .


Rukia baru saja mengembalikan nampan ke dapur saat koridor seberang terdengar panggilan Hinamori. Si persik manis itu melambai antusias dengan muka berbedak debu. Rukia selalu mengagumi semangat yang tidak pernah lekang oleh kondisi itu.

Berjalan cepat menghampiri, baru sadar keberadaan Ashido di belakang letnannya; sosok itu tertutupi batang pohon di pekarangan tengah koridor tadi.

"Beres-beres?"

Kamar itu sebelumnya adalah gudang, dan kini sedang dibenahi oleh si cantik cepol.

"Iya, ini akan jadi kamar Ashido-kun!"

Rukia memandang Ashido. Si rambut merah mengangkat bahu, bertumpuk pedang bekas dilengannya. Ia sudah menahbiskan diri sebagai Shinigami pengelana dan tidak akan tinggal lama di Seireitei. Namun, ia lupa cerita soal obsesi Letnan Hinamori yang terus membujuknya jadi pekerja tetap di markas divisi.

"Sayang, kan, jika kemampuan potensial Ashido-kun menjadi sia-sia dengan mengembara tidak jelas di Rukongai?"

Rukia meraih susunan buku bekas. Menolong, meskipun Hinamori dan Ashido kompak bilang tidak usah. Membetulkan posisi buku di pelukan yang ternyata berat juga, menduga kalau Momo punya alasan lain.

"Etto ... aku juga tidak ingin kalah dengan Hitsugaya-kun dan Kuchiki-taichou untuk perekrutan anggota tahun ini. Masa' kami selalu di luar lima besar?!"

Dengan keberadaan kapten berwajah rupawan di atas, divisi ke-6 dan ke-10 selalu stabil di tiga besar dalam beberapa tahun terakhir. Momo bilang, Hirako-taichou tidak punya karisma sebesar Aizen-taichou yang pernah membawa divisi ke-5 ke urutan pertama.

Rukia terkikik geli, Ashido meringis saja.

Hinamori ingin memanfaatkan wajah tampan Ashido sebagai magnet para wanita lulusan akademi untuk memilih divisinya.

Momo lalu berbisik, "Nah, Rukia-san, apa Ashido-kun tidak punya orang yang dia sukai?" maksudnya memang berbisik, yang malah bisa didengar Ashido di sisi Rukia.

Boro-boro Kuchiki, si rambut merah menjawab, "Tidak ada, Hinamori-fukutaichou. Tidak ada orang yang saya sukai."

Si letnan tidak kehabisan akal. Pikirnya, jika Ashido punya seseorang yang berarti di Seireitei, ia tidak akan tega meninggalkannya.

"Bahkan jika ada," Ashido sama sekali tidak sanggup menghentikan lidahnya, "terlalu jauh untuk saya raih."

Dua pasang mata, coklat dan ungu, menyorot bertanya-tanya.

Momo langsung berdiri di depan Kano. "Tenang saja, Ashido-kun!" Mata coklatnya berbinar penuh harapan. "Sejauh apa pun, aku akan membantumu! Bahkan jika perempuan itu ada di bulan, aku akan membantumu mendapatkannya!"

Rukia ingin geleng-geleng kepala pada Hinamori yang terobsesi jadi makcomblang demi ambisinya. Si hitam lantas luput dari lirikan misteri dari si merah.

"Sayangnya, perempuan itu bukannya di bulan, Hinamori―"

Tiga kepala kemudian berpaling pada suara yang bertamu dengan tatapan sebeku es.

"―tapi sebuah tempat yang lebih jauh dari bulan dan tidak akan pernah terjangkau siapa pun."

Sepasang mata hijau menyipit, tidak hilang intesitasnya; seiring jarak yang dieliminasi oleh kaki yang menghampiri.

Memeluk segulung kertas tua di lengan, Hinamori berkacak satu pinggang. "Apa-apaan tatapanmu itu, Hitsugaya-kun?! Ashido-kun pernah mencuri uangmu?!"

Iya, tatapan setajam pedang itu berniat menebas kepala Shinigami bernama Ashido Kano.

Toushiro tak acuh saja dengan Hinamori, melewatinya, berhenti di hadapan Rukia. "Kemarikan," suara sedingin salju berubah selembut kapas. Meraih tumpukan buku berdebu dari si mungil tanpa perlawanan. Gadis itu masih kaget dengan keberadaannya.

Bertanya ke mana harus membawanya dan Hinamori menjawab sedikit ketus, menunjuk gudang belakang gedung; Toushiro melenggang pergi dengan cuek. Tiga orang mengikuti, sebelum Rukia dipanggil Ukitake di koridor seberang bahwa kunjungan wisata divisi ke-5 sudah selesai.

Ragu untuk hengkang, ia akhirnya beranjak menyisakan Hinamori yang menyusul sobat kecilnya dengan gusar dan Ashido yang meninggalkan tatapan pada punggung Rukia yang menjauh.

Sebuah tempat yang lebih jauh dari bulan?

'―di sisiku.'

Itulah pesan Toushiro Hitsugaya padanya.


. . . . .


Tugas divisi ke-5, Hirako dan Hinamori, memeriksa dan menyaring murid akademi yang pantas berlaga di turnamen. Tugas divisi ke-10, ia dan Matsumoto, menginspeksi detail wilayah turnamen dan fasilitas lainnya sampai mencapai taraf sempurna. Bukan hanya karena Soutaichou akan menghadiri final-nya langsung, komandan Kidou Corps dan Onmitsukidou akan ikut serta.

Sepertinya akan turun salju di musim panas. Tiga komandan organisasi tinggi berbarengan datang di turnamen.

Salahkan bahwa Turnamen Musim Panas kali ini dijadikan perayaan besar seratus tahunan sejak berdirinya akademi 2200 tahun yang lalu.

"Ah, kita sudah sampai, Hitsugaya-taichou."

Penginapan elit berjarak sepuluh langkah menunggu di depan mata. Toushiro merasa ia betul-betul ditipu. Si kakek komandan tidak mengungkit apa pun soal menginap.

Menghela napas gusar dan tak berdaya. Ia tidak punya pilihan lain. "Baiklah, aku akan pulang mengambil pakaian dulu―" sekalian bersua dengan Rukia, sebulan mereka mungkin tidak akan bertegur muka.

"Oh, jangan cemas, Hitsugaya-taichou." Si pria perwakilan akademi menumbangkan niatnya betul-betul. "Semuanya, pakaian dan barang-barang lain, sudah siap di kamar Anda."

Si putih spontan menoleh pada Rangiku, yang disambut dengan gelengan kepala tegas.

Rasa-rasanya Toushiro ingin mencukur habis janggut kebanggaan si kakek sampai tak bersisa. Soutaichou benar-benar menyulut perang dengannya.

Seiring kepasrahan dan kuatnya tanggung jawab sebagai pemimpin, Toushiro berakhir di pemandian air panas penginapan seorang diri. Menurunkan kepala bertemu lantai, mendongak menatap si bulan perak raksasa tepat di atasnya.

'Rukia, apa yang sedang kau lakukan? Apa kau sudah tidur? Atau kau masih belum tidur?'

Ia mengirim pesan, berharap si bulan bersedia menjadi kurir, menyampaikannya pada gadis di sisi lain Seireitei.

Pintu shouji berderak bergeser. Toushiro mendengarnya, namun ia tidak mau repot-repot mengangkat kepala.

"Ohhh, Toushiro-taichou, kau di sini juga?"

Terlebih jika pendatangnya bernama Shinji Hirako. Malas-malasan menoleh, berdiri Shinji tak jauh dengan handuk di pinggangnya. Toushiro baru betul-betul mengangkat kepala saat sepasang kaki lain melewati pintu yang masih terbuka.

Shinji cepat sekali menangkap gelagat itu. Mengikuti ke mana perhatian penuh Toushiro tersita. "Kenapa, Toushiro-taichou? Punya masalah dengan Ashido?"

Ashido turut serta, sebelum menutup shouji di belakangnya.


. . . . .


Byakuya mendengar gesekan pintu dan panggilan adiknya, tapi ia tetap pada posisi. Berdiri di atas kursi, meraih kardus dari atap lemari, dan meletakkan di lantai. Ia melakukan itu berulang-ulang.

Rukia tetap bersimpuh tenang di luar, menunggu. Sang kakak belum menyahut, menyuruhnya masuk. Mengibaskan tangan, bau debu menguar dari celah shouji. Mengintip penasaran, namun pintu terbuka lebih lebar dari dalam.

Sepasang tungkai panjang di depannya, Rukia menengadah, Byakuya menunduk menatapnya. "Apa yang sedang kau lakukan, Rukia?"

Buru-buru, ia bangkit berdiri rikuh. "Hanya penasaran apa yang Nii-sama..." suaranya tenggelam pelan-pelan. Sosok penuh pesona sang kakak kini dibumbui dengan sarang laba-laba di rambut, wajah rupawannya berbedak debu, dilengkapi dengan kecoa yang berlenggak-lenggok gemulai di pundak lebarnya.

Bergumam meminta izin, Rukia merentangkan tangan, menyingkirkan si kecoa berukuran mini. Oh, Byakuya tidak sadar dengan keberadaan si serangga.

"Apa yang ... Nii-sama lakukan?" Rukia melirik masuk.

Itu adalah ruangan pribadi kedua kakaknya setelah kamar sendiri. Bila sedang bingung dan butuh ketenangan, Nii-sama senang merenung di sini. Kamar ini berhadapan langsung dengan halaman raksasa berisi barisan pohon sakura. Yang Rukia tidak tahu bahwa ruangan ini adalah tempat Hisana suka menghabiskan waktu dengan hobi merajut, melukis, dan kaligrafi.

"Mencari sesuatu," jawab Byakuya, sesingkat-singkatnya.

Kenapa tidak meminta pelayan saja? "Boleh saya bantu?"

"Tidak usah. Aku sudah menemukannya."

"Oh." Dan sebuah buku kusam terulur ke depannya. "Eh?"

"Buku diari Hisana."


. . . . .


"Dengar! Yang berada tepat di depan kalian semua adalah kapten yang dikenal sebagai 'prodigy'!"

Toushiro benci ini.

"Toushiro Hitsugaya! Hitsugaya-taichou hanya butuh satu tahun untuk lulus akademi ketika murid biasa membutuhkan waktu enam tahun!"

Toushiro tidak suka kala ia dipamerkan di depan umum layaknya barang langka. Lihat kerumunan muka-muka yang terperangah takjub (bodoh). Ini menyebalkan.

Ia berdiri tepat di tengah dojo utama Shinoureijutsuin dengan dikitari tampang-tampang lugu bocah remaja akademi. Cuma berjumlah ratusan, ini adalah pertemuan tidak resmi yang hanya bisa diikuti oleh peringkat 100 teratas (terpintar) pada ujian terakhir.

Seorang bocah maju bersama Oonabara-sensei. Si guru akademi memperkenalkan, "Hitsugaya-taichou, dia adalah peringkat teratas dalam empat kali ujian berturut-turut. Namanya Teru Kagami."

Butuh waktu bocah itu mengangkat wajah, memberi senyum lebar yang membuat Toushiro tersengat. "Senang bertemu dengan Anda, Hitsugaya-taichou. Saya adalah pengagum berat Anda."

Kening Toushiro berkerut tebal sekali, ia tampak lebih tua dari biasa. "Aah, senang bertemu denganmu juga." Diberinya balasan datar dan tetap dilayangkan senyum lebar. Bayangkan senyum rubah menjengkelkan Gin Ichimaru disatukan dengan senyum belagak tahu Kisuke Urahara. Itulah gambaran bagaimana senyum si bocah prodigy di hadapan Toushiro.

Hanya prodigy yang bisa mengenali prodigy lain.

Mendadak nostalgia, ini kejadian nyaris sama saat ia pertama kali bersua muka dengan Gin Ichimaru. Si pengkhianat rubah itu tepat berada di posisinya dan dirinya sebagai Teru Kagami.

Percakapan itu singkat saja. Kagami kembali ke kerumunan bocah seumurannya―tidak, ia menyendiri di sisi paling belakang.

Fakta menyakitkan yang tidak akan berubah dimakan zaman. Prodigy akan selalu sendirian.

Gigi Toushiro bergemeletuk di balik bibir rapat. 'Aku tidak sendirian. Aku punya Rukia.'

"―Hitsugaya-taichou, bagaimana?"

Seketika Toushiro menoleh kiri-kanan, tersesat dan linglung. Ia sudah ketinggalan jauh dari rentetan kalimat Sensei yang juga menjadi gurunya di masa lalu.

Untung Oonabara cepat tanggap. "Peragaan zanjutsu, Hitsugaya-taichou. Murid-murid di sini ingin melihat bagaimana kehebatan seorang ahli zanjutsu yang tidak pernah kalah di turnamen saat akademi dulu."

Toushiro mengangguk saja, menangkap pedang kayu yang dilempar Hirako dari pinggir. Si pirang lurus terlihat menikmati pertunjukan.

"Anda boleh memilih lawan. Terserah Anda. Murid-murid akademi, juga tidak masalah."

Pandangan Toushiro masih belum putus pada Hirako, atau lebih tepatnya laki-laki di samping si pirang.

'Aku tidak sendirian. Aku punya Rukia.'

Shinji tersenyum paham, melirik Ashido yang tidak bodoh untuk menangkap gelagat pandangan si kapten putih.

"Aah, bagaimana, Kano? Mau ikut serta dalam pertunjukan."

Ashido menerima tantangan lewat sorot mata yang tidak berpaling. Menerima sodoran bokutou dari sang kapten, juga sebuah pesan, "Tunjukkan pada bocah itu. Apa yang bisa dilakukan oleh Shinigami yang setiap harinya terjun ke medan tempur."

Oonabara beringsut mundur. Medan laga milik sepasang Shinigami beda pangkat. Toushiro dan Ashido, dua orang laki-laki, akan berbicara lewat pedangnya.

Pukul 20.17 malam. Bulan perak menggantung di atas gedung Shinourejutsuin, juga di kawasan distrik markas divisi.

Rukia menatap buku kumal bernama Diari Hisana. Sudah dua minggu di tangan, dan ia belum membacanya. Membuka isinya berarti sama saja berkenalan dengan kakak perempuan yang cuma diketahui dari nama dan foto. Antusias, tapi juga deg-deg-an. Diari kembali pada laci. Rukia belum siap.

Didengarnya suara keras Renji yang berbincang dengan Sentarou dan Kiyone. Laki-laki itu datang untuk menghibur dirinya (katanya) kalau-kalau ia kesepian.

"Apa zanjutsu Hitsugaya-taichou sehebat itu?"

Nama yang membuat Rukia rindu, ia beringsut mendekat pada shouji, benteng terakhir sebelum berhadapan langsung dengan punggung si tiga pembicara.

"Lebih hebat dari Kuchiki-taichou, Zaraki-taichou atau Hirako-taichou?" Kiyone mempertegas pertanyaan Kotsubaki sebelumnya.

"Aku tidak bisa bilang kalau zanjutsu Hitsugaya-taichou di atas mereka." Apa tidak salah, suara Renji agak bergetar. "Tapi, aku yang menghadapi Hitsugaya-taichou dua bulan lalu, berani bilang kalau zanjutsu si kapten jenius yang paling meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir ini."

Rukia bertaruh boneka chappy kesayangan, kalimat Renji yang terakhir tanpa keraguan sama sekali. Ia belum mau pergi dari posisi saat si sobat masih setia lanjut.

"Kecuali yang berpangkat kapten, letnan dan jabatan di bawahnya jelas bukan tandingan Hitsugaya-taichou. Sebelum dipermalukan, sebaiknya mundur segera."

Kadang-kadang Renji memang besar mulut, tapi kali ini perkataannya bukanlah gertak bocah ingusan yang baru lahir kemarin-kemarin sore.

Ashido adalah mangsa ke sekian seekor naga yang menunjukkan taring tajamnya. Tergeletak kalah dengan pedang kayu patah di genggaman. Toushiro berdiri perkasa di tengah medan laga.

Shinji menghela napas sungsang, meminta bawahan lain membawa segera Ashido yang pingsan kembali ke penginapan. Dua menit. Ya, lebih cepat dari menghabiskan setusuk dango, Toushiro menumbangkan Ashido.

Oonabara-sensei menghampiri kagum, bekas muridnya sungguh berkembang pesat. "Kau ... betul-betul seperti berlian, Hitsugaya-taichou. Luar biasa!"

Toushiro mengernyit aneh. Pujian itu mengganggunya.

"Soutaichou-dono pasti sangat bangga padamu!"

Gangguan itu semakin menjadi.

"Dia sudah menempamu menjadi prajurit kuat! Kau adalah harapan terbesar dan masa depannya!"

Toushiro muak.

Malam itu berubah menjadi malam yang lebih panjang dan berat daripada memergoki bawahannya pesta sake.

Berjalan menyusuri jalan temaram dalam pendaran lampu jalan, Toushiro mencari tahu ujung pangkal dari keanehan selama ini yang mengusiknya. Tiba di depan penginapan, ada Shinji Hirako berdiri, entah menantinya untuk balas dendam atas Kano atau mau mengganggunya.

"Tenang saja, aku di sini bukan untuk balas dendam, Toushiro-taichou. Pertandingan tadi sudah kau menangkan, bahkan sebelum dimulai."

Toushiro mau mengabaikan.

"Tapi, tidakkah tadi kau sedikit berlebihan?"

Namun, tangannya belum mendorong pintu.

"Satu hal yang tidak kusukai dari Ashido adalah tahu diri. Jauh sebelum Rukia-chan bersamamu, dia sudah menyerah terlebih dahulu untuk mengejar perempuan yang disukainya."

Toushiro menggeser setengah pintu.

"Itu berarti sedari awal, dia bukanlah musuhmu."

Toushiro melangkah masuk penginapan.

"Jika sekarang, kau belum tahu siapa musuhmu yang sebenarnya, sebaiknya kupanggil kau si dungu, alih-alih si jenius."

Toushiro menutup shouji di belakangnya. Berdiri mematung memandang bayangan yang terasa kerdil di matanya.

Mulutnya terbuka, lebar, lebar sekali; Toushiro tertawa tanpa suara.

Ashido Kano tidak lebih dari kerikil yang menggores kulit kakinya. Tapi, musuh besarnya adalah sebilah pedang yang siap-siap menusuk jantungnya.

Toushiro akan menunjukkan kalau Soutaichou sudah salah memilih lawan.


. . . . .


Apa yang kau harapkan dari seorang prodigy?

Sempurna.

Ya, di mata Soutaichou, semuanya sempurna. Penyelenggaraan Turnamen Musim Panas terlaksana meriah, elegan, tanpa cela. Turnamen yang menandai 2200 tahun berdirinya akademi berjalan sesuai ekspektasi dan harapan.

Mata seribu tahunnya berbinar bangga saat membalas pujian diplomatis Komandan Onmitsukidou dan Kidou Corps.

Ambisi untuk membawa Gotei 13 menuju organisasi paling terdepan di antara tiga organisasi militer kian menuju akhir. Ambisi untuk mengembalikan keperkasaan Batalion 13 di masa-masa jayanya dulu bukan lagi mimpi muluk bocah belaka.

Soutaichou bisa melihat kegemilangan itu di wajah pemangku jabatan kapten yang penuh potensial. Terlebih, seorang pemuda bernama Toushiro Hitsugaya.

Menyinggung si kapten muda, Rukia ikut diungkit. Gadis itu celingukan keluar gedung akademi. Ia terserak di antara para Shinigami yang masih betah menunggu hanabi sebagai tanda penutup turnamen yang paling gemerlap dalam 100 tahun. Ia tidak peduli kalau lagi-lagi Renji menganggapnya anak hilang. Toh, pria itu pasti keasyikan bersama Hinamori.

Latar kerlap-kerlip kawasan pusat akademi melangkah jauh, keramaian orang-orang mengikis seiring gerak, dan sorak-sorai tidak lebih dari dengungan lebah.

Ia mau ke mana? Cuma gelap di depan sana. Baru saja terpikir untuk berputar balik, ada suara merobek sepi.

"Rukia?"

Rukia berhenti, mendongak; Toushiro duduk bersandar batang pohon. Lalu berdiri dan meloncat turun, mendarat tak jauh darinya.

"Bagaimana kau tahu aku di sini?"

Jujur, ia tidak tahu. Tanyakan pada kakinya.

"Kenapa Anda di sini?" Rukia tidak bermaksud bersuara setinggi ini. "Semua orang mencari Anda. Ukitake-taichou, Kyouraku-taichou, Hinamori-fukutaichou, semuanya... Mereka tidak mau bersenang-senang tanpa Anda." Ia tidak berniat bersuara seantusias ini. "Turnamen begitu luar biasa. Mereka sangat bangga, Hitsugaya-taichou."

Suara Toushiro seolah berasal dari tempat yang jauh. "Kau juga bangga?"

Rukia jadi menyesal terlalu bersemangat. "Ada apa? Anda tidak terlihat senang?"

Satu langkah dieliminasi; Toushiro maju memeluknya. Sudah berapa lama aroma Rukia tidak dihirupnya dengan sebegini kuat. "Kau kurusan."

"Be-benarkah?" Tindakan ini di luar prediksi. "Padahal, saya makan banyak akhir-akhir ini."

Sejak kapan Hitsugaya-taichou menjadi sosok penuh kejutan?

Toushiro memberi jarak untuk detik kemudian mendaratkan ciuman pada sebongkah bibir dingin, namun merah tipis menggoda. Menyesapnya manis, melumatnya singkat. Tiga detik saja cukup untuk berjumpa wajah Rukia yang terbakar. Iya, wajahnya juga terbakar.

Namun, ada hal yang lebih penting.

"Aku akan menemuimu lagi nanti." Entah nanti yang dimaksud kapan.

Perkataan itu membantu Rukia menemukan suara lebih cepat dari semestinya. "A-Anda mau ke mana?" Ia mau melihat kembang api bersama si kapten.

"Ada yang harus kuselesaikan."

Ego Rukia mau berbicara. Ia ingin bersama Toushiro! Ia ingin menuntut waktu yang harusnya jadi miliknya! Paling tidak, malam ini.

Namun, gerut muka si jenius betul-betul berat. Kerutan kulit muncul di mana-mana, Toushiro tampak lebih tua dari umurnya. Terkekang, beban raksasa seakan bergelantungan di pundaknya.

"Iya ... saya mengerti." Rukia maju mengecup pipi, berlari pergi detik berikutnya. Ia tidak mau terlalu lama. Egonya bisa menang.

Karena entah bagaimana, ia merasa beban besar itu adalah dirinya dan hubungan mereka.


. . . . .


"Kau mengujiku, kan, Soutaichou Yang Terhormat?"

Ruangan itu terlihat lapang. Tidak ada perabot, kecuali sebuah meja dan kursi singgasana. Sisi kanan, pengunjung dimanja dengan pemandangan gelap belantara kota Seireitei. Berdiri di tengah ruangan seluas padang rumput, tamu diharap diberkahi kelegaan.

Pesan yang disampaikan dari ruang kerja pribadi Komandan Gotei 13.

Namun sayang, gagal sampai pada Toushiro Hitsugaya. Berlatar hawa gelap menggerung-gerung bagai badai, ia tidak tahu lagi arti sabar.

"Apa aku benar, Soutaichou?!"

Ada perkamen, kuas, dan Genyuusei di meja kerja. Juga ketenangan tiada dua yang dilatih seribu tahun lamanya.

"Jika aku bilang benar, apa yang bisa kau lakukan, Hitsugaya-taichou?"

Ada tangan terkepal, mata hijau nyalang, dan Toushiro berdiri kerdil. Juga ketenangan yang jadi musuh besarnya.

"Tidak ada. Aku hanya berharap kau sudah puas, Ji-jii."

Kuas bersandar pada balok tinta, perkamen digulung oleh jari keriput sekisut kulit apel kering. Menyimpan ke pinggir meja, bergabung dengan teman sesama perkamen.

Satu napas senja meluncur.

Tidak ada larangan soal cinta. Sang komandan besar Batalion 13 tidak pernah keberatan soal hubungan romantis sesama Shinigami layaknya manusia. Ia tidak menantang, hanya … berharap kebijakan orang bersangkutan. Terlebih jika pelakunya adalah seorang kapten yang terlahir dengan bakat jarang yang hanya muncul dalam beberapa ratus tahun.

"Aku tidak mau berlian yang sudah diasah sedemikian rupa berubah jadi batu kerikil tidak berguna."

Siapa yang salah? Salahkan Toushiro Hitsugaya yang terlahir prodigy.

"Aku tanya kau sudah puas?! Tiga tahun, melimpahkan semua tugas pada divisi ke-10! Tiga tahun, tidak membuatku bernapas sedikit pun!" Tiga tahun ... membuat Rukia menunggu.

Kursi tinggi dari kayu kualitas terbaik bergesek mundur. Tongkat mengetuk lantai, menemani Soutaichou menuju pagar kayu, menyapa kota kelahiran para Shinigami.

"Pernah dengar istilah seperti ini, Hitsugaya-taichou. Manusia berkualitas dihasilkan dari tempaan ribuan tantangan. Hukum sama berlaku untuk kita, Shinigami."

"Aku tanya … kau sudah puas, Ji-jii?"

"Tidak." Punggung tua itu menegak sepersekian detik. "Itu belum cukup. Aku tidak mau emas lainnya berubah jadi musuh Soul Society."

Bocah prodigy, ajaib atau jenius selalu terlahir antara 200 atau sekali dalam 300 tahun. Menemukan bakat brilian seperti mendapatkan sebutir emas di padang pasir hitam. Ambil, jaga, dan tempa, sampai sinarnya mengalahkan matahari sekalipun.

Lidah Soutaichou terlalu berharga untuk menyebut Sousuke Aizen dan Gin Ichimaru sebagai si emas yang telah gagal. Prodigy yang termakan ambisi dan berbelok menuju budak kegelapan.

Mata tua itu menutup letih dan terbuka untuk berucap lemah, "Paling tidak, kau belum mencapai kredibilitas setara Kuchiki-taichou."

Entah Kuchiki mana yang dimaksud, Ginrei, Soujun atau Byakuya (yang memang bukan prodigy), tapi komitmen tingginya menuju pada kata brilian. Kesetiaan pada Gotei 13 dan Soul Society sama sekali bukan main-main.

"Aku tidak akan membiarkan hubungan romantis menurunkan komitmen dan kualitas kapten Batalion 13. Termasuk, anggota klan besar." Klan yang membutuhkan hubungan intim laki-laki-perempuan demi kelangsungan penerus mereka adalah yang paling rentan menurun kinerjanya.

Harga diri serasa diinjak, dijadikan pion untuk kepuasan, dan kebebasan mencintai menjadi larangan tidak resmi; Toushiro jelas berang ... namun―

"Camkan satu hal, Hitsugaya-taichou." Entah kapan, Soutaichou berbalik menghadapnya. "Kita adalah Shinigami, bukan manusia."

Toushiro meneguk ludah. Mengamati langkah ringkih si kakek berpulang pada kursi nyamannya.

"Jika perasaanmu tulus untuk Kuchiki-fukutaichou, tunjukkan padaku bagaimana kredibilitas seseorang yang dipanggil prodigy."

Punggung bungkuk itu sudah terlalu tua untuk pergi terlalu lama dari sandaran kursi. Toushiro tahu encok si kakek telah kambuh kini.

"Ini salah satu yang terakhir." Iya, kan? Toushiro malas merajuk.

"Karakura. Satu bulan," Soutaichou memberitahu. Mata seribu tahunnya tertutup nyeri. Encoknya betul-betul kumat.

―namun, pilihan terbaik ketimbang murka menjadi-jadi adalah menyelesaikan segalanya dengan mengikuti permainan si kakek. Detik ini, ia butuh ketenangan balik berteman dengannya, dan ... kesabaran Rukia. Ia tahu betul, ia muluk untuk yang satu itu.

Pesan terakhir berkumandang sebelum pintu ganda raksasa menenggelamkan figur Toushiro.

"Juga, jangan lupa, jaga kelangsungan pernikahan Ichigo Kurosaki dan Orihime Inoue."


. . . . .


Buku itu membatu diam pada meja berkaki pendek. Rukia mengusapnya. Ini adalah gerbang untuk mengenal sosok kakak bernama Hisana Kuchiki.

Jari-jari menelusuri tiap sudut dan inci sampul coklat bergambar rumah sederhana. Matang-matang keputusan, Rukia akhirnya siap setelah satu bulan.

Melepas pengait, ia berhadapan dengan halaman pertama bergambar seekor kelinci. Ia kini tahu di mana obsesi kelincinya berasal.

Halaman kedua, menyusup kekuatan roh dari luar gerbang mansion. Ia menutup buku tanpa pikir, meraih haori coklat yang tergantung di dinding. Membuka dan menutup kembali shouji. Jalan tersendat-sendat menyusuri koridor, malam ini dingin. Melewati perempatan koridor, luput dari sang kakak yang memerhatikan punggungnya yang menjauh. Kaki telanjang mencium rumput, menggelitik geli telapak kaki. Mendorong gerbang raksasa, memberi celah untuk dirinya menelusup keluar.

Toushiro memberinya punggung, duduk di anak tangga batu terbawah.

Sehari berlalu secepat anak rambut yang hilang di kepala mengkilap Ikkaku. Janji mengobrol kembali di malam hanabi di Shinoureijutsuin kemarin malam betul-betul ditepati.

Rukia menguatkan napas, ia deg-deg-an. Beringsut menghampiri, kontan saja duduk hampir tanpa jarak di sebelah si kapten.

"Lagi-lagi," kaki telanjang Rukia adalah yang pertama bertemu mata, "kenapa kau tidak pernah mau memakai alas kaki?"

Ini hanyalah satu dari sekian malam Rukia menunjukkan hobi buruknya.

Toushiro melepas sendal kiri, melepas kaus kaki. Agak maju berjongkok, si Kurcaci mengenakan kaus pada kaki kiri sang Putri Salju. Nihil tolakan. Ini adalah rutinitas awal saat bertemu di jam-jam larut seperti ini.

Si mungil tersenyum haru. Ini mungkin sepele untuk penonton awam, namun ini adalah kala Rukia ingin melakukan apa saja―apa pun untuk si kapten jenius

"Selain haori-ku, sekarang kau ingin kaus kakiku habis."

Rukia juga punya koleksi haori Toushiro.

Laki-laki itu kembali duduk. Nona bangsawan menggerakkan jari di kaus kaki longgar, kaus kaki yang kebesaran.

"Oi, kau mendengarkanku?"

Rukia tersenyum geli-geli lucu.

Toushiro mendesah saja, tersenyum kecil, sebelum sendu. Menghela pundak Rukia, menempelkan bibir pada puncak dahinya. "Aku akan pergi ke Karakura."

"Saya tahu." Rangiku memberitahunya. Tangan pucat bertemu dada si kapten, jantung dibalik dada kokoh memompa gila. Dua kaki telanjang bersentuhan di bawah sana. "Berapa lama?"

"Satu bulan."

Kepala hitam beringsut naik menuju lereng leher si putih. "Saya akan menyusul saat pernikahan Ichigo dan Inoue."

"Dan soal Kano," Ashido disinggung, "zanjutsu-nya masih sangat jauh di bawahku."

Rukia menghitung-hitung, seberapa besar kadar kecemburuan si kapten. "Anda menantangnya."

Terima kasih pada mulut rewel Momo dan Rangiku.

"Aku mengalahkannya, telak. Dia bukan sainganku."

Rukia lantas memberi jarak, menatap langsung di mata. "Tentu saja. Seorang kapten menantang Shinigami bawahan? Apa yang Anda pikirkan?"

"Aku memikirkanmu."

Suaranya hilang. Lidah Rukia seakan dicuri.

Toushiro kembali menariknya pada dekapan, tanpa perlawanan.

"Apa Anda akan melakukan hal sama bila ada laki-laki lain dekat dengan saya?"

Jari kaki Rukia membelit jari Toushiro, mencari kehangatan.

"Entahlah, tergantung kondisi."

"Anda posesif."

"Tidak ada laki-laki yang tidak posesif."

Fakta turun-temurun dari zaman bumi dianggap sedatar piring sampai bundar sebulat bola, tidak akan berubah.

"Kau tidak suka aku posesif?"

"Tidak,"―karena saya juga posesif.

Toushiro tidak akan mengelak jika orang lain menganggapnya keterlaluan. Namun, ia akan tetap menanyakan ini, "Bisa menungguku?"

Kepala si hitam bersandar utuh di pundak keras, napasnya memantul-mantul pada batang leher si putih. Tiga tahun, Rukia menunggu. Satu bulan? Itu tidak lebih dari satu menit untuknya.

"Setelahnya," Toushiro butuh kekuatan untuk menjanjikan ini, "semuanya akan kembali normal."


To be continued…


.

.

.

.

.

A/N:

Oh, iya lupa bilang kalau fiction ini cuma sampai chapter 6.

Dan soal perawakan Toushiro di chapter ini, versi dewasa atau yg biasa, terserah teman-teman mau nyamannya bagaimana.

Yosh, berniat review?

06 September 2016