D.Gray-Man © Hoshino Katsura
Warning: same as before
Please enjoy! :)
.
Chapter 3 : Seashore
.
.
Sepanjang mengendarai porsche hitam miliknya, Kanda mengeluarkan semua sumpah serapah yang bisa ia pikirkan. Entah itu ditujukan pada supervisornya, Lavi, Noah, ataupun Apocryphos.
Tak lupa pula pada bocah beansprout yang menjadi sumber dari semua masalah ini.
Kini sang agen tengah dalam perjalanannya menuju apartemen milik saudara angkatnya—Alma. Pemuda yang memiliki kepribadian ceria itu tinggal di sebuah apartemen yang terletak di seberang pantai, yang biasanya selalu menjadi tempat pelarian bagi Kanda untuk menyendiri. Dan lagi, Alma tidak pernah mempertanyakan banyak hal padanya. Hal itulah yang membuat pria itu betah untuk 'mengungsi' ke sana.
Namun, sekitar 5 tahun belakangan, sebuah 'serangga' pengganggu mulai menghantui kehidupan Kanda. Saat Lavi pertama kali bergabung dengan Black Order, ia juga secara 'kebetulan' mendapatkan apartemen di gedung yang sama dengan Alma.
Kanda masih ingat saat itu, tentang alasan cliché dari pemuda berambut merah yang saat itu tengah berusia 16 tahun.
"Kakek tua itu berteman dekat dengan pemilik gedung apartemen ini. Lagipula, pemandangan tepi pantainya sangat bagus!"
Tch. Pemandangan tepi pantai apanya? Yang disebutnya sebagai 'pemandangan' pasti hanyalah wanita berbikini.
Dan karena tidak mungkin bagi Kanda untuk meminta Alma pindah dari apartemen yang telah ditempatinya selama bertahun-tahun, maka dengan berat hati Kanda harus bisa menerima keadaan—dan kenyataan. Dengan keadaan yang dimaksud; gangguan non-stop dari Lavi setiap ia memutuskan untuk berkunjung atau menginap di tempat Alma.
Kenapa ia tidak berhenti saja mengunjungi saudara angkatnya itu? Atau kenapa bukan Alma saja yang datang ke apartemennya?
Jika ada seseorang yang mengajukan pertanyaan semacam itu, maka bisa dipastikan bahwa Kanda akan memberinya tatapan tajam sebagai jawaban.
Salah satu alasan bagi Alma untuk memilih tinggal di apartemen tersebut adalah, karena ia bisa menyaksikan lautan dari sana. Dan satu-satunya alasan bagi Kanda untuk mengunjungi apartemen Alma adalah, untuk menjadikan laut sebagai pengingat akan masa lalunya. Dan orang lain tidak perlu tahu tentang hal itu.
Berbeda dengan Alma yang menyukai laut karena alasan kerinduan, Kanda membenci laut karena alasan kehilangan. Meski keduanya sama-sama merasakan kehilangan tersebut, Kanda lebih memilih untuk mementingkan emosi dan dendam yang telah ia emban selama bertahun-tahun lamanya, dibanding mengingatnya dalam kesedihan layaknya Alma.
Kanda membenci laut karena dendam yang merasukinya, namun disaat yang lama ia juga butuh untuk mengingatnya. Ia butuh mengingat memori tentang tragedi yang terjadi beserta rasa bingung dan misteri yang menyelimutinya, lalu memperbaharui perasaan dendam itu—agar ia tidak kehilangan arah.
Jika ia melupakan dendamnya, maka ia akan kehilangan pijakan. Dan semua yang telah ia lakukan selama ini akan menjadi sia-sia.
Karena itulah ia menolak untuk tinggal bersama Alma, dan pergi mencari tempat tinggal lain yang jauh dari memori yang menyakitkan itu. Namun ia akan tetap mengunjungi tempat tersebut, lalu membenamkan diri sejenak di dalam luapan emosi yang tak akan pernah bisa memudar.
Dan hari ini, setelah kepalanya dipenuhi dengan informasi-informasi yang membuat emosinya tidak karuan, pria itu memutuskan untuk kembali mengunjungi tempat itu. Sekalipun ia harus mengirimkan surat yang dititip Kamui sebelumnya.
Ugh. Padahal ia sudah berencana untuk mengendap-endap ke sana, agar lavi tidak mengganggu 'acara sakral' tersebut.
Sepertinya takdir sedang tidak berpihak padanya kali ini.
..Seashore..
Rencana awalnya, Kanda akan menemui Alma terlebih dahulu. Setelah ia memarkirkan mobilnya, ia akan memberitahu Alma tentang beberapa hal lalu ia akan pergi ke pantai seberang pada malam harinya, dan menikmati ketenangan laut serta hembusan angin malam. Setelah beberapa lama, barulah ia beranjak pergi kembali ke apartemen Alma untuk beristirahat dan menginap—sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan ketika berkunjung.
Lalu esok harinya, barulah ia memberikan amplop yang Komui titipkan padanya untuk Lavi. Hal itu ia lakukan dengan tujuan untuk meminimalisir kontak dan komunikasi dengan kelinci berisik itu. Jadi ia tak perlu berlama-lama meladeni tingkah kekanak-kanakannya yang dangat memuakkan.
Atau setidaknya, itulah yang ia rencanakan.
Kanda sama sekali tidak mengira, bahwa yang menyambutnya dengan penuh semangat setelah ia memasuki apartemen milik Alma adalah seorang pemuda berambut merah. Dan bagi Kanda, hal itu terlihat seolah-olah kedatangannya telah diantisipasi sejak awal.
Jadi Kanda hanya bisa berdiri dan terdiam, dengan rahang mengeras dan dahi mengerut—tatapannya begitu tajam dan tentu saja ditujukan langsug pada pemuda di hadapannya.
"Selamat datang, Yuu! Kami baru saja akan memulai makan malam karena kau terlalu lama!"
Kanda menahan dirinya untuk tidak meraih mugen yang kini sudah kembali bertengger dengan manis di pinggul kirinya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanyanya dengan geram, berharap agar Lavi bisa mengerti bahwa keberadannya sangat tidak diinginkan oleh agen tersebut.
Tapi apa yang bisa ia harapkan? Ini adalah Lavi yang tengah ia bicarakan.
Pemuda berambut merah dengan eyepatch di mata kanannya itu hanya tertawa, lalu mendekati Kanda dengan santainya—seolah-olah ia tidak dapat merasakan aura haus darah yang mengelilingi agen elite tersebut.
"Tentu saja untuk menemuimu, Yuu! Komui sudah menelfonku dan memberitahu bahwa kau membawa titipan untukku! Tentu saja aku langsung melesat ke tempat ini, karena kau pasti akan mengunjunginya pertama kali..." jelas pemuda itu riang, tanpa menyadari bahwa kini tangan kanan Kanda telah berada di gagang pedangnya. Perlahan, tangan tersebut menarik mugen dari sarungnya, dan selanjutnya yang dapat Lavi rasakan hanyalah sensasi dingin dari besi yang menempel di lehernya.
"Jangan memanggilku dengan nama itu!" desisnya dengan nada mengancam.
Keringat mulai bermunculan di pelipis Lavi, dan ia hampir saja berteriak dengan tidak jantannya jika saja Alma tidak muncul saat itu.
"Yuu... berhentilah bertengkar dengan Lavi! Kau tahu dia orang yang seperti apa, bukan? Dan Lavi, berhentilah menyulut emosi Yuu. Kau tahu bahwa ia akan berakhir melukaimu, bukan?" ujar Alma dengan nada menceramahi. Ia sudah berencana untuk membukakan pintu untuk Kanda, tapi Lavi telah mendahuluinya dan berlari dengan semangat ke pintu depan. Alma tahu akhirnya akan menjadi seperti ini, karenanya ia tak terkejut sama sekali ketika ia melihat pemandangan tersebut.
Lavi hanya mengangguk-angguk dengan panik, mendukung perkataan Alma. Sementara itu Kanda hanya memberinya tatapan tajam, terlihat tak peduli dengan perkataan Alma.
Melihatnya, pemuda berambut pendek dengan bekas luka horizontal di hidungnya itu hanya mendesah.
"Yuu... lepaskan Lavi sekarang! Jika kau tetap bersikap kekanak-kanakan seperti ini, makan malamnya benar-benar akan dingin!" Omelnya, merasa gemas dengan tingkah kedua temannya itu. Mendengar hal itu, Kanda mengalihkan tatapan tajamnya pada Alma, sebelum mendecih dan menyarungkan kembali pedang kesayangannya. Ia pun kemudian berjalan melalui Lavi dan Alma, membuat napas lega keluar dari kedua orang itu.
Alma menoleh pada Lavi dengan tatapan datar, "Aku tidak pernah mengerti menapa kau selalu mencari gara-gara dengannya," tuturnya dengan jujur.
Mengangkat kedua bahunya, Lavi hanya berlalu menuju dapur.
"Bukan salahku jika Yuu terlalu mudah digoda!" jawabnya setengah menggumam—khawatir akan inkarnasi iblis yang kapan saja bisa memutuskan lehernya. Alma hanya memutar bola matanya mendengar alasan kekanakan tersebut.
Di meja makan, Kanda tengah duduk dengan kedua tangan dilipat di dada. Ekspresi wajahnya terlihat santai, dikarenakan kedua kelopak matanya yang menutup—menyembunyikan manik kebiruan yang tajam. Setelah Alma dan Lavi muncul dan menempati kursi masing-masing, mereka semua memulai makan malam dengan sedikit lebih tenang. Well, kecuali Lavi yang tidak mungkin menutup mulut besarnya dan Alma yang selalu merespon perkataan konyol dari Lavi.
Hanya Kanda yang dengan tenangnya memakan makan malam yang disiapkan Alma khusus untuknya—soba. Dia selalu terlalu sibuk untuk membuat menu seperti soba di apartemennya, jadi ia begitu menikmati saat-saat seperti ini.
Menjadi yang pertama menghabiskan makanannya, Kanda pun membawa piring kotornya menuju dapur. Sekalian, ia juga membuat teh hijau untuk dirinya sendiri—sembari menunggu kedua orang yang lainnya selesai.
Saat Kanda kembali dari dapur dengan secangkir teh hangat, Lavi dan Alma telah selesai dengan acara makan mereka. Dan Lavi menjadi orang pertama yang sadar terhadap teh yang ia buat saat ia kembali duduk.
"Lho, Yuu? Kau hanya membuat teh untuk dirimu sendiri? Pelitnya~" ucap Lavi sambil merengek, mendapat tatapan tajam dari Kanda.
Agen tersebut hanya mendesis, "Jangan panggil aku Yuu! Dan kau bukan tamuku, jadi buat teh milikmu sendiri, stupid rabbit!"
Lavi pun hanya merengut sambil menggumam hal yang tidak jelas, sementara Alma hanya mengabaikan mereka sambil membereskan alat makan yang berada di atas meja—menyisakan beberapa potong kue untuk dimakan.
Saat ia mulai berjalan menuju dapur, Lavi berteriak padanya, "Alma! Buatkan aku teh juga ya~"
Yanh dijawab oleh Alma dengan, "Buat saja sendiri, pemalas!"
Kembali merengut, Lavi pun meletakkan dagunya di atas meja.
"Kalian dua bersaudara sama saja, pelit..." gumamnya, meski tak ditanggapi Kanda sama sekali.
Lalu seakan teringat akan sesuatu, Kanda pun mengeluarkan sebuah amplop hitam dari saku dalam jasnya. Lalu ia melemparkan amplop tersebut ke wajah Lavi—yang kaget saat benda tersebut mengenai wajahnya. Ia lalu menoleh pada Kanda dengan sebelah alis terangkat.
"Titipan Komui," jawab agen itu singkat.
Mendengarnya, Lavi menjadi sedikit bersemangat. Ia biasanya malas jika diberi misi, tetapi mengingat hal ini mungkin ada hubungannya dengan kasus akhir-akhir ini, pria berambut merah tersebut merasa lebih tertarik.
Dengan segera, Lavi membuka amplop hitam tersebut dan menarik keluar isinya—secarik kertas kecil. Setelah membaca sekilas tulisan yang tertera di sana, agen berambut merah tersebut mengerutkan kedua alisnya.
Tak lama kemudian, Alma pun muncul dari balik dapur dengan membawa sebuah pematik api. Ia meletakkan pematik itu di depan Lavi, lalu duduk di samping Kanda.
Lavi semakin berkerut melihatnya, 'Padahal aku meminta teh hangat, tapi malah diberi pematik...'
Sambil menghela napas, Lavi pun berdiri dan mengambil pematik beserta amplop hitam tadi ke dapur. Ia pun menghidupkan pematik itu dan membakar amplop beserta secarik kertas kecil tadi sebelum kembali ke meja makan.
Hal itu adalah hal lumrah yang sudah biasa mereka lakukan, dan menjadi salah satu aturan penting dalam organisasi.
Surat misi seperti yang diterima Lavi tersebut hanya boleh diberikan secara langsung oleh atasan, atau dikirimkan melalui orang dalam yang terpercaya. Dan setelah penerima membaca hal yang tertera didalamnya, mereka harus segera memusnahkan surat tersebut. Dalam hal ini, cara yang paling aman dan efektif dilakukan adalah dengan membakarnya hingga menjadi abu.
"Jadi, Yuu... Komui tadi memberitahu kami, bahwa kau sudah bertemu dengan Allen?" tanya Alma, membuka pembicaraan.
Mendengar nama 'Allen', pria tersebut langsung mengerutkan keningnya. Ia kembali teringat akan memori menyebalkan saat ia pertama kali bertemu dengan bocah itu.
"Tch. Beansprout itu tak lebih dari seorang bocah. Dan apapun yang kulakukan, tetap tak akan mengubah keputusan Komui untuk menjadikanku sebagai pengasuhnya." Jelasnya malas dengan menekankan kata 'pengasuh', membuat Lavi dan Alma tertawa kikuk. Lavi pun memutuskan untuk membela saksi mata berharga mereka, "Kau tahu, Allen itu berumur 18 tahun. Dia sudah memasuki usia legal, jadi kau tidak akan dianggap sebagai 'pengasuh', kau tahu?"
"Dan kau pikir aku peduli?"
"..."
Alma menghela napas pelan melihat kedua agen tersebut. Ia juga merasa sedikit iba pada Lavi, yang sudah bermaksud baik ingin membela Allen. Karena Alma tahu bahwa Lavi merupakan salah satu agen yang berada di ruangan yang sama dengan Allen lebih lama dari siapapun, sementara pemuda albino itu dirawat dan diperiksa oleh Alma serta tim medis lainnya.
Jadi Lavi pasti sudah melihat apa yang terukir di sekujur tubuh pemuda malang itu, dan mengerti apa dan siapa yang membuatnya menjadi seperti itu. Berbeda dengan kanda, yang menurut Alma masih belum melihat apapun selain yang tampak di beberapa bagian yang tak tertutupi oleh pakaiannya.
"Komui sudah memberi tahu latar belakang tentang Allen padamu, Yuu?" tanya Alma. Dia bisa melihat rahang Kanda yang mulai mengeras, namun tidak mengatakan apapun untuk menjawabnya. Karena itulah ia menyimpulkan bahwa Kanda setidaknya sudah mengetahui, bahwa Allen adalah seorang 'budak'.
Tanpa disangka oleh siapapun, Kanda tiba-tiba saja berdiri dari kursinya. Lalu tanpa menghiraukan teh yang masih tersisa setengahnya, ia pun mulai berjalan meninggalkan ruangan itu—beserta kedua orang penghuni di sana yang hanya bisa melongo menyaksikan kepergiannya.
"Tu-YUU-CHAN!? Kau mau ke mana?" teriak Lavi, yang ikut berdiri namun tidak ikut menyusul pria berdarah Jepang itu.
"Bukan urusanmu! Dan jangan panggil aku YUU!" jawab Kanda dengan suara yang semakin lama semakin samar oleh pendengaran. Hingga yang dapat didengar oleh Lavi dan Alma hanyalah suara pintu depan apartemen yang dibanting keras.
"..."
"..."
"Biarkan saja, Lavi. Yuu mungkin hanya pergi ke tempat yang biasa ia kunjungi..."
Lavi hanya terdiam, namun kemudian kembali duduk sambil menghela napas berat. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi dan memandang ke atap ruang makan tersebut.
Tapi kemudian, seukir senyum terbentuk di wajahnya.
"Kau tahu, Alma? Sepertinya Yuu-chan tidak sepenuhnya benci pada Allen..."
Alma hanya mengangkat sebelah alisnya.
Senyuman di wajah Lavi pun semakin mengembang, membuatnya terlihat seperti seringaian khas yang biasa ia gunakan.
"Buktinya, ia sudah memberi nickname yang lucu padanya!"
..Seashore..
Seperti biasa, malam ini hembusan angin di pantai tetap dingin dan menyejukkan di saat bersamaan.
Kanda menelusuri permukaan pasir dengan kaki telanjang, setelah sebelumnya ia meletakkan combat boots miliknya tak jauh dari perbatasan antara pantai dan jalan raya. Ujung dari fabrik celana hitam panjangnya ia lipat hingga di bawah lutut. Entah kenapa, pria tersebut menyukai sensasi kasar antara telapak kakinya dan pasir-pasir yang kini sulit untuk terlihat. Dan semakin ia berjalan, suara-suara bising dari kendaraan akan menjadi semakin samar—digantikan oleh bunyi hempasan ombak dan pasang surut air laut.
Semakin ia dekat dengan tepi pantai, semakin bertambah pula kegelapan yang menyelimuti. Cahaya lampu jalan sudah tidak bisa mencapai posisi dimana pria tersebut berdiri. Hanya cahaya rembulan sajalah yang bisa ia manfaatkan. Sementara langit malam yang mengelilinginya tidak berhiaskan satu bintang pun, akibat tertutupi oleh awan yang bertebaran di mana-mana.
Kanda berhenti, tepat ketika ia merasakan dinginnya air laut yang menyentuh ujung-ujung jari kakinya.
Lalu tanpa aba-aba, ia pun menancapkan mugen beserta sarungnya ke dalam permukaan pasir. Kemudian ia pun menjatuhkah dirinya ke hamparan pasir di belakangnya—tak peduli apakah pasir tersebut terasa keras atau lunak. Sebelah lengannya ia biarkan tergeletak di samping tubuhnya, sementara lengannya yang lain ia gunakan untuk menutupi wajahnya.
Kanda menghirup napas secara perlahan, lalu menghembuskannya dengan perlahan pula. Ia terus melakukan hal tersebut, sementara air laut terus-menerus menyentuh kakinya secara bergantian. Terkadang, mereka hanya mampu menggapai ujung-ujung kakinya, dan terkadang mereka mampu meraih hingga ke lututnya—membuat sebagian kecil dari fabrik celananya basah dan dingin.
Kanda hanya melanjutkan aktivitasnya, ditemani dengan suara ombak dan cahaya rembulan.
Di lain waktu, ia terkadang akan duduk menyilangkan kakinya—melakukan meditasi. Hal tersebut adalah hal yang paling sering ia lakukan ketika berhadapan dengan stress, emosi yang tidak stabil, atau saat ia dihadapkan dengan kasus yang merepotkan.
Dan terkadang, ia akan melakukan hal seperti yang saat ini ia lakukan.
Saat ia merasa terlalu lelah, saat kepalanya terlalu penuh dengan hal-hal yang membebani. Ia akan berbaring terlentang, memejamkan mata dan bernapas dengan perlahan, lalu mengosongkan pikirannya dari segala hal. Hingga yang dapat ia pikirkan hanyalah ombak, lautan, darah, api, dan teriakan.
Lalu ia akan tenggelam dalam seluruh kenangan itu, hingga suara ombak lautan yang kini terdengar tenang akan berubah menjadi ganas. Yang awalnya hanya menyentuh tubuhnya dengan lembut, justru berubah mematikan dan berusaha untuk menyeret tubuhnya ke dasar lautan terdalam.
Dua orang anak lelaki berumur sekitar 8 tahun berdiri di tepi kapal pesiar mewah, dengan dua pasang kaki yang bergetar—hanya menunggu waktu sebelum menjatuhkan beban yang ditopangnya.
Dari tempatnya berdiri, Kanda kecil hanya dapat merasakan keputusasaan.
Ia masih dapat mengingat, bagaimana beberapa saat lalu semua orang berlari panik dengan wajah penuh rasa takut. Bagaimana pria yang berada di hadapannya saat ini dengan santainya merenggut nyawa setiap orang, termasuk orang tua mereka. Ia masih terbayang akan genangan cairan merah yang berbau amis tersebut. Dan bagaimana ia membanting kursi pada pria tersebut tatkala ia mencengkeram leher kecil Alma di tangannya. Lalu ia menarik Alma lari ke luar ruangan,berusaha mencari davit tempat perahu penyelamat digantungkan—hanya untuk menemukan perahu tersebut telah lenyap dari sana, sehingga mereka akhirnya tesudutkan di tepi pegangan kapal tersebut.
Dengan ketakutan yang luar biasa, kedua anak tersebut hanya mampu berharap bahwa mereka tidak merasakan kematian yang menyakitkan. Mereka saling berpegangan satu sama lain, saling membantu untuk menopang tubuh keduanya tatkala pria tersebut berjalan dengan langkah pelan namun pasti ke arah mereka.
Namun yang didapatkan oleh kedua anak tersebut bukanlah rasa sakit atau tembakan peluru. Melainakan sebuah kapal karet yang sangat kecil—yang ditarik keluar oleh pria tersebut dari tempat tersembunyi yang tak jauh dari sana.
"Cepatlah naik, sebelum aku berubah pikiran." Ancamnya, dengan nada suara yang sedikit berat namun tidak mengintimidasi.
''Kenapa kau tidak membunuh kami?"
Manik keemasan pria tersebut terlihat sedikit melembut, sebelum ia berbalik—memperlihatkan punggung tegapnya pada kedua anak itu. Ia pun mulai berjalan berlawanan arah dari mereka. Dan kemudian terdapat sebuah ledakan keras dari lambung kapal, membuatnya bergertar hebat dan menjatuhkan kedua anak tersebut jauh menuju lautan luasdi bawahnya.
Tepat sebelum mereka terjatuh, keduanya dapat menangkapdengan samar sebuah suara yang hampir menyerupai bisikan.
"Kalian mengingatkanku pada seorang bocah pemberani yang kukenal baik. Jadi kalian sebaiknya berusaha untuk tetap hidup, brats."
Lalu kemudian, semuanya terasa sesak. Pandangannya berubah menjadi buram, dan ia dapat merasakan sensasi rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuh kecilnya. Dan di dalam keadaan yang hampir membuatnya kehilangan kesadaran itu, sebuah tangan menjulur mencoba untuk meraihnya. Dan meski telinganya terasa penuh oleh air dan suara-suara yang memekakkan, ia dapat mendengar dengan samar panggilan dari seseorang.
"-UU!"
"YUU!"
"YUU!"
Seketika, sepasang kelopak mata membuka lebar—memperlihatkan manik cobalt yang hampir menyatu dengan gelapnya malam.
Kanda langsung terduduk dan meraih mugen yabg berada di sampingnya.
Suara teriakan namanya masih dapat ia dengar dengan jelas, meski ia tahu bahwa pemilik suara tersebut berada agak jauh dari posisinya saat ini. Ia menoleh ke belakang, dan tak lama kemudian sebuah cahaya menyilaukan—dan memuakkan—langsung membutakan penglihatannya untuk sejenak. Secara refleks, sebelah tangannya yang bebas pun langsung bergerak untuk menghalangi wajahnya dari serangan cahaya tersebut.
"Ah! Ternyata kau di sana, ya?"
Kanda hanya mendecih mendengar suara dari pemuda yang baginya sangat mengesalkan itu. Terlebih saat ia dapat mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arahnya.
Ia pun dapat mendengar Alma mendesah, "Dasar, Yuu... Sudah berapa kali kuperingatkan untuk tidak tertidur di tempat seperti ini kan!? Kau tahu bahwa pada malam hari ombaknya sangat besar, dan kau tetap saja mencari tempat yang sangat dekat dengan tepi pantai! Itu kan sangat berbahaya!"
Mendengar omelan agen medis Black Order tersebut, Kanda pun hanya mendecih sambil memalingkan wajahnya.
Lalu kemudian Lavi pun mengatakan hal yang tak seharusnya ia katakan. Lagi.
"Tapi sungguh, Yuu... Kau padahal sangat menyukai laut, tapi aku tidak pernah melihatmu berenang meski hanya sekali..."
Mendengar kalimat yang entah mengandung sindiran atau keingintahuan tersebut, Kanda dapat merasakan persimpangan segi empat mulai muncul di sudut pelipisnya.
Ia memberikan tatapan tajamnya pada Lavi, "Tutup mulutmu, stupid rabbit! Itu bukanlah urusanmu! Dan BERHENTI memanggilku YUU!"
Alma hanya tertawa mendengarnya, kali ini merasa terhibur dengan pertengkaran yang menunjukkan keakraban kedua lelaki tersebut.
"Ayolah, kalian berdua! Ini sudah terlalu larut... Kau akan menginap untuk malan ini bukan, Yuu?" tanya pria dengan surai keunguan tersebut, yang dibalas dengan dengusan oleh kanda.
"Tch. Terserah."
"Ah! Ini tidak adil! Bukan hanya kau membiarkannya memanggilmu 'Yuu', kau juga menginap di tempatnya, bukan tempatku! Kau jahat sekali, Yuu-chan..."
Tak tahan, Kanda pun bangkit dari duduknya dan langsung mengeluarkan mugen dari sarungnya. Ia menggeram seperti predator buas sembari memberi lavi tatapan membunuhnya.
"Stupid rabbit..."
Semua itu, ditambah dengan suara gesekan besi yang ditarik perlahan itu mampu membuat rambut-rambut halus di leher yang mendengarnya berdiri. Dalam kasus ini, Lavi yang merupakan target dari kengerian itu pun hanya bisa menenggak air liurnya dengan gugup.
"A-Ah! Ternyata sudah selarut ini, ya? A-Ayo kembali ke apa-UWA! JANGAN AYUNKAN PEDANG ITU KE WAJAHKU, YUU! TU-GYAA!"
Alma hanya mendesah melihat kelakuan kedua agen tersebut. Setelah hampir kehilangan lehernya karena mugen, Lavi pun langsung berlari menuju ke arah jalan sambil berteriak histeris, dengan Kanda yang masih mengincar kepalanya. Mencoba mengabaikan mereka, Alma pun menolehkan pandangannya ke arah horizon pada lautan malam.
Ia hanya tersenyum sedih, sebelum berbalik pergi mengikuti jejak kedua temannya.
..Seashore..
Omake
Baiklah. Kali ini kanda mengaku kalah.
Ia sudah mengakui kekalahannya, sejak ia pertama kali berhadapan dengan Lavi sore tadi. Rencana yang ia susun dg sehati-hati mungkin itu ternyata tak ada gunanya. Bahkan ketika ia yakin akan dapat tidur dengan nyenyak malam ini, sekali lagi ia kembali dikhianati oleh takdir.
Pria itu memejamkan matanya dan menarik napas perlahan, sebelum menghembuskannya dengan perlahan pula.
Lalu ia membuka kelopak yang menutupi manik cobalt-nya, dan memberi tatapan tajam pada sosok yang berada di samping tempat tidurnya.
"Apa yang kau lakukan di sini, hah?" tanyanya dengan sinis.
Sosok yang dimaksud, hanya tersenyum kikuk dari posisi tidurnya di salah satu futon milik Alma.
"Hehe... Karena kakek tua itu sedang tidak ada, aku memutuskan untuk ikut menginap di sini!" jawab Lavi, identitas sebenarnya dari sosok tersebut.
"Lalu mengapa kau harus tidur di kamar ini!?"
"Eh... tapi ini kan satu-satunya kamar tamu yang dimiliki Alma..."
"Itu bukan urusanku! Kau bisa tidur di ruang tamu, atau lebih baik lagi, DI APARTEMEN MILIKMU!"
"Eh... Tapi di ruang tamu sangat dingin, dan tidur di sini bersama kalian lebih menyenangkan daripada seorang diri..."
"LAVI, SIALAN KAU!"
Sementara itu, Alma tengah tertidur dengan nyenyaknya di kamar sebelah. Suara gaduh dan ribut dari kamar yang ditempati Kanda dan Lavi sama sekali tidak mengganggu kegiatannya.
Terkadang Kanda berharap bahwa ia bukanlah seorang lightsleeper.
.
.
A/N:
Ups. Saya telah lagi. I'M SO SORRYYY! Setelah dihantui berbagai macam tes dan ujian di bulan november dan desember, saya jadi kehilangan motivasi... Fortunately, ultahnya Allen kembali membangkitkan motivasi dan inspirasi saya/tangis haru
Sebenarnya saya pengen update ini pas di tanggal 25, tapi sekali lagi, I was distracted by some things/plak
Akhirnya setelah berusaha untuk ngetik dan ngedit ini, saya tetap telat 3 hari dari yg direncanain:"(
Btw, spoiler dari saya (sekalian motivasi buat saya LOL) : chap depan ada yullen moments nyaa looh/yeeeyy finallyy
Balasan review:
Yui Yutikaishi : aaaa iyaaa ini update-annya lagi maaf lama yaaa~ don't worry, next chapter Allen will talking, albeit just a tiiinyy bit ;)
Shin Hikki : ayembek jugaa~ bukan, itu Allen-nya masih bocah pas di flesbek doang… tapi pedo!Kanda? Hmm…gimana yah, saya takut ntar kepala saya misah sama badan kalau kanda tahu/keringet dingin
kiupi alfi : iyaa ini udah lanjut, walau telat… maap yak/plak
Hananami Hanajima : yeeeyy party~ benarkah saya bikin kanda seserem itu?/nggk nyadar/ tau tuh, kanda…masa uke sendiri nggk mau diurus/ditebas mugen/ yaaa ini lanjutannyaa maaf telat banget yak/ampun *ganbarimasu*
Aome yuuki : iyaa ini lanjutannya, sori telat yakk :''
Rabbit Aito : iyaa ini update-nya satu lagi walau telat bangett/ampun
hikmawwarichan : makasihhh iya ini lanjutannya;) lah kok malah nyanyi yah/plak
Thanks buat review dan kesabarannya yak:* chap selanjutnya saya usahain bulan januari, mudah2an nggak ngaret lagiii jadi tolong ditunggu yaa3
Ngomong2, kalian punya harapan apa buat 2018? Saya sih, jujur aja pengen diterima di univ favorit dan pengennya chapter baru DGM keluar bulan depan, biar nggak php lagi:") *angkat tangan yang kangen kanda*
Leave jejak lagi yaa, di chapter ini~/plak
Sign,
MeganeD
.
.
Chapter 4 : Runaway
