2. Shove

Cuaca di Seattle pagi ini lumayan baik, langit yang mendung manja dan udaranya dingin menyejukkan. Sangat menggoda bagi mereka yang doyan sekali bergumul dengan selimut, kasur, bantal, guling bahkan jika ditambah dengan seseorang yang mampu menahan mereka untuk tetap berada di kasur selama mungkin. Entah dengan memberi banyak ciuman-ciuman kecil yang kemudian berujung pada aktivitas lain yang lebih menguras tenaga, atau langsung melakukan aktivitas bertenaga penuh di atas kasur yang empuk, atau hanya sekedar cuddling, membaca buku, mencium pucuk kepala pasangan dan sentuhan-sentuhan kecil lain yang mampu meningkatkan kadar keromantisan suatu hubungan.

Hal-hal semacam itu sayangnya tak pernah berlaku bagi pemuda yang doyan sekali olahraga pagi seperti Nicholas Grey. Seperti hari-hari sebelumnya, ia akan selalu rutin lari pagi mengitari kompleks penthousenya paling tidak dari pukul enam pagi sampai tujuh pagi. Bagi Grey, rutinnya adalah prioritasnya. Kecuali ada hal berkaitan dengan perusahaan atau keluarganya yang memang membutuhkan waktunya lebih dari rutinitasnya. Pasalnya, waktu bagi Grey sudah terasa lebih berharga dari material kekayaannya sendiri. Lima menit yang ia buang untuk melamunkan hidupnya, bisa ia gunakan untuk mengirim email persetujuan pertemuan untuk membahas kerjasama dengan Grey Enterprises, atau menelepon Head Chef di restoran langganannya saat ia akan makan siang.

"Ah!"

Nicholas menghentikan larinya, meminimumkan volume musik yang terputar dari headsetnya lalu mendekati sosok yang baru saja ia tabrak.

"Are you okay?" ia membungkukkan badannya, mengulurkan tangannya untuk membantu sosok itu bangun dari posisinya. "You hurt?"

Sosok itu menegakkan tubuhnya, membersihkan celananya yang mungkin terkena kotoran dedaunan yang jatuh atau semacamnya, lalu menatap lawan bicaranya yang tadi ia tabrak dengan tidak sengaja.

"No, no I'm fine." jawabnya dengan aksen khas orang asing.

"Okay, be careful.." tutup Nicholas sembari berbalik dan membesarkan kembali volume musik di telinganya. Langkah kaki pemuda berusia dua puluh tiga tahun itu kini semakin mendekati penthousenya. Ia melirik jam tangannya, sudah pukul tujuh pagi. Artinya, sarapan paginya akan segera sampai ke kamarnya.

"Morning Mister Grey,"

"Morning Sean, have you eaten your breakfast?"

"Yes, Mister Grey, I am."

Nicholas melanjutkan langkahnya menuju lift dan segera mengeluarkan kartu khusus miliknya sebelum ia menekan tombol lantai dua puluh, lantai teratas di Escala Apartment Building. Nicholas memang tinggal di sebuah penthouse yang terletak di lantai teratas gedung Escala Apartment, setidaknya ia hanya perlu naik satu lantai menuju roof top tempat helikopter pribadinya bertengger ketika ia diharuskan menempuh perjalanan jauh menuju tempat tertentu.

Sesampainya di kamar, ia menemukan nampan berisi sarapan paginya sudah disiapkan. Ia pun segera menyantap sarapan paginya sembari bersiap untuk mandi lalu berangkat menuju kantornya, Grey House.

-.000.-

Tak butuh waktu lebih lama dari enam puluh menit, Nicholas Grey sudah sampai di kantor megahnya. Beberapa karyawan terlihat mengangguk sopan saat bertemu pandang dengannya atau hanya sekedar melihat pimpinan perusahaan itu hendak melewati mereka. Karisma Nicholas Grey memang tak terbantahkan, aura pengontrol milik pemuda dua puluh tiga tahun itu sudah diakui hampir di seluruh belahan Benua Amerika dan Eropa. Dengan garis wajah yang tegas, potongan rambut yang selalu pas dengan bentuk wajahnya, senyum yang jarang namun bisa berefek membahayakan bila ditujukan pada gadis-gadis tertentu, tutur kata yang begitu apik dan tatapan mata yang tajam juga meneduhkan, Nicholas Grey menjelma menjadi pria idaman nomor satu dikalangan wanita-wanita seantero Benua Biru.

Hal menarik lainnya yang dimiliki seorang Nicholas Grey adalah darah Asia yang mengalir dan tercetak jelas pada wajahnya. Tidak seperti warga Seattle kebanyakan, Grey punya darah Asia dan wajah Asia yang kental. Namun begitu, tidak menghalanginya untuk merengkuh segala kesuksesannya hingga saat ini.

"You had a meeting at eleven o'clock, Mister Grey. With the CMO of Double J Company from South Korea. You had already sign the agreement three months ago."

Nicholas menerima berkas meeting yang akan ia pakai nanti dari sekretarisnya lalu menyegerakan menuju ruang kerjanya yang berada di ujung lorong. Ruang kerja Nicholas cukup besar, selayaknya ruang kerja seorang pimpinan perusahaan. Dilengkapi dengan sofa dan meja untuk klien, karpet warna abu-abu lembut yang terbentang di seluruh lantai ruangannya, aksen kayu mahoni yang jadi interior paling mencolok di ruangannya, dan beberapa pemanis lain yang sudah Nicholas serahkan pada sekretarisnya untuk selalu mengaturnya agar tak jadi pengganggu kerjanya.

Nicholas meletakkan berkas yang ia terima dari sekretarisnya di meja, ia membuka kancing jasnya, menyenderkan punggungnya ke tempat duduk paling nyaman miliknya lalu mulai membuka berkas itu perlahan. Seperti sebelum-sebelumnya, berkas yang diserahkan sekretarisnya pada Nicholas berisi tentang CV dari orang yang akan berada satu ruangan dan melakukan business meeting dengannya. Bila biasanya berkasnya akan dipenuhi wajah-wajah khas warga Benua barat, kali ini foto yang terpampang di berkas itu adalah foto seorang Asian guy, dengan dahi yang keseluruhan tertutup oleh poni, dua mata yang cukup bulat untuk ukuran pria Korea, hidung yang cukup mancung, pipi yang tak terlalu tirus, dan bibir tebal yang entah kenapa mengusik sesuatu dalam diri Nicholas saat pertama kali ia menatap fotonya.

"Do Kyungsoo? Let see how good you are, Mister Do." gumam Nicholas seraya kemudian menutup berkasnya dan mulai membuka dokumen pekerjaannya yang kemarin belum sempat ia tanda tangani atau bahkan ia baca.

Larut dalam pekerjaannya, Nicholas hampir lupa bahwa ia punya janji meeting hari ini jika saja sekretarisnya tidak masuk ke ruangannya dan mengingatkannya bahwa sepuluh menit lagi rapat akan segera dimulai dan pihak dari Double J Company sudah menunggu di ruang rapat.

Harusnya, Nicholas bersikap tenang dan santai seperti biasanya jika ia akan melakukan business meeting dengan calon klien dari perusahaannya. Namun entah mengapa, kali ini, mungkin karena efek Asian guy tadi, rasa penasaran Nicholas tampak meraung-raung meminta dipuaskan. Seolah ia punya ekspektasi besar pada Asian guy yang akan jadi lawan bicaranya dalam dua puluh menit ke depan.

Dalam sisi pandangnya, perusahaan Double J Company yang berfokus pada bidang IT dan pemilik predikat perusahaan paling berpengaruh di Korea Selatan dan Jepang itu memang sebuah perusahaan yang cukup besar dan kuat. Bagi seorang businessman sepertinya, tentu menjadi keuntungan tersendiri apabila dua perusahaan besar dari Benua Barat dan Benua Timur menjalin kerjasama. Apabila ada proyek-proyek yang bisa mereka asosiasikan, tak menutup kemungkinan bahwa kerjasama ini akan menuntun mereka meraih kesuksesan yang lebih besar lagi dari saat ini. Seharusnya, yang datang pada business meeting memang CEO Double J Company, tapi seingat Nicholas, pimpinan perusahaan besar itu sedang disibukkan dengan tiga kantor barunya yang akan bertempat di Washington DC, Tiongkok dan juga Manchester. Sebagai perusahaan besar yang sedang ramai diperbincangkan khalayak ramai, Nicholas pun memaklumi ketidakhadiran CEO DJ Company.

"Mister Do,"

Nicholas masuk ke ruangan rapatnya dengan penuh karisma dan kepercayaan diri seperti biasa. Di dalam sana sudah duduk dua orang pria Asia yang mana salah satu diantaranya, Nicholas pastikan sebagai pemilik nama yang baru saja ia panggil.

"Mister Grey," salah seorang pria dari dua pria Asia itu berdiri lalu mengulurkan tangannya pada Nicholas untuk menerima jabat tangannya.

"We've met, right?" ingat Nicholas samar-samar berharap ada anggukan yang ditunjukkan lawan bicaranya.

"This morning, yes." jawab Kyungsoo malu-malu apalagi saat mengingat adegan pagi tadi dimana ia harus berhenti beberapa menit hanya untuk menenangkan detak jantungnya yang berantakan setelah menatap sosok pemuda yang menabraknya saat lari pagi.

Nicholas mengangguk setuju seraya meloloskan senyum kecil di sudut bibirnya. "Aku tidak tahu kita akan bertemu lagi disini, apa kau ingin minum, Tuan Do?"

Kyungsoo menolak dengan sopan walau dadanya memberontak ingin menjawab 'Aku ingin minum cairanmu!'

"Bahasa Korea Tuan cukup baik, saya kagum.." puji Kyungsoo sebagai awalan perkenalan baik mereka.

"I'm a fast learner," Nicholas menjawab dengan santai, sambil menerima sodoran berkas kerjasama dari asistennya.

Detik hingga menit-menit berikutnya, Nicholas dan Kyungsoo lewati dengan saling melempar senyum diam-diam tiap kali satu dari mereka selesai membaca tentang isi rencana diskusi di berkas mereka. Bisikan-bisikan menuntut hadir di kepala keduanya tanpa mereka sadari. Baik Nicholas maupun Kyungsoo sama-sama berusaha menahan bayangan-bayangan bodoh yang mampir di kepala mereka tentang apakah sebaiknya setelah ini mereka menghabiskan makan siang bersama atau mungkin makan malam?

"Mister Grey?"

Sebuah bisikan dari sekretarisnya sukses membuyarkan seluruh rangkaian cerita khayalan di kepala Nicholas. Ia mengerjapkan kedua matanya, berusaha menggapai dunia nyata lalu mengingat sampai manakah pembahasan mereka tadi.

"I'm sorry,"

"Mister Grey have just come back from London yesterday, maybe his body got tired." jelas sang sekretaris mencoba membantunya. Nicholas mengangguk menyetujui walau sebenarnya bukan tubuhnya yang sedang kacau, tapi pikirannya.

"I'm sure this is a great opportunity, so I hope we will be a great partner ahead." Nicholas mengucapkan kata-kata pamungkas dalam rapatnya kali ini, mempersilakan kedua asisten untuk meninggalkan ruangan rapat menyisakan dua atasannya diam dalam harapan-harapan yang membuncah.

Setelah perdebatan batin yang melibatkan logika dan perasaan, Nicholas akhirnya membuka suaranya lebih dahulu.

"Sudah waktunya makan siang, apa kau punya waktu sebentar untuk makan siang denganku, Tuan Do?"

"Kyungsoo, please." pintanya pada Nicholas agar memanggilnya dengan nama panggilannya saja supaya lebih akrab. "I would like too but not today, Mister Grey."

"Not… today?" ejujurnya Nicholas tidak menyukai penolakan berjenis apapun, tapi untuk rekan barunya ini, sepertinya dia akan memberi pengecualian. "Itu artinya kita punya lain waktu untuk makan siang bersama?"

Kyungsoo tahu ini gila, tapi ia pikir have a date dengan pemuda sekelas Grey tidak buruk. Jika bukan karena ia harus melaporkan bagaimana jalannya rapat hari ini pada Direkturnya, tawaran yang sangat menggiurkan itu tak mungkin ia tolak begitu saja. Damn Insung hyung, gumamnya mengutuk sifat diktator atasannya itu.

"Ya, tentu. Aku masih punya waktu lima hari di Seattle sebelum flight ke DC,"

Nicholas merapikan berkasnya dan mempersilakan Kyungsoo untuk berjalan mendahuluinya keluar dari ruang rapat.

"You're going to DC?"

"Ya, Mister Jo menginginkan aku untuk menjadi Kepala Kantor Cabang DJ Company yang baru di Washington jadi aku harus berada disana segera untuk mengatur semuanya."

"So, I had five days, then?"

Kyungsoo tidak sengaja meloloskan tawa kecilnya, ia mengangguk malu-malu persis anak gadis yang baru saja ditawari kencan pertama kali oleh pria idamannya. Tatapan matanya kemudian kembali pada Nicholas, ia menemukan bagaimana pria itu seperti tak pernah melepaskan pandangan darinya sejak mereka di ruang rapat tadi. Somehow itu membuat dadanya penuh sesak yang menyenangkan, dan yang jelas saat ini Kyungsoo benar-benar membutuhkan udara segar; tempat manapun dimana tidak terdapat Nicholas Grey didalamnya, terutama pada jarak kurang dari dua meter seperti ini.

Nicholas menyerahkan mantel milik Kyungsoo yang dititipkan pada resepsionisnya, Becca. Ia tanpa sedikitpun berpaling dari Kyungsoo, menikmati bagaimana Asian guy itu memakai mantelnya lalu kembali menatapnya dan berjalan pelan menuju lift untuk menekan tombol. Ia mengikuti langkah pria yang tingginya tak lebih dari pelipisnya itu.

"Aku harap kerjasama ini akan bertahan lama, Mister Do."

"Kyungsoo…just Kyungsoo," lelaki mungil itu membalikkan badan dengan cepat saat denting lift sudah berbunyi. Ia pun melangkah masuk ke dalam lift dengan harapan kotak persegi itu segera membawanya pergi secepatnya dari hadapan Nicholas Grey.

Sesaat sebelum pintu menutup, Kyungsoo masih bisa mendengar pria penuh karisma memabukkan itu memanggil namanya.

"Kyungsoo,"

"Nicholas,"

.

-.000.-

Kyungsoo menemukan hari-harinya jadi tak terlalu menyenangkan di Seattle. Kenyataan bahwa disini ia hanya bersama asistennya memperparah hari-harinya. Ia cukup bersyukur tiga hari lagi ia sudah terbang ke DC untuk sangat menyibukkan diri dengan urusan pekerjaan, karena jika tidak, ia tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk mengusir rasa bosan yang menderanya.

Kencan dengan Grey? Ah, jika mengingat pemuda penuh karisma itu, Kyungsoo selalu berakhir dengan sesak napas. Jangankan berharap lelaki itu mencarinya untuk kemudian mengajak kencan, berharap bisa bertemu lagi dengan pria paling sibuk di Seattle itu di luar kantor sudah sangat melegakannya.

Hari ini Kyungsoo memutuskan untuk menendang selimut tebalnya jauh-jauh dari dirinya dan berjalan-jalan di sekitar hotel tempatnya menginap selama seminggu ini. Yang Kyungsoo ingat, tak jauh dari hotelnya ada semacam pujasera. Sebuah tempat yang memang khusus berisi beberapa café dan restaurant di Seattle, kalau ia tidak salah ingat, namanya adalah Pike Place Market. Dan, ya, tempat itu sudah diputuskan Kyungsoo untuk menjadi tujuannya mencari makan pagi ini karena ia bosan dengan sarapan pagi buatan Chef hotel.

Kyungsoo merupakan satu dari sekian morning person di dunia. Artinya, ia akan sangat senang menyibukkan dirinya dengan hal-hal apapun di pagi hari. Salah satunya adalah bersiap-siap untuk menuju Pike Place Market. Kyungsoo memastikan dirinya tak berdandan seperti orang asing semata-mata agar tatapan para netizen Seattle tak jadi terlalu memicing padanya. Tiga puluh menit bersiap, Kyungsoo sudah yakin dengan penampilannya sekarang. Ia pun turun menuju lobby dan bersiap berjalan kaki menuju Pike Place Market.

"Morning, Kyungsoo,"

Kyungsoo hampir saja terkejut berlebihan pagi ini. Lima menit lalu, ia masih sibuk memastikan ponselnya tak tertinggal di kamar seperti kemarin saat ia dan asistennya memutuskan untuk jalan-jalan menggunakan taksi berkeliling Seattle. Dan saat ini, ia baru saja melonjak kebelakang dengan reflek setelah telinganya dan matanya menangkap sosok yang ia kenali sudah berada di depannya dengan senyum tipis tercetak di wajahnya. Sosok dengan sweater abu-abu gelap dan celana coklat kopi itu tampak begitu tampan dan menawan. Kyungsoo bersumpah dia tak pernah menemukan kenyataan bahwa ia punya ribuan kupu-kupu hidup di perutnya, tidak hingga saat ini.

"N-Nicholas?"

"Hai," sapa sosok itu ramah.

"W-what are you doing here?"

"Menunggumu, I guess. Kau mau kemana pagi ini?"

Kyungsoo perlu bernapas dengan baik untuk beberapa detik supaya keterkejutannya hilang dengan benar, ia memilih menepi dari trotoar dan mulai mengatur detak jantungnya dan deru napasnya sendiri agar tak terlihat begitu berantakan. Setelah yakin ia sudah lebih baik, ia kembali pada Nicholas.

"Kau baik?"

"Ya, tentu." sahutnya mencoba tenang. "Kau—bagaimana kau tahu aku menginap disini? Kau menguntitku?"

Nicholas tersenyum tipis. Kyungsoo bersumpah demi lubang pantatnya, laki-laki ini harus segera dihentikan sebelum ia benar-benar lepas kendali atas dirinya sendiri.

"Mencari tahu dimana rekan kerjaku menginap, bukanlah hal yang sulit bagiku. Shall we?" tawar Nicholas pada Kyungsoo. Ia mempersilakan Kyungsoo berjalan lebih dulu darinya dan meninggalkan mobilnya yang terparkir di depan Four Seasons Hotel, tempat Kyungsoo menginap.

"Kau terlihat menyeramkan, Nicholas."

"Begitu?"

"Ya! Kita bahkan belum mengenal baik satu sama lain tapi kau sudah mendatangi tempatku menginap tanpa memberitahuku."

"Itu terlihat buruk, apa benar seburuk itu?" Nicholas berbicara seolah ia merasa tindakannya tidaklah buruk—atau menyeramkan. "Kau tidak paham Seattle, aku berniat mengajakmu sarapan atau jalan-jalan. Karena seingatku, tiga hari lagi kau sudah terbang ke Washington, benar?"

Satu sisi dalam diri Kyungsoo tiba-tiba menghangat. Sialan, pikir Kyungsoo. Bagaimana bisa orang asing seperti Nicholas membuatnya jadi selalu salah tingkah seperti ini? Kemana sifatnya yang biasa ia tunjukkan pada orang-orang? Kemana sifat yang mencerminkan Do Kyungsoo?

"Benar." balas Kyungsoo cepat. "Kau terlihat perhatian, Nic."

"Oh, aku sangat perhatian pada hal-hal yang menarik perhatianku, Mister Do."

Kyungsoo terkekeh, sedikit merasa tersanjung tapi tetap berusaha membumi seperti sebelumnya.

"Apa kau suka kopi, Kyungsoo?"

"Hm?"

"I know place, come.." Nicholas melambaikan tangannya untuk menghentikan sebuah taksi yang kosong. Mempersilakan Kyungsoo masuk ke dalam taksi, kemudian menyusulnya dan duduk di sampingnya. "Elm Coffee Roaster,"

Nicholas punya gaya bicara yang beda dari laki-laki lain yang pernah Kyungsoo temui. Pria ini… seperti selalu punya aura mengontrol dan memerintah dalam setiap kata yang keluar dari bibirnya. Membayangkan hal lain, sisi nakal Kyungsoo dengan seenaknya menyelipkan khayalan tentang bagaimana Kyungsoo mendesah pasrah di bawah kungkungan Nicholas dengan tangan yang terikat dan kedua mata yang tertutup. Kyungsoo membayangkan bagaimana rasanya bibir tebal Nicholas mampir dan melahap kedua nipplenya dengan ganas, mempermainkan penisnya dengan mulutnya sampai ia keluar dengan cepat dan atau bagaimana rasanya bertarung dengan lidah Nicholas.

Sadar bahwa khayalannya terlalu gila, Kyungsoo menggelengkan kepalanya dengan cepat berkali-kali. Sepertinya ia benar-benar sudah gila. Tidak. Bukan dirinya yang gila, melainkan Nicholas. Nicholas yang menyebabkan dirinya tak lagi menjadi Kyungsoo yang sebelumnya.

"Thanks, ayo Kyung.."

Ajakan Nicholas disertai sentuhan dan tarikan lembut di tangan kanannya sukses membuat ritme jantung Kyungsoo benar-benar berantakan. Ia mungkin bisa memastikan bahwa saat ini wajahnya sudah semerah kepiting rebus. Apalagi saat Nicholas dengan tingkah gentlemannya, membukakan pintu café untuknya dan mempersilakannya masuk terlebih dahulu. Damn!, batin Kyungsoo. Dia tak pernah seperti ini sebelumnya! Bahkan saat dengan Insung, dia tak pernah sekalipun menemukan kenyataan bahwa dia punya sisi merah muda dalam dirinya. Sialan kau, Nicholas Grey!, umpatnya lagi dalam hati.

"Espresso?"

Kyungsoo mengangguk patuh tanpa banyak bicara saat lelaki dihadapannya bertanya menu apa yang ingin ia pesan. Baginya, yang terpenting saat ini adalah meluruskan lagi hal-hal aneh yang terjadi dalam dirinya sendiri. Apakah ia tertarik pada Grey? Hey, lalu bagaimana dengan urusan pribadinya bersama Insung? Apa itu akan baik-baik saja? Tapi lelaki ini terlalu seksi untuk ia lewatkan begitu saja!

"So, apa bekerja di DJ menyenangkan?"

Kyungsoo bersyukur laki-laki itu bertanya hal-hal standar dan bukan tentang 'Apa kau punya waktu luang nanti malam?' atau 'Maukah kau bercinta denganku di apartment?'.

Bless Kyungsoo's soul for his pure mind.

"Ya, tentu. Direktur punya kendali baik pada perusahaan dan atmosfir disana juga cukup membuatku nyaman, aku menyukainya.."

"Menyukai direkturmu?"

Kyungsoo langsung membulatkan kedua matanya saat mendengar pertanyaan konyol dari Nicholas. "What? No! The atmosphere, the surrounding at the DJ Company, the employees, I like them."

Nicholas tersenyum tipis seperti baru saja berhasil memancing Kyungsoo dalam jeratannya. "Aah, ya, of course."

"Kenapa aku punya feeling kau baru saja mengerjaiku?"

"Kenapa kau berpikir begitu? Aku bertanya karena kupikir kata-katamu terlalu ambigu, Kyungsoo." Nicholas menutup jawabannya dengan senyum kecil. Ia menyenderkan tubuhnya ke belakang saat seorang pelayan mengantar pesanan mereka.

"Lalu kau? Kau menyukai bekerja di Grey Enterprises?"

Nicholas memastikan perutnya teraliri liquid hitam kesukaannya sebelum ia menjawab pertanyaan Kyungsoo. "Tentu. Grey Enterprises tak akan menjadi seperti ini jika aku tidak menyukai bekerja disana, Mister Do.

Ada banyak potensi yang tersembunyi dari manusia, dan aku adalah salah seorang yang senang untuk mencari tahu potensi terbaik seseorang, mempekerjakan mereka lalu memuji mereka atas pekerjaan terbaik yang sudah mereka lakukan." sambung Nicholas.

"You're like a control freak,"

"Oh I'd like to always control everything, Mister Do.."

"I see it," Kyungsoo memaknai tiap kata yang terucap dari bibir menggoda milik Nicholas. "Nicholas Grey, pemuda dua puluh tiga tahun, seorang control freak yang tampan dan cerdas, pemilik Grey Enterprises Holding Inc." Kyungsoo menggigit bibir bawahnya tanpa sadar saat ia ingat bahwa ia memasukkan kosa kata 'tampan' dalam jawabannya barusan.

"Apa aku harus berterima kasih?"

"Untuk?"

"Kau baru saja memanggilku dengan sebutan seorang control freak yang tampan,"

Kyungsoo menundukkan kepalanya menahan malu. Sialan! Goddamn hormones!, umpatnya keras-keras dalam hati.

"Itu…aku hanya menyampaikan fakta yang ada di publik. Banyak orang mengatakan demikian, jadi rasanya jika aku tidak sependapat, akan aneh."

"Jadi kau terpaksa?"

"Tidak… juga?"

Nicholas tertawa kecil. Ia membenarkan duduknya, menyesap kopinya lalu kembali menatap Kyungsoo yang terlihat gugup.

"Kau terlihat gugup, Kyungsoo."

"You seems intimidating,"

"Benarkah?" kekehan Nicholas menyamarkan kegugupan Kyungsoo sedikit demi sedikit. "Aku hanya merasa seperti… ingin tahu lebih banyak tentangmu, Kyungsoo."

Kyungsoo mendongakkan kepalanya selepas ia menyesap liquid hitam favoritnya, ia menemukan Nicholas sedang memandangnya dengan tatapan itu lagi. Tatapan yang seolah memintanya untuk terus dan terus mendekat padanya tanpa pernah peduli bagaimana sekitarnya. Kyungsoo sangat lemah jika sudah seperti ini, seluruh pilar manly yang ia bangun semata hanya agar ia terlihat lebih kuat dan tegar, runtuh seketika saat Nicholas memandangnya dengan begitu tajam dan lembut secara bersamaan.

"Tak ada hal yang perlu diketahui lebih banyak dariku, Nic.." Kyungsoo berusaha membumi dan tidak membiarkan perasaannya terbang lebih tinggi dari ini. Tatapan penuh magnet dari Nicholas sejak tadi sudah sangat menyiksanya. Ia hanya berharap akan ada sesuatu yang sedikit saja mengalihkan perhatian Nicholas dari dirinya.

"Nic?"

Nicholas menoleh ke samping dan mendapati adik angkatnya sudah berada disana dengan senyum lebarnya.

"Aahh, you must be Kyungsoo," adik Nicholas tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Kyungsoo, lelaki yang tak henti jadi bahan pembicaraannya dan sang kakak kemarin saat mereka sedang makan malam di rumah orangtua mereka. "I'm James, James Grey. Nice to meet you,"

"Nice to meet you too, James."

"Whatcha doin' here, bro? This place isn't your thing, right? Are ya tryin' somethin' new?"

Kyungsoo sedikit terkejut mendengar kata-kata James, café bukanlah Nicholas's things? Sebenarnya tidak dipungkiri bahwa bukan hanya Nicholas yang ingin lebih banyak tahu tentang Kyungsoo, tapi Kyungsoo pun sejak awal sudah sangat penasaran tentang banyak hal yang berhubungan dengan pemimpin Grey Enterprises itu.

Belum juga Nicholas menjawab, lelaki bersurai pirang yang menggandeng seorang gadis pirang disampingnya itu kembali tersenyum seakan ia baru saja menang taruhan. "I thought, I just ruining something here. Better go now, enjoy your time Kyungsoo," James berpamitan sembari menatap Kyungsoo dan Nicholas bergantian, ia meninggalkan kedua pria itu menuju meja yang jauh di sudut café.

"Not your thing, huh?"

"He's a bigmouth." sela Nicholas kesal. "Kau mau pindah dari sini?"

"How did he knows me?"

Nicholas tersedak kopinya. Sebenarnya pertanyaan dari Kyungsoo bukan hal besar, tapi entah kenapa itu sukses membuat pria itu tersedak. Sepertinya, ia sedang gugup juga saat ini.

"Doesn't matter,"

"You talk about me?"

"Just a brother thing,"

"You did talk about me!" Kyungsoo memutuskan bahwa tebakannya benar dan senyum tipis lolos dari bibir Nicholas. "Oh, Nicholas Grey membicarakan seorang kliennya dengan adiknya?"

"Aku membicarakan urusan perusahaan dengan Dad, dan dia mendengarnya." kilah Nicholas berusaha membela dirinya dari kenyataan bahwa dia memang membicarakan tentang Kyungsoo dengan James. "Tidakkah kau ingin pindah tempat?"

Kyungsoo menahan tawanya sekuat mungkin, tapi ia tahu bahwa sedikit mentertawai Nicholas tidak akan berpengaruh buruk baginya, jadi ia melepas tawa kecilnya sekali. "Oke,"

Nicholas menuju ke meja kasir untuk membayar kopi mereka pagi ini. Ia kemudian mengajak Kyungsoo keluar dari café dan menatap jalanan Seattle dengan raut wajah yang berpikir.

"Kau berpikir akan mengajakku kemana lagi setelah ini?" tebak Kyungsoo tepat sasaran.

"Ya, aku sedang berpikir tentang tempat yang tepat untuk kau kunjungi. Sebentar lagi sudah waktu makan siang jadi kupikir tempat itu harus dekat dengan restaurant."

Nicholas dan segala macam kontrolnya, gumam Kyungsoo seraya menahan senyumnya rapat-rapat. "Aku tak keberatan memasak, kupikir itu lebih efisien."

Harusnya, Kyungsoo menyesal karena mengusulkan hal semacam itu. Harusnya, tidak sekarang Kyungsoo menawarkan hal semacam itu pada Nicholas. Setidaknya, tidak pada saat mereka baru saja mengenal satu sama lain untuk…. tiga hari?

"Ide bagus, tapi tidak untuk saat ini." Nicholas menjawab dengan santai. "Kupikir menghabiskan akhir minggu di taman tidak begitu buruk,"

Kyungsoo bersyukur bahwa keputusan bodohnya tidak ditanggapi serius oleh Nicholas karena jika saja Nicholas berkata 'ya', ia yakin saat itu juga ia akan mencari alasan lain supaya rencana itu batal dan ia harus pulang ke hotelnya saat itu juga. Ia tidak yakin ia mampu bertahan dengan baik jika sudah mengenal Nicholas lebih jauh dari ini. Pesona laki-laki ini benar-benar tak terbantahkan dan kenyataan itu membuatnya lemas setiap kali memikirkannya.

"Tentu, taman tak pernah terasa buruk untuk akhir minggu,"

-.000.-

.

Kyungsoo masih bergumul di dalam selimutnya sambil bermain dengan ponselnya. Satu jam yang lalu ia baru saja selesai video call dengan Direkturnya di Seoul sana. Seorang CMO perusahaan melakukan video call dengan Direkturnya bahkan ketika ia masih berwajah bantal seperti ini. Apa jadinya jika Grey tahu bahwa ia dan Insung punya hubungan yang lebih dari sekedar Direktur dan Wakilnya?

Kyungsoo menggelengkan kepalanya cepat, sejak pulang dari kencan dadakannya dengan Nicholas Grey kemarin siang, Kyungsoo tak bisa melenyapkan bayangan lelaki itu sedetik pun dari kepalanya. Ia mengingat dengan baik bagaimana tampannya Grey jika dia sedang tersenyum—setipis apapun itu. Ia juga ingat saat lelaki itu dengan gaya memaksanya seperti biasa, memberinya kartu nama pribadinya agar ia bisa menelepon Grey sebelum flight. Laki-laki itu bersikeras akan mengantarnya ke bandara, dari yang Kyungsoo pelajari seharian kemarin, Nicholas tak pernah berteman baik dengan penolakan.

Kyungsoo juga masih saat ingat bagaimana lelaki itu bersikap begitu gentle tapi tetap tak mau terlihat romantis. Kyungsoo tak yakin bahwa orientasi Nicholas sama sepertinya, tapi melihat semua perlakuan Nicholas padanya, ada satu sisi dari dirinya sendiri yang meyakini bahwa Nicholas menginginkannya sama seperti dirinya menginginkan Nicholas. Kyungsoo tahu ia tak bisa terus menerus menahan diri dari Nicholas, ia bahkan yakin lelaki itu mengetahui bahwa dirinya sempat beberapa kali kelepasan blushing di hadapan Nicholas.

"Aku juga punya nama Korea,"

"Benarkah? Siapa nama Koreamu?"

"Kim Jongin, tapi aku hanya menggunakannya ketika aku berada disana. Aku tak terbiasa dipanggil dengan nama itu, tapi kupikir nama itu cukup bagus."

"Bagaimana kau bisa mendapatkannya? Kau pernah tinggal disana?"

"Ya, aku lahir dan tinggal disana sampai aku berumur dua belas tahun. Lalu aku pergi dari Seoul bersama Keluarga Grey yang mengadopsiku sejak umurku empat tahun, dan sejak saat itu aku tinggal disini dan memakai nama Nicholas Grey."

Sebuah senyum lolos dari bibir Kyungsoo kala kepalanya kembali memutar ingatannya tentang percakapannya dengan Nicholas kemarin di salah satu taman besar di Seattle. Laki-laki itu… entah mengapa Kyungsoo merasa bahwa Nicholas punya sebuah sisi yang sejak pertama kali mereka bertemu beberapa hari lalu, sudah sukses membuat Kyungsoo merasa penting bagi Nicholas. Nicholas sempat bilang bahwa beberapa orang menjulukinya sebagai pria yang sama sekali tak punya hati karena mereka sudah mengenal Nicholas dengan baik. Namun, satu sisi lembut dalam diri Kyungsoo dengan tegas menolak apa yang lelaki itu ucapkan kemarin. Ia yakin lelaki itu tetap punya hati, setidaknya Kyungsoo harap hati itu ada untuk ia miliki dan ia jaga sebaik-baiknya selamanya.

"Hyuuuung, jadi jalan-jalan tidaaak?"

Itu suara asisten Kyungsoo, mereka sudah bekerja berdua sejak pertama kali Kyungsoo diterima bekerja di DJ Company, jadi jika sedang tak ada orang lain seperti ini, Kyungsoo mempersilakan lelaki muda yang lebih tinggi darinya itu memanggilnya dengan sebutan hyung.

"Kau sangat berisik Jeon Wonwoo! Kau tidak lihat aku sedang apa?"

Kyungsoo saat ini sedang sibuk berdandan. Setidaknya, setelah beberapa menit lalu kaki asistennya dengan semangat menendangi pantat semoknya yang masih terbungkus selimut, Kyungsoo akhirnya kini sudah mulai sibuk berdandan.

"Sungguh kau ini, kita ini hanya akan cari makanan di supermarket! Bukannya mau bertemu dengan puluhan laki-laki tampan sekelas Mister Grey!"

Grey lagi. Mengapa sejak bertemu laki-laki itu, hidup Kyungsoo terasa tidak bisa lepas darinya?

"Ya! Apa maksudmu?!"

"Maksudku adalah," Wonwoo menurunkan eyeliner yang Kyungsoo pegang, kemudian meletakkannya di meja. "Kau tidak perlu berdandan untuk jadi menarik, karena kita tidak akan menemukan Mister Grey di supermarket!" seru Wonwoo gemas seraya menarik pelan sebelah tangan Kyungsoo yang tidak sibuk mengambil ponsel dan dompetnya dari atas meja.

"Bicaramu seperti aku dan dia ada sesuatu saja, Wonu-ya!"

"Memangnya tidak?" Wonwoo mendekatkan wajahnya pada Kyungsoo dengan tatapan penuh selidik, kedua alis yang naik turun bersamaan dan senyum seringai kecil di sudut bibirnya. "Kau itu sangat open book untuk masalah romansa merah muda begini Hyung, jadi jangan sekali-sekali kau berbohong padaku,"

Kyungsoo mendengus kesal. Kenapa tidak bisa sekali saja di luar kantornya, ia menerima seratus persen sikap yang hormat dari Wonwoo? Kyungsoo tidak menyalahkannya yang jadi sangat tahu tentang sikap-sikap Kyungsoo saat berhubungan dengan romansa merah muda karena ia sendiri mengakui bahwa ia tak pandai berbohong jika sudah menyangkut isi hatinya, terutama hal-hal berbau cinta. Dan Jeon Wonwoo adalah satu dari lima orang yang bisa seenaknya menggoda Kyungsoo apalagi ketika ia sedang dirundung awan merah muda begini.

"Kau sudah tahu kita akan kemana?" Kyungsoo menyiapkan ponselnya dan meletakkan dompetnya ke dalam saku jaketnya. "Aku akan mencari jalannya,"

"Aku sudah mencari jalannya," Wonwoo menunjukkan layar ponselnya yang memang sudah menampilkan Google Maps menuju Joey's Trader, sebuah toko grosir yang tak terlalu jauh dari hotel tempat mereka menginap.

Kyungsoo mengangguk kemudian segera menghentikan sebuah taksi kosong yang hendak melewati mereka. "Enlighten me again, what will we do there?"

"Joey's Trader, please, Sir. Thank you," Wonwoo memberitahu supir taksi tentang tujuan mereka dengan logat bahasa Inggris yang lucu lalu kembali pada Kyungsoo. "Kita akan membeli beberapa buah segar karena aku bosan dengan makanan di hotel, dan karena kita tidak bisa memasak di hotel, maka kita harus cari restaurant enak dan tidak terlalu mahal untuk jadi tempat kita makan siang nanti. Dan serius, Hyung, aku benar-benar ingin ke Pike Place nanti malam!"

Kyungsoo meloloskan tawanya. Ia sangat tahu betapa murkanya Jeon Wonwoo saat tahu bahwa kemarin ia meluangkan waktunya yang memang sangat luang untuk berduaan dengan Nicholas tanpa memberitahu Jeon Wonwoo yang sibuk tidur dari pagi hingga sore ketika Kyungsoo pulang dari kencannya di taman. Laki-laki itu memasang raut wajah kesal dari sore hingga malam pada Kyungsoo, dia sempat menolak makan bersama Kyungsoo karena masih merasa kesal padanya tapi sayangnya, perutnya berkata lain. Jadi dengan meredam seluruh rasa kesal plus rasa malunya karena perutnya berbunyi tepat setelah ia dengan lantang berkata 'Aku tak lapar! Makan saja sana sendiri!', Wonwoo mengikuti langkah kaki kecil Kyungsoo menuju restaurant terdekat yang masih buka.

"Ah, sampai juga.." Wonwoo keluar lebih dulu dari taksi karena Kyungsoo perlu membayar tagihan taksinya. "Hyung, kita beli banyak buah, ya?"

"Besok Minggu kita sudah take off ke DC, Wonu. Kalau buah yang kita beli sisa bagaimana?"

"Berikan saja pada para homeless," sahut Wonwoo santai sambil melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Kyungsoo yang menggelengkan kepalanya seraya menahan senyum kecilnya. Rasanya ia sedang berjalan bersama anak kecil yang ngotot minta keinginannya dipenuhi dan akan ngambek tujuh hari tujuh malam jika keinginannya ditolak.

Wonwoo adalah adik kelas Kyungsoo saat Kyungsoo masih SMP hingga SMA, dia juga merupakan tetangga masa kecil Kyungsoo, jadi saat tahu mereka berdua akan bekerja sama sebagai seorang asisten dan CMO, keduanya tampak sangat senang seperti kembali ke masa-masa sekolah mereka dulu dimana mereka memang cukup dekat. Bagi Kyungsoo, Wonwoo sudah seperti adik kandungnya sendiri, sama seperti Sehun. Ah, laki-laki itu… bagaimana ya kabar dia di Seoul sana? Apa dia masih terus berkencan dengan Luhan Hyung? Terakhir kali ia tahu kabar mereka berdua, Sehun sudah berencana untuk mengungkapkan perasaannya pada Luhan. Ya Tuhan, laki-laki dengan pekerjaan mengerikan macam Oh Sehun ternyata bisa jatuh cinta juga? Kyungsoo sampai tertawa kecil saat mengingat bagaimana laki-laki berwajah datar itu mengakui bahwa ia memang sedang dalam tahap pendekatan dengan Luhan. Benar-benar, ahh, sepertinya ia rindu Sehun.

"Hyung, apel ini kelihatannya enak sekali!"

Kyungsoo memukul lengan Wonwoo yang hampir saja kelepasan menggigit buah itu sebelum mereka membayarnya. "Bayar dulu!"

Wonwoo mengalihkan apel merah yang menggoda imannya itu ke dalam kantung belanja mereka lalu kembali fokus memilah beberapa buah lain yang terlihat enak tanpa memakannya terlebih dahulu karena ia tahu Kyungsoo masih akan mengawasinya sampai beberapa menit ke depan.

Kyungsoo sendiri disibukkan dengan ponselnya, Insung sejak tadi mengiriminya pesan dan bertanya apa yang sedang pemuda kesayangannya itu lakukan saat ini di Seattle. Beruntung bagi Kyungsoo, lelaki itu tak ngotot minta video call lagi seperti tadi pagi. Sejujurnya, ia tak suka dan sangat tidak ingin hubungannya dengan Insung sampai diketahui banyak orang. Ya, setidaknya, tidak sekarang, tidak saat rencananya hanya baru terlaksana enam puluh persen dari keseluruhan.

"I thought you said you wanna eat kimchi spaghetti, why would you buy this things, you idiot."

Kyungsoo menjauhkan ponselnya dari pandangannya saat telinganya mendengar suara yang begitu khas dan begitu indah terekam dalam memorinya. Kepalanya menoleh dengan reflek ke sumber suara dan begitu ia menemukannya, senyum tipis lolos begitu saja dari bibirnya. Dia tentu terkejut bahwa ternyata ia benar-benar menemukan Mister Grey di supermarket, tapi keterkejutan itu tertutupi oleh letupan-letupan bahagia yang menyelimutinya.

"Hyung, aku beli—Hyung?" Wonwoo menatap Kyungsoo heran, laki-laki itu memandangi satu arah dengan senyum yang cerah. Jangan-jangan…..

"Mister Do, what a surprise,"

"Oh! Kyungsoo! We meet again!" James terlihat senang saat obsidiannya menemukan lelaki mungil yang kemarin ia temui di café sedang bersama kakak laki-lakinya.

"Aku tak tahu bahwa seorang Grey ternyata senang berbelanja bahan makanan," Kyungsoo mendekatkan troli belanjanya ke arah Nicholas dan James diikuti oleh Wonwoo yang masih tidak paham apa yang terjadi.

"Jika Grey yang kau maksud adalah aku, maka dugaanmu salah. Aku kemari hanya untuk menemani anak ini berbelanja."

"Aku adalah calon Chef, Kyungsoo. Jadi berbelanja bahan makanan adalah salah satu keahlian dan hobiku," James mengejutkan Kyungsoo dengan bahasa Koreanya yang sedikit terbata-bata.

"Kau bisa bahasa Korea?"

"Nic mengajariku banyak hal," James menyanjung Grey sebelum tatapan matanya terkunci ke arah seorang pemuda di samping Kyungsoo yang memilih menyibukkan dirinya dengan belanjaannya sendiri.

Kyungsoo menyenggol Wonwoo dengan keras, memperingatkan lelaki muda itu untuk behave di depan klien mereka.

"A-ah, senang bertemu kembali dengan Anda, Mister Grey."

"Jeon Wonwoo, benar?"

Wonwoo tersenyum saat laki-laki yang beberapa hari lalu jadi tuan rumah yang sangat sangat tampan saat mereka melakukan business meeting di Grey House itu ternyata mengetahui namanya. "Benar, Mister Grey. Panggil saja saya Wonwoo,"

James di lain pihak merasa ada yang aneh dengan dirinya sendiri sejak ia menangkap senyum tipis muncul di wajah lelaki bernama Wonwoo itu. Ia kini terpaksa pura-pura batuk untuk menghilangkan kegugupannya.

"Ah, benar, aku belum memperkenalkan kau. Wonwoo, ini James Grey, adikku."

Wonwoo mengulurkan tangannya dengan sopan dan James menyambutnya dengan ramah. Tak ada yang menyadari bahwa keempat orang yang bertemu secara tidak sengaja ini, saat ini sedang dikerubungi awan merah muda yang sudah siap menurunkan bulir-bulir hujan cintanya kapanpun mereka siap menerimanya. Tak ada yang menyadari bahwa diam-diam, sebuah rasa baru yang menantang mulai tumbuh dalam perasaan mereka terhadap lawan bicaranya satu sama lain. Jeon Wonwoo dengan James Grey, dan Do Kyungsoo dengan Nicholas Grey. Siapa yang sangka bahwa akan ada dua Grey yang bisa jatuh cinta bersamaan pada dua Asian guy yang belum lama mereka kenal?

-.000.-

"So you telling me that, there are actually two Greys?"

Kyungsoo menahan tawanya dengan cukup kuat tapi ia tak mampu. Jeon Wonwoo sedang tak berhenti mengumpat sejak kepulangan mereka dari Joey's Trader yang tentunya menumpang mobil milik Nicholas. James mengajak mereka untuk makan malam bersama nanti malam di sebuah restaurant langganannya. Dan tentu, tanpa banyak berpikir, Wonwoo menyetujuinya. Kyungsoo bahkan sempat menoleh dan menatap Wonwoo penuh tanya seakan bertanya 'Apa yang sedang kau lakukan? Bukankah nanti malam kita akan ke Pike Place?'.

Kyungsoo sebenarnya tahu Wonwoo sedang terkena sindrom suka pada pandangan pertama pada James, tapi apa harus melibatkannya? Tidak bisakah sehari saja detak jantungnya benar karena tak ada Nicholas disana? Tadi saja, ia sudah hampir sesak napas setelah sekitar empat jam lebih mereka menghabiskan waktu di Joey's lalu berlanjut mampir makan siang di sebuah kedai kecil di dekat toko grosir itu. Kyungsoo pikir ia belum siap berada dalam jarak sedekat itu dan dalam waktu yang lama bersama Nicholas, entah kenapa ia yakin ia akan terlihat memalukan dengan wajah yang terus menerus blushing.

"Yep," Kyungsoo menjawab singkat sembari memasukkan buah-buahan mereka ke dalam lemari pendingin. "Kenapa kau begitu terkejut, Wonu -ya?"

"Kukira hanya ada satu laki-laki sekelas Mister Grey! Kukira laki-laki sepertinya tak akan mau—"

"Ke toko grosir.." sela Kyungsoo. "Tapi kau melihatnya sendiri, Nic sedang menemani adiknya berbelanja. Bukankah itu kenyataannya?"

"Ya Tuhan, Hyung! Aku saja masih belum bisa percaya ada manusia setampan dan semengagumkan Mister Grey dan sekarang….. dia bilang…. dia punya adik?"

Kyungsoo mengerti arah pembicaraan Wonwoo dan mulai mengikutinya secara perlahan. "Jadi kau mau bilang bahwa James juga tampan?"

"IYA!" teriakan Wonwoo menggema di kamar mereka dan sedetik setelahnya terdengar suara pukulan yang ternyata diberikan Wonwoo pada Kyungsoo di lengan kirinya. "YA! KAU MENJEBAKKU!"

Kyungsoo melepas tawanya puas. Sungguh, ia benar-benar merasa sangat hidup saat ini. "Kukira kau tidak percaya dengan ungkapan jatuh cinta pada pandangan pertama,"

"Memang tidaaaak~ tapi kalau hanya naksir, lain lagi, kan?" Wonwoo tertawa kecil. "Tapi kupikir, hanya sekadar naksir pun, harusnya aku tak melakukannya pada James,"

"Waeyo? Tidak ada yang salah dengan itu, kan? Toh, James memang tampan. Dia juga punya karisma yang mirip dengan Nicholas, bahkan mereka tak terlihat seperti adik dan kakak angkat."

"James dan Mister Grey adalah saudara angkat?"

"James berumur satu tahun ketika Tuan dan Nyonya Grey memutuskan untuk mengadopsi Nicholas. James dan Nic sama-sama lahir di Korea Selatan, bedanya, Nic lahir di Seoul dan James di Anyang saat Nyonya Grey sedang menemani Tuan Grey perjalanan bisnis." jelas Kyungsoo sembari merapikan pakaian dan dokumen kerjanya ke koper besarnya.

"Damn, Hyung. Kau benar-benar jatuh cinta pada Grey, don't you?" Wonwoo menembak Kyungsoo dengan pertanyaan yang tak punya unsur basa-basi, tentu saja pria mungil itu sontak menggeleng sambil berusaha menyembunyikan wajahnya yang pasti sudah memerah saat ini.

Niat Kyungsoo sebelumnya adalah menjelaskan kepada lelaki muda yang ia kira sedang naksir pada James Grey bahwa sesungguhnya James dan Nicholas bukanlah saudara kandung walau sebenarnya mereka terlihat sangat serupa dari tiap gaya fashion, gaya rambut bahkan gaya bicara. Namun, tentu saja, James selalu punya sisi fun berlebih yang tidak Kyungsoo temukan pada Nicholas. Sayangnya, niat Kyungsoo dimata Wonwoo berakhir seperti seorang gadis yang sedang menjelaskan ke adiknya bahwa lelaki idamannya adalah bla bla bla bla.

"Aku merestui kalian kok, jika pada akhirnya Mister Grey itu bilang ia menyukaimu,"

Kyungsoo melempar Wonwoo dengan bantal tidurnya. "Bicaramu tidak relevan,"

"Aku selalu tahu bagaimana perilaku orang saat mereka sedang menyukai orang lain, Hyung.."

"Lalu kau sendiri, bagaimana? Kau menyukai James?"

Wonwoo mengendikkan bahunya cepat. "Aku tak bisa bohong bahwa dia cukup tampan dan itu sebuah daya tarik yang sukses membuat perhatianku teralihkan padanya,"

Kedua laki-laki itu bersatu dalam tawa yang begitu merdu dan menyenangkan seolah mereka sedang puas menertawai diri mereka sendiri yang sama-sama terjatuh dalam pesona duo Grey. Kyungsoo mengepak pakaiannya dengan lebih rapi dari sebelumnya sambil memilih baju apa yang akan ia kenakan nanti malam. Walaupun ini adalah ide James, tapi Nicholas sama sekali tidak menolaknya dan bahkan menyuruh mereka bersiap sebelum pukul tujuh dengan pakaian terbaik mereka karena duo Grey akan tiba di hotel sebelum pukul tujuh. Bukankah dalam kata lain Nicholas menyetujui ide double date dari James?

Wonwoo dan Kyungsoo berbagi tawa dan isi pikiran mereka tentang prakiraan topik pembicaraan mereka nanti saat makan malam. Menurut Wonwoo, walau terlihat sangat hemat bicara dan selalu berusaha terlihat dan bersikap cool, Nicholas akan sedikit banyak bertanya tentang pribadi Kyungsoo nanti malam. Laki-laki itu di mata Wonwoo, sangat jelas terlihat begitu mengontrol perasaan dan perlakuannya pada Kyungsoo agar tidak terlalu mencolok memperlihatkan bahwa dia memang tertarik pada Kyungsoo. Wonwoo pikir alasannya mungkin tentang anggapan publik padanya, apa jadinya bila masyarakat tahu bahwa CEO Grey Enterprises adalah seorang gay?

"Yo, wasup, bro?"

"You're here don't you?"

"You caught me bro, yea I'm in town."

"Damn you, Hyung! Kenapa tidak bilang dari kemarin?! Kita harus bertemu!"

Wonwoo melepas tawanya sembari melangkah menuju balkon kamar hotelnya. "Oke, kau sedang tidak sibuk dengan kuliah?"

"Sesibuk apapun aku dengan kumpulan tugas kuliahku, bertemu kawan lama itu lebih penting! Sampai kapan kau di Seattle?"

"Hanya sampai Minggu,"

"Besok kau free? Aku akan mengajakmu jalan-jalan dengan kekasihku juga nanti, besok kita jalan-jalan dan Sabtu malam aku akan membawamu ke nightclub terbaik di Seattle. Bagaimana?"

Wonwoo meringis kecil dan menoleh pada Kyungsoo yang masih saja sibuk dengan pakaiannya, menimbang apakah ia harus mengajak lelaki mungil itu ikut dengannya atau tidak. "Baiklah. Apa rumahmu besok free? Aku benar-benar ingin makan makanan Korea, demi Tuhan aku rindu tteopokkie!"

"Tentu! Rumahku adalah tempat terbaik untuk berkumpul! Aku akan bilang pada Mom and Dad bahwa kau disini, eung.. apa kau bawa teman?"

"Ya," Wonwoo menatap Kyungsoo lagi lalu kembali fokus pada ponselnya. "Dia atasanku di kantor tapi dia baik, easy going. Kau ingat Kyungsoo Hyung?"

"Kyungsoo Hyung? Aaah! Laki-laki mungil yang satu geng dengan duo menara itu? Dia atasanmu sekarang?"

Wonwoo harus mati-matian menahan tawanya supaya Kyungsoo tidak menaruh curiga ia sedang berbicara dengan siapa tentang siapa. "Ya, Vernon! Bicaramu benar-benar, ya." tegur Wonwoo bercanda. "Ya, sekarang dia jadi atasanku. Jadi tak masalah bila dia ikut? Dia sangat pintar memasak, kok. Jadi dapurmu pasti selamat,"

Giliran suara tawa dari Vernon yang terdengar menggema di seberang sana. "Baiklah, ajak dia. Besok aku akan menjemputmu sekitar jam sepuluh, bagaimana? Nanti kalian menginap saja di rumahku satu malam!"

"Sure thing, tidak masalah. Aku akan bilang padanya nanti, dia pasti setuju. Jadi besok kita akan berbelanja?"

"As you wish, brother. See ya tomorrow, kay?"

Wonwoo menutup panggilan ponselnya lalu mendekati Kyungsoo yang—

"Menurutmu, lebih bagus ini atau yang ini?"

Kyungsoo menunjuk dua buah sweater dengan warna coklat muda dan satu lagi dengan warna putih tulang.

"Kau akan terlihat menggemaskan dengan dua pakaian itu, jadi pilihan apapun tidak masalah." jawab Wonwoo cepat. "Listen, Hyung. Temanku baru saja menelepon, dia tinggal di Seattle dan ingin mengajak kita pergi dua hari ke depan. Besok dia akan mengajak kita jalan-jalan lalu menginap di rumahnya, lusa dia mengajak kita ke nightclub langganannya. Kau ikut, kan?"

Kyungsoo memasang raut wajah penuh pertimbangan, tapi sedetik setelahnya, ia memberikan anggukan persetujuan yang jadi awal teriakan berlebih dari Wonwoo. Sebenarnya Kyungsoo ragu menerima ajakan Wonwoo, sedikit banyak, ia masih berharap akan ada kelanjutan penjelasan dari Nicholas atau setidaknya akan ada kelanjutan pendekatan yang lebih jelas dari pria itu supaya rasa penasaran Kyungsoo terobati. Karena jelas, jika Kyungsoo diberi pertanyaan apakah ia menyukai Nicholas, dengan lantang ia akan memberikan jawaban 'ya', tapi jika Kyungsoo diberi pertanyaan apakah ia rela mengorbankan beberapa hal dalam hidupnya demi bersama Nicholas, dengan yakin ia akan memilih untuk memikirkannya terlebih dahulu. Kenapa? Memangnya perasaan Nicholas sama dengan apa yang Kyungsoo rasakan pada laki-laki penuh karisma itu? Memangnya CEO Grey Enterprises itu juga menaruh rasa yang sama pada Kyungsoo seperti yang lelaki mungil itu rasakan terhadap sang CEO?

Desahan napas berat Kyungsoo keluarkan dari bibirnya. Jika memang pada akhirnya Nicholas berkata bahwa ia juga menyukai Kyungsoo, lalu bagaimana dengan hidup Kyungsoo yang selama ini tak pernah terendus publik? Bagaimana dengan seluruh rencana rapi yang sudah ia susun bersama dua saudaranya sejak mereka masih sekolah dulu? Bagaimana ia akan bisa melanjutkan hidupnya tanpa berpikir serius tentang kehadiran Nicholas yang tidak masuk dalam rencananya selama ini? Akankah Nicholas menerima sisi gelap Kyungsoo yang tak satupun orang tahu kecuali saudara-saudaranya? Ataukah lelaki itu memilih hidupnya yang sudah bahagia tanpa lelaki mungil itu dan meninggalkan Kyungsoo begitu saja?

-.000.-

Jarum panjang di jam tangan Kyungsoo sudah resmi menunjuk pada angka enam dengan jarum pendek berada diantara angka enam dan tujuh. Wonwoo sudah siap dengan sweater warna kuning yang secara jelas mengekspos keindahan leher jenjangnya, dipadu dengan white chinos plus sneakers pada area bawah tubuhnya dan sebuah kacamata tanpa lensa yang sudah bertengger di wajahnya. Siapapun yang melihat sosok ini sekarang, Kyungsoo pastikan ia akan langsung merasakan sesuatu terjadi pada jantungnya atau tiba-tiba perutnya terasa dihuni kupu-kupu hidup.

Tak hanya Wonwoo yang ternyata sudah siap pergi dengan begitu manisnya, ternyata Kyungsoo pun juga sudah siap dengan outfit of the nightnya hari ini. Dengan potongan rambut undercut yang ia permanis dengan pewarnaan rambut red wine, Kyungsoo membawa imej mengagumkan dengan memakai kemeja lengan pendek kotak-kotak warna merah-hitam ditutup dengan cardigan warna navy dengan aksen bintang-bintang kecil di seluruh sisinya. Tak lupa, ia memasangkan chinos warna coklat gelap dan sneakers menjadi penutup area bawah tubuhnya malam ini. Tentu saja, merasa tak mau kalah menggemaskan dari Wonwoo, Kyungsoo pun memakai kacamata tanpa lensanya juga malam ini.

Saat ini duo Asian guy ini sudah berada dalam lift, saling bertukar cerita tentang kegugupan mereka menjelang double date mereka sebentar lagi. Kekehan dan pukulan kecil dari masing-masing menjadi penawar kegugupan mereka di dalam lift. Denting lift yang berbunyi di detik berikutnya seolah jadi pertanda bagi keduanya untuk berhenti membicarakan tentang nuansa merah muda karena tak sampai dua menit lagi mereka akan kembali satu mobil dengan duo Grey yang sudah sukses membuat masing-masing jantung mereka tak lagi punya ritme detak yang sama seperti sebelumnya.

James jadi orang pertama yang menyadari kehadiran dua lelaki Asia yang ia dan kakaknya tunggu sejak sepuluh menit lalu. Laki-laki itu bahkan langsung berdiri dari sofa yang ia duduki saat matanya menangkap sosok dengan sweater kuning perlahan mendekatinya dari kejauhan. Ia tak banyak berkedip saat menatap sosok itu, terlebih saat kedua tamunya sudah berada di hadapannya seperti saat ini.

"James?"

Kyungsoo membuyarkan lamunan James yang kemudian berdehem dan tertawa kecil menghilangkan kegugupannya sendiri. Ia sedikit melirik lewat ekor matanya dan ia masih menemukan lelaki bersweater kuning itu sedang tertawa kecil seolah sama-sama menahan malunya.

"So, you're ready?" pertanyaan James menjadi trigger bagi Nicholas untuk kembali ke dunianya setelah sebelumnya ia sibuk dengan ponselnya untuk urusan pekerjaan.

Nicholas menoleh pada James saat adiknya melontarkan pertanyaan kepada kedua tamu mereka, lalu pandangannya dengan cepat beralih pada Kyungsoo yang sudah berdiri di hadapannya dengan begitu mengagumkan. Nicholas bangkit dari posisinya semula dengan perlahan sembari mengukir senyum penuh kekaguman dan kebanggaan pada Kyungsoo yang tampil begitu memukaunya malam ini. Ponselnya kemudian ia nonaktifkan dan ia simpan dalam saku celananya.

"Both of you looks like a college boys," James mengernyitkan dahinya saat mendengar kakaknya berucap demikian. Lalu ia berdehem dan menambahkan—mengoreksi kata-kata kakaknya agar tak diartikan salah oleh keduanya.

"It means, both of you looks extremely cute and lovely,"

Nicholas langsung menatap tajam James sambil seolah melayangkan teriakan 'That's not what I mean, idiot!' padanya.

"Eum, thanks?" Kyungsoo menengahi pertengkaran tak kasat mata antara dua bersaudara itu dengan kekehan kecil yang muncul di akhir jawabannya.

"Let's go, then! I'm starving!"

Nicholas menatap James sambil menggelengkan kepalanya dan memutar bola matanya malas. Kenapa harus James yang jadi adiknya? Kenapa bukan orang lain yang lebih bisa diatur dan lebih diam? Nicholas menghela napasnya kesal sambil menatap Kyungsoo yang nampak gugup. Nyatanya, langkah kaki si mungil itu memang mendadak terasa begitu berat seolah ia merasa gugup, lebih gugup daripada saat ia kencan berdua dengan Nicholas kemarin.

"You good?"

"Y-yeah, I'm good."

Nicholas membukakan pintu penumpang lebih lebar dari sebelumnya saat Kyungsoo akan masuk lalu menutupnya setelah memastikan pria mungil itu sudah masuk ke mobil. Perjalanan kali ini, James yang jadi pengemudinya. Nicholas yang memintanya karena sebelumnya ia sudah memastikan bahwa ia akan lebih sibuk menerima telepon hari ini karena kemarin ia membatalkan beberapa meeting hanya untuk menghabiskan waktunya dengan Kyungsoo, dan hari ini ia juga menunda beberapa pertemuannya dengan alasan James memintanya untuk menemaninya berbelanja.

Nicholas sebenarnya bukan tipikal pria yang benar-benar tak punya hati. Buktinya, ia akan selalu meluangkan waktunya untuk James, dan kedua orangtua mereka kapanpun mereka memintanya. Walaupun resikonya ia harus menunda atau bahkan membatalkan lalu menata ulang jadwal pertemuannya dengan para pengusaha lain yang sudah susah payah mengupayakan keringat mereka untuk bersiap-siap bertemu dengan Nicholas Grey. Ya, seperti hari ini. Sejak sampai di lobi hotel, James tak pernah sekalipun luput melihat Nicholas yang sibuk dengan ponselnya. Ia mengatur langsung beberapa karyawannya di kantor cabang dan beberapa perusahaan yang memang jadi anak perusahaan Grey Enterprises untuk memastikan kerja mereka mendekati sempurna.

"Done with them?"

"Next week is gonna be like hell,"

James terkekeh, "I'll cook every single day for you, so your week wouldn't be like hell at all." ujar lelaki bersurai pirang itu dengan lembut. Setidaknya, memasakkan kakak laki-lakinya makanan yang lezat adalah satu-satunya cara yang mampu ia lakukan untuk membalas semua waktu yang sudah Nicholas luangkan untuknya. Karena ia tahu, jika bukan karena upaya Nic meyakinkan kedua orangtuanya, ia tak akan mungkin punya gelar soon to be Chef saat ini.

Tak sampai lima belas menit perjalanan dari Four Seasons Hotel tempat duo Asian guy itu menginap, Black Range Rover milik James sudah berhenti di depan sebuah restaurant bernuansa klasik Italia, Altura.

"Welcome to my soon-to-be restaurant! Come in!" James mengajak kedua Asian guy itu mengikutinya. Detik pertama Wonwoo dan Kyungsoo memasuki Altura, aroma racikan bumbu-bumbu masakan yang menggoda perut mereka sudah menyapa indera penciuman mereka. Nicholas menyusul keduanya dari belakang dengan raut wajah menahan senyumnya.

"Welcome, Mister Grey. Your reservation is on second floor,"

James tersenyum lebar dan berterimakasih pada resepsionis cantik bernama Karen itu, lalu ia menuntun jalan kedua tamunya untuk menuju lantai dua, tempat dimana meja mereka sudah disiapkan.

"Welcome Mister Grey,"

"Good day, Taylor!"

"Hello, Taylor."

Duo Grey membalas sapaan Taylor, kepala pelayan yang melayani mereka malam ini. Taylor terlihat memberikan menu pada keempat tamunya kemudian menepi untuk memberi mereka waktu untuk memilih makanan kesukaan mereka masing-masing.

"Kau ingin makan pasta?" ini Nicholas, menatap Kyungsoo tenang.

"Eung… no? I would like to try other than pasta."

"Give me your best appetizer and entrée. We will order the dessert later,"

"Oh! Don't forget the wine, Taylor! The best of the best!"

Taylor terlihat mengangguk patuh pada perintah duo Grey dan langsung menuju kitchen untuk memberitahukan pada Chef menu pilihan tamu istimewa mereka hari ini.

"Kau tidak bertanya pada kami tentang menu yang akan kami makan?"

Nicholas tersenyum tipis, "Kau tidak akan kecewa dengan pilihanku, percayalah."

"Kupastikan padamu, Kyungsoo. Makanan disini tak akan pernah mengecewakan lidahmu," tambah James percaya diri dengan keahlian para Chef terbaik di restaurant yang sebentar lagi akan jadi miliknya ini.

"Ahh, I love this song," James menggumamkan kata-kata yang cukup bisa didengar oleh ketiga lelaki lain yang berada satu meja dengannya saat salah satu lagu RnB favoritnya, Crush by Yura diputarkan di Altura. "He doesn't like this kind of song, I do.."

Nicholas menoleh pada James dan mendapati adik angkatnya itu sedang tertawa, disusul oleh Wonwoo dan Kyungsoo. Lelaki yang lebih tua tiga tahun dari James itu pun menatap adiknya dengan tatapan tajam, seolah mengatakan 'Kau minta dicekik, huh?'.

"So, Kyungsoo, tell me what's your fav? Playing games? Reading some management books? Workin' til late night like workaholic?" James melirik kakaknya sekilas saat menanyakan kalimat terakhir pada Kyungsoo.

"Nah, none of those are my things." Kyungsoo terkekeh saat menjawab pertanyaan James karena ia melihat Nicholas tak hentinya menatap James seolah menginginkan lelaki itu enyah dari hadapannya saat ini juga.

"So what is it?"

Kyungsoo membulatkan matanya, menatap Nicholas dengan penuh tanya berharap lelaki itu mengulang pertanyaannya. "My things?"

"Your things,"

"I don't know … memasak? That's the only thing I thought I'm great at,"

Nicholas tersenyum kecil dan James berbahagia. "Hear that? I've told you!"

"Dan, kau, Wonwoo, bagaimana denganmu?"

"Me?" ulang Wonwoo sopan dan Nicholas mengangguk cepat. "Books, I guess?"

"James punya banyak sekali koleksi buku di apartmentnya," Nicholas menunjuk James dan lelaki itu menatapnya tanpa tahu apa yang sedang kakaknya bicarakan.

"Benarkah?" Wonwoo menatap Nicholas dengan tatapan berbinar lalu beralih pada James yang masih tidak paham akan pembicaraan mereka.

"Yap, buku masak terutama,"

Kyungsoo melepas tawanya dan raut wajah Wonwoo berubah pahit. So Mister Grey knows how to tell a joke, huh? batinnya sembari menahan senyumnya sendiri akan kebodohannya barusan.

Nicholas tersenyum tipis. "I'm sorry, that was a lame one. He really do have two fully-loaded bookshelf, there. This one I'm not jokin'," James menatap Wonwoo dan Nicholas bergantian lalu mengangguk paham.

"So you talkin' bout books? My books?"

"He loves books, so I said that you had two fully-loaded bookshelf at yours."

"Yea, you should coming to my apartment sometimes. I'll cook for you," James menatap Wonwoo sambil tersenyum meyakinkan, laki-laki di depannya sudah hampir mati kehabisan napas karena tak kuat menahan dentuman meriam di dalam dadanya sejak tadi.

Tak lama setelahnya, Taylor bersama beberapa pelayan lain datang menyajikan appetizer dan minuman pesanan special guests mereka hari ini. Setelah mempersilakan tamunya untuk menikmati hidangan pembuka mereka, Taylor pun undur diri.

"So the best is not just for one dish?"

"You tell me, huh. You're the one who said that you want them to serve you the best appetizer they had, now here you are, Mister Nicholas Grey. Don't be chatty," James setengah protes pada kakaknya yang terlihat cukup rewel di matanya malam ini.

"Aku tahu, brengsek. Diam dan makanlah," balas Nicholas sambil mengambil sendoknya. Lelaki itu sekilas menatap Kyungsoo yang tersenyum padanya, "Makanlah,"

Your damn smile and your damn order, Nicholas! umpat Kyungsoo dalam hati saat lagi-lagi ia perlu susah payah menetralkan detak jantungnya hanya karena tingkah lelaki di hadapannya itu. Sedetik setelahnya, senyum puas tercetak jelas di wajah Kyungsoo dan Wonwoo. Sepertinya ucapan duo Grey tentang mereka yang tak akan kecewa dengan apa yang sudah tersaji di hadapan mereka ini ada benarnya juga.

"So, how's the appetizer?"

Wonwoo memejamkan matanya sambil mengunyah makanannya, ia tersenyum kecil saat mendengar James bertanya tentang bagaimana rasa makanan buatan Chef di restaurantnya. "Aku belum menemukan makanan yang rasanya setara dengan ini di Korea,"

James membulatkan matanya, tanda ia tak mengerti apa yang Wonwoo katakan. Kyungsoo melirik James sambil menahan tawanya. "He's saying that this is outstanding, James."

James mengangguk paham. "Aku sudah lupa bahasa Korea, hanya ingat beberapa."

"Kau pernah tinggal di Seoul, James?" tanya Wonwoo berharap lelaki di depannya paham perkataannya.

"Ya, aku tinggal disana cukup lama, sekitar…" James melirik Nicholas meminta bantuan menjawab.

"No, you're not, liar." ujar Nicholas setelah sukses menelan appetizernya yang kini sudah habis. "Dia hanya ke Seoul tiap satu tahun sekali, setelah berumur tiga tahun dia kembali ke Seattle bersama Mom. Aku tetap disana bersama Dad, dan kami berkumpul tiap Natal,"

Wonwoo terkekeh, Kyungsoo tertawa, James mengkerutkan wajahnya karena sepertinya cerita kakaknya barusan tidak baik untuk imejnya. "Dia bilang begitu karena dia ingin mendapat perhatianmu, Wonwoo. Jangan terjebak dengan kata-kata sok polosnya," Nicholas menambahkan beberapa peringatan yang sukses membuat Wonwoo tertawa dan Kyungsoo menampilkan bibir berbentuk hatinya lebih lebar lagi.

"You're telling them the bad side 'bout me, don't you?!" James memukul pelan lengan kiri Nicholas sembari protes pada kakaknya itu. "Seriously, dude. Don't ruin my good character!"

"You're ruining mine yesterday, dumbass. Now we're equal,"

Jika Taylor tidak datang tepat pada waktunya untuk mengantarkan menu utama, mungkin pertengkaran antar duo Grey akan berlanjut ke tahap yang tak bisa Kyungsoo bayangkan. Jika sebelumnya imej Nicholas di matanya adalah seorang laki-laki kaku yang menyeramkan sekaligus tampan, sekarang imej kakunya mulai luntur berganti dengan perangai hangat yang sebenarnya cukup playful walau memang tak ia tunjukkan pada semua orang. Sialnya, bagi Kyungsoo, kenyataan bahwa laki-laki tampan di depannya itu punya sisi hangat, membuat perasaannya semakin menguat.

"So, you had a Korean's name, James?" Kyungsoo berusaha mengaburkan khayalan anehnya tentang Nicholas yang tiba-tiba menggenggam tangannya dan menyatakan perasaannya pada Kyungsoo dengan membuka suaranya untuk menanyai James.

"Yap! Namaku… ah! Kim Mingyu! Benar, 'kan, Hyung?"

Nicholas tersenyum kecil saat telinganya mendengar adiknya menanyakan tentang nama Koreanya sendiri padanya. "Kalau kau saja tak ingat, bagaimana aku bisa tahu?"

"Berarti benar, namaku Kim Mingyu, Kyungsoo-ya." ulang James dengan aksen lucu yang membuat Wonwoo kembali tertawa kecil. "Why you always laughing at me, Wonwoo?"

"I think it's because he thinks you're unbelieveable, James. Not in a good way of course,"

"O yeah? Shut your damn mouth, Bro. Just please finish your meal," James menyerah menanggapi Nicholas yang terus-terusan menjelek-jelekkan namanya sejak tadi di hadapan Wonwoo dan Kyungsoo. Hilang sudah kesempatannya membangun imej tampan dan penuh wibawa di depan Wonwoo gara-gara kakak laki-lakinya yang menyebalkan itu.

"Menyenangkan bukan melihatnya merajuk begitu? Dia sudah berumur dua puluh tapi tingkahnya saat merajuk masih seperti anak balita," Nicholas berucap sembari membayangkan tingkah laku adiknya saat masih balita dulu. "Dulu dia benar-benar adik yang lucu dan menggemaskan, sekarang dia sangat menyebalkan."

"Can anyone please let me know what my brother said earlier? It must be me, right? Kyungsoo? Wonwoo?"

"No need to know, now please eat your meal, my brother.." lanjut Nicholas sambil berusaha menyembunyikan senyumnya. Apa jadinya jika James tahu bahwa barusan ia memanggilnya dengan adik yang lucu dan menggemaskan?

"So, Wonwoo, are you close with Kyungsoo?" James membuka suaranya kembali setelah sebelumnya ia melepas tawa renyahnya bersama dua tamunya.

"He's my boss, so yeah, you could say that."

"Believe me, I really don't believe if you are the CMO of your company, Kyungsoo. With your outfit tonight, many people would think that we're having a relationship with younger man." James menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya, mengunyahnya sebentar lalu kembali berucap pada Wonwoo. "You too, Wonwoo. Both of you really looks like a senior high school guys, and we? We're just like a businessman who had pedophile taste now,"

Nicholas memukul kepala James cukup keras hingga lelaki itu mengaduh kesakitan sedangkan Kyungsoo dan Wonwoo larut dalam tawa mereka malam ini.

"Diamlah, James. Kau membuat kita semakin terlihat buruk," Nicholas berusaha berbicara dengan perlahan agar adiknya bisa mengerti ucapannya.

James terkekeh pelan, ia mengerti ucapan kakaknya walau ia butuh waktu untuk mengartikannya dalam kepalanya sambil terus mengunyah makanannya dengan lahap. Kadang, James akan mengedarkan pandangannya pada Wonwoo yang kemudian akan cepat ia alihkan pada Kyungsoo karena detak jantungnya akan berantakan jika ia lebih lama menatap Wonwoo. Detik setelahnya, ia akan menemukan bahwa Nicholas sedang menatap Kyungsoo dengan begitu intens seolah tak ada satupun manusia di dunia ini kecuali Kyungsoo dan dirinya. Nicholas menyukai Kyungsoo? Ah, James sudah bisa menyimpulkannya saat lelaki yang lebih tua tiga tahun darinya itu bercerita tentang klien baru perusahaannya dua hari lalu.

Saat itu, mereka sedang makan malam di rumah kedua orangtua mereka. Seperti biasa, satu atau dua minggu sekali, dua putra kebanggaan Tuan Grey akan pulang ke rumah untuk bercengkrama dengan keluarga kecilnya. Dan pembicaraan yang terjalin antar ketiganya—Nyonya Grey kadang lebih memilih menonton televisi tanpa terlalu mencampuri urusan perusahaan yang lebih dipahami oleh ketiga lelaki kesayangannya, adalah tentang saham perusahaan dan atau tentang klien-klien baru jika ada. Memang membicarakan klien adalah hal biasa bagi Nicholas dan Tuan Grey, tapi yang spesial yang James tangkap adalah bagaimana tatapan mata Nicholas akan terlihat lebih hidup dan bersinar saat mereka membicarakan tentang Do Kyungsoo daripada tentang bagaimana kondisi saham-saham Grey di Amerika atau Eropa. Sejak saat itu, insting James yang jarang meleset memastikan bahwa kakak laki-lakinya memang menyukai klien barunya.

"Kyungsoo, apa kau tinggal bersama Wonwoo?" James mengajukan pertanyaannya yang kesekian pada Kyungsoo dan mendapat lirikan tajam dari Nicholas yang tak ia pedulikan. "I mean, both of you looks like a bestfriend, not just an office-mate."

"Kyungsoo Hyung tinggal di apartemennya sendiri, dan aku juga tinggal sendiri. Tentu apartemen kami berada di lokasi yang berbeda, gajiku tak cukup jika harus menyewa apartemen dengan kelas yang sama sepertinya," canda Wonwoo.

"Tell me about your family,"

Kyungsoo baru saja menyumpahi kelakuan Nicholas yang lagi-lagi mengeluarkan aura control-freaknya. Tak bisakah lelaki itu terlebih dulu menanggapi jawaban Wonwoo lalu baru menanyainya dengan pertanyaan yang lebih bernada tidak memaksa?

"Keluargaku?"

Nicholas mengangguk, menyelesaikan santapan malamnya dengan meminum wine terbaik yang sudah Taylor tuangkan sedari tadi untuknya, lalu kembali pada Kyungsoo yang tak pernah lepas dari pandangannya sejak tadi.

"Eum… aku hidup sendiri sejak umurku sepuluh tahun. Orangtuaku sudah meninggal sejak aku masih umur enam, selama satu tahun setelah mereka meninggal aku hidup bersama Wonwoo dan keluarganya sebelum memutuskan untuk hidup mandiri hingga saat ini,"

"Kami sudah berteman dan bertetangga sejak kecil, jadi ketika orangtua Kyungsoo Hyung meninggal, orangtuaku memintanya untuk tinggal bersama kami."

"Kenapa kau memilih untuk meninggalkan Wonwoo dan keluarganya, Kyung? Bukankah saat itu kau masih sekolah? SMP, bukan?" James menyambut pembicaraan kecil ketiga orang lainnya dengan aksen dan bahasa yang masih terbata-bata. Ia bersyukur bahwa ia punya aplikasi penerjemah di ponselnya, jadi ia dapat mengerti apa yang Kyungsoo bicarakan saat ini. Hanya saja, ia menyesal kenapa tak menggunakannya sejak tadi saja?

"Aku tak bisa terus menyusahkan Jeon ahjussi dan Jeon ahjumma, jadi kupikir aku memang lebih baik hidup sendiri saja. Lagipula, aku tak benar-benar hidup sendirian karena aku punya saudara dari Panti Asuhan yang jadi tempat tinggalku setelah dari rumah Wonwoo."

"Mengapa aku merasa ceritamu menyedihkan? Bisakah kita beralih membicarakan hal lain yang menyenangkan?" James berusaha sekuat tenaga menyusun kata-kata dalam bahasa Korea untuk berbicara dengan ketiga orang lainnya yang ternyata lebih senang berbicara dengan bahasa Korea daripada bahasa Inggris. "Apakah kalian sudah punya kekasih? Maksudku, kalian punya pribadi yang menyenangkan dan wajah yang menarik. Aku rasa pasti banyak yang tertarik pada kalian, 'kan?"

Nicholas menoleh cepat pada James seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja adiknya pertanyakan pada kedua tamu mereka. Kekasih, heh? Anak ini kenapa straight to the point sekali?, Nicholas membenamkan gumamannya dalam-dalam sambil berharap lelaki paling mungil diantara empat lelaki di meja ini menjawab dengan benar.

"Ahh, sepertinya pertanyaanku salah, ya?" James menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal untuk menghilangkan kegugupannya sendiri. "Sorry,"

Wajah mengkerut yang James tunjukkan rupanya mengundang tawa dari Kyungsoo dan Wonwoo yang sejak tadi memperhatikannya juga. Kyungsoo yang merasa tidak enak pada James, akhirnya memberanikan diri menjawab pertanyaan James sembari membumbungkan harapan besar bahwa Nicholas akan bersikap lebih manis dan bahkan jika memungkinkan, ia juga berharap lelaki penuh kontrol itu bisa sedikit melunak dan memberitahunya tentang perasaannya pada Kyungsoo.

"Aku tak percaya kau ini laki-laki usia dua puluh tahun, Mingyu-ya." goda Kyungsoo pada James yang kini mendongakkan kepalanya dan menampilkan senyum sumringahnya. "Kenapa tingkahmu saat merajuk sama seperti balita, hm?"

James terkekeh, entah kenapa ia merasa senang ketika ada yang kembali memanggilnya dengan nama Koreanya. Sejak kakak laki-laki dan Ayahnya resmi kembali ke Seattle, ia sudah tak pernah lagi berkunjung ke Negeri Ginseng itu, sehingga nama Koreanya pun tak lagi pernah berkumandang di telinganya.

"Agak aneh mendengar kau memanggilku dengan nama Koreaku, Kyungsoo, tapi aku menyukainya." James melebarkan senyumnya. "Mom said the same things, and I don't know what to do 'bout that.."

"Bagaimana jika Wonwoo dulu yang menjawabnya? Kau tidak menunggu jawabanku, kan, Mingyu-ya?"

James meletakkan garpu dan pisaunya di piring, meminum winenya lalu melepas tawa kecilnya. Kenapa laki-laki mungil itu tahu bahwa dia memang menunggu jawaban Wonwoo?

"Jawablah, Wonwoo-ya. Jangan buat Mingyu menunggumu lebih lama,"

Wonwoo menatap Kyungsoo malas lalu tertawa kecil. "I'm a little bit workaholic, so… yeah…" Wonwoo memilih menggantung jawabannya, berharap Mingyu—James, akan dapat menerka jawabannya sendiri.

Kyungsoo menangkap senyum tipis dan rona merah muda tercetak di pipi James dan juga Wonwoo. Ahh, dua orang ini, menggemaskan sekali!

"Lalu bagaimana denganmu?" Nicholas tiba-tiba kembali bersuara membuat Kyungsoo kembali gugup dan canggung.

"Me?"

"Yea, you had someone?"

Kyungsoo merasakan hawa sekitarnya mendadak penuh ketegangan hanya karena pertanyaan Nicholas. Laki-laki itu tertangkap masih menatap Kyungsoo tanpa sedikitpun beralih, seolah lelaki bermata bulat itu satu-satunya objek terbaik yang bisa ia lihat.

"Aku seorang wakil direktur perusahaan tersukses di Korea, dan waktu luang yang kumiliki akan selalu kuhabiskan untuk istirahat di apartemen, jadi…" Kyungsoo menutup jawabannya dengan kata-kata yang menggantung. Nampaknya, ia ingin seperti Wonwoo yang berharap bahwa lelaki di hadapannya akan mampu menebak bagaimana sesungguhnya liku romansa merah muda di hidup mereka.

Sayangnya, berbeda dengan James yang membalas jawaban Wonwoo dengan senyum tipis malu-malu dan pipi yang memerah perlahan, Nicholas bertindak berbeda. Alih-alih melukiskan senyum tipis di sudut bibirnya, setelah matanya bertemu pandang dengan Kyungsoo, Nicholas malah menghela napasnya yang terasa berat sambil mengalihkan pandangannya untuk beberapa detik dari Kyungsoo. Dan saat itu juga, perasaan buruk menyambangi Kyungsoo.

"I'm sorry, I can't do this.." Nicholas menggelengkan kepalanya, menunduk sejenak lalu menatap Kyungsoo yang sudah memandanginya dengan tatapan penuh tanya.

"You can't do what?"

"I'll take you home," Nicholas bangkit dari tempat duduknya, mendekati Kyungsoo dan menarik lengannya perlahan, meminta lelaki itu untuk bangkit dari sana dan mengikutinya keluar dari Altura.

James dan Wonwoo saling berpandangan penuh tanya. Jika Wonwoo tak menahan lengan sang lelaki bersurai pirang itu, mungkin James akan mengikuti Nicholas dan Kyungsoo yang sudah berada di luar Altura lalu memukul kakak laki-lakinya tepat di wajah karena bertindak bodoh di hari baik mereka hari ini.

"No, James. Let them be,"

Tatapan penuh tanya yang bercampur emosi nampak di mata James, tapi seluruh amarahnya terasa mereda seiring sentuhan Wonwoo di lengannya dan suara lembutnya yang menyapa gendang telinganya. Ia pun akhirnya kembali duduk dan membiarkan lelaki bodoh yang punya status sebagai kakak laki-lakinya itu menyelesaikan urusannya dengan Kyungsoo dengan caranya sendiri.

"Apa maksudmu kau tidak bisa? Kau tidak bisa melanjutkan semua hal ini denganku?"

"Ya,"

"Why? Because you had a girlfriend?"

"No, I don't do girlfriend.." Nicholas menarik pelan lengan Kyungsoo menjauhi lalu lalang orang yang berjalan di trotoar dan mendekati lokasi mobilnya yang terparkir di sisi jalan.

"Oh, so you do boyfriend then,"

"I don't do that either," Nicholas baru saja menyelesaikan ucapannya dan seorang remaja dengan skateboardnya nampak akan lewat dengan kecepatannya dan mungkin akan menabrak Kyungsoo jika ia tidak tepat waktu menarik lelaki mungil itu mendekat padanya.

Detak jantung Kyungsoo sekarang berkali-kali lipat gemuruhnya, jika sebelumnya ia hanya bergemuruh karena penolakan Nicholas yang tampak tak beralasan logis, sekarang ditambah dengan bertenggernya tangan besar Nicholas di pipi kanannya. Tangan itu, saat ini mengusap pipinya dengan lembut, membuat gemuruh amarah di dada Kyungsoo perlahan memudar.

"I'm not the right man for you, Kyungsoo.. akan sangat berbahaya jika kau terus berada di sekitarku, aku akan merelakanmu pergi.." Nicholas mengucapkan kalimatnya dengan nada yang lembut dan memabukkan Kyungsoo.

Kyungsoo yang sebelumnya menikmati sentuhan Nicholas di wajahnya seraya menutup kedua matanya, kini membuka matanya dan menatap lelaki angkuh yang sudah mencuri hatinya itu untuk beberapa saat sebelum…

"Goodbye Mister Grey,"

Detik setelahnya, Nicholas hanya mampu menatap punggung sempit Kyungsoo yang mulai menjauh dari pandangannya, disusul oleh sosok Wonwoo yang keluar dari Altura dan mengejar lelaki yang jadi atasannya itu. Pandangan Nicholas bergeming dari Kyungsoo, pandangan yang menyiratkan luka tersembunyi dan ketidakinginan untuk melepas yang harus ia tahan baik-baik demi kebaikan Kyungsoo sendiri.

"What the hell are you doin, Nic?! Are you nuts?"

"Take this and pay the food, I'm gonna drive you home,"

Nicholas tidak melepas pandangannya meski ia baru saja meminta James membayar makanan mereka dengan kartu kreditnya. Ia masih menatap dan terus menatap Kyungsoo dan Wonwoo yang kini sudah masuk ke dalam sebuah taxi dan meninggalkan kompleks Altura secepat yang mereka bisa. Nicholas pikir, meminta Kyungsoo pergi dari hidupnya saat ia masih belum yakin pada perasaannya sendiri adalah jalan terbaik untuk menyelamatkan Kyungsoo dari hal-hal buruk yang tidak Kyungsoo tahu dari dirinya. Nicholas pikir, menjauhkan Kyungsoo dari kehidupannya seawal mungkin akan membantunya untuk tidak semakin jauh jatuh ke dalam pesona lelaki mungil itu. Nicholas pikir, menolak panah cupid akan membantu hidupnya menjadi lebih baik. Yang tidak ia tahu, Kyungsoo bahkan sudah bertengger dalam salah satu sudut hatinya sejak kedua kalinya mereka bertemu di ruang rapat di kantornya. Yang tidak ia tahu, Kyungsoo punya sisi buruk yang lebih gelap dari hidupnya secara menyeluruh. Yang tidak Nicholas tahu, hatinya sudah terlebih dulu jatuh pada Kyungsoo bahkan sebelum ia menyadarinya.

.

-.000.-