Chapter 3

.

.

.

SnK : Hajime Isayama

.

.

.

ErwinxArmin

.

.

.

Warning!! Typo, OOC, AU!, BL, DLDR!!!

.

.

.

happy reading

.

.

o0o

Hanji melihat Erwin sedang sibuk membuat kopi kafe tampak penuh dengan pengunjung bahkan kursi di mini bar tempat sahabatnya bekerja penuh dengan gadis gadis yang tersenyum genit dan sesekali menggoda dan hanya di tanggapi senyum tipis.

"Erwin apa kau sibuk akhir pekan ini? Bagaimana kalau kita pergi ke Throst club?" Gadis berambut pirang bertanya.

"Benar kami jamin kau akan menyukainya, Annie punya member card VIP kita bisa mendapat ruang privat." Teman si gadis ikut menimpali.

"Sepertinya menyenangkan tapi sayang sekali akhir pekan ini Erwin ada janji kencan dengan kekasihnya." Hanji berdiri di samping Annie.

"Hanji!" Annie mendesis jengkel.

"Yo," Hanji menyapa Annie. "Erwin beri aku es batu." Hanji mendorong Annie dari kursinya hampir saja ia jatuh kalau saja Hitch tidak memeganginya.

"Sialan kau Hanji!" Annie memaki kesal.

"No no, Erwin tidak suka dengan orang yang suka mengumpat dan memaki dia suka yang pemalu dan polos" ucap Hanji dengan nada jenaka membuat Annie semakin kesal.

"Ayo kita pergi!" Annie mengajak kedua temannya pergi.

"Jaa na Annie!" Hanji melambaikan tangannya.

"Kenapa dengan wajahmu?" Erwin penasaran dengan memar di rahang Hanji dan memberikan es batu yang di masukan dalam kantung.

"Apa kau menyukai hadiah yang ku kirimkan?" Hanji menjawab pertanyaan Erwin dengan pertanyaan lain. "Bukankah dia sangat imut dan menggemaskan?" Hanji menaik turunkan alisnya menggoda Erwin.

"Ya, dia imut dan menggemaskan." Erwin membenarkan kata kata sahabatnya. "Darimana kau mendapatkannya?" Dia penasaran bagaimana Hanji bisa mendapatkan foto Armin.

"Aku yakin kau akan menyesal dan iri setengah mati padaku," Hanji berkata sombong. "Aku menggantikan Nanaba menjadi wali kelas Armin."

Erwin menatap jengkel Hanji, ia benar dirinya sangat menyesal saat Nanaba memintanya menggantikan mengajar ia menolak. Dia tidak tau jika tempat temannya mengajar adalah Sekolah Armin.

"Kuso!" Erwin melempar lap kesal, Hanji tertawa melihat tingkah sahabatnya.

"Hamba akan segera membawa buruan anda My Lord." Hanji meletakan tangan di dadanya dan menundukan kepala seperti prajurit yang memberi hormat pada rajanya lalu tertawa.

"Jaa matta ne." Hanji meninggalkan Erwin.

o0o

Armin meremas tali ranselnya ia sedang menunggu Hanji di parkiran hari ini dia akan mengambil dompetnya. Dia benar benar gugup bahkan sampai saat ini ia belum tahu apa hubungan mereka karena gurunya tidak pernah mengatakan apapun tentang kejadian di kafe waktu itu.

"Ayo Armin chan kita berangkat!" Hanji membuka pintu mobilnya belum sempat Armin masuk ke kursi penumpang seseorang menarik tangannya.

"Mikasa Eren? Bukankah kalian ada latihan klub?" Armin menatap kedua temannya bingung.

"Hn, kau pikir kami akan membiarkanmu pergi sendirian." Mikasa duduk kursi penumpang di sebelah Hanji. "Kau bersama Eren saja di belakang!" Armin menuruti perkataan Mikasa.

"Hey apa yang kalian lakukan?" Hanji kebingungan saat melihat Mikasa duduk di sebelahnya dan satu penumpang lagi di belakang bersama Armin.

"Anda pikir kami akan membiarkan Armin pergi sendirin bersama mu." Ucap Mikasa dingin.

"Oi apa kau pikir aku akan menculiknya?" Tanya Hanji kesal.

"Tentu saja dengan wajah kriminal seperti itu semua orang akan mencurigaimu." Dengan datar Mikasa menjawab pertanyaan gurunya, membuat Hanji makin kesal.

"Ck, kau benar benar mirip si cebol sialan itu!"

"Jangan pernah menyamakanku dengan siapapun kenalan mu itu!"

Hanji menatap tajam Mikasa yang di balas dengan tidak kalah tajam, kalau saja di dalam anime mungkin sudah keluar aliran listrik yang beradu dari kedua pasang mata itu.

"Ano Miss Hanji, sebaiknya kita segera berangkat bukankah tidak baik membuat teman anda menunggu." Hanji memutus kontak matanya dengan Mikasa dan tersenyum lebar pada Armin.

"Kau benar Armin chann." Hanji mulai menjalankan mobilnya.

Erwin sibuk memilah biji kopi bebera menit yang lalu Hanji mengiriminya pesan, katanya ia akan membawa kejutan. Entah apa yang di bawa sahabat nyentriknya itu, dia tidak pernah mengerti jalan pikiran wanita berkaca mata itu. Erwin melihat mobil Hanji parkir di depan kafenya ia melihat wanita berkaca mata turun lalu menyeringai disusul gadis berambut hitam sebahu lalu pemuda berambut coklat dari pintu kanan belakang dan si gadis berambut hitam berjalan ke pintu kiri belakang yang masih tertutup sepertinya masih ada penumpang lain di mobil Hanji.

Jantung Armin berdegup makin cepat seiring memendeknya jarak yang ditempuh mobil yang ditumpanginya ke tempat tujuan. Mobil sudah memasuki distrik Shigashina tidak lama lagi mereka akan sampai ia makin gugup bahkan tangannya sudah mengeluarkan keringat dingin. Laju mobil melambat dan perlahan berhenti. Pemuda pirang melihat guru dan kedua sahabatnya turun tapi ia sama sekali tidak punya keberanian untuk turun.

"Armin kenapa kau tidak turun?" Tanya Eren. Mikasa yang mendengar pertanyaan Eren menghampiri pintu dimana Armin duduk.

"Turunlah kita ambil dompetmu lalu pulang!" Armin turun dari mobil dengan ragu. Sepasang mata mengawasinya dari kafe dan tersenyum lembut.

Kling!

Hanji mendorong pintu kafe membunyikan bel kecil di atasnya. Ia menyeret Armin langsung kehadapan Erwin. Armin merasakan jantungnya melompat ke tenggorokan, ia menundukan wajahnnya tidak berani menatap wajah Erwin.

"Yo Erwin buatkan kami minuman" teriak Hanji sembari duduk Armin duduk di sebelah kiri Hanji, Mikasa duduk disebelah kiri Armin dan Eren duduk di sebelah kanan Hanji.

"Kalian ingin minum apa?" Tanya Erwin ramah.

"Aku ice coffee." Eren memesan.

"Machiatto" Mikasa ikut memesan.

"Kau ingin minum apa Armin?" Armin terlonjak kaget mendengar suara baritone bertanya padanya. Hanji terkekeh kecil melihat reaksi Armin sejak tadi pemuda pirang itu terus menunduk.

"Armin tidak suka kopi." Mikasa menjawab pertanyaan Erwin mewakili Armin.

"Apa itu benar Armin?" Kembali Erwin bertanya dan hanya dijawab anggukan kepala oleh Armin.

"Armin tidak suka pahit, saat kecil kami menyeduh kopi milik kakek Armin lalu meminumnya. Rasanya sangat pahit

Armin sampai muntah muntah, hanya Mikasa yang meminumnya sampai habis." Eren menjelaskan.

"Rasa kopi itu bermacam macam Armin chan bukan hanya pahit saja, aku yakin kau akan menyukai kopi buatan Erwin."

Erwin mulai meracik kopi entah kenapa ia merasakan pandangan menusuk punggungnya. Ia menoleh dan mendapati gadis berambut hitam menatapnya tajam. Erwin merasa heran pada gadis itu sejak datang ia terus menatapnya tajam seolah pria bermanik shapire melakukan kesalahan padanya.

"Jadi mana teman anda yang menemukan dompet Armin?"

"Dia tidak datang."

"Lalu kenapa anda membawa kami kemari jika orang itu tidak datang!" Mikasa menggeram kesal.

"Ingin mengambil dompet Armin." Hanji tersenyum seperti kuda.

"Anda bilang teman anda tidak datang." Mikasa makin kesal.

"Si cebol memang tidak datang tapi dompet Armin chan ada pada Erwin." Hanji tersenyum lebar membuat Mikasa ingin menghajarnya.

Erwin meletakan kopi sesuai pesanan masing masing. Secangkir vanilla latte dengan gambar hati tersaji di hadapan Armin.

"Cobalah, aku harap kau menyukainya." Erwin mempersilakan Armin.

Aroma harum vanilla menyapa indera penciuman Armin menggelitik lidahnya untuk mencicipinya, wajahnya merona saat melihat gambar hati di cangkirnya.

"Arigato." Suara Armin sangat pelan seperti orang berbisik dia benar benar gugup bisa sedekat ini dengan Erwin.

Tiba tiba Erwin mencondongkan wajahnya ke arah Hanji memeriksa luka memarnya, Armin menatap horor mereka kenapa rasanya seperti de ja vu kopi dengan gambar hati Hanji dan Erwin berhadapan dengan wajah hanya berjarak sejengkal. Ini sama dengan mimpinya apa mereka akan berciuman. Armin dengan reflek memundurkan tubuhnya dan berteriak.

"Tidak!! Brukk! Itai yo!" Jerit Armin.

"Armin/ Armin / Armin chan!" Erwin, Mikasa dan Hanji berteriak bersamaan melihat

Armin jatuh sementara Eren tersedak minumannya.

Armin terjatuh dari kursi kepala dan punggungnya membentur lantai cukup keras sementara kaki kanannya tersangkut di kursi menarik kursi menimpanya, ia berharap ada lubang di lantai yang menelannya daripada harus menahan malu. Mikasa membantu Armin duduk ia merasakan punggung dan kepalanya sakit, pandangannya juga sedikit kabur karena pusing. Erwin berjongkok di hadapan Armin dan langsung menggendong Armin.

"Kau mau membawanya kemana?" Mikasa menatap Erwin curiga.

"Keruanganku untuk memeriksa luka dan mengobatinya." Mikasa mengikuti Erwin. "Nona kau seorang gadis mungkin aku harus membuka baju Armin."

"Justru karena itu aku tidak bisa membiarkan Armin membuka pakaian di hadapanmu, lagipula kami sering mandi bersama."

"Mikasa itu saat kita masih TK!" Armin menjerit kecil ia benar benar malu mendengar ucapan Mikasa.

"Ackerman sebaiknya kau disini saja!" Hanji menahan tangan Mikasa.

"Miss Hanji benar sebaiknya kau disini saja." Eren ikut membujuk Mikasa agar tidak mengikuti Erwin.

Erwin menaiki tangga di sisi kanan mini bar ruangan pribadinya tepat berada di atasnya.

"Ano Mr Erwin tolong turunkan aku, aku bisa berjalan sendiri." Armin mencicit ia yakin Erwin bisa mendengar detak jantungnya dari jarak sedekat itu.

"Tak apa, aku rasa kakimu juga memar karena terbentur kursi."

Erwin mendudukkan Armin di atas tempat tidur dan Erwin masuk ke pintu yang sepertinya kamar mandi. Pemuda pirang itu memperhatikan ruangan yang ia tempati, sebuah meja kerja, rak buku dan ranjang yang ia duduki sepertinya ini kamar milik Erwin. Erwin kembali dengan sebuah salep di tangannya.

"Buka bajumu aku akan memeriksa punggungmu!"

"Apa? Aku rasa aku akan mengobatinya di rumah saja, anda tidak perlu repot repot Mr Erwin." Armin bicara tergagap, cukup sudah ia mempermalukan dirinya dengan jatuh di hadapan pria ini ia tidak mau menambahnya dengan membuka pakaian.

"Kenapa? Kau malu padaku?" Armin tidak menjawab rona merah menghiasi wajahnya. "Apa kau tidak pernah melepas pakaianmu di hadapan orang lain seperti pantai misalnya?"

"Ya tentu saja aku pernah."

"Kalau begitu tidak masalah bukan, atau kau ingin aku membantumu membukanya?" Erwin menyentuh kancing blazer Armin.

"Aku bisa melakukannya sendiri!" Armin panik dan menepis kasar tangan Erwin, "gomenasai Mr Erwin aku tidak bermaksud--." Belum selesai Armin bicara Erwin sudah memotongnya.

"Tidak apa aku mengerti." Erwin mengusap lembut kepala Armin.

Jantung Armin berdegup semakin cepat ia takut jantungnya akan pecah jika ia terus berada di dekat pria ini, dengan tergesa Armin membuka seragamnya hingga tanpa sadar ia membuat satu kancing kemejanya tertputus dan jatuh memantul ke lantai. Pemuda pirang itu merasakan dinginnya udara dari pendingin ruangan menyapa kulitnya.

Erwin menatap punggung polos Armin wajah si pemuda memerah hingga ketelinga bahkan ia melihat telinga Armin berkedut karena menahan malu. Tubuhnya sangat kecil untuk ukuran remaja laki laki dalam masa pertumbuhan bahkan ia tidak memiliki otot di tangannya membuatnya cenderung seperti remaja perempuan. Erwin melihat memar yang cukup besar di bahu Armin.

Cup!

Armin berjengit kala merasakan kecupan lembut di bahunya membuat bulu kuduknya meremang.

"Mr Erwin apa yang anda lakukan?" Armin bertanya tanya kenapa pria itu mencium bahunya.

"Ibuku selalu melakukannya saat aku terluka, itu mantra agar lukamu cepat sembuh." Dia mulai mengoleskan salep di luka memar Armin.

"Ung Bibi Carla juga melakukannya saat aku dan Eren terluka."

"Kalian terlihat sangat akrab."

"Rumah kami bersebelahan."

Cup! cup! Cup!

Erwin kembali mengecupi sepanjang bahu dan tengkuk Armin ia mulai candu dengan kulit lembut Armin.

"Nnhh, Mr Erwin tolong hentikan." Armin berusaha menjauh tapi tangan Erwin memeluk perut ramping Armin dan semakin membenamkan wajahnya di ceruk leher Armin.

"Mr Erwin lepas! Bagaimana kalau Miss Hanji melihat dia akan marah." Kembali Armin mencoba melepaskan diri dari belitan tangan kekar Erwin.

"Kenapa Hanji harus marah?" Erwin bertanya bingung.

"Bu bukankah Miss Hanji adalah kekasih anda?" Erwin tertawa mendengar pernyataan Armin. Dan Armin terpana mendengar mendengar tawanya ia tidak pernah melihat pria itu tertawa sebelumnya.

"Itukah alasan kau tidak pernah lagi datang ke kafeku?" Armin mengangguk menjawab pertanyaan Erwin. "Kami berteman sejak SMP, dia sudah seperti saudaraku." Erwin mencium pipi chubby Armin.

"Pakai kembali seragammu, bocah Ackerman itu pasti kesal menunggumu."

Dengan tangan gemetar ia memakai kembali kemeja seragamnya, wajahnya terasa sangat panas ia tidak tau semerah apa wajahnya saat ini. Erwin yang melihat tubuh gemetar dengan wajah memerah Armin ingin sekali mendorong remaja itu berbaring di ranjang dan mencumbunya tapi ia sadar itu tidak mungkin selama ada gadis Ackerman yang siap menerobos ruang pribadinya kapan saja.

o0o

Mikasa dan Eren hampir saja menerobos masuk ke ruangan Erwin kalau saja Hanji dan Marco barrista pengganti Erwin tidak menghentikan mereka.

Hanji sudah memiting Mikasa dan menyudutkannya ke meja ia menyeringai pada Mikasa, si gadis bermata onyx terus menggeliat mencoba melepaskan diri ia menatap Hanji tajam.

Marco mencengkeram kedua tangan Eren di belakang tubuhnya seperti seorang tahanan.

"Lepaskan aku baka! Aku harus menyelamatkan Armin." Eren mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Marco.

"Temanmu akan baik baik saja, kau tidak usah khawatir." Marco semakin mencengkram erat tangan Eren.

"Armin itu sangat polos dia bahkan belum mimpi basah, dan sekarang dia berdua saja dengan om om mesum di atas! Bagaimana aku tidak khawatir" Eren menendang kaki Marco tapi dia tak bergeming sedikitpun. Eren heran darimana pria sekurus Marco mendapatkan tenaga sekuat itu.

"Hahaha! Erwin benar benar bajingan beruntung!" Hanji tertawa seperti orang gila di otaknya berkelebatan bayangan Armin dan sahabatnya di atas ranjang.

"Aku akan menghajarnyanya jika terjadi sesuatu pada Armin!" Hanji semakin menekan Mikasa pada meja. Dua orang pengunjung yang baru masuk memperhatikan mereka heran, Petra yang melihat langsung membawa pengunjung ke meja yang kosong.

Armin yang baru saja turun dari tangga berlari tertatih menghampiri kedua temannya yang dalam keadaa terpojok. Eren dengan kedua tangan di tahan di belakang tubuhnya oleh seorang pria dan Mikasa yang tertelungkup di atas meja dan di tahan oleh Hanji. Armin merasa nyeri di betisnya karena terbentur kursi saat jatuh.

"Eren! Mikasa! Apa yang terjadi?" Armin bertanya panik.

"Armin kau baik baik sajakan? Kenapa kau sangat lama di atas?" Eren berhasil melepaskan diri dari Marco dan mencengkram pundak Armin.

"Aku baik baik saja, wajahmu terlalu dekat Eren." Armin mendorong Eren yang wajahnya hanya berjarak sejengkal darinya.

"Tehehehe, gomene Aku dan Mikasa khawatir padamu." Eren menggaruk tengkuknya.

"Lepaskan aku!" Mikasa terus meronta di bawah kukungan Hanji.

"Oh, gomene Ackerman aku lupa hahaha!" Hanji tertawa mengejek dan melepaskan Mikasa.

"Ayo kita pulang!" Mikasa menyeret Eren dan Armin.

"Ano Mikasa tas kita tertinggal." Armin mengingatkan Mikasa. Dia kembali ke mini bar untuk mengambil tas mereka tidak lupa melayangkan tatapan tajam ke arah Erwin yang masih berdiri di dekat tangga dan hanya di balas senyum tipis membuat gadis berwajah oriental makin jengkel.

Mereka bertiga sudah ada di dalam bis Armin menepuk jidatnya mengingat ia belum mendapatkan dompetnya, biarlah besok ia mengambilnya sendiri ke kafe.

"Ne Mikasa bukankah Miss Hanji sangat Hebat? Dia bisa mengalahkanmu!" Eren memuji Hanji dengan mata berbinar tanpa menyadari aura gelap yang menguar dari tubuh Mikasa.

"Ne Armin apa dia melakukan hal aneh padamu?" Mikasa mengabaikan Eren yang masih mengoceh betapa hebat dan cantiknya guru mereka.

"Tidak, dia hanya mengoleskan obat di bahu dan betisku yang memar." Wajah Armin memerah mengingat kecupan kecupan lembut yang diberikan Erwin. Ia merasakan ratusan kepakan lembut sayap kupu kupu menggelitik perutnya ia tidak pernah menyangka bisa sedekat itu dengan pujaan hatinya. Hatinya menghangat mengetahui Erwin dan Hanji hanya berteman.

"Aku tidak percaya pasti terjadi sesuatu diantara kalian." Mikasa mendekatkan wajahnya pada Armin. "Wajahmu merah apa kau sakit?"

"Aku baik baik saja, aku tidak sakit. Mungkin karena panas wajahku jadi merah." Armin menjawab gugup.

"Oh begitu." Mikasa tau teman pirangnya berbohong, ia yakin terjadi sesuatu antara mereka.

Armin menghela nafas lega melihat Mikasa mempercayainya. Ia ragu akan menceritakan pada sahabat perempuannya atau tidak.

"Ne Mikasa, Mr Erwin dan Miss Hanji mereka hanya berteman. Miss Hanji sudah memiliki kekasih." Mikasa menatap Armin seolah berkata aku tau bukan itu alasan wajahmu memerah. Armin menelan ludahnya ia tau tidak mudah berbohong pada Mikasa.

"Ung, dia juga ung, dia mencium pipiku!" Armin menjerit tertahan dan menutup wajahnya dengan ranselnya.

"Sudah ku duga dia pria mesum, kau harus berhati hati padanya."

"Oi! Mikasa kenapa kau mengabaikanku!" Eren menatap Mikasa kesal.

"Aku tidak peduli tentang apapun yang berhubungan dengan guru sinting itu!" Mikasa mengeluarkan aura yang sangat kelam membuat

Eren dan Armin bergidik.

o0o

Eren mendorong troly dengan malas, ia benci jika di suruh belanja oleh ibunya biasanya ia akan minta di temani Armin tapi kakek Arlert sedang sakit dan Mikasa sedang sibuk entah apa dia tidak menjawab panggilan darinya. Ia membaca daftar belanjaan yang di tulis ibunya.

Eren keluar dari super market menenteng dua kantung besar di kedua tangannya, ia akan menyebrang baru saja ia menyebrang lampu lalu lintas berubah hijau dan sebuah mobil Audi hitam melaju cepat ke arahnya, Eren tidak sempat menghindar.

Tin! Tin! Tin!

Brukkk!!

Eren jatuh di jalanan ia merasakan jantungnya berhenti, dia tidak merasakan sakit yang hebat hanya pantatnya saja yang sakit mungkinkah dia sudah mati bukankah orang mati tidak dapat merasakan apa apa.

"Oi bocah kau tidak apa apa?" Eren melihat wajah tampan seorang pria, ia menatap intens wajah itu sepertinya ia benar sudah mati ia melihat malaikat maut dengan wajah tampan tapi menyeramkan.

"Ibu sepertinya aku sudah mati, maafkan aku karena sudah menjadi anak nakal aku mencuri uangmu untuk membeli ero game dan menyimpannya di bawah tempat tidur." Eren menahan tangis ia masih belum selesai memainkan game murid dan guru itu tapi dia sudah mati.

Plakk!!

"Hoi bocah berhenti mengigau dan segera menyingkir dari jalanku!" Eren merasakan pukulan di kepalanya ia menatap tajam pelaku dan pria itu menatapnya datar.

"Menyingkir dari jalanku atau ku gilas kau!" Si pria mengancam.

Eren tersadar ia menatap sekeliling beberapa pejalan kaki memperhatikannya dan ia melihat belanjaannya berserakan. Eren menyentuh kaki, tangan lalu wajahnya dia bersorak girang.

"Aku masih hidup aku bisa melanjutkan ero game ku" Eren melompat lompat senang. Tunggu jika dia masih hidup lalu pria malaikat maut itu siapa. Eren menoleh ke arah kanan seorang pria yang lebih pendek darinya berdiri angkuh memandang datar ke arahnya.

"Kau menabrakku! Kau bisa menyetir tidak!" Eren menunjuk wajah pria dengan potongan rambut under cut tepat di hidungnya.

"Cih, seharusnya kau pergi ke dokter mata bocah!" Pria itu menepis tangan Eren. "Sekarang menyingkir dari jalanku."

"Oi chibi kau harus bertanggung jawab!" Teriak Eren.

Ctak!

Perempatan tercetak muncul di pelipis pria itu, berani sekali bocah itu menghinanya. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.

"Tutup mulutmu bocah! ini kau bisa menggunakan sisanya untuk membeli ero game dan menyingkir dari jalanku!" Si pria memasukan uang ke kantong kemeja Eren. "Kau bocah sialan membuatku mengulang kata kataku terus!" Pria itu memasuki mobilnya lalu melaju dengan kencang.

"Dasar cebol menyebalkan!" Eren berteriak dan menendang beberapa buah apel yang berserakan di dekatnya.

.

.

.

TBC

.

.

thanks to :

Levieren225

Erumin Smith

and para silent reader

RnR pleasse

with love ritsu