Naruto Masashi Kishimoto
Happy Reading
Twin's Sister Presnt
" Only Hope "
KADO.
Hinata menepati janjinya dengan Naruto kemarin untuk menemaninya mencari hadiah untuk Sakura. Meski satu sisi dirinya tidak ingin melakukannya. Oh ayolah...siapa yang suka saat orang yang kau suka meminta pendapatmu untuk mencarikan hadiah untuk orang yang di sukainya. Jelas itu melukai perasaan mu sendiri kan.
Tapi Hinata, tetap lah Hinata. Ia tidak bisa menolak saat orang lain meminta bantuannya. Bahkan jika ia tahu perasaannya akan tersakiti.
Naruto sudah menunggu di depan gerbang saat Hinata keluar.
Keduanya saling menatap, memandang satu sama lain.
Bagi Hinata, penampilanNaruto saat ini sangat berbeda dari disekolah. Dengan celana Jeens panjang, sepatu Kets dan kaos yang ditutupi dengan kemaja tak berkancing membuatnya terlihat santai sekaligus keren.
Begitu pun dengan Naruto. Hinata tampak sangat manis dengan blouse pink selutut, flat shoes dan bando di kepalanya.
"A-nuu..." Hinata mencoba memecah kesunyian.
"Oh- ohayou Hinata." sapa Naruto saat tersadar. Ia mengaruk kepala belakangnya guna menghilangkan rasa gugupnya.
"Ohayou mo Naruto-kun." kedua terdiam kembali. Suasana entah mengapa jadi terasa gugup lagi.
Keduanya menaiki motor dan ingin beranjak pergi dari gerbang rumahnya Hinata.
Saat Naruto ingin memakai helmnya, samar-samar Hinata mendengar Naruto mengucapkan kata 'cantik'. Tapi ia tidak terlalu mempedulikannya. Ia berpikir jika ia salah dengar dan ia tidak ingin menambah rasa harapan pada perasaannya.
Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai di toko tujuan. Tanpa abimbu Naruto langsung mengandeng tangan Hinata berjalan ke arah toko.
Naruto tidak sadar jika hal itu membuat perasaan hangat, sekaliigus rasa deg-degan bagi Hinata. Jika bisa Hinata ingin waktu berhenti walau sejenak, Hinata ingin Naruto menggandengnya seperti ini, Hinata ingin selalu berjalan di samping Naruto seperti ini. Hinata ingin seperti ini selamanya.
Tapi tepat saat lonceng dipintu toko yang di buka Naruto terdengar, Hinata bagaikan di tempar kencang oleh kenyataan. Hinata sadar ia tidak boleh terlalu bahagia seperti tadi. Hinata sadar pada kenyataan tentang keberadaannya disini untuk membantu Naruto mencari hadiah untuk Sakura. Tidak lebih dari itu.
Sekejap Hinata merasa seperti orang bodoh karena harapannya.
Hinata membenci dirinya yang tidak bisa menahan perasaan berlebihan dari harapannya.
Hinata benci ini. Hinata benci dirinya sendiri.
"Hinata ?" Naruto bertanya bingung saat tiba-tiba Hinata menarik tangannya dari genggamannya.
"Kau baik-baik saja ?" lanjutnya memastikan keadaan Hinata. Naruto berpikir Hinata sedikit berbeda dari beberapa menit yang lalu.
"Huuumm... Tentu saja." Jawab Hinata dengan senyum lembut yang menurut Naruto seperti sebuah senyum paksaan.
"Baiklah. Ayo !"
Keduanya melanjutkan jalan memasuki toko. Tidak seperti tadi, Hinata memilih jalan di belakang Naruto. Tidak di sampingnya maupun bergandengan tangan.
"Bagaimana kalau yang ini ? " tanya Naruto pada Hinata sambil menunjukan sebuah kalung berbentuk love.
"Ku rasa tidak."
" Yang ini ?"
Naruto mulai menunjukan satu persatu barang yang di lihatnya. Entah kalung, gelang, jepit dll. Tapi semua Hinata jawab dengan gelengan kepala.
Hinata tau, Sakura tidak terlalu suka hal-hal seperti itu. Sakura pasti akan mengatakan 'ini jelek. Ini bukan gaya ku. Ini terlalu Feminim dsb. ' Hinata sangat yakin Sakura akan bicara seperti itu. Karena Hinata tahu, Sakura tidak terlalu suka barang yang berbau Feminim seperti itu. Sakura itu gadis tomboy yang sudah pasti membenci hal-hal seperti itu.
"Bagaimana kalau yang ini ?" kali ini bukan Naruto yang bertanya.
"Kau yakin."
"Kurasa, iya. Aku sedikit tahu... Kalau Sakura suka menulis. Kurasa buku diary ini cocok untuknya."
"Baiklah kalau menurutmu begitu. Aku akan ke kasir. " ucap Naruto mengambil buku yang di tangan Hinata dan beranjak ke kasir.
Hinata tidak mengikuti Naruto. Ia memilih untuk melihat-lihat. Pandanganya tertuju pada accessories di dalam estalse itu. Entah kenapa, benda itu mampu membuatnya-
"Kau menyukainya ?" sebuah suara yang familiar terdengar dari belakang tubuhnya.
Naruto berdiri dibelakangnya sambil menatap kalung dengan badul kecil bintang yang ditengahnya terdapat bentuk matahari yang sedari tadi di pandangi Hinata.
"Hah... Apa ?"
"Aku tanya, apa kau menyukainya."
"Heem sedikit. Itu terlihat cantik."
"Kalau kau mau, ambil saja. Aku akan membelikannya."
"Aahhh... Tidak perlu. Aku tidak terlalu membutuhkannya. Lagi pula itu sangat mahal."
Naruto tahu, Hinata berbohong. Jelas sekali kalau Hinata sangat menginginkan kalung itu. Hinata sedari tadi melihat terus ke arah kalung itu dan sedikit memikirkan sesuatu. Bahkan sangking fokusnya melihat kalung itu, ia tidak menyadari Naruto sudah berdiri di belakangnya sambil memanggil namanya.
"Apa sudah selesai ?" tanya Hinata mengalihkan pembicaraan.
"Yah... Aku sudah membayarnya. Lihat ini !" jawab Naruto sambil menunjukan dua buah cincin pada Hinata. "Kata pejaga toko itu, aku dapat Hadiah cincin ini karena membeli buku diary tadi. Katanya hadiah khusus." lanjut Naruto menjelaskan.
"Waaah... Beruntung sekali. Ini sepertinya cincin couple, Naruto." seru Hinata sambil menatap cincin itu.
"Benar kah ?"
"Huuumm."
"Karena Sakura tidak suka hal-hal seperti ini. Jadi cincin ini untuk mu saja, Hinata." kata Naruto seraya memberikan satu cincin pada Hinata. Sontak saja Hinata kaget.
"Tapi-"
"Ingat jangan sampai hilang. Sebaiknya kau pakai seperti aku, supaya tidak hilang atau lupa meletakkannya." sela Naruto sambil memperlihatkan cincin satunya yang sudah bertenger di jarinya.
"Tapi, Naruto. Kau seharusnya membe-"
"Ayo." lagi-lagi ucap Hinata dipotong oleh Naruto.
Naruto mengandeng Hinata keluar dari toko. Hinata tidak banyak komentar. Ia hanya diam mengikuti langkah Naruto sambil menatap tangannya yang di gandeng Naruto.
Ia bingung antara harus senang atau sedih menerima cincin itu. Ia senang mendapatkan cincin couple seperti itu dari Naruto- orang yang disukainya. Ia sedikit berharap lagi pada perasaannya.
Tapi ia sedih mengetahui kenyataan yang ada. Naruto menyukai Sakura-teman baiknya bukanlah dirinya. Cincin itu mungkin saja hanya sekedar hadiah biasa tidak lebih dari itu. Tapi, salahkah dia jika sedikit berharap perasaannya juga bisa terbalaskan.
Meski ia tahu itu hanya sebuah harapan.
To Be Countinued
A/n :
Hallo ! Twin's M disini.
Aku mau ucapin terima kasih khusus buat guest:Ana yang masih nunggu fanfic ini.
Buat Muraski Nabilah dan Sena Ayuki yang udah nunjukin typo dichapter pertama... maaf ya untuk banyaknya kesalahan di chapter pertama, maklum itu aku baru pertama coba nulis ffn. Mudah-mudahn di chapter ini sudah berkurang ya typo nya... heheheh...
Dan buat silent reader... Hay ! kapan mau nyumabang suaranya ?
#ngarep.
Cerita ini cuma cerita-cerita pendek yang di alami oleh Hinata dan Naruto. Jadi maklum ya kalo tiap chapternya pendek.
Oke. Terima Kasih Minna...
Twin's M
Log out.
