Hinata beranjak pergi dari pinggir lapangan. Akan lebih baik jika ia tidak terus-terusan melihat Naruto dan Sakura bersama. Lagipula dia sudah tahu dari awal kenyataan yang akan ia terima. Jika ia terus menerus mengharapakn sedikit kesempatan, bukankah itu hanya akan melukai dirinya sendiri.

"Haaahhh..." Hinata menghela napas. Berharap harapan yang sekecil biji jagung dihatinya ikut keluar bersamaan udara yang ia hembusan keluar tadi. Lalu ia mengeleng-gelengkan kecil kepalanya, membuang jauh-jauh pikirkan tak enaknya yang mengelayuti pikirannya.

Hinata sudah sampai diujung lapangan, tinggal belok ke kiri sedikit maka ia akan sampai di taman belakang. Tapi sayang langkahnya terhenti saat seorang siswa berdiri menghalangi jalannya. Hinata memandang siswa yang berambut coklat dan bermata bulat sedikit besar dengan warna bola mata yang sama dengan warna rambutnya. Kulitnya berwarna coklat susu, dan tubuhnya setinggi- mungkin- se Sasuke. Hinata menunduk malu saat tahu siswa itu juga tengah memandangnya.

Tanpa pikir panjang Hinata memiringkan tubuhnya kesamping, bermaksud memberi jalan untuk siswa itu, karena jujur saja jalan yang diampit 2 ruang kelas ini sangat sempit untuk 2 orang. sebenarnya yang hinata lewati ini bukan jalan utama menuju taman belakang, tapi hanya sebuah gang kecil ditengah-tengah 2 ruang kelas yang bisa memotong jalan ke taman belakang. Beberapa detik berlalu, tapi siswa itu tidak bergerak sedikit pun membuat hinata binggung.

"A-anu." Ucap lirih Hinata. berharap siswa itu ganti memiringkan tubuhnya untuk memberi sedikit jalan untuk Hinata. Tapi lagi-lagi siswa itu hanya berdiam diri terus memandang Hinata.

"Ah.. Maaf. Aku cuma mau bertanya saja." kata siswa itu sambil mengaruk kecil pipi kanannya kikuk. Hinata mengeryit binggung, ia tidak mengenal siswa itu, lalu apa yang mau dia tanyakan padanya.

"Kata teman ku. Kau. Namamu, Hinata juga ?" lanjutnya yang membuat Hinata bertambah binggung lagi saat mendengar kata terakhirnya. Bukankah pada umumnya saat orang bertanya nama seseorang itu seperti "Apa nama mu Hinata ?" atau "Apa kau yang bernama Hinata ?" dan sebagainya. Tapi kenapa siswa itu memakai kata "Juga". Hinata hanya mengangguk.

"Benarkah ?" tanyanya lagi mencoba menyakinkan.

"I-iya." Jawab Hinata gugup. Kebiasan yang tak pernah hilang saat bertemu dengan orang lain.

"Hahahahah... Benar-benar Hinata ya ? Ku kira mereka menipu ku." sahut siswa itu setengah tertawa. Jujur saja Hinata semakin tidak mengerti dengan siswa didepannya ini. Pertama-tama dia menghalangi jalannya lalu bertanya namanya. Setelah diberi tahu namanya malah tertawa. Sebenarnya apa siih yang dimau siswa ini.

"Ma-maf. S-sebenarnya ada perlu apa dengan saya ? " Tanya Hinata Formal. Sedari kecil Hinata selalu diajarkan sopan santun oleh keluarganya, dan karena sudah terbiasa, Hinata selalu formal dengan orang yang tidak dikenalnya. Siswa itu tersenyum melihat Hinata.

"Jadi begini, Hinata-Chan. Ucapnya dengan sedikit serius. Hinata mengeryit saat mendengar kata "Chan", pikirnya siswa ini terlalu supel terhadap orang baru. "Aku cuma mau membuktikan omongan teman ku, katanya mereka ada juga yan-" lanjutnya terhenti memandang kotak bento dalam bekapan Hinata dengan mata berbinar-binar seperti melihat sungai di tengah padang pasir.

Hinata reflek mundur kebelakang saat siswa didepannya mencondongkan kepala kearahnya sambil-

"Tamagoyaki, Gohan, Tenpura." mengendus dan menyebutkan nama makanan.

"Eeh !?" Seru Hinata binggung.

"Bekal mu. isinya pasti Tamagoyaki, Gohan, Tenpura dan beberapa potong tomat dan timun, kan ?" menebak isi bento Hinata. Hinata yang mendengarnya langsung syok saat semua yang siswa itu sebutkan benar.

'Bagaimana dia bisa tahu semua isi bento ku ?' batinnya sambil menatap siswa yang tersenyum lebar didepannya.

"Ne, Hinata-chan. A-apa aku boleh ikut makan bersama mu ?" pintanya malu-malu. Hinata yang belum sadar dari rasa terkejutnya kini harus terkejut lagi mendengar permintaan siswa di depannya. Bagaimana mungkin orang yang belum saling kenal minta makan bersama semudah itu. Hinata menatap siswa di depannya ragu-ragu. Ia tidak tahu harus apa. Ingin menolaknya tapi bagaimana bicaranya. Tahu sendiri dia tidak mudah menolak permintaan orang lain. Mememani Naruto mencari kado untuk Sakura saja ia tidak bisa menolak. Ingin meng-iya kan juga permintaan siswa ini, tapi Hinata sungkan karena ia tidak mengenal siswa itu. "Kalau kau mengijinkannya, b-besok akan ku bawa kan bekal dari nenek ku." belum selesai Hinata memikirkan jawabannya, tapi siswa didepannya sudah bertanya lagi dengan ekpresi anak kecil yang berjanji pada ibunya tidak akan nakal lagi jika permintaannya dituruti. Begitu lucu dan mengemaskan.

"Iya. Boleh." jawab Hinata tersenyum. Melihat wajah seperti itu, bagaimana bisa Hinata menolaknya.

"BENARKAH ?" teriak siswa itu cukup kencang membuat Hinata terkejut bahkan Siswa- siswi yang berjalan di sekitar lapangan juga terkejut mendengar terikannya. Sontak saja Hinata menundukan kepalnya malu. Walaupun tidak melihat, tapi Hinata yakin kalau semuanya melihat ketempatnya.

Tanpa ragu pun Siswa itu memegang tangan Hinata dan membawanya pergi ke taman belakang.

Di sisi lain

Dipinggir lapangan beberapa meter dari tempat Hinata berada, Naruto yang masih mengobrol dengan Sakura terkejut saat ada teriakan kencang yang berasal dari salah satu gang diantara 2 ruang kelas. Baik Naruto dan Sakura melihat kearah gang itu. Dilihatnya Hinata bersama seorang siswa yang tidak dikenalinya.

Mereka seperti mengobrolkan sesuatu hal yang seru dilihat dari wajah Hinata yang tertawa bersama siswa itu. Tak beberapa lama siswa itu mengandeng tangan Hinata dan membawanya pergi menuju belakang sekolah.

Ada perasaan tak suka hinggap di hati Naruto saat melihatnya.

"Sakura." panggilnya.

"Aku tidak kenal." sahutnya seolah tahu yang mau ditanyakan Naruto.

"Tapi kan kau anggota OSIS." Lanjutnya penasaran dan sedikit kecewa.

"Lalu maksud mu, aku harus menghapal semua orang disekolah ini hanya karena aku anggota OSIS ? Tidak terima kasih. Memori ku tidak sehebat Shikamaru. " jawab Sakura sedikit kesal. yang benar saja memang dia pikir ada berapa banyak orang di sekolahnya ini. Otaknya bukan komputer yanh bisa diisi berbagai data.

"Jika kau penasaran, lebih baik tanyakan langsung padanya. Jangan bersikap pengecut dan bodoh seperti ini. " lanjutnya tajam sebelum pergi meninggalkan Naruto. Jujur saja Sakura benar-benar kesal melihat tingkah Naruto yang selalu seperti itu .

Mendengar ucapan Sakura, Naruto hanya terdiam tak bisa menjawab. Ia akui apa yang dikatakan Sakura memang benar. Ya dia memang pengecut.

Naruto mengempalkan tangannya kuat, melampiaskan emosi pada dirinya sendiri.

'Kuso.'

TBC