3. One Last Time

Hari ini akhir minggu, Chanyeol pikir ia bisa punya waktu tidur berkualitas tanpa terganggu siapapun. Apalagi dua hari lalu ia baru saja sampai di Washington DC setelah dua minggu sebelumnya berhasil melewati prosesi penerimaan pegawai dan ditetapkan Insung sebagai Direktur baru di kantor DJ Company di DC menggantikan Kyungsoo. Pekerjaan yang ia lakukan di DC pasca sampainya ia disini terlalu banyak, bahkan ia hanya punya waktu sepuluh menit untuk menelepon kekasihnya saat makan siang. Jadi, akhir minggu ini Chanyeol memutuskan untuk balas dendam. Ia akan hibernasi dan akan bangun saat makan malam jika perlu.

Sialnya, seseorang nampaknya tak setuju dengan rencana Chanyeol.

"SIAPA PAGI-PAGI BEGINI SUDAH MEMBUNYIKAN BEL?!" teriakan Chanyeol menggema di kamar tidur dan terus berlanjut menjadi gumaman hingga ia sampai di pintu.

"Kau siapa?" Chanyeol menguap lebar, menggaruk belakang kepalanya, matanya masih setengah terpejam. "Mencari siapa?"

"Dia mencariku!" sahut Kyungsoo dari belakangnya. "Kau lanjutkan saja tidurmu, okay? Aku pergi dulu, bye Hyung!"

Kyungsoo mendorong Chanyeol masuk, kemudian keluar dari apartment seraya menutup pintu.

"Siapa orang itu, ya? Kenapa rasanya aku pernah melihatnya?" Chanyeol menggumam sambil berpikir, tapi karena beberapa nyawanya masih terselip entah di dunia mimpi bagian mana, akhirnya ia memilih untuk kembali tidur. Mengabaikan banyak sekali pesan singkat dan telepon tak terjawab dari kekasihnya.

Dilain pihak, Kyungsoo saat ini masih menggandeng lengan Jongin menuju tempat parkir mobilnya.

"Tadi itu siapa?" Jongin mulai bertanya dengan nada menyelidik. Wajahnya serius dan rautnya tidak bersahabat.

"Oh, dia Hyungku. Aku sudah pernah cerita kalau aku punya dua saudara dari Panti Asuhan, kan?"

Jongin mengangguk. "Jadi dia?"

"Jangan cemburuuuu~"

"Tidak. Aku hanya sedikit terkejut menemukan pria lain yang sedang bertelanjang dada di apartmentmu,"

Kyungsoo tertawa dan membenarkan seatbeltnya. "Dia memang tak pernah pakai baju kalau di apartment. Panas, katanya. Entah harus sedingin apa apartmentku supaya dia mau pakai baju."

Jongin mengangguk, masih merasa aneh dengan pemuda topless yang ia temui tadi saat menjemput Kyungsoo. Kenapa perasaannya mendadak tak enak saat menatapnya?

Hari ini Jongin dan Kyungsoo memutuskan untuk berlibur ke Rock Creek, dan beberapa tempat wisata di kawasan National Mall. Kyungsoo tidak mengijinkan Jongin menginap karena ada Chanyeol di apartmentnya. Sampai hari ini, ia tak memberitahu Chanyeol bahwa ia punya hubungan khusus dengan CEO Grey Enterprises yang notabene adalah klien sekaligus rival Insung. Kyungsoo merasa belum saatnya Chanyeol tahu tentang Jongin dan dirinya, lagipula ia punya perjanjian dengan Jongin untuk tidak memberitahukan tentang hubungan mereka pada siapapun.

Lain Kyungsoo, lain juga dengan Chanyeol. Jika sebelumnya ia memutuskan untuk tidur hingga makan malam, nyatanya baru dua jam kepergian Kyungsoo, ia sudah bangun dan berkutat di depan laptopnya. Seperti yang sudah bisa ditebak, ia mencari sosok dalam file orang yang pernah ia cari untuk menemukan siapa sebenarnya lelaki yang menjemput Kyungsoo tadi.

"Ah! Ini dia!" Chanyeol akhirnya bersuara ketika ia menemukan foto wajah yang mirip dengan lelaki tadi.

"Shit. Nicholas Grey? Laki-laki itu adalah Nicholas Grey?" Chanyeol mengusak rambutnya kasar. Jika dugaannya benar, Kyungsoo sedang menyembunyikan sesuatu darinya.

"Aku akan cari tahu sendiri jika memang kau tak berniat memberitahuku, Kyungsoo. Bagaimana bisa kau berpikir untuk menyembunyikan hal seperti ini dariku?" geram Chanyeol sembari membuka laptopnya yang lain, laptop yang selalu ia gunakan untuk meretas berbagai situs keamanan, berbagai jaringan komunikasi hingga meretas rekaman CCTV dari belahan dunia bagian manapun.

Jari jemari besar milik Chanyeol mulai bekerja dengan cekatan, mengetik banyak huruf, kata dan sandi-sandi yang tak akan dimengerti oleh orang-orang awam. Ia sudah memakai kacamata kerjanya, yang artinya ia benar-benar serius akan mencari tahu apa yang Kyungsoo sembunyikan tentang Nicholas Grey darinya.

"Halo,"

"KENAPA BARU ANGKAT TELEPONKU SEKARANG DASAR DOBI!"

Chanyeol menjauhkan ponselnya dari telinga dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Shit, ini Baekhyun.

"A-ahh, maafkan aku Bee. Aku baru saja bangun,"

"KAU TIDAK INGAT INI HARI APA?"

Chanyeol mengernyitkan dahinya, berpikir. Ini hari Sabtu, 'kan? Memangnya ada apa dengan—oh shit. Mati aku…

"ASTAGA BEE! MAAF, AKU LUPA! AKU AKAN SEGERA MANDI DAN MENJEMPUTMU DI BANDARA!"

"TIDAK PERLU DASAR GIANT DOBI BODOH! BAGAIMANA BISA KAU MELUPAKAN KEKASIHMU SENDIRI?! AKU SUDAH DI LOBI APARTMENT KYUNGSOO. CEPAT TURUN! KALAU LIMA MENIT LAGI KAU TIDAK ADA—"

"OKAY BEE, OKAY! Tolong jangan lanjutkan ancamannya. Aku akan segera turun, tunggulah."

Chanyeol mematikan ponselnya dan merutuki kebodohannya yang melupakan janjinya untuk menjemput kekasihnya yang baru tiba dari China di bandara. Akhirnya, ia memilih untuk segera mematikan dua laptopnya dan mendatangi kekasihnya. Chanyeol pikir, mungkin ia bisa kembali melacak tentang Nicholas Grey ketika Kyungsoo tidak sedang ada di apartment. Harapannya, semoga saja Kyungsoo tidak melakukan hal bodoh dengan jatuh cinta pada pimpinan dari rival DJ Company.

.

-.o0o.-

Sudah dua minggu ini Kyungsoo dan Jongin tidak saling bertemu. Mereka hanya sekedar bertatap muka saat video call ketika salah satu atau keduanya sedang senggang. Sebagai direktur di kantor baru, pekerjaan Kyungsoo menumpuk karena beberapa perusahaan di daerah Barat ternyata sangat tertarik menjalin kerjasama dengan DJ Company. Jadilah ia harus beberapa kali terbang kesana-kemari demi melancarkan kerjasama mereka. Tak hanya Kyungsoo, Jongin pun sama-sama sedang dalam fase paling sibuk dalam pekerjaan mereka. Jadi sebuah video call di akhir pekan akan sangat mengobati segala macam rindu yang menyesaki dada mereka tiap harinya.

Seperti saat ini, Jongin baru saja selesai video call dengan Kyungsoo yang ternyata baru pulang kerja dan baru akan mandi. Iseng, tadi ia menawari Kyungsoo untuk mandi bersama. Untungnya lelaki itu terlalu lelah untuk menanggapi godaan dari Jongin jadi ia hanya tertawa dan mengucap salam sampai bertemu di akhir bulan nanti dimana adalah gilirannya untuk terbang ke Seattle.

Harusnya akhir minggu ini Jongin sudah bisa terbang kembali ke Seattle, tapi kliennya mendadak meminta diskusi kedua yang harusnya mereka lakukan Jumat minggu depan maju menjadi hari Senin. Dengan rentang waktu istirahat yang hanya satu hari di rumah, tak akan membantu kepala Jongin jadi lebih baik, sehingga ia memilih untuk tetap tinggal di Singapore saja.

Tiba-tiba, ponsel Jongin bergetar menandakan panggilan dari kepala keamanannya, Sean.

"Grey."

"Selamat pagi Mister Grey, maaf saya mengganggu."

"Tak apa, Sean. Ada apa?"

"Saya baru saja mengirimkan sebuah e-mail pada Anda, Mister Grey. Kebenaran dari isi e-mail tersebut telah saya konfirmasi, saya harap… Anda bisa menahan diri."

Jongin mengernyitkan dahinya. Menahan diri? Apa maksud Sean?

"Apa maksudmu?"

"Maaf Mister Grey, sebaiknya Anda melihat e-mail Anda terlebih dahulu. Saya akan menunggu di telepon."

Jongin meletakkan ponselnya, jarinya beralih ke laptopnya membuka surel dari Sean yang baru saja ia kirimkan.

"Alexander Black?" Jongin mengulangi apa yang tertulis dalam kolom subject surel tersebut. Ia kemudian mengunduh data yang Sean kirim dan segera membukanya tanpa berpikir panjang.

Peluh dan aura kemarahan langsung terlihat di wajah Jongin sesaat setelah kedua mata tajamnya melakukan skimming pada data yang dikirim ajudannya. Sebelah tangannya terkepal erat seolah menandakan bahwa amarahnya tak main-main.

"Jadi apa yang Dad curigai benar?" Jongin bergumam merasakan tubuhnya mendadak dipenuhi hawa panas yang tidak nyaman. "Jadi kau adalah Alexander Black, Do Kyungsoo?"

Jongin menyambar ponselnya dan menemukan Sean masih tersambung dengannya. "Siapkan Gulfstream, aku akan terbang ke DC malam ini juga."

"Baik, Mister Grey."

Masih berkutat dengan ponselnya, Jongin menelepon Andrea, sekretarisnya. "Cancel the meeting with Mr. Andrew, rearrange them. I'll go to DC tonight, and I'll comeback to Singapore at Tuesday. I'll take Monday as my day off,"

"Yes, Mister Grey."

Jongin menutup sambungan teleponnya dengan Andrea dan kembali menelepon Sean.

"Kau ikut denganku ke DC. Aku butuh bicara banyak denganmu selama di pesawat,"

"Baik, Mister Grey. Saya akan bersiap, tiga jam dari sekarang pesawat akan siap di bandara, Mister Grey."

"Aku akan berkemas."

Jongin menutup teleponnya lagi, meletakkannya dengan kasar ke meja lalu segera berdiri dan berbalik untuk sekedar menghantam tembok kamar hotelnya dengan kepalan tangan kanannya. Butuh tiga hingga lima kali pukulan bagi Jongin untuk menyadari bahwa buku-buku jarinya sudah mulai bengkak.

"Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku, Kyungsoo…."

Jongin berteriak seakan baru saja mendapat berita paling buruk untuk hidupnya. Jongin masih tidak percaya bahwa lelaki yang sudah ia tetapkan sebagai satu-satunya lelaki yang ia cintai untuk hidupnya saat ini dan seterusnya itu ternyata adalah seseorang yang membawa mimpi buruk bagi keluarganya di masa lalu. Seseorang yang sempat hampir membuat seluruh keluarganya tak lagi punya kesempatan hidup dan merasakan kebahagiaan yang kini mereka kecap. Seseorang yang masih dan selalu jadi daftar hitam dalam kamus kehidupan Jongin. Seseorang yang tak bisa Jongin ketahui namanya kecuali hanya sebuah nama samaran Anonymus Black.

Bagi Jongin, ingatan tentang kekejian perilaku anonymus black pada keluarganya sudah sangat membuatnya geram. Saat itu ia tak bisa melacak apapun tentang sosok yang hampir saja membunuh seluruh keluarga barunya. Sosok yang hampir saja membuatnya jadi sebatang kara untuk kedua kalinya. Ia hanya tahu dari ayahnya bahwa mereka adalah suruhan dari sebuah perusahaan yang sama-sama meniti karir dari bawah seperti GK Inc., perusahaan pertama milik ayahnya yang dibentuk di Seoul. Ia hanya tahu bahwa kumpulan orang-orang berpakaian hitam dan bermasker yang akan selalu memukuli ayahnya selama dua hingga tiga bulan sebelum anonymus menyerang mereka adalah orang-orang bayaran Jo Insung, pemilik DJ Company, perusahaan yang bekerja dalam bidang yang sama dengan perusahaan ayahnya.

Sejak diadopsi keluarga Grey, Jongin hanya tinggal bersama Christian di Seoul sedangkan Ana dan James tinggal di Seattle tapi akan kembali ke Seoul ketika natal tiba. Selama tinggal bersama Christian, Jongin selalu saja menemukan ayahnya pulang kerja dalam keadaan babak belur. Setiap kali ia bertanya mengapa wajah ayahnya lebam-lebam, lelaki penuh kasih itu menjawab ini hanya pertengkaran kecil dengan teman kerjanya. Jongin kecil memilih untuk mempercayai semuanya sebelum sebuah rentetan aksi brutal yang ditujukan pada ayahnya terjadi saat ia berumur sepuluh tahun.

Selama dua hingga tiga bulan lamanya, rumah mereka selalu kedatangan orang-orang tak dikenal. Mereka akan langsung masuk ke rumah, mencari Christian tentu saja. Jika belum menemukan lelaki itu, mereka akan menyandera Jongin dan menunggu hingga Christian pulang dari kerja. Setelahnya, mereka akan memukuli Christian dan Jongin hingga kedua lelaki itu memiliki luka lebam di sekujur tubuh. Tak jarang, mereka juga mengambil beberapa lembar Won yang tersimpan dalam celengan Jongin.

Mendapat perilaku yang berpola sama selama lebih dari dua bulan, menjadikan Jongin memiliki pemikiran berbeda untuk melawan orang-orang tak dikenal itu. Di bulan ketiga aksi tersebut, Christian menemukan pribadi yang berbeda tumbuh perlahan dalam diri putra sulungnya. Terlihat dari sorot mata yang menyiratkan amarah tanpa pengampunan, kepalan tangan yang tak mengendur hingga para bajingan-bajingan yang melukainya dan ayahnya itu mengaduh kesakitan karena ulu hatinya dihantam beberapa kali, kaki atau tangan mereka patah atau karena tulang tengkorak mereka retak akibat pukulan stick baseball besi milik Jongin.

Saat perkelahian pertama di bulan ketiga itu dimulai, Christian tak sedikitpun melihat sosok putranya di kedua sorot mata Jongin. Tidak hingga seluruh pasukan Insung yang kesakitan itu tergeletak tak berdaya di lantai rumahnya. Selang beberapa detik setelah menghantam laki-laki terakhir di bagian kepala hingga darahnya mengalir deras, Jongin menjatuhkan stick baseballnya, menatap seluruh laki-laki yang baru saja berkelahi dengannya dengan tatapan nanar, lalu berjalan mundur hingga punggungnya menyentuh dinding kamar ayahnya. Ia kemudian merosot jatuh dan menggigil, Jongin mendadak ketakutan. Dan saat itu, Christian menemukan kembali putranya yang sempat hilang.

"Thank you Mister Grey,"

Jongin baru saja checkout dari hotel tempatnya menginap dan segera menaiki taksi menuju bandara Changi. Di dalam kepalanya, masih terputar kenangan tentang bagaimana ia berubah menjadi sosok yang berbeda saat melindungi ayahnya dari orang suruhan Insung. Memorinya terpaksa ia hentikan tepat disana, karena ia bahkan tak sanggup mengingat lagi kejadian yang hampir merenggut nyawa seluruh keluarga barunya termasuk dirinya sendiri.

"Mister Grey!"

Sebuah panggilan dari sosok yang ia kenal. Itu Sean.

Jongin sekarang sudah sampai di bandara, jadi dengan sedikit berlari ia mendekati pesawat jet pribadinya yang hanya akan keluar hangar ketika darurat itu.

"Welcome, Mister Grey."

"Jacob, Edward.." sapa Jongin pada pilot dan co-pilot jet pribadinya.

"We go now," Sean memberi perintah pada Jacob dan Edward untuk segera masuk ke kokpit dan memberangkatkan pesawat ini menuju DC.

"Mister Grey,"

"Sean," Jongin menghela napasnya dan menerima sebuah map hitam dari Sean.

"Jelaskan padaku tentang semua ini. Kau sukses membuatku pening pagi ini,"

Sean menunduk lalu kembali menatap atasannya. "Maafkan saya Mister Grey. Sebenarnya, sejak awal bulan ini saya sudah dihubungi oleh seseorang yang mengaku bernama White. Dia memperingatkan saya untuk menjauhkan Anda dari Mister Do. Namun, karena saya pikir itu hanya gertak sambal, saya tidak menanggapinya dengan serius."

Jongin membenarkan duduknya, saat mendengar pengumuman dari kokpit bahwa pesawat akan segera berangkat. "Lanjutkan,"

Sean mengangguk. "Namun, hari-hari berikutnya, sosok ini masih terus menghubungi saya dengan pesan yang sama. Hingga akhirnya satu minggu lalu, entah bagaimana dia mengirimkan sebuah file tentang Alexander Black. Seseorang yang ternyata jadi pion utama kejadian waktu itu, Mister Grey. Saya membaca isi filenya tapi masih belum bisa menemukan korelasi antara Black dengan Mister Do. Sampai kemudian, kemarin White kembali mengirim dokumen kepada saya dengan foto-foto dan latar belakang yang lebih jelas antara Mister Do dan Alexander Black."

Jongin mengepalkan kedua tangannya. Sean sempat menelan ludahnya dengan susah payah melihat atasannya yang sudah mulai panas.

"Go on,"

"Saya dan anggota berusaha menemukan lokasi dari White, tapi dia selalu berhasil mengacaukan pencarian kami. Nampaknya dia adalah seorang hacker professional, Mister Grey." lanjut Sean. "Dan kami juga mencari tahu dengan cara kami sendiri, mencocokkan berbagai foto dari CCTV manapun di seluruh Korea Selatan, rekaman telepon, bahkan rekaman dari kamera laptop yang diam-diam menyala. Seluruh data yang kami himpun menuntun kami pada satu kesimpulan yang sama dengan White, Mister Grey…"

Jongin menahan napasnya sejenak.

"Tuan Do Kyungsoo adalah Alexander Black, lelaki yang dibesarkan oleh Jo Insung sebagai seorang pembunuh berdarah dingin berotak cerdas. Ia adalah dalang dibalik kecelakaan yang hampir menewaskan seluruh anggota keluarga Grey saat Anda masih berumur sepuluh tahun. Ia juga menjadi otak dibalik seluruh kecelakaan ganjil yang menimpa rival DJ Company. Bersama rekan lamanya yang kini menjabat sebagai kepala keamanan disana, Mister Do telah membungkam lebih dari lima puluh orang yang terdiri dari pemimpin perusahaan beserta keluarganya dan juga wakil direktur perusahaan beserta keluarga."

Jongin mengusap wajahnya dengan kasar.

"Dan saat ini, Mister Do dan Jo Insung memiliki hubungan gelap yang tidak diketahui publik. Menurut White, hubungan ini sudah dimulai sejak empat tahun lalu, Mister Grey. Kami belum menemukan bukti foto yang menguatkan pernyataan ini karena tak ada satupun CCTV yang menangkap keanehan dari perilaku mereka ketika berada di ruang publik,"

Jongin mendongakkan kepalanya cepat menatap Sean. "Apa maksudmu hubungan gelap?"

Sean berdehem, membersihkan tenggorokannya. "Jo Insung adalah seorang sadism, Mister Grey. Ia juga selalu meminta orang-orang suruhannya terutama Mister Do mengabadikan kondisi korban yang kadang sudah tak bernyawa atau masih diambang batas. Menurut informasi, Insung kadang menggunakan foto-foto tersebut untuk maaf Mister Grey, bermasturbasi. Dan selama ini, ia dan Mister Do merupakan seorang Master dan Slave dengan Mister Do sebagai slave."

Jongin menggelengkan kepalanya tidak percaya. Bibirnya begitu kelu tak tahu harus menanggapi apa.

Slave? Lalu berarti selama ini dia berbohong padaku tentang statusnya? SHIT!

Jongin berteriak keras, menyebabkan pramugari sempat hampir mendatanginya tapi kemudian ditolak oleh Sean.

"Ini adalah foto dan rekaman suara yang menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang sama, Mister Grey.."

Sean memberikan amplop berisi foto-foto masa lalu Kyungsoo saat masih bernama Alexander Black dan foto-foto Kyungsoo saat ini. Ia juga memberikan sebuah recorder yang memuat suara Black dan Kyungsoo.

"Bagaimana bisa kita tidak menemukan satupun data miliknya selama bertahun-tahun, Sean? Bukankah kita tidak pernah berhenti mencari seluruh kaki tangan Insung?"

"Dokumen tentang Alexander Black dihapus dan dihilangkan secara permanen dari semua folder, Mister Grey. Baik dokumen fisik maupun non-fisik. Orang-orang yang berinteraksi dengan Mister Do sebelum dia SMA dilenyapkan, termasuk kedua orangtua Tuan Jeon Wonwoo."

Kedua mata Jongin membulat seketika. "Orangtua Wonwoo? Kapan mereka tewas?"

"Tepat saat Kyungsoo masuk SMA, Mister Grey. Mereka membuatnya seolah terjadi kecelakaan pesawat,"

Jongin menyempatkan diri melampiaskan amarahnya dengan memukul meja di depannya.

"Insung brengsek! Bagaimana bisa dia membunuh orang seperti membunuh serangga seperti itu?!" teriak Jongin. "Dan Sean, apa intel kita di dalam DJ Company tahu tentang Kyungsoo atau rekannya itu?"

Sean menggeleng cepat. "Eagle tidak mengetahui informasi apapun tentang mereka karena memang perusahaan merahasiakan seluruh data tentang karyawan dan juga direksi perusahaan, Mister Grey. Apalagi, saat ini Eagle sedang dalam pengawasan rekan Mister Do karena dia sempat ketahuan sedang mengenkripsi data ponsel seseorang saat ia sedang makan siang di kantin. Saat itu yang diretas adalah ponsel beberapa karyawan, salah satunya adalah rekan kerja Mister Do, tapi data miliknya tiba-tiba hilang esok harinya."

"Saat tiba di DC, bilang pada Jacob untuk stay. Aku akan langsung kembali ke Seattle. Aku butuh bertemu Mom and Dad, mereka harus pergi dari Seattle. Bisa jadi Insung sudah merencanakan hal busuk padaku."

"Baik, Mister Grey."

Jongin mempersilakan Sean kembali ke tempat duduknya yang biasa ia pakai yakni di dekat kokpit. Setelahnya, saat Jongin akan memilih untuk tidur sejenak guna menghilangkan seluruh amarah menggebu dalam dirinya, seorang pramugari yang sudah lama tak ia temui pun memberikannya segelas wine favoritnya.

"Your favorite, Mister Grey.."

"Thank you, Kryst."

Dalam tegukan pertama, Jongin berharap agar ia bisa segera sampai ke DC. Tegukan kedua, Jongin melayangkan harapan agar keluarganya tetap baik-baik saja dan kekhawatiran berlebih yang sejak tadi menghantam kepalanya tidak terjadi pada kedua orangtua dan adik-adiknya. Dan pada tegukan terakhir, Jongin berharap…

"I wish I didn't love you from the beginning, Kyungsoo.."

-.o0o.-

Dibutuhkan lebih dari sepuluh jam perjalanan dari Singapore menuju Washington DC menggunakan pesawat jet pribadinya. Kendalanya adalah cuaca buruk yang mereka temui di tengah perjalanan, dan itu tak hanya terjadi sekali tapi beberapa kali. Terpaksa kedua pilot handal itu memutar otak untuk mencari cara bagaimana agar mereka tetap bisa sampai ke DC tanpa kekurangan suatu apapun. Gulfstream, tunggangan Jongin saat ini juga sempat singgah di sebuah bandara kecil untuk isi bahan bakar sebelum kembali terbang dan melanjutkan perjalanan.

"Saya akan tunggu disini bersama mereka, Mister Grey.."

"Tidak, Sean. Kau ikut aku, aku tidak bisa menyetir dengan kondisi kepala penuh asap begini."

Sean tersenyum kecil. "Baik, Mister Grey. Saya akan siapkan transportasinya,"

Sekarang sudah pukul tujuh pagi waktu setempat, ponsel Jongin yang baru saja ia nyalakan kini menunjukkan jam tersebut di layarnya. Tak lama, sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Itu Kyungsoo. Jongin menghela napasnya dalam-dalam sebelum mengangkat panggilan itu.

"Hai,"

"Haaai, kau masih bangun? Ini sudah hampir tengah malam, Jongin."

"Ya, aku tak bisa tidur. Sedang banyak pekerjaan," Jongin menengok ke arlojinya yang masih menunjukkan waktu Singapore. "Kau sudah bangun?"

"Ya, aku baru saja bangun. Perutku lapar dan tidak ada makanan di apartment. Hyung mengajakku sarapan diluar, jadi ya mungkin setengah jam lagi aku akan cari makan. Sekarang ia sedang mandi,"

"Kau sudah mandi? Makanlah yang banyak,"

"Belum! Hyung menyerobot giliran! Tapi biarlah, dengan begitu aku bisa meneleponmu! Kalau sudah pagi, jangan lupa telepon aku! Aku merindukanmu~"

"Baiklah, aku akan meneleponmu nanti. Jangan lupa kirimkan foto sarapanmu bersama Chanyeol,"

"Okaaay Mister fancy-paaants~ Tidurlah! Kau butuh istirahat yang banyak, byeee~"

Jongin menutup panggilan teleponnya, lalu memasukkan ponselnya ke saku celananya.

"Setengah jam lagi dia akan pergi makan dengan kakaknya. Itu adalah waktu yang tepat. Aku akan naik ke apartmentnya dan menunggunya hingga ia pulang. Kau tunggu saja di depan apartment,"

Sean mengangguk menyanggupi perintah Jongin. "Kendaraan sudah siap, Mister Grey, sebelah sini,"

Jongin mengeluarkan foto-foto Kyungsoo dari dalam amplop dan menyatukannya dengan folder yang berada di dalam map hitam. Ia menatap jalanan di depannya dengan begitu serius, perlahan tapi pasti sebuah luka yang tadinya hanya segaris kini bertambah besar seiring penyangkalan Jongin tentang kenyataan yang mendatanginya.

Di kepalanya, seluruh kenangan tentang Kyungsoo adalah hal-hal yang menyenangkan. Di benaknya, seluruh memori tentang Kyungsoo adalah memori yang tidak terlupakan dan membahagiakan. Itu tentu bertentangan dengan fakta yang ia terima dari Sean, dimana Kyungsoo adalah salah satu dari pembawa memori buruk bagi dirinya dan keluarganya di masa lalu. Pertentangan itu jadi salah satu penyebab munculnya goresan-goresan tak kasat mata di hatinya. Pertentangan itu jadi pemicu melebarnya goresan kecil menjadi sebuah luka yang mulai menganga.

"Dia baru saja mengirimiku fotonya dengan kakaknya. Sepertinya dia makan tidak jauh dari apartment." Jongin berbicara pada Sean yang mengangguk paham.

"Aku akan ke atas. Kau tunggu disini,"

"Baik, Mister Grey."

Jongin setengah berlari untuk menuju lift. Degupan jantungnya yang mulai berantakan menandakan bahwa amarahnya sudah kembali datang. Ia berusaha sekuat tenaga untuk mengontrol emosinya agar tak kelewat batas dan berakhir dengan melukai Kyungsoo, lelaki yang masih ia cintai.

Kini, Jongin sudah berada di dalam apartment Kyungsoo. Ia memilih duduk di bar dekat dapur dan menunggu lelaki mungil itu pulang alih-alih berkeliling dan mencari tahu hal-hal yang berkaitan dengan jatidiri Kyungsoo. Batin Jongin terlalu sakit untuk kembali disodori fakta bahwa Kyungsoo memang satu komplotan dengan Insung. Sebagian dari dirinya masih menolak kenyataan yang berkata bahwa Kyungsoo adalah pemuda yang Insung beri perintah untuk melenyapkan keluarganya. Karena sebagian dari dirinya tersebut masih berpegang teguh pada keputusan mereka untuk tetap mencintai Kyungsoo apapun yang terjadi.

Ponsel Jongin menunjukkan waktu pukul delapan pagi lebih tiga puluh menit waktu Washington DC. Harusnya, sebentar lagi—

"Ya, tentu saja aku akan— JONGIN! Kau disini?!"

Chanyeol berdehem sekali. "Aku akan ke minimarket sebentar, aku lupa membeli rokok."

"Ya, ya, Hyung.." Kyungsoo menyahuti Chanyeol asal karena masih terkejut dengan keberadaan Jongin di apartmentnya yang terbilang cukup mendadak. "Kau mengejutkanku! Kenapa tak bilang kau akan datang?"

Jongin berdiri, menatap Kyungsoo dengan raut wajah seriusnya. "Kejutan?" ia membuka map hitamnya, mengambil file yang ada disana beserta beberapa fotonya dan melemparnya tepat di depan wajah Kyungsoo.

"Tapi itu lebih mengejutkanku," Jongin meletakkan map hitam di meja bar dan kembali duduk di tempatnya tadi. "What happened with tell me the truth 'bout yourself, Alexander Black?"

Tubuh Kyungsoo menegang seketika saat Jongin memanggilnya dengan sebuah nama yang sudah ia kubur dalam-dalam di sudut kepalanya. Mata bulatnya semakin membulat sempurna ketika menatap seluruh kertas yang tadi Jongin lempar padanya. Itu semua adalah fakta tentang dirinya di masa lalu dan masa sekarang. Bahkan, Jongin memiliki foto yang menunjukkan bahwa Alexander Black dan Do Kyungsoo adalah orang yang sama.

"A slave? Kau adalah seorang budak selama empat tahun dan kau berani bilang padaku bahwa kau sama sekali tak tahu apapun tentang seks?!"

Mata Kyungsoo memanas, air matanya siap tumpah kapanpun. Tangannya gemetar mengumpulkan seluruh kertas berisi kenyataan tentang dirinya yang kini terbongkar seluruhnya itu.

"Kau adalah Alexander Black, tapi kau mengenalkan dirimu padaku dengan nama Do Kyungsoo. Apa ini? Kamuflase untuk menyerang titik lemahku dan kembali berupaya membunuh keluargaku?!"

Jongin berdiri, melampiaskan emosinya dengan berteriak sepuasnya pada Kyungsoo.

"KAU ADALAH PEMBUNUH BAYARAN INSUNG YANG DIA PERINTAHKAN UNTUK MENGHABISI KELUARGAKU! APA KAU TIDAK INGAT, BLACK? Apa kau tidak bisa mengingat karena korbanmu sudah terlalu banyak? Iya?! HAH?!"

Jongin menghantam dinding apartment Kyungsoo sekali dengan tangan kanannya.

"Terkejut?" Jongin bertanya pada Kyungsoo sambil terkekeh penuh kesakitan. "Ya, Black. Aku adalah anak dari salah satu targetmu yang kebetulan lolos dari maut karena Tuhan masih menyayangi kami. Aku adalah anak dari Kim Kyungho, pemilik GK Incorporate yang harusnya sudah tewas menurut daftar yang ada di buku hitam milikmu."

"J-Jongin…"

"Bertahun-tahun aku mengupayakan segala macam cara untuk mencari orang yang mencelakakan keluargaku! Bertahun-tahun aku berusaha mencari orang suruhan Insung yang ditugaskan untuk memanipulasi mobil keluargaku!" teriak Jongin. "APA KAU SADAR KAU HAMPIR MEMBUAT MINGYU MENINGGAL?! DIA KOMA SELAMA ENAM BULAN! DIA BAHKAN SEMPAT AMNESIA! MELUPAKANKU DAN KEDUA ORANGTUAKU!"

Kyungsoo mulai menangis mendengar seluruh rasa sakit Jongin yang akhirnya ia lampiaskan semua hari ini. Jongin menghela napasnya sekali sambil memandang Kyungsoo dengan tatapan penuh rasa sakit.

"Selama ini, aku benar tentangmu. Kau berbahaya bagiku. Dan ternyata, kau memang berbahaya bagiku dan keluargaku." Jongin mulai mencoba meredakan emosinya sendiri perlahan-lahan. "I wish I never loved you from the beginning, Kyungsoo."

Jongin menghela napasnya dalam-dalam sebelum memberikan statement terakhirnya pada lelaki yang benar-benar sudah menghancurkan hidupnya itu.

"You loved to dig my twisted mind and soul, kisses them deeply then make it worse. Don't you, Kyungsoo-ssi?"

Jongin melangkah keluar dari apartment Kyungsoo dengan hati yang remuk dan hidup yang timpang separuh. Ia merasa air matanya bisa jatuh kapanpun setelah ini.

"I've told you to stay away from him. But you didn't listen to me,"

Sebuah suara maskulin menyapa pendengaran Jongin. Lelaki yang tengah remuk itu mendongak dan menoleh ke kiri, menemukan sosok lelaki bertubuh tinggi yang tadi bersama Kyungsoo saat sarapan.

"So you're White,"

"That's right." Chanyeol membenarkan tebakan Jongin. "Tidak seharusnya kau menjadi penghalang rencanaku untuk membalas dendam pada Insung. Jika kau mendengarkan peringatanku sejak awal, kau tak perlu merasa sesakit ini, Mister Grey." Chanyeol menatap Grey dengan tajam. "Siapapun yang menghalangi rencanaku membalaskan dendam pada Jo Insung, ia juga akan mengalami kesakitan yang sama. Dan kau, adalah penghalang utama pada rencanaku, Tuan Kim Jongin yang terhormat."

Jongin memasang wajah terkejut yang tenang tapi Chanyeol tetap melihat perubahan mimik itu. "Terkejut?" lelaki itu tertawa kecil. "Meretas adalah napasku, Tuan Kim. Jadi bukan perkara sulit bagiku menemukanmu atau data-data milikmu bahkan yang tersembunyi sekalipun."

"Aku tak pernah merasa menghalangi rencanamu, Mister White."

"Tentu saja kau menghalangi rencanaku, Tuan Kim. Tahu kenapa? Karena kau membuat adikku jatuh cinta padamu." Chanyeol kembali memasang wajah seriusnya. "Kyungsoo tak boleh jatuh cinta padamu, Tuan Kim. Karena kau adalah satu dari sekian orang yang namanya berada di daftar hitam Insung. Kau seharusnya menunggu waktu untuk tiba giliran kematian mendatangimu, dan, ya tentu saja yang akan melaksanakannya adalah Kyungsoo. Lalu kau pikir, bagaimana jika seorang pembunuh jatuh cinta pada korbannya? Apa yang terjadi? Ya, benar, Tuan Kim. Pembunuhan itu tak akan terjadi, lalu Kyungsoo kehilangan kepercayaan Insung dan rencanaku yang sudah kususun sejak tujuh tahun lalu akan jadi GAGAL TOTAL!" teriak Chanyeol tertahan. Lelaki itu tetap berusaha mengontrol suaranya agar Kyungsoo tak mendengar apapun dari dalam sana.

"Kau melakukan hal yang tepat,"

Chanyeol tertawa lalu menyeringai sekali. "Tentu saja aku melakukan hal yang tepat, Tuan Kim. Elliot White tak pernah meleset saat memperkirakan sesuatu." aku Chanyeol saat Jongin memujinya dengan nada yang sedikit sarkas. "Sekarang kembalilah ke pelukan Ibu dan Ayahmu, Kim. Lindungi mereka sekuat yang kau mampu, berdoa saja rencanaku menghancurkan Insung berhasil, jadi kau tak perlu jadi daftar tercoret di buku hitam Insung." tutup Chanyeol sembari meninggalkan Jongin yang memilih untuk kembali melanjutkan langkahnya menjauh dari apartment Kyungsoo.

-.o0o.-

.

"Kyungsoo!"

Chanyeol kembali ke apartment Kyungsoo dan menemukan lelaki itu sedang menangisi tumpukan kertas dan foto berisi kebenaran tentang masa lalunya.

"Jongin mengetahuinya, Hyung…" tangis Kyungsoo semakin menjadi. "Jongin mengetahuinyaaaaa!"

Dada Chanyeol sedikit nyeri melihat Kyungsoo yang seperti ini. Namun, bagaimanapun rencananya harus tetap berjalan.

"Kita akan cari tahu siapa yang membocorkan semua ini. Ini adalah data-data lama yang seharusnya sudah hilang. Aku akan mencari tahu siapa dia, dan akan segera memberinya pelajaran. Kau tak perlu khawatir, oke?" Chanyeol berlutut dan memeluk Kyungsoo yang masih menangis. "Berhentilah menangis, jika Insung tahu kau dekat dengan salah satu rivalnya, dia bisa melukaimu. Aku tidak menginginkan itu terjadi, kau paham?"

Kyungsoo mengangguk, masih sesekali sesenggukan. Tidak menyangka bahwa seluruh rahasia gelapnya akan terbongkar secepat ini. Tidak menyangka bahwa seluruh sisi tersembunyinya akan terekspos dengan cara seperti ini dan di saat ia sedang benar-benar jatuh cinta pada Jongin.

"Kau sebaiknya istirahat, penerbanganmu besok adalah penerbangan pagi. Kau tak boleh pulang dengan mata sembab dan bengkak, Insung bisa curiga. Ayo, kita ke kamar." Chanyeol membantu Kyungsoo berdiri dan memapahnya menuju kamar. "Aku akan membereskan dokumen-dokumen itu. Kau tidur saja, nanti akan kubangunkan saat makan siang. Aku akan memasak untukmu,"

Kyungsoo membalas perintah Chanyeol hanya dengan anggukan lemah dan isakan tangis yang masih muncul. Chanyeol tahu ini pasti menyakitkan bagi Kyungsoo, tapi sejak awal memang tak seharusnya ia jatuh cinta pada calon korbannya. Kyungsoo sudah tahu peraturannya, tapi kenapa dia masih masa bodoh? Apa dia sudah tidak peduli lagi dengan semua rencana yang Chanyeol susun sejak tujuh tahun lalu? Semua ini juga demi terbalasnya kematian ketiga pasang orangtua Chanyeol, Kyungsoo dan Sehun oleh Insung. Lelaki biadab seperti itu yang menghabisi seluruh anggota keluarganya di depan matanya, tak bisa Chanyeol maafkan bahkan sampai ia mati nanti.

-.o0o.-

.

I torture you, take my hand through the flames..

Sejak kejadian menyakitkan dengan Jongin, Kyungsoo sedikit berubah jadi pendiam. Sangat pendiam. Bahkan ketika tubuhnya sudah mulai luka-luka akibat cambukan Insung, ia tak meloloskan sedikitpun teriakan berarti.

Ya, ini sudah hari ketujuh Kyungsoo di Seoul dan selama enam hari belakangan ia selalu menghabiskan waktunya sepulang kerja hingga pukul sepuluh malam di ruang rahasia milik Insung yang ada di rumahnya. Di sana, ia menerima berbagai macam perlakuan kekerasan seksual dari Insung. Dari mulai cambukan dengan cambuk, dengan riding crop, dengan flogger, lalu tangan yang terus menerus terikat oleh handcuffs baik yang berbahan metal maupun kulit, atau diikat menggunakan tali, bahkan selotip. Tak hanya itu, lubang Kyungsoo pun tidak luput dari hukuman Insung. Kyungsoo menghabiskan enam hari belakangan di dalam ruang rahasia Insung, dan selama itu pula lubangnya tak berhenti dihujam dan dipenuhi Insung dengan ledakan sperma miliknya.

"Kau menyesal, Sayang? Aku sungguh tidak tega melihatmu seperti ini, tapi kau adalah milikku, Kyungsoo-ya. Kau tidak boleh dekat dengan siapapun, kecuali denganku, hanya aku Kyungsoo-ya, hanya aku!" teriakan Insung menggema begitu pula dengan suara yang dihasilkan oleh cambuknya. "Katakanlah kau menyesal, Sayang. Katakan bahwa bukan kau yang memulai semuanya, ini semua adalah ulah Grey sialan itu, 'kan? Iya 'kan?" satu lagi cambukan melayang di tubuh Kyungsoo. Kini hampir seluruh punggung dan pantat serta tubuh bagian depannya bahkan hingga ke tangan dan kaki tidak luput dari luka bekas cambukan dan cengkraman kuat Insung yang menghasilkan bekas lebam.

"Lubangmu mulai berdarah, Sayang. Aku akan panggilkan Dokter Kim kemari, ya? Lihat? Aku sangat mempedulikanmu, Kyungsoo-ya. Aku sebenarnya ingin memastikan laki-laki sialan bernama Grey itu tak bisa lagi menemui atau menyentuhmu, Kyungsoo-ya. Tapi kerjasama perusahaanku dengan perusahaannya adalah kerjasama penting, dan jika kerjasama itu batal ditengah jalan, aku bisa rugi ratusan juta Won!" geram Insung yang kemudian menghantam dinding ruang rahasianya. "Kau tahu 'kan, Kyungsoo-ya. Aku ini seorang businessman, jadi bagiku perusahaanku adalah yang paling penting. Kau mengerti 'kan, Sayang? Aku akan panggilkan Dokter Kim, dia akan merawatmu sampai lubangmu sembuh dan siap kumasuki lagi. Dan, ah, besok kau bisa libur Sayang. Jinri akan kuminta menyiapkan makanan untukmu dan memasukkannya kemari lewat pintu kecil itu." tunjuk Insung pada sebuah pintu kecil yang jadi satu dengan pintu utama menuju ruangan ini.

Insung mendekati Kyungsoo yang menggigil. "Aku akan melepaskan ikatanmu, kau berbaringlah yang nyaman di kamar tidurmu selagi aku memanggil Dokter Kim, okay?" sebuah kecupan Insung berikan di pelipis Kyungsoo sebelum meninggalkan ruangan untuk menelepon dokter pribadinya.

Sepeninggal Insung, Kyungsoo memilih menangis. Melepas semua kesakitan yang ia tahan selama ini. Kesakitan karena kepergian Jongin dari hidupnya, kesakitan karena seluruh tubuhnya kini penuh luka dan kesakitan karena rasa takut akan kegilaan Insung yang mungkin saja akan menjadikan keluarga Grey dalam bahaya sekali lagi karena dirinya.

Kyungsoo mengingat-ingat memori masa lalunya, tepatnya saat ia berusia sebelas tahun. Saat itu, ia adalah pemuda yang baru saja diangkat anak oleh Jo Insung, seorang pengusaha sukses kala itu. Setelah tinggal bersama Sehun di Panti Asuhan selama tiga tahun, ia akhirnya pindah ke rumah Insung. Bersama Insung, ia mendapat banyak informasi menyesatkan. Salah satunya adalah tentang kebenaran pelaku pembunuhan kedua orangtuanya saat ia masih berumur enam tahun. Dari Insung, Kyungsoo mendapat jawaban bahwa yang menjadikan kedua orangtuanya meninggal dalam kecelakaan mobil adalah Kim Kyungho dan orang suruhannya. Ia bercerita bahwa Kyungho memotong kabel rem mobil Ayah Kyungsoo yang kemudian menjadikan sang Ayah dan Ibunya terperosok ke dalam jurang karena tidak mampu menghentikan mobil yang dikendarai sang kepala keluarga.

Kyungsoo yang masih belia, tak banyak berpikir tentang kebenaran informasi dari Insung. Begitu ia tahu Kyungho adalah orang dibalik kecelakaan orangtuanya, ia mengatakan pada Insung bahwa ia ingin membalas dendam. Dengan melihat semangat itu, Insung menjadikan Kyungsoo mesin pembunuh yang begitu handal hingga saat ini. Kala itu Insung memerintahkan beberapa orang suruhannya meneror Kyungho dan putra kecilnya selama tiga bulan. Itu merupakan tindakan awalnya untuk memaksa Kyungho menutup perusahaannya karena tidak berkenan menandatangani kerjasama dengan DJ Company. Namun, siapa yang sangka jika di bulan ketiga, ia malah mendapati kabar bahwa seluruh orang suruhannya babak belur dihajar putra Kyungho yang mendadak jadi jago berkelahi?

Melihat tidak adanya jalan lain, Insung memutuskan mengutus Kyungsoo yang sejak ia angkat menjadi putranya memiliki nama Alexander Black, untuk menghabisi keluarga Kyungho yang akan selalu berkumpul saat malam natal. Mengetahui bahwa ia punya celah melampiaskan dendam kematian kedua orangtuanya, Kyungsoo melaksanakan rencana cerdasnya. Dimana pada akhirnya, kejadian yang sama yakni mobil jatuh ke jurang menimpa kendaraan yang Kyungho kendarai. Seingat Kyungsoo, berita saat itu memang tidak menyebutkan bahwa mayat seluruh keluarga Kyungho ditemukan, tapi Kyungsoo pikir mereka sudah pasti jatuh ke laut karena mobil mereka juga ditemukan dari dasar laut.

Siapa yang sangka bahwa sekian belas tahun kemudian, takdir membawanya jatuh cinta pada putra sulung Kyungho? Lelaki yang menghabisi seluruh orang suruhan Insung sendirian. Bahkan ia membuat mayoritas berandalan suruhan Insung itu patah tulang, gegar otak dan ada juga yang koma karena pendarahan dalam kepalanya.

Sekarang, saat dipaksa kembali mengingat masa lalunya, Kyungsoo sadar bahwa ia benar-benar mesin pembunuh berdarah dingin. Benar kata Jongin, ia bahkan lupa siapa saja yang sudah ia habisi nyawanya karena korbannya memang sudah terlalu banyak. Sehun? Dia adalah asisten utama Kyungsoo yang hanya akan bekerja sendirian ketika Kyungsoo malas untuk turun tangan. Kredit anonym yang sebenarnya adalah milik Kyungsoo, dan selalu jadi milik Kyungsoo.

-.o0o.-

I torture you, I'm a slave to your games, I'm just a sucker for pain..

"Untung kau memanggilku sekarang, Tuan Jo Insung. Jika tidak, kemungkinan keadaan Kyungsoo akan semakin memburuk. Dia harus istirahat dari semua aktivitas seksual setidaknya hingga satu bulan lebih. Luka di lubang anusnya akan mudah sobek lagi jika ada benda tumpul yang masuk kurang dari satu bulan penyembuhan." sosok dengan jas dokter berwarna putih itu kini menatap Insung kesal. "Kau harus menahan seluruh nafsumu pada Kyungsoo kalau tidak ingin lelaki ini mati cepat,"

Insung mendesah lemah. "Bagaimana lagi, Xing-ie. Kau tahu aku, 'kan?"

"Setidaknya kau pakai otakmu itu sesekali saat sedang memasukinya, Hyung. Kalau sudah begini, kau juga yang repot, 'kan?"

"Aku emosi! Kyungsoo itu milikku! Tapi Grey sialan itu merebutnya dariku!" Insung menggeram marah sambil menatap Kyungsoo dan dokter pribadinya bergantian. "Ini adalah hukuman yang pantas untuknya karena tidak mengindahkanku,"

"Dan sekarang kau tidak bisa memasukinya karena ulahmu sendiri, apa kau puas?" balas sang dokter. "Luka-luka di tubuhnya juga sudah cukup banyak, Hyung. Jangan menambahnya lagi, tolong. Aku sebagai dokter tidak tega melihatnya begini,"

"Tentu saja aku menyesal, Xing-ie. Tidak seharusnya tubuh mulusnya jadi penuh luka seperti ini." Insung mendudukkan dirinya di sofa di dalam kamar besar milik Kyungsoo. "Baiklah, aku akan berhenti menghukumnya dan tidak akan menghujamnya sampai dia sembuh. Tapi, Xing-ie, apa blowjob tidak masalah?"

Insung kelihatan seperti anak kecil yang sedang memastikan bahwa ia akan tetap bisa mendapatkan mainan kesukaannya bagaimanapun caranya.

"Hyung! Yang kita bicarakan ini adalah termasuk tentang kesehatan mentalnya! Kau tidak mau dia jadi gila karena ulah bodohmu, 'kan?!"

Insung meringis lalu meminta maaf pada dokternya. "Maafkan aku Kim Yixing, aku tadi bercanda. Sampaikan salamku untuk Myeon-ie, ya? Ayo, kuantar kau ke depan."

Dokter bernama Kim Yixing itu akhirnya merapikan peralatannya, memasukkannya ke dalam tas kerja, melepas jasnya dan menyampirkannya ke lengannya. "Kyungsoo-ssi, aku akan datang lagi besok. Nanti malam akan ada perawat yang datang untuk membantumu mengoles obat ke luka-luka di tubuhmu, ya. Sampai bertemu besok, Kyungsoo-ssi.."

Insung memastikan bahwa Yixing sudah selesai dengan tugasnya merawat Kyungsoo sebelum ia mengantarnya keluar. Benaknya tiba-tiba dipenuhi rasa bersalah karena Yixing yang tak berhenti mengomelinya akibat tindakan diluar nalar yang ia lakukan pada Kyungsoo sejak seminggu terakhir.

"Ingat Hyung, jangan melakukan tindakan macam-macam lagi padanya. Kyungsoo juga butuh penyembuhan dari traumanya karena kelakuanmu ini. Aku akan kirimkan perawat kepercayaanku, dia akan menemani Kyungsoo sampai dia sembuh. Kau bisa berikan dia kamar yang dekat dengan kamar Kyungsoo, aku akan memberinya alat untuk membantunya agar tak harus selalu berada satu kamar dengan Kyungsoo."

"Baik, baik. Aku tidak akan menyentuhnya sampai dia sembuh, aku janji padamu." Insung mengalah. "Kalau pasienmu tahu ternyata kau secerewet ini, aku yakin banyak yang memilih untuk tidak jadi berobat padamu."

"Itu," Yixing memberi satu pukulan ke lengan Insung. "karena," lalu satu pukulan lagi. "kau," lagi. "GILA!" dan lagi. Yixing mendengus kesal setelahnya. "Tensiku bisa langsung naik drastis jika aku berbicara denganmu lebih lama, Hyung. Aku pulang dulu, jaga Kyungsoo baik-baik. Kalau ada apa-apa, hubungi aku.."

"Dasar bawel, sudah sana pulang! Putra kecilmu pasti sudah menunggu Babanya pulang, 'kan?"

Yixing meloloskan senyum malaikat miliknya. "Aku pulang dulu, Hyung. Sampai besok,"

Insung mengangguk dan meminta Yixing hati-hati di jalan. Lelaki yang berprofesi sebagai dokter itu adalah sepupunya, ia sudah menikah dengan teman sejawatnya dan dikaruniai satu orang putra. Insung kadang bersyukur dibalik seluruh sifatnya yang menyeramkan, ia punya beberapa orang baik yang masih bersedia berada di sekitarnya sekedar untuk mengingatkannya. Mengingatkan betapa kelakuannya sudah melampaui batas, mengingatkan bahwa ia perlu mengontrol emosinya dan mengingatkan bahwa ia sangat perlu menahan gairah seksualnya yang terbilang sedikit abnormal.

Insung sendiri juga sudah menikah sejak dua tahun lalu. Dengan misi memperlebar kekuasaan perusahaan, ia menikahi putri koleganya, Gong Hyojin. Walau tanpa bermodal perasaan cinta, tapi Insung mempertahankan rumah tangganya hingga hari ini karena tentu ia tidak mau skandalnya dengan Kyungsoo terungkap begitu saja. Insung dan Hyojin sudah dikaruniai satu orang putra yang masih belajar berjalan, Jo Sungjin namanya. Meski terkesan kejam dan dingin, Insung bisa sangat perhatian dan hangat pada putranya. Karena sekali lagi, ia adalah seorang pengusaha. Isi kepalanya hanyalah tentang bisnis, bisnis dan seks bersama Kyungsoo.

"Paaaa!"

Insung menoleh dan menemukan putra kecilnya sedang berlari terhuyung-huyung menuju dirinya. "Kemarilah jagoan," Insung menggendong putranya dengan sayang. "Sudah mandi?"

Sungjin mengangguk lucu dan tertawa lepas tiap kali Insung menciuminya tanpa henti. "Sekarang kita main, ya? Kita main bola saja di belakang,"

Sungjin mengangguk dan bergerak-gerak heboh di gendongan Insung seolah sangat senang ketika Papanya mau bermain dengannya.

.

Dua minggu dilalui Kyungsoo tanpa banyak perubahan berarti dalam kesehariannya. Ia sudah tidak lagi tinggal di rumah Insung sekarang dan kembali ke apartmentnya. Luka cambukan Insung di bagian belakang tubuhnya berangsur sembuh jadi ia memilih untuk mengobati luka yang tersisa secara mandiri. Insung mengijinkan Kyungsoo untuk mengerjakan pekerjaan kantor di apartment sampai ia merasa lebih baik dan hari ini, Kyungsoo sudah merasa lebih baik, jadi ia memutuskan untuk berangkat kerja.

Di kantor, sebagian besar pekerjaan Kyungsoo sudah menjadi makanan Wonwoo, asistennya. Jadi hanya tersisa beberapa di mejanya yang memang sangat perlu dikerjakan olehnya seorang. Dari balik mejanya, Wonwoo kadang melihat Kyungsoo dengan tatapan super iba. Ia sudah mendapat cerita sepenuhnya dari Mingyu dan tak satupun amarah mendatanginya, hanya rasa iba yang mendalam karena ia sangat tahu bagaimana Kyungsoo dan bagaimana Insung sebenarnya. Wonwoo benci jika harus kembali menyelami masa lalunya yang sama-sama tidak menyenangkan seperti Kyungsoo, karena tak dapat ia pungkiri, bahwa ada sebagian kecil dari dirinya yang menyalahkan Kyungsoo atas kematian kedua orangtuanya.

Hidup sebagai sosok yang mengenal dua sisi Do Kyungsoo membuat Wonwoo kadang tidak mengerti di sisi mana ia harus berdiri. Mendukung Kyungsookah? Atau jadi pihak yang menentang seluruh rencananya? Ia sangat kenal bagaimana sisi penuh cahaya di hidup Kyungsoo, karena masa kecilnya hingga sebelum Kyungsoo kehilangan orangtuanya, dihabiskan Wonwoo untuk bermain bersama Kyungsoo layaknya saudara.

I wanna chain you up, I wanna tie you down, I'm just a sucker for pain..

Sekarang, bahkan disaat sebenarnya ia sudah tahu seluruh kebenaran cerita Kyungsoo yang tidak ia ketahui sebelumnya, ia tak bisa melakukan apapun untuk membantu lelaki itu bangkit. Kuasa Insung terlalu kuat untuknya, ia tak berani mengambil resiko membuat Kyungsoo lebih terluka dari ini jika ia bergerak untuk memberinya bantuan. Sudah dua minggu ini Wonwoo mengerjakan pekerjaan milik Kyungsoo karena lelaki itu tidak masuk kerja. Insung bilang Kyungsoo sedang sakit, tapi saat Wonwoo datang ke apartmentnya, lelaki mungil itu tidak ada. Jadi kesimpulan yang Wonwoo ambil adalah Kyungsoo ada di rumah Insung, dan firasatnya bilang hal yang menyakitkan sedang terjadi disana pada Hyungnya itu.

Wonwoo mungkin tak lebih dekat dengan Kyungsoo dibandingkan duo tiang yang saat ini sudah jarang sekali ia temui itu, tapi ia tetap punya firasat yang cukup tepat jika itu mengenai Kyungsoo. Tentang duo tiang yang dulu jadi bodyguard Kyungsoo saat SMA, adalah Oh Sehun yang sekarang menjawab sebagai kepala keamanan di DJ Company sejak dua tahun belakangan dan Park Chanyeol yang baru saja diangkat sebagai Direktur di kantor DJ Company di Washington DC. Ia memang tak banyak tahu tentang dua pria yang merupakan orang lama dalam kehidupan Kyungsoo itu, tapi entah kenapa ada sesuatu yang masih Kyungsoo sembunyikan dari Jongin bahkan dari dirinya.

Lelaki yang sudah menjabat sebagai asisten Kyungsoo sejak satu setengah tahun lalu itu mendesah, ia sangat ingin menarik Kyungsoo keluar dari ruangan dan mengajaknya makan berdua ke suatu tempat yang jauh dari kantor demi mendengarkan seluruh cerita yang sebenarnya dari bibir Kyungsoo sendiri, tapi ia harus ingat bahwa Insung punya pengawasan ketat pada Kyungsoo belakangan ini.

"Semoga kau baik-baik saja, Hyung. Aku mengkhawatirkanmu," gumam Wonwoo sambil mulai merapikan pekerjaannya yang sudah selesai mengingat ini sudah jam pulang kerja.

"Wonu! Kau tidak pulang?"

"Ya, aku sedang bersiap."

"Baiklah, aku akan menunggumu. Kita pulang seperti biasa, kan?"

"Tentu saja, Jun. Siapa yang akan melindungiku dari preman-preman itu kalau bukan kau?" Wonwoo terkekeh dan menepuk lengan rekan kerjanya sekali. "Ayo,"

Lelaki itu melangkahkan kakinya menjauh dari sebrang ruangan kerja Kyungsoo, meninggalkan sang CMO yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk selama dua minggu ini.

"Baiklah, ini yang terakhir untuk hari ini. Mari pulang," monolog Kyungsoo seraya merapikan meja kerjanya, mengambil tasnya dan juga jasnya lalu melangkah keluar dari ruangannya dan menguncinya. Kemudian dengan langkah santai, ia menuju lift untuk turun ke lobi kantor.

Kyungsoo berencana akan langsung tidur sesampainya ia di apartmentnya. Rasanya punggungnya sudah benar-benar hampir patah karena seharian ia tak banyak bergerak dari kursi kerjanya. Saat ia sedang mencari kunci mobil di tasnya, tiba-tiba sebuah tangan membekap mulut dan hidungnya menggunakan sebuah saputangan yang sudah lebih dulu diberikan obat bius hirup dengan dosis yang tinggi, membuat tak sampai sepuluh detik kemudian, Kyungsoo sudah tidak sadarkan diri.

Sebuah guyuran air di kepalanya membuat lelaki dua puluh empat tahun ini akhirnya kembali merengkuh kesadarannya yang sempat hilang beberapa saat yang lalu. Matanya mengerjap perlahan, melihat sekitarnya sambil menyesuaikan porsi cahaya yang masuk ke matanya. Dimana dia sekarang? Hal terakhir yang bisa ia ingat, ia sedang berada di basement untuk bersiap pulang dengan mobilnya, saat sedang mencari kunci mobil tiba-tiba seseorang mendekapnya dari belakang dan setelahnya ia tak lagi ingat apapun.

"Aku senang kau sudah bangun, Sayang.."

Panggilan ini…

Kepala Kyungsoo sedikit terasa pening, mungkin itu karena efek obat bius yang diberikan padanya tadi. Kyungsoo menggerakkan kepalanya, mencoba mencari tahu sedang dimana sebenarnya ia saat ini, tapi yang ia temui justru keadaan yang membuat traumanya semakin terasa mencekat. Kedua tangannya terikat dan tergantung di atas kepalanya, kakinya terikat tapi tetap menjulang bebas dibawah sana, mulutnya tersumpal sebuah kain yang membuatnya tak akan bisa meloloskan satu teriakan berarti dari bibirnya.

Apa ini?! Kenapa aku diikat begini?!

"Halo? Sudah bangun?"

Kyungsoo membulatkan matanya kaget melihat Insung yang tersenyum lebar dihadapannya.

"Terkejut? Penasaran kenapa kau ada disini, terikat dan tak bisa banyak bicara?" Insung mendekati Kyungsoo dan berbisik di telinganya. "Bersyukurlah aku tak menghajarmu di ruanganku,"

Seringai Insung tercetak lebar setelahnya. "Kau ada disini tentu karena ada alasan bagus, Kyungsoo. Aku sebenarnya ingin memberitahumu, tapi bagaimana jika kita dengar langsung dari teman baikmu?" Insung kembali mendekati Kyungsoo, memposisikan tubuhnya di belakang Kyungsoo dan membisikinya, "Dia sudah lebih dulu disini daripada kau, kau bisa bayangkan bagaimana kuatnya dia, 'kan?"

Insung menegakkan kembali tubuhnya, menatap anak buahnya lalu berteriak. "Bawakan teman kita kemari,"

Suara hanging conveyor memekakkan telinga Kyungsoo, ia sempat memejamkan mata sebentar karena suara itu begitu berisik. Namun setelah suara itu berhenti dan memunculkan sebuah sosok yang ia kenal sedang tergantung lemas disana, Kyungsoo mendadak tegang, panik dan penuh amarah. Ia menggerak-gerakkan tubuhnya sebisanya, berusaha melepaskan diri dari ikatannya tapi nihil. Usahanya sia-sia. Perlahan tapi pasti, tawa lepas Insung mengiringi air mata Kyungsoo turun dari kedua sudut matanya.

"Welcome back, my security-man. Have a good day today?" tanya Insung sarkastik pada sosok yang sudah berlumuran darah itu. "Kau punya teman baru disini, coba tengok siapa yang menemanimu sekarang.."

Lelaki itu bergeming walau Insung sudah memintanya melihat siapa yang datang. Karena kesal, Insung menarik rambut lelaki itu dari belakang agar kepalanya mendongak dan matanya dapat melihat ke depan, melihat pada sosok yang baru datang untuk menemaninya sampai entah kapan.

"Say hello to your mate, Do Kyungsoo.." bisik Insung sambil kembali menyeringai.

Ia mengambil langkah tepat di tengah kedua lelaki yang ia ketahui cukup dekat itu. "Bukankah ini bagus? Kalian sudah sangat jarang bertemu bukan? Dan aku, dengan sangat rendah hati mempertemukan kalian disini, di tempat yang akan jadi neraka bagi kalian sampai kalian tak lagi sanggup bertahan." nada bicara serius mulai Insung tata dalam pembicaaannya.

"Bertanya-tanya kenapa kalian ada disini? Tidak punya sedikitpun clue tentang alasan kalian kupertemukan disini?" Insung kembali bertanya pada kedua sosok yang tak merespon sedikitpun kata-katanya. "Karena kalian sudah melakukan konspirasi menentangku!" teriakan Insung menggema di tempat yang tidak Kyungsoo ketahui berupa apa ini.

Shit! Dia sudah tahu?! Apa Chanyeol Hyung tahu kami disini?! Apa ia baik-baik saja?!

Isi kepala Kyungsoo mendadak penuh dengan pertanyaan tentang bagaimana keadaan saudaranya yang lain. Hatinya sudah cukup perih melihat kondisi Sehun yang tidak berdaya dan penuh luka serta darah di depannya. Ia bahkan tak berhenti menangis sejak tadi karena merasa bersalah pada adik kesayangannya itu.

"Terkejut dengan apa yang kukatakan? Penasaran bagaimana aku bisa mengetahui seluruh persekongkolan busuk kalian untuk menjatuhkanku?" tanya Insung lagi. "AKU BISA MENDAPATKANNYA KARENA AKU ADALAH JO INSUNG! APA KAU PAHAM?!"

Insung melempar kursi besi di depannya sebagai wujud pelampiasan amarahnya. "KAU, DO KYUNGSOO!" teriak Insung sambil menunjuk lelaki yang lebih pendek darinya itu penuh emosi. "KAU ADALAH ORANG TERAKHIR YANG AKAN AKU CURIGAI DALAM SETIAP KONSPIRASI SEMACAM INI. TAPI KENAPA MALAH KAU YANG MELAKUKAN SEMUANYA?!"

"AKU MENGAMBILMU DARI PANTI ASUHAN BUSUK ITU DAN MENEMPATKANMU DI RUMAHKU YANG MEWAH. AKU MEMBERIMU SEGALANYA YANG KAU MINTA! DAN KAU, KAU MENGKHIANATIKU!"

Salah seorang suruhan Insung membuka sumpalan mulut Kyungsoo atas perintah sang majikan. Setelahnya, lelaki mungil itu menyeringai.

"Karena kau adalah laki-laki paling brengsek yang pernah aku temui, Jo Insung." balas Kyungsoo dengan suara seraknya. "Kau bertanya kenapa aku melakukan ini semua? Apa kau sudah lupa bahwa kau adalah bajingan yang mengantar kedua orangtuaku dan Sehun menuju garis kematian mereka?"

Insung tertawa. Tertawa dengan sangat keras seolah pernyataan Kyungsoo adalah sesuatu yang sangat lucu. "Bukankah kau sudah membunuh pembunuh kedua orangtuamu, huh? Kau sendiri yang memastikan kematian mereka dengan cara yang persis sama seperti kedua orangtuamu, Kyungsoo. Kenapa kau menuduhku?"

"Karena Kyungho tak pernah melakukannya. KAU memanfaatkanku untuk jadi mesin pembunuhmu! KAU memanfaatkan ketidaktahuanku atas hal itu untuk menjadikanku seorang pembunuh yang keji!"

"Tidak, tidak." Insung menyela cepat. "Kau bukan seorang pembunuh yang keji, Sayang." ia menyempatkan diri mengusap wajah mulus Kyungsoo dan tersenyum. "Kau adalah pembunuh paling cerdas, paling dingin dan paling cekatan yang aku miliki."

Kyungsoo memalingkan wajahnya, tak mau mendengar Insung yang memujinya sebagai seorang pembunuh.

"Well, yeah. Kalau kau sudah tahu tentang itu, apa lagi yang bisa aku jelaskan?" tawa Insung menguar lagi. "Orangtuamu dan Sehun bukanlah rekan kerja yang baik, Kyungsoo-ya. Jika mereka masih ada, keuntungan DJ Company akan dibagi menjadi tiga dan aku tak bisa cepat kaya~"

Kyungsoo menggeram, marah dengan semua jawaban santai yang keluar dari bibir Insung.

"Pengganggu, sudah seharusnya disingkirkan jauh-jauh, Kyungsoo-ya. Mereka tidak pantas berlama-lama menikmati kekayaan yang harusnya HANYA jadi milikku ini."

"BAJINGAN!"

Kyungsoo marah besar, ia semakin berusaha melepaskan diri dari belenggu yang mengikatnya. "Aku akan membunuhmu, Jo Insung!"

"Membunuhku? Oh, Ya Tuhan… apa aku harus takut? Alexander Black akan datang lagi dan membunuhku! Tolong siapapun selamatkan aku!" Insung memasang wajah pura-pura ketakutan lalu kembali menjadi serius dalam hitungan detik. "Kau yang akan mati di tanganku, Kyungsoo. Tak akan ada satupun pengkhianat yang pantas hidup,"

Insung merapikan pakaiannya, melangkah mundur dari Kyungsoo lalu mendekati Sehun. "Salam perpisahan dariku hari ini untukmu, my security-man.." dan sebuah pukulan jarak dekat dengan kekuatan penuh mampir tepat di ulu hati Sehun, membuat lelaki itu secara reflek memuntahkan darah ke baju Insung.

"SEHUN-AH! INSUNG HYUNG HENTIKAN!"

Insung menyeringai lalu berbisik pada Sehun. "Dengar itu? Betapa merdu suara lelaki itu, bukan? Dia harusnya bisa selalu jadi harta berhargaku, jika bukan karena kau, brengsek!"

"OH SEHUN!" teriakan Kyungsoo mengimbangi teriakan kesakitan Sehun yang kesekian kali hari ini.

"Pindahkan mereka ke yellowlights, disini terlalu jauh dari rumahku. Aku bisa kelelahan jika harus selalu bolak-balik dengan jarak sejauh ini."

"Baik Bos,"

"Jangan beri mereka makan, siram tubuh mereka setiap hari dengan air dan jangan mengacaukan rencanaku. Kau mengerti?"

"Mengerti, Bos."

"Aku ingin besok siang mereka sudah ada disana sebelum jam kunjungku tiba,"

Lelaki suruhan Insung mengangguk paham dan mempersilakan atasannya untuk pergi dengan mobilnya. Setelahnya, ia segera menurunkan Sehun yang sudah tidak berdaya lalu menempatkannya di sebuah kasur busa yang ada di sudut ruangan. Lelaki itu tak lagi diborgol atau diikat karena ia akan diberi obat bius untuk menjaganya tetap tenang dan tidak berisik selama para penjaga tidur. Penjaga yang lain terlihat menyemprotkan gas yang diduga juga obat bius pada Kyungsoo, setelah memastikan laki-laki mungil itu pingsan, ia melepas kaitan tangan Kyungsoo dan membawanya ke dalam sebuah mobil yang akan berangkat menuju titik yang Insung pinta tadi.

-.o0o.-

Chanyeol mendesah kasar, ia membanting map yang ia pegang ke meja kerjanya. Raut wajahnya terlihat frustasi dan setengah depresi. Ia kedatangan kekasihnya pagi ini di kantornya, tapi bukan itu yang membuatnya bersikap seperti seorang ayah yang baru saja kehilangan anaknya di pusat perbelanjaan itu. Penyebabnya adalah Kyungsoo dan Sehun. Biasanya, ia akan selalu melakukan video call atau sekedar phone call rutin dengan mereka setiap dua atau tiga hari sekali dengan beberapa pesan singkat tidak berfaedah yang masuk ke ponsel mereka setiap harinya.

Namun, sudah satu minggu ini ia tak bisa menghubungi keduanya. Bahkan Luhan, kekasih Sehun bilang bahwa lelaki itu sudah tak terlihat di bunker maupun di apartmentnya sejak sepuluh hari belakangan.

Mengetahui kabar itu dari Luhan, perasaan Chanyeol mendadak berubah tidak enak. Ia bahkan meminta Baekhyun untuk datang ke DC, membantunya melacak keberadaan Kyungsoo dan Sehun. Sialnya, sejak kemarin lusa hingga hari ini usaha mereka tidak membuahkan hasil sama sekali. Chanyeol dan Baekhyun yang punya predikat sebagai hacker pro tiba-tiba merasa seperti seorang anak TK yang sama sekali tidak paham berapa hasil kali satu dengan dua. Insting Chanyeol memberi sinyal bahwa sesuatu yang tidak ia harapkan sedang terjadi pada Kyungsoo. Firasat Chanyeol bilang bahwa kedua adiknya sedang dalam bahaya, dan bahaya itu adalah Insung.

"Apa tidak sebaiknya kita minta bantuan Grey, Chanyeol-ie? Jika memang Insung melakukan sesuatu yang buruk pada uri baby, kita tidak punya kekuatan apa-apa untuk membantu mereka, Dobi!"

"Baek, aku itu sudah memintanya pergi jauh dari kehidupan Kyungsoo satu bulan lalu. Bagaimana mungkin aku sekarang mendatanginya dan meminta bantuannya untuk mencari Kyungsoo? Harga diriku mau dikemanakan?!" seru Chanyeol frustasi seraya mengusap wajahnya kasar.

Baekhyun melempar bantal di sofa pada Chanyeol dan lelaki itu berteriak marah.

"BAGAIMANA BISA KAU MASIH MEMIKIRKAN HARGA DIRIMU SEMENTARA DUA SAUDARAMU TENGAH DALAM KONDISI YANG TIDAK JELAS?! YA, PARK CHANYEOL! JANGAN JADI BRENGSEK!"

Lelaki cantik itu bahkan menyempatkan berdiri dan berteriak sekuat tenaga di depan Chanyeol mencoba membuka pikiran kekasihnya yang mulai gila jabatan dan gila hormat itu dan mengingatkannya untukk tetap menginjak tanah saat merengkuh langit.

"Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan, tapi Kyungsoo dan Sehun jauh lebih penting dari semua rencana balas dendammu pada Insung. Apa kau rela melihat mereka tewas demi rencanamu?" tanya Baekhyun pada Chanyeol dengan nada yang lebih lembut dari sebelumnya. "Sayang, bukan hanya kau yang kehilangan keluarga. Tapi Kyungsoo dan Sehun juga begitu, kau harus memikirkan bagaimana perasaan mereka juga.."

Chanyeol menundukkan kepalanya dan mengantukkannya ke pinggir meja kerjanya berkali-kali. "Aku bodoh, bodoh, bodoh.." gumamnya sambil terus mengantukkan kepalanya.

Baekhyun melihat tingkah kekasihnya dengan iba, ia lalu mendekati Chanyeol dan memeluknya sebentar. "Jangan salahkan dirimu sendiri. Sekarang, bagaimana jika kita ke Seattle? Aku yakin pengusaha sekelas Grey pasti punya pengawal yang bisa diandalkan,"

Chanyeol menahan tangisnya sembari membalas pelukan kekasihnya. Isi kepalanya sudah cukup kacau karena Kyungsoo, Sehun dan harga dirinya yang tiba-tiba mencuat minta dipertanggungjawabkan. Chanyeol menyadari bahwa kini ia sudah mulai terbawa suasana. Ia mulai larut dalam kekuasaan besar yang ia miliki atas perusahaan yang ia benci, perlahan sisi lembut Park Chanyeol luntur terganti dengan sisi angkuhnya yang membuat Baekhyun geram. Beruntung dia memiliki lelaki cantik itu disisinya, yang selalu sabar dan mengingatkannya untuk tetap jadi Park Chanyeol yang Baekhyun cintai.

"Aku akan meminta Jimin memesan tiket pesawat untuk kita, untuk keamanan, pakailah passport Baratmu." pinta Chanyeol pada Baekhyun yang kemudian tersenyum lega. Lelakinya sudah kembali.

"Baiklah! Kalau begitu aku akan coba tracking ponsel Grey, siapa tahu kita bisa menemukannya dan menghubunginya dari sini."

Chanyeol tersenyum dan mempersilakan Baekhyun melakukan pekerjaan yang dicintainya itu, sementara ia melanjutkan kegiatannya memeriksa dokumen perusahaan.

Memakan waktu hingga lima belas menit, Baekhyun akhirnya mendapatkan nomor ponsel Jongin, dan ia menghubunginya langsung dari laptopnya. "Channie! Kemari!"

Chanyeol dengan segera mendekat pada Baekhyun dan mengambil alih headphonenya.

"Grey."

"Jongin, ini aku. White."

Ada jeda cukup lama di ujung sana yang sempat membuat Chanyeol dan Baekhyun sedikit cemas. "Jongin?"

"Darimana kau mendapatkan nomorku?"

"Jongin, ada yang lebih penting dari itu."

"Kau menembus pengamananku dan melacakku seperti seorang penguntit, White. Aku bisa memenjarakanmu atas itu,"

Chanyeol mendesah, Baekhyun mengusap punggungnya lembut berusaha menenangkan kekasihnya. "Pertama, aku minta maaf jika aku melanggar privasimu. Kedua, aku minta maaf jika aku pernah mengusirmu dari kehidupan adikku. Dan ketiga," Chanyeol memberi jeda pada bicaranya. Ia menghela napas dalam-dalam sebelum melanjutkan bicaranya. "Aku butuh bantuanmu,"

Baekhyun dan Chanyeol bisa mendengar ada kekehan sarkas yang muncul dari Jongin. "Kau? Butuh bantuanku?"

"Dengar, Jongin.. aku tak punya banyak waktu dan melakukan pembicaraan lewat telepon begini beresiko tinggi. Meskipun aku yakin kekasihku cukup handal mengatur kerahasiaan pembicaraan ini tapi akan lebih baik jika aku menemuimu secara langsung. Katakan padaku, apakah kau di Seattle?"

"Aku tak berniat menemuimu, White."

"Jongin, kumohon. Ini demi Kyungsoo…"

Chanyeol tahu, bahkan sangat tahu bahwa lelaki yang di seberang masih sangat mencintai adiknya. Karenanya, ia yakin bahwa Jongin akan membantunya menemukan adiknya.

"4th Ave, Seattle, Washington. Kau akan bertemu bodyguardku di lobi, dia yang akan membawamu ke tempatku."

"Oke, Jongin. Aku akan mencari tiket pesawat ke Seattle setelah ini, jadi—"

"Pergilah ke bandara satu setengah jam lagi. Disana, kau harus bertanya pada petugas dimana parkir Gulfstream milik Grey Enterprises. Setelahnya, bodyguardku akan membawamu padaku."

Chanyeol mendesah lega dan Baekhyun memeluknya penuh haru. "Terima kasih, Jongin. Terima kasih,"

Panggilan telepon itu sudah terputus, dan kini Chanyeol dan Baekhyun memutuskan segera merapikan barang-barang mereka sebelum bertolak ke bandara. Setidaknya, butuh waktu setengah jam dari kantornya ke bandara, itu pun jika lalu lintas tidak padat.

"Siapkan mobil, aku harus ke apartment sekarang." titah Chanyeol pada sekretaris barunya yang memang sengaja ia pilih sendiri, Seohyun.

"Tapi, Sajangnim, Anda ada rapat pukul tiga nanti."

"Re-schedule. Aku punya urusan lebih penting dari pekerjaanku,"

"Baik, Sajangnim.."

Chanyeol menyambar tas kerjanya, jasnya dan juga ponselnya yang ada di meja. Tak lupa, ia juga menggandeng tangan Baekhyun sebelum keluar dari ruang kerjanya.

"Chan, ini di kantor!" pekik Baekhyun tertahan sambil berusaha melepas genggaman Chanyeol di tangannya.

"Aku direktur disini, jika ada yang berani macam-macam, aku bisa memecat mereka."

Chanyeol membiarkan Baekhyun tersipu sementara ia tetap menunjukkan raut wajah seriusnya bahkan sampai ia dan kekasihnya masuk ke dalam mobil.

"Kita ke apartmentku, setelah itu kita ke bandara. Melajulah secepat yang kau bisa, aku tak punya banyak waktu untuk bersantai."

"Baik, Sajangnim."

Chanyeol sengaja memilih pekerja yang mengerti bahasa Korea untuk jadi sosok yang sering ia temui dan ajak bicara setiap hari. Bukan karena ia tidak bisa berbicara bahasa Inggris, hanya saja, ia tidak suka mempersulit sebuah percakapan.

"Jongin sangat mencintai Kyungsoo, ya? Kupikir ia akan sedikit keras kepala dan tidak mau lagi tahu tentang Kyungsoo," Baekhyun berbisik pada Chanyeol yang kini tersenyum kecil.

"Mereka saling mencintai, Baek. Adalah kesalahanku jika mereka sampai saling membenci atau jika Jongin sampai membenci Kyungsoo. Aku sudah membuat adikku sengsara sekali, dan aku tidak akan melakukannya lagi."

Chanyeol sangat menyayangi Kyungsoo dan Sehun. Baginya, kedua lelaki itu adalah keluarganya. Mungkin Chanyeol tidak mengenal Kyungsoo dengan intensitas yang sama dengan Sehun, tapi lelaki itu tetap punya andil besar dalam hidup keduanya dengan menjadikan mereka pribadi yang lebih punya tujuan dan juga lebih dingin menghadapi hal-hal tertentu.

Baekhyun disisi lain adalah teman sekelas Chanyeol yang tidak terlalu ia perhatikan saat SMA, mereka jadi dekat dan kemudian berpacaran menjelang kelulusan kelas tiga hingga saat ini. Sedikit banyak, ia kenal dan paham siapa Sehun dan Kyungsoo. Pertemuan mereka berempat pun terbilang sering. Jadi bagi Baekhyun, kedua saudara Chanyeol sudah seperti keluarganya juga.

-.o0o.-

"This way, Sir.."

"Kau sudah datang." Jongin menutup laptopnya dan mendekat pada dua tamunya. "Kau bisa berikan passportmu pada Sean, dia akan melakukan check in kamar hotel atas namamu. Satu atau dua kamar?"

"Satu, dia kekasihku." Chanyeol menepuk bahu Baekhyun sekali sambil mencari dimana passportnya ia simpan. "Here you are," dan memberikannya pada Sean, bodyguard Jongin.

"Kalian mau minum?"

"Yes, please.."

"Aku harap kalian suka wine," ujar Jongin sambil berjalan menuju lemari penyimpanan winenya, mengambil tiga gelas dari lemari yang lain dan kembali pada dua tamunya. "Jadi?"

"Kyungsoo dan Sehun tidak menghubungiku dalam seminggu ini, Jongin. Firasatku kuat sekali mengatakan bahwa ada hal buruk yang terjadi pada mereka."

Dahi Jongin mengernyit. "Firasat buruk?"

"Insung. Aku khawatir jika Insung mengetahui rencana kami, aku tidak berharap itu terjadi, tapi entah kenapa perasaanku berkata demikian." jelasnya singkat. "Jika Insung mengetahui bahwa Kyungsoo dan Sehun mengkhianatinya, mereka tidak akan selamat dari siksaan bajingan itu, Jongin." lanjutnya.

"Jika apa yang Chanyeol pikir itu benar, kami sangat butuh bantuanmu, Mister Grey. Kami tak punya siapapun untuk membantu kami membebaskan Kyungsoo dan Sehun, tapi kau, kau pasti punya orang yang bisa membantu kami, 'kan?" Baekhyun menambahkan penjelasan Chanyeol khas dengan nada khawatir seorang wanita yang kehilangan putranya.

"Jongin saja, cukup."

"Aku Baekhyun, maaf aku tidak memperkenalkan diri sebelumnya. Ahh, aku benar-benar lupa."

"Tidak masalah, Baekhyun-ssi."

"Baekhyun, just Baekhyun." ulangnya sopan.

Jongin mengangguk sekali. "Lalu apa kalian punya petunjuk apapun tentang Kyungsoo? Ponselnya, CCTV, atau apapun?"

Chanyeol dan Baekhyun menggeleng cepat. "Kami sudah memeriksa semuanya, bahkan hingga CCTV dalam lift DJ Company. Semuanya tidak membuahkan hasil,"

Jongin terlihat berpikir sejenak. "Bagaimana dengan transportasi? Kyungsoo ke kantor naik apa? Bus? Mobil?"

"Dia pakai mobil."

"Kalau begitu, kau sudah cek CCTV tempat parkir mobil di DJ Company?"

Baekhyun menepuk dahinya keras. Chanyeol memundurkan tubuhnya dan merapatkan punggungnya ke sofa. "Sial, kita melewatkannya!"

Jongin mengangguk dan tersenyum kecil. "Jika kau butuh bantuan, kau bisa memberitahuku, Baekhyun. Aku punya tim yang siap menjagamu dari serangan cybercrime Insung."

"Tenang saja, Jongin. Dia hacker pro," aku Chanyeol bangga terhadap kekasihnya.

"Kau pikir tim yang Insung punya bukan pro? Setiap hacker punya kelemahan, jika mereka mengetahui kelemahan kekasihmu, dia bisa dalam bahaya. Dan langkah kita bisa berhenti total," Jongin menatap Chanyeol dengan wajah datar. "Aku hanya ingin memastikan bahwa baik kau, kekasihmu atau seluruh keluargaku semuanya aman."

Chanyeol meredam emosinya dengan menghela napas dalam dan mencoba berpikir bahwa lelaki ini adalah satu-satunya jalan agar Kyungsoo bisa selamat dan rencananya tetap berjalan.

"AKU MENEMUKANNYA!"

Jongin yang saat ini berada di dapur segera berlari menuju ruang tamu. "Itu Kyungsoo," lidah Jongin terasa begitu ringan menyebut nama lelaki yang sudah tak pernah ia tahu kabarnya sejak sebulan lalu itu.

"Oh shit! Siapa mereka?!" Chanyeol mengumpat sekenanya sambil mengepalkan kedua tangannya. "Bangsat! Ini pasti Insung! Aku yakin!" emosi Chanyeol kembali ke puncak dan Baekhyun pun sama. Jongin? Wajahnya sudah memerah akibat amarah.

"Kau menemukan petunjuk, Baek?"

"Ya, aku mendapatkan plat nomor mobil yang membawa Kyungsoo. Sekarang aku akan melacaknya lewat seluruh CCTV di lampu lalu lintas."

"Aku akan menyiapkan pesawat dan juga tim untuk menyelamatkan Kyungsoo. Chanyeol, kau bisa ikut aku sebentar?"

Lelaki tinggi itu bangun dari duduknya dan mengikuti Jongin ke dapur.

"Kita harus meninggalkan Baekhyun di Seattle bersama tim cyberku. Kau harus memberitahu Baekhyun seluruh sandi dan username yang kau gunakan untuk mengakses web DJ Company dari dalam."

"Apa?!" Chanyeol terkejut dengan apa yang baru saja Jongin katakan padanya. "Aku harus meninggalkan kekasihku dengan orang asing?! Di tempat asing?!"

"Timku tak akan menyentuh kekasihmu jika itu yang kau takutkan. Kyungsoo lebih penting sekarang, jika kau tak mau bekerja sama, aku akan menyelamatkan Kyungsoo sendirian."

Chanyeol mendengus kesal. "Fine, apa rencanamu?"

Jongin mendudukkan dirinya di kursi makan, begitu juga Chanyeol. "Kita dan Sean yang membawa tim terbaiknya akan bertolak ke Seoul malam ini. Disini, Baekhyun bertugas mengobrak-abrik konsentrasi Insung dengan cara mempermainkan saham milik DJ Company. Mereka akan tahu bahwa ini adalah kerja orang dalam, tapi mereka tak akan tahu siapa dan dimana orang itu berada, dan itu tugas timku untuk melindungi Baekhyun."

Chanyeol mengangguk paham.

"Kita akan menunggu, paling tidak tiga hari untuk melihat situasi di tempat dimana Kyungsoo dan Sehun disekap. Kita harus mempelajari bagaimana pola mereka, setelah kita paham, kita akan bekerja dengan caraku." Jongin menatap Chanyeol serius. "Jika nanti kita sudah berhasil menerka pola dan menyusup masuk, orang pertama yang kau selamatkan adalah Sehun. Insung pasti mengutamakan keamanan untuk Kyungsoo karena dia pikir, otak dari semuanya adalah Kyungsoo."

"Apa Insung akan melemahkan fokusnya pada Kyungsoo dan Sehun jika kita mengacaukan sahamnya?"

"Mungkin hanya dua puluh persen, tapi setidaknya dia akan memilih untuk lebih mengurus kondisi sahamnya yang anjlok daripada Kyungsoo dan Sehun. Dengan ulah kita mengacaukan saham, Insung akan tahu bahwa masih ada orang lain yang belum berada di bawah kuasanya. Maka ia akan berusaha mencari tahu siapa, dan artinya kematian Sehun dan Kyungsoo bisa kita tunda."

Chanyeol menghela napasnya dalam. Mendengar kata kematian yang disandingkan dengan nama kedua saudaranya membuat ulu hatinya tiba-tiba nyeri.

"Aku akan menghubungi Sean. Kau beritahu Baekhyun dan yakinkan dia untuk tetap disini dan menjalankan tugasnya,"

Chanyeol mengangguk, meninggalkan Jongin yang kini menelpon Sean.

"Siapkan tim alpha, kita akan ke Seoul malam nanti. Dan segera kirimkan tim cyber ke apartment Mingyu, minta mereka bersiap disana. Sore ini akan ada tamu penting untuk mereka yang harus mereka jaga dengan nyawa mereka. Jangan lupa beritahu Jacob untuk segera mempersiapkan Gulfstream."

"Baik, Mister Grey. Saya akan segera melaksanakannya,"

Jongin menutup panggilan teleponnya. Ia memutuskan untuk kembali duduk dan mengusap wajahnya kasar. Tidak bisa ia pungkiri bahwa saat ini ia sama cemas dan khawatirnya seperti Chanyeol dan Baekhyun pada Kyungsoo dan Sehun. Walau ia belum pernah bertemu Sehun, ia pernah sekilas melihat foto Sehun di file Alexander Black yang masih tersimpan di e-mailnya.

"Bertahanlah, Kyungsoo-ya. Aku akan datang untukmu,"

-.o0o.-

.

Fire and ice, this love is like fire and ice.
This love is like rain and blue skies, this love is like sun on the rise..

Jongin dan Chanyeol sedang dalam perjalanannya menuju tempat Kyungsoo dan Sehun disekap oleh Insung. Dua hari ini mereka melakukan pengintaian pada tempat itu dan menemukan celah dimana mereka bisa masuk tanpa diketahui penjaga. Misi utama tentu menyelamatkan Kyungsoo, perihal bagaimana mereka membalas Insung itu urusan belakangan. Jantung Jongin sudah tidak kuat lagi berdetak berantakan karena tak kunjung tahu bagaimana kabar lelaki yang dicintainya saat ini. Amarahnya yang sejak kemarin tertahan, nampaknya harus benar-benar terlampiaskan hari ini demi kesehatannya juga.

"Clear!"

Itu adalah kode dari timnya yang sudah lebih dulu sampai disana dan mengawasi keadaan. Kode clear berarti Jongin dan Chanyeol yang baru saja sampai, sudah bisa masuk dan mencari tahu dimana dan bagaimana keadaan Sehun serta Kyungsoo sekarang.

"Aku akan cari Sehun, kau ke arah sana dan cari Kyungsoo." Chanyeol berbisik pada Jongin dan lelaki itu menyanggupinya. Baru saja melangkah satu kali, mereka dikejutkan dengan menyalanya lampu ruangan yang sejak tadi mati itu.

"Well, well, well… look who's coming for you, Kyungsoo. Pemilik perusahaan ternama dunia, Nicholas Grey."

Tepukan tangan yang menyambut kedatangan Jongin dan Chanyeol menjadi pemicu keterkejutan mereka setelah tiba-tiba lampu ruangan menyala. Ternyata, langkah mereka sudah terbaca Insung. Buktinya, lelaki itu sudah ada di dalam ruangan ini dengan seorang penjaga yang menjaga Kyungsoo dan dua orang lain berjaga di belakang Insung. Sisa penjaga sudah dilumpuhkan timnya saat mereka hendak masuk kemari, jadi perkiraan Jongin, mereka memang sengaja memberi celah pada Jongin dan Chanyeol untuk menjadi pahlawan kesiangan bagi Kyungsoo dan Sehun.

"Dan, oh, kau juga ada disana, ya, Direktur baru?" sindir Insung. "Senang bisa melihatmu disini, mencoba menyelamatkan adik-adikmu, benar?"

Chanyeol yang berdiri tepat di samping Jongin hampir saja melancarkan serangan serampangan yang untungnya segera dihentikan oleh Jongin. "Kau selamatkan Sehun, biar aku yang mengurus Insung." bisik Jongin pada Chanyeol seraya menahan tubuh lelaki itu agar tak lepas kendali.

"Ya, benar. Cobalah selamatkan lelaki lemah itu. Dia mungkin sekarang sudah mati lemas," tawa Insung menguar begitu keras disini. "Aku tak menyangka kita bertemu lagi, Nicholas Grey. Ahh, atau harus aku memanggilmu dengan nama Kim Jongin?" seringai Insung muncul dan amarah Jongin mulai terbakar.

"Katakan padaku, Jongin. Bagaimana kabar Kyungho? Apa dia masih bisa jalan dengan kakinya yang cacat itu?" Insung melepas tawanya lagi. "Aku sungguh tidak menyangka dia bisa menyelamatkan keluarga bodohnya dari kecelakaan super cerdas yang sudah dipersiapkan oleh pembunuh cekatan ini. Oh, apa kau sudah tahu bahwa pria ini adalah orang yang mencelakai keluargamu, Jongin?"

"Berhentilah berbicara hal yang tidak penting, Insung. Lepaskan Kyungsoo sekarang dan aku pastikan kau tidak akan menyesali apapun," Jongin menatap Insung serius, kedua tangannya sudah terkepal sempurna melihat Kyungsoo yang didekap oleh orang suruhan Insung.

"Ohh, aku suka lelaki seperti dia," Insung tertawa dan menatap dua bodyguardnya. "Dia sangat pemberani, tapi bodoh. Kau memintaku melepaskan Kyungsoo begitu saja? Ayolah, Jongin. Kau dan aku sama-sama pengusaha. Kita tahu bahwa seorang pengusaha tak akan melepas sesuatu yang menguntungkannya dengan jalan yang mudah,"

Jongin tahu Insung membawa dua bodyguard karena ia memperkirakan semuanya dengan baik. Insung tahu bahwa Jongin punya sesuatu yang bisa membahayakannya jika ia bertarung sendirian, ia tentu masih sangat sayang dengan harta dan nyawanya. Jadi ia menyewa dua bodyguard terbaik di Seoul untuk jadi tamengnya menghadapi Jongin.

"Kau tahu aku tak akan membiarkanmu keluar hidup-hidup jika kau menolak melepaskan Kyungsoo,"

"Dan siapa kau hingga kau pikir kau bisa membunuhku, Jongin? Aku punya dua bodyguard terbaik disini, jadi aku pastikan kejadian di masa lalu itu tak akan terulang,"

Jongin meludah ke samping lalu kembali menatap Insung penuh amarah. "Jangan jadi pengecut yang suka bicara banyak, diamlah dan hadapi aku satu lawan satu, keparat. Kau pria sejati? Kau ingin memiliki Kyungsoo seutuhnya hanya untukmu? Buktikan padaku kau pantas, brengsek. Aku tidak rela melepas Kyungsoo untuk pecundang yang tak berani melakukan semuanya sendiri,"

Insung melempar minuman kalengnya dengan keras ke lantai, melepas dasinya lalu melemparnya juga, kemudian ia mulai melipat lengan kemejanya hingga ke siku seolah benar-benar bersiap menghadapi Jongin. Jongin meloloskan seringai kecil melihat reaksi Insung. Seperti biasa, laki-laki seperti dia mudah sekali diprovokasi.

"Kyungsoo hanya milikku! HANYA MILIKKU!"

Insung berlari menuju Jongin dengan membawa tongkat baseball kayu yang tadi dibawa bodyguardnya. Ia mengayunkan tongkatnya ke arah Jongin berkali-kali, tapi lelaki itu berhasil menghindari semuanya.

"Aku tak yakin Kyungsoo akan senang jadi milikmu jika ia tahu kau selemah ini,"

"BRENGSEK!"

Insung kembali melancarkan pukulan pada Jongin, tetapi lelaki itu menghindar dengan mudah. Hingga akhirnya Insung memutuskan menghadapi Jongin hanya dengan tangan kosong. Ia dan Jongin terlibat dalam baku hantam yang cukup seru walau sebenarnya sudah cukup jelas siapa yang akan menang, tapi perlawanan Insung tidak bisa dibilang main-main belaka karena ia berhasil menghantam titik vital Jongin di bagian dada berkali-kali dan mengakibatkan lelaki itu sempat terhuyung-huyung beberapa kali hingga akhirnya sebuah pukulan keras dilayangkan Insung di pipi kanan Jongin sampai ia jatuh tersungkur.

Stamina Jongin terbilang cukup terkuras karena dua hari ini ia tidak tidur cukup dan asupan makanan yang masuk ke tubuhnya juga jarang. Tak heran walau ia menang secara statistik, Insung masih bisa membuatnya nyaris terkapar.

Melihat rekannya bangkit perlahan karena kelelahan, Chanyeol yang sejak tadi sibuk mengurusi Sehun yang untungnya hanya pingsan, melempar sebuah kursi kayu yang berada di samping tubuh Sehun saat ia menemukannya pertama kali pada Jongin. Lelaki itu kemudian dengan segera menegakkan tubuhnya, menangkap lemparan kursi dari Chanyeol dan langsung memutar tubuhnya menghadap Insung sambil melayangkan kursi kayu ke arah kepala sang lawan. Dan dalam hitungan detik, Insung terkapar.

Jongin tak berhenti. Ia masih menghantamkan kursi kayu ke arah Insung, hantam kepalanya, hantam tubuhnya, dan hantam kakinya. Kursi kayu itu bahkan sampai patah karena tak bisa menahan kerasnya hantaman Jongin pada Insung. Seolah masih belum puas, Jongin masih menambah derita Insung dengan menginjak keras lutut Insung hingga bisa terdengar erangan Insung ketika tempurungnya terasa retak karena Jongin. Tidak berhenti disitu, Jongin bahkan masih memukuli Insung dengan tangan kosongnya sampai lelaki itu tak sadarkan diri pun, Jongin masih berkutat dengan pukulannya.

This love got me rolling the dice, don't let me lose..
Still falling for you, still falling for you..

Dua bodyguard Insung yang hendak membantu, lumpuh berkat tembakan dari tim alpha milik Sean dan nasib yang sama juga menimpa lelaki yang mendekap Kyungsoo sejak tadi. Ia kini tak bernyawa dengan tembakan yang terarah ke tengah dahinya.

Jika bukan karena sebuah teriakan dari suara yang sangat ia kenal, Jongin mungkin tak akan pernah berhenti menghajar Insung bahkan jika ia sudah tidak bernyawa.

"NIC, STOP!"

Itu James—Mingyu yang ternyata datang juga untuk menyelamatkan Kyungsoo. Kini, ia sudah menarik Jongin dari Insung yang sudah tak sadarkan diri sejak tadi. Dengan tangan yang ikut berlumur darah milik Insung, Mingyu memeluk Jongin dan memaksa laki-laki yang kini terlihat panik itu untuk menatap kedua matanya.

"Tenang, oke? Ini aku, aku disini. Oke, Nic?" tatapan Mingyu begitu lembut pada Jongin, seolah sedang menenangkan bayi yang menangis. Kyungsoo disisi lain, ia baru saja lepas dari cengkraman pesuruh Insung dan kini sedang dipapah Wonwoo menuju tempat dimana Chanyeol berada.

"A-aku… a-apa… apa aku… dia… apa dia… ma-mati?" Jongin menatap adiknya dengan tatapan ketakutan, ia seperti seorang anak yang baru saja ketahuan tidak sengaja membunuh hewan peliharaan kesayangan ayahnya. "Ma-maafkan aku…"

Sorot mata itu…

Kyungsoo tak pernah sekalipun menemui sorot mata itu hadir di mata Jongin. Sorot mata yang berisi jutaan rasa sakit dan ketakutan. Sorot mata yang berisi jutaan penyesalan dan keinginan untuk meminta maaf atas semua hal yang seolah dilakukan diluar sadarnya. Sorot mata kelemahan yang sama sekali tak pernah pantas menjadi bagian dari diri Kim Jongin yang ia kenal begitu angkuh dan penuh kontrol atas segala sesuatu. Hari ini, Kyungsoo kembali melihat sisi lain dari Jongin. Sisi yang tak pernah ia perlihatkan pada siapapun, sisi yang bertolak belakang dengan segala pemikiran Kyungsoo tentang sifat Jongin yang sebenarnya, dan sisi yang semakin membuat Kyungsoo yakin bahwa mencintai Jongin adalah pilihan paling tepat untuk hidupnya dan masa depannya.

.

-.o0o.-

.

1. Still Falling For You (Epilog)

Satu setengah tahun berselang,

Beautiful mind, your heart got a story with mine..
Your heart got me hurting at times..

"Excuse me," Jongin mendentingkan gelas di tangan kirinya dengan sebuah sendok perak di tangan kanannya untuk meminta perhatian tamunya. "Thank you," ia kemudian berdehem, meletakkan gelasnya kemudian menatap para tamunya bergantian.

"Terima kasih karena telah meluangkan waktu untuk menghadiri perayaan satu tahun berdirinya Black & Grey," Jongin menjeda kalimatnya. "Terima kasih untuk para investor, para kolega, dan juga rekan kerja kami yang selalu memberi dukungan pada Black & Grey."

Tepukan kecil mengiringi pidato sederhana Jongin.

"Terima kasih juga pada Mom and Dad, James, Kate, yang terus mendukungku dan menguatkanku,"

"Terima kasih Chanyeol Hyung, Baekhyun Hyung, Luhan Hyung dan juga Sehun yang tak pernah absen membantu kami menjadikan Black & Grey sebagai restaurant terbaik tahun ini di Seoul."

Jongin dan Kyungsoo ikut memberikan tepuk tangan sebagai ungkapan terima kasih mereka pada keluarganya yang berjasa pada berkembangnya bisnis mereka.

"Dan hari ini juga, aku ingin berbagi sedikit kebahagiaanku dengan kalian," Jongin mengangkat gelas winenya ke udara lalu menurunkannya hingga sejajar dadanya. "Yesterday, I propose a very squishy man beside me. And now," Jongin menyempatkan tertawa sejenak sebelum melanjutkan bicaranya. Kyungsoo terlihat sedikit mencubit pinggang Jongin karena laki-laki itu seperti sedang menggodanya saat ini. "And now I'm proud to say that my boyfriend over here will soon to be…. ahh it's little bit weird to say it but, he's soon to be my husband."

Your heart gave me new kind of highs, your heart got me feeling so fine..
So what to do? Still falling for you, still falling for you..

Tepuk tangan riuh dan beberapa teriakan yang sudah jelas berasal dari sisi keluarga mereka berdua itu kini menggema dan berebut masuk ke gendang telinga Jongin dan Kyungsoo yang sedang tertawa geli karena apa yang baru saja mereka umumkan sendiri. Mereka merasa sedikit malu, tapi juga bahagia.

"Terima kasih, dan tentu saja, kalian semua akan kuundang pada pernikahan kami yang akan dilaksanakan…. Soon!"

"Please enjoy your meal, everyone.."

Jongin mendapat seruan dari banyak orang karena tak memberitahu mereka kapan pastinya mereka akan menikah. Namun lelaki itu tak mempedulikannya. Ia memilih untuk larut dalam tawa indah Kyungsoo yang sejak tadi tersaji secara cuma-cuma di hadapannya. Kedua mata bulat yang akan menghilang seiring tawa itu muncul, pipi gembul yang akan semakin terlihat penuh ketika tawa itu ada dan juga rona merah yang mampir di wajah lelakinya tercinta sukses membuat adrenalin Jongin begitu terpacu layaknya ia sedang melakukan off-road.

"Thank you for always being with me, I couldn't ask you more than your time to stick with me till death do us a part,"

"And thank you for all your forgiveness, I can't ask you more than that."

"You don't need to ask me anything, I'm all yours, Kyungsoo. And of course, you're all mine.."

Kyungsoo membawa bibir Jongin pada sebuah ciuman panjang yang memabukkan dirinya sendiri. Sejak peristiwa mengerikan yang sempat membuatnya trauma sementara satu setengah tahun lalu itu, Kyungsoo kembali bersama Jongin dan meresmikan hubungan mereka sebagai sepasang kekasih sebulan kemudian. Ia merasa, bahwa mencintai Jongin hingga akhir hayatnya adalah satu-satunya cara untuknya bisa merengkuh sisi lemah dan menyokong sisi kuat Jongin dalam satu waktu. Ia tahu masih banyak sisi dari seorang Nicholas Grey yang belum ia ketahui, tapi ia yakin dengan mencintai Jongin maka ia juga akan mencintai semua sisi yang lelaki itu miliki tanpa pernah lagi meragukan bahwa Jongin bukan pria yang tepat baginya.

It took us a while, with every breath a new day, with love on the line..

Jongin sendiri merasa hidupnya kembali jadi penuh tawa yang membahagiakan ketika Kyungsoo bersamanya. Ia masih terus merasakan sensasi perut yang dipenuhi jutaan kupu-kupu hidup ketika melihat Kyungsoo tertawa riang. Ia juga masih terus mendapati jantungnya berdegup tak karuan tiap kali melihat Kyungsoo tersenyum bahagia. Dulu ia menyangkal bahwa perasaan ingin memonopoli Kyungsoo adalah sebuah rasa bernama cinta. Dulu ia selalu menolak anggapan bahwa dirinya adalah lelaki yang romantis dan perhatian. Dan dulu ia bahkan menganggap bahwa dirinya bukanlah lelaki yang tepat untuk Kyungsoo.

Sekarang Jongin sangat yakin, tak akan pria lain yang mampu membahagiakan Kyungsoo seperti ia melakukannya. Tak akan ada pria yang mampu menjaga Kyungsoo seperti apa yang ia lakukan hingga saat ini. Dan tak akan pernah ada orang lain yang mampu mencintai Kyungsoo seperti Jongin mencintai seluruh sisi gelap dan terang dalam hidup Kyungsoo.

Apa Jongin masih menganggap Kyungsoo berbahaya untuk dirinya?

Ya, tentu saja. Kyungsoo memang selalu berbahaya, selalu berbahaya bagi siapapun yang melihatnya. Namun Jongin menyukainya, menyukai keberbahayaan Kyungsoo bagi jiwa dan raganya. Karena nyatanya, dengan mencintai sisi Kyungsoo yang berbahaya, Jongin menemukan jiwanya lebih berbahagia.

We've had our share of mistakes, but all your flaws and scars are mine..
Still falling for you, still falling for you…

"I love you and I will always do, Do Kyungsoo. Thank you for coloring my life, Black.."

"I'm falling for you, and still falling for you, Kim Jongin. Thank you for lightening my darkest life, Grey."

.

-.o0o.-

No one can lift me, catch me the way that you do..

-.o0o.-

.

END


Thank you!

Terima kasih sudah membaca (kembali) sampai selesai!

This project is not over yet but I do not have time to complete it, so yeah, I just cut it here.

Semoga segera punya waktu luang untuk nerusin projek ini. Selamat ulang tahun, Mister Nicholas Grey a.k.a Kim Jongin!

Salam Mesum!