Terima kasih atas review di chapter sebelumnya :

Guest—entah apa definisi normal menurut Toushiro. Mungkin lanjut membuat Rukia nunggu, hehe Terima kasih udah nyempetin review, ya.
Hanamitanitu kalimat buatan saya sendiri. Belum teruji(?) kebenarannya. Tapi kebanyakan cowok memang posesif, ya. Bagian Toushiro cemburu bagian favorit saya di fic HitsuRuki. Makasih udah nyempetin review, Hana-san.
Oh. ILoveCupcakes—
Aaaah, Kakaaaak#melukkenceng Jadi, malu. Tengkyu udah bolak-balik ffn#plak Seriusan, di otak saya kalau Toushiro punya pacar di manga, dia bakal jadi raja ingkar janji. Secara, dia prodigy, kapten, dan sibuk banget. Heheh, iya, ngajar les. Tengkyu-tengkyu-tengkyu udah nyampetin review, Kak#meluk-meluk
BLEACHvers―Tentu, Tujuh Pedang bakal dilanjutin. Tapi, bakal lebih lama ketimbang fic saya yang in-progress. Saya bakal lebih duluin LIFE, secara fic ini konsepnya lebih matang. Konsep 'Tujuh Pedang' agak buntu gara2 saya lama gak baca manga-nya. Jadi supaya konsepnya matang, saya harus baca arc terakhir di manga (padahal malas banget#ditendang)./ Iya, beda banget, kan. Tulisan sekarang agak kaku. Makasih banget udah nyempetin review ya.

Terima kasih pula ma yg udah login (sudah sy balas di PM-nya masing-masing): Yuki ChibiHitsu-chan | Eonnichee835


Disclaimer: Bleach milik Tite Kubo
Warning: author yg kembali jadi newbie, bahasa kaku, diksi mengenaskan

Pairing: HitsuRuki dan pasangan lain

.

Chapter terpanjang, 7k+!

.

.

.

.

.

Sebatang lilin menyala pada piring di tepi sudut meja. Di tengah, sebuah buku tergeletak terbuka dengan Rukia duduk membacanya. Bayang-bayang si mungil bergoyang seirama dengan lenggokan lilin diterpa angin malam buta.

Rukia tidak bisa tidur. Beberapa malam ini, insomnia hobi memburunya. Dan buku diari sang kakak perempuan adalah pengisi malam yang tepat.

Satu lembar dibuka, ia tertawa kecil, menggoda di tengah sunyi. Halaman awal adalah pengalaman lucu dan unik Hisana-neesan dan Nii-sama di pertemuan pertama.

Sebuah bayangan menjulang membelah shouji, bikin ngeri. Cepat-cepat, Rukia menutup buku, menyimpan di laci, dan meniup lilin.

"Rukia―"

"Hai, Nii-sama, saya akan segera tidur!"

Serampangan menyusup masuk selimut, bergelung rapat seperti kepompong. Senyap, suara seangker burung hantu tiba-tiba lenyap. Pelan menurunkan selimut, ia keluar mengendap mengintip shouji. Bayangan itu sudah pergi. Lega dan merasa bersalah, Nii-sama pasti kerepotan dengan tingkahnya seminggu terakhir.

Sinar rembulan merobek gelap. Jatuh menerpa ranting pohon dan kisi jendela. Berbayang-bayang paras sepi si gadis mungil.

Menarik kaki hingga lutut di depan wajah, tangan maju memeluknya. Selimut melorot sampai pergelangan kaki. Wajah dilesakkan masuk ke dekapan lengan. Menutup mata, dan berlirih, "Hitsugaya-taichou..."

Rukia merindu sampai merasuk dan mencekik jantungnya.

Lilin bertengger diam. Nyala dimakan gelap, asap di pucuknya menarik-nari. Tak punya daya menghilangkan rindu.


#4#

.

Marigold - despair


"Apa?"

"Aku bilang, aku ikut ke Tokyo." Karin Kurosaki mengikat tinggi rambut hitam sebahunya.

"Aku ke sana bukan untuk main-main, Kurosaki."

"Kau memanggilku?" Ichigo Kurosaki melongok masuk ruang makan. Ia baru pulang dari kerja magang di rumah sakit.

"Bukan Kurosaki kau, Kurosaki, tapi Kurosaki adikmu." Toushiro duduk di kursi dengan menumpangkah mata kaki di pahanya.

Menjelimet, kening Ichigo berkerut mengerikan. Angkat kaki begitu saja menuju kamar lantai atas, kamar masa depan Yuzu. Ia berencana mengambil alih kamar Yuzu dan Karin yang lebih luas setelah ... menikah. Mukanya tersipu-sipu malu, lucu; ia belum terbiasa.

"Kalau kau mau menghentikan salah paham seperti tadi, panggil aku Karin, Toushiro. Berapa kali aku bilang?" Perempuan itu mengenakan celemek.

"Jangan harap." Toushiro meraih jeruk di keranjang, memutarnya di telapak.

"Kenapa?" Karin menoleh cepat tidak wajar, di tangannya terdapat wajan.

"Tidak ada alasan. Memang seharusnya begitu, kan?" Jeruk itu dikembalikan. Di mana-mana jeruk, mentang-mentang yang menikah nanti pasangan manusia berkepala jeruk.

Bokong wajang berdenting keras mencium rangka kompor. "Kita sudah mengenal tujuh tahun, tidak ada yang salah soal memanggil nama depan masing-masing." Karin tidak mau menyinggung soal sikap seenaknya ia memanggil nama kecil si kapten di pertemuan awal.

"Aku tidak sepertimu." Toushiro sudah berdiri di depan foto berbingkai raksasa Masaki Kurosaki. "Ibumu mirip sekali dengan Orihime Inoue." Senyum ceria nan polos, juga lambaian rambut jingga cerah.

"Jangan mengalihkan topik, Toushiro." Karin berbalik, sepasang tangan bertegak pinggang.

Toushiro memandangnya, alis putih membentuk jembatan. "Kau keras kepala sekali." Jujur, ia benci orang pemaksa.

Ichigo berlari berlalu di depan ruang makan dan berteriak, "Karin, aku ke apartemen Orihime dulu! Dia lupa ponselnya di tasku!" Disusul pintu yang berdebam tertutup.

"Kalau begitu, aku juga pergi." Toushiro bergerak keluar, menyusul Ichigo, orang yang ditunggunya sedari sore, dan malah mendapati adiknya yang ada di rumah.

"Tu-tunggu, kau sudah mau pergi, Toushiro? Aku baru mau masak makan malam." Walaupun baru hitungan jari, ia menyentuh yang namanya kompor.

Toushiro berhenti di tengah ambang pintu. "Kau memasak untukku?"

Wajah Karin terbakar, gunung berapi mau meledak di sana. "I-itu―"

Denreishinki Toushiro berdering. Merogoh saku, membuka tutupnya, ia tersenyum cerah menggemaskan. Karin tersengat, tidak pernah menjumpai senyum Toushiro selebar itu.

"Aku harus pergi. Ada yang penting." Ia mengayunkan alat komunikasi Shinigami berbentuk ponsel. "Dan soal ke Tokyo, jika kau memang bersikeras ikut, aku berharap kau tidak menghalangi pekerjaanku."

Karin baru sadar Toushiro sudah hilang saat ada bunyi pintu ditutup. Ia bergeming pahit bersama wajan mematung dingin.


. . . . .


Teh itu mulai mendingin. Pemiliknya, Rukia, sibuk menempelkan kepala pada denreishinki di telinga Rangiku.

"Berikan denreishinki Rukia pada Rukia, Matsumoto!" Toushiro menggeram di seberang. Si hitam mungil terkikik geli.

"Taichou tahu tidak, saya dan Kuchiki tadi ke divisi ke-5, loh. Mau tebak siapa yang kami temui?" Rukia memberi tatapan peringatan, tapi si wanita singset mengibaskan tangan tidak apa-apa.

"Matsumoto..." Toushiro jelas paham betul siapa yang dimaksud.

"Mau tahu tidak, Taichou?"

"Kano? Kalian menemui Ashido Kano?"

Rangiku langsung tergelak, Rukia memegang perut menahan tawa.

"Kenapa tertawa?"

"Salaaaaahh~ Kami bertemu Rambo, Taichou. Dia keren sekali. Kulitnya keras, matanya gagah melotot tajam, dia jadi favorit di divisi ke-5."

"Siapa itu?" 'Saingan baru', Rukia seakan bisa mendengar suara di kepala si kapten.

"Komodo jantan. Peliharaan Hinamori, hadiah dari Renji. Ditangkap dari Rukongai."

Butuh waktu sekian detik mendengar sahutan meledak Toushiro. "Kau ... kau bermain-main denganku, Matsumo―!"

"Hitsugaya-taichou..."

Singa tidak jadi mengaum berang, berubah jadi kucing mengeong jinak. "Ummm, kau baik-baik saja, Rukia?" Suasana hatinya langsung damai.

Gadis itu duduk di luar, tepi beranda seorang diri. Rangiku memberinya privasi dengan bertahan di dalam kantor divisi ke-10. "Anda sendiri?"

"Aku bertanya padamu." Toushiro mangkir sebentar, menyandarkan punggung di dinding pagar sebuah rumah. Tangan bebasnya mengeram betah di saku.

"Saya baik."

"Aku juga baik."

Sepasang Shinigami tahu, orang di seberang berkata bohong. Mereka tidak sebaik itu. Rindu selalu menyelinap saat waktu dan jarak ikut campur.

Tapi, dua orang ini sepakat dalam diam bahwa kata 'baik' adalah kode yang berarti 'Saya tetap menunggu' dan 'Aku akan segera pulang'.

Rukia tersenyum lega nan sendu. Topik muram ini sebaiknya jangan terlalu lama. "Rambo memang keren, kok, Hitsugaya-taichou. Dan macho. Saya dan Matsumoto-fukutaichou tidak main-main. Anda bisa lihat sendiri nanti."

Topik ini masih lanjut? Toushiro rasanya ingin mendengus keras-keras. "Komodo kalian bilang keren? Sekalian saja bilang kalau buaya itu imut." Rukia tertawa kecil, si kapten senang mendengarnya. Maka, ia meneruskan, "Abarai betul-betul aneh, memberi Hinamori seekor reptil."

Memandang bulan di kejauhan, Rukia cerah menimpali, "Justru Hinamori-fukutaichou yang meminta." Ia tidak bilang kalau Renji pulang babak belur, hidup-mati menangkap si hewan bertubuh bongsor.

Toushiro meralat. Hinamori yang gila. Perempuan zaman sekarang memang sudah di luar batas nalar, mengerikan. "Rukia," ia jadi berhati-hati, "jangan memintaku menangkap beruang. Itu agak jarang di Rukongai." Juga membahayakan.

Tangan sudah menangkup mulut, adat kebangsawananlah yang menahan Rukia untuk terbahak. "Tenang saja, saya tidak akan melakukannya." Ada napas lega di seberang. "Tapi, seekor singa tidak apa-apa, kan?"

Bulan menjadi saksi, di Dunia Manusia dan Soul Society; Toushiro mematung cengo dan Rukia yang sudah meledak dalam tawa. Rangiku sampai keluar untuk menengok, kaptennya membuat candaan apa hingga Kuchiki tergelak sebegitu parah.

"...Kau serius ... Rukia?"

Sebagai prajurit, satu kaki berpijak pada kehidupan dan kaki lainnya berada di pihak kematian. Sedikit saja lengah, kau akan terjun ke neraka. Perbincangan kecil yang mengundang senyum dan tawa adalah hal sederhana yang menjaga keseimbangan.

Toushiro dan Rukia tahu mereka butuh perbincangan seperti ini. Lebih sering, lebih baik.

Rukia menumpangkan kaki telanjang pada kaki lainnya. Ia dingin. Terbayang Toushiro yang mengenakan kaus kaki padanya. Tangan erat memeluk denreishinki di telinga.

"Saya merindukan Anda."

Suara itu menggema jelas. Lurus tanpa hambatan menembus telinga Toushiro. Si kapten tidak menemukan suaranya. Ini baru sekali didengarnya Rukia menuturkan hal melankolis seperti rindu, sayang, dan cinta terlebih dulu.

Rukia menatap kaki yang membiru. Ia menanti, menunggu kehangatan balasan dari suara berat di seberang.

"Aku juga..."

Bibir pucat Rukia tertarik tipis, kulit pipi agak berkerut merona.

"...merin―"

"Toushiro!"

Lenyap. Rona wajah menguap. Bibir yang siap tersenyum membeku kering. Sebaris panggilan sebagai penutup perbincangan, denreishinki melantungkan bunyi penanda sambungan terputus satu pihak.

"Sudah selesai?" Rangiku membawa sebaskom kecil popcorn di pelukan, duduk di sampingnya.

"Ditutup..."

Mulut Rangiku mengunyah renyah, berbunyi keriak-keriuk, menoleh bertanya-tanya.

"Sambungannya terputus... Hitsugaya-taichou memutus sambungan."

Bunyi kunyahan berhenti sebelum Rangiku menelan makanannya bulat-bulat paksa. Ia beralih menatap popcorn. "Mungkin ... mendadak ada panggilan Hollow."

"...Iya."

Rukia merasa tidak perlu bilang soal sebaris panggilan wanita di obrolan terakhir.


. . . . .


Sudah 101 macam serapah bergema di kepala Toushiro. Ia masih butuh yang ke-102 untuk mengumpat pada denreishinki yang kehabisan baterai di saat genting.

"Toushiro..."

Paras gusarnya menoleh pada adik Kurosaki yang ngos-ngosan, tangan memeluk lutut.

"Ada apa?" Apa boleh buat, suara ketusnya lolos begitu saja.

Karin lalu bangkit berdiri. Bertanya keheranan di tengah napas yang masih urakan, "Kau kenapa?"

Ini tidak bagus. Tidak semestinya Toushiro melampiaskan kekesalan pada orang luar. Menghela napas panjang, mengembuskannya teratur. Menata emosi sedikit demi sedikit, ia berpaling. "Tidak apa-apa. Ada apa kau ke sini?" Nihil suara ketus.

Kini Karin yang menghela napas panjang, dengan alasan yang berbeda. Menata jantung yang menggila, dan rona merah yang membludak. Merogoh tas kain, dan mengulurkan sekotak makanan.

"Aku sudah berniat membuatkanmu makan malam, jadi aku buatkan." Matanya terus menatap aspal. Tidak ada tanggapan, ia raih tangan Toushiro dan diletakkan paksa di telapak tangan. "Kalau tidak mau, ya buang saja! A-aku pergi!"

Lalu lekas beranjak tanpa mau dengar komentar, juga dengan berlari seperti cara datangnya tadi.

Toushiro mematung dungu, menatap si kotak, kemudian jalanan di mana punggung putri mantan kaptennya menghilang. "Dia betul-betul aneh."

Kembali menyusuri jalan temaram Karakura dan tiba tak lama pada apartemen Orihime Inoue. Bukan hobi Toushiro untuk mengusik adegan romantis pasangan jingga (lihat saja wajah tersipu menjijikkan Kurosaki). Namun, ia perlu membicarakan sesuatu dengan Ichigo, juga mengisi baterai denreshinki. Ia belum puas mendengar suara Rukia.

"Oh, Toushiro-kun?"

Satu lagi orang yang seenaknya memanggil nama depan orang lain. Ichigo menoleh ke samping, melemparinya wajah kesal. Tidak suka karena pacarnya memanggil laki-laki lain dengan nama depan? Toushiro mengerti itu.

"Tidak perlu melihatku semarah itu, Kurosaki. Aku tidak akan ke sini dan mengganggu kalau bukan hal penting."

"Urusan apa kau dengan Orihime?" Ichigo berintonasi keras. Si jingga pasti tidak sadar.

"Bukan dia, tapi kau." Toushiro nyelonong masuk melewati tuan rumah. "Inoue, di mana aku bisa mengisi baterai ponselku?"

"A-ah, di samping televisi." Inoue lalu memandang Ichigo. Si sulung Kurosaki cuma mengangkat bahu.

Televisi menyala berpindah-pindah, Ichigo mencari channel yang tepat. Tingkahnya sudah seperti di rumah sendiri.

"Tunggu sebentar, ya! Aku siapkan makan malam!" Orihime mengumumkan dari dapur.

"Kurosaki saja, aku tidak perlu." Toushiro meletakkan kotak makan di meja berkaki rendah.

Ichigo melirik si kotak yang familiar. "...Dari Karin?"

Toushiro mengiyakan.

Ichigo berpikir pahit, adiknya jatuh cinta pada orang yang salah.

Reporter wanita berdiri di tengah tribune stadion sepakbola di Tokyo. Melaporkan berita terkini persiapan menyambut pertandingan persahabatan sebuah klub Eropa dengan Tim Nasional Jepang. Butuh tiga menit, Ichigo menemukan siaran yang sesuai. Namun alih-alih menonton, ia terlibat diskusi sengit dengan lawan bicaranya.

"Diundur?! Kau pasti gila, Toushiro!"

Piring di nampan agak tersentak. Selain di pertempuran, jarang sekali Orihime mendengar suara murka Ichigo.

"Ini saranku. Ada aktivitas yang tidak normal di Hueco Mundo."

Seiring jawaban kalem Toushiro, Orihime datang menghampiri. Ichigo kembali duduk, bersusah-payah tenang. Gadis jingga menyajikan sepasang piring kare di meja.

"Itu mustahil." Ichigo mengerling Orihime, yang duduk di tengah-tengah, mengecilkan suara televisi, dan membelakangi si benda elektronik.

"Kenapa?" Toushiro bersuara tanpa dosa.

Perempatan kesal melesak di pelipis Ichigo. "Apa tidak pernah ada pernikahan di Soul Society? Undangan sudah tersebar dua minggu lalu. Tidak mungkin untuk diubah."

Pernikahan... Tiba-tiba kata itu menarik perhatian Toushiro. Jadi, kalau di Dunia Manusia, perlu menyebar undangan dulu?

Toushiro memikirkan itu sambil membuka kotak makan. Bau gosong langsung memenuhi ruangan apartemen. Pasangan jingga menghentikan sendok di udara. Ichigo menjumpai masakan memprihatinkan Karin, mau-mau saja memperingatkan si kapten putih.

"Oi, Toushiro―"

"Itadakimasu."

Tapi, Hitsugaya sudah menenggelamkan sesendok nasi hitam ke dalam mulut.

Hanya lima detik, Toushiro berdiri bersama muka menggelembung pucat, dan memberitahu, "Aku ke WC dulu." Kemudian lari secepat kijang dan terdengar suara mual di detik berikutnya.

Orihime memang pintar menjaga perasaan orang. Menyendok lahap kare, dan menghidangkan sekotak jus jeruk dingin saat Hitsugaya kembali. Ia sudah menyingkirkan masakan pembawa maut.

Menyesap jus, Toushiro melempari Ichigo tatapan maut. Kurosaki membalas dalam diam, 'Kau cuma sekali merasakannya. Aku sudah tiga kali.'.

Air meluncur deras di keran. Orihime mencuci piring dan kotak makan milik Karin. Tersenyum geli mengingat kejadian barusan. Masih mendengar obrolan sepasang laki-laki di ruang tengah yang berhenti sejenak sebelumnya.

"Kalau begitu," Toushiro memutuskan, "aku akan berusaha pulang secepatnya dari Tokyo."

Tiga bawahan dari divisinya terluka parah di sana, tidak punya cukup reiryoku untuk membuka gerbang dan kembali ke Soul Society. Tapi, mengawasi dan menjaga pernikahan si pahlawan dunia wajib ia laksanakan. Bukan hanya karena itu adalah tugas resmi. Namun, ini satu-satunya hadiah pernikahan yang bisa diberikan untuk pahlawan dunia oleh orang sepertinya.

"Maaf merepotkanmu, ya, Toushiro-kun." Orihime menghidangkan dua piring puding coklat di sisi meja yang berlawanan.

"Terima kasih sebelumnya, Toushiro," Ichigo berkata tulus, menarik lengan Orihime agak lebih ke sisinya.

Hitsugaya terpesona, seperti di hadapkan pada pemandangan menakjubkan. Sepasang jingga yang duduk lekat di seberang meja bagai sebingkai foto pasangan yang betul-betul pas. Toushiro hampir menyangka bahwa Ichigo dan Orihime sudah menikah bertahun-tahun lampau.

"Ada apa?" Orihime mengusik, Toushiro terlampau terpukau.

Ia lalu menggeleng tidak apa-apa. Tak lama, si gadis jingga berlari masuk dapur, terdengar desisan suara air yang mendidih.

"Nah, Kurosaki," Toushiro tidak tahu kenapa ia menanyakan ini, "bagaimana caramu meminta Orihime Inoue menikah denganmu?"

Mata Ichigo berkedip sampai tiga kali. Sendok puding terselip diam di bibirnya. "A-apa?" Ia menelan puding susah payah. "Ma-maksudmu melamar?"

Toushiro mengiyakan saja.

Ichigo menyimpan sendok di piring, hati-hati. Menatap puding yang tersisa, lama sekali. "Ah, itu, itu, bagaimana ya, itu―" Bersama muka yang seperti tenggelam ke saus tomat, Ichigo tergagap layaknya ular kepanasan.

Toushiro memutar mata saja. Masih penasaran kenapa ia menanyakan hal konyol begitu. Terlebih adat melamar di Dunia Manusia jelas berbeda dengan Soul Society.


. . . . .


Orihime mangap, hilang sudah lidahnya, tidak bisa berkata-kata. "Ku-Kuchiki-san!" Lalu melompat (menerjang, tepatnya) memeluk Rukia ke dekapan mautnya.

Tangan mungil Rukia menggapai-gapai udara. "I-Inoue?"

Untung, Orihime cepat paham. Lucu saja bertemu sahabat sekian lama, dan langsung mengirimnya ke surga tepat hari itu juga. Ia menarik diri dan berwajah malu. "Ma-maaf, aku hanya senang bertemu, Kuchiki-san. Sangat senang! Sudah lama sekali!" Iya, sudah dua tahun.

"Hanya Kuchiki yang dirindukan, aku tidak?" Di belakang, Rangiku berpura-pura manyun.

Sepasang mata coklat berbinar dua kali lipat. Dan Inoue makin hilang kendali.

Reuni sahabat kental makin memanaskan cuaca siang di hari Sabtu. Kebetulan Orihime libur dari pekerjaan di toko roti, tepatnya ambil cuti.

"Jadi, kalian sudah bertemu Ichigo-kun?" Inoue menyajikan dua kotak jus jeruk.

"Iya, sebentar dan dia buru-buru pergi entah ke mana." Rangiku langsung mengesap jus, sedikit mengademkan tubuh yang terpanggang panas oleh suhu tak tanggung-tanggung. Rukia melihat-lihat koleksi boneka Inoue di rak yang bertambah banyak dan makin imut. Orihime menyilakan ambil sesukanya. Rukia langsung dijatuhi bintang-bintang, girang bukan main.

Orihime duduk, menyimpan nampan di bawah meja. "Setelah ini mau ke mana?"

Sudah dua boneka di pelukan Rukia. Ada satu yang mirip Chappy bertengger di rak paling atas.

"Tempat Urahara. Mau bertemu Taichou."

Tangan diulur maksimal, dan akhirnya menyentuh kaki berbulunya.

"Eh, bukannya Toushiro-kun pergi ke Tokyo?"

Rukia berhenti sebentar. Rangiku meletakkan kotak jus yang sudah kosong. "...Kapan?"

"Tiga hari yang lalu. Katanya, ada bawahannya yang terluka parah di sana. Toushiro-kun tidak bilang?"

Mungkin Hitsugaya-taichou lupa. Rukia berjingkat-jingkat, melanjutkan tujuannya, mencoba melompat lebih tinggi.

"Jadi, bersama Yamada, ya?"

"Karin-chan, juga."

Hilang fokus. Rukia terpeleset jatuh, tangan yang memegang kaki boneka menabrak barisan kawannya. Hujan boneka menyusul menimpanya.

"Kuchiki-san!"


. . . . .


"Tenchou berlibur dan baru akan pulang saat pernikahan Kurosaki-dono dan Orihime-dono."

Tessai duduk bersimpuh, memberi Rangiku jawaban yang jauh dari kata puas.

Denreishinki adalah alat komunikasi Shinigami dengan Soul Society. Namun, jaringan denreishinki berbeda untuk tiap Shinigami, bergantung kota mana ia ditempatkan. Miliknya dan milik Rukia telah dimodifikasi dengan hanya jaringan Karakura-Soul Society. Begitu juga dengan milik Taichou. Namun, dengan Hitsugaya berada di luar wilayah jaringan (Tokyo), komunikasi menjadi mustahil.

Berhubungan lewat Karin pun percuma. Yuzu bilang saudari kembarnya lupa membawa ponsel.

Rukia bertelut diam mendengar racauan Rangiku yang meminta Tessai untuk menyuruh Urahara pulang lebih cepat. Ia tersenyum saja saat Ururu menghidangkan teh dan sepiring kudapan. Mungkin ini salahnya. Bermaksud memberi kejutan pada Toushiro dengan datang awal ke Karakura, bukan di hari tepat pernikahan, tapi justru ia yang diberi kejutan.

Iya. Rukia ingat suara terakhir di denreishinki. Suara Karin Kurosaki.

Riak teh mencerminkan wajah murungnya. Ada apa dengannya? Karin adalah adik Ichigo. Tapi...

Sepuluh jari mendekap kencang gelas teh. Ururu sampai cemas kalau gelas itu bisa pecah.

Kau kenapa, Rukia?


. . . . .


"Terima kasih, Yamada." Toushiro membetulkan kerah shihakushou, menutupi luka cabikan cakar Hollow. Duduk bersandar letih pada badan mobil di area parkiran.

Ia mendongak pada Karin Kurosaki. "Kenapa kau keluar? Bukankah tujuanmu ke sini untuk menonton pertandingan klub sepakbola yang katanya dari luar negeri itu?"

Pertandingan sepakbola yang paling dinantikan penggemar bola seantero Jepang dilaksanakan pada salah satu stadion Tokyo. Alasan yang adik Ichigo ini kemukakan pada keluarganya dan Toushiro. Tapi, itu bohong.

Mata Karin menyorot sendu. "Bagaimana mungkin aku tetap menonton, sedangkan kau terluka hampir mati?"

"Aku hanya kegores."

Perlukah Hanatarou menambah kalau goresan Hollow tadi mengandung racun? Namun, ancaman Toushiro membungkam mulutnya rapat-rapat.

Berdiri susah payah, dengan Karin berniat membantu. Tapi, si kapten mengangkat tangan, menolak. "Apa sudah ada kabar dari Soul Society, Yamada?"

Hanatarou melirik muka kecewa Kurosaki. "Iya. Kamazaki-san, Hanamaki-san, dan Katsumoto-san," tiga bawahan Toushiro yang jadi tujuan ke kota ini, "sudah dirawat di divisi ke-4."

Kemarin, Toushiro menghubungi pihak Soul Society lewat denreishinki bawahannya, meminta menunggu di gerbang utama Seireitei. Dengan zanpakutou, ia membuka senkaimon. Dirinya dan Yamada memapah pulang tiga Shinigami hingga tiba di Soul Society.

Bersusah-susah jalan kaki melewati kemacetan, mereka akhirnya tiba di penginapan. Menapaki tangga, menikung ke kiri, dan tangan siap mendorong shouji; Toushiro berbalik heran pada Karin yang mengikuti.

"Apa yang kau lakukan? Kamarmu di sana, kan?"

Karin hampir saja menepuk jidat. Ia lupa, betul-betul lupa. "Maaf." Mukanya panas karena malu, lekas-lekas pergi. Kecemasan berlebih pada Toushiro membuatnya tidak sadar.

Hanatarou masih bergeming saat si kapten duluan masuk kamar. Punggung menjauh Karin jadi perhatian. Adik Ichigo-san sekeras kepala kakaknya, termasuk memaksanya memberitahu keadaan Hitsugaya-taichou betul-betul. Tabiat yang memang jujur dari lahir, Hanatarou jadi keceplosan di perjalanan pulang.

Ia berharap Hyourinmaru tetap betah di sarung dan tidak terbang menebas kepalanya.

"Sial."

Kepulan uap memadati pemandian air panas penginapan. Toushiro menggebrak denreishinki nyaris pecah bertemu lantai. Dari denreishinki bawahan berjaringan Soul Society-Tokyo, Rukia sudah berada di Karakura. Tapi percuma saja, dirinya di luar kota Karakura.

Pundak menegang. Toushiro menyentuh 'hadiah' Hollow tadi siang sebelum dimusnahkan. Sakit.

"Katanya, kereta api jalur ke Karakura sedang kecelakaan."

Adalah berita buruk yang didapat Hitsugaya keesokan harinya. Ia bisa saja ber-shunpo pulang, tapi ada Hanatarou yang tidak bisa shunpo dan Karin bukan Shinigami. Bisa menggunakan pesawat terbang, dan lagi-lagi Hanatarou yang katanya fobia tempat sempit dan ketinggian. Mungkin itu pula alasan, bocah itu tidak bisa shunpo.

Dan berujung pada kendaraan beroda banyak bernama bus. Butuh satu hari lebih tiba di Karakura. Yaitu, malam tepat sebelum hari pernikahan Ichigo dan Orihime.


. . . . .


Apa matahari yang tetap bersinar di malam hari?

Rukia menjawab, Orihime Inoue.

Lihatlah senyum lebar tanpa batas, rona merah pipi seindah sakura pertama mekar di musim semi, suara jernih nan lantang bagai kucuran air di waktu subuh. Tidak ada yang bisa mengalahkan silaunya Inoue saat ini.

Tinggal menghitung jam, Rukia harus membiasakan lidah memanggilnya dengan nama Orihime.

Si gadis jingga dikerubungi teman sekolah menengahnya dulu, seperti Tatsuki, Chizuru, Michiru, Ryou, Mahana, dan beberapa lagi yang tidak Rukia kenali. Mungkin teman kuliahnya.

Ia lantas beringsut keluar. Saat seperti inilah, perbedaan mengusiknya. Topik yang mereka perbincangkan adalah topik para manusia yang ia tidak pahami. Meletakkan lengan melintang di pagar pembatas apartemen, dihirupnya dalam-dalam hawa malam yang dingin.

Rukia butuh orang yang memahaminya.

"Kau sendirian?"
"Aku juga sendirian."

"Kalau kita bersama, kita tidak sendiri lagi."
"Jadi, bagaimana, Rukia Kuchiki? Maukah kau bersamaku agar kita tidak sendiri?"

Senyum nostalgia terbit di parasnya. Mengajak kencan saja, bilang menyukainya, atau mau jadi pacarnya; Toushiro Hitsugaya mengumumkan hal berbelit-belit terlebih dulu.

Namun, Rukia menyukainya ... dan merindu.

Ia menguatkan hati dan tekad. Semuanya akan baik-baik saja. Hubungan mereka akan baik-baik saja. Saat waktu dan jarak yang ikut campur, Rukia berhasil menaklukkan itu semua. Ia menyakinkan diri dengan kekuatan sisanya. Cuek saja dengan pertanyaan yang sedetik melintas.

Bagaimana bila orang ketiga ikut campur?

Lampu jalan di bawah sana mati-nyala-mati-nyala-mati-nyala. Itu sudah berlangsung tiga hari terakhir. Saat insiden 'mati-nyala' tiba di angka 10, satu siluet berdiri di bawah kelabilan lampu.

Rukia yang paling mengenalnya. Satu langkah diambil, pelan dan langsung cepat, menuruni tangga berderit hampir rubuh. Membelah halaman, ditabraknya tong sampah, dan hampir kepeleset, sebelum tiba di luar gerbang dan ke hadapan Toushiro Hitsugaya.

Berjarak satu langkah saja. Ada Toushiro, ada Rukia, dan ada sepi. Si kapten akan mengembalikan sepi menjadi sekutu terbaiknya seperti dulu.

"Aku dengar kau sudah lama datang," rindu betul-betul mewujud dalam suara paraunya.

Rukia lama menjawab, mengamatinya lekat-lekat. "...Anda pucat."

Toushiro menatapnya langsung tanpa hambatan. Hampir satu bulan tidak bersua, dan itu kalimat pertama si mungil?

"Rukia―"

"Anda betul-betul pucat." Gadis itu memegang satu pipinya.

Toushiro suka sentuhan si bangsawan, sangat suka. Tapi, raut cemas Rukia tidak ia suka.

"Aku tidak apa-apa."

Ia meraih tangan Rukia, dan menyentaknya masuk dalam kubangan pelukan.

"Aku tidak apa-apa." Ia mengatakan itu berulang-ulang ibarat doa.

Lengan melingkar mengencangkan tubuh rapuh Rukia bertemu dada kokohnya.

"Aku tidak apa-apa, Rukia." Ia mau Rukia betul-betul percaya.

Lengan lain berkalung pada lehernya, dagu kecil mendarat pada pundak kerasnya. Rukia membalas dekapan, menutup mata, menyesap lekat-lekat aroma musim dingin favoritnya.

"Iya, Anda tidak apa-apa. Saya percaya itu."

Lampu jalan kini mati total, memberi gelap. Suara meriah calon pengantin dan kawannya berdengung bagai tawon. Jalan sunyi kiri dan kanan. Ada Toushiro dan Rukia, berbagi rindu.

"Terima kasih sudah pulang, Hitsugaya-taichou."


. . . . .


Ini bukan kali pertama, Rukia menjumpai upacara pernikahan di Dunia Manusia. Namun, menjadi tamu langsung benar-benar pengalaman perdana.

Berdiri dengan gaun marun bergaris hitam menjuntai hingga betis, Rukia begitu memesona dengan riasan simpel, namun tepat dan tidak berlebihan. Tapi, ke-pede-annya luruh sekian persen oleh kakak bernama Byakuya Kuchiki yang menjulang di sampingnya. Kemeja putih dibalut keliman jas hitam rapi dan dasi bergaris-garis, Nii-sama mirip karakter konglomerat bertampang pangeran yang bergelimang harta tak habis tujuh turunan.

Pintu ganda dari kayu kualitas terbaik menjeblak terbuka. Ichigo dan Orihime―Rukia sudah mulai terbiasa, beringsut masuk dengan pelan dan begitu tertata. Semula ia mau terkikik geli mendapati Ichigo berpakaian montsuki haori hakama berparas serius, kalem, dan berwibawa. Itu jauh dari Ichigo yang ia kenal di keseharian. Namun, bangga mendadak mementas di dadanya, mirip seorang ibu, kakak, atau teman yang tahu benar bagaimana metamorfosis bocah itu. Iya, si bocah jingga yang serampangan dan teledor, betul-betul berubah menjadi seorang pria.

Senyum syukur dan doa tulus ia panjatkan.

Orihime... Kalau perempuan ini, Rukia serasa kehabisan puja-puji. Cantik, jelita, dan menawan. Si gadis jingga berkulit putih bersih merona. Iya, sungguh merona, pipinya memerah. Ia bisa melihat itu meski wajah indah Orihime bersembunyi di balik penutup kepala wata boushi. Tipis, namun menyilaukan, si gadis yatim piatu tersenyum bahagia.

Bintang adalah benda langit yang punya cahaya sendiri. Bila ada bintang di bumi, mungkin Orihime-lah yang pantas menyandang gelar itu. Langkahnya teratur apik, tidak cepat juga tidak lambat, menapaki sepanjang karpet, tepi shiromuku terseret anggun di belakangnya. Ada Hachigen Ushoda, berperan sebagai pendamping, menemaninya hingga tiba di altar suci. Seorang pendeta menunggu di sana.

Upacara berlangsung khidmat, tenang, dan keramat. Sepasang jingga diberi pemurnian oleh pendeta, sebelum menuju ritual berikutnya. San-sankudo. Ichigo dan Orihime mengesap sake pada tiga cangkir yang disediakan. Tampaknya ini bukan pengalaman pertama Ichigo, reaksinya biasa saja. Namun, lain hal untuk Orihime. Merah menjalar kentara di muka putih berasnya. Pun ikrar pernikahan dilayangkan bersamaan. Perhatikan wajah gugup Ichigo. Menghadapi Aizen dan Juhabach di masa lalu tidak cukup membuatnya setegang ini.

Acara pernikahan telah mendekati akhir. Rukia mau keluar sebentar, dengan alasan kamar mandi, sekaligus menemui laki-laki bernama Toushiro Hitsugaya, yang apesnya bekerja sebagai hansip penjaga pesta. Rukia kecewa untuk yang satu itu. Ia baru akan bangkit kala menjumpai Karin Kurosaki mengendap menyusup melalui celah pintu.

Rukia tidak suka perasaan ini.


. . . . .


Toushiro Hitsugaya berdiri di udara, melayang di tengah langit biru siang dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Bersedekap lengan, mata menyapu seisi area, terutama gedung hotel tepat di bawah kakinya. Ia mengabaikan saja muka cemberut Rangiku Matsumoto.

Letnannya sudah siap sedia dengan gaun, pernak-pernik, bahkan make-up terbaik. Namun, ia berusaha tega membuyarkan mimpi Rangiku. Ini tugas mereka, tugas divisi mereka, mengamankan upacara pernikahan hingga detik terakhir. Tidak melibatkan Rangiku sama saja tidak menganggap kemampuan wanita itu.

Wajahnya kontan berkerut nyeri. Tangan tanpa sadar memegang bahu. Sial.

"Toushiro!"

Panggilan dari bawah menggema ke penjuru, asal dari atap hotel. Karin Kurosaki berteriak sekeras-kerasnya tanpa malu. Rangiku mendahuluinya turun, dan ia mau tidak mau mengikuti.

"Wah, kau cantik sekali, Adiknya Ichigo!"

Karin tersipu-sipu, terlebih Hitsugaya termangu menatapnya. "Ke-kenapa, Toushiro?"

Tersengat. "Tidak." Toushiro cuma kaget mendapati kemampuan magis kimono, bisa mengubah karakter tomboi menjadi feminim. Ia jadi antusias melihat Rukia. Gadis itu ... pasti cantik sekali. Sial. Ia ingin melihatnya.

"Pernikahannya sudah selesai?" tanya Matsumoto.

"Aa," Karin gagap, "...hampir."

Jawaban itu membuat satu alis Rangiku naik.

"Aku ... ke sini," merah sudah meraja paras mulus Karin, "...karena cemas."

Rangiku meneguk ludah. Oh, tidak. Tanda-tanda ini, aroma ini. Mustahil ... gadis ini repot-repot datang, meninggalkan resepsi pernikahan kakak laki-lakinya, menaiki ratusan anak tangga demi―

Karin lebih tegas untuk selanjutnya, "Apa kau baik-baik saja, Toushiro?"

―demi kaptennya.

Si putih heran sejenak, lalu keras menjawab, "Iya, aku baik-baik saja. Apa yang kau cemaskan?"

Rangiku tidak tahu harus menghela napas lega atau memukul kepala kaptennya. Si jenius peka pada perasaan gadis bernama Rukia sekaligus tumpul pada perasaan gadis lain.

"Aku cemas, kau tahu! Aku sudah diberitahu Yamada-san! Kau bukan hanya luka biasa, tapi kau juga kena racun!"

Tu-tunggu, Rangiku keteteran. Apa ia ketinggalan sesuatu?

"Kau tidak perlu mencemaskanku! Harus berapa kali aku bilang―Aakh!"

"Taichou?!"

"Toushiro?!"

Toushiro meringis sakit memegang pundak. Ini bukan sekadar nyeri, tapi sesak sampai napas di hidung dan mulut serasa disumbat paksa. Tanpa tedeng aling-aling, Karin menarik tepi kerah, menjumpai lebam hitam parah di pundak, merembes turun ke lengan. Rangiku menahan napas penuh kejut.

"Matsumoto-san, bisa panggil Yamada-san?"

Wanita itu langsung mengangguk, angkat kaki secepatnya walau terpikir kenapa Karin yang memberinya perintah, bukan sebaliknya.

Baru satu anak tangga ia turuni, Hanatarou Yamada sudah menampakkan muka lesu andalannya.

"Yamada―"

"Serahkan Hitsugaya-taichou pada saya, Matsumoto-fukutaichou!"

Rangiku mematung bingung, si bocah lunglai lari tergesa-gesa menuju atap. Suara langkah lain menyusul dari lantai bawah. Ada―

"Kuchiki?"

"Ba-bagaimana? Apa dia―"

Ah, Rangiku tahu. Rukia Kuchiki bersembunyi di balik pintu menuju atap sejak tadi. Gadis itu menahan diri seusai memergoki perempuan lain memerhatikan, mencemaskan, dan mengetahui hal penting tentang orang dikasihinya daripada dirinya.

"Matsumoto-fukutaichou―"

Rangiku meraih tangan gemetar si mungil. "Ayo. Tidak ada yang lebih dibutuhkan Taichou ketimbang dirimu."


. . . . .


"―ra-racun sudah tiba di paru-paru. Bila terlalu lama, racun juga bisa menyebar ke jantung dan otak."

Sudah terlahir dengan paras penakut minta dikasihani, Hanatarou berjuang sekeras mungkin menjelaskan kondisi Toushiro di hadapan muka-muka beringas kapten dan letnan.

Matahari sudah lama tumbang dan malam maju mengambil alih. Soul Society tidak boleh diacuhkan sehari penuh oleh setengah pejabat Gotei 13. Para kapten: Byakuya, Shinji, Rose, Kensei, dan Kenpachi; juga letnan dan lainnya: Shuuhei, Yachiru, dan Kotetsu bersaudara; memutuskan pulang duluan.

Rukia, Renji, dan Hinamori membungkuk hormat mengirim rombongan melalui senkaimon, pulang ke kampung halaman. Melewati pintu Toko Urahara yang digeser Renji, ada pengantin baru duduk cemas di depan shouji.

Rukia menghampirinya. "Pulanglah, Ichigo, Orihime. Semuanya akan baik-baik saja." Ia harap.

Orihime menengadah, berwajah peduli. "Tapi, Toushiro-kun ... bagaimana? Andai saja, aku bisa menolong..." Penyembuhan shun shun rikka hanya untuk luka luar.

Rukia lalu memberi isyarat mata pada Ichigo. Meski butuh lima menit membujuk, si jingga berhasil dan pasangan baru itu undur diri.

Harusnya malam ini adalah resepsi kedua mereka dan pesta akan diadakan di rumah. Rukia ingin meminta maaf di antara rasa cemasnya dengan kondisi Toushiro, mengacaukan hari bahagia pasangan jingga.

Shouji digeser dari dalam. "Eh, Ichi-nii dan Orihime-chan sudah pulang?"

Ah, Rukia lupa dengan keberadaan satu orang ini.

"Bukannya kau juga harus pulang? Kau sekolah, kan?" Renji memang tidak pintar mengatur suara kasarnya pada seorang bocah.

Karin bertolak pinggang. "Besok hari minggu, Isoro-san."

Renji tahu ia tidak akan bisa berdamai dengan anak berkelakuan kurang ajar. Karin dan Jinta adalah contoh sempurna.

"Tapi, Ichigo-san dan Orihime-san akan cemas bila kau tidak pulang, Kurosaki-san." Sambil menenangkan emosi Abarai, Hinamori maju mengambil alih. "Ayahmu dan saudari kembarmu juga pasti cemas."

Ini bukan sekali Karin tidak pulang tanpa izin. Tapi sekarang, rumahnya sudah tambah satu penghuni. Dan Orihime adalah orang yang paling tidak ingin dibuatnya khawatir.

Menutup shouji di belakang yang tidak sempat ditutup, Karin turun memakai geta yang tidak sempat diganti sandal biasa. Melangkah keluar dengan kimono yang dilipat hingga lutut, memudahkan berjalan.

Hinamori menyikut rusuk Renji. Paham, si nanas merah lari menyusul. "Oi, tunggu, Adiknya Ichigo!" Menemani Karin pulang hingga selamat.

Lega. Hinamori sukses menjalankan misi menghilangkan hawa canggung jika si gadis SMA berada di sini sepanjang malam.

Ia kemudian turut bersama Rukia masuk ruangan tempat Toushiro berbaring tidak sadar. Bergabung dengan Hanatarou, Rangiku, Urahara, dan Tessai yang semula berada di sana

Energi roh Hitsugaya belum stabil. Alasan memilih pulang besok, alih-alih hari ini. Hanatarou akan berjuang mengoptimalkan sirkuit reiryoku sepanjang malam seiring mengganjal aliran racun. Kata si bocah, ini jadi pembalasan dosanya yang terus menutup mulut.


. . . . .


Ini bukan kalimat pertama yang diinginkan Ichigo kala bangun tidur tepat sehari setelah pernikahannya.

"Aku akan ke Soul Society, Ichi-nii. Menemani Toushiro pulang dan memastikan kalau dia baik-baik saja."

Ichigo masih belum ngeh saat adiknya memakai jaket siap berangkat dan beranjak menuju pintu.

"Tu-tunggu." Ia tersedak air dingin botolan, menyimpan asal-asalan ke lemari es. "Tunggu, Karin!"

Ichigo menyusul, dengan sandal Oyaji yang lebih mudah didapat. Meminta maaf pada Orihime dalam diam. Pasti istrinya akan mencarinya gara-gara menghilang di pagi buta. Gadis itu (iya, masih seorang gadis. Dengan keadaan kacau dan Toushiro, malam pertama ditiadakan dulu) masih tertidur lelap, Oyaji dan Yuzu sama saja. Tidak ada yang membantunya menghentikan niat gila Karin.

Berhenti di depan pintu Toko Urahara, didengarnya suara meminta Karin untuk turut serta ke kampung halaman para roh dan Shinigami. Ditariknya pintu, berjumpa dengan adik yang bersimpuh, memohon pada Hinamori dan Renji. Ia lalu cepat-cepat menghampiri.

"Oi, Karin!" Lengan si rambut hitam disergapnya. "Jangan sembarangan! Apa yang kau pikir―"

"Aku bukan anak kecil lagi, Ichi-nii!" Mata Karin melotot tajam. "Aku sudah 18! Jangan cemas!"

Maksud Ichigo bukan itu, walaupun ia juga khawatir sebagai kakak. Ini soal tujuan adiknya ke Soul Society.

Shouji kemudian bergeser, Rukia muncul bersama Rangiku. Melangkah keluar, meninggalkan Hanatarou merawat Toushiro, mengoptimalkan energi si kapten untuk pulang.

Karin sontak bersujud, "Rukia-chan, izinkan aku ke Soul Society. Izinkan aku memastikan kalau Toushiro baik-baik saja. Gara-gara aku tidak memerhatikannya di Tokyo, dia jadi begini."

Antagonis meminta sang Heroine mengizinkannya menemani sang Hero pulang ke rumah dan menjaganya.

Ini pemandangan aneh. Dari sudut mana pun kau melihatnya, ini betul-betul aneh.

Semua kepala berpaling pada Rukia, mengerubutinya bagai ngengat. Tapi, entah sandiwara si mungil memang luar biasa, sejak semalam tingkat emosinya stabil, termasuk pagi ini.

Ujungnya, hadirin diberi lelucon seolah hari ini April Mop.

"Iya, kau boleh ikut kami, Karin-chan." Namun, bagi Karin, hadiah dari Sinter Klas datang lebih dini.

"O-oi, Rukia?"

Rukia menatap Ichigo. Untuk kali pertama, si jingga tidak tahu apa yang tergambar di paras sahabatnya. "Biarkan saja, Ichigo. Aku akan memastikan Karin-chan pulang dengan selamat. Aku sendiri yang akan mengantarnya."

Wajah Karin berbinar senang, berterima kasih; wajah Ichigo suram, meminta maaf.

Rukia mengabaikan dua-duanya.

Dibantu oleh Kurosaki sulung, Toushiro mendarat di punggung Renji. Si nanas bertugas menggendong pasien hingga tiba selamat di Seireitei.

Ada manusia, Shinigami menggunakan senkaimon milik Urahara. Mereka menapaki jalan dangai yang seperti tanah becek bermaterial padat bersama jigokuchou.

Sepi dan canggung. Dua kata cukup menggambarkannya.

Karin senantiasa di depan bersama Renji. Si nanas lantas gugup meskipun bukan ia yang jadi perhatian mata adiknya Ichigo.

Rukia paling belakang, tidak ada suara.

Selebihnya di tengah, terkekang. Mirip ikan di dalam panci bertekanan.

Tokoh ketiga diizinkan tokoh kedua menemani tokoh utama pulang ke rumah dan menjaganya.

Ini pemandangan aneh. Dari sudut mana pun kau melihatnya, ini betul-betul aneh.


. . . . .


Pukul 21.00 adalah akhir jam kerja Rukia di divisi ke-13. Hari-hari kemarin, Toushiro kadang menanti di gerbang, mencuri waktu di padatnya kesibukan mengantarnya pulang. Hari-hari sekarang dan mungkin ke depannya, cuma angin dingin yang menjemput dan menemaninya.

Kaki berhenti di perempatan. Untuk pulang ke rumah, jalan lurus saja. Berbelok ke kiri, menuju divisi ke-10. Ke kanan, bergerak rumah sakit. Langkah mengayun, menikung ke kanan dan beranjak pada toko bunga yang biasa tutup 21.15.

"Selamat datang!"

Gadis muda menyambut tamu familiar. Letnan Kuchiki adalah pelanggan tiga hari berturut-turut di ujung jam kerja.

"Yang biasa, Miki-san." Rukia cuma berdiri sepi, dua langkah dari pintu.

"Hai, sudah sedari tadi saya siapkan, Kuchiki-fukutaichou!" Melepaskan seragam toko, diraihnya keranjang di rak, mengangsurkan pada pemilik tangan pucat.

Rukia mengernyit pada jumlah bunga yang lebih banyak dari biasanya.

"Hanya bonus untuk seorang pelanggan."

Rukia tersenyum tipis, terima kasih.

Keluar toko, ia tidak berpulang pada perempatan, lebih meneruskan jalur semula. Gedung bersusun tujuh tidak lama menjumpai mata. Diliriknya papan jadwal besuk: 09.00 – 19.30. Rukia sudah tidak bisa masuk, namun tangannya tetap mendorong gerbang. Terbuka, mudah sekali.

Orang baik hati menjadikannya pembesuk yang dikecualikan.

Rukia melangkah membelah halaman luas nan lapang, siluet raksasa membayang di bawah sinar bulan. Melewati pintu masuk gedung dengan suara deritan, menapaki tangga anak demi anak, langkah menggema horor di tengah hening. Napas tidak memburu lelah meski harus menempuh jarak hingga lantai empat menuju kamar paling ujung.

Pintu terbuka dari dalam. Retsu Unohana keluar dari kamar khusus dengan perangkat medis paling lengkap. Tersentak sedetik saja sebelum tersenyum menyambut.

"Sudah datang, Kuchiki-fukutaichou?"

Rukia membungkuk hormat, bergumam iya yang tidak didengar bila suasana tidak betul-betul senyap.

Senyum Unohana tidak raib. "Kondisinya sudah stabil. Kau tidak perlu cemas."

Sang bangsawan berucap terima kasih, kembali bergumam.

Rukia tidak punya waktu banyak. Unohana pun bergerak meninggalkan. Mendengar lirih terima kasih yang kedua. Gadis itu bersyukur pada kebaikan hati si kapten keibuan, mengizinkannya menengok di luar jadwal.

Remang. Sinar bulan adalah pencahayaan dengan luas kamar dua kali lipat dari kamar rawat umum. Berjalan melintasi sofa dengan Karin terlelap di sana. Gadis itu betul-betul peduli pada Toushiro. Gadis itu ... mencintai Toushiro.

Berakhir pada nakas di sebelah ranjang putih. Ia mengganti bunga kelopak putih dengan yang baru. Dikerjakannya dengan sepelan mungkin, tidak mau mengusik dua penghuni kamar. Bila mereka terbangun, sia-sia saja maksudnya datang di malam-malam begini.

Berpaling pada pemuda bernama Toushiro Hitsugaya.

Rukia membetulkan selimut Toushiro, meski sudah terpasang benar. Ia menggeser tangan yang terletak di dada menjadi lurus terlentang, meski tidak betul-betul dibutuhkan. Ia menggeser tiang infus lebih dekat pada ranjang, meski seperti kegiatan membunuh waktu.

Perasaan ... seolah kau tidak dibutuhkan. Perasaan ... seolah kau berada di tempat, posisi, dan waktu yang salah. Perasaan ... seolah kau tidak lebih dari karakter pajangan. Perasaan itu memburu Rukia seperti rantai besi yang mencekik jantung hingga berdarah-darah.

Satu pertanyaan aneh melintas. Apa arti dirinya untuk Hitsugaya-taichou?

"Ummm, Rukia..."

Toushiro mengigau. Artinya tanda bahwa jam besuknya sudah berakhir. Sepuluh menit saja.

Gorden putih berkibar lemah. Jam berdenyut lambat. Hempasan napas lembut Karin. Dengkuran pelan Toushiro.

Sesunyi Rukia datang, sesunyi pula ia pergi.


. . . . .


"Toushiro!"

Yang paling bikin panik sebagai penjaga pasien adalah hilangnya pasien itu sendiri. Karin bangun dan mendapati ranjang putih kosong di depan mata. Sandal dan haori juga ikut kandas, menyisakan untaian selang infus yang dilepas begitu saja.

Mengumpat sepanjang jalan, koridor, dan tangga. Entah bagaimana, ia berakhir di WC umum lantai satu. Sudah lepas kendali dan sabar, Karin berniat nekat menerobos masuk; bersamaan nama kakaknya disinggung.

"Adiknya Ichigo Kurosaki?"

Tahu-tahu saja, Karin berada di balik tembok, bersembunyi meski ia tidak tahu kenapa. Dua Shinigami pria keluar dari WC.

"Iya, perempuan yang menjaga Hitsugaya-taichou."

Suara itu menuju arah berlawanan.

"Oooh, jadi dia pacarnya Hitsugaya-taichou?"

Meski begitu, ia masih bisa mendengar cukup jelas.

"Eh, bukan! Ada-ada saja. Pacarnya Hitsugaya-taichou itu Ku―"

"Karin Kurosaki-san?"

Karin hampir menjerit, berbalik kaku pada Unohana yang selalu memberinya senyum. Jujur, ia sedikit ngeri dengan kapten berparas keibuan ini.

"Sedang apa?"

Karin jadi kesusahan bicara. "Me-mencari Toushiro. Dia menghilang."

Unohana adalah dokter Toushiro, tapi wanita itu tidak bereaksi layaknya dokter yang kehilangan pasien. "Begitu. Kalau boleh aku beri saran, cari di taman belakang atau atap. Kamar mandi jelas tidak akan didatangi Hitsugaya-taichou saat melarikan diri."

Pasti pasien yang hilang dari perawatan sudah jadi rutinitas rumah sakit. Karin terkejut bagaimana berbedanya keadaan di Soul Society dan Dunia Manusia.

"Be-begitu. Terima kasih." Ia undur diri cepat-cepat, lupa memberi sopan santun, menunggu komentar dari Unohana.

Di antara dua pilihan, Karin mengunjungi taman terlebih dulu. Atap, belakangan.

Ia berlari-lari kecil sambil memikirkan empat kata kunci. Toushiro sudah punya pacar. Merah tomat merembes memenuhi muka. Ia malu. Bersikap belagak dekat dengan Toushiro kala laki-laki itu sudah punya seseorang yang berarti. Ia murung. Berharap besar bisa menjadi seseorang yang lebih lekat di hati si kapten muda, tapi pupus sudah.

Punggung ber-haori coklat duduk di batu tepi kolam. Orang yang ia cari. Sayang, Karin tidak seantusias lima menit sebelumnya.

Toushiro menoleh saat adik Ichigo berdiri di sampingnya. Kemudian kembali memberi makan ikan koi.

"Aku mencarimu ke mana-mana, Toushiro," Karin memberitahu, mau datar saja, tapi ujung-ujungnya seperti kesal.

"Aah, aku tidak tahan di ranjang terlalu lama."

Saudari Yuzu lupa kalau ia harusnya memarahi si putih karena membuatnya cemas.

Toushiro sudah punya pacar. Karin jadi ingin tahu siapa gadis beruntung itu.

"Nah, Kurosaki―" ia pun paham alasan Toushiro tidak mau memanggilnya dengan nama depan, "―apa Rukia pernah datang selama aku tidak sadar?"

Si tomboi mengernyit. Toushiro ternyata akrab dengan Rukia-chan, seperti Ichi-nii dan Abarai-san. "Tidak. Rukia-chan tidak pernah datang."

Toushiro menggumam saja. Lalu siapa yang menaruh bunga di kamarnya? Tidak ada yang tahu (bahkan, Matsumoto) kecuali Rukia, bahwa ia lebih menyukai bunga bertangkai rapuh berkelopak putih bersih bernama snowdrop daripada daffodil. Dan bunga itu bertengger segar di kamar seolah baru saja dipetik.

Mata tajam Karin memerhatikan si kapten. Bugar, muka segar, dan tubuh prima. Berarti... Ia menggigit bibir. "Karena kau sudah baikan, kurasa akan pulang ke Karakura sekarang."

Alasan lain mendukung keinginannya tersebut.

"Oh." Toushiro mengangguk saja, membersihkan tangan dari remah. Ia bangkit dan menghadapnya. "Terima kasih, kalau begitu, Kurosaki. Kau sudah menjagaku selama ini."

Apa-apaan ucapan terima kasih itu? Itu saja? Diucapkan tanpa kepedulian mendalam. Datar sebatas kenalan atau teman biasa.

Karin mengertakkan gigi. Ia hampir mati cemas selama hari-hari terakhir. Rela mengikutinya ke Tokyo, rela menemaninya saat pernikahan Ichi-nii, rela datang ke Soul Society. Namun, yang ia dapat ... hanya ini? Padahal, perempuan yang dikatakan pacar Toushiro tidak pernah menampakkan batang lehernya.

Karin ingin lebih dari Toushiro. Ingin ... lebih!

"Kalau begitu," namun, ego belum mau menunjukkan taringnya, "aku akan menemui Rukia-chan."

Murni ingin bertemu Rukia pula, Toushiro menawarkan ini, "Aku temani kau ke sana."

"Tidak perlu." Hambar sudah suaranya. "Aku bisa minta Kotetsu-san."

Tidak butuh banyak drama. Karin langsung angkat kaki, betul-betul pergi tanpa perlu pelukan dan tetesan air mata. Ia bukan gadis cengeng. Sisa perasaan tulus ia sampaikan dalam hati.

'Selamat tinggal, Toushiro.'


. . . . .


"Ini akan jadi pertama dan terakhir aku datang ke Soul Society, Rukia-chan."

Kepala Rukia langsung berpaling. "Eh, kenapa?"

Daratan dangai yang tidak menarik, mendadak menarik di mata Karin. "Aku tidak punya tujuan lagi untuk datang."

Apa yang terjadi pada anak ini? Apa Toushiro mengatakan sesuatu?

Si mungil pun tidak memberi respons lebih. Ia tidak pintar memaksa orang.

"Nah, Rukia-chan," apa Karin perlu menyinggung hal ini, "aku dengar Toushiro punya pacar?"

Langkah sang bangsawan menjeda satu ketukan. "...Iya. Itu benar."

Desahan lesu. "Begitu..." Harapan betul-betul nol. "Aku jadi ingin tahu siapa perempuan itu."

Jantung Rukia hampir saja berhenti.

"Maksudku, Toushiro sakit! Dia menderita di Karakura, dia menderita di rumah sakit, tapi perempuan itu tidak pernah datang!"

Paras Rukia bersembunyi di balik tirai rambut.

"Perempuan seperti itu tidak pantas untuk Toushiro. Maksudku―"

Rukia sudah kalah tiga langkah dari si pembicara.

"―Toushiro begitu baik. Dia harusnya bersama seseorang yang bisa lebih memerhatikannya."

Sinar putih tampak di kejauhan. Gerbang keluar dangai menuju Dunia manusia di depan mata. Rukia sudah tidak menemukan suaranya.

"Kau juga berpikir begitu, kan, Rukia-chan?"

Sebentar lagi tiba di pintu yang terhubung langsung dengan ruang bawah tanah Toko Karakura. Rukia hilang pijakan.

Sepi, Karin berbalik. "Rukia-chan?"

Tidak pantas untuk Toushiro. Kalimat itu berubah menjadi beban seberat beton di pundaknya. Rukia mangap-mangap, menggapai-gapai, mencari-cari kekuatan, keluar dari lautan gelap yang menenggelamkan sampai dasar.

"Kalau kita bersama, kita tidak sendiri lagi."
"―Maukah kau bersamaku agar kita tidak sendiri?"

Daya setipis jaring laba-laba dan sekuat rambut terjulur membantunya. Rukia mengangkat wajah dengan beban beton yang menekannya. Sepasang mata ungu berkaca-kaca, ini pertahanan terakhir sang letnan.

"Sudah sampai, Karin-chan."

"Tu-tunggu." Karin panik. "Kau kenapa, Rukia-chan?"

Namun, nona Shinigami memilih mendorongnya, memaksa adik Ichigo untuk segera pulang. "Sampaikan salamku untuk Ichigo dan Orihime."

"Tu-tunggu, kau―"

"Aku adalah pacar yang buruk itu."

Tubuh Karin tenggelam pada kubangan putih, bersama raut pias dan rasa bersalah. Mulut terbuka, kemudian tertutup, terbuka lagi, dan kembali tertutup. Rapat-rapat. Terngiang-ngiang suara Shinigami pria di rumah sakit.

"Eh, bukan! Ada-ada saja. Pacarnya Hitsugaya-taichou itu Kuchiki-fukutaichou"


To be continued…


.

.

.

.

.

A/N:

Gila! 26 halaman! Ini tulisan terpanjang satu chapter dalam sejarah(?) saya di ffn, hehehe

Saya betul-betul kebablasan. Maaf.

Sebelum lupa, Selamat Hari Raya Idul Adha bagi yg merayakan.

Yosh, berniat review?

13 September 2016