Dua bulan sudah Kyungsoo lalui dengan jabatan barunya sebagai Direktur di kantor DJ Company Washington DC. Dua bulan pula ia dan Wonwoo kadang berbagi keluhan tentang betapa mereka merindukan Seoul kadang-kadang. Wonwoo tentu tidak tahu kapan ia bisa kembali ke Seoul walau resikonya adalah ia akan semakin bertambah jauh dengan kekasihnya. Namun Kyungsoo berbeda, ia sangat tahu kapan ia akan bisa kembali ke Seoul. Bahkan sejak kemarin, Chanyeol sudah menghubunginya dan mengabarinya tentang sudah masuknya CV miliknya ke e-mail perusahaan. Bisa dipastikan dalam satu atau dua hari ke depan, pihak HRD akan memanggilnya atau jika sangat beruntung, ia bisa langsung berhadapan dengan Insung.
Kyungsoo tentu sangat bahagia, apalagi mengetahui kenyataan bahwa sebentar lagi rencananya dan dua saudaranya itu akan mencapai puncaknya. Ia sudah tak sabar melihat Insung meratapi nasibnya yang kehilangan seluruh hartanya seperti apa yang sudah ia lakukan pada kedua orangtua Kyungsoo, Chanyeol dan juga Sehun. Bahkan jika memungkinkan, mereka bertiga sudah berencana turur melenyapkan Insung beserta keluarga kecilnya seperti apa yang selama ini selalu lelaki itu lakukan pada tiap rivalnya.
Kyungsoo sudah melalui seminggu pada bulan keduanya tanpa bertemu Jongin. Lelaki itu sedang terbang ke Zimbabwe, mengurusi proyek kemanusiaan miliknya yang membantu masyarakat kelaparan disana serta beberapa proyek lainnya. Sebagai seorang pengusaha juga, Kyungsoo sebenarnya juga sering mengetahui perihal proyek-proyek kemanusiaan milik DJ Company, tapi ia tak pernah sekalipun turun tangan. Karena yang ia tangani adalah proyek pelenyapan manusia, terutama yang jadi rival DJ Company demi meraih kepercayaan tinggi dari Insung padanya.
Di akhir minggu keduanya, Kyungsoo akhirnya dapat persetujuan dari Jongin dan ia pun segera ke Seattle dengan penerbangan malam pada hari Kamis. Keduanya menghabiskan hari Jumat pagi dengan bekerja, Kyungsoo dengan laptopnya di penthouse Jongin dan Jongin dengan dokumen-dokumen perusahaannya di Grey House. Sore hingga jam makan malam mereka habiskan untuk saling bertukar desahan di playroom. Dan hari Sabtu pagi, setelah memakan sarapan pagi buatan Kyungsoo, Jongin pun menggeber tunggangan kesayangannya menuju Seattle Great Wheel.
Kyungsoo bilang ini adalah kencan pertama mereka setelah sekian lama. Walau tidak terlalu akrab dengan istilah kencan, Jongin merasa ini adalah hal baik yang dapat membuat Kyungsoo senang. Lagipula, ini memang hadiah untuk enthusiasm yang Kyungsoo tunjukkan dengan meminta Jongin berdiskusi tentang isi dokumen perjanjian Dominant-Submissive miliknya. Mereka melakukannya satu minggu setelah makan malam dengan keluarga Grey, kala itu adalah giliran Jongin untuk mengunjungi DC. Dan mereka membicarakannya di apartment Kyungsoo. Sebagai hadiah untuk antusiasme itu, Jongin memberinya kesempatan menjalani hubungan seperti pasangan lain dengan berkencan, dan Seattle Great Wheel adalah pilihan Kyungsoo.
"Untung saja kita sudah sampai! Kau lihat, Jongin? Mereka yang baru datang dapat giliran antri jauh sekali!"
Jongin mengangguk tanpa melihat ke arah antrian yang dimaksud Kyungsoo. Laki-laki mungil ini, lima menit lalu masih dalam mode ngambek pada Jongin karena memaksanya untuk memilih seat VIP dan bukan seat regular. Jongin ngotot minta VIP karena tidak mau privasinya bersama Kyungsoo terganggu, sedangkan Kyungsoo minta regular karena ingin merasakan sensasi naik biang-lala sebesar ini bersama dengan pengunjung yang lain. Namun, lagi-lagi yang dihadapi Kyungsoo adalah Jongin, jadi tentu saja sudah jelas siapa yang akan menang. Bahkan, Jongin sampai mengeluarkan dua ratus dolar demi memastikan bahwa dalam satu bilik biang-lala hanya ada dirinya dan Kyungsoo. Lima menit lalu Kyungsoo ngambek dan lihat sekarang? Dia sudah kembali pada sifatnya yang biasa.
Jongin kadang merasa bingung apa dia benar-benar jatuh cinta pada seorang lelaki yang umurnya setahun di atasnya atau bagaimana? Kenapa dia merasa sedang punya hubungan dengan lelaki berumur enam tahun?
"Jongin! Kita selanjutnya! Ayo!"
Jongin mengikuti tarikan Kyungsoo setelah dengan terburu-buru memberikan tiket VIPnya pada petugas. Mereka sekarang sudah berada di dalam salah satu bilik biang-lala. Seat VIP memang memiliki keunggulan dibanding regular. Lantai seat VIP adalah kaca, jadi mereka bisa melihat bagaimana keadaan di bawah ketika ada di atas. Tempat duduk VIP juga merupakan leather bucket seats, bukan tempat duduk seperti regular. Selain itu, mereka juga menyediakan stereo di dalam bilik VIP. Bahkan, pihak Seattle Great Wheel menyiapkan champagne toast di Fisherman's restaurant, VIP t-shirt, and photo booth photos. Kyungsoo yang sebelumnya tidak menyadari keuntungan itu, sekarang pun merasa sangat senang dengan semuanya.
"Wah sudah mulai jalan!"
Jongin menyempatkan mengabadikan kehebohan Kyungsoo dengan kamera yang ia bawa. Tak lupa, ia juga mengabadikan pemandangan sekitarnya dari atas biang-lala ini.
"Kemarikan, aku akan memotretmu,"
Kyungsoo meminta kamera yang Jongin pegang dan ia pun memberikannya. Ada tiga potret Jongin yang Kyungsoo abadikan, dalam tiap kali foto diambil, Kyungsoo akan selalu berteriak dan meminta Jongin melakukan pose-pose tertentu. Oh, ia rasa ia benar-benar sudah jatuh cinta pada Jongin!
Setelahnya, kamera kembali pada Jongin dan Kyungsoo bersikap seperti sebelumnya. Sangat antusias dan sangat terlihat bahwa ia lebih mirip anak TK alih-alih seorang CMO. Jongin tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk merekam seluruh kegiatan yang Kyungsoo lakukan. Ia mengabadikan hampir seluruh perilaku Kyungsoo baik dengan video maupun foto. Untuk dua puluh menit waktu yang ia habiskan dalam biang-lala ini, Jongin habiskan dengan bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia benar-benar sudah sangat mencintai Kyungsoo lebih dari yang ia tahu?
I've never let myself fall this much astray..
And feeding on her touch is all one does to survive..
Dari balik lensa kamera, Jongin menatap bagaimana lelaki itu punya sisi menggemaskan yang tidak bisa ditolak oleh siapapun bahkan jika dirinya benar-benar tak punya hati. Dari balik lensa kamera, Jongin melihat bagaimana Kyungsoo bisa terkesan begitu anggun, manis, dan penuh kebahagiaan seolah hidupnya tak pernah tersentuh duka setitik pun. Dari balik lensa kameranya, Jongin untuk pertama kalinya, merasa bersyukur bisa merasakan kehidupan layaknya orang normal.
Tak terasa sudah waktunya kembali menginjak bumi. Dan tentu saja, waktunya makan siang. Kyungsoo meminta Jongin makan siang sebelum pulang karena mereka punya free champagne toast di Fisherman's restaurant berkat tiket VIP yang mereka beli tadi. Selain karena perutnya sudah lapar, Kyungsoo juga merasa waktu kencannya akan terlalu singkat jika hanya ia habiskan dengan naik biang-lala saja tanpa melakukan kegiatan apapun selain itu.
Kyungsoo merasa cukup senang karena Jongin bersikap sangat lucu seolah ia benar-benar manusia dari dunia lain yang tidak mengenal kehidupan manusia bumi. Sejak tadi raut wajah laki-laki itu hanya akan tersenyum ketika mereka berbicara atau ia melakukan hal bodoh. Bagi Kyungsoo, tentu tak masalah, apalagi terakhir kali ia bertingkah seperti ini adalah sebelum orangtuanya meninggal. Jadi ia pikir, Jongin tak akan marah jika ia melampiaskannya sekarang, saat mereka sedang kencan.
"Apa kau senang?"
"Tentu saja! Ini adalah kencan terbaik!" Kyungsoo memberikan kedua jempolnya pada Jongin dan lelaki itu tertawa.
"Ya, ini pertama kalinya untukku, dan tidak buruk, kok."
"Aku selalu jadi pertamamu, benar? Aahh, aku merasa beruntung~"
Jongin tersenyum kecil. "Ya, kau banyak jadi yang pertama untukku."
"Apa kau senang, Jongin?"
"Kalau kau merasa senang, aku akan merasa senang. Lagipula hal seperti ini bukanlah hal yang aku pahami, jadi senang atau tidak, kurasa tak akan ada bedanya."
Kyungsoo merengut sejenak tapi kembali sumringah saat makanan pesanan mereka datang.
"Sepertinya banyak pelayan disini yang mengenalmu, apa tidak apa-apa?"
Pertanyaan Kyungsoo mengerucut pada kenyataan bahwa mereka sedang kencan dan bukan sekedar brother trip atau semacamnya.
"Mereka tak akan berani macam-macam,"
Benar. Tentu saja. Siapa yang akan berani macam-macam dengan Nicholas Grey? Begitu 'kan maksudmu? Huh, dasar fancy-pants!
"Makanlah,"
"Baik, Mister Grey."
Jongin melahap makanannya sambil menatap bagaimana makhluk di depannya ini bisa begitu saja membuatnya berubah. Dari Nicholas Grey yang sangat kaku terhadap perubahan terutama dalam hal kehidupan pribadinya, menjadi Nicholas Grey yang mengenal negosiasi dan mulai tidak peduli tentang beberapa hal teratur yang dulu pernah jadi rutinnya. Apa yang sudah laki-laki itu lakukan pada dirinya? Apa yang sudah laki-laki itu rapalkan pada hatinya? Kenapa sejak pertemuan mereka, rasanya tak ada lagi tindakan hasil pemikiran hatinya yang sejalan dengan nalarnya?
Jongin pikir, bagi dunia, ia adalah sosok yang membahayakan. Karenanya ia meminta Kyungsoo menjauh agar lelaki itu tak jadi terluka karenanya.
Namun sejak bertemu Kyungsoo, lalu mengenalnya sedikit demi sedikit, ia perlahan mengubah pemikirannya.
Kyungsoolah yang berbahaya baginya, Kyungsoolah yang berbahaya bagi hidupnya.
Kyungsoolah yang berbahaya bagi hati dan jiwanya.
-.o0o.-
She said show me the world that's inside your head,
Jam tangan Kyungsoo sudah menunjukkan pukul tujuh malam lebih lima belas menit waktu Seattle, dan saat ini ia masih bersama Jongin. Setelah dari Great Wheel, Jongin memutuskan untuk pulang dan membiarkan Kyungsoo untuk istirahat sebelum makan malam di luar di tempat yang sudah ia pesan. Seperti biasa, sifat pengontrol milik Jongin kembali berbicara. Kyungsoo tak mempermasalahkan hal itu, karena lama-kelamaan ia merasa sangat terbiasa dengan semua perilaku Jongin. Bahkan kini ia akan lebih sering menghabiskan waktunya bertukar e-mail dengan Jongin daripada menyelesaikan pekerjaannya, akibatnya ketika menjelang akhir pekan ia harus mengambil jam lembur untuk menyelesaikannya.
Kyungsoo dan Jongin saat ini sedang berada di Observation Desk. Sebuah tempat yang ada di Space Needle, Seattle dengan ketinggian 520 kaki yang punya pemandangan kota Seattle yang luar biasa cantik. Kyungsoo kadang tak mengerti dengan pola pikir Jongin tentang dirinya yang tidak romantis. Selama ini, setiap perlakuan Jongin padanya adalah hal-hal yang masuk kategori romantis. Bagaimana bisa pria itu bersikukuh bahwa ia bukan manusia romantis?
Jongin bilang, setelah puas melihat seluruh Seattle dari sini, mereka akan turun ke Sky City dimana table mereka sudah dipesan untuk dua orang pada pukul delapan malam. Artinya mereka yang baru saja sampai setelah mengantri setengah jam hanya untuk naik lift menuju Observation Desk ini punya waktu empat puluh lima menit sebelum mereka turun untuk menikmati makan malam mereka. Kyungsoo sering merasa heran pada Jongin, bagaimana bisa laki-laki ini berpikir tentang ini dan itu bahkan sebelum mereka menyelesaikan satu kegiatan?
Acara makan malam di Sky City ini contohnya, Jongin sudah mengatakan padanya sejak mereka selesai makan siang di Great Wheel. Ia bilang, Sean sudah mereservasikannya untuknya. Itu berarti Jongin memikirkan tentang makan malam ketika mereka sedang makan siang! Kyungsoo bahkan tak akan sepemikir itu jika bukan karena Chanyeol. Terlebih tentang urusan pribadi mereka dengan Insung. Jika bukan karena dorongan dari Chanyeol, Kyungsoo pikir ia tak akan punya nyali sebesar ini untuk menjadi pion penting dalam permainan mereka.
Kyungsoo memang membenci Insung, sangat. Apalagi saat ia tahu bahwa dalang dibalik kematian kedua orangtuanya, juga kedua orangtua Chanyeol dan Sehun adalah Insung. Saat itu Kyungsoo masih berumur enam belas, ia tak banyak punya ide dan rencana tentang bagaimana caranya membalas dendam pada pembunuh orangtuanya. Namun berkat Chanyeol, lelaki yang sudah ia anggap saudara sendiri sejak mereka bertemu di Panti Asuhan itu, nyalinya naik, semangatnya terbakar, dan niatnya untuk membalas seluruh perbuatan Insung pada keluarganya jadi prioritas hidupnya dari umurnya masih tujuh belas hingga hari ini.
Ahh, Chanyeol ya? Kyungsoo jadi ingat bahwa kemarin lelaki bertubuh tinggi itu memberitahunya bahwa CVnya sudah masuk ke perusahaan. Insung pasti akan langsung menerima Chanyeol, Kyungsoo yakin itu. Selain karena selama beberapa bulan dibuka pendaftaran hanya Chanyeol yang memenuhi standar perusahaan, Insung juga tak akan mau lebih lama lagi tersiksa tak bisa menikmati lubang sempit Kyungsoo, 'kan? Kyungsoo sebenarnya sangat sadar bahwa dirinya adalah pion penting dalam rencana yang sudah mereka susun sejak tujuh tahun lalu ini. Menjadi orang kepercayaan Insung, menghandle seluruh kegiatan penting perusahaan, merelakan tubuhnya jadi alat pemuas nafsu Insung demi tetap terjaganya kepercayaan Insung padanya, serta mengatur banyak rencana pelenyapan rival-rival Insung.
Kyungsoo adalah Ace. Ace dalam DJ Company, dan ace dalam rencana balas dendam. Ia tak boleh lengah bahkan sedikit saja punya celah untuk lunturnya kepercayaan Insung, sangat tidak diperkenankan. Lelaki itu punya tipikal yang sulit memberi kepercayaan pada orang baru, hanya lewat Kyungsoolah semuanya terasa mudah. Karenanya, jika Kyungsoo sedikit saja lengah dan membuat keraguan sempat merayap dan mendekati Insung, seluruh rencana yang mereka susun bisa diambang kegagalan.
Sejauh ini, Sehun sudah berkali-kali berhasil memanipulasi keamanan kantor. Membiarkan beberapa kali anggotanya untuk mengambil beberapa data fisik penting milik perusahaan tanpa diketahui oleh siapapun. Kadang, Sehun juga akan merekayasa beberapa perampokan di kantor dimana ia akan jadi pahlawan kesiangan yang menggagalkan upaya perampokan dan ratingnya akan naik dimata Insung. Sebagai kepala keamanan, Sehun punya banyak kesempatan menjatuhkan DJ Company dari sisi tidak terduga.
Lalu Chanyeol, lelaki penuh ide gila ini bisa dibilang adalah otak dari semua rencana balas dendam mereka. Menyaksikan pembunuhan keji orangtuanya dengan kedua matanya sendiri oleh Insung dan beberapa kawanan sialannya itu membuat Chanyeol memiliki luka paling besar diantara dua orang lainnya. Sejak umur empat Chanyeol sudah yatim piatu, bahkan kakak perempuannya yang tidak tahu apa-apa pun ikut tewas. Karenanya, Chanyeol adalah orang yang paling anti dengan gagalnya rencana balas dendam mereka pada Insung. Apapun celah yang dapat digunakan oleh rasa ragu-ragu dan ketidakpercayaan untuk masuk dan merangkak pada Insung, akan langsung Chanyeol tutup dengan cara apapun.
Jika Sehun bekerja dari sisi keamanan kantor, maka Chanyeol bekerja dengan kecerdasannya yang luarbiasa untuk membobol situs perusahaan, e-mail perusahaan dan bahkan menyusup masuk dalam jaringan yang digunakan DJ Company untuk saling terkoneksi mengirim dokumen saat di kantor. Dibantu oleh kekasihnya yang berprofesi sebagai hacker internasional, Chanyeol berhasil melenyapkan dana milik perusahaan sejak lima tahun lalu hingga hari ini tanpa terdeteksi.
"Mom and Dad menanyakan tentangmu,"
Jongin membuyarkan lamunan Kyungsoo. Mereka sekarang sudah selesai memotret Seattle dari berbagai sisi, jadi saatnya menuju Sky City untuk mengisi kembali tenaga yang terbuang sejak tadi.
"Ya? Kenapa?"
"Entahlah, hanya bertanya kapan Kyungsoo akan ke rumah lagi. Sepertinya Ibuku menyukaimu,"
Kyungsoo tersenyum, Jongin jatuh cinta.
"Apa aku harus merasa senang atau…?"
Jongin tertawa, Kyungsoo jatuh hati.
"Kau boleh merasa senang, biar aku saja yang menanggung repotnya. Setelah ini aku pastikan Mom akan selalu bertanya tentangmu lebih sering,"
"Lalu apa pertanyaan itu mengganggumu?"
"Tidak, hanya saja aku tak suka berbagi apa yang jadi milikku."
Kyungsoo merasakan pipinya memanas tepat ketika mereka sampai di lantai tempat Sky City berada. Apa ini terjadi karena ia kekurangan oksigen, atau karena perlakuan sialan dari Jongin barusan?
"This way Mister Grey,"
"Apa kita akan dapat meja dekat jendela, Jongin?"
"Apa kau berharap begitu? Sepertinya Sean lupa memesan tempat dekat jendela. Tidak apa-apa, kan?" goda Jongin sembari menahan senyumnya. Kyungsoo terlihat memberengut dan hampir merajuk, tapi tidak jadi karena pelayan di depan mereka lebih dulu menunjuk sebuah meja nomor tiga belas yang berada tepat di samping jendela dengan pemandangan Seattle di malam hari yang luar biasa indah.
"Yeay!"
Jongin menyimpan senyum lebarnya dan hanya meloloskan sebagian kecil saat melihat antusiasme Kyungsoo.
"Kau nampak sangat senang,"
"Ini indah, Jongin! Aku jarang sekali keluar malam untuk jalan-jalan saat di Seoul, karena setiap pulang kerja akan terasa sangat lelah. Jadi ini pertama kalinya aku bisa melihat pemandangan begini,"
"Kita bisa sering kemari, jika kau menyetujui untuk jadi milikku, Kyungsoo."
Tell me your secrets of life and death, and your one regret..
Kyungsoo menoleh pada Jongin dengan segera, seolah ingin mengoreksi kata-kata Jongin sebelumnya. Namun pergerakannya terhenti saat kedua matanya menatap sebuah kotak bludru warna merah yang terbuka dan menampilkan sebuah cincin perak tergeletak di hadapannya.
"Jadilah milikku,"
"Jongin…"
"Ini mungkin bukan pertanda aku melamarmu atau semacamnya tapi aku menginginkanmu jadi milikku, hanya milikku."
"Aku…"
"Kenapa Kyungsoo?"
"Aku masih membutuhkan waktu untuk berpikir, Jongin."
Jongin menutup kembali kotaknya, memasukkannya ke dalam saku jasnya dan menatap Kyungsoo. "Tak masalah, aku akan memberimu waktu yang kau perlukan."
Kyungsoo menatap Jongin dengan penuh rasa bersalah. Ingin rasanya ia berteriak bahwa demi Tuhan ia sangat mencintai Jongin, tapi perasaannya mengatakan bahwa sekarang bukanlah saat yang tepat bagi mereka untuk bersama. Kyungsoo ingin menenangkan Jongin dengan mengatakan bahwa ia mencintai Jongin, ia hanya butuh waktu untuk memantapkan dirinya sendiri. Namun, apakah jawaban seperti itu akan jadi penenang bagi Jongin?
"Makanlah,"
Kyungsoo mulai menyantap hidangan yang tadi mereka pesan dengan perlahan seolah isi perutnya mendadak penuh dengan rasa bersalah. Isi kepalanya dijejali dengan kemungkinan-kemungkinan tentang ia dan Jongin. Bisakah mereka bersama? Bisakah dunia kali ini saja jadi berpihak padanya? Bisakah semesta untuk kali ini saja mendukungnya bahagia?
Cause sometimes it comes with a shove, when you fall in love..
.
-.o0o.-
.
