I need a gangsta, to love me better, than all the others do..
Sudah satu minggu berlalu sejak Jongin kembali ke Seattle dan berkutat dengan pekerjaannya yang menumpuk. Beberapa perusahaan meminta kerjasama dengan Grey Enterprises dengan tumpukan permintaan yang spesifik dan menuntut Jongin untuk turun tangan secara langsung. Sebagai perusahaan yang bergerak di banyak bidang, Jongin selalu berusaha bekerja sebagai CEO yang professional meskipun itu artinya ia harus terbang dengan helikopter di pagi buta hanya untuk mendatangi klien yang ada di ujung bumi.
Jongin baru selesai menyuruh Sean menjemput Kyungsoo di bandara sekitar lima sampai sepuluh menit lalu. Kemarin lelaki itu meneleponnya dan bilang bahwa dia akan ke Seattle hari ini. Sebenarnya yang membuat Jongin makin pusing adalah masalah aturan hidupnya tentang romansa merah muda, jika ia memberitahu Kyungsoo sisi gelap kehidupan seksualnya, apakah lelaki itu akan tetap tinggal atau malah perlahan mengambil langkah mundur dan meninggalkannya?
Selama ini, Jongin tak pernah melibatkan secuilpun perasaannya ketika membicarakan tentang urusan ranjangnya. Dan Jongin harap hal itu tetap berlaku walau ia sudah bertemu Kyungsoo. Sebagian dari Jongin positif menyatakan bahwa akan ada lebih dari separuh perasaan Jongin yang terlibat kali ini, sedangkan sisanya tetap berpegang teguh pada prinsip bermain di ranjang tanpa melibatkan perasaan. Sialnya, sisi Jongin yang setuju adalah pihak yang menang dan sekarang Jongin pening bukan kepalang. Tinggal satu langkah lagi untuk memberitahu Kyungsoo tentang kehidupannya, apa yang akan ia lakukan bila setelah ini Kyungsoo memberinya cap lelaki aneh, kasar, tidak waras dan sebagainya? Bagaimana jika Kyungsoo berubah jadi pihak yang membencinya? Jongin sudah sejauh ini melibatkan hatinya, apa ia bisa berpaling?
"Mister Grey, Mister Do is here."
Suara sekretarisnya membuyarkan lamunan bodoh Jongin. "Ya,"
"Hey,"
Kyungsoo masuk, mendekati meja Jongin dan memeluknya setelah sekretaris sang CEO menutup pintu. "Kau sibuk?"
"Hanya beberapa pekerjaan kecil. Kuharap tidak ada panggilan mendadak yang menyuruhku terbang hingga ke Madagascar."
Kyungsoo tertawa kecil, menelaah lamat-lamat gurauan Jongin yang sebenarnya memang nyata itu. "Kau pulang jam berapa? Apa aku perlu membuatkanmu makan malam juga?"
Jongin sudah kembali duduk di singgasananya, tapi ia urung membuka dokumen kerjanya karena mendengar pertanyaan Kyungsoo. "Kau lama di Seattle?"
"Mungkin dua atau tiga hari? Aku sengaja kabur dari kantor, kok. Pekerjaan disana sudah kuserahkan pada Wonwoo, dia akan menyelesaikannya dengan baik."
"Kau akan kena marah James jika ia tahu kau mempekerjakan kekasihnya terlalu berat,"
"Bagaimana lagi? Aku 'kan harus menagih kata-katamu,"
Jongin menutup dan menepikan dokumen kerjanya, menatap Kyungsoo dengan tatapan tajamnya seperti biasa. "Menagih kata-kataku?"
Kyungsoo mengangguk yakin lalu duduk di kursi yang sudah disediakan di seberang singgasana Jongin. "Kau bilang kau akan menjelaskan padaku tentang dokumen perjanjian—atau apalah itu,"
Shit.
"Kau tidak lupa, 'kan, Jongin?"
"Aku tidak pernah melupakannya, tapi apa kau serius tentang ini?"
"Oh ayolaaaah Mister Fancy-pants~ Aku kembali ke Seattle untuk bersenang-senang, kau tahu. Dan tentu saja bagian bersenang-senang itu adalah denganmu,"
Jongin tertawa kecil. "Kau sedang tidak mabuk, 'kan?"
"Terakhir kali aku mabuk adalah ketika akhirnya aku bangun di penthousemu dalam balutan baju yang berbeda. That's my last,"
"Aku masih banyak pekerjaan, kau bisa istirahat di apartemen James hingga pukul tujuh malam nanti. Aku akan minta Sean menjemputmu,"
Kyungsoo sedikit heran dengan keputusan Jongin. Kenapa ia tidak membiarkan lelaki mungil itu berada di penthousenya saja alih-alih di apartemen adiknya?
"Kau mau pergi sekarang atau.."
"Aku akan pergi sekarang," ujar Kyungsoo setengah kesal karena merasa ditolak lagi oleh Jongin.
"Berdandanlah yang sederhana untuk nanti malam, aku menyukai kau dengan stylemu yang sederhana." Jongin yang mengerti bahwa lelaki mungil itu sedang merajuk pun memilih untuk segera berdiri dan menghentikan langkahnya sebelum ia mencapai pintu. "Laters, baby.." tutup Jongin sambil mengusap pipi Kyungsoo lembut lalu membukakan pintu ruang kerjanya untuk Kyungsoo dan mengantarnya hingga ke lift.
Di dalam lift Kyungsoo tidak bisa menghilangkan ingatannya tentang ciuman panasnya dengan Jongin beberapa hari yang lalu. Meski singkat, Kyungsoo harus mengakui bahwa itu adalah salah satu ciuman terbaik yang pernah ia rasakan. Tanpa sadar, tangan Kyungsoo sudah menyentuh bibirnya sendiri seolah menginginkan hal yang sama terjadi lagi hari ini. Firasatnya, Jongin menyembunyikan sebuah hal darinya, tapi ia pikir itu cukup wajar mengingat mereka baru berkenalan beberapa minggu lalu dan awalnya tujuannya murni tentang pekerjaan. Siapa yang sangka bahwa Nicholas Grey alias Kim Jongin punya aura sekuat itu dan semenggoda itu? Jika bukan karena terikat dengan seluruh rencananya bersama Chanyeol dan Sehun, Kyungsoo yakin ia akan dengan senang hati mengundurkan diri dari DJ Company demi bekerja satu kantor dengan Jongin. Dimana kemungkinannya adalah ia akan terus bekerja serampangan karena tak bisa konsentrasi, atau kemungkinan terbaiknya adalah ia bisa menikmati sensasi pembobolan lubang sempitnya oleh penis Jongin yang—
"Ya Tuhan, aku mulai gila.."
Kyungsoo memaksa lamunan erotis di kepalanya untuk segera pergi seiring dengan denting lift yang menandakan bahwa ia sudah sampai di lobi Grey House. Seperti sebelumnya, ia menemukan Sean sudah berdiri menunggunya.
"Sean,"
"Mister Do,"
Sean membukakan pintu penumpang bagi Kyungsoo dan menutupnya perlahan setelah memastikan lelaki istimewa bagi atasannya itu sudah berada di dalam mobil. Lalu ia mengarahkan langkahnya menuju kursi kemudi.
"Sean, do you know why Mister Grey wants me stay at James's apartment?" pertanyaan sedikit lancang dari Kyungsoo mengalir begitu saja. Ia tahu mungkin setelah ini akan ada banyak sekali hal-hal yang ingin Sean pastikan padanya tentang hubungannya dengan Jongin tapi rasa penasarannya sudah diubun-ubun!
"Mister Grey doesn't like anyone else entering his penthouse, Mister Do."
Tidak suka? Seberapa besar ketidaksukaan lelaki itu terhadap tamu yang memasuki penthousenya? Dan bagaimana bisa dia bilang tidak suka ketika lebih dari seminggu yang lalu ia bahkan tidur di satu tempat tidur yang sama dengan laki-laki rumit itu. Satu lagi sisi misterius dari Jongin yang tidak ia pahami.
"Even his Mom?"
"Even his parents, Mister Do." sopan dan professional, itulah rangka jawaban yang diberikan Sean pada Kyungsoo. Seolah ingin tetap menjaga informasi sekecil apapun tentang Bosnya, karena siapa yang ingin punya sejarah dipecat dari Grey Enterprises hanya karena kedapatan membeberkan informasi tentang sang CEO tanpa persetujuan dari sang empunya informasi? Menghargai apa yang sudah Sean lakukan, Kyungsoo hanya mengangguk dan berhenti menanyakan segala macam pertanyaan yang terkumpul di otaknya seperti tentang 'Perjanjian apa yang sebenarnya Jongin maksud?' atau 'Apa saat makan malam nanti akhirnya dia akan membuatku mendesah dibawahnya?' dan beberapa pertanyaan berbau erotis lainnya.
Tak terasa, sudah tiga puluh menit perjalanan berlalu, dan Sean pun mulai memperlambat laju mobil ketika memasuki Edmon Way.
"Kita sudah sampai, Do Sajangnim,"
"Kau bisa bahasa Korea?"
"Saya lahir dan besar di Daegu, Sajangnim. Lalu saya bertemu Tuan Besar Grey dan bekerja padanya." Sean membocorkan sedikit informasi tentang dirinya pada Kyungsoo yang kemudian mengangguk dan tersenyum. "Compass dekat dengan Marina Beach Park, apabila Tuan ingin berkunjung kesana selama berada disini, saya akan mengantarkan Anda."
"Apa Nicholas mengijinkannya?"
"Tuan Grey memberikan kebebasan pada Tuan untuk bepergian selama itu bersama saya dan atas ijin Tuan Grey,"
Apanya yang bebas kalau begitu? Batin Kyungsoo.
"Silahkan, Tuan.." Sean membukakan pintu mobil, mempersilakan Kyungsoo keluar, menutup kembali pintu mobilnya lalu membuka bagasi dan mengeluarkan tas ransel milik Kyungsoo. "Mari, Tuan.."
Kyungsoo masih mengagumi bagaimana udara disekitar Compass Apartments masih begitu sejuk dan suasananya juga asri. Mungkin karena daerah ini dekat dengan pantai?
"Kamar Tuan Muda Grey nomor 140, ini kuncinya Tuan."
"Sean, apa James tidak akan marah aku menumpang disini?"
"Tuan Grey sudah menghubungi Tuan Muda untuk meminta ijin dan ia mengijinkannya," Sean menjelaskan dengan singkat. "Jika Tuan membutuhkan saya, Tuan bisa menghubungi saya di nomor ini. Selama Tuan Do disini dan Tuan Grey sedang tidak bisa menemani, saya bertugas untuk menjaga keamanan Tuan Do."
Sekilas, Kyungsoo merasakan hawa panas menjalar di wajahnya. Kenyataan bahwa laki-laki angkuh itu ternyata sudah meluangkan waktunya untuk memberikan kontrol dan pengamanan penuh atas diri Kyungsoo selama ia berada di Seattle. Bukankah itu satu lagi bukti bahwa Kyungsoo punya posisi yang berbeda dari orang lain di hidup Jongin?
"Ada lagi yang Anda butuhkan, Tuan?"
"Ah? Tidak, Sean. Terima kasih, aku akan menghubungimu jika aku butuh sesuatu."
"Selamat beristirahat, Tuan. Saya akan berada disini pukul tujuh malam untuk menjemput Anda,"
Kyungsoo mengangguk paham dan Sean pamit untuk kembali ke Grey House dan berkutat dengan pekerjaannya sebagai kepala keamanan pribadi Nicholas Grey. Sepeninggal Sean, Kyungsoo langsung masuk ke dalam apartment Mingyu dan melihat dekorasi yang rapi serta sangat cozy, lelaki mungil itu melepaskan desahan kecilnya. "Mingyu benar-benar berbeda dari Jongin,"
Sedikit banyak ia merasa beruntung karena bisa masuk ke apartment Mingyu dan melihat seluruh perabotan beserta segala macam benda yang Mingyu simpan di apartmentnya tanpa disertai teriakan larangan dari sang empunya saat ia ingin membongkar sesuatu. Sayangnya, baru saja ingin melancarkan niatnya menjelajahi apartment Mingyu lebih jauh, telepon apartment itu berbunyi.
"Halo,"
"Yo, Hyung! Kau sudah sampai di rumahku? Bagaimana? Bagus, 'kan?"
Kyungsoo meloloskan senyumnya saat tahu bahwa yang menelponnya adalah sang pemilik rumah. "Kau rapi juga, ya?"
"Tentu saja! Aku tak suka tempat yang terlalu berantakan, seorang Chef tidak seharusnya suka dengan tempat yang berantakan, 'kan, Hyung?"
Kekehan Kyungsoo lepas begitu saja mendengar jawaban Mingyu.
"Kau bisa tidur di kamarku atau di kamar tamu, tapi saranku sih, sebaiknya kau tidur di kamar tamu saja supaya Nicholas tak marah padaku karena menyuruhmu tidur di kamarku atau Wonu yang ngambek padaku karena kau mendahuluinya tidur di ranjangku,"
Kyungsoo tentu tahu kemana arah pembicaraan lelaki dua puluh tahun itu. "Aku tahu, aku tahu. Dasar mesum. Katakan, sekarang kau sedang ada dimana?"
"Aku? Aku masih terjebak di Italia bersama beberapa Mentor. Studiku menjadi Chef masih cukup lama berakhir, jadi perjalanan Paris-Italia dan beberapa tempat lain akan jadi trip yang biasa bagiku."
"Bersemangatlah, Wonu pasti akan menunggu kelulusanmu. Jaga dirimu, okay?"
"Tentu! Kau juga! Jika kakakku berbuat hal bodoh, tolong pukul saja dia, jangan ragu-ragu. Okay? Bye Hyung!"
Tawa kecil Kyungsoo menguar di apartment Mingyu setelah sang pemilik meminta hal yang sama dengan Jongin ketika ia ada di bandara beberapa waktu lalu. Apa mereka punya obsesi menghajar satu sama lain yang belum terlaksana? Kenapa mereka malah memintaku untuk jadi pelakunya? Dasar duo aneh.
Sesuai saran Mingyu, Kyungsoo memutuskan untuk menghindari kamar dengan sign 'James's Property' dan beralih ke kamar yang tak memiliki tanda apapun di pintunya. Kamar tidur itu cukup besar dan ranjangnya pun sangat nyaman untuk beristirahat, tapi alih-alih langsung tidur, Kyungsoo memutuskan untuk terlebih dulu mandi untuk menghilangkan rasa lelahnya selama perjalanan dari Washington DC menuju ke Seattle.
-.000.-
To always forgive me, rather die with me, that's just what gangsters do..
Sean sudah menjalankan tugasnya yang kesekian hari ini. Ia baru saja selesai menjemput dan membawa Kyungsoo ke Escala Apartment, tempat dimana penthouse Nicholas Grey berada di lantai paling puncak tepat sebelum helipad. Bosnya sudah menunggu lelaki yang tingginya tak lebih dari hidungnya itu di lobi apartment sejak lima atau sepuluh menit yang lalu. Semoga saja lelaki penuh kuasa itu tak menganggap kedatangannya termasuk kategori terlambat.
"Terima kasih, Sean."
Kyungsoo sedikit merasa heran karena ia rasa, baru kali ini ia mendengar lelaki angkuh itu mengucapkan terima kasih pada karyawannya.
Jongin membawa Kyungsoo menuju ke lift, tempat dimana sekitar satu minggu lalu mereka melakukan hal yang cukup panas disini walau itu hanya sebuah ciuman. Mengingatnya sekilas saja sudah membuat pipi Kyungsoo memanas, ia menoleh menatap Jongin yang tetap tenang dan bersikap lebih terkontrol dari sebelumnya. Suasana dalam lift kali ini tak banyak suara dan juga gerakan yang tak berarti. Hingga akhirnya denting lift berbunyi.
Jongin memberi gestur mempersilakan Kyungsoo untuk keluar lebih dulu darinya, kemudian ia menyusulnya. "Kau mau minum sesuatu?"
"Ya,"
"Wine?"
"Tentu,"
Sebenarnya Kyungsoo ingin sekali bisa kembali mabuk disini dengan meminta vodka atau mungkin scotch, tapi sepertinya keputusan bodohnya itu tidak akan berdampak baik mengingat ia sama sekali tak mengerti apa maksud Jongin kembali mengajaknya kemari untuk membahas perjanjian yang bahkan tak ia pahami artinya.
"Aku bisa membuatkanmu makan malam jika kau lapar,"
Kyungsoo memutuskan untuk duduk tenang di sofa ruang tamu setelah menggeleng sopan pada Jongin yang menawarinya makan malam. Apa Jongin tahu bahwa ada hal yang lebih Kyungsoo inginkan daripada makan malam?
"Pouilly-Fume,"
"What?"
"Ini wine favoritku,"
Kyungsoo menerima sodoran anggur putih yang nama mereknya sudah pasti akan rumit jika ia mencoba melafalkannya. Jongin mendudukkan dirinya tepat di samping Kyungsoo lalu menatap kedua mata bulatnya dalam-dalam.
"Aku senang bisa kembali kemari,"
"Aku tahu,"
Kyungsoo merasa kembali canggung dengan atmosfir mengancam yang sejak tadi tidak kunjung lenyap dari sekitarnya. Seingatnya, saat di lift beberapa waktu lalu, atmosfirnya tidak segelap ini. Jadilah kebiasaannya ketika gugup, kembali ia lakukan tanpa sadar.
"Kyungsoo, aku minta kau berhenti menggigit bibirmu. Kau tak tahu apa efeknya padaku," geram Jongin seolah jengah menasehati Kyungsoo.
"Bukankah itu sebabnya kenapa aku ada disini lagi?" Seolah mengerti bahwa sebenarnya Jongin hendak kembali melepas kontrolnya demi bisa berpagutan dengannya, Kyungsoo pun memberikan jawaban yang sukses membuat lelaki itu mendesah kecil.
"Tunggu sebentar, aku akan segera kembali."
Kyungsoo membiarkan Jongin beranjak dari sofa menuju ke kamar tidurnya. Oh, apa dia menyiapkan tempat tidur untuk tempat kami bercinta nanti?
Sungguh Tuhan memberkati segala macam pikiran suci Kyungsoo yang selalu bertengger di dalam kepalanya tanpa pernah pergi.
Tak lama, Jongin sudah kembali dengan membawa sebuah amplop coklat. "Ini adalah perjanjian yang pernah aku bicarakan padamu. Perjanjian ini sifatnya nondisclosure, artinya kau tak boleh membocorkannya pada siapapun itu."
"Membocorkan tentang apa?" Kyungsoo yang tidak mengerti tentang apa sebenarnya fungsi dan maksud dokumen perjanjian yang sudah berada di tangannya itu kini terus mendesak lelaki angkuh itu untuk memberinya penjelasan.
"Kau tidak boleh mengungkapkan tentang kita, Kyungsoo. Apapun itu, dan kepada siapapun,"
Kyungsoo menggeram. Tak boleh mengungkapkan tentang mereka? Hanya itu saja dan ia harus repot dengan perjanjian seperti ini?
"Pengacaraku sudah menyusun isi perjanjiannya, Kyungsoo. Kau boleh memilih untuk menandatanganinya atau tidak," Jongin mengulurkan penanya pada Kyungsoo.
"Aku akan menandatanganinya,"
Jawaban yang secepat kilat dari Kyungsoo membuat dahi Jongin mengerut. "Kau bahkan belum membaca isi perjanjiannya, Kyung."
Kyungsoo mengendikkan bahunya tak acuh. "Jongin, aku bahkan tidak berniat memberitahu saudaraku ataupun Wonu tentang kita. Jadi apakah aku membaca isinya lebih dulu atau tidak, tak akan ada bedanya. Aku akan menandatanganinya,"
Lelaki mungil itu terlihat menimbang sebentar sebelum memutuskan untuk menandatangani perjanjian yang ada di tangannya. Setelah selesai menandatanganinya, ia memilih menegak anggur putih miliknya dalam porsi tegukan yang banyak.
"Apakah ini artinya setelah ini kau akan bercinta denganku, Jongin?"
Shit. Shit. Shit. Apa yang barusan kukatakan? Oh, Christ… Kyungsoo pabboya!
Jongin tersenyum kecil, mengambil perjanjian milik Kyungsoo dan meletakkannya di meja lalu kembali menatapnya. "Tidak, Kyungsoo. Itu tak akan terjadi." tolaknya lembut. "First, I don't make love. I fuck… hard. And second," Jongin bangkit dari posisi duduknya, mengulurkan tangannya pada Kyungsoo. "Come, I'll show you my play room,"
Kyungsoo sempat mengumpat dalam hati karena mendengar jawaban yang Jongin utarakan. He fucks? Hard? Dammit! Now I really want him fuck me hard.
"Ruang bermain?" Kyungsoo mengulang kata-kata terakhir Jongin sambil menerka-nerka bagaimana isi ruang bermain lelaki satu ini. Apakah akan penuh dengan X-Box, Playstation, Gaming Computer dan banyak koleksi game berkelahi atau racing seperti milik Chanyeol dan Sehun di bunker mereka?
Jongin menggenggam tangan Kyungsoo lembut dan menuntunnya perlahan menuju lantai dua penthousenya lalu setelah berjalan beberapa langkah dari tangga lantai dua, ia berhenti tepat di depan sebuah pintu.
"Ini ruang bermainku,"
Kyungsoo tersenyum kecil dan mengangguk seolah paham apa yang Jongin maksud. "Aku penasaran apakah koleksi game milikmu lebih banyak dari milik kedua saudaraku."
"Tidak, Kyungsoo. Tak ada koleksi game apapun di dalam sana,"
"X-Box? Playstation? Gaming Computer?"
Jongin kembali menggeleng pelan dan tetap memasang raut wajah seriusnya. "Satu hal yang perlu kau tahu, kau masih bisa menolak dan pergi sekarang, Kyung. Sean akan selalu siap mengantarmu kemanapun dan—"
"Can you just open the Goddam door, Nicholas?"
Jongin menghela napasnya yang terasa berat, ia mengeluarkan kunci dari saku celananya lalu memasukkannya ke lubang kunci pintu. Detik setelah Jongin menyalakan lampu kamar, Kyungsoo dihadapkan pada pemandangan yang tak akan pernah ia lupakan selamanya.
Satu kalimat reflek yang meluncur sesaat setelah kedua mata bulat Kyungsoo melihat isi ruang bermain milik Jongin adalah.. "Oh my God…"
I'm fucked up, I'm black and blue. I'm built for all the abuse.
I got secrets that nobody, nobody, nobody knows..
Ruangan ini begitu besar. Sangat besar hingga Kyungsoo pikir kata huge adalah padanan yang tepat untuk menggambarkan kondisi ruangan ini. Bau kulit bercampur dengan kayu dan aroma kulit jeruk yang samar menghampiri penciuman Kyungsoo sejak pertama kali ruangan ini dibuka dan kini kembali ditutup oleh Jongin. Kaki Kyungsoo melangkah maju perlahan, kedua mata bulatnya memandang ke setiap sudut ruangan, meamstikan tak ada satupun yang ia lewatkan.
Sialan. Jongin punya taste yang sama dengan Insung Hyung! Umpat Kyungsoo dalam hati.
Ruangan ini sangat penuh dengan warna merah. Merah disini, disana dan dimana-mana. Kyungsoo kadang lupa jika perabotan kayu di ruangan ini punya warna coklat. Berbeda dengan kamar milik Insung di Seoul, ruangan ini jauh lebih tertata, jauh lebih besar dan jauh lebih...membuatnya terangsang.
"Itu flogger," suara maskulin milik Jongin akhirnya muncul memecah keheningan yang ada karena keterkejutan Kyungsoo. Di benak lelaki mungil itu kini timbul banyak pertanyaan, apakah lelaki ini juga sadism seperti Insung? Atau apa? Seumur hidupnya, Kyungsoo tak pernah tahu hal lain tentang seks selain hal-hal yang Insung lakukan padanya sejak empat tahun terakhir yang ia harapkan akan segera berakhir seiring dengan kebangkrutan DJ Company.
"Say something, please.." suara maskulin itu kembali muncul. Kali ini ia memohon dan Kyungsoo rasa ini adalah pertama kalinya Jongin memohon padanya. Bukankah laki-laki itu lebih sering memerintah daripada memohon?
"Apakah kau melakukan ini atau orang lain yang melakukan ini padamu?" mungkin pertanyaan Kyungsoo terdengar konyol tapi baginya itu penting. Ya, penting bagi Kyungsoo untuk tahu di posisi apa sebenarnya Jongin selama ini. Apakah ia jadi pihak yang disiksa? Atau yang menyiksa?
"Aku melakukannya pada wanita yang menginginkannya,"
"Wanita?"
"Ya, Kyungsoo. Wanita,"
Kyungsoo tidak mengerti. Jika Jongin punya wanita yang bersedia melakukan hal ini untuknya, lalu kenapa ia membawanya kemari?
"Kau punya wanita yang bersedia melakukan ini untukmu, lalu kenapa kau membawaku kemari, Nic?"
Jongin merasakan aura kemarahan Kyungsoo, apalagi lelaki itu kembali memanggilnya dengan nama aslinya. "Karena aku ingin melakukan ini denganmu, Kyungsoo. Sangat, sangat ingin.."
Kyungsoo memilih memalingkan wajahnya dari pandangan Jongin dan menatap sudut lain dari ruangan ini. Kali ini ia menatap ranjang yang ia taksir ukurannya lebih besar dari King size. Pikiran nakalnya diam-diam terputar di dalam benaknya sendiri bagaimana nantinya ia akan berada disana, terikat dan akhirnya mendesahkan nama Jongin berkali-kali tiap orgasmenya sampai.
"Jadi, kau sadism?"
"No, I'm a dominant."
Shit. Dominan? Istilah apalagi itu? Kenapa aku hanya tahu tentang istilah sadism saja? Empat tahun aku bergulat dengan benda-benda sialan ini dan sekarang aku seperti anak TK yang baru akan belajar membaca.
"Maksudmu?"
"Maksudku, aku ingin kau menyerahkan dirimu sepenuhnya dan secara sadar dan sukarela padaku, dalam segala hal.."
Tentu saja aku akan menyerahkan segalanya padamu, Bodoh! Kau pikir kenapa aku mau repot-repot terbang ke Seattle hanya karena merindukanmu?
"Menyerahkan diriku sepenuhnya, padamu?" ulang Kyungsoo lagi berusaha memastikan bahwa pendengarannya tidak sedang bermasalah. "Untuk apa?"
"To please me,"
"To please you?" Kyungsoo kembali mengulangi pernyataan Jongin dengan sedikit menambahkan tawa kecil di belakangnya.
"Aku ingin kau berkeinginan untuk menyenangkanku, Kyungsoo." Suara maskulin Jongin terdengar begitu lembut dan begitu memabukkan. Kyungsoo pikir ia tak akan bisa bertahan lebih lama di dalam sini jika lelaki it uterus berbicara padanya menggunakan nada bicara yang seperti ini.
Seingatnya, Insung pernah mengatakan sesuatu tentang kegiatan yang akan membuatnya senang dengan Kyungsoo sebagai objeknya. Ia selalu meminta Insung melakukan hal ini dan hal itu pada tubuhnya sesuai apa yang lelaki tua itu contohkan kala pertama kali mereka mencobanya dulu sekali. Setiap kali Kyungsoo bertanya apa gunanya ia meminta lelaki itu melakukan ini itu pada tubuhnya, jawabannya akan sama dengan yang Jongin katakan. 'Untuk menyenangkanku,'. Namun, Insung juga bilang bahwa hal itu juga akan membawa kesenangan yang sama untuknya. Yang pada kenyataannya, kesenangan hanya akan mendatanginya ketika lubang sempitnya dibobol oleh penis milik Insung. Sisanya? Desahan palsu.
Lalu, apakah Jongin juga akan berlaku sama dengan Insung? Ketakutan sedikit menggelayuti pundak Kyungsoo. Jika begitu, apa artinya keinginannya selama ini untuk bisa bebas dari seks berbau pecutan dan borgol disana-sini? Apa arti keinginannya untuk bisa merasakan seks yang benar-benar lembut dan penuh perasaan? Apa ia tidak berhak mendapatkan seks yang dipenuhi aura cinta dan kasih sayang?
"Lalu, bagaimana aku melakukannya?" Tolong jangan katakan aku harus memintamu mencambuki tubuhku atau memborgol tanganku dengan borgol besi yang menyakitkan itu. Pinta Kyungsoo dalam hati.
"Aku punya peraturan, dan aku ingin kau mematuhinya. Semua itu untuk kepuasanmu dan kesenanganku. Jika kau mematuhinya, aku akan memberikanmu hadiah. Dan jika kau mengabaikannya, aku akan menghukummu,"
Kyungsoo sempat melirik tumpukan cambuk yang tadi sempat ia pegang. Apa itu artinya tubuhku akan penuh bekas cambukan lagi?
"Oke, lalu… apa yang aku dapatkan dari semua itu?"
Jongin menyempatkan diri untuk menyeringai kecil sebelum menjawab pertanyaan Kyungsoo. "Aku,"
Kau? Christ. Tentu saja! Tentu saja aku akan mendapatkanmu sepenuhnya! Dammit, Jongin!
"Sebaiknya kita segera kembali ke bawah. Aku bisa berpikir lebih jernih disana daripada terus disini bersamamu. Ini sangat menggangguku,"
Jongin menggenggam tangan Kyungsoo lembut. Seolah berusaha meyakinkan bahwa jika Kyungsoo menerimanya, ia akan baik-baik saja.
"Aku tak akan menyakitimu, Kyungsoo." tatapan mata itu muncul lagi. Tatapan mata memohon milik Jongin yang baru dua kali ini muncul di hadapannya. Sedikit banyak, pertahanan Kyungsoo mulai benar-benar runtuh.
"Jika kau memutuskan untuk menandatangani dan menyetujui isi dokumennya," Jongin menggantung kalimatnya sambil terus menggandeng tangan Kyungsoo dan membawa lelaki itu ke ujung lorong dimana sebuah kamar bernuansa dominan putih berada disana. "ini akan jadi kamarmu. Kau berhak untuk mendekor ulang semuanya sesuai keinginanmu."
"Tunggu. Kau…memintaku pindah? Kemari?"
"Tidak, Kyungsoo. Hanya tiap akhir pekan, Jumat malam hingga Minggu." balasnya. "Kita harus berunding dan berdiskusi tentang banyak hal jika kau menginginkan ini,"
"Jadi aku akan tidur disini tiap akhir pekan?"
"Ya," suara Jongin terdengar begitu tenang tapi juga terasa sedikit keraguan di dalamnya.
"Bersamamu?"
"Tidak, Kyungsoo. Aku sudah pernah bilang bahwa aku tidak tidur dengan siapapun," ingat Jongin pada Kyungsoo yang nampaknya lupa. "Tidur denganmu waktu kau mabuk adalah pertama kalinya untukku,"
Kyungsoo tidak paham apakah ia harus bersorak kegirangan karena ia jadi pihak pertama yang bisa tidur satu ranjang dengan Jongin atau harus menggeram kesal karena lelaki itu terlihat begitu hangat dan dingin dalam waktu yang berdekatan? Sedetik lalu ia menjadi hangat dengan perlakuannya menjaga Kyungsoo yang mabuk dan muntah, lalu sekarang ia kembali menjadi dingin, menjadi Nicholas Grey yang pertama kali ia kenal.
"Lalu kau tidur di bawah?"
"Ya, aku tidur di tempat dimana kau tidur saat kau mabuk dulu,"
Pipi Kyungsoo terasa panas sekarang. Ia berharap ia bisa segera menghilang dari sini untuk sesaat. Apa perlu lelaki itu mengungkit kembali kondisi memalukan saat itu?
"Ayo, kita turun.."
Jongin kembali menggenggam tangan Kyungsoo, lalu menuntunnya turun ke lantai bawah dimana kamar tidurnya berada. Tangan Jongin terasa sedikit lebih dingin, apa mungkin ia juga gugup seperti Kyungsoo?
"Kau lapar? Aku akan membuatkanmu makanan jika kau lapar,"
"Jongin," Kyungsoo mencegah Jongin yang hendak berbelok ke dapur setelah kaki mereka tak lagi ada di tangga. "Aku…punya banyak pertanyaan.."
Senyum kecil Jongin muncul lagi, kali ini jauh lebih menenangkan dari sebelumnya. Ia menuntun lelaki mungil itu menuju ke sofa ruang tamu, melewati Grand Piano yang kadang ia mainkan jika sedang senggang.
"Kau boleh bertanya apapun, dan aku akan menjawabnya."
"Sejak tadi kau terus menyinggung tentang dokumen," gantung Kyungsoo. "Dokumen apa?"
"Itu adalah bagian lain dari perjanjian yang akan kau tanda tangani, Kyungsoo. Disana tertulis jelas tentang apa yang akan kita lakukan dan apa yang tidak akan kita lakukan. Aku ingin kau tahu dan paham apa saja batasanku, dan juga batasanmu." Jongin menjelaskan dengan santai. "Ini adalah hal yang dilakukan atas dasar rasa suka dan persetujuan satu sama lain, Kyungsoo."
"Lalu jika aku tidak ingin melakukannya?"
Jongin mengernyitkan dahinya. "Tidak ingin?" tanyanya lagi seolah memastikan bahwa Kyungsoo tidak salah berbicara. "Tentu saja tidak apa-apa, kau bebas memilih."
"Tapi artinya… kau dan aku tak akan punya hubungan apapun?"
"Ya,"
"Kenapa?"
"Ini adalah jenis hubungan yang bisa aku terima, Kyungsoo."
Satu lagi sisi misterius dari Jongin yang tidak mampu Kyungsoo pahami. Bagaimana bisa hubungan seperti ini adalah satu-satunya jenis hubungan yang bisa ia terima? Apa masa mudanya tidak mengenal romansa percintaan yang lebih normal?
"Aku akan membuatkanmu makan malam," Jongin kali ini tidak lagi bertanya, tapi sudah memberi pernyataan. Mau tak mau, Kyungsoo ikut bangun dari sofa dan mengikuti langkah Jongin menuju dapur yang ternyata bersatu dengan bar kecil.
"Jongin?"
"Hm?" lelaki itu menjawab sambil menyibukkan diri membuka lemari pendingin dan mencari makanan apa yang bisa ia suguhkan untuk Kyungsoo. "Apa kau suka omelette?"
"Ya, tak masalah." jawabnya cepat. "Jongin.. apa yang membuatmu begini? Maksudku… ya… seperti ini,"
Lelaki itu mendongakkan kepalanya, menatap Kyungsoo sejenak, tersenyum kecil lalu kembali fokus dengan penggorengannya dan minyak dan telur ayam yang akan ia hancurkan di penggorengan itu.
"Pertanyaanmu sedikit sulit, Kyungsoo." Jongin berbicara pelan, layaknya setelah ini ia akan memberikan jawaban yang lebih masuk akal. "Mengapa ada orang yang suka keju dan ada yang membencinya? Apa kau suka keju, Kyungsoo? Aku akan menambahkannya ke omelette jika kau mau,"
Shit, apa kita sedang membahas tentang keju sekarang?
"Tentu, itu akan menambah rasanya."
Jongin mengangguk dan menambahkan keju mozzarella yang baru saja ia ambil dari lemari pendinginnya ke omelette buatannya yang sudah hampir matang. Ia juga mengambil dua buah piring putih berukuran besar dan meletakkan salah satunya di hadapan Kyungsoo.
"Kau tadi bilang kau punya aturan tentang ini yang harus aku penuhi. Apa itu?"
"Kita akan membahasnya setelah makan," Jongin menuangkan separuh omelette ke piring Kyungsoo dan sisanya ke piringnya sendiri. Ia mengambil anggur putih dari rak lalu menuangkannya ke dalam gelas yang ada di counter. "Makanlah,"
Kim Jongin dan segala macam kontrolnya. Ya Tuhan, benarkah aku harus kembali hidup sebagai seorang budak?
"Kau sudah lama seperti ini?"
Jongin mengangguk sambil menikmati makanannya.
"Kau bilang kau melakukan hal itu pada wanita yang menginginkannya," Kyungsoo melahap telur dadar kejunya dan menatap Jongin lagi. "Lalu kenapa kau malah memilihku?"
Jongin meletakkan sendoknya, menatap Kyungsoo lembut hingga Kyungsoo merasa aura di sekitarnya mendadak panas. "Aku sudah bilang padamu, ada sesuatu tentangmu yang berbeda dari yang lainnya. Ada sesuatu tentangmu yang membuatku tak bisa meninggalkanmu sendirian," Jongin kembali melahap makanannya sebelum melanjutkan bicaranya. "Aku merasa seperti seekor ngengat yang terbang langsung menuju sebuah api unggun. Aku sangat menginginkanmu, Kyungsoo. Sangat amat menginginkanmu, terutama ketika kau menggigit bibirmu seperti ini," Jongin menelan makanannya pelan bersamaan dengan Kyungsoo yang sadar bahwa ia baru saja melakukan kebiasaannya lagi.
"Lalu, sebelumnya kau melakukan semua ini dengan wanita? Berapa banyak?" pertanyaan itu begitu mengganjal di tenggorokan Kyungsoo. Benaknya penasaran tentang berapa banyak gadis yang bersedia bertekuk lutut di hadapan Jongin hanya demi dicambuk dan diborgol seperti yang pernah ia alami dengan Insung sebelum ia kenal dengan Jongin.
"Lima belas,"
"Mereka bertahan dalam jangka waktu yang lama?"
"Beberapa dari mereka, ya."
"Apa kau pernah menyakiti mereka?"
Jongin menelan makanannya susah payah sebelum menjawab pertanyaan Kyungsoo. "Ya,"
Shit.
"Apa itu artinya kau akan menyakitiku?"
Desahan napas berat Jongin meluncur begitu saja. "Aku akan melakukan segala hal yang kau minta, dan mungkin beberapa dari itu akan menyakitkan."
Damn! Tadi dia bilang tidak akan menyakitiku! Bagian mana yang harus kupercayai?
"Kita akan bahas peraturannya setelah ini. Apa kau sudah selesai?" Jongin menunjuk pada piring Kyungsoo yang baru saja kosong.
"Ya,"
"Kalau begitu ayo," Jongin membawa piring kosong ke wastafel dapur dan melanjutkan langkahnya dengan menggenggam tangan Kyungsoo menuju ke sofa ruang tamu. "Di dalam amplop ini ada dokumen yang berisi tentang semua peraturannya. Kau bisa membacanya kapanpun, jika ada hal yang tidak kau sukai, kau bisa mengatakannya padaku dan kita akan mendiskusikannya. Jika itu bisa dihilangkan, maka aku akan menghapusnya dari aturan,"
"Hal yang tidak aku sukai?" seingat Kyungsoo, Insung tak pernah bertanya apapun tentang hal yang tidak ia sukai saat prosesi menyakitkan itu ia lakukan. Seingatnya, Insung hanya meminta Kyungsoo melakukan apapun untuk menyenangkannya dengan begitu ia akan terus memberikan Kyungsoo apapun yang ia minta, termasuk posisinya sekarang.
"Aku tidak tahu, Jongin.."
Kening Jongin berkerut. "Apa maksudmu kau tidak tahu?"
"Aku belum pernah melakukan hal seperti ini," tentu saja, apa yang aku lakukan bersama Insung Hyung tak pernah punya kontrak dan perjanjian seperti ini. Ia tak lebih dari sekedar bajingan yang menggunakan tubuhku untuk kepuasannya saja! Mana pernah ia memikirkan bagaimana pendapatku tentang semuanya!
"Ketika kau melakukan seks, pasti ada hal yang ingin dan tidak ingin kau lakukan, bukan? Kau harus jujur padaku, Kyungsoo. Jika tidak, ini tidak akan berhasil."
Oh tidak… tatapan memohon itu lagi! Jongin bisakah kau berhenti mengeluarkan tatapan itu?!
Kyungsoo bergerak tidak nyaman. Ia kembali menggigit bibirnya tak sadar. Pikirannya berkecamuk.
Jujur padamu? Bagaimana aku bisa jujur padamu dan berkata bahwa aku sudah sering melakukan hal menyakitkan itu dengan direkturku selama empat tahun belakangan? Kau pikir aku bisa melakukannya? Tentu tidak, Jongin-ah! Kau tak boleh tahu tentang hal itu!
"Aku tak tahu, Jongin. Aku tak pernah melakukan seks sebelumnya, jadi aku tidak mengerti apa saja yang tidak aku sukai atau hal apa yang aku sukai saat seks," Kyungsoo memilih menyembunyikan kenyataan bahwa terakhir kali lubangnya dibobol adalah sekitar satu bulan yang lalu di ruangan kerja direkturnya, bersama sang direktur.
"Maksudmu? Kau sama sekali tak pernah melakukan seks dengan siapapun?"
Kyungsoo mengangguk malu seolah berusaha memberikan fakta bahwa ia memang seorang lelaki polos yang tak paham apapun tentang seks dan sebagainya pada Jongin.
"Ya Tuhan, Kyungsoo. Kenapa kau tak memberitahuku?!" Jongin menggeram sambil memperlihatkan raut wajah frustasinya. "Aku baru saja memperlihatkanmu—"
"Aku tahu, aku tahu." potong Kyungsoo lembut. "Hanya saja, topik pembicaraan kita tak pernah mengarah kesana. Lagipula kita bahkan bisa dibilang belum mengenal satu sama lain!" protes Kyungsoo. "Bagaimana aku bisa mengatakan tentang kehidupan seksualku pada klien kerjaku yang bahkan tak kukenal baik sebelumnya?"
Jongin mendesah pasrah, mencoba memahami perkataan Kyungsoo yang sama sekali tak menunjukkan sisi salahnya. "Kau kemana saja selama ini?" tanya Jongin dengan tatapan sayu yang seolah menggoda Kyungsoo untuk melahap bibirnya langsung saat ini juga.
"Menunggu seseorang yang tepat?"
Bohong.
Bagaimana bisa kau bilang begitu sedangkan pagi tadi sebelum flight kau baru saja selesai phone sex dengan direkturmu, Do Kyungsoo?
I'm good on that pussy shit, I don't want what I can get.
I want someone with secrets that nobody, nobody, nobody knows..
Terbawa suasana yang cenderung lebih mendukung ditambah dengan rasa bersalahnya karena baru saja menunjukkan ruang bermainnya yang berisi alat-alat yang identik dengan hubungan dominant-submissive di ranjang, Jongin membawa bibir Kyungsoo dalam ciuman yang dalam dan penuh permintaan maaf.
"Ayo, kita harus meluruskan situasi.."
"Situasi? Situasi apa, Jongin?"
"Situasimu, Kyung. Aku akan bercinta denganmu malam ini,"
Tubuh Kyungsoo menegang seketika. Apa Jongin baru saja bilang dia akan bercinta denganku?
"T-tapi kau bilang—"
"Aku bisa membuat pengecualian untukmu." seringai Jongin muncul di akhir kalimatnya bersamaan dengan tindakannya yang menggendong Kyungsoo di pundaknya secara tiba-tiba seolah Kyungsoo tak lebih berat dari satu karung beras.
Beberapa detik setelahnya, Kyungsoo bisa merasakan tubuhnya terlempar dan kini ada di atas ranjang milik Jongin.
"Jongin, tapi aku belum menandatangani dokumennya.."
"Lupakan soal dokumennya, lupakan soal perjanjiannya. Aku benar-benar menginginkanmu, aku benar-benar ingin memasukimu malam ini Kyungsoo."
Jutaan penghuni kepala Kyungsoo bersorak-sorai dengan jawaban Jongin. Akhirnya apa yang selama ini ia inginkan sebentar lagi akan jadi kenyataan! Akhirnya apa yang selama ini hanya jadi fantasi masturbasinya semata, sebentar lagi akan jadi kenyataan! Jongin's will be inside of his tight hole!
"Aku harap kau tidak keberatan jika aku jadi yang pertama,"
Oh, sweetie pie! Jika saja kau tahu, aku sangat menyesal menjadikan lelaki sialan itu pria pertama yang menghujam lubangku sebelum kau!
"Tentu,"
Saat ini antara Kyungsoo dan Jongin terdapat sebuah pintu masuk tak kasat mata yang dipenuhi oleh nafsu, hasrat yang tinggi dan segala macam aura penuh sensualitas. Satu langkah lagi, Jongin tak akan bisa kembali pada dirinya yang teguh pendirian dengan semua dokumen perjanjiannya. Satu langkah lagi, tak akan ada lagi Jongin yang terlalu kaku dengan segala hal tentang seks.
Jongin melangkah mundur setelah melempar Kyungsoo ke tempat tidur. Ia melepas kausnya lalu menurunkan celana panjangnya, tanpa menyisakan celana dalamnya yang tadinya menutupi bagian paling penting dari prosesi penyatuan ini. Dilain pihak, Kyungsoo kini sudah menumpukan dirinya pada lututnya. Pantatnya yang berisi, ia pastikan tak menyentuh tumit kakinya untuk mempermudah Jongin melepas ikatan celana panjangnya nanti. Perlahan, Jongin mendekati Kyungsoo dan melepas sweater hitam yang lelaki itu pakai dan melemparnya ke segala arah. Lalu kepalanya bergerak turun menuju celana Kyungsoo yang masih belum terlepas. Tak sampai tiga detik, ikatan sabuk dan kancing celana Kyungsoo sudah lepas. Dan bersamaan dengan Kyungsoo yang mulai berbaring, Jongin menarik celana sekaligus celana dalam Kyungsoo untuk ia lepas dalam satu kali gerakan.
Posisi Kyungsoo yang berbaring dengan kejantanan lemasnya yang tak jauh lebih besar dari miliknya membuat Jongin sempat meloloskan senyum kecilnya. Ia pun kembali mendekati Kyungsoo dengan perlahan setelah melepas celana dalamnya lebih dulu. Jongin menyempatkan diri menggoda Kyungsoo dengan meniupi tubuh Kyungsoo mulai dari paha bagian dalam, naik hinga menuju penis Kyungsoo yang perlahan mulai ereksi, lalu naik lagi menuju pusar Kyungsoo yang saat ini sedang dikecupi olehnya dengan sedikit sensual tentu saja. Puas bermain dengan pusar Kyungsoo yang sudah membuat si empunya merasa geli luar biasa, Jongin kembali merangkak naik sembari tetap meniupi dada Kyungsoo dan berakhir di leher lelaki berkulit seputih susu itu.
Tangan Kyungsoo berusaha merangkul leher Jongin tapi seperti biasa, Jongin menahannya dan memilih untuk meletakkan kedua tangan Kyungsoo di atas kepala Kyungsoo.
"Don't move," titah Jongin sembari memulai kembali ritual tiupan sensualnya di seluruh titik sensitif Kyungsoo yang ia temui sejak tadi.
Jongin hampir saja menyentil dahi Kyungsoo saat ia hendak sampai kembali di pusar Kyungsoo dan lelaki mungil itu malah menggerakkan kedua tangannya. Tawa kecil lolos dari bibir Kyungsoo yang tak mampu menahan geli akibat perlakuan Jongin sejak tadi.
"Jongin ayolah…"
Suara memohon Kyungsoo terdengar begitu menyenangkan bagi Jongin. Rasanya ini seperti pertama kali baginya melakukan hal-hal dewasa berbau ranjang pada orang lain selain wanita yang jadi penyebab perilakunya saat ini. Dibanding lima belas wanita yang pernah ada di bawahnya, keberadaan Kyungsoo seperti sebuah oase di gurun pasir yang begitu panas dan terik. Begitu menyegarkan, menggoda dan membuatnya merasa lebih puas berkali-kali lipat. Padahal jika ditilik, harusnya tak boleh ada lelaki yang bersanding dengannya lebih dari sekedar klien. Apa kata publik tentang semua ini? Namun Jongin memilih mendengarkan kata hatinya kali ini dan masa bodoh dengan bagaimana anggapan khalayak ramai pada keputusannya nanti.
Tidak ingin membuat Kyungsoo menunggu lebih lama, Jongin pun memulai inti permainannya. Ia membuka bungkus foil dari kondom yang sudah ia ambil dari laci nakasnya tadi, memasangkannya ke penisnya sendiri, melumurinya dengan sedikit air liurnya dan memposisikannya tepat di depan lubang milik Kyungsoo.
"Aku akan masuk, kau bisa memelukku jika kau merasa sakit." Jongin berbisik selembut mungkin di telinga Kyungsoo yang sudah hampir hilang kendali karena hormonnya sudah benar-benar sedikit lagi sampai puncaknya.
Satu…
Dua…
Ti—
"AAAHH!"
Kyungsoo berteriak bersamaan dengan sudah masuknya penis Jongin ke dalam lubang sempit Kyungsoo. Teriakan itu tentu bukan tipuan semata karena kenyataannya ia belum pernah merasakan penis yang lebih besar dari milik Insung menembus lubangnya. Dan malam ini, fantasinya jadi nyata.
"Kau sangat ketat, Kyungsoo. Kau baik?" pertanyaan penuh perhatian dari Jongin meluluhkan lagi sisi gelap Kyungsoo yang selama ini kuat berdiri tegak tanpa goyah.
Kyungsoo mengangguk mencoba menenangkan dirinya sendiri dan juga Jongin yang terlihat cukup khawatir. Mata bulat Kyungsoo masih melebar dan tangannya masih memegangi lengan bawah Jongin. Ia merasa begitu penuh dengan hadirnya Jongin di dalamnya. Begitu penuh, begitu membahagiakan, begitu memabukkan. Jongin memilih tetap diam untuk beberapa saat agar lelaki di bawahnya dapat menyesuaikan kehadiran benda tumpul di dalam lubang sempitnya.
"Aku akan bergerak, Kyungsoo." Jongin menghela napasnya untuk beberapa saat, suaranya terdengar sedikit tertahan.
Oh! Shit!
Jongin bergerak maju dan mundur secara perlahan, sambil menutup kedua matanya dan sedikit mengerang lalu menyodok titik sensitif Kyungsoo di dalam sana sekali lagi. Kyungsoo berteriak untuk kedua kalinya, dan Jongin menghentikan gerakannya sejenak.
"Lagi?" pertanyaan bodoh sebenarnya, tapi Jongin tetap bertanya untuk memastikan bahwa tidak hanya dirinya yang menikmati penyatuan ini.
"Ya," jawaban Kyungsoo tedengar cukup pasrah. Ia kemudian mengambil napasnya dalam-dalam setelah itu. Lalu ia merasakan Jongin kembali menusuknya di titik yang sama, dan berhenti lagi. Kyungsoo mengerang untuk kesekian kalinya.
"Lagi?"
"Ya, please, Jongin.." kali ini jawaban Kyungsoo benar-benar murni permohonan karena dia sudah tak tahan dengan kenikmatan yang nampaknya belum sampai separuh di bawah sana.
Detik setelahnya Jongin kembali bergerak, kali ini tidak lagi berhenti di tengah jalan untuk bertanya pada Kyungsoo apakah ia harus melanjutkannya atau tidak. Jongin mengganti tumpuan tubuhnya menjadi pada kedua sikunya, sehingga kali ini berat badannya lebih terasa pada Kyungsoo. Gerakan Jongin cenderung perlahan, seolah berusaha mengajak tubuh serta respon alami dari tubuh Kyungsoo untuk mengikuti gerakannya. Setelah memastikan bahwa tubuh lelaki mungil itu sudah terbiasa akan gerakan maju dan mundur dari penisnya di dalam sana, Jongin merasakan pinggul Kyungsoo mulai bisa mengimbangi pergerakannya perlahan.
Jongin memutuskan untuk mempercepat gerakannya. Bergerak terus dan terus, membuat Kyungsoo melepaskan desahan dan erangannya tanpa henti sejak tadi. Irama dan kecepatannya terus bertambah seolah pertanda bahwa sebentar lagi akan ada salah satu dari mereka yang mencapai puncaknya. Tangan kanan Kyungsoo saat ini sibuk berperan sebagai lubang bagi penisnya agar seluruh cairan putih miliknya juga bisa keluar dengan leluasa.
Kali ini Jongin mendekatkan wajahnya pada Kyungsoo, ia memagut bibir Kyungsoo dengan rakus, bertarung dengan lidahnya untuk beberapa detik kemudian kembali menggigit bibir bawah Kyungsoo untuk kesekian kalinya hari ini. Tak lama setelahnya, Kyungsoo bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang hendak keluar dari dalam dirinya. Ia pikir, orgasme tak akan bisa terasa senikmat ini. Maksudnya, selama bersama Insung ataupun sedang masturbasi, sensasi yang timbul pada tubuhnya tak pernah sedahsyat ini. Pikiran Kyungsoo mendadak kosong dan hanya diisi oleh Jongin, Jongin dan Jongin.
"Keluarlah untukku, Kyungsoo.." bisik Jongin lembut pada Kyungsoo. Entah sial atau beruntung, tak sampai dua detik setelah bisikan Jongin, tubuh Kyungsoo menegang, keringatnya mulai bercucuran lebih deras dan punggungnya secara reflek melengkung ke atas bersamaan dengan klimaks ledakan air maninya di bawah sana.
Berselang tiga puluh detik kurang lebih, giliran tubuh Jongin merasakan hal yang sebelumnya dirasakan Kyungsoo. Tubuhnya menegang, keringatnya mengucur lebih deras, ia memilih untuk memeluk Kyungsoo saat puncaknya tiba..
"KYUNGSOO!"
-.o0o.-
I need a gangsta, to love me better, than all the others do..
Cahaya matahari pagi mulai mengusik tidur tenang Kyungsoo jadi dia memutuskan untuk bangun dan berniat untuk menutupi jendela kamar dengan gorden. Namun ketika membuka mata, ia menemukan sosok lain berada di sampingnya. Lelaki itu sedang tertidur pulas dengan wajah polosnya yang tetap saja terlihat begitu tampan dan menggodanya. Kekehan Kyungsoo lolos begitu saja melihat satu lagi sisi dari Jongin yang tak selalu ditunjukkan ke banyak orang.
Akhirnya, alih-alih menutup gorden dan kembali tidur, Kyungsoo memilih untuk pergi ke dapur dan memasak sarapan untuknya dan Jongin. Mengandalkan music player milik Jongin, Kyungsoo pun memulai rutinitas yang biasa ia lakukan di apartemennya; membuat sarapan. Yang berbeda, ia berada di penthouse Jongin dan hanya memakai sweater milik Jongin yang sedikit kebesaran untuknya.
Kyungsoo sibuk menggoreng bacon dan menyiapkan adonan untuk pancake sambil tak lupa tetap menggoyangkan badannya mengikuti irama lagu yang mengalun dari music player milik Jongin. Bahkan sesekali, ia juga ikut bernyanyi.
"Nal neomuneomuneomu, neomuneomuneomu neomuneomuneomu, neo~muneomuneomu neomuneomuneomu, neomu johahamyeon geuttae malhaejwo~~"
"Kau mengagetkanku!" Kyungsoo berjengit kaget saat berbalik dari prosesi mengaduk adonan sambil bergoyang dan menemukan Jongin sudah duduk di kursi bar sambil menatapnya dengan penuh senyum.
"Kau sangat bersemangat hari ini," Jongin menyempatkan meloloskan senyum lebarnya karena memang lelaki mungil itu begitu menggemaskan pagi ini di matanya.
Kyungsoo terkekeh. "Apa kau lapar?"
"I'm starving,"
Kyungsoo mengangguk lalu tersenyum kecil, "Baguslah! Karena aku akan membuat pancake untukmu!"
Jongin tertawa kecil. Ini pertama kali baginya menemukan seseorang yang menemaninya mengawali hari di penthousenya. Jongin pikir harusnya ini terasa aneh dan tidak nyaman karena ia tak pernah terbiasa dengan semuanya. Nyatanya, kehadiran Kyungsoo justru membuatnya terasa lebih genap, tak lagi merasa kosong karena ganjil.
"Kau benar-benar pintar memasak rupanya," puji Jongin pada hasil karya Kyungsoo yang sudah setengah masuk ke perutnya.
"Kau pikir aku bercanda saat itu?" kesal Kyungsoo sambil memukul lengan Jongin pelan. "Aku sudah hidup mandiri sejak kecil, kalau tidak memasak sendiri, siapa yang akan membuatkanku makanan?"
"Kau bilang kau tinggal bersama Wonwoo dan juga di panti asuhan. Memangnya mereka tak memberimu makan?"
Kyungsoo mendesah gemas. "Bukan begituuuu!" tangannya kembali ke lengan Jongin. "Kau ini benar-benar tidak mengerti, ya?"
"Aku mengerti. Aku hanya bercanda." senyuman Jongin meruntuhkan rasa kesal Kyungsoo, apalagi saat laki-laki itu menggenggam tangannya dan membersihkan tiap ujung jari tangan kanannya dengan mulutnya karena terkena sirup maple. "Let's get you cleaned up,"
Kyungsoo sukses meledakkan beberapa puluh kembang api dengan bunga api merah muda beserta beberapa bubuk bedak warna senada di sekitar wajahnya. Hanya dengan perlakuan semacam itu dan perintah ajakan mandi bersama oleh Jongin, lelaki mungil itu tak bisa mengendalikan kebahagiaannya. Lihatlah bagaimana kini ia dengan tetap malu-malu kucing, melepas sweater milik Jongin dan meletakkannya di lantai kamar mandi lalu perlahan masuk ke dalam bath tub yang sudah diisi air oleh Jongin satu atau dua menit lalu.
Jongin masuk tak lama kemudian, menyusul Kyungsoo yang sudah duduk di dalam bath tub, setelah sebelumnya ia sempat menyeringai kecil melihat tubuh telanjang Kyungsoo terpampang begitu jelas di hadapannya. Dia sebenarnya sama saja seperti laki-laki lainnya yang tak bisa benar-benar mengontrol hormonnya ketika dihadapkan pada figur mulus nan menggoda seperti Kyungsoo. Terlebih, Kyungsoo adalah laki-laki yang seharusnya tak punya badan seperti itu. Apa ada salah paham antara permintaan kedua orangtua Kyungsoo dan keputusan Tuhan sehingga dia muncul dengan segala kesempurnaannya? Jika iya, sepertinya ia akan sangat bersyukur dengan kesalahpahaman tersebut.
Selama kegiatan mandi bersama, tak banyak kegiatan berbau seks yang mereka lakukan. Selain karena Jongin memang menjaga sendiri hormonnya agar tak meledak di saat tidak tepat, ia juga memikirkan kondisi lubang sempit milik lelakinya yang mungkin masih terasa sakit saat ini. Jadilah kegiatan mandi bersama mereka terlalui dengan sangat sangat aman dan normal.
Namun nampaknya, Kim Jongin benar-benar tak bisa mengalahkan hormonnya dengan benar.
"Do you trust me?" sebuah kalimat pertanyaan keluar dari mulut Jongin sesaat setelah Kyungsoo memakai handuknya untuk menutupi area penting di bawah sana. Nampaknya, setelah ini akan ada perang kedua yang tak kalah menarik.
Kyungsoo menjawab pertanyaan Jongin dengan anggukan pelan seolah mengerti bahwa lelaki di depannya ini sedang berusaha tetap tenang dengan kenyataan bahwa kadar hormon mereka sama-sama berada dalam kategori tinggi. Jongin melepaskan ikatan handuk Kyungsoo, meninggalkan lelaki itu menuju ruang pakaiannya, mengambil sebuah dasi dari laci penyimpanan dasinya dan kembali pada Kyungsoo.
"Hold out your wrists," perintah Jongin pada Kyungsoo yang kemudian segera mengikat kedua pergelangan tangan Kyungsoo dengan dasinya. Pandangannya tak pernah lagi mangkir dari kedua mata Kyungsoo, senyum tipis Kyungsoo kadang ia tangkap sebagai satu sinyal bahwa lelaki itu juga menunggunya melakukan ini.
Kyungsoo? Ia sudah tak sabar mengetahui bagaimana Jongin akan beraksi. Karena bahkan ia sudah sangat akrab dengan perlakuan seperti ini sejak empat tahun terakhir. Bedanya, ia tak pernah benar-benar menikmati semuanya. Karena sekali lagi, ia tak mencintai Insung seperti ia yang (mungkin) mencintai Jongin.
Tubuh Kyungsoo sudah berada di ranjang Jongin lagi, tentu saja tanpa busana. Tangannya yang terikat dasi kini sudah berada di atas kepalanya.
"Don't move, got it?"
Kyungsoo tertawa kecil dan mengangguk.
"Katakan padaku kau mengerti peraturannya,"
"Aku tak akan menggerakkan lenganku," lanjut Kyungsoo dengan nada kegelian karena sejak tadi kejantanannya sudah saling bersentuhan dengan milik Jongin.
"Good boy,"
Lalu setelahnya, kesialan Kyungsoo dimulai. Berawal dari kebiasaan Jongin terlebih dulu meniupi leher Kyungsoo lalu kemudian turun menuju dada dan—
"Stay still!" Jongin reflek mengembalikan tangan Kyungsoo ke tempatnya semula saat lelaki itu tanpa sengaja menggerakkannya dan hendak merangkul Jongin. Kyungsoo meringis lalu mengangguk sejenak dan Jongin melanjutkan pekerjaannya yang sudah hampir mendekati penis milik Kyungsoo.
"Katakanlah, 'ya', Kyungsoo.."
"Pada…. ahh… pada apa?"
"To be mine,"
Kyungsoo masih larut dalam perasaan melayang karena perlakuan Jongin pada seluruh kulit sensitifnya itu. Bahkan putingnya saja sudah mengeras sejak tadi seolah menjadi tanda bahwa pemiliknya sudah sangat butuh dipuaskan sekarang.
Sayangnya, sebelum Jongin sampai pada penis Kyungsoo dan sebelum Kyungsoo menjawab pertanyaannya, sebuah suara yang mengganggu mereka datang.
"Nicholas? Nicholaaas~"
Dahi Jongin sesaat mengernyit saat sayup-sayup telinganya mendengar suara Ibunya di penthousenya. Namun setelahnya, ia yakin bahwa suara itu memang suara milik Ibunya.
"Shit." Jongin menghentikan kegiatannya, lalu mulai melepas ikatan dasinya pada pergelangan tangan Kyungsoo.
"Ada apa, Jongin?"
"It's my Mom,"
Kyungsoo melepaskan tawa tertahannya. Apa begini wajahnya jika sedang ketahuan akan bercinta? Kenapa lucu sekali?
"But I'm naked, Nicholas.."
"Get dressed,"
Jongin meninggalkan Kyungsoo setelah ikatan pada pergelangan tangan lelaki itu sudah terlepas. Ia kemudian segera memakai celana panjangnya beserta celana dalam, lalu mengambil kaus asal dan segera keluar dari kamar tidurnya.
"Maybe Mister Grey still sleeping,"
"Still sleeping? At this hour? What he—ahh, here you are.."
"I'm sorry Mister Grey,"
"It's fine, I know how she can be." Jongin mendekati Ibunya dan mencium pipi kanan dan kiri wanita itu dengan sayang lalu melangkahkan kakinya menuju dapur.
"She? If you're trying to avoid me, the very least you can do is call me by my correct name which is 'Mom'," kekehan Mrs. Grey menguar di penthouse Jongin.
"Hai," sebuah suara lain yang muncul mengagetkan Mrs. Grey. Datang dengan celananya dan sweater kebesaran milik Jongin, Kyungsoo berusaha menyapa calon mertuanya dengan sopan.
"Oh dear God, you've kidnappin' an angel or what, Nicholas?"
"Mom, this is Do Kyungsoo. Kyung, meet my Mother, Doctor Anastasia Trevelyan Grey."
"Oh, my dear. You have no idea how delighted I'm to meet you,"
Kyungsoo sedikit tersipu malu dan tersenyum. "Nice to meet you too, Doctor Grey."
"Ana, please. Oh, Nicholas, he's so cute. You're very-very cute, honey."
"Thank you," Kyungsoo tersenyum pada Mrs. Grey sebelum kembali membenarkan bajunya yang mungkin masih terlihat berantakan.
"What happened with a call before dropping by, Mom?"
"Oh, and have your henchmen give me the run around? No thank you. I'll take my chances." Mrs. Grey menjawab pertanyaan putra pertamanya dengan santai. "I was in the neighborhood and I thought, perhaps, we could have lunch?"
" I can't today. I have to drive Kyungsoo to the airport," Jongin menolak sopan permintaan Ibunya karena memang setelah ini ia sudah harus mengantar lelaki mungilnya ke bandara untuk kembali ke DC.
Sedang sibuk berbincang, ponsel Kyungsoo tiba-tiba berbunyi.
"It's okay, take it. I was just showing Mother out,"
"Excuse me,"
Mrs. Grey mengikuti langkah putranya perlahan, tapi tetap menatap punggung Kyungsoo yang hendak naik ke lantai dua. "Kyungsoo,"
"Yea?"
"It was a joy to meet you, darlin'. I'm having the whole family over for dinner two weeks from now at my house. We're having a celebration, my wedding anniversary. You must come.."
Dahi Jongin sempat berkerut ketika mendengar Ibunya mengajak Kyungsoo untuk datang ke perayaan pernikahan kedua orangtuanya. "We'll see, Mom."
"Nice to meet you, Doctor Grey!"
"You too, honey.."
Kyungsoo memutuskan kembali pada seseorang yang meneleponnya sepagi ini. "Halo?"
"Kenapa lama sekali mengangkat teleponnya, Kyungsoo?"
Shit. Insung Hyung?
"Aku sedang di kamar mandi tadi, ada apa Hyung?"
"Tidak masalah, aku hanya merindukanmu. Dan juga, aku ingin tanya apa minggu depan kau punya waktu? Aku sangat ingin menemuimu di DC, pekerjaan di Seoul terlalu menumpuk dan aku butuh liburan."
SHIT! Aku harus bagaimana?!
"A-ah, ya, tentu. Aku akan mengatur jadwalnya. Pekerjaan disini juga cukup banyak jadi aku akan luangkan waktuku,"
"Bagus, kau sedang apa sekarang? Hyojin baru saja bangun dan aku kelaparan, rasanya ingin memakanmu saja daripada menunggunya memasakkanku sarapan.."
"Kau bisa melakukannya minggu depan, kan, Hyung? Aku sedang menuju apartemen Wonwoo, kami berjanji untuk makan pagi bersama jadi aku akan menjemputnya sekarang."
"Baiklah kalau begitu, jaga dirimu baik-baik. Jaga lubangmu baik-baik juga ya, Sayang. Aku merindukanmu~"
Kyungsoo susah payah mengusahakan pembicaraan mereka tidak berlangsung lama. Sialan, kenapa aku tidak lihat dulu siapa yang menelepon tadi?
"Kau baik?"
Kyungsoo dengan cepat menoleh pada Jongin yang sudah berdiri di depan pintu kamar yang digadang-gadang akan jadi miliknya jika ia habis bermain dengan Jongin di playroom. "Ya, hanya telepon dari Wonu. Tidak ada yang penting,"ujarnya. "Aku suka Ibumu, dia baik.."
Jongin sempat terkekeh sebelum menjawab Kyungsoo. "She's excited, dia belum pernah melihatku bersama lelaki atau wanita sebelumnya. Kau yang pertama,"
Kyungsoo menunduk, sedikit tersipu.
"Ayo, kita harus bergegas. Kau bisa tertinggal pesawat,"
Kyungsoo bangun dari duduknya dan mengikuti langkah Jongin yang kembali ke kamarnya untuk mengambil tas ransel Kyungsoo dan segera turun ke bawah untuk mengantar Kyungsoo menuju bandara kembali ke DC.
To always forgive me, rather die with me, that's just what gangsters do..
-.o0o.-
Sudah dua minggu berlalu sejak terakhir Kyungsoo menginjakkan kakinya di penthouse Jongin. Setelah beberapa menit lalu ia baru saja landing, kini ia sudah berada di mobil bersama Sean menuju penthouse Jongin di Escala Apartment.
"That's not going to work! What? Well then, tell them that they don't have 24 hours. That is unacceptable! I need to know. Just keep me informed."
Kyungsoo datang saat Jongin baru saja selesai berteriak pada seseorang yang sedang meneleponnya.
"Is everything okay?"
"Tidak ada hal yang perlu kau khawatirkan,"
Kyungsoo mendadak merasa tidak enak pada Jongin karena mengganggunya. "Aku bisa kembali pulang, jika kau mau.."
"No, no. That's the last thing I want. Now, I wanna take you to my playroom," Jongin menatap Kyungsoo dengan serius.
"But I haven't sign the paper yet,"
"I'm well aware. Call it due diligence,"
Kyungsoo tertawa kecil, "Okay,"
Detik berikutnya, Kyungsoo mengikuti langkah kaki Jongin menuju lantai dua, tempat dimana Jongin's Playroom berada. Dadanya berdebar, menantikan akan bagaimanakah perilaku Jongin terhadapnya? Apakah akan sama seperti yang Insung lakukan pertama kali dulu, atau akan berbeda? Ketakutan sedikit menghampirinya, apalagi saat ia sudah sampai di depan pintu Playroom. Dan saat lelaki yang lebih muda membuka pintu, ketakutan lebih besar kembali menghantam pikiran Kyungsoo.
My freakness is on the loose ,and running all over you.
Please, take me to places that nobody, nobody knows..
Jongin sangat sadar bahwa untuk pertama kalinya, Kyungsoo akan merasakan bagaimana dan apa saja yang akan mereka lakukan bila mereka sudah ada di dalam Playroom. Jongin juga sadar, mungkin lelaki mungil itu ketakutan, terlihat dari bagaimana gugupnya ia saat ini. Namun Jongin tidak bisa lagi menahan keinginannya mengenalkan Kyungsoo pada kehidupan gelapnya yang selama ini tak pernah ia buka pada siapapun. Jongin menginginkan Kyungsoo mengenal kehidupan gelapnya seperti ia mengenal kehidupan sosialnya. Jongin menginginkan Kyungsoo menjadi bagian dari seluruh sisi hidupnya. Jongin menginginkan Kyungsoo, sepenuhnya.
Berharap Kyungsoo bisa sedikit rileks dan santai, Jongin memilih untuk mengawali pertemuan mereka hari ini dengan sebuah ciuman. Tidak terlalu dalam dan panjang seperti biasanya, tapi akan ia pastikan bahwa hal itu dapat menjadi pemanasan yang setimpal bagi Kyungsoo. Detik setelah Kyungsoo sudah berada di dalam kamar dan berhenti tepat di belakang Jongin yang tiba-tiba membalikkan badan, ciuman itu dimulai. Dengan satu tangan di pipi kiri Kyungsoo dan tangan lain di pinggang kanannya, Jongin menjadikan ciuman mereka yang sudah kesekian kali ini jadi sebuah kebiasaan tak boleh dilupakan setiap kali mereka bertemu di luar ruang publik. Hanya beberapa lumatan kecil terjadi dan ditutup dengan aksi menggigit bibir bawah milik Kyungsoo yang memang selalu jadi titik lemah Jongin.
"Bagus, sekarang, lepaskan sepatumu." titah Jongin pada Kyungsoo yang tersenyum kecil lalu segera melepaskan sepatunya dan melemparnya ke samping.
"Angkat tanganmu ke atas," Jongin kembali memerintah Kyungsoo kemudian dengan segera melepaskan kaus yang Kyungsoo pakai beserta celana panjangnya.
"Kau punya tubuh yang indah, Kyungsoo. Aku ingin kau tak perlu malu saat kau harus bertelanjang di depanku, kau mengerti?"
Kyungsoo sebenarnya ingin tertawa, tapi karena suasana yang ada sekarang adalah serius, maka ia mengurungkan niatnya. Malu untuk telanjang? Asal kau tahu saja Jongin, setiap kali bertemu denganmu, di dalam pikiranku hanyalah tentang kau dan aku di atas ranjang dan bercinta. Bagaimana kau masih menyuruhku untuk tidak malu telanjang? Oh, my sweetie boy..
"Yes, Sir." Kyungsoo mengangguk sambil menundukkan pandangannya.
"Kau menggigit bibirmu lagi, sekarang berbalik!"
Kyungsoo sudah membaca hampir semua bagian dari dokumen yang Jongin berikan padanya. Kurang lebih, semuanya berisi tentang beberapa hal yang sering ia lakukan dengan Insung. Sedikit banyak, Kyungsoo yakin ia sudah cukup mahir dalam hal menjadi submissive, tapi masalahnya ini adalah Jongin. Seorang pria yang tak tahu bahwa Kyungsoo masih menjadi seorang slave dari orang lain. Masalahnya ini adalah Jongin, pria yang semakin lama semakin membuat Kyungsoo jatuh cinta dan semakin tak ingin menyakitinya dengan jatidirinya yang sebenarnya.
"Setiap aku memintamu ada di Playroom, inilah yang harus kau lakukan." Jongin memberi jeda cukup panjang pada kalimatnya. "Kau harus berlutut, menungguku di balik pintu. Lakukan sekarang,"
Kyungsoo mendadak terserang perasaan bahagia yang amat sangat. Selain ia dapat dikategorikan dalam kondisi excited sekarang, ia juga dapat dikategorikan dalam kondisi yang setengah gila karena sedang berusaha menahan seluruh hormon gilanya yang justru akan membuatnya dalam masalah jika ia lepas pada waktu yang tidak tepat. Dengan degupan jantung yang lebih cepat, ia menuruti perkataan Jongin.
"Tangan berada di atas paha,"
Kyungsoo merasakan bahwa Jongin bergerak menjauhinya tapi ia tak tahu kemana laki-laki itu pergi. Ganti baju mungkin? Dan benar saja, tak sampai lima menit lelaki muda itu muncul dengan topless dan celana jins yang lebih santai dari pakaian kerjanya tadi. Ia masih menyibukkan diri di belakang Kyungsoo dengan terlebih dulu mengambil handcuffs kulit dan sebuah riding crop. Ia mendekati Kyungsoo perlahan dengan meletakkan handcuffsnya terlebih dulu di lantai yang membuat Kyungsoo sedikit kaget karena perlakuan lelaki itu yang tiba-tiba.
"Hold out your hand,"
Kyungsoo menuruti Jongin, dan Jongin menata posisi tangan Kyungsoo sesuai dengan yang ia inginkan. Kemudian, ia menyapukan dengan lembut ujung dari riding cropnya dari leher Kyungsoo lalu menuju pundak Kyungsoo, lengan atas lalu lengan bawah dan terakhir telapak—
"Ah!"
Kyungsoo melepaskan sebuah teriakan kecil tanpa suara saat ujung riding crop dipecutkan Jongin di telapak tangannya.
"Apakah terasa sakit?"
Bulu kuduk Kyungsoo sudah seratus persen berdiri seluruhnya akibat perlakuan Jongin. Ia merasa geli sekaligus horny.
"Tidak," Kyungsoo mengatur napasnya yang sedikit memburu sekarang.
"See? Kebanyakan rasa takutmu hanya ada di kepala saja." balas Jongin. "Come," ia menggenggam tangan Kyungsoo yang sebelumnya ia cambuk dengan riding crop lalu mengajaknya turun menuju lantai dimana ranjang besar dan beberapa koleksi alat-alat BDSM berada.
Jongin terlihat menurunkan langit-langit di atasnya yang berupa sebuah rangka besi yang Jongin gunakan untuk menempatkan borgol Kyungsoo selagi ia mengeksplorasi tubuh lelaki itu sepuasnya tanpa gangguan kedua tangannya. Setelah memborgol Kyungsoo dengan dua borgol berbahan kulit, Jongin menggantungkan Kyungsoo di langit-langit kamarnya.
You got me hooked up on the feeling, you got me hanging from the ceiling.
Got me up so high I'm barely breathing, so don't let me go..
Setelah memastikan bahwa lelakinya sudah aman tergantung di langit-langit besi kamarnya, Jongin berjalan memutari Kyungsoo dan menempatkan dirinya tepat di belakang lelaki itu. Perbedaan tinggi mereka kini jadi keuntungan bagi Jongin untuk meraup leher mulus Kyungsoo dengan lebih leluasa. Bibir Jongin sudah bergerilya di leher dan telinga Kyungsoo, membuat si empunya bergerak tak nyaman karena rasa geli. Tidak hanya itu, kedua tangan Jongin sudah bermain dengan sentuhan-sentuhan yang mampu membuat Kyungsoo memastikan diri berada di atas awan karenanya.
Puas bermain dengan tubuh Kyungsoo dari belakang, kini Jongin beralih pada tubuh bagian depan. Dengan seringai kecil yang ia berikan pada Kyungsoo sebelum memulai aksinya, Jongin saat ini punya kepercayaan diri ditambah dengan hormonal tingkat tinggi dalam dirinya. Seperti biasa, ia akan menuruni tubuh Kyungsoo bagian depan dengan beberapa tiupan menggelikan di daerah dada, kecupan penuh sensualitas di bagian perut lalu kemudian acara pembukaan atau pelepasan celana dalam yang membuat penis Kyungsoo mencuat dengan cepat. Jongin menyempatkan menghirup bau precum dari celana dalam Kyungsoo.
Sialan, kenapa rasanya begitu nikmat dan menegangkan bila Jongin yang melakukan semuanya? Kyungsoo menggeram dan mengumpati dirinya sendiri yang lagi-lagi terlihat begitu pasrah tanpa kuasa saat tubuhnya disentuh, dicambuk dan dirangsang secara perlahan oleh Jongin.
Lelaki yang lebih muda sudah puas menghirup aroma precum milik Kyungsoo, jadi sekarang ia kembali bermain dengan tubuh Kyungsoo. Kali ini dengan menggunakan riding cropnya, ia menyentuh lembut dan menelusuri tubuh bagian samping milik Kyungsoo, menuju ke punggung lalu turun menuju pantat seksi milik lelaki bermata bulat itu. Dan saat sampai disana..
"Ahh!"
Teriakan itu kembali muncul. Menjadikan tubuh Kyungsoo secara reflek bergerak ke depan, membusungkan dada dan penisnya, membiarkan pantat berisinya terekspos dengan lebih jelas oleh Jongin.
"How do you feel?" Jongin akhirnya membuka kebisuan yang selama ini terjadi karena dirinya fokus pada memuaskan Kyungsoo dan juga dirinya sendiri.
"Good," jawaban Kyungsoo lebih terdengar seperti sebuah bisikan menuju desahan karena hampir tak ada tenaga yang ia gunakan untuk menjawab pertanyaan Jongin.
Senyum seringai Jongin muncul lagi, dan Kyungsoo untuk pertama kalinya membenci itu. Ia merasa setiap kali senyum seringai itu muncul, maka akan ada tindakan lain dari Jongin yang berbau pecutan menyenangkan pada dirinya.
It feels great and surprising indeed!
Tebakan Kyungsoo ternyata cukup tepat sasaran, karena beberapa detik setelah Jongin melewatkan riding cropnya ke area dagu, bibir Kyungsoo lalu turun menuju dua nipplenya. Tanpa Kyungsoo tahu, seringai Jongin kini melebar.
"Ahh!"
Tubuh Kyungsoo bergerak reflek ke arah belakang menyusul pecutan yang dilakukan oleh Jongin pada bagian tepat di bawah dua nipplenya barusan. Masih berusaha bernapas atas apa yang terjadi, pecutan Jongin kembali datang dan kali ini tempatnya ada di perut Kyungsoo tepat dimana jika turun sekitar lima senti lagi, maka riding crop itu akan menemukan penis Kyungsoo yang masih dalam posisi sama sejak dilepaskan dari kurungan celana dalamnya
"Ahh!"
"Quiet," Jongin berbisik pada Kyungsoo yang tersenyum kecil menahan nikmat.
Kini posisi Kyungsoo kembali diubah, dengan kedua tangan yang diikat menggunakan tali dan ujung talinya dihubungkan pada sebuah lingkaran lebih mirip cincin besar yang ada di ranjang, Kyungsoo kini resmi menungging di depan Jongin. Setelahnya? Sebuah tamparan di pantat mulusnya hadir dari tangan besar Jongin yang membuat satu desahan Kyungsoo akhirnya lolos.
Tak butuh waktu lama bagi Jongin untuk akhirnya melepas satu-satunya kain yang menutupi bagian penting miliknya. Begitu ia selesai dengan memasang kondom dan melumurinya dengan air liurnya, ia pun memulai penyatuannya dengan lubang Kyungsoo.
"AAHH!"
Kyungsoo mendapatkan dua hingga tiga kali hujaman tepat di prostatnya sebelum ia berpindah posisi menjadi kembali bergantung di langit-langit untuk kembali dihujam tepat di prostatnya oleh Jongin. Butuh tak lebih dari dua hingga tiga pijatan dari Jongin, Kyungsoo akhirnya merasakan miliknya orgasme, dan butuh lebih dari sepuluh hujaman untuk Kyungsoo bisa menikmati ledakan puncak milik Jongin di dalamnya.
Desahan demi desahan tertahan mengiringi penyatuan keduanya sore ini. Kyungsoo yang lelah kini sudah berada dalam pelukan Jongin untuk kemudian ia bawa menuju kamar Kyungsoo yang terdapat di ujung ruangan. Dan tak sampai lima menit, Kyungsoo tertidur.
I need a gangsta, to love me better, than all the others do..
Tak sampai tiga jam setelahnya, Kyungsoo bangun dengan rasa sakit yang lumayan terasa di bagian belakangnya. Ia mengerjapkan kedua matanya, lalu memandang ke sekitar kamarnya. Tak ada Jongin? Bukankah barusan ia menciumku untuk membangunkanku?
Kyungsoo menyadari bahwa sepertinya Jongin memang masuk ke kamarnya untuk membangunkannya karena ia menemukan sebuah setelan jas warna peach, sebuah kemeja putih untuk dalaman jasnya dan celana dalam berada di kursi dekat tempat tidurnya. Tak mau Jongin menunggunya lebih lama, Kyungsoo pun memutuskan segera mandi.
Dua puluh menit kemudian, Kyungsoo turun dari lantai dua menuju lantai satu penthouse Jongin dan menemukan Jongin sedang berdiri menatap jalanan Seattle dengan alunan musik dansa yang mengalun bebas.
"Kita mau kemana?" tanya Kyungsoo pada Jongin yang baru menyadari bahwa lelaki mungil itu sudah turun.
"Ingat Mom pernah menyinggung tentang makan malam keluarga? Hari ini adalah perayaan wedding anniversary Mom and Dad."
Kyungsoo tersenyum kecil. "Ya, tentu. Aku ingat,"
"Dance with me,"
Kyungsoo menyanggupi ajakan Jongin untuk berdansa dengannya walaupun ia tak memakai alas kaki. Jongin terlihat begitu hati-hati dan penuh kontrol saat mengajari Kyungsoo gerakan berdansa sesuai dengan alunan lagu yang menggema di penthousenya malam ini. Beberapa gerakan berputar, lalu akhirnya mereka sampai pada gerakan dimana Jongin melepaskan Kyungsoo untuk berdansa sendiri. Dan seperti dugaannya, lelaki itu berdansa dengan lucu, seperti biasa.
"Kenapa kau tertawaaa?" tanya Kyungsoo sambil meloloskan tawa kecilnya lalu berlari kecil menuju Jongin untuk kemudian membawa lelaki itu dalam ciuman panjang sebelum berangkat menuju rumah kedua orangtua Jongin.
Tiga puluh menit dibutuhkan Sean untuk membawa Jongin dan Kyungsoo ke rumah orangtua sang atasan.
"Welcome Mister Grey,"
"Oh, honey, they're here!"
Mrs. Grey menyambut kedatangan Jongin dan Kyungsoo dengan senang hati. "You're here. Welcome, welcome.."
"Kyung, you've met my Mother." Jongin memperkenalkan Kyungsoo kembali pada Ibunya. "And this is my Father, Christian."
"Hi, nice to meet you,"
"Nice to meet you too. There's been a lot of speculation!"
"Oh my God, you're real!" seorang gadis terlihat turun dari tangga dan mendatangi Kyungsoo untuk memeluknya dengan erat.
"She's my sister, Kate. Dia tak punya nama Korea karena dia lahir dan besar disini," jelas Jongin sesaat sebelum Ayahnya mengambil alih kuasa atas Kyungsoo untuk membawanya ke ruang makan. Perayaan hari jadi pernikahannya kali ini memang tak ia buat meriah, selain karena kesibukannya, ia juga tak terlalu senang dengan keramaian di rumah.
"This is my another son, James. I heard you've met him!"
"Yea, Sir. We've already met before,"
Kyungsoo menyempatkan memeluk Wonwoo yang ternyata juga datang ke acara ini.
"Happy wedding anniversary, Mom, Dad." seru James ketika mendapati seluruh anggota keluarganya sudah duduk di kursi makan.
"Happy anniversary, Mister Grey, Mrs. Grey.."
"Happy anniversary, Christian, Ana.."
"Happy anniversary, Dad, Mom."
"Happy happy happy for both of you!"
Christian dan Ana tersenyum dan berterimakasih pada seluruh putra-putri mereka ditambah dengan dua lelaki lain yang sepertinya akan jadi calon menantu mereka di masa depan. Pembicaraan selanjutnya yang dilakukan sambil makan malam adalah tentang pekerjaan dua laki-laki asing yang saat ini ikut makan malam keluarga Grey.
"So you're the CEO of DJ Company? Nicholas talk much about you,"
"I'm not the CEO, Christian. Just the temporary director of our DC's office. Soon, there will be the new one, the official one."
"And you're his assistant, Wonwoo?"
"Yes, Mrs. Grey.."
"Kyungsoo, so you're from Seoul? You're family too?"
"My father was from London but lived in Busan and move to Seoul since almost thirty years ago after married with my Mom. "
"London? I have lot of friends there, maybe your father was one of them!"
"Could be, Christian.."
"I would like to meet them someday,"
"I'm sorry Ana, but my parents had passed away.. so, yeah.."
"Oh my dear, I'm sorry darlin'.. They've gone for long time?"
"Since I was six, so yeah it's long enough.."
Christian masih menatap Kyungsoo. Entah kenapa, kedua mata bulat anak itu mengingatkannya pada seseorang di masa lalunya. Seseorang yang tak lagi ingin ia temui, seseorang yang masuk dalam daftar hitam miliknya, seseorang yang sama sekali tak ia ingini untuk masuk dan menjadi bagian dalam keluarganya.
"I'm sorry, Kyungsoo, but have we met before?"
Pertanyaan Ayahnya sontak mengundang tanda tanya di kepala Jongin.
"No, Christian. This is I believe, our first time."
"Please don't say such a joke to him, Dad.." Jongin yang merasa bahwa Ayahnya hanya bergurau pun segera menasehatinya.
"No, I'm serious. His eyes somehow remind me to someone, but it's alright. Maybe it's just my bad memories you know? Come on, let's eat!"
Kyungsoo mengangguk, Jongin mendesah lega. Akhirnya pertanyaan-pertanyaan untuk lelakinya berakhir juga. Ya, walau sejak tadi tangan kirinya tak berhenti menyentuh paha Kyungsoo, tapi ia senang bahwa akhirnya ia bisa benar-benar fokus menggerayangi Kyungsoo disini.
Sayangnya, lelaki mungil itu masih cukup waras untuk menerima seducing di tempat umum begini, jadilah sejak tadi ketika Jongin menempatkan tangannya di pahanya, ia akan langsung menurunkannya dari sana setelah lebih dulu melihat situasi sekitarnya apakah ada yang melihatnya atau tidak.
Terlepas dari interaksi antara Jongin dan Kyungsoo, Christian disisi lain masih merasa bahwa ingatannya tentang kedua mata Kyungsoo bukanlah bagian dari memorinya yang sudah tercampur-campur atau sudah tidak lagi sejelas saat ia masih muda. Kedua mata itu, entah kenapa terasa seperti membawa aura gelap dalam kehidupannya sekali lagi. Kedua mata itu bagi Christian, terasa seperti mata iblis yang kembali mengintai keluarganya setelah bertahun-tahun menghilang. Dan perasaan Christian mengatakan bahwa lelaki itu punya rahasia yang bahkan tak diketahui putra sulungnya sekalipun.
To always forgive me, rather die with me, that's just what gangsters do..
-.o0o.-
