Terima kasih atas review di chapter sebelumnya :

Oh. ILoveCupcakes—fic yg berat? angst gloomy? Walah, itu sih genre yg paling saya hindari Kak. Kalo HitsuRuki, saya selalu menghindari membaca fic genre ini. tapi anehnya kalo pair lain, semua genre saya lahap, sampe gore sekalipun. Kalo baca saja, saya ragu, lebih2 kalo disuruh nulis#payah. Tapi, tuk ningkatin kemampuan mungkin saya akan coba cari ide yg tepat tuk HR dan gak buat mereka OOC. Makasih tantangannya Kak. Dan sukses cari uang (dan jodohnya#plak) I love you~~~
Hanamitanhehehe, maaf baru updet setahun kemudian, ya, Hana. Semoga masih berkenan tuk dibaca. Ini chapter terakhirnya.

BLEACHvers―gak bakal ada kok action nya. Dan HR gak bakal jalanin misi bersama. / tenang saja, saya selalu senang baca review, Bleach-san (saya gak tau mesti manggil apa). Senang ada pembaca yg teliti. Kalo ada typo lagi, jangan sungkan beritahu, saya gak akan segan tuk edit-nya. Makasih udah selalu nyempetin review, ya!
Shofia―seneng deh selalu liat namanya shofia. / Sengaja ngambil tema fic yg gak berat dan pasaran, sih. Gak tau juga kenapa, hehehe / saya cewek, kok, Shofia. Namanya aja yg kayak cowok. Dan panggil aja Ray, gak perlu pake embel2. Makasih selalu nyempetin review ya#peluk

Permen Lemon―IchiHime? Mungkin karna mereka canon, n saya mulai bisa sedikit 'masuk' pada pair ini. Biarpun bukan penggemar mereka, tapi anehnya saya enjoy nulis ttg mereka. mungkin karena saya udah mulai belajar tuk gak membenci satu karakter atau pair mana pun. / Sya jg ada rencana buat Tatsuki jadi pasangannya Ichi, tp di fiction lain. makasih udah nyempetin review, ya, Lemon-san.
rymmme―ini udah di-update. Maaf telat sampe 1 tahun. makasih udah nyempetin review, Rimme-san.
shiro-chan―ini udah di-update, chapter terakhir. maaf telat sampe 1 tahun. makasih udah nyempetin review, Shiro-chan (kayak manggil Toushiro, hehehe)

.

Terima kasih pula ma yg udah login (sudah sy balas di PM-nya masing-masing): Eonnichee835 | Yuki ChibiHitsu-chan | ai-haibara777 | Hayi Yuki


Disclaimer: Bleach milik Tite Kubo

.

.

.

.

.

Sepasang kaki berkaus putih menghentak keras sepanjang papan lantai kediaman. Rukia mengintip kantung belanjaan di pelukan, ia tersenyum senang. Mengingatkan diri akan adat bahwa ia tidak boleh berlari di rumah besar, ia berjalan cepat saja, geregetan mau cepat sampai kamar. Badan berbelok, dan beruntung masih sempat mengendalikan diri sebelum menabrak sang kakak.

"Rukia―?" ―perhatikan langkahmu, tatapan Byakuya seakan bicara begitu. Sedikit kaget juga. Sedikit.

Hampir saja Rukia jatuh terjengkang, andai kaki jarang dilatih kukuh bergeming di tempat. Terima kasih atas latihan zanjutsu Toushiro yang sering tanpa belas kasih. "Ma-maaf, Nii-sama."

Byakuya melirik kantung yang didekap sedemikian erat sebelum sang tetua penasehat menyela di balik punggung. "Byakuya-sama, kita sudah terlambat."

Menggangguk jelas, ia tidak lupa itu dan berpaling pada adiknya sebelum berlalu, "Jangan begadang, Rukia. Tidurlah lebih cepat."

Rukia mengangguk patah-patah, "H-hai', Nii-sama." Kakaknya pasti punya indra keenam. Membalas senyum sopan kakek penasehat yang bungkuk, salah satu orang yang Rukia sukai di Klan Kuchiki, ia meneruskan perjalanan untuk tiba ke kamar luas nan nyamannya.

Meletakkan kantung di meja sebelum mengeluarkan sebatang lilin dan korek api dari laci. Nyala percikan yang bertengger di sumbu lilin menerangi tubuh Rukia dan membuat bayangan tampak raksasa di kamar yang dipenuhi boneka Chappy sebagai perabotan. Mengeluarkan belanjaan dari kantung kertas, kantung dilipat (gambarnya lucu, sih, sayang kalau dibuang), dan menyimpannya di kotak kayu bawah meja, menggabungkan dengan pernak-pernik 'sampah', yang dikoleksi gara-gara gambarnya imut minta ampun (bagi Rukia). Bungkus permen, kaus kaki hilang sebelah, pulpen tanpa tinta, dan barang tidak berguna lain.

Menggeser lilin beralas piring kerdil ke sudut meja, Rukia membuka buku yang baru dibeli. Bergambar kelinci di sampulnya, tentu saja. Sekotak pensil warna menemani di sampingnya, siap tempur. Ia tidak mau isi buku hariannya tampak biasa dan pasaran, harus ada kelinci imut dan berwarna.

Batang pensil bertemu kertas, Rukia mengulangi aktivitas Hisana di masa lalu. Menuangkan kisahnya pada sebongkah buku. Hisana-neesan menurunkan buku diari miliknya padanya. Kalau Rukia, ia tidak tahu memberikannya nanti pada siapa. Tapi, ia menemukan makna lain bila menulis cerita hidupmu pada selembar kertas.

Kau punya teman berbagi cerita.

Kau punya teman bertukar kisah.

Kau punya teman yang mendengarkanmu tanpa keluhan dan sanggahan.

Dan itu cukup untuk Rukia. Ia hanya butuh pendengar, bukan pemberi nasehat.

'Namaku Rukia, Rukia Kuchiki. Aku―'

Rukia memulai kisahnya bersama bulan perak yang bergelantungan bersinar terang. Para kelinci tampak sedang berlompatan riang di sana.


#6#

.

Lily of the valley - pure love, humility, sweetness


Renji tak pernah tahu akan datang hari ia tidak ditebas Senbonzakura saat mengusik penghuni kediaman Kuchiki di pukul satu malam atau ... dinihari? Kaptennya berdiri di bingkai gerbang dengan kimono tidur, dan mengumandangkan satu kata sebagai kode kunci memasuki rumah besarnya, "Masuklah."

Andai rahang bisa jatuh, rahang Renji sudah jatuh sedari tadi. Terlebih, Kuchiki-taichou mengantarnya sampai ke belokan koridor yang menuju langsung kamar adiknya. "Kurasa, dia belum tidur. Dia punya hobi aneh akhir-akhir ini. Dan biarpun kunasehati kalau begadang buruk untuk kesehatan, dia tidak mau mendengarkan."

Renji melongo saja, memandang punggung kaptennya yang menjauh ke arah berlawanan. Wow, Kuchiki-taichou baru saja curhat. Luar biasa~! Plok, plok!

Keajaiban itu menghilang cepat saat palu imajinasi menggebuknya untuk ingat tujuan apa ia datang. Renji langsung mengambil langkah seribu sekalian lari, lupa kalau ia sedang di sarang singa bernama Mansion Kuchiki. Tangan menggenggam pintu geser, mendorong kelewat kuat untuk bertemu wajah Rukia yang horor minta ampun.

"Re-Renji, a-apa yang kau―?!"

"Dia sudah pulang..." Renji seperti ngos-ngosan, padahal cuma lari tiga detik.

Pensil warna terlupakan begitu saja, Rukia beringsut pelan menghadap tamu tidak sopannya. "Di mana...?" Entah bagaimana, ia tahu siapa yang dimaksud.

Renji meneguk ludah. "...Divisi ke-4."

Tahu-tahu saja, angin keras lewat di samping Renji tanpa sempat bereaksi. Rukia baru saja ber-shunpo, meninggalkannya seorang diri. Sejak kapan shunpo Rukia secepat itu? Sampai-sampai mata telanjangnya tidak bisa menangkap. Yah, sejak menjadi orang terdekat Hitsugaya-taichou, kemampuan sahabatnya benar-benat meningkat. Dari zanjutsu hingga shunpo. Ia tidak akan heran kala Rukia sudah dilatih untuk meraih Bankai.

Akhir-akhir ini, markas divisi ke-4 tampak menakutkan di depan Rukia. Ia selalu menghindar datang berkunjung jikalau bisa, kecuali ingin bercengkerama dengan Unohana-taichou atau mengambil obat untuk Ukitake-taichou. Dan ranjang putih dengan seseorang yang kau sayangi kembali berbaring di sana, entah untuk ke berapa, betul-betul mengerikan di matanya. Ini mimpi terburuk di antara yang terburuk.

"Kuchiki, maafkan aku, ini―"

"Jangan menatapku seperti itu, Rukia. Aku belum mati."

Toushiro Hitsugaya tidak mengharapkan wajah pucat Rukia yang ia jumpai sebagai pemuas rindu selama seminggu tidak bertemu. Memotong kata-kata Rangiku yang menghampiri kekasihnya, dan tampak mau meluruskan keadaan. Ia memang terluka karena melindungi Matsumoto, tapi pulang dengan tubuh dan nyawa utuh (cuma cabikan di leher dan tangan patah) betul-betul harus disyukuri jika tahu baru pulang dari mana. Kampung halaman para Hollow. Hueco Mundo.

Rukia memperbaiki raut muka, berpaling pada Rangiku. "Saya senang Anda baik-baik saja, Matsumoto-fukutaichou. Anda tidak tahu bagaimana saya kesepian dan cemas sampai beberapa hari ini tidak tidur."

Rangiku nyengir patah-patah, melirik Toushiro yang membuang napas dan mengalihkan wajah. Wah, Rukia baru saja menyindir kaptennya terang-terangan. Telak lagi.

Unohana ketawa diam-diam. Berjalan memutari ranjang Toushiro, melintasi tengah ruangan menuju pintu keluar, dan menyempatkan bertukar isyarat pada Rangiku. Dua orang ini butuh privasi.

"Terima kasih, Kuchiki. Kalau begitu, aku permisi dulu, ya. Perlu mandi dan tidur."

Menyusul Unohana, Rangiku berdiri di luar ruangan bersama tangan di pintu. Menutup rapat-rapat, ia berpesan, "Cepat sembuh, Taichou. Manfaatkan waktu Anda sebaik mungkin. Kesempatan tidak datang dua kali."

Senyum iseng dua wanita jahil sebagai penutup sebelum meninggalkan Toushiro yang menggerutu dan Rukia yang menghampiri si kapten. Laki-laki itu memandang gadis dengan punggung kecil berbalut kimono putih, sedang menarik gorden hijau pembatas ranjang. Rukia tidak sempat mengganti pakaian dan langsung buru-buru ke sini. Mata jatuh ke lantai, bahkan sepasang kakinya bertelanjang.

"Anda harus berhenti bersikap begini."

Toushiro mengangkat pandangan.

"Anda harus berhenti meremehkan masalah bila itu menyangkut nyawa Anda." Rukia berbalik, menatap langsung mata hijaunya. Bukan, perhatian tertuju pada perban di leher, dan tangan patah yang ditopang oleh lilitan melingkari lehernya.

"Aku baik-baik sa―"

"Anda selalu berkata begitu, bahkan saat di Karakura," Rukia menegaskan, tidak mau insiden racun terulang kembali. "Andaikan saya yang ada di posisi Anda sekarang, bagaimana perasaan Anda?"

Toushiro terpaku, lidahnya serasa dicuri. Bagaimana bisa gadis ini menyuruhnya membayangkan situasi menakutkan seperti itu?

Rautnya gamang, dan kata-kata ini meluncur, "Aku bisa mati."

Entah bagaimana bermula, sepasang lengan berkalung di lehernya. Aroma apel menyusup ke lubang hidung. Aah, sudah berapa lama Toushiro merindukan ini. Tanpa tunggu, membalas rengkuhan Rukia dengan tangan bebasnya.

"Itulah perasaan saya saat melihat Anda di Karakura dan―sekarang."


. . . . .


"Kau sudah mau pulang?"

Rukia menatap Toushiro, seakan sang kapten baru saja mengeluh tidak kebagian cokelat dan permen.

"Jangan bergerak-gerak ke mana," ia merapikan selimut hingga ke leher, mirip kepompong saja Hitsugaya ini, mencoba tidak melihat raut kecewa si jenius. "Saya akan datang lagi besok," atau sebentar, mengingat ini sudah dinihari.

"Ini sudah malam, Rukia," Toushiro masih merajuk, makin mirip bocah minta perhatian.

"Ini sudah pagi," mengirim isyarat mata pada jam di tembok, pukul 01.45.

Pagi kepala gundulnya Madarame. Toushiro maunya menggerutu, tapi Rukia sedang memegang pisau buah. Jadinya, ditelan kembali. Gadis itu menata piring-piring kotor dan perangkat makan lain di nampan setelah sang kapten mengisi perut keroncongan. Dipeluknya di dada dan mengucapkan salam perpisahan, "Kalau begitu, saya pergi dulu. Nanti saya datang lagi, bahkan sebelum ayam berkokok."

Rukia pikir itu akan menghilangkan muka cemberut Toushiro, yang justru makin cemberut. Ia menahan diri untuk tidak menjerit, Imutnya~! Ia yakin kalau sakit memang membuat orang jadi kekanak-kanakan.

Tersenyum geli pada Toushiro yang berpaling dan memajang punggung, Rukia menuju pintu keluar. Meletakkan nampan di lengan kiri, tangan bebasnya memutar kenop pintu. Terkunci. Diputar lagi, hasilnya masih sama. Percobaan kelima, sayang sekali.

Rukia pura-pura tidak melihat seringai menang Toushiro saat kembali dengan muka malu. Pintu terkunci, dan pelakunya masih tanda tanya, Unohana atau Matsumoto? Toushiro harus berterima kasih pada siapa pun itu.

"Kau tidak punya pilihan lain. Tidurlah di sini."

Rukia rasanya ingin melempari cengiran senang itu dengan nampan. Tapi, kolong ranjang menjadi pemberhentian piring-piring kotor setelah tidak berhasil dibawa keluar.

"Apa boleh buat." Rukia memberi si kapten punggung, bergerak pada sofa, hampir bersamaan mendengar pertanyaan konyol Toushiro.

"Apa yang kau lakukan di sana?" Padahal, ia sudah susah payah bergeser di ranjang, memberi gadis itu ruang beristirahat.

"Tidur." Rukia duduk, menarik kaki berselonjor, menempatkan kepala di lengan sofa.

"Di sini ada ranjang, Rukia."

"Satu."

"Cukup dua orang."

Rukia langsung menutup mata.

"Rukia!" Toushiro menuruni kasur, bersusah-susah dengan tangan patah sebelah dan mengendalikan tali selang di pergelangan, berniat menyeret tiang cairan.

Nona Kuchiki lantas duduk. "Anda mau ke mana?!"

"Kau harus tidur di ranjang." Toushiro mau berdiri, tapi badannya jadi sekaku orang baru bangun tidur di peti berhari-hari.

"Yang sakit siapa?"

"Aku tidak akan membuatmu tidur di bangku."

Rukia membuang napas. "Ini sofa."

"Yang pasti kau di ranjang, aku di bangku."

"Sofa. Dan, tidak. Anda di ranjang, saya di sini."

"Patuhi kata-kataku, Rukia. Kalau kau bersikeras, aku tidur di lantai."

Mulut Rukia terbuka kelewat lebar, melongo tidak percaya. Sampai seberapa besar Toushiro akan mengagetkannya dengan sifat bocahnya? Si kapten menggunakan tubuh lemahnya untuk mengancamnya. Ini keterlaluan. Rukia tidak suka kalah, tapi pilihan ini mau bagaimanapun diotak-atik, ujung-ujungnya Toushiro yang akan menang. Tidak ada opsi lain. Kembali pada pilihan yang pertama. Tidur seranjang, berdua.

Ow, romantis~!

"Rukia? Apa ini?"

Salah besar, Kawan. Karena ada pihak ketiga―

"Bantal guling."

―menjadi antagonis hubungan Hitsugaya/Rukia. Tirai dibuka. Pasang taruhan. Siapa yang menang di akhir drama cinta segitiga ini.

"Kenapa?"

"Berjaga-jaga."

Gunung berapi langsung meledak di wajah Toushiro. "A-aku tidak mesum!"

Rukia memutar mata. Ia tahu itu, tahu sekali. Temannya tempe, kan?

Tapi, "Anda laki-laki."

Di rubrik majalah bulanan Seireitei dengan penulis Nanao Ise, tercantum bahwa cuma tiga kata yang menggambarkan seorang laki-laki. Mesum, mesum, dan mesum. Karena pada dasarnya, jiwa seorang laki-laki berasal dari pohon yang berakar mesum.

Dan bagi Rukia yang menggemari orang-orang berotak cerdas, Ise-fukutaichou sudah seperti dewi penuntunnya. Apa pun yang dituturkannya layaknya kitab bagi gadis polos seperti dirinya. Yah, Rukia akui ia lugu minta ampun. Ia tidak tahu saja kalau Nanao menulis itu sehabis mendengar kalimat tidak sopan Kyouraku saat ngelantur minum sake. Terselip 5% kemurkaan, 10% kecemburuan, tapi tetap 85% fakta dan aktual.

"Rukia―"

"Selamat malam, Hitsugaya-taichou. Mimpi indah."

Rukia percaya pada (alam sadar) Toushiro, tapi ia tidak percaya pada (alam bawah sadar) Toushiro.

Hitsugaya menghela napas berat. Ia kena gegana, tapi tidak mati, cuma gelisah-galau-merana. Terjebak cinta segitiga antara dirinya, Rukia, dan bantal guling. Ah, indahnya drama.


. . . . .


Mengapit lengan kiri di antara kepala dan bantal, tangan diperban bertempat di dada, Toushiro memandang langit-langit. Pikiran berkeliaran pada misi Hueco Mundo dengan hasil yang membuatnya tidak percaya. Mencari tahu penyebab aktivitas tidak normal di sarang para Hollow adalah judul misinya. Dunia tanpa perputaran siang dan malam itu tidak berubah banyak setelah Perang Besar Berdarah bertahun-tahun lalu. Efek masih tampak kentara, dengan puing-puing pertempuran berserakan berantakan. Tiba di sana, hanya dijemput sepi, desiran angin, dan pasir.

Paling tidak itu bertahan lima menit, sebelum seekor Gillian datang mengamuk. Dua-tiga ekor menyusul. Yah, serangan mereka tidak memberi efek besar dan masih bisa ditangani timnya yang berjumlah lima orang. Tapi, bayangkan rombongan Gillian berjumlah seratus, kompak menembakkan cero. Ini cukup memakan waktu. Normalnya, Gillian sebanyak ini akan kau temukan di Hutan Menos bawah tanah, tapi di permukaan...? Satu hipotesanya, Hutan Menos sudah tidak mampu menampung jumlah Gillian yang kelewat banyak, terlebih bila Adjuchas ikut berlipat ganda.

Toushiro menolehkan wajah. Tepat di sampingnya, Rukia beringsut mencari posisi nyaman. Bantal guling? Sudah lama ia enyahkan barang laknat itu, dan tercampakkan di lantai dingin samping ranjang. Lengan yang sebelumnya jadi bantal, menarik Rukia kian dekat, meletakkan hidung ke helaian rambut hitamnya. Ah, ia rindu sekali. Seminggu, ya? Seminggu...

Tidak, ia tidak menghabiskan tujuh hari di Hueco Mundo. Meski waktu tidak bisa diukur di dunia bulan sabit, Shinigami terbiasa membawa arloji khusus buatan Institut Pengembangan bila bertugas di sana agar tidak lewat dari waktu misi yang ditentukan. Satu kecurigaan: arus waktu pun sudah berubah menjadi lebih panjang, atau adanya gangguan pada dangai penghubung Hueco Mundo dan Soul Society. Hal itu baru ketahuan saat mereka pulang, dan mendapati raut kesal Kurotsuchi yang marah-marah karena dirinya menghabiskan waktu seminggu cuma untuk misi remeh. Jawaban berbeda dari arloji buatan si jenius gila yang dibawa serta: tiga hari.

Laporan dari Urahara pun bikin resah. Perubahan iklim drastis di Dunia Manusia, jatah waktu empat musim yang kacau, suhu yang tidak stabil (kadang terlampau panas, dingin, badai salju yang kelewatan), dan hal aneh lainnya. IPTEK manusia pasti berkata ini sebagai pengaruh pemanasan global, atau apalah. Tapi, bagi Shinigami yang bertugas menjaga kedamaian dunia dengan menyeimbangkan jumlah roh dan manusia, ini adalah tanda bahwa keseimbangan itu mulai betul-betul retak.

Toushiro membelai rambut Rukia, menyisir di sela-sela jarinya. Mencium pucuk kepala, dan mendekam lama di sana. Raut wajahnya selalu berkerut-kerut mengerikan jika persoalan ini mengambil alih. Makanya, ia berusaha memasang topeng setebal-tebalnya di depan gadisnya. Jika diingat lagi, betul-betul beruntung bisa pulang dengan nyawa masih di badan, dan tanpa kekurangan anggota tim.

Banyak ide aneh yang merasukinya saat masih di Hueco Mundo. Ide-ide yang tidak dipikirkan betul-betul pada hari normalnya di Seireitei. Dan semuanya bermuara pada satu topik, satu sumber, dan satu orang.

Rukia.

"Rukia, aku―"

Gadis itu mendadak menggeliat, bergumam tidak jelas. Pelan-pelan, membuka mata berat. Mencari-cari kesadaran yang hilang sehabis tidur kelewat lelap. Rasanya, sudah lama tidak tidur senyenyak ini. Membalikkan badan terlentang, menatap langit-langit atap yang asing. Oh, ia ingat. Ini divisi ke-4, Toushiro terluka, pintu terkunci, dan terpaksa menginap. Menginap, berarti tidur, seranjang, dan bantal guling. Badan kembali disampingkan, kesadaran sepertinya belum berpulang. Karena di depannya kini bukan bantal guling, tapi dada seseorang ber-shihakushou. Satu, berkedip. Dua, berkedip. Tiga, berkedip. Poin pentingnya, ini dada laki-laki. Mendongakkan wajah, ia mendapati rupa Toushiro Hitsugaya yang memandangnya, dan santai saja menyambut, "Ohayou."

Rukia menatapnya, lama sekali, seolah meyakinkan isi kepala bahwa dunia kadang berkebalikan dengan apa yang kau lihat sebelum dan sesudah tidur. Bantal guling berwajah hampa berubah menjadi wajah menawan kapten jenius. Ia meneguk ludah, dan Toushiro mengerutkan kening. Mau bicara, tapi Rukia membalikkan badan dan memberinya punggung. Ia tidak tahu saja kalau gadis itu sudah bermuka merah yang lebih matang dari kepiting rebus. Malunya sampai mau sembunyi di bawah tanah.

Rukia mengatupkan tangan di dada, menahan jantung yang seperti mau lompat keluar dan berjoget hula-hula. Menarik napas panjang, sepanjang-panjangnya hingga paru-paru mengkerut, ia membangkitkan badan untuk duduk, dan berdiri terlalu tegap seolah mau barisan rapat di depan Soutaichou.

"Ohayou," Rukia baru membalas, tidak berpaling pada Toushiro yang keningnya masih berkedut. Memandang gadis yang berjalan sekaku robot, sebelum berangsur berlari menghilang ke kamar mandi.

Baru kali ini, Toushiro menjumpai Rukia yang lebih aneh dari saat ketemu Chappy. Ternyata, gadis itu memiliki banyak tingkah unik. Dan ini yang paling unik, ia sampai bangkit duduk. Rukia keluar kamar mandi dengan rambut dan muka basah tanpa mau repot dikeringkan. Habis sampoan, ya?

Gadis itu berupaya keras berjalan normal. Ya, jika mengangkat dagu kelewat tinggi dan tangan berayun kanan kiri, bisa dikatakan normal. Tidak berpaling pada Toushiro saat melewati ranjang menuju pintu keluar.

"Rukia?"

Yang dipanggil berhenti, tapi tidak menoleh, justru melirik si bantal guling yang teronggok mengenaskan. Napas beratnya langsung keluar dan terdengar jelas di tengah hening.

"Untuk kali ini," malunya itu, loh, "saya maafkan Anda."

Mengikuti objek pandangnya, Oh!, Toushiro mulai paham. Ia nyengir saja, menikmati kemenangan. Kita tahu siapa jawara dari drama ini. Rukia tidak sengaja menatapnya, cepat-cepat memalingkan muka. Bertemu rupa pangeran impian saat baru bangun tidur sungguh pengalaman tak terlupakan.

Wajah keren menyebalkan, wajah tampan menyebalkan, musnah saja sana!

Rukia berlari saja menuju pintu, malu ini sudah tidak bisa ditanggung. Diputar, lupa kalau semalam pintu terkunci dan jadi biang masalah, langsung terbuka. Memajang Rangiku yang sama-sama memegang kenop. Mirip jajaran penonton yang disuguhi tontonan kejutan; Renji, Hisagi, Iba, Ayasegawa, dan Madarame berturut-turut memandangnya dengan raut aneh yang tidak mau Rukia tebak. Belagak seperti putri bangsawan yang berwibawa ajaran Nii-sama, nona Kuchiki berucap lantang.

"Permisi, Teman-teman!"

Melangkah teratur dan apik, melewati rekan-rekannya yang spontan memberi jalan.

"Oi, Rukia―"

Panggilan Renji, entah kenapa, berubah jadi gonggongan anjing menakutkan. Rukia langsung ambil langkah seribu melarikan diri.


. . . . .


Dua belas Februari.

Spidol merah melingkari tanggal ini di kalender milik Asosiasi Shinigami Perempuan. Hari yang harus diwaspadai dan bikin jantung dag-dig-dug serrr!. Tanggal terbentuknya asosiasi? Bukan; mereka tidak tahu kapan asosiasi bikin rusuh ini berdiri. Tanggal di mana Kuchiki-taichou mau pamer senyum yang bikin mimisan? "Tentu saja, bukan! Nii-sama itu pria terhomat! Nii-sama itu pria penuh wibawa! Nii-sama itu pria normal!" Tidak nyambung, Rukia. Atau tanggal di mana lahirnya Soul Society? Rangiku langsung sewot, "Kami tidak umur bangkotan untuk peduli kapan dunia ini ada!"

Biasa saja, tidak perlu berlebih-lebih, nanti diabetes. Itu hanya peringatan hari lahirnya bocah petakilan berambut warna merah jambu mencolok yang bikin mata sakit. Yachiru Kusajishi.

"Saatnya main petak umpet!"

Yachiru adalah ketua asosiasi, dan mengikuti kemauannya yang tidak masuk di akal sudah jadi keseharian bertahun-tahun. Namun, mematuhi perintahnya yang kekanak-kanakan kadang berlangsung sekali dalam dua atau tiga hari. Nah, bagaimana bila aktivitas itu terjadi lima kali dalam sehari penuh?

Dua belas Februari.

Harinya Yachiru. Bocah tengil itu akan jadi Raja sehari. Sama artinya dengan komunitas yang berisi tante-tante berumur ratusan tahun akan dipaksa melewati mesin waktu dan berubah menjadi anak-anak kurang kerjaan.

Gulungan kertas sudah dibagikan pada delapan orang anggota. Tujuh lainnya mendapat kertas kosong setelah dibuka; sedangkan satu orang, Selamat!, diberi kertas gambar kelinci bertanduk.

"Wah~ senangnya~! Yang jadi setannya kali ini Poyo-poyo~!" Rangiku, maksudnya.

Rangiku menghela napas. Sial. Padahal, ia niat pura-pura sakit perut untuk absen. Ia trauma dengan ulangtahun Yachiru. Tahun lalu, ia terlibat sebagai tokoh utama di permainan tendang kaleng, yang ujung-ujungnya jatuh di markas divisi pertama. Bayangkan saja murka Soutaichou sampai nyemburin api Ryuujin Jakka. Rambut indahnya hangus tiga helai.

Ogah-ogahan melangkah ke batang pohon sakura, Rangiku menghadapkan badan. Setelah ini, ia akan melarikan diri, tidak ikut serta di permainan berikutnya. Tendang kaleng, main bola, main gundu, lompat panjat kelapa, lomba makan, lomba nangkap ikan koi, dan lain-lain.

Hitungan dimulai, satu per satu peserta melesak pergi, mencari tempat sembunyi yang paling tidak terduga. Manshion Kuchiki selalu jadi lokasi sempurna menjalankan hari Yachiru, meski setiap detiknya aura murka Kuchiki-taichou terasa di balik bilik pribadinya.

Rukia menelungkup, dengan punggung menghadap langsung teduhnya matahari di musim dingin. Kepala sesekali melongok ke bawah, memeriksa, apa Rangku mendekati lokasinya.

"Sedang apa?" sebuah suara bertanya.

"Bersembunyi."

Kepala hitamnya diangkat lagi. Rukia mendengar keluhan Isane yang menjadi korban pertama. Maklum saja, si fukutaichou tinggi ramping berjongkok di semak-semak. Ia merasa bangga, pasti tidak akan ada yang mengira kalau ia sembunyi―

"―di atap?"

Rukia disambar petir siang bolong. Tidak hangus, hanya tubuh jadi sekaku patung. Mendongakkan kepala berhadapan dengan wajah belagak polos Toushiro. "A-apa yang Anda lakukan di sini?" Jangan-jangan pemuda ini ikut petak umpet?

"Pertanyaan aneh untuk orang yang bersembunyi di atap."

Mimpi, Rukia.

Gadis itu merona merah, berpaling jauh-jauh. Toushiro tersenyum geli, menghampiri dengan langkah luwes, padahal ia sedang berdiri di dataran miring. Berjongkok meraih pergelangan nona Kuchiki, yang kaget diminta berdiri.

"Mau ke mana?" Padahal, ia sedang asyik-asyiknya main.

"Ke suatu tempat." Lantas menambahkan, gara-gara raut kecewa Rukia. "Dan kau akan menyukainya. Jauh lebih menyenangkan daripada main petak-umpet."

Rukia manggut patah-patah, Toushiro seakan baru meyakinkan bocah bandel kalau perpustakaan itu lebih mengesankan ketimbang taman bermain. Membawa Rukia turun menjejak tanah, keluar dari wilayah rumah megah Kuchiki, tanpa menyadari Byakuya yang berdiri di koridor. Melalui jalan berubin Seireitei hingga tiba di gerbang barat dan memberi salam selamat siang pada Jidanbou. Menembus wilayah Rukongai, mereka berselisih jalan dengan masyarakat yang memandang gugup. Shinigami jarang keluar Seireitei dengan shihakushou bila memang bukan untuk bertugas.

Rukia melangkah tanpa banyak omong. Seperti seekor ikan kecil di tengah derasnya arus sungai, mengikuti Toushiro ke mana pun ia membawanya. Dari cara si kapten bertutur barusan, Rukia yakin itu pasti tempat yang hebat, dan ia tidak protes.

Matahari sudah tepat di atas kepala ketika kaki Toushiro berhenti. Sebuah karavan terparkir di tepi pasar Sabitsura. Seorang wanita duduk di bingkai pintu, menyantap dango dengan lahap, dan hampir tersedak mendapati kedatangan tamunya. "Bikin kaget! Kupikir Anda tidak akan datang?!"

Rukia berjengit, jarang-jarang bertemu wanita bersuara sekeras ini.

"Mana mungkin," sang kapten menjawab santai. Sudah terbiasa, tampaknya.

Terlepas dari suara bikin telinga berdenging, wanita itu tampak modis. Kimono merah cerah bercorak kamelia kuning setengah paha dan obi ungu berbentuk pita raksasa, membuatmu tertipu dengan umurnya. Ini adalah tipe perempuan percaya diri, tidak segan-segan mengenakan pakaian dengan paduan warna yang kurang cocok di mata orang lain. Tapi entah kenapa, jadi tampak tepat di tubuhnya, yang sebenarnya tidak semolek Matsumoto-fukutaichou. Mungkin inilah yang mereka sebut, Orang lain akan menghargai dirimu, tergantung seberapa besar kau menghargai diri sendiri.

Keren, Rukia terkesan.

Si wanita menuruni karavan, mendekat. "Apa ini orangnya, Taichou-sama?" Ia tahu kalau Toushiro seorang kapten, biarpun haori tidak dipakai kali ini.

"Iya."

"Oooh, manisnya~!" Wanita itu menghampiri dengan mata berbinar, seolah baru ketemu barang langka. "Oh, iya." Ia mengelap tangan di kain kimono, meskipun Rukia yakin itu tidak kotor walau tadi baru dipakai ngemil. "Namaku Hotaru." Lalu, menjulurkan salam perkenalan.

Rukia memang selalu canggung dengan orang asing, tapi ia akan cepat beradaptasi dengan orang bersikap tulus. Langsung membalas jabatan tangan Hotaru. "Rukia Kuchiki."

Hotaru menatap tangan tersebut kelewat kagum. Lantas menarik Rukia tanpa aba-aba sampai gadis malang itu tersentak kaget dan diseret masuk karavan. Rukia berbalik melotot pada Toshiro, bertanya-tanya. Laki-laki itu justru melipat lengan di dada dan tersenyum saja, seolah sudah menjawab semuanya.

Berdebam, pintu karavan tertutup rapat.


. . . . .


Rukia berdiri tegap, mata menyapu seisi karavan dengan kagum yang kentara. Kain kimono berbagai corak (bunga, jembatan, sungai) berwarna indah terpajang di dinding. Beberapa berserakan di lantai atau terlipat rapi dan tersusun hingga mencapai atap. Ini pertama kalinya, ia menjumpai kimono sebanyak ini.

Lantas berpaling pada napas gugup di belakangnya, itu agak mengganggu. Hotaru sedang mengambil ukuran badan, meteran membentang pada ujung pundak hingga perbatasan leher, dipegang dengan tangan gemetar.

Hotaru menyadari kebingungan pelanggannya. "Maaf, ini pertama kalinya saya melayani seorang bangsawan." Baginya yang seorang Rukongai tulen, berhadapan dengan gadis bangsawan seperti berhadapan dengan putri kerajaan.

Rukia jadi menyesal menyebut marganya tadi. "Saya juga dari Rukongai, kok, Hotaru-san. Bahkan, dari Inuzuri." Ia betul-betul tidak suka dianggap berbeda.

"Be-benarkah?" Hotaru semakin tidak percaya, "Inuzuri?!"

Rukia mengiyakan. Jauh lebih baik ia dinilai menjijikkan daripada dipandang terlalu hormat.

"Keren...!"

Rukia langsung menoleh penuh. Reaksi apa itu?

Hotaru langsung maklum. "Saya dan teman-teman saya adalah pengembara. Hampir setiap distrik, saya singgahi. Tapi, Inuzuri adalah salah satu dari beberapa distrik yang belum pernah saya jamah. Saya bermimpi datang ke sana."

Tanpa sadar, suara Rukia terdengar lirih, "Itu tidak seperti dugaan Anda."

"Distrik yang dipenuhi para perampok, pecundang, dan gelandangan, maksud Anda?" Mata Rukia melebar, tapi Hotaru membungkuk dan membentangkan meteran dari pundak hingga pergelangan tangan. "Inuzuri memang terkenal dengan keburukannya. Jadi, sedikit yang tahu fakta luar biasa yang ada di sana. Pribumi, sekalipun."

Wanita itu bergilir ke tangan lain sebelum meminta Rukia mengangkat sepasang lengan mengambil ukuran dada. "Anda tahu, Inuzuri adalah distrik penghasil kapas kualitas terbaik, memiliki kupu-kupu spesies langka, bahkan satu dari tiga distrik yang hanya punya dua musim di Rukongai. Panas dan dingin." Berdiri dan menjemput raut tidak percaya pelanggannya. "Ajaib, kan?"

Menggulung meteran, Hotaru menyimpan di kotak perangkat. Ia baru menulis ukuran badan saat selesai melaksanakan seluruhnya, seolah ia punya ingatan brilian tanpa menulisnya terlebih dulu.

"Jadi, berbanggalah Anda lahir di Inuzuri, Kuchiki-san. Di dunia ini, berlian paling kemilau justru berada di antara tumpukan sampah."

Menyimpan kertas di selipan kimono, ia berbalik pada Rukia yang tercengang. Reaksi Hotaru adalah reaksi paling langka dan luar biasa yang pernah ia dapat. Baru bangun dari dunia kagum mengharu-biru saat Hotaru memberi isyarat untuk duduk. Bersimpuh berhadapan, wanita itu memberi bahasa tubuh yang mulai santai. Justru Rukia yang jadi canggung, wanita ini luar biasa.

"Kita lupakan soal itu, karena ini yang paling penting." Hotaru mencondongkan badan, mata berkedip-kedip seperti senter yang mau kehabisan baterai. "Jadi, sudah berapa lama, Kuchiki-san?"

Ekspresi ini sudah jadi makanan sehari-hari Rukia beberapa tahun terakhir, jadi ia tahu maksudnya. "Tiga tahun." Hubungannya dan Toushiro.

"Pantas saja." Hotaru mengembalikan sikap tubuh. Lalu berdiri dan menghilang ke balik bilik yang dibatasi kain biru polos. Kembali pada pelanggannya bersama segantung kimono merah indah cerah bercorak aliran sungai biru dan helaian jatuh daun ginko.

"Bagaimana?"

"Cantiknya...!" Mungkin cantik bukan kata yang cocok. Megah, lebih tepatnya.

"Taichou-sama yang memilihnya, loh. Walaupun, dia bilang boleh diganti kalau Anda mau yang lain."

"Hi-Hitsugaya-taichou?" Kalau begitu, ini semua berarti...? Rukia menggenggam tangan yang bergetar dan berkeringat. Bukan takut, tapi antusias, tidak percaya, berdebar-debar...! Semua emosi itu berkumpul, berputar-putar, dan menjadi satu, lalu berdesakan di kepalanya sampai tidak muat. Ia tidak menduga hari ini datang, betul-betul mendadak.

Hotaru menyeringai. Ah, ia rindu sekali menyaksikan ekspresi ini. Sudah berapa lama, ya, sepasang pelanggan muda menggunakan jasanya? "Jadi, mau diganti atau tetap yang ini, Kuchiki-san?"

Rukia bertelut diam. Hening sebelum melodi angin musim dingin seakan menyelinap di sela-sela jendela bilik karavan. Merayu, menggoda, berbisik lembut, Hei, Pangeran Impianmu sedang menunggu. Ia terbuai.

"Tidak." Rukia mengangkat wajah dan memberi keputusan. "Saya memilih kimono pilihannya."


. . . . .


Air terjun Sabitsura.

Bukanlah air terjun yang membuat mata orang membulat Wah! saat pertama kali melihatnya. Tingginya mungkin cuma sepadan pohon kelapa ukuran rata-rata. Selain bebatuan-bebatuan besar dan kecil yang mengitari, tanah di sekeliling pun penuh daun kering berserakan. Pemukiman terdekat berjarak dua puluh kilometer, dan ini bukan lokasi wisata, bahkan memiliki medan yang cukup sulit ditempuh. Perjalanan diapit dua tebing lumayan curam, dan sering jadi lokasi beroperasinya para bandit. Hanya mereka yang berkemampuan beladiri tinggi yang mumpuni melewatinya. Shinigami, salah satunya.

Rukia menemukan tempat ini saat terpisah dengan tim di misi tiga tahun lalu, dan kebetulan bersama Toushira.

"Tidak banyak berubah."

Ya, kebetulan. Saat mereka tidak lebih dari sepasang atasan dan bawahan.

Toushiro meraih sebatang kayu kelewat panjang, mematahkan jadi dua lewat paha. Duduk bersila di batu raksasa tanpa membersihkan tanah atau daun keringnya. Meraih belati di obi, mulai mengikir ujung kayu. Rukia berdiri saja dengan sepuluh jari saling memeluk, memandang punggungnya.

"Kimono itu," ia tahu Toushiro mendengarkannya, "Anda serius?"

Toushiro masih setia di posisi dan aktivitas. "Kau suka sekali mempertanyakan apa pun yang kulakukan. Tiga tahun lalu pun begitu." Saat pemuda ini menyatakan perasaannya dan mengajaknya berkencan.

Rukia meneguk ludah, memandang daun yang terbawa arus angin sepoi di dekat kaki.

Toushiro beringsut melepas sepatu jerami dan kaus kaki, melipat hakama di pertengahan betis. Lalu meraih tombak kayu yang siap pakai, berdiri perkasa layaknya kesatria putih yang siaga menumpas raja kegelapan. "Yah, itu bukan salahmu. Aku mungkin tampak tidak bisa dipercaya."

Rukia lantas bergerak maju. "Bukan begitu!" Tapi, Toushiro sudah melompat menuju bebatuan rendah untuk tiba pada genangan air dengan suhu yang membuat si kapten tersenyum puas. Orang biasa pastinya menggigil beku. Bayangkan saja, di alam bebas, berangin, dan musim dingin. "Saya hanya merasa kalau―"

"―tidak pantas?" Toushiro mendengar suara Rukia di batu besar tempatnya tadi, tapi ia tidak berbalik setelah tombak menemukan dua ikan sekali tusuk. "Rukia, bisa cari wadah, apa pun itu?"

Tidak ada jawaban. Tidak ada balasan. Lama sekali. Baru sepuluh detik berikutnya, Toushiro mendengar kaki melompat dan menjauh, meninggalkannya seorang diri bersama rombongan ikan yang mengigit kaki telanjangnya. Ia menghela napas, tidak bermaksud mengalihkan topik.

Delapan ekor sudah jadi santapan tombak saat Rukia kembali bersama satu keranjang daun lontar. Toushiro menatap jari yang lecet-lecet, sebelum mendarat pada wajah manis nona Kuchiki.

"Iya, saya membuatnya." Rukia tidak menemukan apa pun, selain dedaunan kering mudah hancur. Tapi, daun lontar kering yang dijumpai berikut merangsang ide cemerlangnya. Pengalaman hidup di jalanan kadang membuatmu lebih kreatif.

Toushiro tersenyum diam-diam.

Api unggun membara di bawah langit gelap. Mudah-mudahan tidak terjadi badai. Rukia baru selesai menyantap ikan bakar saat Toushiro mengembalikan topik sebelumnya.

"Jangan bersikap rendah diri," mata hijau si kapten terpancang pada api, "terutama di depanku."

Rukia melipat bibir, entah membersihkan sisa ikan yang menempel atau beradaptasi pada aura yang mulai berubah. "Saya hanya merasa," ia tidak tahu bagaimana menafsirkannya, "itu terlalu luar biasa."

Toushiro menoleh. "Kimono-nya?"

Rukia langsung melotot. "Lamaran Anda, tentu saja!"

Bila cincin adalah tanda ikatan keseriusan sepasang muda-mudi di Dunia Manusia, sebuah kimono adalah tanda ikatan yang sama di Soul Society.

Rukia membungkam mulut, ia keceplosan. Tapi benar, kan? Ia tidak ke-geer-an, kan? Eh, bagaimana kalau ia salah paham? Dentingan tawa kecil kemudian terdengar, menggelitik sepasang telinga. Rukia memalingkan muka pelan-pelan, mendapati si kapten menunduk, menahan tawa. Itu bukan tawa mengejek, ia tahu itu.

Toushiro mengangkat wajah tanpa tawa, tapi memberi secarik senyum menawan yang mengajak jantung berlompat riang. "Aku serius, Rukia. Dan kau lebih sekadar pantas untuk mendapatkannya."

Kalimat itu mencuri suara Rukia hingga ke langit terjauh. Menatap genggaman tangan di pangkuan, berkunang-kunang dengan selimut air yang melapisi mata.

"Andai dunia ini bisa dibeli―"

Rukia mendengarkan tiap kata, intonasi, dan nada.

"―aku pun akan memberikannya untukmu."

Angin keras bersiur, tapi berubah menjadi angin sepoi yang menggelitiknya, membelai telinga, dan merayu, Dia betul-betul mencintaimu.

Memiliki seseorang yang tulus padamu ... terlihat seperti peri yang memberimu sepasang sayap dan mengajakmu terbang. Melihat dunia yang tampak kecil, dan seakan bisa kau genggam dan kendalikan. Perasaan ini ... perasaan yang sama dengan Hisana-neesan untuk Nii-sama.

'Tapi saat Byakuya-sama pulang, dengan tubuh tanpa cacat, dengan segar bugar, hanya syukur yang bisa aku lantungkan. Terima kasih karena sudah membawa pulang suamiku, tanpa kekurangan apa pun.'

Rukia tahu kenapa Nii-sama memberinya buku harian sang kakak. Nii-sama ingin ia bersiap-siap atas apa yang dihadapi kalau ia serius dengan hubungannya bersama si kapten muda.

Kesendirian, kesabaran, dan menunggu.

Tapi,

'Aku ingin jadi orang pertama yang melihatnya bangun di pagi hari.'

'Aku ingin jadi orang yang memasak makanan untuknya.'

'Aku ingin jadi orang yang mengecup keningnya saat dia mimpi buruk.'

'Aku ingin jadi orang pertama yang menjemputnya pulang.'

'Dan, aku ingin jadi satu-satunya orang yang selalu melihat senyum indahnya.'

Salju turun, api padam. Tidak ada apa pun yang tersisa, kecuali pohon-pohon yang merunduk malu, telah menyaksikan dua orang berkumandang kasih. Sepasang muda-mudi itu mungkin baru kembali lagi bertahun-tahun kemudian, tapi bersama anggota keluarga baru. Air terjun, bebatuan, dan hutan Sabitsura akan menunggu sambil memainkan seruling rindu.

"Anda harus bersiap-siap menghadapi Nii-sama, kalau begitu."

"Tentu. Aku sudah menyiapkan jurus jitu untuk mengalahkan kakakmu tanpa harus bertarung."

Dua Shinigami berpayung daun pisang untuk beranjak pulang ke Seireitei. Salju turun dengan derasnya. Rukia meminta Toshiro membeberkan rencana briliannya, tapi si pemuda bersikeras main rahasia-rahasiaan. Rukia memaksa, menarik lengan shihakushou si putih. Tanpa tahu jalan licin yang ditapaki; Toushiro terpeleset, Rukia ikut-ikutan. Tapi bukan rintihan pedih yang didengar, namun tawa geli nona Kuchiki yang lantas melempar bola salju pada si kapten Hitsugaya.

'Berikan aku ketangguhan untuk kesendirian. Berikan aku kekuatan kesabaran. Berikan aku harapan untuk selalu menunggu. Tolong bantu aku untuk sehebat dirimu, Hisana-neesan. Aku sangat mencintainya.'


. . . . .


Byakuya mendekap lengan di dada. Berdiri di tangga teratas depan gerbang, layaknya iblis yang mesti dihancurkan sebelum bisa melewati gerbang surga.

"Kau pikir ini sudah jam berapa, Hitsugaya-taichou?" Aturan tidak boleh membawa Rukia pulang setelah matahari terbenam jika bukan karena alasan kerja, adalah kesepakatan tak terucap dua singa ini.

"Ini salahku. Aku menahan Rukia terlalu lama." Cuaca buruk yang menahan mereka terlalu lama.

Byakuya tidak tampak mau maklum. "Rukia, masuk." Gadis itu bertukar pandang dengan Toushiro sebelum ogah-ogahan melangkahkan kaki melewati sang kakak menuju pintu. Penampilan berantakan adiknya dengan tanah dan salju mengotori shihakushou tidak menarik minat Byakuya, yang beradu pandang dengan si putih. Ia merasakan firasat aneh.

Toushiro baru betul-betul menatap kapten divisi ke-6 saat punggung Rukia tidak bisa ditangkap mata. Byakuya Kuchiki sebagai sosok seorang kakak sekaligus ayah tidak pernah berhenti membuatnya terkesan.

"Kali ini, kau agak kelewatan, Hitsugaya-taichou."

Kakak laki-laki adalah pelindung bagi adik perempuannya. Ia tidak akan bertindak beda bila ini menyangkut Hinamori (biarpun ia berperan sebagai adik). Walau Byakuya tampak berlebihan ketimbang kakak-kakak yang lain―

"Kau sudah kuperingatkan sedari awal kalau kau membuat Rukia kesusahan bila dia tidak mengikuti aturan."

―tapi di mata Toushiro, pria ini tidak bertindak di luar batas. Sebagai kepala keluarga empat bangsawan paling penting di Seireitei, nama baik adalah segalanya. Orang biasa mungkin tidak paham, karena mereka tidak mau memahami. Namun, tugas ini pun sebagai kendali untuk menjaga kenyamanan adiknya di klan, terutama di Mansion Kuchiki. Menjahit mulut-mulut kurang ajar para tetua dengan menunjukkan tindak-tanduk Rukia lebih seperti gadis bangsawan ketimbang gadis bangsawan murni.

Mengikuti aturan adalah yang paling utama.

"Aku tahu. Ini kelalaianku―yang pertama sekaligus yang terakhir."

Sepasang alis Byakuya bertaut. Ia mencium keseriusan.

"Kalau begitu, aku permisi." Toushiro meletakkan keranjang berisi ikan sisa di tangga bawah. "Kau boleh ambil kalau mau. Rasanya enak, tapi mungkin tidak seenak ikan-ikan mewah yang kau santap."

Alis Byakuya masih berkerut. Tumpukan undangan lamaran di meja kerja, mungkin ... akan dibakar saja. Pilihan Rukia adalah yang utama.

"Aku berharap kau tidak ke mana-mana hari Sabtu. Sampai jumpa lagi, Kakak ipar. "

Tapi, kenapa adiknya harus dikelilingi bocah-bocah kurang ajar? Ichigo Kurosaki, Renji, dan sekarang ... bocah ini? Mulut, sikap, sarkasme; Toushiro Hitsugaya jutaan kali lipat kurang ajarnya ketimbang si labu dan si nanas.

Empat simpangan menonjol kentara di pelipis. Sudah berapa tahun ia merasa tidak semarah ini. Apa yang didengarnya tadi? Apa yang barusan didengarnya?!

"Rukia?"

Rukia berjengit di balik gerbang, tidak masuk-masuk sedari awal. Merinding mendengar suara murka yang ditahan-tahan. Mirip singa yang menggeram berang.

"I-iya, Nii-sama?"

Rukia berharap rencana jitu Toushiro sekeren namanya. Jika tidak, ia yakin Mansion Kuchiki akan berakhir jadi puing-puing bangunan bekas pertarungan dua raja hutan yang mengamuk liar.

"Siapa yang mengajari Hitsugaya-tachou memanggilku―Kakak ipar?"

Semoga.


The End


.

.

.

.

.

A/N:

Ini bisa dikatakan prekuel "Dua Singa", tapi bisa juga tidak. Karna timeline-nya emang beda. Tapi kalo mau tahu bagaimana Toushiro menghadapi Byakuya saat melamar Rukia, kurang lebih tidak jauh-jauh dari 'kata-kata kurang ajarnya' di fic oneshot saya yg satu itu.

Yachiru punya kebiasaan manggil orang dengan panggilan unik, tapi saya gak tahu dia manggil Rangiku apa. Tapi karena kebetulan bocah ini manggil Orihime dgn 'Poyo-poyo' artinya 'big boobies', saya ngambil nama yang sama.

Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca n review fiction ini#meluk

Yuki ChibiHitsu-chan | Guest 1 | Hanamitan | Oh. ILoveCupcakes | Xiumin Snape | hikarishe | Eonnichee835 | Guest 2 | BLEACHvers | ai-haibara777 | Hayi Yuki | Shofia Mutiarani | Permen Lemon | rymmme | shiro-chan

.

.

.

.

.

Omake

'Dia bisa bernyanyi tralala-trilili, menari balet, melompat sirkus. Punya dua antena lucu, buah ceri dua lubang, dan selimut putih bikin geli dan ketawa. Coba tebak apa itu?'

Muka Nanao hilang gizi, membaca isi kertas, mengangkat tangan kaku.

Yachiru langsung melompat. "Ya, Nana! Apa jawabannya?"

"A-ano, Kusajishi-fukutaichou, ini bukan teka-teki. Ini, sih, namanya tanya-jawab."

Si kepala merah jambu terkekeh polos. "Salah! Jawabannya bukan itu, Nana! Ternyata Nana bodoh, ya!"

Ise langsung beku jadi mayat hidup. Padahal, maksudnya ia cuma bertanya, bukan menjawab. Dipanggil ... apa tadi? Bodoh? Ia mau mati saja.

Rangiku menepuk-nepuk pundaknya. Nanao langsung murka. "Ini gara-gara kau, Rangiku-san!"

Ya, ia lah yang mengusulkan memberi kesempatan anggota lain membuat teka-teki. Maksudnya, agar teka-tekinya mudah dijawab, tidak sesulit punya Nanao. Apalagi pembuatnya adalah si bocah kutu. Tapi pertanyaan ini ... apa?

"Alien," Soifon mencoba peruntungan, dan Yachiru menggeleng.

"Monster ceri berbulu." Isane makin ngaco.

"Komamura-taichou!" Apa Kiyone penggemar si kapten serigala?

Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan ini jika kau tidak punya jiwa yang sama dengan si bocah hiperaktif. Makanya sedari tadi, Rangiku sudah mengangkat bendera putih dan memilih menghabiskan kue cokelat buatan Hinamori, yang absen di pertemuan.

"Saya, saya, saya, Kusajishi-fukutaichou!"

Tapi, satu orang pede banget angkat tangan setinggi tiang bendera, dan disambut dengan muka girang Yachiru.

"Ya, Rucchan, apa ja―?"

"Chappy!"

Jawaban itu membahana ke pelosok bilik, menggema ke tiap sisinya. Para pria di ruangan sebelah terlonjak kaget. Rangiku melongo sampai setengah kue cokelatnya jatuh berpulang ke piring. Nanao berhenti murung. Soifon manggut-manggut. Isane berkedip-kedip. Kiyone bermuka binar-binar. Akhirnya, Kuchiki-san berani menunjukkan diri pada dunia. Rasanya, mau nangis!

Si kutu loncat langsung memeluk Rukia, dan bersorak, "Wah! Rucchan memang profesor! Hebat! Hebat! Luar biasa!" Rukia ikut-ikutan senang. Dua orang ini tenggelam dalam lautan euforia, mengabaikan tanda tanya besar di kepala kawan-kawannya, Apa itu Chappy?.

"Yah, sudah kuduga." Rangiku kembali ke kue keringnya. "Hanya orang memiliki jiwa anak kecil yang bisa menjawabnya."

Kepala lain memberi anggukan setuju.

Mendengar komentar itu, bukannya tersinggung, Rukia langsung menyela, "Ah, bicara soal anak kecil, apa Anda sudah dengar berita bahagia dari Ichigo dan Orihime, Matsumoto-fukutaichou?"

Semua wajah menunjukkan tanda penasaran.

Matsumoto berhenti mengunyah, dan menjawab dengan senang, "Tentu saja! Empat bulan, kan?"

Rukia menghampiri, Yachiru mengikuti. Ia mengangguk jelas.

"Apanya yang empat bulan?" Isane polos bertanya.

"Masaka?" Nanao mulai menebak. "Orihime-san sudah hamil empat bulan?"

Wajah gembira Rangiku dan Rukia sebagai jawaban iya.

Seruan lantang merobohkan atap, menggedor-gedor dinding. Anggota Asosiasi Shinigami Pria yakin, para wanita membenci mereka.

Nanao merasa deja vu dengan perbincangan ini. Mengatupkan mulut rapat-rapat, jangan sampai menyinggung topik sensitif lagi.

"Oh, iya! Hampir lupa." Rukia merogoh tas kain yang dibawa, mengeluarkan berlipat-lipat undangan, mengulurkan satu per satu pada rekan komunitasnya.

"Apa ini?" Yachiru membolak-balik undangan biru langit bercorak bunga lili. "Rucchan mau ulangtahun?"

Rukia tersenyum geli. "Bukan, Kusajishi-fukutaichou. Ulangtahun saya, 14 Januari."

"20 April." Nanao membaca tanggal di bagian luar. "Bukannya ini dua minggu lagi?"

Mata biru Rangiku berkilat paham. Mungkinkah...?

"Hai', dua minggu lagi, saya dan Hitsugaya-taichou akan menikah."

Seluruh wajah berpaling pada Rukia dan membuka mulut untuk menjerit―

"EHHHH?!"

.

08 Oktober 2017