Naruto – Masashi Kishimoto

Happy Reading

JackFriut Girl's

" Only Hope "

Cincin.

Ke esokannya Hinata melihat Sakura sedang menulis sesuatu di sebuah buku yang tidak asing baginya.

Ya buku itu- buku yang kemarin Naruto belikan untuk Sakura. Melihat Sakura terlihat begitu bahagia menatap cover dan menolak balikan buku itu, mau tak mau Hinata juga ikut tersenyum.

Hinata bukan gadis egois yang hanya memikirkan kan perasaanya sendiri. Ia tidak bisa tidak senang melihat sahabatnya begitu bahagia. Walau bagaimana pun Sakura sahabat baiknya dan perempuan yang di sukai Naruto. Meski tidak bisa memiliki cinta Naruto, dengan melihat sahabat baiknya dan orang yang di sukainya bahagia sudah cukup untuk Hinata. Baginya tidak ada hal yang membahagiakan saat orang yang disukainya bahagia juga. Meski bukan dengan dirinya.

Ya karena dia adalah Hinata.

"Ohayou, Sakura." sapa Hinata menghentikan aktivitas Sakura.

"Ohayou, Hinata."

Hinata duduk di kursinya dan mengambil novel kemarin yang belum selesai ia baca. Sedangkan Sakura kembali menulis di lembar-lembaran buku itu.

Ssrreeeekkkkk...

" OHAYOUUUU ! " Suara pintu yang terbuka dan sapaan lantang terdengar berbarengan di penjuru kelas.

"Sa-ku-ra- Chan..." lagi-lagi Naruto datang untuk menyapa Sakura seperti biasa ya.

"Haahhh... " Sakura hanya menghela napas saat melihat Naruto berjalan ke arahnya.

"Ohayou, Hinata." sapa Naruto saat sampai dan duduk di depan meja Sakura. Sekilas Naruto melihat tangan Hinata. Ia tersenyum kecil saat melihat cincin yang sama sepertinya bertenger di jari manisnya.

"Ohayou mo, Naruto- Kun."

"Ada apa lagi, Naruto ?" kini pertanyaan Sakura mengalihkan perhatian Naruto dari Hinata.

"Ahh... Kau suka hadiahnya ?"

"Tentu saja. Apapun pemberiannya aku pasti suka."

"Syukurlah kalau begitu."

Hinata mendengar jelas percakapan itu. Ia juga sedikit bersyukur Sakura menyukainya. Setidaknya usahanya tidak sia-sia.

"Jadi, apa dia mengatakan sesuatu ?" kini Naruto mencondongkan tubuhnya ke depan Sakura sambil membisikan pertanyaan itu.

"Tidak. Dia tidak cerita apapun padaku. Memangnya apa yang kau lakukan padanya ? " jawab Sakura seolah tahu maksud pertanyaan Naruto.

Kembali membaca novelnya, Hinata bersikap tidak ingin peduli dengan obrolan keduanya meski sebenarnya ia sedikit mencuri-curi pembicaraan mereka.

Sebenarnya apa yang di katakan mereka. Kenapa mereka selalu berbicara bisik-bisik seperti itu. Apa karena kehadirannya. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus muncul di kepala Hinata. Pasalnya setiap Naruto datang ke kelasnya dan bicara dengan Sakura, selalu saja berbisik.

Hinata penasaran. Sungguh-sungguh penasaran. Bukannya Hinata ingin ikut campur tapi- hey... Orang mana yang tidak penasaran saat melihat orang di samping mu berbisik-bisik. Siapa pun pasti penasaran kan? Meski tidak ada sangkut pautnya denganmu.

"Hehehehe... Itu. A-aku sebenarnya kemarin. Ya pokoknya kalau dia cerita sesuatu beritahu padaku. Oke." jawab Naruto yang terdengar ambigu bagi Sakura.

"Kau aneh, Naruto."

"Hehehehe..." tawa Naruto dengan tampang idiotnya sambil mengaruk kepala belakangnya.

"Naruto. Sejak kapan kau pakai cincin ?" tanya Sakura saat melihat tangan yang digunakan Naruto mengaruk kepala terdapat sebuah cincin.

Sakura sudah tidak berbicara berbisik lagi sontak saja membuat Hinata kaget dengan pertanyaannya pada Naruto. Sekilas dia melihat ke tangan Naruto dan benar cincin yang sama dengannya bertenger manis di jari Naruto.

"Sejak Kemarin."

Hinata mengepalkan tangannya yang ada cincin dan perlahan menurunkan tangannya ke bawah meja. Ia berniat untuk melepaskan cincin itu sampai-

"Jangan pernah melepaskannya. Atau aku akan marah." suara Naruto yang entah untuk siapa menghentikan Hinata untuk melepas cincin itu.

"Melepaskan apa ? Kau bicara apa sich Naruto aku tidak mengerti." tanya Sakura.

"Hahahaha... Aku hanya berbicara sendiri."

"Kau memang aneh Naruto."

"Baiklah, Sakura- Chan. Aku pergi dulu. Kabari aku jika ada sesuatu. Jaa ne!" ucap Naruto seolah tidak begitu peduli dengan ucapan Sakura.

Hinata masih menunduk memandang cincin di jarinya yang ia sembunyikan di bawah meja. Ia tidak tahu harus bagaimana. Ia takut. Takut akan Sakura tahu cincinnya sama dengan cincin Naruto. Hinata takut Sakura salah paham dan membencinya. Naruto menyukai Sakura dan Sakura tahu itu. Seharusnya cincin itu untuk Sakura bukan dirinya. Ada ribuan keraguan di hati Hinata, tentang apa yang terbaik untuk dia lakukan.

Apa ia tetap memakai cincin itu seperti ancaman Naruto, atau -

Apa ia harus melepaskan dan mengembalikannya pada Naruto. Hinata tidak tahu.

Langkah Naruto berhenti di depan pintu kelas. Ia berbalik-

"Oh ya... Yang aku katakan tadi sungguh-sungguh. Aku akan marah jika dilepas." berkata ambigu lagi sambil menatap kearah bangku Sakura dan Hinata. Ucapannya Sontak saja membuat Sakura dan Hinata memandang ke arahnya.

Hinata tidak yakin jika perkataannya untuk dirinya. Tapi besar kemungkinan memang untuk dirinya.

Sedangkan Sakura hanya memasang wajah binggung karena sikap aneh Naruto.

"Hahahahaa... Jaa ne." lanjutnya tertawa sambil berlalu dari kelas Hinata dan Sakura.

"Bukankah Naruto hari ini sikapnya sedikit aneh, Hinata ?"

"Huuumm... Ku rasa begitu." jawab singkatnya sambil tersenyum kecil memandang cincin di jarinya.

'Arigatou, Naruto-Kun.' Hinata membatin. Sekarang ia yakin apa yang harus ia lakukan.

X

X

X

Bel istirahat sudah berbunyi, para siswa-siswi berhamburan ke kantin untuk mengisi perut mereka. Jika dilihat, mereka tampak seperti semut yang mengerubungi gula. Saling berdesakan, berebutan tempat duduk, berteriak-teriak tak sabar memesan makanan dan hal-hal lainnya.

Tapi Hinata tidak termasuk salah satu dari mereka. Hinata selalu membawa bento yang ia buat sendiri dari rumah. Saat istirahat Hinata tidak pergi ke kantin, melainkan ia pergi ke taman di belakang gedung sekolah. Hinata selalu kesana untuk memakan bentonya. Terkadang Sakura juga ikut menemani, tapi tidak setiap hari karena saat istirahat Sakura direpotkan dengan urusan OSIS.

Untuk pergi ke taman belakang sekolah, Hinata perlu melewati lapangan basket dan voly yang terletak di tengah-tengah gedung sekolah. Dan hari ini Hinata hanya sendiri karena Sakura tidak bisa menemaninya.

"Sasukeee !" suara yang sedikit cempreng terdengar dari tengah lapangan.

Sontak Hinata menatap ke arah lapangan untuk memastikan siapa pemilik suara itu. Dan benar saja perkiraannya, suara itu milik Naruto. Saat ini Naruto dan tim sepak bolanya sedang berlatih untuk perlombaan bulan depan.

Hinata melihat Naruto sedang mengiring bola ke arah Sasuke. Naruto tampak memukau dengan wajah seriusnya, jarang sekali Hinata melihat Naruto seserius itu. Gerakannya lincah menghindari lawan, rambutnya bergoyang terbawa angin serta keringat yang mengalir di dahinya membuat wajah Hinata blushing. Bagi Hinata, Naruto saat ini sangat keren.

Sasuke menerima bola itu dengan mulus. Dia berjalan ke arah gawang dan berhasil melewati Shino, Gaara yang merupakan lawan mainnya. Sedangkan Naruto juga berlari mengimbangi Sasuke dari sisi kanan. Mereka berdua tampak kompak. Kiba dan Lee berjaga-jaga di belakang Naruto dan Sasuke untuk mengantisipasi jika bola berhasil di rebut oleh lawan.

Di pinggir lapangan siswi-siswi entah dari kelas berapa saja, bersorak menyemangati idola mereka masing-masing, meskipun lebih banyak yang menyemangati Sasuke dan Gaara.

Suara teriakan Gol dari lapangan dan beberapa teriakan histeris siswi-siswi di pinggir lapangan terdengar saat Sasuke berhasil mencetak angka. Naruto ber-high five ke timnya, merangkul Kiba dan berjalan menuju ke arah Sasuke dengan cenggiran lebar diwajahnya. Hal itu mau tak mau membuat Hinata yang melihatnya dari kejauhan juga ikut tersenyum.

"Sakura-Chan !"

Tapi sayang senyum Hinata tidak berlangsung lama saat suara panggilan itu terdengar olehnya. Dilihatnya kini, Naruto melambai ke arah Sakura yang sedang berjalan melewati lapangan dengan senyum lebih lebar dari sebelumya. Perlahan wajah senyum Hinata berubah menjadi sedih melihat Naruto yang masih melambai dan berteriak memanggil Sakura. Hinata iri. Hinata cemburu melihatnya. Hinata juga ingin Naruto bersikap seperti itu padanya. Tapi ia sadar, hal itu tidak akan mungkin, karena ia tahu Naruto menyukai Sakura bukan dirinya.

Hinata memutuskan melanjutkan jalannya menuju taman belakang sekolah. Ia tidak bisa terus melihat Sakura dan Naruto yang terlihat begitu dekat.

"Kau ? Hinata ?"

'Heh !'

To Be Countinued