Epilog

.

.

"To heal a wound

you need to stop touching it"

.

~ HunHan ~

"Semuanya sudah beres, mungkin lusa sudah akan ditempati oleh pemilik yang baru."

Suara Kai mengagetkan Sehun yang sedang serius memotong sayuran, yang akan jadi santapannya malam ini. Ia menoleh sebentar ke arah sahabatnya itu dan kembali melanjutkan aktifitas memasaknya.

"Sisa uangnya baru bisa di transfer akhir minggu ini." lanjut Kai.

"Tak masalah, aku sedang tidak butuh uang sekarang." Jawab Sehun sambil tetap fokus pada panci didepannya.

"Lalu kenapa kau jual tempat itu? Kau bekerja lembur siang-malam demi membayar lunas cicilannya, tapi sekarang malah kau jual dengan harga semurah itu?" tanya Kai, tak mengerti keputusan Sehun untuk menjual flat-nya yang sudah ia tempati hampir setahun ini. Satu-satunya tempat yang mampu disewanya, kala diusir dari rumah dulu.

Tempat itu memang jauh berbeda dari lingkungan tempat tinggal Sehun yang dulu. Tapi Sehun begitu bangga ketika akhirnya bisa membelinya. Sedikit demi sedikit, ia 'menyulap' rumah kecil itu menjadi lebih nyaman untuk ditinggali.

Kai menduga alasan Sehun menjual tempat itu, tidak lain adalah karena kenangan dengan kekasih dan calon anaknya yang terus hidup dikepalanya. Awalnya Sehun berdamai dengan keadaan itu, tapi lama-kelamaan ia mulai bertingkah seperti orang gila. Hampir setiap saat ia bisa melihat sosok kekasihnya dengan perut besarnya di setiap sudut rumah, dan ia tidak bisa menghindar dari rasa bersalah yang selalu menghantuinya.

Kai yang tidak ingin sahabatnya itu hidup berlarut-larut dalam kesedihan dan penyesalan, mencoba menghiburnya dengan segala cara. Mulai dari mencarikannya pekerjaan yang lebih layak, sampai menyarankan untuk menjual flatnya. Saran itu tentunya hanya candaan untuk memancing Sehun lebih terbuka tentang beban yang selama ini selalu pria itu simpan sendiri. Ia yakin Sehun tak akan sanggup menjualnya.

Tak disangka, sebulan setelahnya Sehun benar-benar memintanya menjual tempat itu, ia bahkan menerima tawaran pekerjaan yang sempat ditolaknya dulu.

.

"Akan lebih baik jika ada orang lain yang bisa mengurusnya." Jelas Sehun.

Bagaimanapun rumah kecil itu adalah saksi perjuangannya selama ini. Meskipun sederhana, ia selalu mendapatkan ketenangannya disana. Tapi semua seolah direnggut darinya secara tiba-tiba, tempat itu bahkan sudah tak mampu ia rawat lagi. Jadi ada baiknya diserahkan pada siapapun yang mau merawat tempat itu menggantikannya.

Alasan lain yang membuat Sehun akhirnya memilih keluar dari sana adalah keluarganya yang tiba-tiba saja datang padanya dengan belas kasihan yang berlebihan. Sehun terkejut ketika menemukan ayah dan ibunya pagi itu didepan pintu rumahnya. Mereka yang jelas-jelas mengusirnya dulu, mengaku terkejut dan menyayangkan kemalangan yang menimpa Sehun. Mereka juga menyesal telah mengusir putra bungsu keluarga Oh itu. Lalu tanpa memberikan kesempatan untuk Sehun menilai kesungguhan mereka, Sehun langsung diminta kembali kerumah dengan iming-iming posisi tertinggi di perusahaan sang ayah.

Tentu saja Sehun menolak, ia tidak akan menukar pengorbanannya selama ini dengaan harta berharga manapun. Ia memutuskan untuk tidak lagi kembali pada orang tuanya karena sepertinya yang mereka butuhkan adalah seorang penerus perusahaan, bukan seorang anak.

Namun ayahnya punya banyak cara untuk memaksanya kembali. Salah satunya dengan mengizinkan Sehun untuk tetap tinggal disini, dengan syarat seluruh gedung ini akan dibeli oleh ayahnya dan Sehun bebas menjadikannya sebagai apapun yang ia mau. Sehun tertawa mendengar ide itu, ia bahkan harus berhenti kuliah dan mulai bekerja apa saja untuk melunasi salah satu ruang kecil disini, tapi ayahnya tiba-tiba menawarkan untuk membeli seluruh gedung ini seperti membeli selembar baju di pasar. Sungguh tidak adil.

Desakan dari orangtuanya itulah yang akhirnya membuat Sehun menyerah. Dengan berat hati, ia melepas tempat itu. Ia berpikir untuk pergi dan memulai kembali hidupnya tanpa campur tangan siapapun. Hal itu juga yang mendasarinya menerima pekerjaan yang ditawarkan Kai. Kebetulan pekerjaan itu mengharuskannya untuk pergi jauh dari tempat ini, dan Sehun berpikir itu adalah kesempatannya untuk 'lari'.

.

"Selesai. Aku tidak yakin kau akan suka rasanya, tapi layak dicoba" ucap Sehun setelah selesai menyiapkan makan malamnya.

Kai yang sedari tadi memperhatikan Sehun yang sudah mirip para istri diawal-awal pernikahan, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sejak Sehun memutuskan menjual flat-nya, pria itu memang menumpang diapartemen Kai sambil menunggu jadwal keberangkatannya ke tempat kerja yang baru. Kai sudah memintanya untuk tidak perlu repot-repot mengerjakan pekerjaan rumah seperti ini, karena ia punya asisten rumah tangga yang bisa dihubungi kapan saja. Tapi sepertinya sulit bagi Sehun untuk menghilangkan kebiasaan yang sudah dijalaninya setahun belakangan. Lagipula ia tidak ingin tinggal 'gratis' disini, jadi semua itu ia lakukan sebagai bentuk terimakasih untuk Kai.

"Terimakasih, tapi aku tidak ingin sakit perut. Lagipula aku punya janji makan malam" tolak Kai sambil beranjak dari tempat duduknya. Ia meraih kunci mobilnya dan hendak melangkah ke pintu utama sebelum teringat sesuatu,

"Oh ya, aku lupa… Luhan, tadi datang lagi…" ucapnya.

Sehun yang sedang membuka salah satu kitchen counter untuk mengambil gelas, seketika terdiam ditempatnya. Butuh beberapa detik untuknya kembali pada kesadarannya. Ia segera meraih satu gelas dan menuangkan air disana, tidak menghiraukan Kai yang masih menatapnya dari depan pintu.

"Sampai kapan kau akan mengabaikannya? Apa salahnya—"

"Bukannya kau punya janji makan malam?" Potong Sehun.

Kai hanya bisa menatap Sehun dalam diam. Sampai saat ini ia tidak mengerti sikap Sehun yang tiba-tiba saja menggangap Luhan seolah tidak pernah hadir dalam hidupnya. Sehun masih mau berbagi tentang kesedihan yang dirasakannya, tapi belum pernah sekalipun Sehun bicara tentang Luhan lagi, sejak hari dimana ia meminta Kai untuk mengembalikan semua barang-barangnya. Awalnya Kai pikir itu wajar saja, karena Luhan hanya orang asing yang kebetulan pernah membantunya. Tapi setelah tahu bahwa Sehun bahkan tidak ingin bertemu lagi dengan Luhan, Kai yakin bahwa pasti ada sesuatu yang terjadi di antara mereka. Meskipun ia enggan untuk bertanya.

Karena tak mendapatkan respon berarti dari Sehun, Kai akhirnya menyerah dan memilih keluar. Meninggalkan Sehun yang sudah kehilangan selera makannya. Kini ia harus kembali pada luka yang belum sepenuhnya sembuh dan berperang dengan perasaannya sendiri, lagi.

.

.

Dua bulan sebelumnya

Tepat pukul tiga sore ketika semua pekerja diminta menghentikan segala aktifitas mereka dan diperbolehkan pulang lebih awal. Sehun yang belum sempat mengambil istirahat sejak pagi tadi, bernafas lega dan terduduk di salah satu tumpukan pipa besi yang tersusun rapih. Diraihnya botol air minum yang disediakan untuk para pekerja, dan ditandaskannya hanya dalam tiga teguk.

Akhir-akhir ini ia memang bekerja lebih ekstra, demi uang lembur yang akan sangat membantu memenuhi kebutuhannya. Semua dijalani dengan sabar. Kelahiran sang anak yang tinggal menghitung hari, menjadi motivasi terbesarnya.

Satu-persatu pundi-pundi uang sudah ia kumpulkan untuk kebutuhan persalinan dan kedepannya nanti. Sehun tak dapat mencegah senyumnya, ketika teringat semua usaha dan kerja kerasnya selama ini akan berbuah hasil yang baik. Dulu, tak pernah terpikirkan olehnya untuk hidup seperti ini. Ketika untuk pertama-kalinya terlepas dari dukungan keluarga, ia begitu frustasi dan merasa tidak akan mampu bertahan, apalagi dengan tanggung jawab besar yang dipikulnya. Tapi kini, ia bangga pada dirinya sendiri yang mampu bertahan sejauh ini.

Meskipun berat, Sehun merasa semua akan baik-baik saja. Dewi keberuntungan seolah sering mengunjunginya setahun belakangan ini. Dulu, ketika keluar dari rumahnya ia bahkan tidak tahu harus kemana. Lalu tiba-tiba ada temannya yang menawarkan sebuah tempat tinggal di pingggir kota, meski sederhana tapi cukup untuk menampung dirinya dan sang kekasih yang sedang mengandung. Hidupnya dimulai disitu, satu-persatu jalan seolah terbuka untuknya. Meskipun pekerjaan yang ditawarkan padanya sama sekali tidak bersinggungan dengan ilmu yang selama ini dipelajarinya, Sehun tetap bersyukur dan berterimakasih untuk setiap kesempatan yang dapat memberinya upah untuk melanjutkan hidup.

Awalnya ia juga gelisah dengan kehadiran calon anaknya. Baik ia maupun sang-kekasih sama sekali tidak berpengalaman dalam hal parenting, tapi perlahan mereka belajar untuk mengatasinya. Sehun mencoba memberikan yang terbaik untuk mereka, mulai dari makanan hingga pakaian yang mereka gunakan. Meskipun hidup sederhana, ia tetap ingin anaknya kelak mendapatkan yang terbaik.

Satu keberuntungan lagi, ketika akhirnya ia bertemu Luhan. Orang asing yang bersedia 'mewujudkan' keinginannya untuk memberikan yang terbaik pada jagoan kecilnya.

.

Teringat pertama kali ketika ia menemui Luhan yang—meskipun dengan wajah kebingungan—bersedia mendengarkannya, membuat Sehun tak kuasa menahan senyum. Ternyata di dunia ini masih ada orang sebaik itu, Sehun pikir mereka hanya bagian dari tokoh fiksi.

Luhan bukan hanya bersedia membantunya, tapi juga mau mendengarkan keluh-kesahnya. Meskipun terkadang ia datang pada jam-jam dimana Luhan sedang sibuk melayani pelanggan ditokonya, ia tak pernah ditolak sekalipun. Luhan juga tak sungkan mencicipi bekal yang dibuatkan kekasih Sehun, meskipun kadang rasanya tidak senikmat buatan restoran. Meski begitu Luhan selalu terlihat menikmati sambil mendengarkan cerita-cerita Sehun tentang calon bayinya. Rasanya mereka sudah seperti teman akrab yang selalu berbagi cerita.

Sehun sebenarnya punya banyak teman yang selalu ingin berada disekitarnya, tapi mereka seolah kehilangan ketertarikan padanya sejak ia diusir dari rumah. Tinggal beberapa saja yang memang punya niat tulus berteman dengannya, salah satunya Kai. Karena itu, Sehun sangat bersyukur ketika ada satu lagi orang yang ia yakin bisa dipercaya, dan Luhan seolah datang bersama rentetan keberuntungan yang terus menghampirinya.

.

Memikirkan tentang Luhan membuat Sehun tak sadar sudah turun satu halte sebelum halte bus tujuannya. Ia melangkah pelan ditemani gugurnya daun-daun kecokelatan yang menandakan musim gugur sudah didepan mata.

Sebenarnya ia sudah kehabisan alasan untuk menemui penjaga kasir toko perlengkapan bayi yang terlihat di ujung jalan. Selama ini ia selalu kesana dengan tujuan untuk memastikan perlengkapan bayi 'miliknya' belum dijual kepada pelanggan lain. Tapi karena kemarin ia akhirnya mampu membayar lunas dan membawa pulang perlengkapan terakhir, ia jadi bingung sendiri tentang tujuannya datang lagi hari ini, jika nanti ditanya si-penjaga kasir.

Karena tidak juga menemukan alasan yang berarti, Sehun akhirnya memilih duduk di salah satu bangku yang disediakan bagi pengguna jalan yang ingin beristirahat. Ia sengaja memilih tempat yang tidak akan tertangkap oleh mata siapapun dari toko diseberang jalan. Tapi dari tempat ini ia mampu melihat sebagian isi toko—terutama daerah kasir—meski dibatasi kaca jendela.

Disana ada seorang pria yang sedang sibuk melayani pembeli di meja kasir. Pria itu tak berhenti tersenyum, dan entah mengapa rasanya begitu lega melihat senyum itu. Sehun menurukan topi untuk menyembunyikan wajahnya, ketika pria itu mengantar pelanggannya keluar.

Kaos bertuliskan 'bambi' yang dipakai pria itu menarik perhatiannya. Sehun teringat ketika pertama kali diminta memilih model seperti apa yang diinginkan untuk peralatan bayinya. Ia yang kebingungan hanya meminta yang terbaik dan Luhan justru membuatnya semakin bingung dengan menunjukan semua model terbaik yang dimilikinya.

"Kami hanya menjual yang berkualitas, kau hanya perlu memilih yang sesuai selera" katanya waktu itu, dan Sehun hanya bisa menerawang satu-persatu barang ditoko ini yang kira-kira masuk kategori 'selera'-nya.

Setelah kebingungan cukup lama, Luhan akhirnya bersedia membantu dengan menawarkan satu ide,

"Jika kau serius meminta pendapatku… aku akan merekomendasikan ini" katanya sambil mengangkat sepasang bantal bayi bermotif bambi.

"Aku paling suka motif ini, lagipula toko kami punya berbagai macam warna untuk motif bambi" tambahnya lagi.

Tanpa pikir panjang, Sehun langsung setuju dengan ide itu. Menurutnya tidak ada yang lebih baik dari pilihan si-penjaga toko sendiri, dan ternyata kekasihnya juga suka motif itu.

.

Bunyi lonceng dari pintu toko yang tertutup kembali menarik atensi Sehun. Dilihatnya Luhan sudah kembali ke meja kasir. Pria itu duduk sambil menopang dagu dengan sebelah tangannya, seperti sedang serius memikirkan sesuatu. Sesekali ia akan melihat keluar jendela, seperti sedang menunggu seseorang. Tak lama, pria itu merebahkan kepalanya ke meja dengan beralaskan kedua tangannya, lalu menatap kearah jalan. Sehun kembali memastikan agar dirinya tidak sampai terlihat oleh Luhan. Setelah itu ia hanya diam memperhatikan Luhan, sambil menebak berapa lama pria itu akan bertahan pada posisinya.

Seumur hidupnya Sehun yakin belum pernah melakukan hal sekonyol ini, duduk dipinggir jalan sambil memperhatikan seseorang. Padahal tubuhnya sedang butuh istirahat, tapi entah mengapa otaknya memerintah untuk datang ketempat ini. Bahkan setelah lama duduk seperti ini-pun, ia masih belum tahu alasannya melakukan ini.

Anehnya, memandangi Luhan terasa seperti melihat pelangi setelah badai. Ada kelegaan yang sulit diartikan. Sehun belum pernah merasakan sesuatu seperti ini kepada teman-temannya sebelumnya. Ia mulai memikirkan setiap kemungkinan yang membuatnya seperti ini, lalu ketika mengaitkan pikiran dengan perasannya, Sehun segera menggelengkan kepalanya keras-keras. Mecoba membuyarkan satu kesimpulan instan yang sama sekali tidak pantas, menurutnya.

Akal sehatnya seolah kembali. Ia hampir saja jatuh pada jebakan yang diciptakannya sendiri.

'Ini tidak benar' batinnya.

Lalu setelah menenangkan diri dengan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, Sehun memutuskan untuk mengakhiri aksi konyolnya. Ia sadar bahwa 'mengintai' seseorang tanpa tujuan yang tertentu adalah tindakan yang sangat salah. Jadi, dengan sedikit canggung ia keluar dari 'persembunyian'-nya dan berjalan kedepan jendela tempat Luhan masih menatap.

Diketuknya kaca itu pelan, berniat menyadarkan pria itu dari lamunannya. Ketukan pelan itu justru mengejutkan Luhan, ia seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

'Sehun?'

Meskipun tak bisa mendengar suaranya, Sehun dapat mengerti satu kata yang diucapkan Luhan. Seolah ingin meyakinkan pria itu, Sehun mengangguk sambil tersenyum.

"Bye!" katanya, lalu berjalan meninggalkan tempat itu.

Luhan dengan segera membuka jendela disampingnya. Seolah ingin benar-benar memastikan, dipanggilnya nama itu sekali lagi,

"Sehun!"

Yang dipanggil, berbalik kearahnya. Sambil berjalan mundur Sehun terus melambaikan tanggannya pada Luhan dengan senyum hangat diwajahnya, yang membuat Luhan ikut tersenyum dan membalas lambaian tangan itu.

.

.

Dalam perjalanannya kembali ke rumah, Sehun tidak berhenti tersenyum. Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa bahagia ternyata bisa se-sederhana itu.

Sayangnya ia tak pernah tahu bahwa, itu mungkin saja kebahagiaan terakhirnya. Dewi keberuntungan sepertinya sudah pamit meninggalkannya.

Kini, sisa hidupnya ia jalani dalam 'pelarian', mencoba bersembunyi dari kenyataan yang akan ia sesali seumur hidup.

.

'Seandainya aku tidak terlambat pulang'

'Seandainya aku tidak nememui… Luhan...'

'Seandainya…'

.

.

.

the real END

.

.

Note:

Akhirnya, setelah setahun lebih lunas sudah hutang saya ㅠ_ㅠ

Meskipun akhirnya tidak sesuai janji, tapi rasanya lega sekali.

Kalau ada yang masih ingat cerita ini, semoga terjawab sudah penasarannya. Thankyou.