Chapter 4

..

.

.

.

SnK : Hajime Isayama

.

.

.

happy reading

.

.

o0o

Eren menggerutu sepanjang jalan pulang, gara gara mahluk cebol menyeramkan tapi tampan itu ia jadi harus kembali ke super market untuk membeli lagi barang barang yang rusak.

Brakkk!

Eren membuka pintu rumahnya dengan kasar. Ibunya yang berada di dapur terlonjak kaget dan berlari ke ke ruang tamu sembari membawa tongkat base ball milik anaknya, mungkin saja seorang perampok baru saja mendobrak pintu rumahnya.

"Eren! Kenapa kau mendobrak pintu?" Carla memarahi putranya. Eren mencebikan bibirnya bahkan setelah membantu Ibunya berbelanja dia masih saja dimarahi.

"Ibu aku lelah." Eren melewati ibunya begitu saja, Ia membawa belanjaannya kedapur. Carla mengikutinya ia membantu Eren merapikan belanjaan yang di bawa putranya. Pemuda beriris emerald membuka kulkas dan meminum orange juice tanpa menuangnya ke gelas kalau saja Carla melihatnya sudah pasti wanita itu memarahinya tapi saat ini ibunya sedang sibuk mengecek belanjaan.

"Eren kenapa ada banyak sekali snack?" Carla melihat sekantung penuh makanan ringan.

"Karena aku membelinya." Eren menjawab pertanyaan ibunya malas. Carla mendelik kesal mendengar jawaban putranya.

"Antarkan makanan ini pada Armin!" Carla menyerahkan kotak makan bersusun empat pada putranya.

"Ibu aku baru saja sampai, aku lelah!" Eren merengek. Carla memelototi putranya membuat nyali Eren menciut, ia meraih kotak makan itu dan bergegas keluar.

Rumah Armin hanya berjarak empat rumah dari rumah keluarga Jeager, dulu Mikasa tinggal di sebelah rumahnya tapi keluarga Ackerman pindah dua tahun lalu. Eren mengetuk pintu rumah Armin.

"Eren Masuklah." Kakek Arlert membukakan pintu ia tersenyum ramah.

"Kakek ibu memintaku mengantarkan ini." Eren menyerahkan kotak makan pada Kakek Arlert. "Dimana Armin?" Eren mengedarkan pandangannya mencari sahabat pirangnya.

"Sedang membeli obat."

"Kalau begitu, aku pulang dulu kakek." Eren berjalan keluar, ia pulang kerunahnya.

Armin mendorong pintu kafe, ia melihat Erwin di mini bar terasenyum ke arahnya. Armin merona dan menghampiri pria berambut senada dengan dirinya.

"Konichiwa Mr. Erwin." Armin menyapa canggung dia ingat kejadian di ruang pribadi pria itu kemarin. "Ano aku ingin mengambil dompet ku."

"Konichiwa, duduklah dulu aku harus membuat beberapa pesanan." Erwin sibuk meracik kopi untuk para para pelanggan hari libur membuat kafe ramai pengunjung.

Armin melihat betapa lincahnya tangan kekar Erwin meracik kopi dan membuat latte art. Tangan yang sama yang memeluknya kemarin, rasa panas kembali menjalari wajahnya. Secangkir vannilla latte tersaji di hadapan Armin.

"Are?" Armin memiringkan kepalanya bingung. "Aku tidak memesan."

"Untuk mengganti yang kemarin." Erwin tersenyum dan kembali meracik kopi untuk pelanggannya.

Armin meminum kopinya rasa manis dan sedikit pahit menyapa indra pengecapnya. Hanji benar ia akan menyukai kopi buatan Erwin setelah mencobanya. Armin melihat Erwin berjalan ke arah jendela dapur.

"Marco, gantikan aku." Erwin memanggil seseorang, Armin melihat pemuda yang kemarin menahan Eren keluar dari dapur. "Aku akan mengambil dompetmu." Erwin berjalan cepat menaiki tangga.

"Halo Armin." Pemuda itu menyapanya.

"Halo Mr.Marco."

"Kau tidak perlu seformal itu, aku baru 20tahun panggil aku Marco saja." Marco tersenyum ramah pada Armin.

"Umm baiklah Marco." Armin tersenyum menujukan deretan giginya yang rapih.

"Ne Armin apa temanmu yang kemarin sudah punya kekasih?" Marco bertanya penasaran.

"Siapa?" Armin bertanya bingung, teman yang mana yang dimaksud Marco Eren atau Mikasa.

"Ackerman, apa dia meemiliki kekasih?" Rona merah menghiasi wajah Marco.

"Mikasa sepertinya tidak punya, apa kau menyukainya?." Rona merah kembali menjalari wajah Marco, Armin tertawa melihatnya sepertinya Marco benar benar menyukai Mikasa.

Erwin melihat Armin mengobrol dengan Marco wajah karyawannya tampak merona entah apa yang mereka bicarakan. Ia menghampiri mereka.

"Boleh aku minta nomor-" Belum selesai Marco bicara Erwin memotong dan menatapnya tajam. Marco menelan ludah sepertinya Bosnya salah paham.

"Armin, ini dompetmu." Erwin menyerahkan dompet coklat pada Armin.

"Arigato Mr.Erwin." Armin tersenyum lebar.

"Ne Marco ini nomorku, kau telefon aku saja setelah kau selesai bekerja." Armin menulis nomor ponselnya pada kertas.

Marco menatap horor kertas yang di berikan Armin, bagaimana bisa remaja itu tidak menyadari ada iblis menguarkan aura gelap dengan tatapan tajam berdiri di belakangnya. Kalau saja tatapan bisa membunuh sudah pasti tubuh Marco sudah termutilasi menjadi beberapa bagian.

"Jaa na Marco." Armin melambaikan tangan pada Marco. Baru saja Armin melangkah seseorang menarik topi hoodienya.

"Are? Ada apa Mr. Erwin?" Armin bingung karena Erwin menahannya.

"Aku akan mengantarmu pulang." Erwin tersenyum aneh, Armin mengerjapkan matanya.

"Anda tidak perlu repot repot Mr. Erwin. Aku bisa pulang sendiri." Armin menolak tawaran Erwin ia menundukan wajahnya.

Erwin semakin kesal pada Armin, ia bisa dengan mudah akrab dengan Marco bahkan memberikan nomor ponselnya. Tapi pemuda itu selalu menunduk dan berbicara formal padanya.

"Ayo!" Erwin menarik tangan Armin. Ia membawa remaja pirang itu keluar kafe dan berhenti di depan mobilnya.

"Mr. Erwin tunggu sebentar." Armin mencoba melepaskan tangannya dari cengkeram Erwin. Erwin mengabaikan Armin dan mendorongnya pelan memasuki mobil. Pria dengan manik biru itu duduk di kursi kemudi.

"Dimana rumahmu?" Erwin bertanya dingin, Armin menahan nafas saat Erwin memakaikan sabuk pengamannya.

"Distrik Rose." Armin menjawab pelan.

Erwin menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Armin mencengkeram sabuk pengamannya erat ia takut, ia belum pernah menaiki kendaraan dengan kecepatan seperti ini. Pria pirang itu diam selama dalam perjalanan Armin bertanya tanya dalam hati ada apa sebenarnya, kenapa Erwin terlihat marah padanya. Mobil Erwin berhenti di depan rumah Armin.

"Mr. Erwin apa anda marah padaku? Apa aku melakukan kesalahan?" Armin bertanya dengan suara bergetar.

Erwin menghela nafas, sepertinya ia membuat remaja yang duduk di sebelahnya takut. Erwin menepuk puncak kepala Armin lembut.

"Aku hanya sedang kesal, gomene!" Erwin meraih wajah Armin agar remaja itu menatapnya. Erwin menahan nafas saat matanya bertatapan dengan mata berkaca kaca Armin dan wajah memerah menahan tangis. Sial! Erwin mengumpat dalam hati ia tidak tahan melihat wajah menggoda Armin, pria itu memajukan wajahnya dan mengecup lembut bibir remaja itu.

"Mr. Erwin!" Armin memekik kecil ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya rona merah menjalari wajah hingga telinganya, ia keluar dari mobil Erwin dan berlari masuk ke rumahnya. Erwin tertkekeh melihat tingkah remaja itu.

.

.

o0o

.

.

Armin melihat wajah Mikasa tampak kusut ia mengeluarkan aura gelap membuatnya dan Connie bergidik ngeri.

"Ada apa dengannya?" Connie bertanya pada remaja pirang yang di balas dengan gelengan kepala.

"Aku akan membunuhnya!" Mikasa mendesis menyeramkan, Armin terlonjak kaget mendengar suara Mikasa yang seperti hantu bulu kuduknya meremang.

"Aku rasa dia kesurupan." Ujar Connie.

"Kau yakin?"

"Tentu saja, lihat saja dia sangat aneh." Connie nenunjuk Mikasa yang masih menelungkupkan kepalannya.

"Mi- Mikasa ada apa denganmu?" Armin bertanya takut takut.

"Aku akan membunuh mahluk cebol itu!" Mikasa berdiri dan menggebrak meja. Armin melompat terkejut, lalu gadis berambut hitam itu kembali menelungkupkan kepalanya.

Eren memasuki kelas ia melihat Armin dan Conie berdiri di meja Mikasa. Gadis berwajah oriental itu menelungkupkan kepalanya di atas meja.

"Mikasa kau kenapa?" Suara Eren terdengar seperti lonceng surga di telinga Mikasa. Ia langsung memeluk si pemuda erat.

"Eren aku benci Ayah dan Ibuku, mereka pergi berlibur dan menyuruhku tinggal di rumah si cebol." Mikasa merengek di pelukan Eren.

Conie dan Armin semakin yakin jika Mikasa kesurupan karena dia tidak mungkin merengek manja seperti itu. Eren menatap sahabat pirangnya seolah bertanya apa yang terjadi dan Armin hanya menggeleng.

"Ceritakan apa yang terjadi." Eren nenepuk bahu Mikasa.

Gadis itu mulai bercerita jika kedua orang tuanya pergi berlibur dan selama mereka berlibur dia tinggal dengan sepupu Ayahnya yang ia panggil mahluk cebol.

Mendengar kata cebol entah kenapa Eren jadi ingat dengan pria yang menabraknya, sial jika saja pria itu tidak mengerem tepat waktu dia pasti sudah mati. Tapi uang yang pria itu berikan sangat banyak bahkan setelah mengganti belanjaan milik ibunya dia masih bisa membeli dua buah video game edisi terbaru.

Mikasa sengaja mengajak kedua sahabatnya datang ke apartemen milik pamannya. Mereka berencana mengerjakan tugas bersama, Armin dan Eren setuju untuk datang sepulang sekolah.

Mereka bertiga duduk di lantai agar lebih mudah mengerjakan tugas yang di berikan Mr. Oluo.

"Ne, Mikasa apa kau yakin tak apa jika kami berkunjung kemari tanpa ijin pamanmu?"

"Tak usah khawatir Armin, jika si cebol itu marah aku akan menghajarnya." Dan mereka mulai mengerjakan tugas.

Levi bergegas pulang saat sahabat eksentriknya menelfon akan datang bersama Erwin untuk minum di rumah. Ia sudah melarang Hanji datang tapi justru semakin semangat saat pria itu melarangnya. Saat ini ada putri sepupunya yang menginap di rumahnya dia tidak mungkin minum minum saat ada anak dibawah umur di rumahnya.

"Sebaiknya kalian pulang!" Levi mengusir kedua sahabatnya saat mereka berpapasan di loby apartemennya.

"Aku penasaran siapa yang kau sembunyikan di rumahmu!" Hanji menaik turunkan alisnya mencoba menggoda Levi.

"Apapun yang bersarang di otak sintingmu sebaiknya kau singkirkan!" Levi menatap jengkel wanita berambut merah.

"Kalau begitu tidak masalah bukan jika kami berkunjung, lagi pula sudah lama kita tidak minum bersama." Erwin ikut memojokkan Levi.

"Sepupuku menitipkan putrinya selama dia berlibur, aku tidak ingin minum minum di hadapan bocah ingusan!"

"Wow kau terdengar seperti orang tua yang ingin melindungi kepolosan anaknya." Hanji tertawa mengejek.

"Sialan kau mata empat!" Levi nembuka pintu apartemennya ia melihat tiga pasang sepatu di genkan. Ia juga mendengar teriakan nyaring dan musik horor.

"Cih! Bocah sialan itu mengumpulkan bocah ingusan di rumahku, dia fikir rumahku panti asuhan!" Levi melihat ruang tamunya gelap dan hanya diterangi cahaya dari tv yang sedang memutar film, keponakannya memakan pizza dan dua temannya sedang berpelukan ketakukan layar tv menampilkan sosok biarawati menyeramkan.

"Apa yang sedang kalian lakukan di rumahku?" Levi mendesis membut Eren terkejut dan semakin mengeratkan pelukannya pada Armin.

"Uwaaa! Hantu!" Eren berteriak saat melihat wajah Levi dalam gelap, Armin hampir pingsan karena sesak nafas Eren memeluknya sangat erat.

Klik!

Seseorang menyalakan lampu, Eren dan Armin jatuh ke lantai saat seseorang menerjang mereka dengan pelukan.

"Armin! Eren! Kalian jangan takut lagi ada aku disini. Si cebol memang menyeramkan hihihi!" Hanji terkikik kecil.

"Miss. Hanji? Kenapa anda ada disini?" Armin bertanya bingung ia berusaha mendorong Hanji agar tidak menindihnya. Sementara Eren justru menahan Hanji saat ia merasakan sesuatu yang kenyal menekan dadanya, wajahnya merona.

"Hanji kau membuat mereka sesak nafas!" Erwin memperingatkan Hanji yang masih menindih dua remaja itu. Walau sebenarnya Erwin merasa iri dengan posisi Hanji ia juga ingin menindih Armin tanpa bocah berambut coklat tentunya. Erwin menarik Hanji berdiri.

"Kau baik baik saja?" Erwin duduk di sebelah Armin, remaja itu mengangguk menyatakan jika ia baik baik saja.

Levi menatap datar keponakannya yang masih asyik mengunyah pizza, toping dan sausnya berjatuhan mengotori karpet miliknya. Mikasa cuek saja meski pamannya memelototi dirinya karena sejak awal ia sengaja mengajak teman temannya berkunjung hanya untuk mengacau dan membuat paman maniak kebersihan marah dan mengusirnya lalu ia bisa tinggal di rumh keluarga Jeager seperti dulu saat orang tuanya sibuk bekerja ia akan dititipkan pada keluarga Eren.

"Kau pria cebol yang menabrakku!" Eren berteriak sembari menunjuk Levi.

"Turun tangnmu bocah! Atau aku akan mematahkannya!" Levi menatap tajam. Eren membuang muka dan berdecih ia ingin menghajar pria menyebalkan itu tapi dia itu paman Mikasa dan pemilik rumah ini.

"Gomenasai Mr. Ackerman kami sudah membuat rumah anda berantakan." Armin berojigi di hadapan Levi. Pria itu hanya mendengus menanggapi Armin.

"Sudahlah Armin-chan abaikan saja si cebol itu, ayo kita minum sake!" Hanji merangkul bahu Armin.

"Mereka masih bocah aho!" Levi menatap tajam temannya sebenarnya apa yang ada di otak teman wanitanya mengajak bocah bocah ingusan itu minum.

"Hei kami sudah remaja bukan bocah, lagi pula aku sudah legal minum alkohol." Eren tidak terima dengan perkataan Levi ia sudah tujuh belas tahun.

"Kalau beegitu bagaimana dengan Armin-chan?"

"Aku rasa belum boleh, dia baru akan tujuh belas november nanti. Hanya aku dan Mikasa yang sudah tujuh belas." Eren menggaruk tengkuknya.

"Tidak masalah, bahkan kami berumur empat belas tahun saat pertamakali meminum sake. Benarkan Erwin?" Hanji meminta persetujuan Erwin.

"Aku rasa satu gelas tidak masalah." Erwin tersenyum tipis. Dan Hanji bersorak girang dan mulai menuangkan sake ke dalam gelas.

Armin merasakan kepalanya pusing bahkan ia melihat Eren ada dua. Berkali kali ia menggelengkan kepalanya tapi rasa itu tidak juga hilang.

"Hik aku hik pusing hik hik." Armin cegukan beberapa kali, padahal ia baru minum gelas pertamanya. Bahkan Eren dan Mikasa sudah meminum gelas kedua dan mereka masih baik baik saja.

"Armin kau payah hik." Eren mengejek Armin sepertinya dia juga mulai mabuk dan bersandar pada Hanji.

Hanji menyeringai saat melihat Mikasa menatapnya tajam sepertinya dugaannya benar gadis ini memiliki perasaan khusus pada Eren. Hanji sengaja memeluk Eren dan meminumkan sake miliknya pada pemuda berambut brunette. Mikasa kembali meneguk sakenya sudah gelas ke lima dan dia jatuh pingsan. Hanji tertawa keras melihat gadis itu tumbang.

Armin merangkak naik ke pangkuan Erwin dan bergelung seperti anak kucing, pria itu tersenyum dan memeluk pinggang remaja itu memperbaiki posisinya agar ia merasa nyaman sesekali Erwin mengelus kepala remaja yang ada di pangkuannya.

"Armin sangat menyukai tidak dia mencintai Mr. Erwin hihi." Eren mulai meracau dan terkikik melihat sahabatnya ada di pangkuan Erwin. "Dia juga belum mimpi basah, Armin no baka!"

"Hoh, Armin-chan masih polos. Jadi kau sudah eh Eren?" Hanji menggoda Eren dan dia mengangguk.

"Siapa orang itu?"

"Rias Gremory!" Eren menjawab semangat, Hanji tau Rias adalah artis sexy dalam film bergenre supernatural. Selera yang bagus pikir Hanji.

"Dia sangat mirip dengan mu, karena itu berkencanlah denganku Miss. Hanji." Eren merangkak mendekati Hanji tapi karena mabuk ia melewatinya dan justru berlutut di hadapan Levi. Pria itu mengangkat alisnya melihat Eren.

"Aku menyukaimu." Dan Eren mencium Levi tanpa ragu, Levi terjekut saat Eren menghisap bibir bawahnya kaku. Dia membiarkan remaja itu bermain main dengan bibirnya. Hanji tertawa seperti orang gila saat melihat Eren mencium Levi.

"Cih!" Levi menjauhkan wajahnya Eren kembali memajukan wajahnya berusaha menangkap bibir Levi. "Akan ku ajari kau cara berciuman yang benar." Levi menarik pinggang Eren dan mulai mencium pemuda itu.

"Aku akan membawa Armin pulang." Erwin menggendong Armin di punggungnya. "Sebaiknya kau juga pulang Hanji." Erwin mengingatkan temannya yang terus melihat Levi dan Eren dengan mata berbinar binar Erwin melihat tangan pria itu masuk kedalam kemeja Eren.

.

.

o0o

.

.

Erwin mengendarai mobilnya menuju kafe dia tidak mungkin mengantarnya pulang dalam keadaan mabuk. Dia memarkirkan mobilnya dan menggendong Armin di punggungnya ia memasuki kafe dari pintu belakang. Di rebahkannya remaja itu di atas ranjang, Erwin melepaskan seragam Armin ia tidak ingin remaja berambut pirang itu pergi ke sekolah dengan seragam bau akohol dia akan mencucinya.

Armin membuka matanya saat Erwin selesai membuka celananya. "Mr. Erwin" Armin mengerjapkan matanya.

"Kau menumpahkan sake di seragammu karena itu aku akan mencucinya." Erwin mencoba menjelaskan dia tidak ingin pemuda ini salah paham. Armin duduk di hadapan Erwin ia tadi melihat Eren mencium seseorang tapi ia tidak tau siapa itu. Armin memajukan wajahnya dan mengecup bibir Erwin berkali kali.

"Armin." Erwin menahan bahu remaja itu.

"Gomene Mr. Erwin. Aku aku seorang laki laki dan aku aku-" Armin menggigit bibirnya. "Aku menyukaimu." Mata Armin berkaca kaca.

Erwin meraih tengkuk Armin dan menciumnya ia menghisap kuat bibir remaja itu tangannya membelai pinggang telanjang Armin membuatnya mengerang.

"Ahhnn."

Erwin semakin memperdalam ciumannya, ia menelusupkan lidahnya kedalam mulut Armin dan membelit lidah yang lebih kecil. Erwin sudah tidak bisa menahan hasratnya untuk memiliki remaja yang ada di pangkuannya. Ia mulai menindih Armin dan memindahkan jajahan mulutnya keleher sementara kedua tangannya mengusap lembut kedua niple remaja di bawahnya membuat Armin menggelinjang.

"Nghhh."

Pria berambut pirang itu mencium rahang remaja dengan surai senada miliknya. Ia melihat Armin memejamkan matanya dengan nafas teratur remaja itu tertidur. Erwin menghela nafas, setelah menggodanya dia justru tidur meninggalkannya dalam keadaan mengeras.

"Kau ini benar benar nakal." Erwin mengecup dahi Armin dan menyelimutinya. Rasanya menyebalkan harus menyelesaikannya sendiri.

Armin mengerjapkan matanya, rasanya matanya sangat berat ia meraba tempat tidur mencari ponselnya. Tangannya menyentuh tangan seseorang ia membuka matanya dan melihat Erwin tidur di sebelahnya.

"Uwaaa!" Armin menjerit dan menarik selimut saat menyadari dirinya hanya mengenakan boxer. Ia merona saat melihat Erwin dalam keadaan yang sama.

"Armin ada apa?" Erwin duduk menatap Armin dengan mata sayu dan rambut berantakan dia terlihat sangat sexy. Armin menggelengkan kepalanya membuang jauh bayangan tubuh pria itu dalam pose yang berbeda sepertinya virus mesum Jean dan Eren sudah menularinya.

"Armin, kau baik baik saja?" Erwin menyentuh bahu telanjang Armin membuatnya berjengit kaget.

"Apa yang terjadi? Kenapa aku ada di sini?" Armin mengeratkan cengkeramannya pada selimut.

"Semalam kau mabuk, jadi aku membawamu kesini." Armin ingat kemarin sepulang sekolah ia dan Eren mengerjakan tugas bersama kemudian paman Mikasa datang bersama Erwin dan Hanji lalu mereka minum sake.

"Kenapa anda tidak mengantarkan ku pulang." Ya seharusnya pria itu mengantarkannya kerumahnya, bangun dalam keadaan setengah telanjang di samping Erwin bukanlah pilihan yang bagus.

"Mengantarmu pulang dalam keadaan mabuk sama saja dengan bunuh diri, kakek mu bisa saja membunuhku dan Levi tidak suka jika banyak orang menginap di rumahnya." Benar juga Kakeknya bisa saja terkena serangan jantung saat dia pulang dalam keadaan mabuk.

"Ah, aku mengerti. Maaf karena sudah merepotkan anda Mr.-"

"Erwin, panggil aku Erwin." Erwin memotong perkataan Armin.

"Tapi, aku hmmphh." Belum selesai Armin bicara Erwin meraih tengkuknya dan menciumnya. Armin membulatkan matanya saat Erwin menghisap bibir bawahnya lembut.

"Sepertinya kau melupakan kejadian semalam." Erwin mendorong Armin terlentang di ranjang dan mengurungnya dengan kedua lengannya.

"Apa aku melakukan kesalahan?" Armin panik mungkin saja ia berbuat aneh saat dia mabuk.

"Menurutmu?" Erwin berbisik di telinga Armin lalu mengulumnya.

"Ahhnn." Armin menutup mulutnya menahan erangan yang keluar, tangan Erwin membelai paha dalam Armin membuat remaja itu menggelinjang.

"Aku menyukaimu, jadilah kekasihku!" Erwin membelai wajah Armin. Armin mengerjapkan matanya bingung sepertinya ia salah dengar. "Apa jawabanmu?"

"Aku juga menyukaimu." Armin memalingkan wajahnya. Ia merasa sangat malu.

"Jangan pernah memalingkan wajahmu dariku, mengerti!" Erwin meraih wajah Armin dan kembali menciumnya.

Dari bawah Erwin mendengar suara ribut sepertinya para karyawan sudah datang, ia melihat jam di meja nakas sudah menunjukan pukul enam. Erwin melepas ciumannya, wajah Armin bersemu merah dengan bibir bengkak.

"Mandilah kau harus sekolah bukan." Erwin mengecup pipi Armin dan bangun dari ranjang.

Armin melihat seragamnya terlipat rapih di atas ranjang tapi dia tidak menemukan Erwin. Armin turun untuk mencari Erwin ia melihat Petra dan Marco sedang merapikan meja.

"Halo Armin, duduklah Bos sedang membuat sarapan untukmu." Marco menarik kursi untuk Armin. Armin mengangguk dan mengucapkan terimakasih.

Erwin datang membawa nampan berisi dua piring omurice, segelas susu dan secangkir esppresso. Dan mereka memulai sarapan mereka dengan Erwin yang terus memperhatikan Armin membuat remaja itu merona.

.

.

o0o

.

.

Eren mendengar suara berisik vacum cleanner, kepalanya terasa sangat berat dan sakit. Ia membuka matanya di depannya seorang pria pendek memakai celemek dan masker sedang membersihkan karpet.

"Oi, bangun bocah kau harus sekolah!" Eren merasakan kakinya di pukul. Eren bangun ternyata ia tidur di sofa, dia memijat kepalanya yang pusing.

"Minum itu, sakit kepalamu akan hilang." Levi menunjuk dua tablet obat di atas meja. Eren menurut ia memimum obat dari Levi.

"Bocah kau ingat apa yang terjadi semalam?"

"Semalam? Memangnya apa yang terjadi? Dan kenapa aku berganti pakaian?" Eren tidak ingat apapun ia melihat dirinya memakai kaos hitam polos kebesaran dan celana boxer.

"Aku menggantinya, memangnya kau ingin pergi kesekolah dengan seragam bau alkohol?" Eren menggeleng semalam ia minumm dan mabuk.

Paman Mikasa ternyata sangat baik ia menemukan seragamnya sudah di setrika dan harum, Eren harus berterimakasih padanya nanti.

Levi mengusap wajahnya kasar, kalau saja semalam Hanji tidak menghentikannya mungkin dia sudah menggagahi remaja bermanik emerald itu di ruang tamu rumahnya. Bahkan ia lupa bila Hanji ada disana melihatnya mencumbu Eren. Ia tidak menyangka remaja itu bisa membuatnya seperti ini hanya mengingat kejadian semalam saja sudah membuatnya mengeras.

"Cih! Bocah sialan!"

Mikasa membuka pintu kamarnya kasar ia melihat ruang tamu sudah bersih dan rapih, semalam ia menumpahkan saos tomat dan sake ke karpet dan sekarang karpet itu sudah di ganti. Dia yakin pamannya akan mengamuk dan mengusirnya dari sini. Mikasa menyeringai sepertinya rencananya berhasil.

"Apa yang kau lakukan bukankah seharusnya kau bersiap ke sekolah?" Levi muncul dari dapur dengan secangkir teh di tangannya.

Mikasa tercengang kenapa pamannya tidak marah padahal ia mengamuk saat dirinya membuat dapur berantakan saat ia memasak dan tidak merapikannya. Bahkan ia mengancam akan menggantungnya terbalik di balkon jika dia mengacau dan mengotori rumahnya. Lalu kenapa pamannya yang mengidap OCD itu tidak mengamuk dan mengusirnya seperti dalam bayangannya.

"Levi-"

"Jika kau mencari temanmu dia sedang mandi di kamarku."

Mikasa semakin terkejut, pria ini pasti bukan paman cebolnya karena dia tidak mungkin mengijinkan seseorang menggunakan kamar mandinya. Siapa sebenarnya mahluk cebol yang ada di hadapannya atau pria ini masih mabuk. Mikasa mengacak rambutnya karena rencananya gagal, ia akan menyusun rencana yang lebih ekstrem agar bisa keluar dari sini dan tinggal dirumah Eren.

.

.

TBC.

.

.

Erumin smith : anak polos kaya armin emang paling enak di modusin hehe.

Levieren225 : dia mah emang rajanya modus wkwkwk, iya Hanji udah punya pacar aku bikin dia stright. Hanji bukan modus ke mikasa dia cuma suka aja godain mikasa.

Para silent reader : mungkin kalian malu atau ga tau mau nulis apa di kotak review tapi sekedar kata "next" atau "lanjut" udah cukup jadi jejak keeberadaan kalian.

Terimakasih sudah membaca

RnR pleasse

with love,

Ritsu