Forbiden Love

.

.

.

Chapter 2

.

.

.

Shingeki no Kyojin : Hajime Isayama

.

.

.

Erwin Smith

Armin Arlert

.

.

.

Warning : typo, ooc, Au, BL, cerita mainstream, author amatir, DLDR

.

.

.

happy reading

o0o

Erwin bukannya tidak tau jika remaja yang duduk dimeja no 9 sejak tadi terus memperhatikannya, sudah seminggu remaja berambut pirang sebahu itu mendatangi kafe yang ia miliki dan duduk di meja yang sama. Dia akan datang pukul empat tepat lalu pergi pukul lima tepat. Sepertinya ia menikmati permainan idola dan pemuja rahasia yang dimainkan oleh bocah SMA dalam masa puber. Pria dua puluh lima tahun itu juga diam diam memperhatikan remaja pemilik manik biru sewarna miliknya dari cermin bulat yang di pasang didekat mini bar, Erwin terpesona melihat eksperisi si remaja, terkadang ia tersenyum kecil dengan mata berbinar lalu merengut dan mempoutkan bibirnya lucu dan menggelengkan kepalanya dengan wajah memerah serta kedua tangan di pipi gembilnya. Ia terlihat begitu menggemaskan membuat Erwin merasakan jantungnya berdebar menyenangkan.

"Erwin"

"Hoi Erwin!" Seseorang berteriak di telinga pria berambut pirang hingga telinga si pria berdenging.

"Apa yang kau lakukan Levi?" Erwin bertanya jengkel.

"Hn, kau terus terusan memandang meja kosong" jawab Levi acuh "aku yakin kau tidak mendengar apa yang aku katakan tadi"

"Bisa kau ulangi apa yang kau katakan?" pinta Erwin dan di jawab dengusan oleh Levi.

"Apa yang sebenarnya sedang kau fikirkan?" tanya Levi. " Kau tidak fokus dan melamun"

Erwin menghela nafas, sudah tiga hari sejak hanji membuat remaja bernama Armin ketakutan dan dia tidak pernah lagi datang ke kafenya. Pria itu merasa ada yang kurang saat melihat meja no 9 kosong.

"Kling"

Bel di atas pintu berdenting nyaring, seorang wanita berambut merah dikuncir kuda memasuki kafd dengan cengiran bodohnya.

"Yo Erwin Levi" sapanya riang "buatkan aku segelas espresso" Hanji duduk di sebelah Levi yang sedang menikmati teh hitam miliknya.

"Dia tidak datang lagi?" Hanji melihat meja no 9 kosong padahal jam sudah menunjukan pukul lima lewat lima belas.

Erwin meletakan segelas espresso di hadapan Hanji, wanita berkaca mata itu masih saja memasang cengiran bodohnya sembari menatap Erwin.

"Apa? kenapa kau terus menerus menatapku" si pria pirang merasa risih di tatap seperti itu oleh sahabatnya.

"Aku akan segera membawa Armin chan kemari" ucap Hanji penuh semangat.

"Bahkan bocah itu ketakutan melihat wajah menyeramkan mu, mana mungkin kau bisa membawa bocah itu kemari" Levi berkata acuh tak acuh sembari menyeruput teh hitamnya yang mulai mendingin.

"Sialan kau cebol!" Hanji berteriak dan berusaha memiting leher Levi tapi pria itu memiliki gerak reflek dan pertahanan diri yang sangat baik sehingga membuat Hanji terjungkal dari kursinya dan berakhir dengan tawa pengunjun kafe yang ramai.

o0o

Armin duduk di mini bar pria berambut pirang tersisir rapi tampak sibuk dengan coffee maker sesekali ia tersenyum pada remaja cantik yang terus menerus memperhatikannya dengan tatapan memuja. Secangkir latte tersaji dengan gambar hati dan tulisan boku no tenshi, si remaja merona membaca tulisan di cangkir kopinya. Belum sempat Armin meminum lattenya seorang wanita berdiri di sampingnya dan menyeringai.

"Armin perkenalkan Hanji kekasihku." Si pria tersenyum lalu mencium wanita bernama Hanji.

Jantung Armin berhenti berdetak menyaksikan pujaan hatinya berciuman. Ia ingin menghentikan mereka tapi ia tidak bisa bergerak si wanita terus menerus menyeringai ke arahnya.

"Tidak hentikan!" teriak Armin tapi keduanya seolah tuli.

"Tidak! kumohon hentikan!." Ia kembali meraung namun tetap di abaikan

"Tidak! hentikan! menjauh darinya!!" Armin mencoba menarik si wanita tapi yang terjadi justru ia terjungkal dari kursi.

"Brukk!!! ouch!!" pemuda berambut pirang itu mengelus kepalanya yang baru saja mencium lantai.

"Kenapa aku memimpikan mereka? menyebalkan!" Armin berteriak seraya mengacak rambutnya.

o0o

Eren menatap heran sahabat pirangnya aura suram tampak menguar dari tubuh Armin, sudah tiga hari sang sahabat tampak murung dan Eren tidak tau apa yang membuat si pirang menjadi begitu suram.

"Ne Armin apa kau baik baik saja?" pemuda bermata emerald bertanya hawatir.

"Aku mimpi buruk, sangat menyeramkan" Armin menjawab lesu.

"Huh? mimpi buruk? kau mimpi apa?" Eren penasaran.

Belum sempat Armin menjawab seorang gadis berwajah malaikat menghampiri mereka.

"Armin kau belum menyerahkan kartu pelajarmu untuk data klub" ucap si gadis.

"Krista, dompetku hilang dan kartu pelajarku ada di dalamnya"

"Kalau begitu kau harus melapor pada miss Mina dia akan membuatkan yang baru untukmu"

"Baikkah aku akan menemuinya saat istirahat nanti"

"Baiklah"

Bel masuk berbunyi semua siswa duduk di bangku masing masing, jam pertama adalah pelajaran Miss Nanaba dan dia adalah orang yang sangat disiplin, ia tidak mentolerir keterlambatan tapi ini sudah lima belas menit sejak bel dan guru itu belum masuk juga. Membuat semua orang bertanya tanya kenapa guru mereka belum juga masuk, inga pintu kelas terbuka memunculkan Sir Shadis kepala sekolah Maria high school.

"Selamat pagi Sir" semua murid serentak berdiri dan memberi salam.

"Miss Nanaba mengalami kecelakaan beberapa hari yang lalu, karena itu mulai hari ini Miss Hange Zoe akan menggantikanya mengajar. Silakan masuk Miss" kepala sekolah mempersilahkan seseorang yang berada di luar untuk masuk.

Armin menegang di kursinya saat melihat guru penhanti yang akan mengajar di kelasnya. Guru itu berambut merah dikuncir kuda dan sebuah kaca mata menghiasi wajah cantiknya.

"Silakan anda bisa memulai pelajaranan anda" Sir Shadis keluar dari kelas.

"Ohayou mina san! kalian bisa memangilku Hanji" sapa si guru penuh semangat "ayo kita mulai pelajaranya"

Armin berharap waktu bergerak cepat agar pelajaran segera berganti dia sudah tidak sanggup berada di ruangan yang sama dengan wanita itu.

Mikasa tau ada yang aneh dengan guru baru itu. Sejak tadi dia terus memperhatikan Armin dan beberapa kali ia melihat Hanji menyeringai pada sahabat pirangnya.

Armin menghela nafas lega saat bel pergantian pelalajaran berdering dan Mr Oluo menggantikan wanita berkaca mata mengajar.

o0o

Kantin adalah tujuan semua siswa Maria high school saat istirahat. Begitu juga dengan tiga orang berbeda warna rambut dan gender tampak sedang menikmati makan siang mereka, Eren sibuk mengunyah chesse burgernya sementara Mikasa mangkuk kedua yakisobanya sedangkan Armin hanya mengaduk ngaduk ramennya yang mulai dingin.

"Jadi Miss Hanji adalah wanita yang kau lihhat di kafe?" Armin mengangguk menjawab pertanyaan Mikasa.

"Jadi dia kekasih pria itu?" Armin menganguk kemudian menggeleng saat menyadari pertanyaan Mikasa dia tidak tau apakah Hanji benar benar kekasih pria itu.

Mikasa mengangkat satu alisnya bingung. "Jadi mereka bukan sepasang kekasih?"

"Aku tidak tau Mikasa." Armin menelungkupkan kepalanya di atas meja.

"Mikasa bagaimana kau bisa tau padahal Armin tidak mengatakan apapun, apa kau ini cenayang?" Eren bertanya penasaran.

"Armin bilang wanita itu memakai kaca mata dan berambut merah." Eren mengangguk angukan kepalanya, "lagi pula aku beberapa kali melihat guru baru itu melirik Armin."

"Oi Armin! Cepat makan ramenmu!" ujar Eren, Armin mengangakat wajahnya dan mulai makan.

"Aku tidak heran jika mereka berpacaran karena miss Hanji itu cantik." Wajah Eren memerah mengingat wajah cantik gurunya.

"Armin juga cantik." kata Mikasa dengan datar.

"Mikasa aku ini laki laki!" Armin berteriak tanpa sadar menarik perhatian seisi kantin, wajahnya memerah hingga ketelinga karena malu.

"Aku tau dan kau cantik itu fakta." Eren tertawa mendengar ucapan Mikasa, Armin menggembungkan pipinya kesal ia terlihat sangat menggemaskan. Mikasa terus menggoda sahabat pirangnya dengan kata kata candaan bernada datar membuat remaja bermata emerald semakin tergelak.

Tanpa mereka sadari sepasang mata mengawasi mereka, Hanji menyeringai dan mengetik sesuatu di ponsel pintarnya. Dia meninggalkan kantin, kalau saja bukan karena Armin tidak sekolah di sini ia tidak akan mau menggantikan Nanaba.

o0o

Ting!

Erwin meraih ponselnya yang berada di nakas, sebuah pesan dari Hanji. Teman kacamatanya mengirimkan foto dengan caption magire tenshi dan emot hati dua buah foto dengang objek yang sama seorang remaja berambut pirang sedang menggembungkan pipinya wajahnya tampak kesal terlihat sangat menggemaskan, sedangkan foto yang lainya menampikan ekspresi malu dengan semburat merah menghiasi wajah Armin sangat manis. Erwin tersenyum lembut mematap foto Armin,ia merindukan remaja pirang yang selalu duduk di meja no 9.

o0o

Armin berjalan sendirian di koridor sekolah ia baru saja selesai berlatih dengan klub paduan suara biasanya ia selesai latihan pukul setengah empat tapi karena klub paduan suara mereka akan tampil untuk perayaan ulang tahun sekolah bulan depan Isabel melatih mereka hingga petang. Armin merasakan bulu kuduknya meremang ia merasa seperti ada seseorang yang mengikutinya. Ia kesal pada teman temannya yang meninggalkannya dan harus merapihkan ruang klub sendirian kadang ia selalu berharap ia bisa sekuat Mikasa yang bisa menghajar seorang preman dan seberani Eren agar bisa melawan teman teman yang menindasnya.

Armin mendengar suara langkah kaki di belakangnya ia teringat cerita Conie teman sekelasnya jika saat malam hari ada hantu di sekolahnya. Menurut Conie dulu sekolah mereka adalah sebuah SD tapi karena terjadi pembantaian oleh seorang guru sekolah itu di tutup dan sepuluh tahun kemudian direnovasi menjadi SMA Maria. Armin adalah seorang penakut ia sangat takut hantu bahkan ia tidak berani berjalan sendirian di tempat gelap. Dia mempercepat langkahnya saat mendengar langkah kaki itu semakin dekat.

"Armin chan." Seseorang memanggilnya ia tidak mengenal suara ini hanya beberapa orang saja yang memanggil nama kecilnya selebihnya memanggil nama keluargannya.

"Armin chan." Suara yang sama memanggilnya lirih.

"Huwaa!! Tolong aku!!!" Armin berlari menuruni tangga ia melangkahi dua anak tangga sekaligus hampir saja ia terjungkal karena terpeleset di dua anak tangga terakhir beruntung ada Mikasa yang menangkapnya.

Mikasa melihat Armin sangat ketakutan wajahnnya pucat dengan keringat dingin mengalir di pelipisnya dan tubuhnya gemetaran. Dia membantu sahabatnya berdiri. beruntung ia mengajak Eren menyusul Armin di ruang klub musik karena ia tau pemuda pirang itu sangat penakut. Kalau saja mereka terlambat mungkin sahabatnya sudah terluka.

"Armin apa kau baik baik saja?" Tanya Mikasa penuh kekhawatiran.

"Hantu wanita Conie benar namaku tau dia memanggil di belakangku ikut berjalan" Armin meracau tidak jelas Eren sama sekali tidak mengerti apa yang sahabatnya katakan tapi Mikasa mengerti satu hal dia sedang ketakutan karena melihat hantu dan tadi dia bilang ikut di belakang apa itu artinya dia di ikuti hantu.

Mikasa mendengar suara langkah mendekat ia langsung membawa kedua sahabatnya bersembunyi dibalik tembok menunggu pemilik langkah kaki datang. Mikasa memasang kuda kuda bersiap menendang, Armin menahan nafas takut sementara Eren bersiaga memberikan bantu jika Mikasa membutuhkannya. Siapapun pemilik langkah itu pasti bukanlah hantu karena hantu tidak memakai sepatu jadi kemungkinan itu adalah seseorang yang mengganggu Armin. Saat orang itu berada di ujung anak tangga Mikasa melompat dan menendang tepat mengenai wajah orang itu si korban jatuh membentur tangga.

"Argghh sakit!!" Wanita itu meraung kesakitan Mikasa membulatkan matanya melihat orang yang baru saja menerima tendangan cinta darinya.

"MissHanji." Mikasa berkata datar.

Mendengar sahabatnya menyebut nama gurunya Eren dan Armin keluar dari tempat persembunyiannya. Dia langsung bergegas menolong Hanji, Armin berdiri di belakang Mikasa.

"Kenapa kau menendangku?" Hanji mengelus pipinya yang memar.

"Karena kau mengganggu Armin." Mikasa menatag datar gurunya.

"Apa mengganggu? Hahaha..." wanita itu tertawa seperti orang sinting membuat ketiga remaja itu menatapnya heran.

"Miss Hanji kau baik baik saja?" Armin bertanya dengan gugup ia takut Hanji mengalami gegar otak karena kepalanya membentur tangga dan menjadi gila.

"Aku baik baik saja Armin " Hanji tersenyum lebar.

"Kalau begitu ayo kita pulang!" Mikasa mengandeng tangan Armin.

"Kenapa kau tidak pernah lagi datang ke kafe?" Hanji menghadang Armin.

"Itu aku aku sibuk, iya aku sedang sibuk." Armin menjawab terbata karena gugup.

"Begitu ya," Hanji menyeringai dia tau remaja itu berbohong. "Temanku menemukan dompetmu kau bisa mengambilnya di kafe."

"Kenapa tidak kau saja yang membawakannya untuk Armin?" Tanya Mikasa.

"Bisa saja aku membawakannya tapi aku tidak mau," ujar Hanji jenaka. "Kau harus mengambilnya sendiri, aku tidak keberatan mengantarmu." Wanita berkaca mata itu meninggalkan ketiga muridnya.

"Erwin kau berhutang banyak pada ku hihihi." Hanji berguman lalu tertawa cekikikan menyisakan tatapan heran tiga remaja yang masih berdiri memperhatikannya hingga ia menghilang di parkiran.

"Aku rasa aku akan menghajarnya lagi supaya dia mau membawakan dompetmu" kata Mikasa datar.

"Mungkin aku bisa membujuknya dengan mengajak kencan." Rren ikut menimpali.

"Aku akan mengambilnya sendiri." Armin sudah memutuskan dia akan mengambilnya sendiri dia yakin teman yang di maksud oleh gurunya adalah pria yang ia tabrak. Lagi pula ia hanya perlu mengambilnya lalu pulang dan tidak perlu kembali kesana lagi.

.

.

.

TBC

.

.

.

makasih buat levieren225 yang udah review di chap kemaren, selain disini aku juga update di wattpad kalau ada reader yang punya akun watty follow akun ku ya @ritsu29 aku pasti follback. Makasih.

RnR pleasse

with love ritstu