[Maaf, Umi-chan! Aku hari ini enggak bisa balik bareng! Ada acara mendadak! Maaf bangettt (_)]

Sudah berapa kali Umi menemukan pesan seperti itu belakangan ini? Sang Sonoda menghela nafas halus menutup handphone miliknya sesudah membalas pesan Honoka. Sejujurnya, tidak mengejutkan bila keadaan SMA tidak dapat di replikasikan ulang di perkuliahan. Selanjutnya, Umi melangkahkan kakinya tanpa sosok yang sudah ditunggunya beberapa menit lalu.

Di sepanjang jalan, beberapa poster tertempel di kaca besar pertokoan yang ia lewati dengan wajah si brunette yang amat familiar—Kousaka Honoka.

Sang mantan leader grup idol mirip merek sabun memulai debut sebagai Idol, kali ini dia memulai karir solo. Umi hanya bisa menyunggingkan senyuman, memang teman masa kecilnya yang mempunyai obsesi terhadap roti itu paling cocok menjadi idol.

Umi tidak tahu darimana ia harus memulai sebuah cerita bagaimana mereka berpisah atau bagaimana kisah seorang Kousaka Honoka atau bahkan tentang dirinya sendiri terhadap Kousaka Honoka itu.

.

Daily Life
Saya tidak mempunyai Love Live
Friendship & Hurt/Comfort
HonoKotoUmi
HonoUmi-centric
Silahkan menikmati!

.

Ia masih ingat hari itu, hari dimana Honoka tersenyum gugup tetapi ia juga gusar. Umi masih ingat ketika beberapa waktu Honoka suka melamun bahkan bila ia bersama dengan Umi, bagaimana suasana tiba-tiba menjadi sepi karena tidak ada celotehan sana-sini dari Honoka. Sebuah hari penentu.

"Umi-chan bagaimana kalau aku menjadi seorang idol kembali?"—pertanyaan itu terngiang kembali di kepala Umi. Sebuah pertanyaan yang menjadi titik balik keseharian mereka di kampus.

"Apa maksudmu?"

Seharusnya, tanpa bertanya Umi sudah tahu—

"Aku ditawarkan oleh beberapa agensi untuk memulai debut sebagai solo idol"—Bahwa cahaya seorang Kousaka Honoka sangat berkilapan dan menarik banyak mata.

Dipikir secara realistik, Umi pun juga mendapat beberapa undangan untuk memulai karir sebagai idol profesional, apalagi si center, begitu kan? Tapi, berbeda dengan Honoka tanpa pikir panjang, ia menolak. Tentu dia pernah menjadi seorang Idol juga jangan sebut berapa banyak fans-nya dahulu. Tetapi, menurut Umi, itu karena Muse—karena Honoka. Umi tidak mempunyai sesuatu yang senatural Honoka untuk menjadi cahaya.

Umi menyadari secara keseluruhan, pertanyaaan ini merupakan titik dimana keadaan mereka berdua bisa berubah. Keadaan dimana mereka berdua di kampus—menghabiskan waktu bersama—bisa berubah dengan jawaban yang dapat keluar dari mulutnya sendiri.

Kousaka Honoka adalah orang yang natural menjadi seorang Idol, seperti bagaimana Honoka bisa mempunyai sesuatu yang bersinar.

"Kalau begitu mulailah"

"Jadilah seorang Idol"

"Sejujurnya aku tidak mengerti Idol sebanyak itu apalagi sebanyak Nico. Tapi, yang pasti aku mengerti bahwa orang seperti dirimu lebih dari cocok untuk menjadi seorang Idol", akhirnya. Dan kembali ia melihat sebuah lengkung bibir yang menjadi poros utama pesona sahabatnya.

Itulah pilihan yang diambil seorang Sonoda Umi—melepaskan tangan Kousaka Honoka untuk diri Honoka menunjukan kepada dunia, memamerkan pesona yang amat Umi banggakan dari dirinya.

.

Jika berbicara tentang Honoka, Umi akan berpendapat dan seluruh orang yang mengenal sosok gadis bermarga Kousaka bahwa mahluk satu itu karismatik. Tidak, Honoka tidak mempunyai karisma seperti Eli yang berwibawa yang bisa membuat banyak orang takut. Honoka mempunyai karisma untuk penyebaran penyakit senyuman.

Penyakit, benar. Dari banyaknya kisah bersama seorang putri dari Kousaka, sudah berapa banyak senyuman yang lahir karena di jejaki oleh langkah Honoka—entah. Umi tidak tahu, tapi yang pasti sangat banyak senyum lahir di setiap langkah hidup Honoka. Bagaimana sosok gadis berumur 18 tahun bisa menggerakan hati banyak orang—Umi bisa paham.

Ketika ia melihat banyak orang menyapa Honoka dan berakhir dengan senyuman—Umi bisa paham.

Ketika Honoka dikelilingi banyak orang—Umi bisa paham.

Ketika Honoka diserukan namanya oleh banyak orang—Umi bisa paham.

Yang pasti semenjak teman masa kecilnya memulai debut, waktu mereka berkurang. Belum lagi, sudah banyak yang Honoka kenal dan dijadikannya teman. Menjadi dekat dengan orang seperti bernafas untuk Honoka bagi Umi.

Umi mengerti karena dia sendiri mungkin menyukai Honoka berkat sisi itu.

Seorang Kousaka Honoka mempunyai pesona yang besar banyak orang jatuh kepadanya—dan Umi bukan merupakan sebuah pengecualian. Dan bahkan mungkin dia jatuh paling dalam kepadanya.

.

Tidak semua memori terdampar secara utuh di kepala si pemanah. Tapi, punggung Kousaka Honoka adalah hal salah satu hal yang membekas di brankas memorinya. Adalah punggung Kousaka Honoka yang berlari, ia yakin Kotori pun juga tidak akan lupa, dari mereka masih bocah ingusan hingga sekarang.

Punggung Honoka yang berlari tidak jelas. Tapi, entah bagaimana sebenarnya ia mengejar sesuatu yang absurd—sesuatu seperti berlian, berkilauan, dan menakjubkan.

Honoka selalu saja melihat adanya berlian dari ujung jalan. Bahkan meski itu adalah sebuah kerikil, entah mengapa Honoka akan memungutnya. Dan Honoka selalu bisa mendapati tangannya sebuah berlian. Dari sekeluarga kerikil yang disebut kegiatan normal. Honoka selalu menemukan sebuah keajaiban kecil.

Umi ingat hari itu, replika yang nyaris mirip seperti suasana sekarang. Sore dengan awan berdayung-dayung lembut membawa rasa kantuk bagi si mentari. Sebagai penutup permainan, Honoka mencetuskan sebuah ide gila; yaitu untuk tiga orang bocah ingusan cengeng memanjat pohon besar tanpa adanya bantuan ataupun pengaman sekalipun. Umi masih ingat bagi dirinya yang kecil, ia sudah memohon untuk berhenti, jangan lupakan Kotori yang sangat gugup, apalagi kegilaan Honoka untuk tetap lanjut.

Tetapi, meski begitu Kotori dan Umi masih lanjut—mengikuti langkah si pemilik manik safir itu. Dan yang ia dan Kotori dapatkan memang tidak lebih dari langit sore. Tapi, pemandangan hari itu adalah berlian, sangat indah. Dan Umi mengunci kepingan ingatan itu dalam-dalam di lemari ingatannya.

Kalau dipikir kembali, μ's terlahir karena salah satu kegilaan Kouska Honoka—hmph. Memang, mahluk itu merupakan misteri. Dan Umi tak pernah menyesal mengekori kakak dari Yukiha.

Honoka selalu pergi ke tempat yang tak bisa dia bayangkan dan selalu pada akhirnya Honoka akan menunjukan pemandangan luar biasa indah yang tak pernah bisa Umi bayangkan.

.

Terkadang, Umi berpikir bahwa dirinya egois. Selalu ada sisi darinya yang berbisik kejam, mengutarakan keinginan egoisnya—keinginan memonopoli seorang Kousaka Honoka. Sisi dirinya itu selalu berbisik demikian rupa, memiliki Honoka seorang diri sehingga tiada satupun yang dapat terpantul di mata biru jernih itu selain dirinya sendiri.

Ia ingin.

Dan kemudian, sisi satunya berkata kebalikannya. Mungkin ini adalah sisi yang terikat oleh kerasionalan dan akal sehat, Umi bersyukur memiliki sisi ini. Tidak mungkin untuknya memiliki Honoka seorang diri. Ditambah dia sendiripun tahu, bahwa senyum Honoka juga akibat dari sekelilingnya.

Ah. Dua sisi yang bertabrakan ini selalu membuat kepalanya berdenyut.

Bahkan detik ini. Detik ini dimana Honoka berada di kampus hanya beberapa meter sebelum bisa menutup jarak di antara mereka berdua. Detik dimana terlalu banyak orang yang berkumpul di sekitaran Honoka—membuatnya nyaris menguatkan rahang mulutnya.

"Kousaka-san!"

"Honoka-san!"

"Honoka-chan!"

Berhentilah seolah kau mengenalnya.

Tidak, tidak, tidak. Pikiran macam apa itu, Sonoda Umi? Kau sendiri menyadari hal itu terjadi berkat pesona Honoka sendiri, bukan? Bagaimana Honoka bisa ramah terhadap semua orang di sekitarnya, bukan?

.

Kotori mendengarkannya di tiap akhir minggu. Entah kenapa manusia itu selalu bisa meniupkan angin ketenangan ke hati kecil miliknya. Entah bagaimana caranya, bahkan semudah hal yaitu diam dan mendengarkan di sisinya juga cukup.

"Iya, aku tahu kok, Umi-chan"

—Bagaimana Umi bisa membuka hatinya terhadap Kotori.

"Aku juga sering merasakan hal itu, Umi-chan. Memang ya, Honoka-chan selalu seperti itu"

—Bagaimana Umi bisa mengeluarkan lautan emosinya.

"Rasanya sakit ya, Umi-chan. Tapi, itu bukan salah Honoka-chan atau salah orang-orang di sekitarnya apalagi salah kita. Karena memang seperti itu"

—Bagaimana Umi bisa menangis malam itu.

.

Honoka selalu pergi ke tempat antah berantah dan pada akhirnya dirinya menemukan berlian.

"Umi-chan!", panggil Honoka dengan senyuman selebar matahari. Sulit bagi Umi tidak tersenyum ketika garis yang tertarik ke atas itu hadir. Si brunette melambai ke arahnya dengan energik

"Maaf ya, semuanya!", dengan lambaian tipis terhadap teman-temannya yang lain, Honoka berlari menuju ke arah Umi. Dan detik selanjutnya, sang pemilik surai biru menemukan dirinya dalam dekapan si mantan center dari Muse itu. Kehangatan yang Umi anggap permanen saat dulu—akhirnya kembali ke dalam genggaman tangannya.

"Kamu tidak bersama mereka? Bukannya hari ini kamu ada urusan ya soal peridolanmu?", dia, Umi tidak bisa menolong dirinya untuk bertanya. Bersiap menerima jawaban bahwa Honoka akan kembali berlari meninggalkannya.

"Tidakk!"

"Eh?"

"Aku batalkan. Semuanya hari ini hehehehe!", jawab Honoka singkat sembari tersenyum iseng. Senyuman yang familiar, ah melihat ini selalu membuat batin Umi berperang. Berperang antara rasa cemas dan syukur.

"Kenapa?", tangan kananya ditarik bersama itu dia tidak diberikan apapun selain gumaman lagu oleh lawan bicara. Honoka juga tidak menoleh. Dengan begini, apa yang ia lihat adalah sesuatu yang familiar kembali. Punggung seorang Kousaka Honoka.

"Aku sudah lama tidak bareng, Umi-chan! Jadi, aku ingin bersama Umi-chan saja! Aku batalkan semuanya, deh ehehee!"—senyuman gugup, iseng, dan gembira bercampur disana.

"Akan lebih bagus kalau ada Kotori-chan sih. Tapi, enggak bisa, kan? Yaudah, Umi-chan aja?"

Umi masih ingat di masa SMA bersama μ's, akan ada waktu dimana yang muncul hanya mereka bertiga saja. Mereka bertiga menghabiskan waktu bersenang-senang, seolah melupakan dunia.

Umi tersenyum dan membalas kaitan tangan mereka dengan lebih erat, "Bagaimana kalau aku justru ada urusan hari ini?"

"Ehhhhhh?"—kalaupun ada urusan, Umi pun akan membatalkannya hari ini, mengosongkan jadwalnya untuk bersama pemilik senyuman indah itu.

Honoka akan berlari ke tempat yang baru, tapi Honoka akan selalu menunggu mereka di suatu titik.

Honoka akan berlari ke tempat yang baru, tapi tidak ada sedetik pun Honoka akan meninggalkan mereka.

Honoka akan berlari ke tempat yang baru, tapi jika mereka berkata tidak, Umi yakin Honoka akan berhenti.

Karena bagi Honoka, teman masa kecilnya adalah kediaman utamanya.

.

.

.

END

Author's Note:

Yap, selesaiiii! Btw, sebenarnya ini terinspirasi dari Love Live Sunshine third year KananMariDia. Hamba sedih yap, mereka bertiga pergi ke jalan masing-masing. Terus keinget masa SMA di dunia nyata juga ada temen terus pada misah kan ya rada sedih juga. Terus, kepikiran karena Honoka itu tipe yang gampang bikin temen, Kotori dan Umi suka kesepian gak ya?

Maka, jadilah fic ini pang-paka pang!

Terimakasih banyak yang sudah membaca fic ku ini. Maaf banyak kesalahan. Jika berkenan silahkan me-review!