Suasana pagi ini sangat dingin. Aku merapatkan mantelku dan bergegas menuju sarang Wanna One, Zero Base. Setelah kejadian memalukan kemarin, aku diwajibkan menjaga mereka dengan menjadi baby sitter. Aku menghela nafas, "Setidaknya aku mendapat pekerjaan".

Hari ini aku membawa bahan untuk memasak sup ayam gingseng. Aku berencana memasaknya disana agar mereka dapat memakannya selagi masih panas. Ku dengar mereka semua tepar karena harus melakukan pemotretan sampai tengah malam. Hah, pekerjaan mereka memang menghabiskan banyak waktu dan tenaga.

Lima belas menit kemudian aku sudah sampai di Zero Base. Sepi sekali. Sepertinya mereka belum bangun. Aku bergegas melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal.

"Ya ampun! Ini kenapa kotor banget woy?!", teriakku sambil berjalan memasuki ruang tengah. Astaga, mereka ngapain sih semalam? Sofa-sofa berantakan, banyak wadah ramyun dan kaleng minuman di atas meja, ada juga bungkus makanan dan sisa-sisa hotteok yang tidak di makan. Ya ampun.

Aku menaruh belanjaanku di dapur lalu kembali ke ruang tengah untuk bersih-bersih. Sambil mendengarkan lagu Energetic lewat headset, aku bersenandung sembari memunguti sampah yang berserakan dan memasukkannya ke dalam trashbag. Masuk di bagian rap, aku melakukan aksiku. Aku menyanyikan lirik dengan penuh semangat dan menggunakan botol kosong sebagai mikrofon. Kemudian aku berjoget asal-asalan sambil menutup mata. Begitu bagian rap berakhir, aku membuka mata dan seketika aku terjatuh ke belakang.

"YA! NGAGETIN TAU NGGA!", teriakku sambil berdiri. Aku melempar botol minuman pada Minhyun yang sedang terbahak-bahak.

"Salah siapa joget-joget ngga jelas sambil nge-rap. Hahahaha", ucapnya.

Aku menatapnya dengan tatapan tidak percaya sambil memanyunkan bibir. "Ngga lucu", ucapku datar.

"Bercanda atuh neng. Lagian gerakan lo tadi kayak ibu-ibu lagi senam. Eh, eh, tapi rap lo keren juga, baru kali ini gue denger cewek bisa nyanyiin part Daniel sama Woojin sebagus itu", ucap Minhyun sambil menata ulang pernak-pernik di ruang tengah. Blushh. Aku merasa pipiku memerah. Ih, apa-apan ini. 'Mau bales ucapan Minhyun oppa, tapi bingung mau bilang apa. Diem aja deh', batinku.

Aku dan Minhyun melanjutkan aksi bersih-bersih dalam diam sampai akhirnya, "Oppa, kalian ngapain sih semalem sampe Zero Base berantakan gini?", ucapku untuk memecah keheningan.

Minhyun berjalan ke arahku, "Kepo aja apa kepo banget? Nanti aja gue ceritain", ucapnya sambil memunguti sisa-sisa sampah di atas meja. Aku mendengar penjelasan Minhyun sambil manggut-manggut.

Lima menit kemudian ruang tengah sudah bersih kembali. Aku pamit pada Minhyun dan bergegas ke dapur untuk memasak. Untung saja peralatan dapurnya super komplit, jadi aku tidak perlu repot membawa kuali besar.

Aku memutar musik kesukaanku lalu memasak nasi dan sup ayam gingseng. Butuh waktu lama untuk memasak ayamnya, semoga saja waktunya cukup.


"Mau aku bantuin ngga, noona?", tanya Daehwi sambil mengintip.

"Bantuin aku ngangkat kuali, nasi, sama sisa-sisanya ke ruang tengah ya. Lima menit lagi selesai kok. Oya, mejanya jangan lupa disiapin ya Daehwi", ucapku sambil tersenyum. Daehwi membalasku dengan anggukan penuh semangat dan senyum lebar lalu berlari menuju ruang tengah. Aku bisa mendengar suara imut Daehwi memanggil hyung-hyungnya untuk berkumpul dan menyiapkan meja makan.

"Noona, mana yang mau di bawa ke depan?", suara Guanlin yang berat hampir saja membuatku terjatuh untuk yang kedua kalinya. Aku menunjuk ke arah tempat nasi dan Guanlin segera membawanya ke ruang tengah.

"Gue bawa yang mana?", tanya Daniel sambil cengengesan. Aku menunjuk ke arah mangkok, sumpit dan sendok sambil menggigit sebutir apel. Daniel menatap tempat yang kutunjuk lalu mengacungkan jempolnya ke arahku. "Niel, bawanya hati-hati!", ucapku saat Daniel meninggalkan dapur.

"Ayamnya udah siap kan?", tanya Sungwoon dan Jisung berbarengan. Aku mengangguk pada mereka dan menunjuk kuali besar tempat si ayam berada. Mereka berdua menatapku dan kuali itu bergantian.

"Bisa, bisa. Oppa pasti bisa kok bawanya hehe", ucapku sambil memberikan sarung pelindung tangan agar tak kepanasan saat mengangkat kualinya. Sungwoon dan Jisung memakai sarung tangan dan bersiap membawanya ke ruang tengah. Aku bisa mendengar mereka berdua berteriak kepanasan dan menyuruh member yang lain untuk minggir. Lucu sekali. Aku menyusul mereka dengan membawa kimchi dan acar lobak yang kubawa dari rumah.

xxxx

"Wah, samgyetang!"

"Harum sekali~"

"Aku mau makan yang banyaaaak"

"Ayam, ayam, ayam, ayam"

"Wah! Wah! Kayak masakan emak gue di kampung!"

"Eh buset ini-"

Celotehan member Wanna One membuatku geli. Lucu sekali reaksi mereka melihat masakan rumahan.

"Hop, setop, semuanya diem dulu", ucapku sambil mengangkat tangan kanan. Kesebelas laki-laki itu langsung diam dan memperhatikanku. "Ngambilnya ga usah rebutan. Ayamnya ga bakal lari. Itu porsi aku bikin cukup, bahkan mungkin lebih, buat kalian semua. Makan yang banyak semuanyaa!", ucapku riang. Kesebelas member membalas ucapanku dengan teriakan 'aiyeee' dan menunggu giliran mengambil sup ayam dan nasi.

Suasana Zero Base mendadak sepi karena semua member sibuk menyantap sarapan. Yang terdengar hanyalah dentingan sendok dan sumpit, serta suara orang menyeruput kuah sup. Aku menatap mereka sambil tersenyum. Senang sekali rasanya bisa memasak masakan yang membuat mereka setenang dan sebahagia ini. Setengah jam kemudian semua orang sudah selesai menyantap sarapan. Sup ayam gingseng buatanku ludes. Satu per satu member mulai meninggalkan meja dan sibuk dengan dirinya masing-masing.

"Sini gue bantuin", ucap Minhyun sambil membawakan kuali dan tempat nasi ke tempat cuci piring. Aku hanya mengangguk dan membereskan sisa-sisa barang di atas meja.

"Makasih ya, oppa. Jadi ngerepotin", ucapku sambil menaruh mangkok di tempat cuci piring. Minhyun hanya mengangguk sambil membasuh kuali.

Lagi-lagi kami terjebak dalam suasana hening. Sungguh canggung. Karena tak sanggup melawan keheningan ini, aku membuka mulut terlebih dahulu. "Oppa, katanya ada yang mau diceritain", ucapanku membuat Minhyun menoleh dan menaikkan sebelah alisnya. Aku menghela nafas dan berkata, "Tadi waktu bersih-bersih ruang tengah lo bilang mau cerita sesuatu. Cerita apaan deh?". Minhyun tampak sedang memutar bola matanya lalu berkata, "Oh itu! Iya tadi gue mau cerita kenapa ruang tengah jadi kotor banget". Aku membasuh mangkok sambil menunggu kelanjutan cerita Minhyun.

"Jadi, kemarin kan ada jadwal pemotretan. Rencananya tuh kita mau cari makan selesai pemotretan, soalnya pada kelaperan. Tapi karena selesainya lewat tengah malem, akhirnya ngga jadi soalnya si Jinyoung ada jadwal sekolah. Kasian kan dia nanti ngga konsen belajar gara-gara tidur subuh. Yaudah deh kita balik Zero Base, terus masak ramyun", ucapnya sambil menata mangkok yang baru saja kuberikan padanya.

"Ya ampun, pantesan aja itu wadah ramyun banyak banget. Emm, sori ya oppa. Gara-gara gue dateng jam segini jadinya kalian semua kebangun. Gue jadi ganggu waktu tidur kalian. Kan gue-"

"Sshh", Minhyun menaruh telunjuknya di bibirku. Sial, aku deg-degan. "Bukan salah lo. Santai aja. Toh anak-anak juga seneng dapet sarapan mewah kayak tadi. Jarang-jarang lho kita bisa sarapan", ucapnya santai sambil menarik telunjuknya dari bibirku. Aku jadi salah tingkah. 'Kayanya pipi gue jadi merah deh. Soalnya Minhyun oppa ngeliatinnya gitu banget. Mati guee', batinku.

Untuk menghilangkan rasa panik dalam diriku, aku memutuskan untuk berdeham dan merapikan poniku. "Ehem, iyadeh oppa, iya. Btw kemaren makasih ya udah bangunin gue hehe. Makasih juga udah ngasih gue minum waktu gue bangun", ucapku pelan. Minhyun terkekeh mendengar ucapanku. "Iya iya, santai aja. Kalo lo butuh apa-apa, bilang sama gue. Nanti gue bantuin sebisa gue", ucap Minhyun. Aku mengangguk sebagai balasan. "Mau ikut gue ngga?", tanyanya. "Ke mana?", tanyaku. "Balik lah ke kamar. Lo belom pernah main-main ke kamar gue kan?". Akhirnya aku pergi mengikuti Minhyun ke kamarnya.

"Oppa, tau ngga sih? Pertama kali gue liat kamar lo tuh gue seneng banget. Soalnya kamar oppa paling rapi diantara semua kamar yang ada hehe. Gue seneng sama cowok yang rapi. Enak aja gitu diliatnya", ucapanku membuat Minhyun tersipu. 'Bisa malu juga dia', batinku.

"Ya gitu deh. Gue emang punya kebiasaan bersih-bersih karena gue punya alergi debu. Rasanya tuh gimana gitu kalo ada sesuatu yang ngga rapi. Makanya gue dipanggil tukang bersih-bersih sama anak-anak. Nah, mereka itu pada males bantuin gue bersih-bersih. Masa disuruh bersih-bersih malah suit dulu. Hmmm"

Pagi itu aku menghabiskan waktu di kamar Minhyun sambil bertukar cerita. Kami bahkan saling menasehati terkait pekerjaan masing-masing. Dibalik sifatnya yang terlihat cool, ternyata dia itu pemalu. Menyenangkan sekali bisa berbagi cerita dengan orang baru.

xoxoxoxox

haii, untuk episode ini kamu bakal aku pasangin sama Minhyun yaa :)

memang cuma sedikit, semoga worth it :)