Chapter 5
.
.
.
SnK (c) Hajime Isayama
.
.
.
ErwinxArmin
LevixEren
.
.
.
happy reading
.
.
.
o0o
Mikasa menatap tajam pamannya yang tampak khidmat menyesap teh hitam faboritnya dengan sebuah koran yang terlipat ditangan kirinya, sementara Eren tampak sibuk menikmati roti panggang dengan sosis dan telur mata sapi.
"Berhenti memelototiku bocah atau matamu akan jatuh." Levi acuh tak acuh mengingatkan keponakannya tanpa mengalihkan pandangannya dari koran meski cangkir tehnya telah kembali ke meja.
Eren menoleh ke asal suara dan mendapati paman sahabatnya sedang membaca koran dan Mikasa memelototi pamannya sembari meremas garpu dengan kuat seolah ingin menghancurkan benda itu. Eren sangat takjub bagaimana bisa Levi tahu jika Mikasa memelototinya jika ia terus membaca koran, apa pria cebol di depannya ini memiliki indera keenam sehingga bisa melihat semua yang ada disekitarnya tanpa menatap si objek.
"Cepat habiskan sarapanmu bocah tengik, dan hentikan pikiran konyol itu dari otakmu Jeager." Eren semakin menatap horor Levi yang tahu jima ia memperhatikan mereka berdua bahkan dirinya tau jika Eren sedang memikirkan hal konyol.
Oke Eren mulai takut dengan paman cebolnya Mikasa dia bukan saja memiliki indera keenam tapi juga bisa membaca pikiran. Dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Mikasa dan pamannya karena sejak tadi sahabatnya itu terus memelototi pria cebol yang ia kagumi karena telah mencuci dan menyetrika seragamnya. Sepertinya Eren lupa jika kemarin ia sangat membenci pria yang hampir menabraknya itu.
"Cepat sekesaikan sarapan kalian, akan ku antar kalian ke sekolah." Levi meletakan korannya di meja.
BRAKKK!!!
Mikasa menggebrak meja membuat Eren terlonjak kaget dan menjatuhkan sosisnya. Mata sekelam malam itu menatap pamannya tajam.
"Siapa kau sebenarnya?" Mikasa menggeram seperti serigala kelaparan membuat Eren merinding.
"Apa maksudmu?" Levi mengernyit heran melihat tingkah keponakannya yang sejak kemarin sudah membuatnya kesal karena membuat rumahnya kotor dan berantakan.
"Kau sangat aneh bahkan kau membiarkan Eren memakai kamar mandimu. Kau pasti bukan Levi cebol Ackerman!" Mikasa menunjuk satu-satunya pria dewasa yang ada di sana.
DUAKHHH!!!!
Apel menghantam telak dahi mikasa menyisakan bekas memar dan bulatan sebesar kelereng, Levi sudah tidak tahan menghadapi bocah kurang ajar yang menyandang marga Ackerman sepetinya tapi hanya dengan mempertahankan bocah tengik itu satu-satunya jalan agar ia bisa sering bertemu Eren karena ia yakin Mikasa akan sering membawa teman-temannya untuk mengacau di rumahnya. Ia bukannya tidak tau rencana busuk keponakannya yang sejak awal terus mengotori rumahnya untuk membuatnya marah dan menendangnya keluar, ia ingin tinggal di rumah keluarga Jeager tapi kakak sepupunya sudah tidak ingin merepotkan keluarga itu dengan putri semata wayang mereka. Dan sialnya ia tertarik pada remaja bermanik emerald yang tampak tertekan dengan perseteruan antara ia dan keponakannya.
"Mikasa sebaiknya kau makan sarapanmu, kita bisa terlambat jika tidak segera berangkat." Eren mencoba mengingatkan Mikasa, gadis itu kembali duduk dan mulai memakan sarapannya dengan rasa kesal pada pamannya.
.
.
o0o
.
.
Armin tidak yakin ini mimpi atau nyata, rasanya semua ini terlalu indah untuk jadi kenyataan. Ia kembali mencubit lengannya dan melenguh sakit hingga sebuah tangan mengelus lengannya yang baru saja ia cubit.
"Kenapa kau mencubiti lenganmu hm?" Suara bariton yang lembut menyapa pendengaran Armin menyadarkannya jika kejadian beberapa saat yang lalu di kafe bukanlah mimpi. Armin merona mengingat ciuman panasnya dengan Erwin.
Erwin menepikan mobilnya ia hawatir pada remaja yang duduk disebelahnya, sejak tadi ia mencuri pandang padanya lalu mencubiti lengannya sendiri dan sekarang wajahnya memerah hingga ketelinga.
"Armin, apa kau baik-baik saja?" Erwin menyentuh bahu remaja pirang membuatnya berjengit terkejut.
"Tidak!" Armin menjawab cepat membuat Erwin terkejut. "Bukan begitu maksudku aku baik-baik saja ya aku baik-baik saja jangan hawatir." Ucap Armin dalam satu tarikan nafas.
Erwin menaikan alisnya, ia heran bagaimana bisa Armin berbicara begitu cepat. Selama ini remaja itu selalu berbicara dengan malu-malu dan pelan saat bersamanya.
"Apa yang sedang kau fikirkan?" Armin menggeleng cepat sebagai jawaban, ia bahkan merasakan jantungnya berdebar terlalu kencang membuatnya takut jika Erwin akan mendengar.
Chuu~
DHUKK!!
Armin mersakan sakit di kepalanya, ia terkejut saat Erwin tiba-tiba mengecup bibirnya hingga ia memundurkan kepalanya dan berakhir dengan membentur jendela. Erwin hanya terkekeh geli melihat tingkah lucu kekasihnya meski ada sedikit rasa bersalah karena membuat remaja itu tetbentur jendela.
"Maaf karena mengejutkanmu." Erwin memeluk Armin dan mengelus kepala dengan surai pirang yang senada dengan miliknya.
Ah sepertinya Armin sudah yakin jika semuanya bukanlah mimpi karena ia mabuk di rumah paman Mikasa. Ia membalas pelukan pria yang dicintainya.
Armin melihat Eren dan Mikasa turun dari mobil yang berlawanan arah dengannya, sepertinya paman Mikasa mengantarkan mereka. Erwin keluar dari mobil dan berjalan memutari mobil untuk membuka pintu tempat Armin duduk, semburat merah menghiasi wajah imut Armin.
"Sepertinya akan turun hujan lebat, benarkan Levi." Erwin menggunakan kata-kata Hanji saat melihat sesuatu yang tidak mau Levi lakukan tapi pria itu tetap lakukan.
Levi mendecih mendengar ucapan Erwin yang bermaksud menyindirnya karena ia melakukan hal yang tidak akan pernah ia lakukan, yaitu mengantar keponakannya ke sekolah.
"Tutup mulut mu." Levi menatap tajam Erwin yang ditanggapi dengan senyum tipis oleh pria pirang itu.
"Yahoo~ Eren, Armin chan." Hanji menyapa dua orang muridnya dan hanya melirik Mikasa yang masih mengeluarkan aura suram.
"Ohayou Miss Hanji." Armin membungkuk sopan.
Hanji bersiul dan melakukan gestur menunjuk menggunakan dagunya. Armin mengikuti arah yang dimaksud Hanji dan ia baru menyadari jika tangannya dan tangan Erwin saling bertautan, rasa hangat menjalari wajah hingga telinganya. Ia merasa malu dan segera menarik tangannya yang digenggam Erwin.
Wanita berkacamata itu tertawa melihat tingkah Armin yang terlihat imut saat sedang malu dan gugup.
"Eren~ apa kau baik-baik saja?" Hanji memeluk remaja berambut coklat dan sebuah seringai ia berikan pada dua Ackerman yang berdiri di belakang Eren.
Aura suram terasa semakin pekat menguar dari tubuh Ackerman muda sementara Ackerman dewasa hanya menatapnya datar namun penuh ancaman. Hanji bersorak dalam hati mendapati reaksi yang memuaskan dari pasangan paman dan keponakn itu.
Eren tidak tau semalam ia mimpi apa sehingga ia mendapat pelukan dari guru seksi yang ia sukai bahkan tanpa rasa sungkan dan malu ia membalas pelukan guru berkacamata itu. Mencoba meresapi wangi parfum sang guru agar tidak lupa dengan aroma manis dan seksi yang membuat dirinya mabuk kepayang. Mungkin ini yang pepatah bilang bagai mendapat durian runtuh, ia sangat senang dan berharap Hanji tidak akan melepaskan pelukannya tapi itu semua hanya tinggal harapan karena sebuah tangan menariknya menjauh dari istri masa depannya.
"Cepat masuk bocah tengik." Levi menarik Eren dan mendorongnya menjauhi Hanji, ia menatap Eren tajam.
Eren membalas tatapan Levi tidak kalah tajam, otaknya bekerja dan menerka mungkin Levi merasa cemburu karena Hanji memeluknya. Remaja itu yakin jika pria yang lebih pendek darinya itu menyukai Hanji dan menganggap paman sahabatnya itu sebagai rival memperebutkan wanita berkacamata berambut kunvir kuda. Tapi sayangnya ia salah karena Levi sama sekali tidak tertarik apalagi menyukai wanita sinting seperti Hanji.
"Terimakasih sudah mengantarku, sampai jumpa Mr. Erwin." Armin tersenyum, ia segera menghampiri Eren dan Mikasa. Mereka berlalu memasuki sekolah meninggalkan tiga orang dewasa yang masih memperhatikan mereka.
"Kalian sudah jadian?" Mata Hanji terus memperhatikan Armin yang terlihat sedang menenangkan Mikasa.
"Hm, begitulah." Erwin mengetikan sesuatu di ponselnya. "Aku harus kembali ke kafe." Erwin melambaikan tangan pada kedua sahabatnya dan melajukan mobilnya untuk kembali bekerja.
"Levi, aku rasa ini tidak akan mudah. Dia stright dan keponakanmu sangat menyukai Eren."
"Kau pikir bocah tengik itu tipeku?" Levi mengikuti teman pirangnya meninggalkan wanita berkaca mata itu di depan gerbang.
"Dasar tsundere!" Hanji berteriak menarik perhatian beberapa siswa yang melewatinya.
Levi memilih masuk ke mobilnya mengabaikan sahabatnya meskipun ia masih memikirkan perkataan Hanji baru saja. Ya dia tahu ini tidak akan mudah mengingat Eren bukan seorang gay, dan mengenai bocah itu bukan tipenya itu memang benar selama ini patnernya adalah orang yang pendiam serta memiliki kepribadian serupa dengannya bukan orang yang berisik dan suka meledak ledak seperti Eren.
Getaran ponsel menghentikan Armin dari aksinya menenangkan Mikasa yang masih terus memaki pamannya.
Aku akan menjemputmu pulang sekolah nanti.
Pesan dari Erwin yang diakhiri dengan emot icon hati dan ciuman membuat wajah Armin merona.
Eren terlihat tidak peduli dengan Mikasa ia masih terus membayangkan pelukan Hanji dan bunga-bunga imajiner terlihat berguguran menghujaninya, membuat aura Mikasa semakin kelam.
.
.
o0o
.
.
Pria dewasa yang tengah bersandar pada pintu mobil itu mrlambaikan tangan pada remaja pirang yang tengah berjalan bersama kedua sahabatnya. Setelah berbicara pada Mikasa dan Eren, Armin meninggalkan kedua sahabatnya dan menghampiri Erwin.
Erwin membuka pintu untuk kekasihnya, ia bukanlah remaja pubertas tapi entah mengapa ia selalu merasakan debaran menyenangkan setiap kali bersama Armin. Awalnya ia hanya penasaran dengan remaja yang selalu memperhatikannya dari meja pengunjung dan tanpa sadar dirinya juga mulai memperhatikannya dan selalu menunggu kedatangan remaja pirang dengan meja no 9 sebagai tempat duduk favoritnya.
Jajaran pertokoan meghiasi sisi jalan yang mereka lewati, Armin pikir Erwin akan mengantarnya pulang karena itu tidak terlalu memperhatikan jalanan yang mereka lalui, Erwin melirik Armin yang terlihat sibuk dengan ponselnya. Sekilas ia membaca id caller sesorang yang sesang chatting dengan kekasihnya. Nama Mikasa tertulis diatas layar ponsel itu.
Armin mersakan mobil milik Erwin terhenti dan ia terkejut melihat mobil itu terpakir di depan kafe milik Kekaihnya.
"Kenapa kita kesini?" Armin menatap Erwin bingung.
"Bukankah setelah pulang sekolah kau selalu kemari?" Erwin tersenyum menggoda.
Wajah Armin memerah mengingat kebiasaannya beerapa bulan terakhir, mulutnya terbuka hendak melakukan pembelaan tapi taknada sepatah katapun keluar dari bibir mungilnya. Erwin tersenyum dan mengacak rambut pirang Armin.
"Naiklah, aku akan membawakan minuman untukmu." Erwin meminta Armin untuk menunggunya di ruangannya sementara ia membuat minuman untuk kekasih mungilnya.
Debaran jantungnya terasa menggila dan perutnya terasa tergelitik menyenangkan saat ia duduk di sofa di kamar milik Erwin. Bayangan erotis saat Erwin menciumnya pagi tadi kembali mengisi benaknya mengirimkan gelenyar hangat di dadanya.
"Aku membuat resep baru, cobalah." Erwin meletakan sebuah rainbow cake dan segelas jus strawberi dihadapan Armin.
Armin mencoba cake yang terlihat cantik dengan warna cerah, rasa lembut dan manis memenuhi mulutnya rasanya seperti jelly buah dan sangat enak.
"Ini sangat enak." Ucap Armin dengan mata berbinar.
"Kau suka?" Armin mengangguk sebagai jawaban iya dan tanpa rasa malu ia menghabiskan kue itu.
Erwin menyentuh pipi chubby Armin dan mulai mencondong wajahnya mengecup pipi bulat itu, Armin menoleh dan mendapati pria dewasa itu tersenyum lembut padanya. Armin melihat sepasang mata yang sewarna miliknya tengah menatapnya intens hingga tanpa sadar remaja itu mendekatkan wajahnya dan mencium bibir sang pria.
Terkejut dengan tindaknya Armin mencoba menjauhkan wajahnya tapi tangan Erwin menahan lehernya dan mendorong mempersempit jarak diantara wajah mereka. Erwin melumat lembut bibir Armin dan tangannya membelai lembut tengkuk sang remaja membuat bulu kuduknya meremang mersakan sentuhan sang pria. Ciuman manis itu menjadi panas saat Erwin mulai memasukan lidahnya menjelajahi rongga mulut sang remaja, menyapu langit-langit mulut Armin membuat sang remaja mengerang nikmat.
Erwin menarik sang kekasih duduk di pangkuannya dengan lembut diremasnya pinggang Armin, ia merasakan nafas sang remaja memendek dengan terpaksa ia melepaskan tautan bibir mereka dan membiarkan remaja di pangkuannya meraih oksigen untuk mengisi paru-parunya.
Kedua bibir itu kembali bertaut dan Erwin dengan mudahnya membelit lidah mungil milik kekasihnya dengan lidah berpengalaman miliknya. Erwin benar-benar candu dengan bibirmungil yang sedang ia kulum terasa manis dan lembut.
"Erwinn!"
Kraukkk!!
"Ugghh!!"
Armin terkejut saat seseorang berteriak memanggil nama kekasihnya hingga tanpa sengaja ia menggigit lidah Erwin.
"Buahahaha!!!" Hanji berdiri di ambang pintu sembari memegangi perutnya. Ia sengaja berteriak memanggil sahabatnya yang terlihat sangat bernafsu mencumbu remaja polos dipangkuannya tapi ia tidak pernah menyangka Armin akan menggigit lidah sahabatnya.
Armin meraih tisu yang ada di meja dan menyerahkannya pada Erwin. "Maafkan aku Mr Erwin." Armin benar-benar merasa bersalah saat melihat ada banyak darah di tisu ketika Erwin meludah.
"Tidak apa-apa, ini bukan salahmu." Erwin membelai pipi Armin lembut menenangkan sang remaja yang terlihat berkaca-kaca, ia yakin remaja itu ingin menangis sekarang.
"Kau tidak perlu khawatir Armin chan, dia tidak akan mati hanya karna kau gigit lidahnya." Hanji tersenyum konyol dan melompat ke ranjang milik Erwin dan mengendus-ngendus kasur dengan seprei warna biru laut itu seperti seekor anjing.
"Apa yang kau lakukan?" Erwin bertantanya datar, ia sangat kesal pada sahabat perempuannya itu. Bukan saja sudah mengganggu waktunya bersama Armin tapi karena keisengan wanita berkaca mata itu lidahnya terluka.
"Oh, aku hanya sedang mencari bukti." Hanji menendang selimut milik Erwin kelantai matanya kembali menyapu tempat tidur Erwin lalu menghela nafas kecewa. "Hm jadi baru sampai tahap A."
"Tahap A? Apa itu?" Armin bertanya penasaran.
"Itu adalah tahapan hub--"
"Bukan apa-apa, jangan pedulikan wanita itu." Erwin memotong ucapan Hanji, ia menatap tajam sahabatnya itu. Hanji hanya tertawa seperti orang bodoh menanggapi sahabatnya.
Hanji, Erwin dan Levi saat muda membagi tahapan hubungan berdasarkan alfabet, A berarti menyatakan perasan dan berciuman, lalu B yang artinya berkencan dan C yaitu melakukan hubungan intim. Erwin pikir Armin tidak perlu mengetahui hal konyol yang Hanji buat saat muda.
Armin merasakan ponselnya bergetar, Kakeknya menelfon.
"Kakek ada apa?"
"Kau ada dimana? Kenapa belum pulang?"
"Ung, aku akan segera pulang." Armin mengakhiri panggilannya.
"Aku akan mengantarmu." Armin mengangguk dan maraih tasnya.
"Sampai jumpa Miss Hanji." Armin membungkuk pada gurunya. Hanji melambaikan tangan pada Armin.
Erwin sebenarnya masih ingin bersama kekasihnya tapi ia mengerti Kakek Arlert pasti menghawatirkan cucunya mengingat sejak kemarin Armin belum pulang. Mobil itu berhenti di depan rumah Armin tapi Erwin belum juga membuka kuncinya sehingga Armin tidak bisa keluar.
"Mr Erwin tolong buka--."
"Erwin panggil aku Erwin dan berhenti bersikap formal, kau kekasihku."
Armin mengangguk dan tersenyum malu-malu. "Erwin."
Erwin memeluk kekasihnya dan melumat bibir sewarna buah plum itu sebelum remaja pirang itu keluar dari mobilnya.
Armin memasuki rumahnya dengan perasaan bahagia, ia tidak pernah menyangka Erwin akan membalas perasaannya secepat ini. Ia berharap mereka akan terus saling mencintai tanpa tahu apa yang akan mereka hadapi nanti.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
Thanks for readding
Rieview please!!!
With love,
Ritsu
