Terima kasih atas review di chapter sebelumnya :

Hanamitanbetul-betul, baik dua perempuan itu ga ada yg salah. mencintai seseorang tdk ada yg salah#soktau Makasih udah nyempet review, Hana-san
Guesthohoho, baru sadar dalam tiga chapter terakhir, drama mulu yg ngisi. author sedang menikmati genre drama yg dulu sangat dihindarinya, heheh Makasih udah nyempetin review, ya.
BLEACHvers―hehehe, bagian IH cuma ada di chapter kemarin aja. kalau mau lebih baca ttg mereka, silakan baca fic saya "Sepasang Jingga"#promosimodeon Makasih udah nyempetin review, ya.

Terima kasih pula ma yg udah login (sudah sy balas di PM-nya masing-masing): Yuki ChibiHitsu-chan | hikarishe | Eonnichee835


Disclaimer: Bleach milik Tite Kubo
Warning: author yg kembali jadi newbie, bahasa kaku, diksi mengenaskan

Pairing: HitsuRuki dan pasangan lain

.

.

.

.

.

"―untuk sementara, kita jangan bertemu dulu."

Kamis, 07 Oktober. Toushiro tahu itu bukan hari dan tanggal kesialannya.

Malam hari, 19 derajat celsius. Toushiro tahu ia lebih suka malam dengan suhu di bawah 20.

Depan gerbang, markas divisi ke-13. Toushiro senang tempat ini, keberuntungan selalu mendatanginya.

Namun, ia merasa segala hal; hari, tanggal, bulan, suhu, dan lokasi sepakat berembuk mengkhianati, memusuhi, dan menertawakannya.

Pita suara bergetar, bibir ikut-ikutan. "Kau betul-betul bosan padaku, Rukia?" Itu bukan karena angin dingin yang bermain-main dengan tengkuk telanjangnya.

Rukia tidak mengangkat wajah, karena wajah sudah terpampang ke depan. Ia tidak meneguk ludah, karena ragu sudah terbawa tekad. "Bosan?" Suaranya meluncur lurus. "Kenapa Anda selalu berpikir begitu?"

Jarak mereka hanya tiga langkah, tapi seperti ribuan kilometer di mata Toushiro. "Lalu apa...? Kalau kau tidak bosan, kau tidak menyukaiku lagi?"

Paru-paru Rukia sudah seperti daun kering kerontang. Ia sudah tidak tahu bagaimana menarik napas. Apa-apaan ini? Bosan? Selama tiga tahun, apa hal itu yang selalu ditakutkan si kapten?

Salah, Rukia tidak bosan. Meraih boneka yang kau idam-idamkan sejak lama. Namun alih-alih menghabiskan waktu dengannya, menyentuh bulunya saja kau tidak pernah.

Bosan bukan kata yang tepat. Sebab sedari detik awal, ia dan Toushiro tidak pernah tiba di garis start. Hubungan selayaknya, tidak pernah mereka mulai. Seperti membeli buku kosong, alih-alih mengisi di halaman pertama, kau memilih menorehkan pena di halaman tengah. Pada akhirnya, halaman awal terbuang percuma begitu saja.

Itulah yang terjadi tiga tahun ini.

Hampa.

Rukia mengikuti kata hati seiring lidah menuturkan tulus, "Saya memang tidak menyukai Anda. Tapi, saya mencintai Anda―sangat mencintai Anda."

"Rukia?" Toushiro ingin lari mendekapnya.

"Tolong tetap di situ. Jangan mendekat."

Perintah itu berubah jadi rantai semu, menjerat kaki Hitsugaya tetap di tempat.

Rukia sudah memikirkan ini matang-matang. "Tolong beri saya waktu." Saking matangnya, kepalanya sudah tidak berisi apa pun lagi. "Tolong―untuk sementara, kita jangan bertemu dulu."

Toushiro tidak mau terima ini begitu saja. "Kalau ini soal aku dan Kurosaki―"

"Ini bukan hanya soal Karin-chan!" Rukia memang sengaja menekankan betul hal ini. "Bahkan sebelum dia datang, semuanya sudah cukup buruk."

Kekosongan tiga tahun sudah membuat hubungan mereka layaknya orang-orangan sawah. Tanpa daging, kurus bertulang. Kemunculan Ashido menjatuhkannya bertemu tanah, menceraiberaikan anggota tubuh satu dengan lainnya. Keikutcampuran Karin memercikkan api sebesar lilin, menghanguskan, dengan hanya menyisakan kepalanya saja.

―tinggal kepala saja.

Rukia menutup mata. Ia benci pikiran ini. Ia tidak menyukai pertanyaan ini. Ia seperti bocah ingusan saja yang bertanya pada ibunya, 'Kenapa dia diberi nama Rukia?'.

"Untuk Anda," tapi, ia ingin tahu arti eksistensi dirinya, "saya ini apa, Hitsugaya-taichou?"

Mulut Toushiro terbuka begitu saja. Kerutan kening keras tampak betul-betul, tidak paham atau ia tidak tahu bagaimana menuturkannya.

Rukia akan memberinya waktu, asal Toushiro pun memberinya waktu. Mereka butuh rehat sejenak. Mencermati dan mengamati masak-masak mau mengambil jalan apa untuk kebaikan masing-masing. Melanjutkan, memulainya dari awal, atau ... berhenti di sini saja?

Rukia sudah siap siaga seratus persen ke mana ini semua akan berakhir. Untuk kemungkinan terburuk, sekalipun.

"Kalau begitu, saya permisi."

Toushiro tidak menarik Rukia yang tepat berlalu di sampingnya, masuk menenggelamkan diri ke balik gerbang. Si kapten mematung bersama angin, membisikinya pecundang; sinar bulan yang menyorotinya pengecut.

Pecundang dan pengecut? Untuk detik ini, julukan itu lebih pantas ketimbang jenius.


#5#

.

Camellia - noble reason


Mulut Rangiku menguap lebar sekali, bola tenis bisa muat masuk. Merenggangkan badan pegal sehabis bangun tidur. Tingkah serampangan yang tidak serasi dengan wajah jelita dan penampilan modisnya.

Menarik pintu lumayan keras, suara kuapan menyelip di antara sambutan, "Selamat pagi, Taichou~!"

Pagi sebelumnya, Toushiro duduk di kursi sambil memajang raut murka.

Pagi sebelumnya, tumpukan berkas mirip rumah susun tertata di meja.

Pagi sekarang, baik Toushiro dan berkas, libur mengisi kursi dan meja.

Rangiku berjalan menengok kalender. Bulan Oktober. Taichou kecepatan memberinya lelucon April Mop. Di mana-mana, soulmate itu selalu bersama. Meja kerja dan gulungan berkas adalah pasangan hidup-mati kaptennya. Kalau Rangiku, soulmate-nya adalah sofa; menyambutnya pagi, siang, dan malam. Menemaninya malas-malasan setiap saat.

Ia mendatangi si 'belahan jiwa', mendudukkan bokong pada sofa keras dan berbukit, alih-alih empuk dan nyaman. Sofa lalu menggeram mirip singa baru bangun tidur.

"Apa yang kau lakukan ... Matsumoto?"

Pantat empuk Rangiku bertemu dada keras Toushiro. Sebelum wanita itu sempat memekik, Toushiro sudah mendorongnya. Badan singset letnannya mencium meja, dengan dada mendarat lebih dulu.

Meringis ngilu, ia bangkit menggerutu. Berbalik pada sosok berantakan Hitsugaya, baik rambut dan wajah, yang berdiri cuek, melangkah menjauh, dan menghilang di balik kamar mandi. Suara keran menyusul, tiga menit kemudian pintu terbuka.

Sosok berantakan itu mangkir pada kursi di balik meja kerja yang mulus tanpa berkas.

Rangiku menghempaskan badan nyaman, mengangkat kaki ke sofa, dan melentangkan lurus hingga tapak kaki menyentuh lengan bangku. "Ada apa, Taichou? Apa ada sesuatu yang terjadi?"

Seingatnya, detik sebelum ia pulang dan meninggalkan Hitsugaya semalam, laki-laki itu bersemangat untuk berkunjung ke divisi ke-13. Menemui pujaan hatinya, Rukia Kuchiki.

Tapi, apa sekarang?

Kepala Toushiro mendarat malas di kepala kursi, sepasang tangan menjuntai malas di sisi kursi, sepasang mata menutup malas tanpa tanggapan. Meteor akan segera jatuh di Soul Society. Di mana kapten penyayang rajin pembenci malas?

Rangiku yang ber-IQ jongkok saja paham ini adalah kondisi gawat.

Kakinya sudah agak ditekuk, badan maju dengan dada bertemu lutut. Ia panik. "Taichou? Ada apa? Anda tidak bertemu Kuchiki semalam?"

Nama itu diungkit. Mata kuyu Toushiro terbuka, menegakkan badan, baru sadar ia memakai shihakushou saja. Di mana haori-nya? Ia lupa.

"Tai―"

Pintu diketuk, Rangiku menoleh beringas. Ujungnya, Takezoe berubah kikuk, hawa suram memenuhi kantor. Ia jadi serba salah. Di pengalamannya, sinyal begini berarti ia harus jauh-jauh dari sini. Hanya saja, ia membawa sebuah amanat penting.

Masih sayang nyawa, ia pun memutuskan bijak, "Sa-saya bisa datang lagi―"

"Masuklah, Takezoe," kapten mengumandangkan perintah.

Dicakar kucing (Rangiku) atau dilumat singa (Toushiro)?

Sebodoh apa pun Takezoe, ia lebih patuh pada singa.

Bergerak sekaku robot, ia menghampiri meja dengan peluh. Melirik-lirik takut pada Matsumoto-fukutaichou yang menyipitkan mata jengkel. Ia tahu, ia sudah mengusik obrolan mahapenting.

Kotak makan mencium meja kerja berpelitur mengkilat. Toushiro memandang malas-malasan.

"Sarapan, Taichou," jelas si pria berjanggut sebelum sang kapten menyuarakan pertanyaan.

Toushiro mendesah berat. Ia tidak berselera. Tapi, ada keanehan yang sayang dilewatkan. "Daripada pakai piring, kini pakai kotak, ya?" Apa ini gaya baru para koki markas?

"Bu-bukan begitu," Takezoe seperti bingung mau memakai kata apa, ia tidak bawa kamus. "Ini titipan seseorang. Katanya, bagus untuk pemulihan Anda. Mengandung karbohidrat, vitamin, protein, serta mineral. Rendah lemak dan tinggi serat."

"Siapa?"

Takezoe sudah berjanji untuk tidak menguak jati diri si pemberi.

"Takezoe, siapa?"

Takezoe sudah berjanji untuk merahasiakan jati diri si pemberi.

"Takezoe..."

Takezoe sudah―tapi di mana-mana, nyawa selalu berada di urutan pertama! Lihat saja hawa mencekam dan mencekik Hitsugaya-taichou yang siap menelannya hidup-hidup.

Gagap saja, "Ku-Ku-Kuchiki-fuku-kutaichou..."

Tahu-tahu saja, tangan Toushiro menyambar kotak makan, dan melesak secepat angin menuju pintu keluar.

"Tolong―untuk sementara, kita jangan bertemu dulu."

Namun, rantai imajiner menghentikannya serta merta, menyetop kaki tepat di tengah ambang pintu. Itu bukan mimpi.

"Untuk Anda, saya ini apa, Hitsugaya-taichou?"

Toushiro ambil waktu untuk bergeming. Berbalik lambat kemudian, pelan namun pasti, berpulang pada meja kerja. Melewati Rangiku yang terbengong dungu dan Takezoe yang mematung beloon. Kapten itu menghempaskan badan pasrah di kursi keras.

"Kalian berdua," sontak sepasang badan menegak sekaku tiang, "tinggalkan aku sendirian."

Mata berkedap-kedip seperti lampu lalu lintas sebelum angkat kaki tanpa kata. Pintu ditutup sedemikian rapat. Meninggalkan sang kapten dengan kotak makan yang langsung dibuka.

Toushiro tidak perlu ditemani saat sarapan.


. . . . .


Baru lima menit buku itu Rukia baca, sebuah bayangan berdiri menjulang membelah shouji. Cepat-cepat buku ditutupnya, kali ini Nii-sama datang lebih cepat dibanding malam-malam kemarin.

"Rukia―"

"Hai', Nii-sama, saya akan segera―"

"―bisa keluar sebentar?"

Rukia tidak jadi bersembunyi di balik selimut.

Sepi punya makna menyenangkan bila bersama sang kakak. Kau akan menikmatinya layaknya mendengarkan senandung musik menenangkan dan meneduhkan. Rukia selalu tenteram.

"Akhir-akhir ini, apa perasaanku saja atau Hitsugaya-taichou memang jarang mengantarmu pulang?"

Topik yang tidak pernah masuk daftar kalimat awal Nii-sama. Rukia menumpukan telapak kaki pada kaki lainnya. "Iya, kami saling memberi jarak." Tepatnya, saya yang memberi jarak.

"Bukan berarti itu membuatku senang ataupun tidak senang." Sebagai kakak sekaligus ayah, ia lega ada seseorang yang menemani putri atau adiknya pulang. Tapi sebagai kakak sekaligus ayah, ia waswas putri atau adiknya bersama laki-laki di tengah malam.

Rukia menggesek telapak kaki pada daun runcing rumput. Apa Nii-sama marah?

"Tapi, kalian sudah dewasa. Kalian yang paling tahu langkah apa untuk membuat segalanya lebih baik." Byakuya tidak sembarangan berwejangan. Semuanya berbekal pengalaman panjang bersama istrinya.

Jangkrik berdendang nyaring di kolong bawah koridor. Menjadi latar sepasang adik-kakak bertukar kisah dan cerita.

Byakuya ke topik utama, "Kau sudah selesai membaca diari Hisana?"

Adiknya terlihat malu. "Belum," padahal, hampir satu bulan lebih buku itu di tangannya, "baru pertengahan saat Hisana-neesan menikah dengan Nii-sama."

Kakaknya tampak pahit, kemudian berganti senyum. "Awalnya, pasti tulisan Hisana sukar dibaca." Wanita itu agak kesulitan menulis kanji, butuh waktu agar almarhumah istrinya bisa terbiasa.

Rukia mengiyakan, tertawa rendah. Sedikit penasaran, apa Nii-sama pernah membaca diari Hisana-neesan?

Byakuya memandang jauh pada bulan. Ia mengelana ke masa lalu. "Yang mengalami kesulitan bukan hanya kau, Hitsugaya-taichou juga." Ia hati-hati menuturkan ini, waswas adiknya menganggap ia lebih memihak si kapten muda. "Tapi ... mungkin yang paling tersakiti adalah kau dan Hisana..."

Si nona mungil tahu kakaknya pun membicarakan diri sendiri.

Kaki telanjang tanpa cela Byakuya bergeser naik, tungkai kaki berdiri tegak. "Aku hanya bisa menyarankan ini. Berbagi hatilah dengan kakak perempuanmu. Kau tidak sendirian." Ia menunduk pada Rukia yang menengadah.

Saat seseorang seperti Byakuya Kuchiki berucap begitu, Rukia tahu ia harus mendengarkan betul-betul. Membenamkan kuat-kuat hingga ke akar kepalanya.

Sang kakak lalu beranjak pergi, menyisakan sang adik yang bersimpuh membungkukkan badan, dahi mencium papan. Berterimakasih dengan segala ketulusan.


. . . . .


Sepasang pedang kayu bertemu, menghentak, mendorong, memproklamirkan siapa yang terkuat. Bersua lagi, beradu keras, mendorong hingga satu bokutou terbang mencium lantai, juga untuk bokong pemiliknya yang jatuh menggesek papan.

Toushiro meletakkan bokutou di pundak. Tidak ada napas memburu, tidak ada aliran keringat di pelipis. Tapi, lumayan untuk membunuh waktu di siang hari yang mendung.

"Bangunlah." Mengulurkan tangan pada bawahan berpangkat ke-8, membantunya bangkit.

"Terima kasih untuk latihannya, Taichou." Pria itu membungkuk hormat, meski badan masih lecet-lecet letih.

Toushiro mengangguk saja, menyingkir dari panggung unjuk kekuatan. Duduk di tepi dojo, meneguk air, dan melirik malas Rangiku yang kini jadi sorotan banyak mata.

"Kalau begitu, giliranku~ Siapa yang berani jadi lawanku hari ini?"

Anggota Shinigami berbaris ria, kompak memekik girang. "Hai', kami siap menjadi lawan Anda, Matsumoto-fukutaichou!"

Matsumoto terlalu banyak menarik perhatian. Kimono latihan yang kedodoran di bagian depan, luncuran keringat yang terjun gemulai, dan gincu yang merona eksotis. Haruskah Toushiro menghubungi divisi ke-4 sebelum bawahannya serempak kehabisan darah?

Satu bawahan mendekat, duduk bersimpuh di sebelahnya. Takezoe lagi-lagi tidak sendirian, bersama kotak makan tiga susun.

"Taichou, makan siang Anda. Mengandung karbohidrat―

"―vitamin, protein, serta mineral. Rendah lemak dan tinggi serat." Toushiro hapal luar kepala. Itu sudah lima kali.

Takezoe cepat-cepat menutup mulut yang melongo terlalu lebar. "Tapi, kali ini menunya bukan apel, tapi anggur, Taichou."

Mau anggur, mau apel, mau bengkuang, Toushiro lebih butuh pemberinya ketimbang isinya.

Namun ujung-ujungnya, si kotak makan tiba di tangannya. Takezoe yang merasa tugas tambahan sudah selesai langsung bergerak gesit menuju barisan. Turut mengantri, menunggu giliran jadi lawan Shinigami paling bohai se-Soul Society.

Oi, bukankah pria itu sudah punya istri?

Gara-gara Matsumoto, suasana jadi tidak kondusif. Toushiro pun melangkah keluar, dan disambut jigokuchou yang terbang mengitarinya. Lalu melayang ke depannya dan bergerak maju-mundur. Si kupu-kupu antara mau dan tidak mangkir di hidungnya. Takut kena murka, mungkin.

Toushiro lalu mengulurkan telunjuk, membawa jigokuchou ke hadapan wajah. Si serangga langsung berpindah ke hidung mancungnya.

"Apa lagi yang diinginkan si Ji-jii, hah?"

Sayang, panggilan dari Soutaichou.


. . . . .


Satu demi satu lembar benang melilit batang alat rajut begitu gesit. Berputar dari satu sisi ke sisi lain. Isane amat telaten dan lihai, jauh lebih lihai ketimbang pedang tergenggam di tangannya.

Kiyone sampai terkagum-kagum. "Onee-chan ... kau luar biasa!"

Isane maklum saja. Adiknya baru memujinya setinggi bintang ketika ia berubah jadi ibu-ibu perajut.

"Isane baru tampak keren ketika pedang di tangannya diganti benang dan jarum," Rangiku berkata santai nan kejam.

Kepala si letnan jangkung menunduk kuyu.

Rukia juga sependapat. Tidak ada yang mengalahkan Kotetsu-fukutaichou dalam hal rajut-merajut.

"Wah, Kuchiki-fukutaichou juga tidak kalah hebatnya," Nanao datang memuji.

"Rajutan syal seminggu lalu sudah hampir selesai, ya." Soifon ikutan nimbrung. Teringat syal yang dibuatnya pertama kali, baru selesai enam bulan kemudian.

"Kuchiki-san yang memang paling cepat belajar!" Kenapa Kiyone yang bangga?

"Saya tidak akan bisa tanpa Kotetsu-fukutaichou."

Saus tomat langsung menyiram wajah Isane, malu juga. Yang lain turut mengangguk. Berterima kasih pada si letnan tinggi ramping, membuat kumpulan wanita perkasa memiliki sisi feminin dan keibuan.

Patut diapresiasi.

Rangiku pelan-pelan bergeser ke sisi Rukia. Lagaknya kayak perampok mengendap-ngendap, biarpun maksudnya tidak begitu. "Nah, Kuchiki," ia berbisik, "kau tahu kalau Taichou berada di divisi pertama sekarang?"

Aktivitas merajut berhenti. Tidak, Rukia tidak tahu.

"Aku dengar-dengar, kondisi tidak stabil di Hueco Mundo masih belum hilang. Aku pikir dia akan ditugaskan―"

Rukia tidak perlu mendengar sampai tamat. Meski Nanao merecoki Rangiku soal keberadaan benang wol yang hilang di keranjang.


. . . . .


Jakun besar di balik kulit keriput tua Soutaichou mirip kulit kelapa di tengah laut, timbul tenggelam. Bokong cangkir bertemu meja berkaki kerdil, suara puasnya memenuhi ruangan raksasa dengan hanya dua penghuni. Si kakek yang umur dan janggut sudah kelewatan, pun bocah yang pintar dan tampannya juga sama kelewatan.

Toushiro duduk bersila diam, nyaris menyamai patung Budha di kuil.

"Kenapa tidak diminum, Hitsugaya-taichou? Kau tidak suka?"

Toushiro melirik saja minuman becek kayak comberan.

"Jangan melihat dari penampilan saja. Di mana-mana, penampilan bisa menipu."

Toushiro menarik napas, aromanya lumayan juga. Bau jahe. Namun, sepanjang sejarah kunjungan ke markas besar Gotei 13, ini baru pertama ia dijamu layaknya tamu.

Ia langsung berpaling pada muka tua di seberang meja. "Jangan berbasa-basi. Katakan langsung saja, Soutaichou. Apa misi berikutnya?" Ia lelah. Letih. Lesu.

Cangkir ketiga berhenti di depan bibir, sebelum lanjut menenggak minuman-tak-bernama dan mengembalikan cangkir kosong pada tempatnya. "Sepertinya kau memang masih perlu banyak belajar. Menjadi tamu yang baik adalah salah satunya."

Toushiro menghela napas saja―lagi. Tujuh kali, Soutaichou menghitung. Disingkirkannya cerek dan cangkir miliknya menepi ke bibir meja.

"Apa hubunganmu dengan Kuchiki-fukutaichou baik-baik saja?"

Apa hubunganmu dengan Kuchiki-fukutaichou sudah hancur? Toushiro tidak mencoba berprasangka buruk, tapi apa pun kalimat yang sedang meluncur masuk telinganya yang menyinggung dirinya dan Rukia selalu berakhir pahit. Terlebih bila ucapan itu keluar dari mulut tua bangka yang menjadi dalang utama dari semuanya.

Pintu diketuk, Soutaichou menyuruh masuk; pelayan wanita tua berjalan takzim, mendekat menghidangkan manju dan dango. Kudapan sederhana nan favorit si kakek. Ditaruh di tengah ramainya sajian di atas meja.

"Kenal Hisana Kuchiki?" Pertanyaan itu berkumandang seiring pelayan keluar dan kembali memberi privasi.

Toushiro mengernyit saja, meraih segenggam manju. Mendadak lidahnya ingin mengecap yang manis-manis. Tentu, ia tidak kenal. Namun, ia tahu―tahu bahwa wanita bernama demikian adalah istri Kuchiki-taichou, juga kakak kandung Rukia.

"Dia jarang keluar rumah. Jadi, aku baru sekali bertemu dengannya sejak dia tinggal di Seireitei," itu pun saat upacara pernikahan, "tapi itu cukup untuk tahu bahwa wanita itu adalah orang paling cocok dan pantas untuk Kuchiki-taichou."

Toushiro tidak mengerti, dari mana benang hubung ia dan Rukia dengan Kuchiki-taichou dan Hisana Kuchiki. Hanya saja, mulut lebih ia sibukkan mengunyah kue manis isi kacang merah yang bikin nagih.

Soutaichou tersenyum di tengah hutan kumis lebatnya. Untuk umur dua ribu tahun, sejuta makna penting tersirat di sana.

Pernyataan terakhir si kakek bukan karena alasan bahwa dua insan itu memang saling mencintai. Namun, pandangan Soutaichou lebih seperti pandangan orang luar yang sudah terlalu lama bernapas dan menjadi saksi segalanya. Hidup, mati, darah, tangis, derita. Hubungan sepasang kekasih, terlebih suami-istri di sebuah dunia bernama Soul Society jauh lebih pelik dan di luar bayangan makhluk bumi bernama manusia.

Jika hubungan diibaratkan rumah, saling mencintai baru berupa tanah tak berubin. Tolol bila hanya dengan kata cinta berujung pada dua kata. Rumah tangga. Jangan membuat Soutaichou tertawa terbahak-bahak sampai menenggelamkan mukanya dalam air.

Digapainya cerek perak, menuang kembali minuman favorit kedua setelah teh. Menghirupnya tenang, khasiat kuat jahe menyegarkan sekujur sirkuit tubuh. "Seperti dirimu, Hitsugaya-taichou, Kuchiki-taichou juga punya banyak penggemar yang diam-diam mencintai dan menginginkannya."

Rasa lezat legit manju masih tersisa di lorong mulut Toushiro. Ia tidak tahu harus mengiyakan pernyataan itu atau tidak, meski diingat-ingat banyak sekali kado tidak dikenal atau tanpa nama yang kesasar di markas saat hari ulangtahunnya.

"...banyak sekali perempuan. Banyak sekali! Tapi, tidak ada yang kuat, sabar, dan tangguh untuk mendampingi Kuchiki-taichou hingga titik terakhir."

Toushiro tahu, kata kuat bukan berarti hebat bertarung. Ia juga tahu akhir kalimat di atas layaknya menebak akhir cerita romansa klise.

"Ya, kecuali satu orang. Hisana Kuchiki."

Sedikit-sedikit, Toushiro paham ke mana ujung dongeng panjang dari mulut senja Soutaichou.

"Hisana Kuchiki adalah kakak kandung Kuchiki-fukutaichou. Di Soul Society, jarang untuk mengenal seseorang yang memilki hubungan darah dengan kita saat di Dunia Manusia," biarpun cuma mengetahui lewat nama dan foto. "Itu hal yang cukup keramat."

Kakek ini memberitahunya tanpa gamblang bahwa bukan hanya wajah dan postur mungil yang jadi cerminan Rukia dan Hisana Kuchiki. Sifat dan kekuatan mental bisa pula mirip.

"Aku yakin, Kuchiki-fukutaichou pun bisa sekuat kakaknya," untuk mendampingimu, Hitsugaya-taichou.

Kini bukan jari keriput yang memegang gagang cerek. Tangan Toushiro menuang minuman mirip cokelat panas pada cangkir. Menenggaknya tanpa pikir, aroma jahe mengalir melalui mulut, turun ke leher, menebar kesegaran yang begitu kuat. Lidah cukup sensitif, bukan jahe saja, tapi pula lada dan gula merah.

Soutaichou tersenyum lepas, manggut-manggut tua. "Semua kapten dan letnan di Gotei 13, biarpun tidak terlihat, punya kisahnya masing-masing soal cinta di kehidupan masa lalu. Bahkan, untuk Juushiro dan Shunsui."

Pria kuat ada karena perempuan hebat mendukung di belakangnya.

Bagaimana denganmu sendiri, Soutaichou? Punya kisah soal cinta masa lalu juga? Toushiro ingin bertanya begitu, tapi matahari yang tinggal sepenggalah memintanya undur diri.

Si kakek menawarkan minuman-yang-masih-belum-ia-tahu-namanya untuk dibawa pulang. Namun, ia lebih mau membawa pesan-pesan Soutaichou sebagai oleh-oleh. Paling tidak, waktu setengah jam mengobrol, menuntunnya pada jawaban pertanyaan Rukia.

Toushiro berdiri tegak menjulang. "Hueco Mundo. Iya, kan?"

Soutaichou asyik menyantap dango. "Terakhir."

"Terakhir?"

"Terakhir."


. . . . .


Air sake meluncur jatuh menabrak dasar cawan seperti air terjun menubruk bebatuan. Cawan diraih Kenpachi dan meneguknya langsung tandas. Sekali lagi menggebrakkan cawan di meja, meminta lagi, belum puas.

Ukitake melayani, menuangkan sake, tidak peduli dengan tiga botol kosong-melompong dengan isi yang telah mendekam di perut Zaraki.

Kekuatan minum si rambut paku sama tangguh dengan sobatnya, Kyouraku, yang dilayani Komamura.

Ukitake tidak minum. Tidak berani. Rukia bisa semurka badai bila memergokinya. Ia hanya ingin ikut kumpul-kumpul, mengobrol rukun dengan kapten lain. Rasanya sudah seabad lalu.

Ukitake tidak sendirian. Ada satu rekan yang cawannya belum disentuh sedari tadi. Toushiro Hitsugaya duduk dengan satu lutut menekuk dan satu kaki melintang lurus. Memikirkan sesuatu yang pelik sambil menatap pemandangan malam.

"Apa kau juga ingin saya tuangkan sake, Hitsugaya-taichou?" Komamura menawarkan di sampingnya.

Di seberang, Ukitake tersenyum saja, kembali pada Zaraki dan menolak halus ajakan Kenpachi yang mau ia turut serta.

Hitsugaya menoleh. Kata penolakan sudah ditunggu Juushiro, meraih manju, dan menggigit daging putih tebalnya.

"Kalau kau tidak keberatan, Komamura."

Hampir saja Ukitake tersedak, menuang air di cerek pada gelas, dan meneguknya pelan. Jawaban itu di luar jangkauan.

Tidak ada ekpresi lebih di wajah Komamura yang dipenuhi bulu. Mewujudkan penawaran, dan Toushiro menerima, menenggak sake layaknya peminum ulung.

"Rasanya sudah seabad tidak melihatmu minum, Hitsugaya-taichou." Padahal baru empat tahun lalu, Kyouraku bersaksi mendapati si jenius dan alkohol.

"Tolong sekali lagi."

"Tu-tunggu, Hitsugaya-taichou―"

"Tenang saja, Ukitake. Dia ini lebih hebat dari aku dan Zaraki."

Tiga puluh menit kemudian menjadi bukti pernyataan Shunsui yang bukan isapan kelingking semata. Delapan botol untuk Kenpachi, dan sudah tepar tanpa daya. Sepuluh untuk Kyouraku, dan gurauan ngaco mengaum dari mulut baunya. Tujuh botol untuk Toushiro, dan laki-laki itu mengobrol dengan normal.

Ukitake kecewa berat. Ke mana si lucu Shiro-chan yang polos dan tidak berdosa, suka coklat dan permen yang selama ini ia bayangkan?

"Hitsugaya-taichou punya pengendalian otot saraf yang luar biasa," Komamura memberitahu, Kyouraku bukan satu-satunya saksi dari fakta ini. "Dia mampu menahan alam bawah sadar tetap di balik alam sadarnya lebih lama dan kuat dari orang kebanyakan."

Ukitake masih belum percaya.

"Aku tidak suka sake, bukan berarti aku belum pernah meminumnya." Bau tajam alkohol menguar kuat dari mulut Toushiro. Bau buruk ini adalah salah satu alasan ia benci sake. Juga rasa pekat yang tetap tidak membuatnya terbiasa. Dan yang lebih penting adalah perut sering menggerung tidak nyaman bila cairan beralkohol ini meluncur masuk ke tubuhnya. Sistem pencernaannya agak sensitif, kau tahu.

Satu-satunya hal positif adalah tidur nyenyak lebih cepat berkunjung daripada hari normal.

Ukitake belajar satu hal. Jangan pernah menilai orang dari paras lucu nan imutnya.

Malam sudah menjelang larut, namun distrik pusat Seireitei masih lumayan ramai. Tangan Kyouraku di pundak Ukitake, dan Zaraki ditangani Komamura. Diiringi ucapan terima kasih pemilik kedai langganan, mereka keluar dan dijemput oleh seruan familiar.

"Komamura-taichou, Zaraki-taichou juga, Ukitake-taichou, Kyouraku taichou, dan ... Hitsugaya-taichou."

Untuk nama terakhir, Renji mengerling pada Rukia di sisi kirinya. Tapi, gadis itu memilih memerhatikan Ukitake.

Si kapten untung mengerti. "Aku tidak minum, Kuchiki. Kau bisa tanya pemilik kedai, kalau tidak percaya."

Tidak perlu, Rukia percaya, kok. Ia menyembunyikan sekantung benang wol ke belakang tubuh. Renji menemaninya membeli malam-malam begini. Syal rajutnya hampir selesai, tapi benangnya habis.

Toushiro memandangnya di antara tubuh raksasa para kapten.

Komamura lalu menjadi yang pertama hengkang. Berucap sopan dan menyeret si rambut duri.

Si jenius menjadi yang kedua. Ukitake langsung panik. "Yakin, sendirian saja, Hitsugaya-taichou?"

Toushiro melambaikan tangan saja, tidak acuh. Mendekap lengan di dada, terlihat menghampiri Rukia yang masih mematung. Mata gadis itu langsung tertarik pada tanah depan kakinya. Jantung memompa-mompa dengan langkah si kapten yang kian dekat. Sebentar lagi, laki-laki itu sampai.

Namun, Toushiro melaluinya begitu saja tanpa kata. Ia memilih mematuhi kemauan si mungil. Tidak ada sapaan dan obrolan. Dan hanya meninggalkan Rukia dengan aroma sake pekat.


. . . . .


Toushiro cuma mau ditemani cahaya bulan dan sinar lampu jalan. Ia tidak butuh teman lagi, jadi kaki itu berhenti dan berbalik.

"Sudah cukup, Abarai. Pulanglah."

Renji melangkah keluar, dari gelap menuju sinar lampu. "Saya juga maunya begitu, Hitsugaya-taichou. Tapi, Rukia meminta saya menemani Anda hingga ke markas."

Ini memang konyol, menggelikan. Renji tahu itu. Tapi, si sobat kecil bukan sekadar meminta. Rukia menyisipkan kata 'Tolong' pada permohonannya. Gadis itu betul-betul mencemaskan si kapten muda.

Toushiro memunggungi Renji. "Dia ... memintaku tidak menemuinya, tidak mengajaknya bicara. Tapi, dia tetap memperhatikanku seolah tidak terjadi apa-apa." Kotak makan penuh gizi dan penjagaan dari Renji.

"Paling tidak, Anda tidak pernah disuruh menangkap komodo di hutan Kusajishi." Si merah tahu-tahu saja curhat. Malam-malamnya masih dihantui oleh gerombolan reptil raksasa yang mengerubutinya saat itu.

Toushiro tersenyum saja. Perlukah ia memberitahu Hinamori soal ini?

"Rukia hanya butuh waktu, Hitsugaya-taichou. Itu pengalaman baru melihat Anda didekati terang-terangan oleh perempuan lain, apalagi itu adiknya Ichigo. Ini mengejutkan, tapi Rukia cukup posesif, Anda tahu."

Toushiro senang mendengar kata posesif. Melangkah menjauh saja, tidak menyuruh Renji pulang seperti niat semenit lalu.


. . . . .


Rukia menggeser shouji. Seorang pelayan duduk bertelut menyampaikan pesan, "Abarai-sama bilang dia sukses menjalankan misi."

Nona muda bertutur terima kasih. Pelayan membungkuk sopan dan beranjak pergi.

Rukia tidak suka. Sake dan Hitsugaya-taichou bukan pasangan cocok. Si kapten muda lebih serasi dengan secangkir teh hijau yang meneduhkan.

Pintu ditutup.

Kaki beringsut pulang pada meja dan buku diari yang jeda sebentar untuk dibaca.

'Dia lagi-lagi tidak pulang.'

Rukia kembali tersedot dalam dunia Hisana.

'Untuk sekian kali, futon itu kembali kosong.'

'Pagi ke-72, saya membuka mata dan saya sendirian.'

'Siang di musim panas yang terik. Tapi, saya merasa dingin.'

Rukia butuh waktu lama untuk membuka halaman selanjutnya.

'Pukul 21.00 malam. Masakan di meja sudah dingin. Dia pergi bersama misi.'

'Dia pulang saat saya sudah tidur. Dia pergi saat saya masih tidur.'

'Saya tidak tahu kalau rambut dia sudah panjang tiga senti.'

Dada Rukia pengap. Menarik napas kuat-kuat dan panjang, melepaskan pelan-pelan dan teratur.

'Saya membuat kare. Akhirnya, dia bisa mencicipi untuk kali ketiga. Sedikit lagi habis. Jigokuchou datang, membawanya pergi―entah sudah ke berapa. Kare itu tidak pernah habis.'

'Tetua berkata mereka butuh penerus secepatnya. Saya menatap pangkuan. Tahun pertama ini, dia baru sekali saja menyentuh―'

'Sekarang, saya sudah mahir menulis kanji. Lalu belajar kaligrafi, semangat menunjukkan padanya saat dia pulang. Tiga bulan kemudian, gulungan kaligrafi belum dibuka.'

Rukia menarik kaki ke atas, lutut bertemu muka. Wajahnya ia benamkan di pelukan lengan. Sesak.

'Dia pun pulang, tapi sakit. Kupikir demam, saya mengompresnya. Besoknya tambah parah, dibawa ke divisi ke-4, dia ternyata kena racun. Tetua mengomel, saya istri tidak becus. Tidak paham suami sendiri.'

'Musim panas. Dia menatapku, memberiku bunga kamelia. Bilang akan pulang sebelum bunga layu. Musim dingin. Bunga kamelia sudah kering kerontang, saya masih menunggu.'

'Di tahun kedua, Tetua Besar datang, bersama perempuan cantik. Saya menatap pangkuan. Bukan penerus yang diminta, namun Byakuya-sama. Tetua ingin saya membagi Byakuya-sama dengan perempuan cantik itu. Saya mencengkeram pangkuan.'

Rukia menutup buku keras. Satu demi satu, tetes demi tetes, butir demi butir, air mata mencium sampul buku. Membasahinya.

Hisana-neesan... Nama itu melecut kalbunya hingga ke inti terdalam. Jadi, ini yang dimaksud Nii-sama tentang berbagi dengan kakak perempuannya, tentang ia tidak sendirian, tentang ia dan Nee-san yang paling tersakiti.

Namun, ini bukan "sakit" lagi sebutannnya. Tapi, seperti mematahkan semua tulang, menyayat kulitnya hidup-hidup, dan mencomot jantungnya tanpa belas kasih.

Jadi, ini rasanya sebagai pembaca dan penonton. Ia hanya orang luar, termangu tolol menyaksikan segala nelangsa tanpa bisa berbuat apa-apa.

Ia kesal, marah, murka. Mau memberontak, mengacau, merusuh―

Rukia menjatuhkan kepala pada meja, muka bertemu buku lusuh berharga. Meraba, menjamah, menelisik penuh detail.

―entah pada siapa.

Rukia menutup mata, pelan. Lelah dan―malu. Apa yang ia alami kemarin-kemarin, menunggu dan menanti, tidak bisa dibandingkan dengan Nee-san. Bagai angin sepoi dan tornado.

'Tapi, saat orang yang kau tunggu pulang dengan prima, sehat, dan bugar. Keluhan, kesendirian, dan kesepian hilang; digantikan oleh ucapan penuh syukur.'

Rukia tersenyum sebelum lelap. Ia bisa membayangkan Hisana-neesan berkata begitu padanya.


. . . . .


Sehari kemudian. Malam berganti secepat habisnya satu botol sake di tangan Kyouraku.

Hitsugaya berhenti.

Andai kaki punya mulut, Toushiro akan bertanya, 'Apa yang kau lakukan ke rumah ini?'.

Ia berdiri di hadapan gerbang kokoh dengan hawa intimidasi klan besar Kuchiki. Hawa itu baru betul-betul ia temui kala ia paham bahwa dirinya bukan tamu yang diundang. Dua penghuni utama di dalam sana tidak menginginkannya. Byakuya dan Rukia, terutama.

"Tolong―untuk sementara, kita jangan bertemu dulu."

Kebiasaan memang kadang merepotkan. Sudah jadi hobinya berucap izin pada Rukia seperti suami-istri kala ia berangkat misi. Ke mana pun itu. Dan malam ini adalah kesempatan terakhir, sebab dini hari jam 01.00, ia akan lepas landas menuju Hueco Mundo.

Aura reiryoku lain datang mendekat. Byakuya Kuchiki menampakkan diri di bawah sorot lampu yang bertengger diam di atas pagar tinggi kediaman.

Toushiro menoleh.

Pada hari kemarin di matanya, Byakuya tidak lebih dari seekor kucing ganas yang siap menerjang jika ia berkelakuan kurang ajar pada adiknya.

Pada hari sekarang di matanya, Byakuya lebih dari seekor singa tidur yang siap melumatnya jika ia tidak segera angkat kaki dari depan rumahnya.

Selera bertatapan sedang raib. Selera berdebat sedang nihil. Selera bertarung sedang minim. Toushiro angkat kaki saja melewati sosok penuh wibawa kepala klan tanpa kata.

Singa melawan singa. Dua kekuatan dengan daya hancur hampir sama. Bila berhadapan, itu akan makan waktu panjang.

Dan Toushiro sedang tidak punya banyak waktu. Menyeret langkah menuju kediaman pribadi untuk berkemas. Meski berkemas yang dimaksud cuma menyiapkan mantel, ber-jinzen bertemu Hyourinmaru, dan mencari syal compang-camping yang pernah dikenakan dulu.

Ia menyesal, tidak sempat membeli syal yang lebih layak.

Badan menikung dan langsung tiba pada kediaman yang jarang ia diami. Dibuka saja gerbang pagar setinggi pinggang. Gerbang itu tidak pernah dikunci. Kaki bersalut sandal jerami menapaki serakan daun kering menutupi rumput. Jika punya waktu, ia akan menyapu halaman. Terkekeh menyedihkan kemudian, waktu untuk Rukia saja ia tidak punya.

Mata tidak lepas dari kaki yang kadang suka seenaknya sendiri membawanya pergi.

Tiba di depan shouji, ia langsung berjongkok menghadap pot berisi bunga seruni di sisi kiri pintu. Diangkatnya pantat pot, hanya ada tanah dan ulat. Kosong tanpa kunci pintu. Ia lalu bergeser ke sisi kanan, berhadapan dengan sepasang kaki kecil berkaos putih, alih-alih pot.

Toushiro mematung saja, mengangkat kepala dengan kaku. Wajah manis bermandi cahaya lampu Letnan Kuchiki menunduk menatapnya.

"Rukia?"


. . . . .


Canggung. Kikuk. Rikuh.

Rukia tidak berbekal kamus untuk menambah lagi kosakata kondisinya kini. Duduk bertelut di tepi kamar pribadi Toushiro Hitsugaya yang bersahaja. Entah kapten itu yang memang tidak menyukai pajangan dinding, tidak menginginkan orang lain menilai karakternya, atau memang tidak mau repot saja mengisi lebih perabot dengan kamar yang lebih luas dari kamarnya di Kediaman Kuchiki. Lemari futon dan meja. Itu saja.

"Ini bukan kali pertama kau datang, kan? Jangan kaku begitu." Toushiro sadar kondisi Rukia, sibuk mengobrak-abrik laci di bawah lemari.

Ya, sekali. Dan ini yang kedua.

Rukia rasanya ingin mengutuk si kapten. Tahu-tahu saja, si jenius membawanya ke kamar, boro-boro ruang tamu, beranda depan atau ruang makan. Saat memasang muka agak keberatan, Hitsugaya bilang saja dengan gampang, "Kecuali di kamar, lampu di ruangan lain mati."

"Sial." Itu bukan serapah dari mulutnya, tapi Toushiro. Tidak menemukan mantel atau syal yang dicari atau kamuflase pelarian untuk mengademkan hawa canggung. Bukan Rukia saja yang diserang, namun ia juga. Berdiam mulut satu sama lain selama seminggu, membuat kepala Toushiro mampet untuk memulai obrolan.

Ia menoleh pada gadis yang punggungnya mendempet rapat pada shouji. Rukia membalas pandangan di detik berikutnya. "Rukia―"

"Anda sedang mencari apa?"

"A-ah," itu bukan awal mula yang diduga, "mantel ... dan syal. Aku akan ke Hueco Mundo." Sepercayanya ia kalau minum susu bisa cepat tinggi, ia percaya pada mulut cerewet Rangiku.

Lihat saja, paras datar si mungil dan jawabannya, "Saya rasa tidak perlu." Gadis itu bangkit, tak lupa dengan kantung kertas yang menemaninya sedari awal.

Toushiro berdiri kikuk, gerak badannya ikutan rikuh. Postur penuh wibawa langsung raib kala Rukia melangkah menghampirinya. Nona Kuchiki mengeluarkan selembar mantel terlipat rapi dan menyimpan bungkusan ke lantai.

Tanpa tedeng aling-aling, Rukia menyusup ke belakang dan menyampirkan mantel pada punggung tegapnya.

"Saya tidak bosan pada Anda." Kalimat pembuka dimulai. "Saya mencintai Anda," sangat. "Saya ingin menuntut waktu selama tiga tahun. Saya kadang lelah menunggu. Itu jawaban saya."

Toushiro berubah jadi pendengar baik. Ia diam dan mendengarkan seksama tiap kata.

Gadis itu maju ke depan, merapikan sepanjang tepi mantel hingga menutupi sekujur badan si kapten. "Saya juga cemburu pada Karin-chan. Cemburu karena dia punya waktu berhari-hari bersama Anda di saat saya tidak. Cemburu karena dia tahu Anda sakit di saat saya tidak. Cemburu karena dia menjaga Anda di rumah sakit di saat saya tidak. Itu juga jawaban saya."

Rukia meraih tali mantel yang bergelantung bebas, mengikatnya rapi melingkari leher si prodigy. "Ini semua yang saya rasakan selama ini. Tapi meninggalkan Anda, saya tidak pernah mau, dan tidak akan pernah," kecuali Anda duluan meninggalkan saya.

Rukia juga posesif, kau tahu.

Toushiro ingin membuka mulut, namun nona Kuchiki turun berjongkok meraih sebuah syal di bungkusan. Mengalungkan kembali tanpa izin di lehernya. Laki-laki itu memegang sepasang pergelangan yang serapuh ranting. Kadang ia ingin tahu bagaimana tangan sekecil ini bisa mengayunkan zanpakutou begitu gesit.

"Apa artimu untukku? Kau bertanya begitu kemarin." Toushiro melepas genggaman, Rukia lanjut melingkarkan syal hijau rajut. "Sebelum bersamamu, aku melindungi Soul Society, Karakura, dan Seireitei, karena itu memang tanggung jawab. Selama menjalankan misi, aku selalu siap mati kapan pun, karena itu memang sudah seharusnya untukku sebagai prajurit."

Rukia berganti menjadi pendengar yang baik, merapikan kalungan syal, melindungi leher Toushiro dari dingin.

"Namun saat bersamamu, aku melindungi Soul Society karena di sini tempatmu pulang. Aku menjaga Karakura, karena di sana ada orang-orang yang penting untukmu. Aku menyukai Seireitei berlipat-lipat dari sebelumnya, karena di sini kau hidup. Aku jadi takut mati saat misi, karena aku tidak ingin kau menangis. Aku ingin jadi lebih kuat, kuat, dan kuat untuk tetap hidup agar aku tetap bisa bersamamu lebih lama." Kalau bisa, selamanya.

Syal sudah selesai. Rukia kini menatap Toushiro, terus dan tidak akan berhenti. Kesungguhan sepasang mata hijau bambu menarik, menjerat, dan melemahkannya. Seumpama obat bius dengan daya paling tangguh.

"Itu artimu untukku, Rukia. Kau adalah―

Kalimat itu melayang dan menguap saat Rukia maju merenggut bibir Toushiro. Mencumbu dan mengecap; dari sudut bibir, tengah, hingga ke ujung. Segala sisi. Lantai kamar berubah bergelombang di mata sang kapten. Sebelum paras terkejut pelan menghilang, mengalungkan lengan ke pinggang si gadis Kuchiki, menarik tubuh ringan hingga kaki Rukia memberi jarak pada lantai. Membalas lumatan lembut, berbagi aroma tubuh rumpun bambu dan salju, berbagi aroma bibir apel dan lemon. Darah berdesir meletup-letup dan jantung berdentum meledak-ledak.

Toushiro sekarang paham apa yang dikatakan orang: waktu seakan menjadi milikmu.


To be continued…


.

.

.

.

.

A/N:

Sering geregetan dgn fic yg isinya Toushiro selalu lemah dgn sake. Jadi, saya lakukan sebaliknya di sini. 'Jangan menilai dari pernampilan'. Toushiro dan sake adalah contoh paling sempurna.

Yosh, berniat review?

20 September 2016