Sudah satu jam aku mondar-mandir di supermarket dan sekarang aku masih tidak tahu harus memasak apa. Tiba-tiba ponselku berdering. Ah, ada pesan masuk dari Daniel.
Received from: Catniel
Kok lo blm dtg? Hyung nanyain lo nih
To: Catniel
Gw msh di supermarket, bingung mau masak apa. Mau mkn apa?
-sent
Received from: Catniel
Pasta plz! Gw pgn mkn pasta. Tp jgn pk seafood.
To: Catniel
Roger that
-sent
Hm, pasta ya. Berhubung Daniel punya alergi seafood, masak carbonara aja deh. Segera aku mencari bahan-bahan untuk membuat fettucine carbonara lalu berangkat menuju Zero Base dengan teruburu-buru.
xxxx
"Sori guys dateng telat hari ini", ucapku sambil memakai sandal. Member lain membalas dengan ucapan 'santai aja', 'ngga apa-apa' dan 'yoi'. Kemudian Daniel datang menghampiri dan membawakan belanjaanku.
Sesampainya di dapur, aku memakai apron dan langsung memasak. Karena terlalu panik, aku tak sadar kalau Daniel belum beranjak dari dapur.
"Masaknya pelan-pelan aja kali", ucap Daniel sambil tertawa. Aku menoleh dan menaikkan sebelah alisku. "Lo lucu banget sih kalo lagi panik kaya gitu, hahaha", sekarang dia tertawa terbahak-bahak. Ah iya, aku pernah dengar dari Minhyun oppa kalo si Niel doyan banget ketawa sendiri. Mungkin ini yang dia maksud. Aku membalas tawa Daniel dengan senyuman lalu melanjutkan memasak.
"Niel bantuin gue ngaduk ini dong", ucapku sambil menengok ke arahnya. Daniel berjalan mendekat dan mengambil spatula dari tanganku kemudian mulai mengaduk carbonara yang hampir matang. Aku mengalihkan diri dengan menyusun piring.
Sepuluh menit kemudian carbonara sudah matang dan kami berdua menyusunnya di piring. Daniel bertugas menuangkan carbonara sedangkan aku menaruh garnish di atasnya. "Nuangnya hati-hati, panas", ucapanku dibalas dengan senyum oleh Daniel. 'Ya Lord kenapa lu imut banget sih kalo senyum', batinku.
"Selesai!", teriak Daniel senang sambil mengajakku high-five. "Yuk kita bawa ke depan", ucapku riang.
"Guys mejanya diberesin please, ini sarapannya udah jadi!", teriak Daniel dari dapur. Aku bisa mendengar suara Minhyun menyuruh dongsaeng-dongsaengnya merapikan meja. Tak lama Minhyun datang ke dapur dan memberitahu kalau meja sudah disusun dengan rapi. Aku mengangguk dan menoleh pada Daniel. Ia mengacungkan jempol dan mulai membawa piring-piring ke ruang tengah menggunakan nampan besar.
"Wah, ini kesukaan gue!"
"Carbonara?"
"Aahh akhirnya makan pastaaa"
"Omo omo"
Lagi-lagi reaksi mereka membuatku tersenyum. Ada kepuasan tersendiri melihat mereka sebahagia ini. Aku sampai di ruang tengah dan menaruh piring Woojin, Jihoon, Jinyoung, Ong dan Minhyun. Selesai menaruh piring, aku duduk di antara Minyhun dan Daniel. "Selamat makan semuaaa", ucapku riang. Mereka menyambutnya dengan ucapan yang sama.
"Eh gila lah, ini makanan enak banget"
"Bener! Berasa lagi di restoran ya"
"Mmmmm enak bangeettt"
"Masakan noona the best lah!"
Daniel menyenggolku dan memberi senyuman lebar yang memperlihatkan gigi kelincinya. Aku tertawa melihat wajahnya, lucu sekali. Tiba-tiba Daniel mengambil tissue dan mengarahkannya ke bibirku. "Lo makannya berantakan tuh. Sausnya nemplok disini", ucapnya sambil mengelap sudut bibirku. Eh, apa-apaan ini. Kenapa aku merasakan pipiku memanas?
"Udah tuh. Kalo makan hati-hati biar muka cantik lo ngga berantakan", ucap Daniel sambil tersenyum. Seketika jantungku berdegup kencang. Aku tersenyum simpul lalu melanjutkan makan. Aku melihat ke sekitar, untungnya tidak ada yang memerhatikan. Aku menghela nafas lega.
Selesai makan, Minhyun bersiap membantuku membawakan piring. Tiba-tiba Daniel muncul dan berkata pada Minhyun bahwa hari ini giliran dia yang membantuku. Minhyun mengangkat bahu dan pergi menuju kursi pijat. Hm, ada apa dengan Daniel hari ini ya?
"Neng", panggil Daniel sambil membasuh piring.
"Hm?", jawabku sekenanya.
"Suka kucing kan?", tanya Daniel lagi.
Aku menoleh padanya sambil tersenyum lebar. "Suka banget!", ucapku. Kemudian Daniel mengajakku memandikan kucingnya. Aku mengangguk penuh antusias.
Selesai mencuci piring, kami berdua bergegas ke kamar Daniel untuk mengambil kucing-kucingnya.
"Ini Rooney, ini Peter", katanya sambil menunjuk kucingnya.
"Lucu banget ini mah. Eh tapi kenapa namanya kayak gitu? Mereka betina kan?", ucapku sambil mengelus keduanya. Daniel terkekeh salah tingkah, "Iya. Gue paling ngga bisa bedain kucing jantan sama betina. Gue kira mereka jantan, yaudah deh gue kasih nama itu. Lah taunya betina semua", curhatnya. "Kocak lo", balasku.
Upacara memandikan Rooney dan Peter memakan waktu yang cukup lama. Itu karena aku dan Daniel lebih banyak bercerita serta bermain perang air di sela-sela memandikan Rooney dan Peter. Daniel itu walaupun seumuran denganku tapi tingkahnya lebih mirip anak SD. Pantes aja dipanggil Kang Choding. Dia suka sekali bermain dan menjahiliku. Aku sampai hampir badmood dibuatnya.
"Jangan bete dong, nanti cantiknya ilang lho", katanya sambil menyipratkan air di wajahku.
"Siapa suruh bikin orang bete. Dasar gombal", ucapku pura-pura marah.
"Iya iya, maaf yaaaa", katanya sambil memasang wajah imut. Astaga, cute banget sih dia. Aku sampai tak bisa berhenti tertawa karenanya.
"Udah ah, Niel. Baju kita jadi basah kan gara-gara perang air. Si Rooney sama Peter udah kedinginan tuh. Kita- hatchi!", ucapanku diakhiri dengan bersin-bersin. Daniel tampaknya cemas melihatku bersin-bersin sambil menggigil. Tiba-tiba dia menggenggam tanganku dan membawaku masuk ke kamarnya.
"Ini. Lo ganti baju pake ini", ucapnya sambil memberikan kaus yang diambil dari lemari. "Terus, lo tunggu gue di sini aja. Oiya, kamar mandinya di sebelah sana. Habis ganti baju, lo minum obat ini. Nurut sama gue, ga usah aneh-aneh", ucapnya lalu pergi mengeringkan bulu Rooney dan Peter.
Selepas Daniel pergi, aku mengikuti instruksi yang dia berikan lalu bergelung di kasurnya. Hangat, nyaman sekali. Aku mengambil boneka di pojokan kamar dan memeluknya. Lima belas menit kemudian Daniel datang dengan menggendong Rooney dan Peter.
"Cie yang baru aja dimandiin. Hmm harum banget sih kalian", ucapku sambil mengendus kedua kucing itu. Aku bisa merasakan Daniel tersenyum lebar sambil memerhatikanku.
Aku menghabiskan waktu di kamar Daniel dengan bertukar cerita dan bermain kucing. Di tengah-tengah tukar cerita, aku menguap lebar sekali."Niel, gue ngantuk banget", ucapku sambil menguap. Daniel berkata bahwa itu adalah efek obat yang ku minum. Kemudian Daniel menyuruhku istirahat dan aku menurutinya. Ia juga mengelus rambutku, hal ini membuat mataku terasa semakin berat.
"Niel, nanti bangunin gue kalo udah jam 5 sore. Gue udah harus pulang jam segitu. Kalo kemaleman serem tau", ucapku setengah sadar.
"Iye iye. Udah sekarang lo tidur dulu aja ya", bisiknya sambil tetap mengelus rambutku.
Saat aku hampir terlelap, aku merasa wajah Daniel mendekat ke arahku. Kemudian hal terakhir yang kurasakan adalah bibir Daniel mengecup keningku.
xoxoxox
gimana? udah bikin dugun-dugun belum? wkwkwk
kalo belum nanti author bikin yang lebih panas lagi yaa ;)
