Kyungsoo pikir ini ini adalah penolakan paling menyakitkan dalam hidupnya. Penolakan paling tak beralasan logis oleh manusia yang tidak sama sekali Kyungsoo pahami bagaimana sebenarnya jalan pikirannya. Kyungsoo pikir, dalam dua puluh tiga tahun hidupnya, ini adalah satu-satunya penolakan paling tidak ia perhitungkan.
"Tidak bisa? Lalu apa arti dari semua senyum manis itu? Apa arti dari semua perlakuan menyenangkannya itu? Apa arti dari semua tatapan yang seolah menginginkan aku untuk terus bersamanya apapun yang terjadi itu?! Sialan! Apa susahnya untuk bilang bahwa kau juga menyukaiku, Grey brengsek!"
Kyungsoo sudah mati-matian berteriak menyalurkan semua amarahnya di kamar mandi hotelnya sembari menghidupkan showernya. Wonwoo pikir membiarkan Kyungsoo dengan emosinya sekarang adalah jalan terbaik, lagipula esok hari mereka akan pergi dari Seattle untuk bersenang-senang, jadi mungkin pilihan untuk tidak mengusik Kyungsoo adalah yang terbaik.
"Hyung, jangan tidur terlalu malam. Besok kita akan pergi dengan temanku, kau ingat, 'kan?" Wonwoo bersuara di depan pintu kamar mandi dan Kyungsoo menyahutinya cepat.
"Benar, persetan dengan keberadaanmu, tatapanmu, senyummu atau apapun yang kau perbuat, Grey! Aku benci padamu!"
-.000.-
Kyungsoo menghabiskan waktunya setelah mendapat penolakan dari Nicholas dengan berlibur dengan teman-teman Wonwoo. Dia pikir, dia berhak mendapatkan waktu khusus untuk berbahagia selain dengan Nicholas yang sudah dengan sukses menyakiti perasaannya kemarin. Dia pikir, Nicholas berhak mendapatkan hukuman dengan tidak sedikitpun mendapat kabar darinya atau bahkan bisa punya kesempatan untuk bertemu dengannya walau sebentar. Penolakan semacam itu, entah kenapa membuat Kyungsoo yang sebelumnya sangat yakin bahwa ia dibutuhkan oleh Nicholas, menjadi ragu dan tak lagi yakin bahwa lelaki itu punya perasaan yang sama dengannya.
Ia sudah merendahkan egonya dengan mengaku pada Wonwoo bahwa ia memang menyukai Nicholas sejak pertama kali mereka bertemu. Ia sudah mengesampingkan kewajibannya untuk memberi kabar perkembangan informasi yang ia tahu tentang Nicholas pada dua orang saudaranya di Seoul. Ia bahkan sudah merasa jengah tiap kali Insung mengiriminya pesan bertanya tentang kapan ia bisa punya waktu luang untuk melakukan video call atau bahkan sekedar phone-sex.
Kyungsoo pikir, ia sudah mengorbankan beberapa hal yang biasanya tak akan ia ubah walau itu jadi permintaan dua saudaranya. Kyungsoo pikir, waktu satu minggunya di Seattle akan jadi cerminan surga dunia karena ada Nicholas Grey disana. Kyungsoo pikir, keputusannya untuk menerima kejatuhannya pada Grey adalah keputusan bernuansa merah muda terbaik yang pernah terjadi di hidupnya. Setidaknya, itu akan mengobati hari-hari tidak menyenangkan selama empat tahun lubang pantatnya dihujam penis milik direkturnya. Kyungsoo pikir, Kim Jongin bisa jadi dermaga terakhirnya.
Di luar dugaannya, pimpinan Grey Enterprises itu malah menyuruhnya menjauh dengan alasan akan berbahaya jika ia berada terus di dekatnya. Memangnya, seberbahaya apa seorang Nicholas Grey alias Kim Jongin yang tampannya setengah mati itu? Memangnya ada pria yang lebih berbahaya dari Jo Insung yang doyan sekali menghabisi nyawa rivalnya yang sulit ia kendalikan itu? Semakin Kyungsoo berpikir tentang laki-laki menyebalkan itu, semakin pening kepalanya. Untung saja ketiga teman-temannya punya banyak cara untuk membantunya menghilangkan suasana buruk pasca bertengkar dengan Nicholas kemarin. Jika tidak, mungkin ia bisa benar-benar gila.
Satu hari pasca pertengkaran kecilnya dengan Nicholas, Kyungsoo sudah lalui dengan sangat baik. Ia berbelanja banyak bahan makanan di salah satu toko grosir yang berada di jalur mereka menuju ke Portland. Sesampainya di rumah Vernon, salah satu teman Wonwoo yang ternyata merupakan adik kelasnya di Hyundai Chunghun, Kyungsoo dibantu oleh Seungkwan, kekasih Vernon, mulai memasak berbagai macam hidangan ala Korea yang sudah dipesan Wonwoo sebelumnya. Kyungsoo tidak tahu bahwa memasak akan semenyenangkan itu, setidaknya dengan memasak ia bisa sangat melupakan perkara Nicholas bahkan Insung.
Puas dengan menghabiskan banyak makanan, mereka berempat memilih untuk bersantai di halaman belakang rumah Vernon dengan sesekali bermain air di kolam renang atau sekedar berjemur. Yang jelas, Kyungsoo puas karena sehari penuh ia sama sekali tak berpikir tentang dua lelaki yang punya kontrol penting di hidupnya itu.
Selepas bersenang-senang dengan dunia dapur dan dunia tidur, kini saatnya Kyungsoo, Wonwoo, Seungkwan dan Vernon kembali ke Seattle. Tidak. Mereka tidak bertujuan untuk langsung pulang ke hotel tentu saja, karena mereka akan lebih dulu singgah di salah satu nightclub terbaik di Seattle, Aston Manor. Keputusan ini sudah mereka pertimbangkan mengingat Kyungsoo juga butuh asupan alkohol untuk sekedar membantunya melepas seluruh rasa kesal yang terpendam pada Nicholas. Lagipula, jarak dari Aston Manor menuju hotelnya hanya sekitar sepuluh hingga lima belas menit. Jadi ia pikir, tak jadi masalah bila ia memutuskan untuk mabuk malam ini.
Deru Black Audi A1 milik Vernon berhenti tepat di tempat yang disediakan pihak Aston Manor untuk parkir mobil. Setelah memastikan bahwa mobilnya terkunci, Vernon menuntun kedua tamunya untuk masuk ke dalam Aston Manor yang sudah sangat ramai. Jam menunjukkan pukul sembilan lebih lima menit, artinya perjalanan yang ia tempuh termasuk dalam kategori rata-rata; dua jam empat puluh lima menit dari Portland.
"Kalian bisa pesan minuman yang kalian inginkan. Malam ini, the bill is on me!" Vernon setengah berteriak pada dua tamunya yang kemudian mengangguk senang. Meninggalkan kedua tamunya, Vernon memilih untuk langsung turun ke lantai dansa bersama kekasihnya dan menikmati malam mereka kali ini dengan beberapa sentuhan yang intim, mungkin?
Wonwoo menemani Kyungsoo yang langsung memesan segelas Scotch pada seorang bartender, sedangkan Wonwoo memilih untuk menegak Margarita.
"Kau berniat mabuk malam ini, Hyung?" Wonwoo susah payah berteriak disamping telinga Kyungsoo berharap lelaki itu tetap bisa mendengar suaranya walau dentuman musik disini sangat keras.
Kyungsoo mengangguk cepat, meminta Wonwoo untuk mendekat padanya lalu menjawab pertanyaan lelaki itu saat bibirnya tepat ada di samping telinganya. "Aku butuh ini untuk meredakan emosiku,"
Wonwoo memundurkan kepalanya dan mengangguk paham. Jika Kyungsoo sudah menyinggung tentang emosi, artinya lelaki itu sedang merujuk pada kejadian dua hari lalu di Altura yang hingga saat ini Wonwoo tak paham bagaimana duduk perkara yang sebenarnya. Wonwoo tak berniat mabuk, lagipula toleransi tubuhnya pada alkohol cukup baik, jadi jika ia memutuskan untuk minum banyak pun, ia pasti akan tetap bisa sadar. Berbeda dengan Kyungsoo yang tak terlalu toleran pada minuman beralkohol.
Puas menegak beberapa gelas Scotch, Kyungsoo yang mulai pusing meminta satu shot Spirytus Vodka yang bartender miliki di susunan botol minuman keras di belakang tubuhnya. Minuman ini, punya gelar sebagai minuman dengan kadar alkohol paling tinggi, sekitar 96%. Kyungsoo tentu tahu resikonya jika ia memutuskan untuk menegaknya walau hanya satu shot.
"Okay, Hyung. Sudah cukup, kau sudah mabuk.." Wonwoo meminta Kyungsoo berhenti minum setelah satu shot Vodka sudah mengalir mulus menuju lambungnya.
"Ten…tu… aku… akan… ke… toilet…"
"Aku antar, ya?"
"Ti…dak…per…lu!" Kyungsoo menepis tangan Wonwoo dan memilih untuk mengarahkan kakinya menuju toilet yang ternyata sudah dipenuhi orang. Sambil menunggu giliran, entah darimana keberaniannya berasal, Kyungsoo mengambil ponsel di sakunya dan men-dial nomor Nicholas.
"Kyungsoo?"
Suara maskulin di seberang membuat Kyungsoo meloloskan senyumnya. "Yea, it's me, Nicholas Grey~"
"Aku senang kau menelponku, kemarin aku mencarimu ke hotel tapi kau tak ada disana."
Kyungsoo meloloskan tawanya kali ini. "Kau sedang dimana, Kyungsoo?"
"Sedang menunggu antrian because I need to pee really bad~"
"Do Kyungsoo, are you've been drinking?"
"Ya, I do, Mister fancy-pants~" Kyungsoo masih sempat melepaskan tawa kecilnya di telepon.
"Kyungsoo, listen to me, aku ingin kau pulang ke hotel sekarang juga."
"No~ Why are you so bossy, Nic?" Kyungsoo mulai mengeluarkan kekesalan terpendam dalam kepalanya. "Kyungsoo let's go for a coffee! No, Kyungsoo, I don't want you, get away from me~ Oh, come here, come here, no! Go away!"
"That's it. Tell me where you are, Kyungsoo.."
"I don't wanna let you knooooooow, Mister Greeeey~"
"Which bar? What it's called?"
"I gotta gooooo, Nic. Goodbye!"
Kyungsoo mematikan sambungan teleponnya, terkekeh sejenak lalu dengan asalnya berbicara pada seseorang di sampingnya. "I've told him everything, right?"
Sedetik setelahnya, ponsel Kyungsoo bergetar. Ada nama Nicholas Grey terpampang di layarnya. Sisi awake Kyungsoo menamparnya keras dan akhirnya ia kembali pada alam sadarnya, menyadari bahwa ia baru saja melakukan hal bodoh dengan menelpon Nicholas malam-malam begini, Kyungsoo mendadak gugup. Dalam kegugupannya, Kyungsoo memilih untuk menjawab panggilan dari Nicholas.
"I'm sorry—I…"
"Stay where you are, I'm gonna pick you up."
"What? Halo? Ha—shit.."
Kyungsoo mematikan ponselnya, kemudian segera memasuki toilet yang kosong untuk menuntaskan keperluannya disana. Setelah selesai, ia memilih untuk kembali pada Wonwoo yang telah menunggunya.
"Kau lama sekali, Hyung!"
"Aku harus mengantri,"
"Kami pikir tadi terjadi sesuatu, makanya Vernon hampir saja menyusulmu," Seungkwan menggenggam sebelah tangan Kyungsoo khawatir.
"Kau baik, Hyung?" Vernon lagi-lagi harus setengah berteriak untuk menyampaikan pertanyaannya pada Kyungsoo. Kyungsoo mengangguk lalu berbisik pada Wonwoo.
"Tadi aku menelepon Nicholas,"
Wonwoo menjauhkan wajahnya, memasang raut muka terkejut yang paling heboh yang ia miliki lalu berteriak pada Kyungsoo. "Kau pasti sangat menyesal sekarang," Wonwoo sedikit banyak tahu tabiat Kyungsoo. Apalagi pada saat mabuk seperti ini, harusnya memang ia menemani Kyungsoo saja tadi ke toilet.
"Kau tak tahu seberapa besar penyesalanku, Wonu-ya." teriak Kyungsoo pada Wonwoo. "Dia bilang dia akan kemari, kau tahu!"
Wonwoo membulatkan kedua matanya. "Kalau begitu, kau tak boleh minum lagi,"
"Tapi aku hauuuuus~"
"Tidak, aku akan memesankanmu softdrink atau air mineral saja. Kau benar-benar tak boleh mabuk saat dia datang, Hyung. Itu berbahaya!"
Baru saja selesai Wonwoo berbicara, Kyungsoo sudah mencuri satu shot dari Scotch miliki Seungkwan yang kelihatannya baru dipesan.
"Hyung!"
"Tenanglah!"
Wonwoo hanya mampu menghela napas pasrah sambil bertukar pandang dengan Vernon dan Seungkwan tentang apakah mereka harus pulang sekarang atau nanti saja. Namun karena Kyungsoo bilang bahwa pria penuh kontrol yang super tampan itu akan datang kemari, Wonwoo pikir akan lebih baik jika mereka menunggunya datang.
"Kalian kembalilah kesana, aku akan baik-baik saja menjaga Hyung disini," Wonwoo yang merasa tidak enak pada dua temannya pun meminta keduanya untuk kembali bersenang-senang. Memang, Kyungsoo dalam versi mabuk sama sekali tidak baik untuk banyak orang. Itulah kenapa dia agak keberatan saat Kyungsoo bilang bahwa dia memutuskan untuk mabuk.
Dentuman musik pilihan dari Disc Jokey tak berhenti menggema di seluruh sudut Aston Manor. Waktu yang sudah berlalu hingga hampir satu jam, tak begitu dirasakan oleh Kyungsoo dan Wonwoo. Kadang, Kyungsoo akan menggerak-gerakkan tubuhnya tak beraturan saat musik yang dimainkan terasa asik untuknya. Wonwoo? Dia tak banyak bersenang-senang malam ini karena Kyungsoo.
Tiba-tiba, laki-laki mungil itu memutuskan untuk berdiri.
"Hyung! Kau mau kemana?!"
"Aku harus keluar!"
Wonwoo melihat gestur mual dari Kyungsoo, jadi ia mempersilakan lelaki itu untuk pergi keluar dan memuntahkan seluruh isi perutnya.
Tak sampai lima menit kemudian, Kyungsoo sudah resmi memuntahkan seluruh isi perutnya.
"Ini, pakai ini.."
Seseorang menawarkan sebuah saputangan padanya, dan tanpa pikir panjang Kyungsoo pun menerimanya dan memakainya untuk membersihkan mulutnya sendiri. Saat ia kembali berdiri, ia terkejut menemukan sosok yang ia telepon tadi sudah berada di sampingnya.
"Saputanganmu jadi kotor, aku akan mencucinya nanti.." Kyungsoo masih dalam kondisi mabuk, jadi Nicholas tak heran jika alur bicara lelaki itu tak terlalu jelas.
"Let's get you home," Nicholas memegang kuat kedua bahu sempit Kyungsoo sambil menatapnya dengan penuh perhatian.
"No, aku kemari dengan Wonwoo~"
"James akan mengantarnya pulang,"
"James?"
"Ya, kami baru saja sampai Seattle dari California. Ayo, kita masuk ke dalam dulu. Aku harus memberitahu James bahwa aku akan mengantarmu pulang,"
Kyungsoo menuruti Nicholas dan membiarkan tubuh mungilnya diarahkan perlahan menuju Aston Manor lagi. Sesampainya di dalam, Kyungsoo menunggu Nicholas yang sudah berjalan menuju meja tempat Wonwoo dan James berada sekarang.
"Aku akan membawa Kyungsoo ke penthouse, kau bawa Wonwoo ke hotelnya. Besok mereka flight pukul sepuluh kurang lima menit, jadi pastikan kau sudah di bandara dengan koper mereka pukul sembilan tepat." Nicholas berbicara tepat di samping telinga James yang terlihat mendengarkan perkataan kakaknya dengan seksama.
"You got me,"
"Eum, Mister Grey," Wonwoo menahan langkah Nicholas yang akan pergi dari mejanya. "Please be nice to Kyungsoo Hyung, okay?"
Senyum tipis hadir di sudut bibir Nicholas, lalu ia melanjutkan langkahnya menuju Kyungsoo yang tersenyum menunggunya.
"Apa yang mereka katakan?"
"Wonwoo menyuruhku untuk berlaku baik padamu, sebenarnya itu lebih terdengar seperti ancaman seorang adik untukku." Nicholas menjelaskan pada Kyungsoo sembari menahan senyum kecilnya.
Tawa kecil Kyungsoo lolos begitu saja. "Kau diancam?"
Nicholas mengangguk kecil, sambil tetap menatap kedua mata Kyungsoo dengan tatapan lembutnya.
"Kau sudah disini, kurasa aku akan baik-baik saja jika aku pingsan sekarang." Kyungsoo meracau lagi.
"What? Now?"
Balasan Nicholas atas racauan Kyungsoo baru selesai, tetapi tubuh lelaki mungil itu sudah terkulai lemas di pelukannya. Tentu saja tanpa banyak berpikir Nicholas membawa tubuh mungil itu untuk segera masuk ke mobilnya dan kemudian menuju Escala dalam lima belas menit.
-.000.-
.
Kyungsoo akhirnya bangun dari tidur panjangnya sejak semalam. Dengan efek hangover yang menyapanya pagi ini bercampur dengan keterkejutan karena ia tidak mengenali kamar tidur yang sedang ia pakai, Kyungsoo terlihat sedikit linglung. Apalagi, ia menemukan dirinya sendiri sudah terbalut pakaian yang bukan miliknya, serta adanya segelas air putih dan obat yang sudah tersedia di meja nakas di samping tempat tidur.
"Selamat pagi Mister Do,"
Kyungsoo mengedarkan pandangannya ke arah sekat ruangan yang membatasi kamar tidur ini dengan ruangan di sebelahnya. Di sana sudah berdiri sosok yang ia kenal, sedang menatapnya sambil terengah-engah. Mungkin lelaki itu baru saja selesai lari pagi seperti biasanya?
"Aku… dimana?"
"Kau di penthouseku," Nicholas menjawab pertanyaan Kyungsoo dengan sedikit mengeraskan suaranya karena ia sedang memeriksa isi lemari pendinginnya dan menemukan ada roti tawar yang bisa ia panggang untuk Kyungsoo.
"Penthousemu? Ke—kenapa aku bisa di sini?"
Butuh waktu sekitar lima menit bagi Nicholas untuk kembali pada Kyungsoo yang masih bingung dengan keadaannya sekarang. Perlahan, Nicholas mendekati Kyungsoo sambil membawa roti yang sudah keluar dari toaster. "Makanlah,"
"Nic,"
Nicholas yang baru saja melepas bajunya tepat di depan Kyungsoo menghentikan kegiatannya dan menatap lelaki yang ada di tempat tidurnya.
"Kenapa aku bisa ada di sini?"
"Kyungsoo, kau ada disini karena aku tak mampu meninggalkanmu sendiri." Nicholas mendekati Kyungsoo perlahan. "Kau ada di sini karena aku tak mampu membiarkanmu sendirian,"
"Then don't.."
Nicholas mendesah lemah. "Kyungsoo…"
"Kau tak berniat untuk menjelaskan apapun tentang perkataanmu beberapa hari lalu?"
"Kyung…"
"Kau tak merasa kau berhutang penjelasan padaku?"
Nicholas memutuskan untuk duduk di depan Kyungsoo, menatap laki-laki bermata bulat itu dengan pandangan penuh rasa bersalah. "Aku mencarimu di hotel, tapi resepsionis bilang kau sudah pergi dari hotel bersama teman-temanmu."
"Kemana kemampuan pencarimu yang hampir sama dengan penguntit itu, Nic? Kau tak menggunakannya?"
"Kyungsoo… aku… aku pikir membiarkanmu bersenang-senang dengan teman-temanmu adalah keputusan terbaik untuk membantumu melepaskan emosimu. Jadi aku memutuskan untuk tidak mencarimu dan kembali pada pekerjaan yang sudah kuabaikan selama dua hari,"
"Kau pikir begitu? Lalu jika aku tidak meneleponmu karena aku mabuk, apa kau akan menemuiku?"
"Tentu. Aku sudah berencana menemuimu pagi ini, setidaknya sebelum kau terbang ke DC."
Kyungsoo memutar bola matanya malas.
"Kyungsoo, aku pikir aku memang berhutang penjelasan dan juga permintaan maaf padamu karena… karena telah membiarkanmu berpikir bahwa aku…" Nicholas menghela napasnya yang terasa berat. "I don't do romance, Kyung. Seleraku… tidak sama dengan kebanyakan laki-laki yang pernah kau temui. Kau tidak akan mengerti,"
"Enlighten me then,"
Nicholas bersumpah bahwa tatapan menuntut Kyungsoo yang baru saja menyambangi penglihatannya sukses membuat tubuhnya merasakan efek aneh yang tidak biasanya akan mampir setelah ada seseorang menatapnya tepat di kedua matanya. Apalagi, bibir tebal berbentuk hati itu baru saja pemiliknya gigit dengan gerakan yang begitu mengundang Nicholas.
"Kau sebaiknya segera mandi dan bersiap, sebentar lagi jam sembilan dan aku harus memastikanmu ada di bandara sebelum pukul sembilan lebih lima belas."
"Nic,"
Nicholas mendongakkan kepalanya, menemukan Kyungsoo memegangi kaus yang ia pakai sambil menatapnya penuh pertanyaan.
"Kau mengganti pakaianku?"
"Pakaianmu penuh noda muntahan, aku tak punya pilihan lain. Dan kupikir bajuku tidak terlalu buruk untuk kaupakai," jelasnya singkat. "Aku sudah meminta Sean membelikan baju untukmu, kau bisa memakainya setelah mandi."
"Sean?"
"Dia sopir sekaligus kepala keamananku," Nicholas membalikkan badannya dan melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi, tapi lagi-lagi panggilan dari Kyungsoo membuat kegiatannya terhenti.
"Nic,"
"Hm?"
"Semalam kau tidur dimana?"
"Tepat di sampingmu, kenapa?"
"T-tidak… la-lalu… a-apakah… apakah kita…"
Nicholas tahu kemana arah pembicaraan Kyungsoo, ia meloloskan senyum kecilnya lalu berbalik dan menatap Kyungsoo. "Aku tak berniat bermain dengan mayat," Kyungsoo menunduk cepat dan kembali memakan roti panggangnya.
"Kalau aku mau, aku bisa saja membuatmu tak bisa berjalan untuk satu minggu ke depan."
Nicholas mengejutkan Kyungsoo dengan tiba-tiba muncul di hadapannya, menyantap separuh roti panggang Kyungsoo dari sisi yang berlawanan dengan gigitan yang sudah Kyungsoo buat lalu kembali meninggalkannya untuk mandi. Meninggalkan Kyungsoo yang mematung sempurna karena ulah Nicholas yang sedikit tiba-tiba, meninggalkan Kyungsoo yang sudah kembali kerepotan karena detakan jantungnya ternyata mulai berantakan lagi.
Apa-apaan dia?! Is that even legal? Damn you Nicholas!
Umpatan-umpatan dalam hati Kyungsoo berakhir tak tersampaikan karena tak sampai sepuluh menit, lelaki yang ternyata punya abs sempurna itu sudah kembali telanjang dada di hadapannya.
"B-bisakah kau segera memakai bajumu?!"
"Kenapa? Apa aku tak boleh telanjang dada di rumahku sendiri?"
"I-itu…"
Nicholas terkekeh, lalu punggungnya kembali menghilang karena ia sudah masuk ke ruangan khusus pakaian-pakaiannya. "Kau segeralah mandi, atau kita akan terlambat.."
Tak ada jawaban dari Kyungsoo, Nicholas yang merasa heran pun segera memakai sweaternya dan keluar dari ruangan khusus pakaian miliknya menuju kamar tidurnya. Tidak ada orang, kemana dia? Batin Nicholas heran. Namun setelah mendengar gemericik air di kamar mandinya, Nicholas kembali tenang.
Lelaki dua puluh tiga tahun itu kemudian segera menuju ruang tamu, membuka laptopnya dan melakukan pekerjaan akhir pekannya seperti biasa. Mengecek beberapa dokumen perusahaan, mengecek kondisi saham-sahamnya, dan tentu saja mengurusi beberapa e-mail dari sekretarisnya yang memberitahukan tentang permintaan kerja sama dari beberapa perusahaan besar di berbagai penjuru bumi. Jika sudah menyangkut pekerjaan, keseriusan Nicholas tak bisa diragukan. Bahkan ia bisa saja berada di depan laptopnya seharian penuh tanpa ingat makan, minum dan juga mandi, tapi semua nampaknya mulai berubah sejak beberapa hari lalu. Sekarang, Nicholas merasa mudah sekali terdistraksi, apalagi dengan semua hal yang berhubungan dengan klien barunya yang kini sedang mandi di kamar mandi penthousenya.
"Nic,"
Sebuah suara berat khas lelaki menyapa indera pendengaran Nicholas, dengan segera lelaki itu menolehkan kepalanya dan pandangannya pada sumber suara, menatap sosok yang mendekatinya lalu kembali fokus pada laptopnya untuk mematikannya. Ia kemudian berdiri dan mendekati sosok itu perlahan.
"Kau terlihat cocok dengan sweater itu,"
"Aku menyukainya. Sean punya selera yang cukup baik dalam hal ini,"
Nicholas tersenyum kecil. "Dia memang punya selera yang baik dalam banyak hal. Dan sepertinya, kali ini aku harus memberinya ucapan terima kasih yang lebih,"
Kyungsoo menatap Nicholas dengan raut wajah menggemaskan yang hampir saja sukses membuat batin Nicholas meraung meminta pemiliknya untuk segera membungkam bibir si pelaku. "Kenapa?"
Nicholas harus merepotkan dirinya dengan berdehem sekali, mengalihkan pandangannya sejenak ke samping lalu kembali pada Kyungsoo hanya demi terkontrolnya detakan jantungnya. "Karena dia berhasil membuatmu terlihat begitu lucu dan menggemaskan,"
Lelaki yang lebih tua yang sebelumnya sudah berusaha sekuat tenaga menyembunyikan letupan-letupan kembang api merah muda di sekitar pipi gembulnya kini merasa usahanya sia-sia karena kekuatannya tiba-tiba hilang seiring dengan kata-kata manis yang lawan bicaranya keluarkan. Tak sadar, Kyungsoo menggigit bibir bawahnya sekali. Namun, siapa yang menyangka bahwa gerakan tak sadar yang selalu Kyungsoo lakukan tiap ia gugup itu akan membuat Nicholas berani untuk menyentuh wajahnya secara langsung?
"I really wanna bite that lip,"
Kyungsoo mendongakkan kepalanya, menatap Nicholas dengan tatapan sayu dan penuh harap. Sialan kau Nic! Bisakah kau segera melakukannya tanpa banyak bicara? Batin Kyungsoo berteriak.
"I think I'd love too,"
"Aku tidak akan menyentuhmu, tidak sampai kau bersedia menandatangani perjanjiannya,"
Dahi Kyungsoo mengernyit keheranan. "Perjanjian? Perjanjian apa, Nic?"
Bless Kyungsoo's heart for seeing Nicholas's killer smile for countless time.
"Aku akan menjelaskannya lain kali jika kau berkunjung ke Seattle lagi. Sekarang bersiaplah, aku akan mengantarmu ke bandara." Nicholas mengusak surai Kyungsoo pelan lalu berbalik dan kembali ke kamarnya untuk memakai sepatu, meninggalkan Kyungsoo dengan nyawanya yang sudah tinggal seperempat karena menerima segala macam perlakuan super manis dari pria paling angkuh yang pernah ia kenal sejak tadi.
Kini, kedua lelaki berbeda tinggi badan itu sudah berada dalam lift. Suasana canggung memenuhi ruangan berukuran 2x3x6 meter itu. Kyungsoo dengan segala usahanya mengontrol detak jantungnya yang sudah dipastikan tidak akan pernah berdetak normal selama ia ada di samping Nicholas dan Nicholas dengan kegugupannya serta dilema batinnya tentang apakah ia harus benar-benar menaati semua prosedur kehidupan cintanya yang sudah sejak lama jadi acuan hidupnya atau mencoba masa bodoh untuk pertama kalinya. Akhirnya, dengan rasa frustasi yang tidak mampu ia bendung lagi di kepala dan juga dadanya, Nicholas memantapkan keputusannya.
"Fuck the paperwork!" geraman Nicholas menggema di dalam lift.
Bahkan sebelum Kyungsoo menyadarinya, tubuhnya sudah terkungkung antara dinding lift dan tubuh Nic, dengan kedua tangannya yang berada di atas kepalanya, tangan Nicholas yang memegangi kedua tangannya dan juga tengkuknya serta bibir mereka yang saling beradu penuh nafsu seolah meloloskan seluruh keinginan terpendam masing-masing selama ini untuk saling menyatu.
Kyungsoo merasa lemah, sangat lemah. Ia tidak pernah menerima perlakuan seperti ini bahkan dari Direkturnya yang punya status sebagai Masternya. Sentuhan-sentuhan Nicholas di tengkuknya, lalu di pipi kemudian kini beralih ke pinggang yang membawa tubuhnya seolah semakin terjepit antara tubuh Nicholas dan dinding lift membuat seluruh saraf di tubuh Kyungsoo seperti terhipnotis untuk tidur sejenak. Kyungsoo ingin mempersilakan Nicholas menjelajahi mulutnya dengan lebih leluasa, jadi ia membuka mulutnya lebih lebar, memberi celah pada Nicholas untuk bermain tanpa halangan dengan lidahnya. Merasa Nicholas sudah benar-benar menggunakan kuasa penuhnya untuk menjelajahi mulutnya, Kyungsoo berinisiatif untuk bergantian menjelajahi rongga mulut Nicholas dengan lidahnya. Dan ternyata, laki-laki itu tidak menolak! Bahkan kini tahap penyatuan bibir mereka sudah hampir naik.
Detak jantung Kyungsoo makin tidak punya irama, tubuhnya sudah semakin terhimpit oleh badan Nicholas dan dinding lift, tangan Nicholas sejak tadi selalu menyentuh titik sensitifnya di daerah leher, pipi dan telinganya lalu ditambah dengan kenyataan bahwa Kyungsoo merasakan ereksi dari penis milik Nicholas di bagian perutnya. Ini gila! Apa dia akan menelanjangiku disini?!
Jika denting lift tidak berbunyi, mungkin prosesi penyatuan bibir mereka akan terus berlangsung dan perlahan naik ke tahap selanjutnya. Sayangnya, lift yang mereka tumpangi sudah sampai di lobi, jadi mau tidak mau, mereka harus segera keluar dari sana. Apalagi, sudah ada beberapa pengunjung Escala yang mengantri di depan pintu lift. Kyungsoo dan Nicholas segera melepaskan penyatuan bibir mereka begitu denting lift menyapa pendengaran mereka lalu mencoba bernafas teratur untuk beberapa detik sebelum Nicholas memulai langkahnya keluar dari lift sambil menarik tangan Kyungsoo perlahan.
Ada banyak sekali penghuni otak Kyungsoo yang bersorak setelah akhirnya lelaki angkuh yang sudah sukses membuat hidup pemilik mereka berantakan untuk semalam itu mau menurunkan egonya dan memilih untuk meninggikan nafsunya sejenak. Ada banyak juga pegawai di bagian Jantung dan Paru-paru yang memilih untuk menyalakan petasan dan bom molotov lebih sering dan lebih banyak dari biasanya untuk merayakan kejadian barusan. Efeknya, Kyungsoo menjadi semakin bingung dan canggung untuk bicara sejak masuk ke mobil Nicholas. Dan nampaknya, kondisi serupa juga terjadi pada sang pengemudi yang memilih bungkam karena tak tahu lagi apa yang harus ia katakan setelah dengan tidak sopannya ia mengijinkan dirinya sendiri untuk masa bodoh dengan aturannya.
"Eum… Nic?" Kyungsoo jadi pihak pertama yang membuka suara.
"Hm?"
"Apa… apa setelah ini… kau… maksudku… kita masih bisa bertemu?"
Nicholas tersenyum kecil, sambil tetap fokus pada jalanan ramai di depannya, ia membalas pertanyaan Kyungsoo. "Mungkin saja,"
"Mungkin?"
"Setelah ini kau akan sangat sibuk dengan urusan perusahaanmu, dan aku pun begitu. Kita sudah bertemu, dan hari ini kita berpisah, jadi jika kau bertanya apa setelah ini kita masih bisa bertemu maka jawabanku adalah mungkin saja."
Kyungsoo mengangguk mencoba memahami jawaban Nicholas walau sedikit sakit karena sepertinya lelaki itu tidak bersemangat untuk kembali bertemu dengannya setelah ini.
"Tapi aku akan usahakan sering mengunjungimu, apalagi jika kau sudah sepenuhnya menjadi milikku, maka akan kupastikan tak ada satu hari pun kau tak melihatku."
Kyunggsoo menunduk, meredam dentuman meriam di dadanya dan menyembunyikan rona merah muda yang muncul tiba-tiba di pipinya dari Nicholas yang terkekeh di kursi pengemudi. Sepenuhnya menjadi milik Nicholas? Apa aku bisa?
"Kenapa kau terlihat sangat menggemaskan jika sedang malu, hm?" tanya Nicholas sambil mengusak pucuk kepala Kyungsoo dengan tangan kanannya. "Bersiaplah, sebentar lagi kita akan sampai,"
Kyungsoo mengangguk dan memasukkan ponselnya ke dalam dompet besarnya lalu kembali melihat ramainya jalanan yang mereka lalui sedari tadi sampai akhirnya mobil yang dikendarai Nicholas tiba juga di Seattle-Tacoma Internasional Airport.
"Kau dimana?" pertanyaan langsung dari Nicholas ia tujukan pada seseorang yang sedang menjawab panggilan teleponnya di seberang sana.
"Main terminal, you here?"
"Parking lot. Wait for us,"
Kyungsoo menoleh pada Nicholas yang sibuk mengemudi menuju gedung parkir Sea-Tac. "Apa Mingyu bersama Wonwoo?"
"Sekarang kau memanggilnya dengan Mingyu?" tanya Nicholas sembari terkekeh pelan. "Ya, mereka sudah sampai sejak sepuluh menit lalu."
Kyungsoo tersenyum. "Aku rasa dia lebih senang kupanggil begitu,"
"Mom juga kadang memanggilnya Mingyu, hanya jika ia sedang kesal pada anak itu." Nicholas tertawa kecil sambil tetap berfokus pada jalanan serta mencari kantong parkir yang kosong untuk mobil kesayangannya. Tak lama, ia pun mendapatkannya.
"Tak ada barang yang tertinggal, kan?"
Kyungsoo menggeleng. "Kalaupun tertinggal, aku bisa mengambilnya kapanpun, 'kan?"
Nicholas menyeringai. "Tentu,"
Kyungsoo senang karena atmosfir disekitarnya dan Nicholas kini tak lagi canggung dan kaku. Kadang, tangannya masih secara tak sadar terarah pada bibirnya sendiri lalu ia akan tersenyum tiba-tiba setelahnya yang mengundang tanya dari Nicholas dan hanya dijawab dengan gelengan penuh senyum malu-malu dari Kyungsoo.
"Itu mereka,"
"Kyungsoo!"
"Pakai Hyung!" tegur Wonwoo sambil memukul pelan perut James-Mingyu.
"Iya… iya, Kyungsoo Hyung."
Kyungsoo tertawa kecil melihat kelakuan asistennya dan Mingyu. "Kau menjemputnya pagi ini?"
"Me? No, aku bersamanya sejak tadi malam."
"James menginap di hotelmu bersama Wonwoo tadi malam," jelas Nicholas sambil memasukkan ponselnya ke saku celana lalu mendekati Kyungsoo dan berbisik di telinganya. "Tolong hajar adikku jika ia berani mengecewakan Wonwoo,"
Kyungsoo sebelumnya berniat terkejut dengan jawaban Mingyu serta penjelasan tambahan dari Nicholas, tapi saat mendengar bisikan Nicholas, ia malah terkekeh.
"Jangan bilang mereka sudah melakukannya?"
"Kenapa tidak kau tanyakan langsung padanya?"
Mingyu berdehem sekali, menatap Kyungsoo yang terkekeh dan kakaknya yang tersenyum. "Kalian terlambat, apa kalian bangun kesiangan karena kelelahan?" tanyanya sembari menaik-turunkan kedua alisnya bersamaan sambil menatap Kyungsoo dan Nicholas bergantian.
"Oh, kau bertanya padaku sekarang. Bukankah harusnya kami yang bertanya padamu tentang hal yang sama?" jawab Nicholas sambil pura-pura kesal. "Wonwoo-ssi, adikku tidak menyakitimu, kan?"
Bukannya menjawab, Wonwoo malah menunduk dan menyembunyikan kenyataan bahwa pipinya menjadi merah karena pertanyaan Nicholas. Melihat itu, Mingyu pun melepaskan tawanya. "Kami sudah resmi sekarang, jika kau ingin tahu, bro."
"RESMI?" Kyungsoo cepat menanggapi pernyataan berani dari Mingyu yang kini sudah merangkul mesra asistennya yang menunduk malu.
"We did it last night, so… yea, now we're officially couple."
Jawaban Mingyu membawa gelak tawa bagi Nicholas, menambah keterkejutan Kyungsoo yang tidak percaya bahwa asistennya akan secepat itu bermain dengan Mingyu dan membombardir wajah Wonwoo hingga pipinya semakin merah sekarang. Sesaat setelahnya, dehaman Nicholas pun meruntuhkan suasana sedikit canggung yang baru saja tercipta.
"Kalian sebaiknya segera masuk, sebentar lagi pesawat akan take off,"
Mingyu melepas rangkulannya pada Wonwoo yang akhirnya kembali berani menatapnya dengan sedikit tawa di bibirnya. "Take care," ujar lelaki dua puluh tahun itu pada kekasihnya lalu menutupnya dengan ciuman lembut tepat di bibir dan dihadapan kedua laki-laki lainnya. "Laters, baby.."
Kyungsoo memilih untuk mengalihkan pandangannya dari Wonwoo dan Mingyu yang sedang bermesraan guna menghindari harapan-harapan anehnya pada Nicholas. Lain Kyungsoo, maka lain pula Nicholas. Jika Kyungsoo memilih mengalihkan tatapannya, Nicholas malah menatap kedua lelaki yang lebih muda darinya itu dengan tatapan malas lalu memilih untuk menatap Kyungsoo setelahnya.
"Jaga dirimu baik-baik, aku akan sering ke DC setelah ini. Dan jika kau luang, mampirlah ke Seattle kapanpun itu." Nicholas mencoba menyampaikan rasa tidak relanya akan kepergian Kyungsoo pada si mungil itu sambil mengusap pipi gembulnya dengan lembut dan menutupnya dengan seringai kecil. "Laters, baby.."
.
-.o0o.-
.
Sudah tiga hari Kyungsoo disibukkan dengan semua urusan kantor barunya di Washington DC. Dalam tiga hari itu, tak sampai lima kali Kyungsoo memegang ponselnya hanya untuk menerima panggilan baik dari direktur utamanya maupun dari lelaki yang sudah ia rindukan keberadaannya bahkan sejak ia duduk di kursi pesawat tiga hari untuk menuju DC tiga hari lalu. Rindu Kyungsoo membuncah, rasa masa bodoh Kyungsoo juga meluap-luap. Bedanya, rindunya tertuju pada lelaki muda yang sukses membolak-balik hatinya beberapa hari terakhir, sedangkan rasa masa bodohnya ia peruntukkan pada direkturnya yang sukses membolak-balik hidupnya sejak empat tahun terakhir.
Kyungsoo pikir, setelah semua urusan manajerial perusahaan yang akan diresmikan lusa ini selesai, ia harus menyempatkan diri untuk mengunjungi Nicholas. Karena jika tidak, ia tak tahu lagi harus mencari asupan semangat dari mana.
"Sajangnim, ini dokumen yang baru dikirim oleh kantor pusat. Mengenai daftar karyawan yang sudah direkrut oleh bagian HRD. Semuanya tinggal menunggu tanda tangan Sajangnim saja,"
"Apa aku bisa menandatanganinya besok?"
"Maaf Sajangnim, tapi Jo Sajangnim memberikan waktu hingga sebelum jam makan siang."
Kyungsoo memijat pangkal hidungnya pelan. Lelaki itu, kenapa tidak bisa berhenti membuat hidupnya penuh tekanan, sih?
"Oke, letakkan di sini dan kembalilah bekerja," Kyungsoo menyuruh Wonwoo meletakkan dokumen yang ia bawa dan kembali fokus pada dokumen lain yang sedang ia baca. Kantor baru DJ Company di Washington DC memang belum mempunyai wakil direktur karena Insung ingin yang memilih wakil direktur adalah direktur baru yang nanti akan dilantik jika sudah ada kandidat yang tepat untuk posisi itu. Dalam memilih sosok yang akan mengurusi perusahaannya, Insung tak pernah sedikitpun lengah dan membiarkan ada cacat dalam pekerjaan sosok baru itu. Karenanya, sampai saat ini, ia belum menemukan kandidat yang tepat. Tentu saja itu bukan salah para pelamar pekerjaan, karena semua itu murni ulah dari Kyungsoo dan dua saudaranya yang lain, Park Chanyeol dan Oh Sehun.
Jika bukan karena ia harus berpegangteguh pada rencana yang ia dan dua saudaranya susun sejak lama, Kyungsoo pastikan ia tak akan mau repot-repot memberikan desahan nikmat palsu tiap kali cambuk milik Insung menyapa kulit pantatnya yang mulus, atau cock-ring yang sangat ia benci karena menghambat kenikmatannya berejakulasi atau ball gag yang sering sekali Insung pakai untuk menyumbat mulutnya dan menahannya ketika ia akan berteriak keenakan agar istrinya tak mendengar.
Insung sudah punya istri? Laki-laki yang terpaut lima belas tahun dengan Kyungsoo itu sudah resmi menikah dengan putri salah satu kolega bisnisnya dua tahun lalu dan tetap menjalani hubungan terlarangnya dengan Kyungsoo hingga saat ini tanpa memperdulikan kondisi keluarganya sendiri. Insung menikahi putri koleganya demi perluasan kekuasaan perusahaannya, bukan demi hal lain. He's a businessman after all, a business man who barely knows about love.
"Mister Do, there's someone who wanna meet you in the lobby,"
Suara intercom dari telepon kabel di meja kerjanya menghancurkan flashback Kyungsoo tentang Insung. "Who is it, Don?"
"He said it's Mingyu,"
"Mingyu?" ulang Kyungsoo sambil tetap terkoneksi pada Donny, salah satu staf keamanannya. "Okay, Don. I'll be there in a few minutes,"
Kyungsoo menutup dokumen yang sudah selesai ia baca dan ia tanda tangani. Melongok ke dinding ruang kerjanya untuk memeriksa jam berapa sekarang, lalu segera bangkit dari tempat duduknya, mengambil ponsel dan dompetnya kemudian keluar dari ruang kerjanya.
"I'm out for lunch," ujar Kyungsoo pada sekretaris barunya di DC, Angela.
Di perjalanannya menuju ke lobi, isi kepala Kyungsoo dipenuhi dengan pertanyaan 'Untuk apa Mingyu menemuinya dan bukannya menemui Wonwoo?' lalu sedikit khayalan tentang bagaimana ia sejatinya menginginkan kehadiran kakak Mingyu di sini.
"Don, where's he?"
"He's right there, Mister Do. The one who wore a black shirt, and Gray hair."
Gray? Apa Mingyu merubah warna rambutnya lagi? Batin Kyungsoo sembari mendekati sosok yang ingin menemuinya.
"Mingyu-ya?"
Sosok yang sedang membaca koran itu pun segera melipat kembali korannya, meletakkannya di meja lalu berdiri dan kemudian berbalik menghadap Kyungsoo. "Good morning, Mister Do.."
Kyungsoo refleks menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya saat kedua mata bulatnya menatap sosok tinggi di depannya. "Nic?!"
Ya, itu Nicholas dan bukan Mingyu.
Nicholas memberi gestur diam pada Kyungsoo dan memintanya segera mengikutinya keluar dari kantornya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Kyungsoo pada Nicholas dengan suara yang tertahan. "Mingyu? Kenapa kau memakai namanya?"
Nicholas tersenyum kecil, mengusak surai Kyungsoo lalu membalas pertanyaannya dengan santai. "Karena aku ingin memberimu kejutan?"
"Kau bilang kau tak melakukan sesuatu yang berbau romantis!"
"Memangnya ini termasuk salah satunya?"
Kyungsoo mendengus kesal tapi tetap tidak bisa menyembunyikan rona bahagia di wajahnya. "Tentu saja tidak, Mister fancy-pants.."
"Apa kau tidak mau mengajakku makan? Sekarang sudah jam makan siang dan aku sangat lapar,"
Kyungsoo berniat marah tapi rasa lapar yang ditunjukkan Nicholas membuatnya urung marah. "Kau baru sampai?"
Nicholas menggeleng. "Aku sudah sampai sejak tadi pagi,"
"KAU MELAKUKAN VIDEO CALL DENGANKU SAAT KAU SUDAH DI SINI? MENYEBALKAN!"
Nicholas tertawa kecil saat tangan-tangan mungil Kyungsoo mencubit dan memukuli lengannya. "Jika aku tidak kelaparan, akan kubiarkan kau di sini sendiri." kesal Kyungsoo sembari berjalan menjauhi Nicholas dan mendekati mobilnya.
"Kau marah padaku?" Nicholas masih sempat terkekeh walau Kyungsoo sudah memasang muka kesalnya sejak tadi. "Tidak masalah, kau tetap terlihat menggemaskan bagiku,"
"NIIIIC!"
Dan tawa Nicholas pun resmi pecah saat itu juga, diikuti tawa Kyungsoo beberapa detik setelahnya. "Kau benar-benar lelaki menyebalkan,"
"Kau membawaku kemana?"
"Aku masih baru di sini, jadi kupikir, restoran yang punya rating bagus di Google adalah pilihan yang terbaik untuk perutmu."
Nicholas mengangguk paham lalu kembali menikmati jalanan Washington yang cukup ramai siang hari ini. Dadanya bergemuruh penuh luapan bahagia karena akhirnya ia bisa kembali melihat senyum Kyungsoo dari jarak dekat dan secara langsung tanpa perlu menggunakan ponsel atau laptopnya lagi. Ini memang hari kerja, tapi sejak dua hari lalu, ia sudah meminta sekretarisnya untuk mengosongkan jadwalnya hari ini dan besok. Jika bukan karena rasa rindu yang semakin hari semakin menggerogoti kepalanya, mungkin Nicholas tak akan susah payah ke Washington DC hanya untuk bertemu Kyungsoo, lelaki dua puluh empat tahun yang harusnya hanya berstatus sebagai klien kerjanya semata. Namun nyatanya, reaksi yang tubuhnya hasilkan setiap kali ia berada di dekat Kyungsoo tidak bisa membuatnya tetap menjadikan Kyungsoo hanya sebagai klien kerja.
"Sudah sampai!"
Nicholas menoleh ke arah pintu masuk restaurant yang Kyungsoo pilih. Dekorasi luarnya cukup apik, ada dua patung singa yang sedang duduk di bagian depan restaurant seolah menjadi penjaga gerbang yang menyambut tiap pengunjung yang datang. Pilar dan tembok eksteriornya dominan warna Indian red yang mirip chestnut.
"The Capital Grille?"
"Aku tak tahu harus membawamu kemana lagi, Mister Fancy-pants. Jadi kau tak boleh protes,"
Kyungsoo menarik tangan Nicholas memasuki restaurant yang punya rating lebih dari empat bintang di Google itu. Begitu masuk ke dalam, mereka disambut dengan interior yang cukup menarik dengan dominan warna coklat gelap di tiap sudut ruangan dan di tiap meja kursinya.
"May I help you, Sir?"
"Oh, I've booked a table before. It's Do Kyungsoo,"
"Ah, Mister Do? This way, Sir."
Nicholas mengikuti langkah Kyungsoo dan pelayan yang menunjukkan mereka tempat dimana meja yang Kyungsoo pesan berada. Setelahnya, seperti apa yang biasa pelayan lakukan, ia pun memberikan buku menu pada kedua lelaki berstatus direktur perusahaan itu.
"I want Seared Chilean Sea Bass and Manhattan 46,"
"Make it double,"
Kyungsoo dan Nicholas menutup buku menu mereka dan menyerahkannya pada pelayan.
"Kau nampak sibuk,"
Kyungsoo melepas tawanya mendengar celetukan pertama Nicholas setelah sampai di tempat makan. "Aku tidak pernah tidak sibuk, Nic."
"Jongin,"
Kyungsoo mengerutkan dahi. "Hm?"
"Panggil saja Jongin saat kau sedang berdua denganku,"
Sebenarnya jawaban Jongin—Nicholas cenderung biasa, tapi entah kenapa Kyungsoo bisa merona dibuatnya. Berdua denganmu? Sialan, kenapa kata seperti itu bisa membuat pipiku panas!
"A-aku tak tahu kau menyukai nama Koreamu,"
"Aku menyukainya, hanya saja aku tak pernah memakainya jika sedang di luar Korea."
"Lalu kenapa kau memintaku memanggilmu Jongin sekarang? Bukankah kita ada di luar Korea?"
"Karena kau memanggil James dengan nama Koreanya, aku penasaran apakah namaku akan terdengar bagus bila terucap dari bibirmu. Dan ternyata, memang bagus.."
Kyungsoo tahu seharusnya ia tidak mudah merona apalagi jika sedang bersama Jongin, tapi itu adalah masalah utamanya. Masalahnya adalah Jongin, laki-laki angkuh yang punya aura kuat yang sudah membuat sisi manlynya lenyap entah kemana jika mereka sedang bersama. Jadi bagaimana Kyungsoo bisa bertahan untuk tidak merona jika lelaki angkuh yang sialnya tampan itu sering sekali mengucapkan kata-kata manis padanya?
"Bisakah kau berhenti mengucapkan kata-kata seperti itu?" protes Kyungsoo sambil memijat pangkal hidungnya pelan. "Kau membuatku pening,"
"Kata-kata apa? Memangnya ada yang aneh dari jawabanku?"
Kyungsoo mendengus kesal. Mendebat Jongin sama saja seperti mendebat senior ketika ia masih berada di bangku sekolah. Senior selalu benar, dan begitu juga dengan Jongin.
"Lupakan,"
Nicholas terkekeh. "Kapan kau punya waktu luang?"
"Sejak bertugas sebagai direktur disini, aku tak tahu apa itu waktu luang, Jongin." balas Kyungsoo sambil meloloskan tawa kecilnya.
"Kau pulang kerja jam berapa hari ini?"
Kyungsoo terlihat berpikir sebelum menjawab pertanyaan Jongin. "Entahlah, masih banyak pekerjaanku yang belum selesai. Mungkin tengah malam,"
Nicholas mendesahkan napasnya sekali. "Pulanglah saat makan malam, aku akan membuatkanmu makanan."
Bukan Kyungsoo namanya jika ia tidak tertawa tiap kali mengetahui hal baru dari sosok tampan di hadapannya ini. "Kau bisa memasak?"
"Bukan hanya James yang punya kebiasaan memasak,"
Kyungsoo menahan tawanya yang selanjutnya, memasang muka serius lalu menatap Jongin lagi. "Baiklah, baiklah. Lalu kau mau memasak dimana?"
"Tentu saja di apartemenmu. Aku tak mungkin memasak di hotel, mereka tak menyediakan kompor di ruang tidur."
"Apartemenku? Kau bercanda? Kupikir kau akan bilang bahwa kau sudah menyewa suatu tempat untuk makan malam nanti,"
"Apa wajahku mengatakan begitu? Lagipula, aku baru sampai tadi pagi. Aku baru tidur setelah selesai menelponmu dan bangun pukul sebelas, tepat sebelum aku memutuskan untuk mengejutkanmu di kantor. Aku tak punya waktu mencari tempat referensi begitu,"
Kyungsoo mendesah seolah menerima permintaan Jongin untuk memasak di apartemennya adalah petaka. "Baiklah, aku akan mengantarmu ke apartemenku setelah ini."
"Copy, Mister Do.."
Detik setelahnya, Kyungsoo dan Jongin larut dalam berbagai pembicaraan serius maupun ringan. Dari tentang urusan perusahaan dan saham DJ Company yang sedang tidak stabil hingga tentang Kyungsoo dan Wonwoo yang terlalu sibuk bekerja sejak sampai di DC tiga hari lalu. Kyungsoo menghabiskan satu jam waktu makan siangnya untuk makan dan banyak bercerita pada Jongin seolah selama ini ia menahannya untuk ia sampaikan sendiri pada lelaki itu secara langsung. Jongin menghabiskan satu jam waktu makan siangnya untuk mendengarkan cerita Kyungsoo dan menanggapinya seperlunya tanpa benar-benar fokus pada kumpulan kata berbentuk cerita yang sejak tadi lelaki mungil itu sampaikan padanya.
Jongin berusaha untuk tetap paham dengan hal-hal yang Kyungsoo ceritakan dengan antusias, tapi nyatanya ia tidak bisa. Jongin terlalu menikmati bagaimana bibir Kyungsoo bisa begitu menggoda walau hanya digunakan untuk sekedar bicara, bagaimana mata bulat Kyungsoo bisa terlihat sangat indah padahal ia hanya akan menghilang sesekali saat lelaki itu tertawa, lalu juga bagaimana jemari tangan Kyungsoo bisa terasa begitu pas di sela-sela jari tangannya yang besar seolah celah itu memang tercipta hanya untuk jari-jari Kyungsoo. Jongin pikir selama hidupnya, ia hanya akan berkutat dengan kehidupan cinta yang tidak tentu dan cenderung gelap bagi sebagian orang. Kenyataannya, sejak bertemu Kyungsoo, ia merasa yakin bahwa hidupnya akan selalu jadi berwarna tiap kali mereka bersama.
-.000.-
Malam harinya, tepat saat jam makan malam, Kyungsoo sudah berada di apartemennya. Begitu masuk, ia sudah mencium bau makanan yang sukses membuat perutnya meraung minta segera diisi. Langkahnya pun ia percepat menuju dapur setelah sebelumnya meletakkan tas kerja dan jasnya di sofa ruang televisi.
"Wah, dia benar-benar bisa memasak…" puji Kyungsoo pada sang koki yang keberadaannya entah dimana saat ini. "Kemana dia, ya?"
Kyungsoo baru saja bermonolog dan bertanya dimana gerangan koki tampan itu saat mata bulatnya menangkap figur yang ia cari baru saja keluar dari kamar mandi tanpa sehelai benang pun menempel di tubuhnya. Sontak tubuh Kyungsoo menegang di tempat saat itu juga. Ia tak bisa berteriak apalagi berpindah posisi. Matanya memilih menikmati bagaimana sempurnanya ciptaan Tuhan yang satu itu. Bagaimana tubuh tinggi dengan kulit kecoklatan itu bisa terlihat begitu seksi walau hanya terlihat dari belakang, bagaimana pantatnya yang tak terlalu padat tapi sangat mampu membuat penis Kyungsoo perlahan ereksi karenanya, lalu juga bagaimana… UH! AKU BISA GILA! Teriak Kyungsoo dalam hati sambil memaksa dirinya untuk berbalik dan segera mengambil air minum secepatnya.
Setelah ia pikir ia sudah lebih baik, Kyungsoo yang berniat balik badan untuk segera makan dikejutkan dengan suara Jongin yang memanggilnya. Sialnya, gelas yang ia pegang kini sudah jatuh bebas ke lantai kayu apartemennya. Untung saja tidak pecah.
"Maaf, aku mengejutkanmu?"
Kyungsoo mengangguk sambil memungut gelasnya yang malang dan meletakkannya di meja makan.
"Kupikir kau baru akan pulang pukul sembilan,"
"A-aku s-selesai lebih cepat,"
Jongin mengerutkan dahinya. "Kau baik?"
"Y-ya! A-aku akan mandi!"
Jongin mengangguk dan membiarkan Kyungsoo yang merupakan pemilik apartemen ini untuk mandi sementara ia menikmati waktu santainya setelah memasak dengan menonton siaran berita di televisi.
Kyungsoo kini sudah berada di dalam kamar mandi, tentu saja telanjang dan berbaring di bathtubnya. Air sudah mengalir dari shower di atas kepalanya, membasahi seluruh tubuhnya tanpa terkecuali, meluruhkan seluruh rasa lelah yang menggelayuti Kyungsoo seharian serta menambah sensasi masturbasi yang sedang Kyungsoo lakukan saat ini.
Ya, laki-laki mungil itu memutuskan untuk menuntaskan hasratnya sendirian di kamar mandi dengan menahan desahan dan teriakannya sendiri tentu saja. Di benaknya yang jadi fantasinya adalah tubuh seksi milik Jongin yang baru saja ia lihat untuk beberapa detik sebelum ia mandi. Tangan kanan Kyungsoo sibuk dengan penisnya yang sepertinya sudah akan mencapai puncaknya sebentar lagi. Tangan kiri Kyungsoo sibuk memilin nipplenya yang sudah mengeras sejak tadi. Bibir Kyungsoo sibuk mendesahkan nama Jongin tanpa henti dengan volume pelan yang tidak akan mungkin Jongin dengar jika ia menyalakan televisi dengan volume sedang seperti sekarang. Tak lama, tubuh Kyungsoo terasa menegang, sesuatu seolah sedang berlomba-lomba keluar dari tubuhnya melalui lubang penisnya sekarang… dan—
"JOONGIIINN,"—ia pun mencapai puncaknya dengan tak lupa berteriak tertahan untuk sekedar menyebut nama lelaki yang jadi fantasinya malam ini.
Lelaki yang namanya Kyungsoo desahkan dalam tiap gerakan masturbasinya saat ini sedang serius menonton siaran berita. Tidak bisa terlalu fokus memang karena sudah dua kali ini ponsel Kyungsoo yang ada di atas meja di hadapannya ini bergetar menandakan ada telepon masuk. Jongin menyempatkan melihat layar ponsel Kyungsoo tanpa menyentuhnya. Ia sedikit terkejut melihat nama 'Insung Hyungie' muncul disana.
Bukankah itu nama direktur DJ? Untuk apa ia menelepon Kyungsoo malam-malam begini? Jongin membatin sembari berpikir. Ahh, di Korea sudah pagi. Mungkin ia mengecek kerja Kyungsoo.
Jongin tak menaruh curiga sedikitpun pada munculnya nama Insung di ponsel Kyungsoo malam-malam begini. Jadi, ia pun kembali fokus pada siaran berita di hadapannya. Tak lama, Kyungsoo pun selesai mandi.
"Oh, kau sudah selesai?"
Kyungsoo mengangguk pelan. Jongin hendak bangun ketika ponsel Kyungsoo berbunyi lagi. Kali ini, video call.
"Kyung, direkturmu menelepon.." ujar Jongin santai.
Kyungsoo yang baru saja akan mengambil air minum langsung menghentikan kegiatannya dan berlari menghampiri ponselnya untuk kemudian menuju kamarnya dan menutup pintunya lalu menguncinya, lalu ia beralih ke kamar mandi, berharap agar Jongin tak mendengar percakapannya.
"Halo Sayang~ Kenapa telponku tak kau angkat sejak tadi, huh?"
"Aku baru saja selesai mandi, Hyung. Ada apa meneleponku malam-malam begini?"
"Ahh, apa disana sudah malam? Mian, Kyungsoo-ya, rinduku padamu tidak kenal waktu, kau tahu. Aku rindu lubang sempitmu, Kyungsoo-ya. Kapan kau akan pulang, hm?"
Insung menatap Kyungsoo dari kamera ponsel sang lelaki mungil dengan penuh harap. "Apa istrimu tak bisa memuaskanmu, hm? Apa ia tak bisa memberi kenikmatan padamu?"
"Tentu saja, Kyungsoo-ya~ Hanya kau yang mampu memberikan semua itu padaku, kau tahu? Lihat ini, hanya dengan berbincang denganmu saja, aku sudah ereksi, Kyungsoo-ya. Tidak bisakah kau pulang sebentar kemari, eoh?"
Kyungsoo terkekeh kecil walau sebenarnya ia sudah sangat muak dengan segala kelakuan Insung padanya. "Sayangnya kau harus menunggu beberapa bulan lagi sampai kau menemukan penggantiku, Hyung. Ahh, sudah dulu, ya Hyung. Aku lelah sekali hari ini, jadi aku pulang cepat untuk bisa tidur cepat. Kau bisa meneleponku lagi jika sudah malam di Korea, bye Hyung.."
Kyungsoo melambaikan tangannya dan melempar kecupan jarak jauh untuk Insung sebelum menutup teleponnya. Ia menghela napasnya dalam-dalam sambil menerka apakah Jongin sempat berpikir aneh-aneh tentang Insung yang meneleponnya malam-malam begini. Dengan ragu-ragu, Kyungsoo membuka lagi pintu kamarnya dan mendekati Jongin yang sudah duduk di kursi makan.
"Ah, kau sudah selesai. Duduklah, lalu makan. Kalau tidak cepat, makanannya jadi semakin dingin, dan rasanya tidak akan seenak sekarang."
Kyungsoo tersenyum canggung lalu mengangguk, mengambil piringnya lalu mengisinya dengan nasi dan beberapa lauk-pauk buatan Jongin yang sudah tertata di meja makan.
"Apa direkturmu meneleponmu untuk bertanya tentang pekerjaan?"
Kyungsoo sukses tersedak saat pertanyaan Jongin terlontar begitu saja.
"Ini, minum."
"Apa dia sudah menelepon sebelum ini?" tanya Kyungsoo cemas.
"Ya, sudah dua kali. Aku melihat namanya muncul di layar, kupikir ia akan menanyaimu tentang pekerjaan hari ini. Karena biasanya, aku juga melakukan itu pada wakilku jika aku sedang overseas."
Kyungsoo mengangguk cepat seolah ingin pembahasan tentang Insung yang meneleponnya malam-malam begini itu tidak lagi diungkit. "Dia juga sering begitu," ujar Kyungsoo. "Wah, masakanmu enak, Jongin-ah. Aku tidak menyangka,"
Jongin tersenyum dan mulai ikut menyantap makanannya. "Aku dan James sudah belajar memasak sejak dia berumur sepuluh tahun. Awalnya kami hanya memasak saat malam natal, lama kelamaan kami akan selalu memasak bersama tiap akhir pekan. Dan kebiasaan itu berlanjut sampai saat ini,"
"Aku jadi ingin merasakan masakan Mingyu juga,"
"Aku akan membawamu ke apartmentnya jika ia pulang ke Seattle."
"Memangnya ia tak ada di Seattle sekarang?"
Nicholas menggeleng lalu kembali menyantap makanannya. "Dia baru saja pulang ke Paris kemarin. Dia sudah membolos terlalu lama,"
Kyungsoo terkekeh. "Sejak kapan dia di Seattle?"
"Dia sudah di Seattle selama dua minggu. Seminggu pertama ia tidur di rumah orangtua kami, lalu seminggu setelahnya ia tidur di apartemen."
"Apa… Mingyu seorang playboy?"
"Dulu, tapi sepertinya setelah bersama Wonwoo dia takkan berani berbuat macam-macam."
Kyungsoo mengangguk setuju karena jika sudah menyangkut sifat Wonwoo yang menyeramkan, tidak ada hal lain yang akan ia lakukan selain menyetujuinya.
"Eum… Jongin…"
"Ya?"
"Apa kau akan pulang ke hotel malam ini?" Kyungsoo bersumpah bahwa nada bicaranya tiba-tiba berubah menjadi seperti seorang gadis yang sedang menggoda kekasihnya untuk segera membawanya ke kamar dan bermain layaknya dua orang dewasa yang saling punya nafsu atas satu sama lain. Tentu saja ia tak merencanakan ini karena ia juga tak mengerti kenapa suaranya bisa tiba-tiba terasa seperti ini.
"Jika kau menginginkanku kembali ke hotel, aku—"
"No!" Kyungsoo menyela Jongin dengan nada bantahan yang cukup tinggi. "M-maksudku, kau tidak harus pergi jika kau tidak ingin."
"Lalu kau akan memintaku tidur di sampingmu, begitu?"
Kyungsoo menunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah merah serupa tomat masak. Kekehan Jongin menjadi pacuan wajahnya untuk semakin bertambah merah.
"Aku tidak biasa tidur dengan siapapun. Waktu kau mabuk, itu adalah pertama kalinya bagiku." Jongin menjawab dengan santai, sambil menyesap coklat dinginnya. "Aku akan tidur di sofa, lagipula besok siang aku sudah harus kembali ke Seattle."
"Secepat itu?"
Jongin mengangguk dan Kyungsoo memasang raut wajah sedihnya secepat kilat. Tidak bisakah ia punya waktu lebih lama bersama Jongin kali ini?
"Setelah peresmian, kalau kau punya waktu luang, kau bisa ke Seattle. Aku akan minta Sean menjemputmu di bandara nanti," Jongin menenangkan Kyungsoo dengan mengusap pipi kanan lelaki itu lembut. "Dan berhentilah menggigit bibirmu, kau mengujiku jika kau melakukannya. Apa kau tahu itu?"
Kyungsoo terkekeh. "Bagaimana jika memang itu tujuanku?"
Jongin berdiri, lalu berjalan mendekati Kyungsoo yang tetap duduk di tempatnya dan menunduk mencoba mempersempit jarak wajahnya dengan Kyungsoo. "Maka aku akan menghukummu,"
Hukuman yang diberikan Jongin mungkin akan jadi hukuman paling Kyungsoo inginkan seumur hidupnya. Bahkan jika memungkinkan, ia akan terus melakukan banyak hal yang membuatnya menjadi tersangka agar Jongin bisa terus menghukumnya jika bentuk pembelajaran yang Jongin berikan adalah sebuah ciuman panas yang selalu ia inginkan setiap kali Jongin berada di dekatnya.
Jongin memegang kendali sepenuhnya dengan mengunci pergerakan kedua tangan Kyungsoo yang tadinya hendak merangkul lehernya. Satu tangan ia gunakan untuk menahan tangan Kyungsoo yang kini sudah berada di belakang kepalanya sendiri persis seperti seorang tersangka yang baru saja ditangkap oleh pihak kepolisian. Dengan satu gerakan itu saja, ia sudah melakukan dua pekerjaan. Mengamankan tangan Kyungsoo dan menjadikan kepala Kyungsoo lebih mendongak ke atas, memudahkannya untuk menjelajahi rongga mulut lelaki mungil itu. Satu tangan Jongin yang lain berada di pinggang Kyungsoo dan terus menyentuhnya, mengusapnya hingga sang pemilik kadang melepaskan desahannya tanpa sadar.
Ciuman mereka saat ini punya durasi lebih lama dari sebelumnya. Selain mereka sedang berada di apartemen Kyungsoo yang tentu saja akan lebih aman dari lift, mereka juga tak punya kegiatan yang lebih menyenangkan daripada ini. Bibir Kyungsoo begitu menggoda, itulah alasan Jongin melarang lelaki itu menggigit bibirnya sendiri. Bibir Kyungsoo terasa sangat manis dan memabukkan, itulah alasan Jongin ingin terus menyatukan bibirnya dengan bibir Kyungsoo sesering mungkin setiap kali mereka bertemu. Bibir Kyungsoo adalah lumbung dosa baginya, tapi sayangnya tak ada satupun Santo yang mampu menyelamatkannya dari dosa semanis Kyungsoo.
Lidah Kyungsoo dan Jongin sudah saling beradu sejak satu atau dua menit yang lalu. Mereka juga tidak lupa untuk saling memagut bibir lawannya masing-masing untuk meyakinkan diri mereka sendiri bahwa ini bukanlah mimpi belaka. Tangan Kyungsoo sekarang sudah berpindah ke bagian belakang tubuhnya, lagi-lagi mirip seperti terdakwa yang akan diborgol oleh pihak berwajib karena baru saja ketahuan melakukan tindak kejahatan. Tentu saja bagi Jongin, Kyungsoo yang menggigit bibirnya sendiri adalah tindak kejahatan paling fatal. Jika dibiarkan, Jongin bisa lepas kendali lagi dan kembali masa bodoh dengan aturan hidup yang sudah ia susun rapi. Setelah yakin bahwa tangan Kyungsoo tak akan bergerak, Jongin memusatkan pergerakan kedua tangannya di kedua sisi pipi dan leher Kyungsoo untuk lebih mudah mengontrol penekanan ciumannya.
Walau disibukkan dengan prosesi penyatuan bibir dan sekaligus pertukaran saliva beserta berjuta-juta kuman dan bakteri, mereka tak lupa untuk menyempatkan diri mengambil sumber kehidupan mereka; bernapas. Tentu saja setelahnya, prosesi itu akan kembali dilakukan dengan posisi tangan yang kembali berganti tempat agar tak terjadi kram pada masing-masing anggota tubuh mereka.
Kyungsoo merasakan penisnya sudah kembali ereksi. Dan ini adalah hal paling sial baginya karena ia tak mendapat sinyal apapun dari Jongin tentang penyatuan tubuh mereka di area yang lain. Tak mau dirinya lebih tersiksa lagi karena tak bisa berbuat lebih jauh, Kyungsoo memaksa Jongin menyudahi pertarungan mereka.
"Kita harus berhenti,"
"Ya, aku tahu." Tapi bibirmu terlalu adiktif bagiku, Kyungsoo.
"Maaf, aku pikir aku terlalu lelah malam ini, Jongin-ah.." tapi tidak masalah jika kau menginginkan tubuhku berada di bawahmu malam ini.
"Aku tahu, maafkan aku." Seharusnya aku tidak menciumnya seperti ini, sialan, aku butuh kamar mandi.
"Aku akan membawakanmu selimut dan bantal," belum terlambat jika kau memang menginginkan tubuhku untuk kau masuki, Jongin-ah..
"Terima kasih." Aku tak bisa bertindak lebih jauh lagi denganmu, Kyungsoo-ya..
Ciuman terakhir mereka lakukan dengan lebih lembut, lebih tanpa nafsu dan lebih penuh perasaan. Jongin memundurkan tubuhnya, membiarkan Kyungsoo berdiri untuk masuk ke kamarnya dan mengambil bantal serta selimut untuk dirinya.
"Kyung, aku akan keluar sebentar membeli bir. Kau segeralah tidur,"
Kyungsoo menoleh lalu mengangguk paham dan menegahkan Jongin pergi, setidaknya ia akan lebih mudah meneriakkan nama Jongin di kamar mandinya setelah ini. Persetan dengan jutaan calon pemimpin masa depan miliknya yang akan begitu saja terbuang dan berakhir di saluran air malam ini, menuntaskan hasrat dan nafsunya yang masih di pucuk kepalanya lebih penting.
"Hati-hati, Jongin."
Dan tertutupnya pintu apartemen Kyungsoo pun menjadi titik awal bagi keduanya untuk mendesahkan napas lega setelah sebelumnya susah payah menahan beberapa lonjakan hormon yang seharusnya diselesaikan di atas ranjang daripada berakhir di tempat yang tidak semestinya.
-.000.-
