Seorang pemuda yang berpakaian serba oranye terlihat sedang menoleh ke kiri dan kanan. Seperti sedang mencari seseorang. Boboiboy, nama si manis serba oranye ini. Setelah cukup lama mencari, akhirnya ia menemukan siluet seorang pria dewasa dengan gaya rambut yang begitu nyentrik—sepertinya pria itulah yang sedari tadi dicari oleh Boboiboy. Terbukti saat Boboiboy berjalan mendekati pria itu dan menyapanya. "Selamat pagi, bang Kaizo."

"Oh? Pagi, Boboiboy! Hari ini pagi sekali?"

"Eh iya. Ehmm.. Ehehe... Aku terlalu bersemangat, bang."

"Mau menemui Fang lagi, huh? Ayo sini, ikut aku."

.

~Our Story~

The Unsaid Feelings

A Fang x Boboiboy fanfiction by Casstella Millatea

Disclaimer : Boboiboy is not mine!

Pairing : Fang and Boboiboy

Warnings : typo(s), OOC, randomly appeared-disappeared characters and many more...

Genre : (kind of) Friendships and (tiny bitsy) Humor, Romance (if you want to squint hard enough)

Read with your brain! Be smart! Don't like it? Go away!

Like it? Then, please enjoy!

.

Dua minggu yang lalu...

Seorang pemuda baru saja keluar dari sebuah rumah minimalis berbentuk antik. Pemuda itu tampak menghela nafas tanpa semangat. Setelah mengunci pintu rumah, pemuda itu berjalan dengan sangat lambat. Saking lambatnya, ia memerlukan waktu sepuluh menit untuk sampai ke sebuah kedai yang ada di seberang rumah.

"Pagi, Tok Aba..." Sapa pemuda tadi pada pemilik kedai yang ternyata adalah kakek pemuda itu sendiri.

"Oh, Boboiboy! Mari sini!" Kata Tok Aba—kakek pemuda bernama Boboiboy itu—memanggil Boboiboy. Boboiboy menurut tanpa banyak bertanya. Tok Aba menunjukkan selembar pamflet kepada Boboiboy.

Sebuah pamflet mengenai kebun binatang yang baru dibuka berpindah tangan. Pamflet tersebut menarik perhatiannya. Sehingga tanpa sadar ia berbinar memandanginya. Membuat kakeknya mendengus geli melihat tingkah lakunya. "Apa kau tertarik, Boboiboy?"

Boboiboy menoleh. Seakan sudah di-setting untuk otomatis menoleh ke arah kakeknya, Boboiboy dengan cepat mengangguk sambil tersenyum lebar. "Tentu!"

Sang Atok terkekeh, sebelum tiba-tiba menyerahkan selembar tiket yang sudah cukup lecek. "Ini. Atok rencananya mau mengajakmu ke kebun binatang bersama. Tapi atok tanpa sengaja membuang tiket atok saat di tempat laundry."

Melihat reaksi cucunya yang sepertinya berusaha mengelak, Tok Aba buru-buru melanjutkan. "Tidak apa. Toh, kalau mau beli sekarang, atok sudah kehabisan tiket. Dan lihat pengunjung kedai atok. Ramai. Mana mungkin kan atok tinggal?"

Boboiboy yang sudah merasa tidak bisa mengelak, hanya tersenyum sambil memeluk kakeknya yang pengertian itu. "Terima kasih tok..."

Tok Aba tersenyum puas. "Sama-sama, Boboiboy. Oh iya! Titip salam buat Kaizo ya.. Dia yang kasih tiket itu ke atok..."

Boboiboy memiringkan kepalanya. "Oh! Bang Kaizo yang dulu nge-kos di rumah atok kan? Siap tok!"

"Hati-hati ya, Boboiboy!"

.

Karena itulah, Boboiboy sekarang berada di antara kerumunan orang yang sudah tidak sabar untuk berkeliling kebun binatanh yang baru saja dibuka itu. Boboiboy merasa seperti anak yang tersesat. Ia hanya bisa menoleh ke kiri kanan. Mencari cara agar bisa keluar dari kerumunan ibu-ibu yang sedang sibuk ber-selfie ria sambil memberi makan bintarong. Atau mungkin mencari cara supaya tidak terlindas gerobak sampah yang tingginya melebihi mas-mas yang mendorongnya.

Dan tiba-tiba seorang anak berkuncir dua menarik lengan bajunya, membawanya entah kemana. Lalu tiba-tiba lari begitu saja dan menghilang. Boboiboy mulai berpikir kalau sebenarnya ia sedang berada di istana penyihir—bukan di kebun binatang.

Boboiboy melihat sekelilingnya. Lima menit kemudian barulah ia sadar...

"AKU DIMANA?!"

Buru-buru ia mengecek peta yang tadi diberikan oleh mbak-mbak di loket masuk. Tangannya menyusuri permukaan peta tersebut. Mencari-cari tempat yang mungkin ia ketahui ada di sekitar tempatnya sekarang. Jemari yang awalnya menyusuri permukaan peta itu berganti ke rambutnya. Mengacak surai kecoklatannya dengan frustasi sambil menjerit penuh keputusasaan.

Suara geraman rendah yang sangat mengerikan menghentikan teriakan frustasi Boboiboy. Dengan takut-takut, Boboiboy menoleh ke kiri-kanan. Tapi ia tidak menemukan apapun. Boboiboy memberanikan diri melihat ke belakangnya. Namun hasilnya tetap nihil. Sampai ia merasa suara geraman itu semakin mendekat, Boboiboy mendongak. Matanya terbelalak ketika manik hazelnya bertubrukan dengan manik scarlet yang tajam milik seekor serigala besar yang sangat mengerikan.

Otak dan nalurinya menyuruhnya untuk lari. Tapi seluruh anggota badannya mengkhianatinya. Bukannya malah lari, Boboiboy malah berjalan mendekat dan meletakkan tangannya ke puncak kepala hewan berbulu hitam legam tersebut lalu tanpa sadar mulai mengelusnya perlahan.

'Cerdas sekali, Boboiboy. Sebentar lagi, dia akan memangsamu dan menjadikan tulang-tulangmu sebagai pajangan.' Batin Boboiboy.

Namun, bukannya malah berhenti mengelus kepala hewan buas itu, Boboiboy malah meletakkan tangannya yang satunya lagi ke leher serigala bengis itu dan kembali membelai lembut bulu hitam yang entah kenapa terasa begitu halus.

Geraman seram itu tiba-tiba terhenti. Dan serigala itu semakin mendekatkan kepalanya ke arah Boboiboy—seakan meminta Boboiboy untuk makin memanjakannya.

Tanpa ragu, Boboiboy mendekat dan tanpa sadar membawa serigala yang 'dijinakkannya' ke dalam pelukannya. Boboiboy tersenyum lebar saat merasakan hewan berbadan besar itu menggeram kesenangan.

"FANG!"

Boboiboy terperanjat, kaget saat serigala di pelukannya itu melompat menjauh sambil mengeluarkan suara seperti sedang ketakutan.

Boboiboy menoleh ke belakangnya, mendapati Kaizo yang sudah masuk mode beringas—karena mungkin ia kira sang serigala berusaha menyakiti Boboiboy.

Boboiboy gelagapan. "B-Bang Kaizo..! Di-dia nggak berencana untuk me-melukaiku kok..." suaranya terdengar begitu lemah. Bahkan untuknya sendiri.

Tatapan Kaizo melembut, senyum lega sedikit demi sedikit terpatri di wajahnya.

"Kenapa kau disini, Boboiboy?" Tanya Kaizo.

Boboiboy menggaruk tengkuknya. Jujur saja... Ia sendiri tidak tahu...

"Entahlah, bang. Tadi ada anak perempuan berkuncir dua yang tiba-tiba menarikku kesini lalu meninggalkanku..."

Boboiboy melihat Kaizo menghela nafas lelah. "Itu Ying."

Boboiboy yang—maaf saja—daya tangkapnya kurang, tidak mengerti perkataan Kaizo. Apa? Ying? Maksudnya?

Dan, Kaizo sepertinya paham dengan kebingungan Boboiboy, hanya tersenyum. "Anak kecil yang tadi menyeretmu kesini namanya Ying."

Oh.

"Dia anak manager disini. Makanya dia tahu tempat ini—"

Eh? "Tahu tempat ini?"

Kaizo mengangguk singkat sambil menghela nafas. Lalu mulai menjelaskan alasan mengapa ayah Ying dan dirinya serta dua temannya yang lain membangun kebun binatang ini. Lalu ia menjelaskan bagaimana ia bisa menemukan serigala langka macam Fang. Mulai dari ia, ayah Ying dan kedua temannya tersesat di hutan yang letakknya sangat jauh dari desa tempat mereka berempat praktek. Lalu mereka menemukan Fang dalam keadaan

"—sebenarnya kebun binatang ini hanyalah kedok agar kami bisa menyelamatkan Fang dari pemburu-pemburu ilegal di hutan dan merawat luka-lukanya."

'Holang kayah.' Boboiboy yang dari tadi mendengar penjelasan Kaizo hanya diam lalu mengamati serigala raksasa—namanya Fang—di sampingnya yang sedang duduk sambil sesekali menggaruk leher dengan tangan? kaki?

Setelah mengamati cukup lama barulah Boboiboy melihat bekas sobekan yang cukup panjang melintang dari belakang telinga Fang hingga melintasi perut. Boboiboy yang melihatnya saja meringis membayangkan betapa sakitnya luka itu, apalagi Fang yang mengalaminya. Seolah sadar diperhatikan, Fang mendongak dan menemukan pandangan Boboiboy ke arahnya. Boboiboy berani bersumpah ia bisa melihat kilat licik di iris serigala yang sekarang berpindah di hadapannya.

Tanpa sadar, Boboiboy mengulurkan tangan kanannya ke atas kepala Fang dan mulai menepuk-nepuk pelan puncak kepala sang serigala. Senyum prihatin juga terpatri di wajah Boboiboy. Sedangkan Fang mendekatkan kepalanya ke arah tangan Boboiboy dan menggeram kesenangan dengan cukup keras.

Kaizo yang memerhatikan pemandangan di hadapannya hanya melongo—dalam hati tentu saja—seakan sedang melihat pemandangan langka.

Mungkin iya. Karena selama bertahun-tahun merawat Fang, Kaizo mengambil suatu kesimpulan kalau Fang adalah seekor serigala ganas dengan mood roller coaster. Dari awal Kaizo menemukannya, ia sudah tahu kalau Fang sudah diciptakan untuk membunuh secara sadis. Bukan untuk bermanja-manja. Kaizo masih ingat betul kejadian yang merenggut tangan kanan ayah Ying yang dikarenakan oleh terkaman Fang—untung saja ayah Ying kidal.

Tapi mau bagaimana lagi, ini Boboiboy. Boboiboy memang terkenal dengan sikap lembutnya. Jadi tidak kaget Fang langsung luluh kepada Boboiboy. Menyeringai tipis, Kaizo menggeleng pelan. 'Bisa juga si Fang milihnya..'

Mengambil langkah mundur beberapa langkah, Kaizo melambaikan tangan yang sebelumnya ia masukkan ke saku celananya. "Oke, kutinggal disini dulu ya. Boboiboy, kalau perlu apa-apa telpon saja."

"Oke, bang!"

Dengan itu, Kaizo pergi meninggalkan Boboiboy yang asik mengelus-elus kepala Fang dengan Fang yang terlalu senang dengan perhatian yang diberikan Boboiboy.

.

Semenjak hari itu, Boboiboy jadi semakin sering datang ke kebun binatang tersebut. Saking seringnya, Boboiboy sekarang tahu siapa nama mas-mas yang dulu sempat menabraknya dengan gerobak sampah. Sai. Mas-mas dengan topi petani kesayangannya yang sekarang sering dipakai sebagai freesbee oleh Boboiboy.

Oh, jangan bilang-bilang ya kalau Boboiboy sekarang selalu dapat diskon setengah harga kalau beli tiket disana.

Coba saja setahun yang lalu ada seseorang yang berkata pada Boboiboy kalau Boboiboy akan memiliki sebuah hubungan yang sangat erat dengan seekor serigala, Boboiboy pasti akan tertawa kebingungan mendengarnya. Tapi lihatlah sekarang, tiap kali Boboiboy ke kebun binatang tersebut, Fang dan dirinya jadi sangat tidak terpisahkan. Kalau Boboiboy mengingat-ingat kembali, ia hanya bisa tertawa terhadap sikap polosnya karena mau-maunya memanjakan seekor serigala liar yang ganas.

'Mungkin bisa saja takdir bukanlah jahat, ia hanya suka bermain-main dengan anak caturnya yang disebut manusia.'

.

Setelah Bang Kaizo pergi, Boboiboy berjalan ke suatu tempat yang sekarang sudah ia hafal di luar kepala. Perhatiannya tertuju ke arah ponselnya. Sesekali tertawa melihat Yaya dan Gopal—kedua temannya—sedang heboh berdebat membahas hal-hal bodoh. Seperti, "Apa yang akan kalian lakukan kalau bertemu seekor serigala besar yang buas?"

Ironis memang. Humornya receh sekali.

Gopal menjawab kalau ia akan segera lari. Yaya menyangkal debgan alasan sekencang apapun mereka berlari, si serigala pasti lebih cepat. Jadi lebih baik sembunyi di suatu tempat dan menunggu sampai si serigala pergi. Mulai dari situlah perdebatan dimulai.

Boro-boro lari atau sembunyi, Boboiboy malah mengelus-elus dan memanjakan si serigala.

Perhatian Boboiboy dari ponselnya teralihkan saat ia merasa ada sesuatu yang berbulu menubruk kakinya. Fang sedang mengelus-eluskan kepalanya ke kaki Boboiboy, sesekali menggeram kesenangan.

Boboiboy otomatis tersenyum lalu berjongkok di hadapan Fang. Tanpa ragu memeluk serigala besar yang sedang menggeram kesenangan itu.

"Hey there, Fang."

.

Memang tindakan yang kita lakukan biasanya adalah hal-hal bodoh. Tapi bisa jadi, dari hal-hal bodoh itulah kita bisa memperoleh suatu hal berharga yang harus kita jaga dengan amat dan membuat kita dapat tersenyum lebar dengan penuh kepercayaan.

.

HAPPY BIRTHDAY, FANG!~ My boy~

NGGAK KERASA YAH—"

AHAHAHA. hahahaha. ha. ha.

Maaf kalau bukan romance, karena setiap hubungan yang terbentuk tidak bisa langsung tumbuh chemistry tanpa pengenalan terhadap satu dan lainnya.

Sebagai author, saya sadar, saya makin lama makin malas.

—sebentar, biarkan saya ngakak.

Oke, makasih.

Jujur saja, saya punya banyak sekali ide yang sudah dibuat dalam bentuk draft di google keep. Ada hampir seratus—" Tapi saya sudah kurang ada minat dan KEMAUAN untuk melanjutkannya.

Apa mungkin buat satu story yang isi tiap chapter-nya hanya ide-ide saja?

Nanti kalau ada yang tertarik untuk membuat fanfic-nya secara mendetail bisa tinggal dm nanti bakalan saya kasih detailnya? Trus nanti di fanfic-nya bisa taruh nama saya di credit?

Saya cuma mau berpartisipasi dalam meramaikan fandom ini yang makin lama makin sepi. Kalau bisa kenapa tidak? Saya bersedia kok ngasih banyak ide buat teman-teman kembangkan. Beneran.

Karena itu, saya butuh kritik saran teman-teman sekalian~

Sekian dari saya~ adios~

With Regards,

Casstella Millatea.