D. Gray-Man © Hoshino Katsura

Warning: AU, slavery, MxM, typo(s), violence, bloody scene(s), etc.

and Happy Birthday for our grumpy Kanda!

Please enjoy! :)

.

Chapter 1 : Chill Night

.

.

Gelap.

Tak ada yang dapat ia lihat selain kegelapan. Dan diatas semua itu, ia sendirian. Secara keseluruhan, sosoknya kini bagaikan setitik cahaya kecil yang dibungkus oleh pekatnya kegelapan.

Dengan rasa takut, ia pun berlari ke arah yang tak menentu. Mengikuti kaki-kaki kecil yang menopang tubuh kurus itu. Dan entah itu keberuntungan atau justru kesialan, ia pun akhirnya menemukan seseorang. Seseorang yang ia kenali dengan amat baik. Duduk di atas lantai yang dingin, membelakangi dirinya.

"Mana...?"

Suara yang bergetar dan rapuh itu terlontarkan dari bibir kecilnya, terdengar dengan jelas bagi siapa pun yang berada di sana. Ia hanya bisa menatap, ketika sosok yang ia kenali sebagai sang ayah menoleh ke arahnya dengan kedua mata yang membelalak―ketakutan dan keterkejutan terlihat dengan jelas di sana.

"K-Kenapa kau tidak melarikan diri, Allen!?"

Yang terpantul di kedua manik keperakan anak itu adalah ayah tercintanya yang terlihat begitu berantakan. Tak hanya wajah dan penampilan yang kusut, di sekujur bagian tubuh sang ayah juga terdapat beberapa luka lebam serta cairan merah pekat yang ia kenali sebagai darah.

Seketika ia pun sadar, bahwa ayahnya bukanlah satu-satunya manusia yang berada di sana.

Beberapa pasang mata juga menoleh padanya. Dan meski dengan pencahayaan yang tak begitu baik, ia dapat mengenali dengan sangat baik wajah orang-orang itu. Membuat kedua matanya melebar dengan kilat ketakutan di dalamnya.

'Mereka menemukan kami.'

"Ternyata dia memang masih hidup, ya..."

Seorang pria bertubuh tinggi tegap dengan senyum yang mengerikan menatap ke arahnya. Rambut cokelat bergelombang yang diikat rendah, kacamata bulat yang berkilat tajam, seringaian lebar bagaikan serigala yang menemukan mangsanya. Dan tiba-tiba saja, ia merasakan sensasi yang membuat sekujur tubuhnya menggigil.

Anak itu sangat ketakutan.

"Jangan sentuh dia! Dia sama sekali tak ada hubungannya dengan semua ini!"

Ia dapat mendengar dengan jelas teriakan ketakutan dari sang ayah, saat pria bertubuh tegap itu mulai berjalan ke arahnya. Ia juga dapat melihat kepanikan di kedua manik golden ayahnya ketika beberapa orang menahan lengan pria itu dan mendorong tubuh serta wajahnyajatuh ke lantai yang dingin.

"Kau tak perlu takut, Noah. Anak ini akan menjadi sangat berguna bagiku, jadi aku tidak akan membunuhnya. Tidak sekarang."

Anak itu merasa takut dan panik, ketika pria menyeramkan itu sudah berada di hadapannya, juga ketika matanya menangkap sebuah benda yang ia kenali sebagai pistol dengan moncong yang tengah melekat di pelipis sang ayah. Surai hitam panjang nan bergelombang milik ayahnya terlihat sedikit menghalangi moncong senjata itu, meski tak akan ada gunanya sama sekali.

"Perhatikan ini, Noah! Akan kuperlihatkan padamu, apa yang terjadi jika kalian tak menyerahkan hal yang tak seharusnya kalian miliki!"

Anak itu tak mengerti. Mengapa orang-orang itu begitu membenci mereka? Mengapa mereka harus mengalami semua ini? Padahal… mereka hidup dengan baik-baik saja sebelumnya. Padahal, orang itu masih ada di samping mereka sebelumnya…

Berharap mendapatkan jawaban, anak itu menatap ayahnya dengan ekspresi penuh rasa harap dan cemas. Namun, jawaban yang ia peroleh justru hanya seulas senyuman dari pria tesebut. Senyuman yang selalu membuatnya merasa nyaman dan tenang.

Ia mendengar dengan penuh perhatian saat namanya dipanggil oleh sang ayah.

"... maaf, ya? Dan... teruslah melangkah. Jangan pernah berhenti."

Dan kemudian, ia mendengar suara tembakan.

Dan kemudian, semuanya berubah menjadi merah.

Sebuah teriakan memilukan terlepas dari bibir kecilnya.

..Chill Night..

Malam ini adalah malam yang anehnya sangat damai. Siraman cahaya dari bulan purnama yang dikelilingi oleh kerlap-kerlip bintang. Jalanan yang hening dari lalu kendaraan. Kesejukan angin malam yang berhembus pelan.

Kanda Yuu memasuki apartemen miliknya beberapa saat yang lalu, setelah ia selesai dari pekerjaannya. Sepatu telah ia lepas di dekat pintu masuk, jas telah ia gantungkan di gantungan baju, handphone ia letakkan di atas meja, dan ia pun langsung melonggarkan dasinya sebelum ambruk di atas sofa kesayangannya. Memang, biasanya ia akan berjalan ke kamar tidurnya dan membersihkan diri di bawah air hangat terlebih dahulu sebelum beristirahat di atas kasur empuknya. Namun, kali ini ia tak ingin repot-repot untuk melakukannya.

Bahkan ia sama sekali tak melakukan apapun pada rambut hitam panjang yang ia ikat satu itu.

Kanda baru saja akan terlelap ketika dering handphone-nya berbunyi—merusak saat-saat damainya di malam hari. Ia mengerang kesal, mengutuk siapa pun yang begitu berani mengganggu waktu istirahat berharganya. Dengan sangat terpaksa, ia membuka kelopak matanya yang terasa begitu berat itu. Dan dengan mata yang setengah terbuka, tangan kanannya pun meraih ponsel yang berbaring manis di meja yang berada di sampingnya.

Tanpa membaca nama yang tertera di layar, Kanda langsung saja mengangkat malas teleponnya dengan suara yang parau namun mencekam.

"APA."

Terdengar suara yang agak bising dan beberapa bisikan kasar yang membuat kepala pria tampan itu berdenyut disertai dengan tambahan kerutan di dahinya. Kali ini kesadarannya sudah berangsur-angsur kembali.

"Halo?"

Akhirnya, suara-suara bising itu menghilang. Digantikan oleh suara seseorang yang ia kenal baik.

"Kanda, segera datang ke rumah Count Martin. Sekarang! Ada keadaan darurat di sini. Aku menunggu 10 menit dari sekarang."

TIT!

Butuh waktu beberapa detik bagi Kanda untuk mencerna semua perkataan—perintah—Komui di kepalanya. Dan akhirnya ketika ia sadar sepenuhnya, sepenggal kata 'Sial!'-pun terlontar di sepanjang persiapannya meninggalkan apartement nyaman miliknya.

Dalam waktu satu menit, Kanda selesai menyiapkan dirinya sebelum pergi—ditambah beberapa backsound yang terdengar seperti hempasan, dentuman, dan semacamnya. Dengan setelan kemeja putih dan celana hitam panjang yang tadi belum sempat diganti, ia pun segera pergi menuju lokasi yang disebutkan dengan porsche hitam kesayangannya.

Dengan aura membunuh yang bertebaran, ia mengeratkan ikatan mugen tersayangnya di pinggul bersiap menebas makhluk tak beruntung yang ditangkap oleh matanya.

Ah... sungguh malam yang sangat damai.

..Chill Night..

Hal yang pertama kali terlihat oleh Kanda ketika ia sampai adalah keramaian. Mobil-mobil polisi dan ambulans yang berserakan dimana-mana, para pertugas yang sibuk berkeliaran dengan tugas yang diembannya, garis kuning yang melintasi sekeliling mansion megah, juga beberapa reporter dan wartawan. Pemandangan itu sudah terlalu biasa baginya. Kanda kemudian melihat jam tangannya dan menemukan jarum jam yang menunjukkan angka 02.15.

Segera, pria berumur 22 tahun itu langsung keluar dari mobil pribadinya dan dengan kening yang berkerut ia melesat pergi menembus kerumunan itu. Para petugas yang menyadari kehadirannya langsung menghindar secepat mungkin dari pandangannya, tahu bahwa ia memiliki urusan yang penting di sini. Alasan lainnya, tentu karena setiap dari mereka ingin menghindari temperamen dari rekan serta atasan mereka itu.

Setibanya di dalam garis kuning yang mengelilingi mansion tersebut, Kanda langsung mengalihkan pandangannya ke sekitar untuk mencari pelaku yang telah merusak jam istirahatnya. Dan dalam sekejap, kedua matanya langsung terkunci pada seorang pria yang menggunakan baret yang tengah berdiri di samping salah satu pilar mansion.

"Ah... itu dia." Gumam Kanda dengan kerutan dahi yang semakin dalam.

Ia pun berjalan ke arah pria yang tengah membelakanginya itu. Dan ketika ia berada dalam jangkauan 1 meter, Kanda pun meraih pegangan pedangnya.

Lalu terdengar suara gesekan besi yang ditarik.

"Komui."

Dan ujung mugen pun telah berhasil menghalangi leher pria tersebut agar tak bisa bergerak ke manapun.

"Ah, Kanda! Sudah sampai rupanya," balas pria bernamakan Komui itu dengan nada bicara yang riang. Tentu saja hal itu langsung memperparah emosi dari sang agen itu.

"'Sudah sampai rupanya,' hah?" ia mulai menggeram kesal. Mengingat bagaimana ia harus bekerja lembur untuk menyelesaikan laporan dari kasus terakhirnya dan tidak mendapatkan istirahat sesudahnya, tentu saja Kanda menjadi sangat kesal. Dan atasan kepara—ehem, serta supervisornya itu malah dengan seenaknya memanggilnya untuk kasus baru.

Bukankah seharusnya ia mendapatkan libur setelah kasus terakhirnya!?

Dengan rasa haus darah yang dipendam, Kanda membiarkan Komui merasakan dinginnya permukaan mugen yang sedang menempel di lehernya. Jika tak berhati-hati—dengan amarahnya—leher atasannya itu bisa saja putus hanya dengan satu gerakan.

"Ahaha... kau masih tetap semangat seperti biasanya ya, Kanda! Nah, karena kau sudah datang, mari kita masuk dan lihat kekacauan apa yang terjadi di dalam~"

Merasa muak dengan senyuman menyebalkan supervisor itu, Kanda pun berdecak dan memasukkan kembali mugen ke dalam sarungnya. Komui mulai berjalan di depannya, menyiratkan perintah untuk Kanda agar segera mengikutinya. Dan dengan ekspresinya saat ini, tidak sulit untuk membuat petugas-petugas lain menghindar dari jalannya.

Mereka sudah lebih dari mengerti untuk tidak berada di jalur yang dilewati oleh agen elite Black Order tersebut. Apalagi jika ia terlihat seperti ingin menarik mugen dari sarungnya. Para petugas di sana tidak ingin kejadian beberapa waktu yang lalu—atau waktu-waktu sebelumnya—terulang, di mana salah satu petugas baru mereka harus berakhir di rumah sakit ketika ia melarang Kanda, yang saat itu tak memakai seragam atau membawa lencana, dari memasuki lokasi kejadian.

Salah satu peraturan tak tertulis bagi para penegak keadilan itu adalah dengan tidak menambah korban baru.

"Aku tahu bahwa ini sangat mendadak, tapi aku benar-benar membutuhkanmu dalam kasus kali ini..." ucap Komui sesaat sebelum mereka masuk ke dalam mansion tersebut. Dan tanpa bertanya apapun, Kanda merasa bahwa ia sudah mengerti dengan apa yang dimaksud oleh atasannya itu. Karena dari kejauhan pun, hidung sensitifnya sudah mencium bau kematian dari dalam mansion itu.

Ketika mereka sampai di dalam, hanya harga diri dan pengalamanlah yang membantu Kanda untuk tidak memuntahkan isi makan malamnya. Namun ia tetap tak bisa menahan diri untuk mengerutkan alisnya—merasa jijik dengan pemandangan yang memenuhi penglihatannya.

"Pembunuhan masal, ya?" gumamnya, sambil menyapukan pandangan ke seluruh penjuru ruangan.

Semuanya masih terlihat baru dan segar. Mayat-mayat berseragam seperti maid dan butler, tergeletak tak berjauhan satu sama lain di seluruh lantai. Bahkan saking banyaknya, akan kesulitan bagi petugas lain untuk lewat karena petugas forensik harus menangani tiap-tiap mayat tersebut. Beberapa mayat masih beruntung karena langsung tertembak di tengkoraknya, beberapa lagi sangat disayangkan karena ada beberapa bagian tubuh yang terpisah satu sama lain.

Di tangga utama yang menuntun pada lantai dua juga terdapat sekitar 3 tubuh dengan ceceran darah yang hampir membentuk red carpet pada tangga tersebut.

Jika lantai pertama saja sudah seperti ini, maka Kanda bisa membayangkan hal yang tak jauh berbeda juga akan menyambutnya di lantai kedua.

Kanda merutuk di dalam hatinya.

'Memangnya ada berapa banyak pelayan yang tinggal di sini!?'

Semua ini hanya menambah alasan bagi pria itu untuk membenci kaum bangsawan.

Komui menepuk tangannya dua kali, seolah mencoba mengambil kembali perhatian agen tersebut.

"Baiklah Kanda, yang terjadi di sini tak lebih penting dari tujuan kita yang sebenarnya. Mari kita lanjutkan perjalanan menuju lantai kedua~"

Kanda hanya berdecak dan kembali mengikuti atasannya itu, yang kini tengah mengoceh tak jelas mengenai adik tercintanya yang saat ini pasti lelah karena menunggu kedatangannya.

Terkadang Kanda tak mengerti, apa yang membuat Lenalee begitu tertarik untuk memasuki industri tak masuk akal ini.

'Mungkin ada hubungannya dengan darah keluarga. Tch.'

..Chill Night..

Sesuai dugaan, apa yang terlihat di lantai kedua tak jauh berbeda dari yang sebelumnya dilihat oleh Kanda. Mayat yang dibanjiri oleh darah dimana-mana, serta ekspresi penuh teror yang masih terlihat jelas pada wajah mereka. Kanda sangat yakin, pasti mereka semua tak sempat melarikan diri ketika menyadari bahaya yang tengah menghampiri nyawa mereka.

Apalagi saat Komui memimpinnya berjalan melalui sebuah koridor, yang membuat agen tersebut kesulitan berjalan karena adanya mayat yang tergeletak di tengah jalannya. Jika mayat tersebut tidak diperlukan dalam kasus ini, pasti Kanda sudah menginjaknya dari tadi.

Tak berperikemanusiaan, begitu?

Kanda tidak akan peduli terhadap hal seperti itu.

Tak lama kemudian Komui pun berhenti di depan sebuah ruangan, "Nah, kita sudah sampai!" Ucapnya sambil memasuki ruangan tersebut.

Ketika Kanda mengikutinya masuk, ada beberapa petugas yang tak ia kenal —seperti kebanyakan petugas— di dalamnya. Satu-satunya yang ia kenal hanyalah Lavi, yang secara ajaib tidak melompat menghampirinya. Agen setingkatnya, yang juga bertugas sebagai informan tersebut tengah membaca kumpulan berkas-berkas dengan serius, dan hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya ketika ia mendapati Kanda memasuki ruangan. Kanda hanya berdecak dan mengalihkan pandangannya.

Barulah saat itu ia menemukan sosok mayat yang ia yakini sebagai Count Martin.

Mayatnya duduk bersandar pada sebuah meja, dengan setelan mewahnya yang masih menempel di tubuh. Ada beberapa pisau belati yang menancap di dadanya, serta luka tembakan di tengkoraknya. Di tangan kanannya masih terdapat sebuah pistol, sementara lengan kirinya terletak di atas pahanya dengan pergelangan yang terlihat lebam dan bengkak. Kedua kakinya terjulur ke depan, dengan darah yang menggenang di bawahnya—kemungkinan juga terkena tembakan.

Sebuah kartu as juga tergeletak di samping mayat tersebut, membuat Kanda semakin mengerutkan alisnya tak suka.

"Noah, huh?" geramnya dengan nada jijik. Dan jika orang-orang di sana mendengar hal tersebut, maka mereka pasti sedang menghiraukannya. Namun mengingat betapa brutalnya pemandangan yang ia lihat tadi, akan masuk akal jika Noah merupakan dalang di baliknya.

Bagi Kanda, ini adalah tipe kasus yang paling ia benci, serta ia tunggu-tunggu. Kasus yang melibatkan kelompok Noah yang menjadi salah satu alasannya memasuki Black Order.

Satu-satunya yang membuat Kanda terhibur hanyalah ekspresi bangsawan tersebut. Ia terlihat begitu ketakutan dan tak berdaya, seolah-olah tindakan perlawanan yang ia lakukan tak memberi dampak apapun pada penyerangnya. Bahkan ada bekas air mata yang masih segar di wajahnya, membuat Kanda mencela kepengecutannya di dalam hati.

Jangan salahkan rasa bencinya yang besar sehingga ia kehilangan rasa hormat dan simpatinya pada mereka, kaum bangsawan.

Merasa cukup dengan mayat tersebut, ia pun memeriksa kondisi ruangan itu. Beberapa buku berserakan dari raknya, jejak darah yang sudah terserap pada karpet dan menyambung hingga ke arah jendela, dan alat tulis yang ada di atas meja yang berserakan dan berjatuhan ke lantai. Namun yang menarik perhatian Kanda adalah, jendela di balik meja kerja yang terbuka lebar serta jejak darah di sana. Karenanya ia memutuskan untuk mengikuti jejak tersebut.

Kanda mencoba melihat ke luar jendela, dan kembali mengerutkan kening ketika ia menyadari bahwa ruangan itu berada di lantai dua dan jika ada jejak darah di bawah sana, maka ia tak akan bisa melihatnya dari lokasinya saat ini.

Kanda pun mengalihkan pandangannya pada petugas yang berada tak jauh darinya. Petugas tersebut tengah sibuk memotret dan mengumpulkan bukti-bukti di sekitar meja.

"Hei, kau." Panggilnya, membuat petugas itu melompat kaget. Tanpa menunggu jawaban, Kanda pun melanjutkan, "Darah ini milik orang lain, bukan? Apa kalian sudah menemukan pemiliknya?"

Petugas yang ia tanyai itupun menelan ludahnya, "S-Sebenarnya, Agen Lenalee dan beberapa petugas lainnya sudah pergi untuk menyelidiki hal tersebut. T-Tapi hingga saat ini, mereka masih belum memberikan laporan apapun..." jawabnya dengan sedikit gugup, mengingat ia berhadapan dengan Kanda. Sang agen hanya mendecak sebagai respon.

Mendengar nama adik tercintanya disebut, Komui pun mulai histeris.

"AHH LENALEE! Apa Lenalee-ku masih belum kembali juga!? Pasti ia cemas ketika aku belum kembali! AHH! Ini semua karena Kanda terlalu lama, sehingga ia terpaksa mengorbankan dirinya dan pergi untuk menghadapi bahaya di luar sana! Bagaimana jika... bagaimana jika itu adalah darah sang pelaku!? Bagaimana jika Lenalee tercintaku terluka!? TANGGUNG JAWABLAH, KANDA!"

Kanda hanya mengertakkan giginya dengan kedua mata terpejam. Salah satu alisnya berdenyut, dan ia harus menahan diri untuk tidak melukai supervisornya saat itu juga.

Tanpa memedulikan teriakan histeris Komui, ia pun mulai berjalan menuju pintu—berusaha untuk keluar dari ruangan itu. Lagipula, ia sudah merasa cukup dengan semua informasi yang ia lihat. Jika ia berlama-lama di sana, bisa jadi rasa lelah dan emosi yang menumpuk dalam dirinya malah menambah korban yang tidak diperlukan di ruangan itu. Karenanya, lebih baik keluar daripada membuat masalah.

Atau setidaknya, itu yang ia rencanakan.

Lalu suara derap kaki yang berlari mulai terdengar mendekat, membuat Kanda salut ketika ia tidak mendengar adanya suara mayat yang terinjak. Dan tepat sebelum ia berhasil keluar dari ruangan itu, sosok yang sedari tadi diocehkan oleh atasannya itupun memunculkan diri.

"Kakak! Apa ia sudah kembali!?" Tanya gadis itu dengan sedikit terengah-engah. Mendengar suara malaikat kecilnya, Komui pun langsung menjerit bahagia.

"LENALEE! Kau kembali! Kau pasti merindukkan kakak tercintamu, ya!" Soraknya tepat di sebelah Kanda, membuat agen tersebut tersentak dan mengernyit ketika mendengarnya.

Lenalee menghiraukan sorakan tersebut, lalu kemudian menunjukkan ekspresi serius bercampur panik pada Kanda dan Komui.

"Kami menemukan seseorang yang masih hidup di basement mansion ini!"

..Chill Night..

Tak jauh dari mansion tersebut, tiga sosok manusia tengah bersembunyi di balik pepohonan yang belum terdeteksi oleh polisi yang baru beberapa saat lalu mendatangi lokasi.

Dua diantaranya saling bersandar satu sama lain, terlihat begitu terhibur dengan kesibukan yang mereka saksikan.

"Sayang sekali, kita tidak bisa membawa bocah itu kabur!"

"Sayang sekali, hehe!"

Satu-satunya orang yang mendengar percakapan itu hanya menghela napas, menggumamkan 'padahal kalian juga bocah,' pada dirinya sendiri. Kedua orang yang berbincang tadi langsung menoleh dan menatap tajam padanya.

"Apa kau bilang!? Kami bukan bocah!"

"Ya, ya! Bukan bocah!"

Sayang sekali, sepertinya mereka berdua mendengarnya.

Namun orang itu hanya mengangkat bahu, sambil berbalik pergi meninggalkan kedua orang tersebut.

"Jika Earl kembali menugaskanku untuk menjemputnya nanti, aku tidak akan mengajak siapapun lagi." Ucapnya cukup keras untuk didengar oleh kedua orang di belakangnya.

"Ehhh!? Kenapa!?"

"Ahh! Jangan tinggalkan kami, bodoh!"

Lalu kedua orang itupun berlari menyusulnya, tanpa menyadari bahwa sebuah benda bulat berwarna keemasan tengah bertengger di salah satu dahan pohon. Mengawasi mansion, serta ketiga orang itu.

Setelah memastikan kepergian mereka, benda tersebut mengepakkan sayapnya dan terbang mendekati mansion—menjalankan tugas yang telah diberikan padanya.

.

.

A/N:

What. The. Hell.

First thing first, ini adalah fanfic DGM pertama saya. Setelah sekian lama menjadi pembaca gelap(?), akhirnya saya bisa publish ini setelah plot bunny nya lompat-lompat di kepala saya. Bikin frustasi loh. Serius. Apalagi saya dilanda stress berat setelah hoshino-sensei nge-gantung saya (dan kita semua) selama setengah tahun. Atau lebih.

Tapi aaakkk kok hasilnya jadi gini yaaa? Kok saya malah bikin multichapter lagi yaaa? Kok nulis DGM itu susah banget yaaa?

Udahlah. Yang terjadi, biarlah terjadi. Kapan lagi saya bisa publish fic kayak gini kan? Hahay. Sekalian pengen tau, fans yullen masih ada di luar sana atau nggk #uhuk

Mudah2an masih ada ya? Kalau ada, dikasih review ya? Supaya saya bisa lanjutin ini ya? Ya ya ya? #plak

Ngomong2, saya cuma sempat baca ulang sekali...jadi typo dalam bentuk apapun tolong diamapin yakkk~

Sign,

MeganeD

.

.

Next Chapter : Beansprout