Forbiden Love

.

.

Chapter 6

.

.

.

SnK (c) Hajime Isayama

.

.

.

Erwin Smith

Armin Arlert

Eren Yeager

Levi Ackermen

.

.

.

Drama, hurt/comfort, romance

.

.

.

WARNING!!! Typo, BL/Yaoi, DLDR!!!

.

.

.

happy reading

.

.

.

o0o

Cahaya senja menerobos jendela besar dan memantul pada rak yang dipenuhi buku, langit terlihat sedikit mendung Armin menutup buku yg sedang ia baca dan mengembalikannya ke rak. Ia harus segera pulang sebelum hujam mulai turun. Seharusnya ia bertemu Connie dan Sasha di Perpustakaan kota untuk mengerjakan tugas kelompok tapi kedua temannya itu tidak datang membuatnya terpaksa mengerjakan tugas itu sendiri. Yah sejak awal ia tidak berharap banyak pada kedua orang itu mengingat sifat keduanya. Mungkin saat ini Sasha sedang tidur dan bermimpi makan daging atau menonton dorama sembari memakan kentang rebus sementara Connie baru saja mengiriminya pesan jika ia lupa dengan tugas itu dan sedang bermain game di rumah si muka kuda.

Armin mempercepat langkahnya saat merasakan titik air mulai berjatuhan, ia harus segera mencapai halte bis yang masih cukup jauh sebelum hujan mulai deras. Remaja pirang itu berlari mencari tempat berteduh saat hujan turun dengan tiba tiba. Ia berdiri didepan sebuah toko sepatu bersama beberapa orang yang tidak membawa payung. Ia malas melihat ramalan cuaca karena itu ia tidak membawa payung.

Remaja pirang itu menoleh saat seseorang menyentuh bahunya, wajah cantik dengan senyum ramah menyapa indera penglihatannya, bibirnya terangkat keatas membentuk senyum manis membalas wanita yang berdiri dihadapannya.

"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya sang wanita sembari menaikan bingkai kaca matanya.

"Mengerjakan tugas di Perpustakaan kota."

"Kau tidak meminta Erwin menjemputmu?" Armin menggeleng sebagai jawaban. "Ayo." Wanita itu menarik Armin menerobos hujan.

"Miss Hanji kita mau kemana? Sekarang masih hujan." Armin mengingatkan wanita yang menariknya. Hanya tawa nyaring yang keluar dari bibir wanita berkaca mata itu.

Hanji membuka mobilnya dan mendorong Armin masuk, tubuhnya benar2 basah kuyup sekarang bahkan meski wanita itu membawa payung tapi ia sama sekali tak menggunakannya dan keadaannya tidak jauh berbeda dengan dirinya bahkan Armin dapat melihat bra yang tercetak jelas karena kemejanya yang basah menjadi transparan.

"Kenapa kau tidak meminta Erwin menjemputmu?" Lagi pertanyaan itu keluar dari mulut Hanji.

"Aku tidak ingin merepotkannya." Armin meremas tangannnya yang terasa dingin karena Ac mobil yang menyala.

"Aku yakin bahkan jika kafenya sedang terbakar ia akan langsung datang menjeputmu jika kau memintanya." Hanji menyeringai menyatakan secara tersirat jika ia adalah prioritas bagi Erwin bahkan lebih berharga dari kafe milik pria flamboyan itu. Meskipun terdengar hiperbolis tapi itu kenyataannya.

Armin hanya tersenyum canggung mendengar ucapan guru sekaligus sahabat dari kekasihnya. Sudah seminggu sejak terakhir kali ia bertemu Erwin, tugas sekolah yang banyak membuatnya tidak bisa mengunjungi kafe milik pria yang telah mengusai hatinya itu. Lagi pula ia dengar kekasihnya itu harus pergi ke Mitras bersama paman Mikasa untuk urusan bisnis dan ia baru kembali pagi ini.

"Ano ne Miss Hanji kita mau kemana?" Armin merasa asing dengan jalan yang mereka lewati, ia menatap gedung gedung tinggi disekitarnya.

"Ke rumahku, kau akan masuk angin jika tidak ganti pakaian." Hanji tersenyum lebar.

"Kita tidak akan basah kalau saja anda membuka payung yang anda bawa." Armin berusaha menahan rasa kesalnya namun tidak berhasil dan membuat Hanji tertawa keras melihat remaja pirang itu menggembungkan pipinya.

"Kita sampai." Hanji memarkirkan mobilnya di basement sebuah apartemen mewah.

Unit milik Hanji berada di lantai lima belas, Hanji menyeret Armin masuk dan membawanya ke sebuah kamar dengan nuansa putih.

"Mandilah, kau boleh memakai semua pakaian yang ada di lemari itu." Hanji menunjuk lemari yang ada disudut kamar.

"Ano Miss Hanji ini kamar siapa?"

"Erwin, ah aku lupa menberitahumu jika Aku, Levi dan Erwin tinggal bersama disini. Levi membeli apartemennya sendiri enam bulan yang lalu dan Erwin lebih sering menginap di kafe akhir akhir ini." Armin terkejut mendengar perkataan Hanji, ia tidak pernah tahu jika kekasihnya tinggal bersama sahabat sahabatnya selama ini. Armin merasa jika dirinya tidak tahu apapun tentang kekasihnya.

"Hei kau tidak cemburukan karena kami tinggal bersam?" Hanji menaik turunkan alisnya menggoda Armin.

"Tentu saja tidak!" Ujar Armin setengah berteriak ia lansung menutup mulutnya saat menyadari suaranya yang terdengar nyaring.

"Maaf, maksudku aku tidak cemburu pada anda karena anda adalah sahabat Erwin dan anda juga sudah memiliki tunangan." Armin mencoba menjelaskan dengan gugup.

"Heh, kau sudah tahu ya, apa Erwin yang menceritakannya padamu?" Armin mengangguk. "Kalau begitu mandilah kau bisa sakit nanti." Hanji keluar dari kamar itu.

Armin mersa lebih segar setelah mandi air hangat, sebuah senyuman menghiasi bibirnya. Sesekali ia mencium tangannya, ia menyukai aroma sabun ini. Aroma yang selalu ia cium dari tubuh kekasihnya, Armin menyadari jika kekasihnya selama ini tidak pernah memakai parfum.

Alis pirang itu terangkat tinggi menandakan sang pemilik bingung. Armin menatap isi lemari yang ada dihadapannya kemeja yang tergantung rapih, kaos dan celana yang terlipat rapih, sweater dan juga piyama yang ada di sisi lainnya. Armin menghela nafas dia bingung ingin meminjam yang mana karna ukurannya jelas terlalu besar. Ia meraih piyama berwarna hitam dan memakainya, ia tenggelam hanya memakai atasannya saja.kancing teratasnya ada ditengah dadanya. Bahkan tanpa memakai celana pun atasan itu hanya sepuluh senti diatas lututnya. Armin kembali masuk kemar mandi untung saja meski kehujanan celana dalamnya tidak basah sehingga bisa ia pakai lagi.

"Gyaaa!!!" Armin terkejut saat menoleh dan mendapati Erwin sedang bersandar di pintu kamar sejak kapan pria itu ada disana? Ia tidak mendengar suara pintu terbuka atau apapun.

"Erwin." Suara Armin terdengar seperti cicitan anak ayam.

.

.

o0o

.

.

Kafe menjadi sangat ramai karena hujan memaksa para pejalan kaki berteduh, dan sebagian dari mereka memilih memasuki kafe dan memesan segelas kopi untuk menghangatkan diri. Erwin menatap ponselnya, pesan terakhir dari kekasihnya adalah tiga jam yang lalu saat remaja itu memberitahunya jika ia akan mengerjakan tugas kelompok bersama teman sekelasnya di Perpustakaan kota. Ia baru saja akan mengirim pesan menanyakan apakah kekasihnya itu sudah selasai, Erwin berencana menjemputnya ia sangat merindukan kekasih mungilnya. Sebuah pesan dari Hanji menghentikannya.

Aku bersama Armin dirumah sekarang.

Erwin mengernyitkan alisnya, kenapa Armin berada ditempatnya dan Hanji. Pria itu segera melambaikan tangan pada Marco untuk menggantikannya. Ia mengambil coat miliknya dan segera keluar.

"Boss ingin pergi kemana?" Petra bertanya pada Marco, Erwin tidak pernah meninggalkan kafe dalam keadaan ramai.

"Dia tidak mengatakan apapun." Marco mulai membuat kopi pesanan pengunjung.

Erwin membuka pintu apartementnya dan mendapati sahabatnya sedang membuat coklat panas didapur.

"Di kamarmu." Hanji menjawab pertanyaan tersirat dari Erwin, dia tahu apa yang dicari sahabatnya meskipun pria itu tidak mengucapkannya.

Pria itu mengetuk pintu kamarnya tiga kali, meskipun itu terasa menggelikan mengingat ia memiliki hak penuh atas ruangan itu tapi kekasihnya sedang ada didalam ia hanya ingin menghargai privasi kekasihnya. Tidak ada jawaban dari dalam, Erwin kembali mengetuk dan masih sama.

Erwin membuka pintu itu perlahan, kosong. Tidak ada Armin di dalam kamarnya hampir saja ia kembali ke dapur dan memarahi sahabatanya karena sudah mengerjainya pintu kamar mandi terbuka, kekasihnya keluar dengan sebuah handuk melilit pinggangnya dan air menetes dari rambutnya. Dengan sangat perlahan Erwin menutup pintu dibelakangnya.

Mata sebiru langit itu memperhatikan kekasihnya yang tengah membuka lemari pakaiannya, Erwin menahan nafasnya saat Armin menjatuhkan handuknya kelantai, darahnya mengalir dengan cepat kepusat tubuhnya saat ia melihat tubuh polos sang remaja. Ia mencoba menahan dorongan hasratnya untuk menghimpit kekasihnya kelemari yang terbuka karena tubuhnya memanas.

Ia merasa sedikit lega saat Armin memakai piyama miliknya, Erwin mencoba mengatur nafasnya yang memburu. Namun nafasnya kembali tercekat saat Armin membungkuk mengambil handuk dilantai membuat Erwin dapat melihat dengan jelas sesuatu yang sangat diinginkannya sekarang.

"Iblis kecil." Erwin berguman dan menutup matanya saat sang kekasih kembali masuk ke kamar mandi. Ia tidak pernah tahu jika Armin akan menggodanya lebih tepatnya tanpa sadar menggodanya karna remaja yang masih duduk di bangku sma itu tidak tahu jika kekasihnya sedang mengintipnya berganti pakaian.

"Gyaaa!!!" Suara nyaring itu menyadarkan Armin dari fantasi liarnya, kekasihnya menatapnya terkejut dengan wajah memerah.

"Erwin." Armin menutup wajahnya menggunakan handuk yang ada dikepalanya. Ia malu karena memakai pakaian kekasihnya dan ia yakin pria itu sudah berdiri cukup lama disana.

"Maaf aku meminjam pakaianmu tanpa ijin." Armin mendengar langkah Erwin mendekatinya.

"Itu piyama favoritku tapi, sepertinya lebih cocok jika kau yang memakainya." Wajah Armin memerah, pria itu jelas sedang menggodanya karena piyama itu sangat kebesaran.

Erwin meraih handuk dikepala kekasihnya menggosoknya dengan lembut, membantu Armin mengeringkan rambutnya.

Armin mencium wangi kopi dari tubuh Erwin, jantungnya berdebar dengan kencang. Ini terlalu dekat, Armin berguman dalam hati. Tanpa sadar ia meremas kemeja Erwin sepertinya jantunganya akan meledak jika dia terus berada didekat kekasihnya.

"Erwin."

"Hm?"

"Se..sejak kapan, sejak kapan kau berdiri di sana?" Armin bertanya tergagap, akan sangat memalukan jika Erwin melihatnya sedang berganti pakaian.

Erwin menghentikan pekerjaan tangannya yang tengah mengeringkan rambut Armin, ia menunduk dan menemukan wajah kekasihnya yang merah sempurna.

"Kau. Sangat. Sexy. Gyutt!" Erwin berbisik sensual dan meremas pantat kekasihnya.

"Erwin ta..tanganmu." Armin mencoba melepaskan tangan kekasihnya yang masih meremas remas pantatnya dengan seduktif.

"Hm, ada dengan tanganku?" Erwin tersenyum menggoda, Armin merasakan jantungnya berdebar semakin cepat dan ia merasakan bulu ditubuhnya meremang.

"Ngh, Erwinh hentikan." Armin merasakan perasan tak nyaman namun menyenangkan.

Erwin meraih pinggang kekasihnya dan mangkunya diatas tempat tidur, Armin merasakan sesuatu yang keras menyentuh pantatnya. Pria itu melumat bibir kekasihnya dengan rakus tidak ada ciuman manis yang biasa ia berikan untuk kekasihnya. Erwin tidak lagi dapat menahan hasratnya untuk memiliki remaja itu.

"Nghhh...nnnhhh" Armin mengerang saat Erwin meraba perutnya, pria itu semakin menekan pusat tubuhnya pada bagian terpanas milik kekasihnya.

Erwin melepaskan tautan bibir mereka dan mencium rahang Armin terus turun meninggalkan jejak panas dan basah berakhir pada lekukan leher sang remaja, menghisap lembut kulit leher Armib meninggalkan bekas merah samar.

Armin merasakan kepalanya pening karena sentuhan sentuhan penuh kenikmatan yang diberikan kekasihnya, Erwin membaringkan tubuh top less remaja itu ke atas ranjang. Ibu jarinya menyentuh lembut nipel Armin mengirimkan sengatan pada tubuh polos dibawahnya. Erangan kembali lolos dari bibir mungil itu menjadi melodi indah ditelinga Erwin.

Kecupan seringan kepakan sayap kupu kupu Erwin daratkan dikedua nipel Armin membuat sang remaja menggelinjang nikmat. Erwin menarik turun celana dalam kekasihnya dan melihat pusat tubuh Armin telah berdiri tegak.

"Erwinh hentikanh nnnhhh." Armin merintih saat kekasihnya memanjakan miliknya.

"Kau yakin hm?" Erwin tidak menghentikan tangannya yang tengah menyentuh milik kekasihnya.

Tidak ada jawaban dari remaja dibawahnya, Armin membuka mulutnya berusaha meraih oksigen. Nafasnya terdengar memburu, Erwi tahu jika sebentar lagi kekasihnya itu akan sampai.

"Erwinh...Erwinhh ughhhh hah hah." Erwin merasakan tangannya lengket. Ia tersenyum melihat kekasihnya terkulai pasrah diatas tempat tidur. Erwin melepaskan kemejanya melemparnya asal kelantai, celanannya telah turun kemata kaki saat pintu kamarnya di ketuk lebih tepatnya dipukul dengan bar bar oleh dua remaja tak di undang.

DUK DUK DUK DUK DUK!!!!

"Armin apa kau baik baik saja?!" Erwin mengenali suara itu milik sahabat kekasihnya.

"Cepat buka pintunya dasar om om mesum." Erwin menggeram kesal mendengar suara datar seorang gadis yang mengatainya mesum.

DUK DUK DUK DUK!!!

"Armin kau tenang saja kami akan menyelamatkanmu!"

Dua remaja itu masih saja memukuli pintu kamarnya dan berceloteh tidak jelas. Erwin menatap kekasihnya yang tengah mengancingkan piyamanya, remaja pirang itu berniat meninggalkannya dalam keadaan menyedihkan.

"Erwin Mikasa dan Eren ada diluar." Bahkan meski Armin tidak menyebutkan nama dua pengacau itu ia sudah tahu siapa dua mahluk kurang ajar yang terus menggedor pintu kamarnya.

"Armin, kau tidak bisa meninggalkanku sekarang." Erwin mencoba menahan kekasihnya.

"Aku hanya menemui Eren dan Mikasa."

Ya Tuhan Erwin ingin sekali mengikat kekasihnya diatas ranjang dan mengabaikan suara serangga diluar sana. Kekasihnya terlalu polos untuk memahami keadaannya yang membutuhkan pelepasan dan lebih peduli pada sahabatnya yang telah mengganggu kegiatan mereka. Tanpa mengatakan apapun Erwin meraih pakainnya dan masuk kedalam kamar mandi.

Armin mendapati kedua sahabatnya dan Hanji di depan kamar Erwin, Mikasa menatapnya penuh selidik dan Hanji tertawa lebarbseperti orang bodoh.

"Dimana Erwin?" Hanji melongokan kepalanya ke dalam kamar.

"Aku rasa sedang mandi."

"Buahahahahha..." Hanji tertawa sangat keras ketiga remaja itu menatap heran gurunya, apanya yang lucu dari jawaban Armin sehingga membuatnya tertawa sampai berguling dilantai seperti orang kerasukan.

"Oi mata empat kau sudah gila ya?" Mikasa menatap Hanji jijik.

"Oh Erwin yang malang ha..ha..ha..ha..ha..." Kali ini Hanji memukul lantai.

"Abaikan dia," Mikasa menarik perhatian kedua sahabatnya dari tingkah gila Hanji. "Aku membawa pakaian ganti untukmu karna dia memberitahuku jika kaubkehujanan dan berada dirumahnya." Mikasa menyerahkan papper bag pada Armin.

"Terimakasih."

.

.

o0o

.

.

Hanji kembali tertawa saat melihat Erwin datang dan bergabung dengan mereka diruang tamu.

"Kau benar-benar sudah gila." Mikasa menatap datar Hanji.

"Tunggulah beberapa tahun lagi dan kau akan mengerti litle Ackerman." Hanji mengerling pada Mikasa.

"Kau tidak melakukan sesuatu pada Armin kan?" Mikasa menatap tajam Erwin yang baru saja duduk disebelah pamannya.

"Kau harus sopan pada yang lebih tua bocah tengik." Levi memperingati keponakannya yang bersikap kurang ajar pada kedua sahabatnya.

Mikasa memalingkan wajahnya kesal, pamannya benar-benar menyebalkan bahkan tadi ia tidak mau mengantarnya kerumah Hanji dengan alasan tidak jelas. Kalau saja Eren tidak datang membawa pakaian ganti milik Armin pamannya itu tidak akan pernah mengantarnya atau bahkan sekedar memberikan alamatnya.

Erwin menatap kekasihnya yang tengah meminum coklat hangat, ia memakai sweater berwarna biru tua dan jeans selutut berwarna hitam. Merasa ada yang memperhatikan Armin menoleh iris sebiru langitnya bertemu dengan sepasang mata yang nyaris serupa dengan miliknya tengah menatap dirinya intens. Rona merah menjalari wajah Armon.

"Kau kenapa? Wajahmu merah apa kau demam?" Eren bertanya hawatir dan dijawab dengan gelengan kepala oleh si pirang.

"Armin ayo kita pulang." Eren menatap jam di dinding apartement Hanji sudah pukul delapan malam.

"Ung, aku rasa kakek akan hawatir karna q terlambat pulang."

"Aku sedang memesan makan pizza sebentar lagi pasti sampai, lagi pula kalian belum makan malam kan." Hanji mencoba menahan ketiga remaja itu untuk tetap tinggal.

"Aku tidak ingin merepotkan anda lebih banyak lagi miss Hanji." Armin merasa tidak enak pada gurunya itu jika harus tetap tinggal.

"Jangan dipikirkan, aku senang jika kau dan Eren ada disini." Hanji tertawa, perempatan siku muncul di dahi Mikasa. Apa wanita gila di hadapannya baru saja mengatakan jika dirinya tidak pernah diinginkan disana. Padahal satu jam yang lalu dia menelefonnya dan mengatakan jika Armin ada dirumahnya bersama Erwin.

"Eh? Ada apa Mikasa? Kenapa kau menatapku seperti itu?" Hanji memasang wajah polos membuat Mikasa semakin kesal.

Mikasa pasti sudah menendang wajah Hanji jika saja bel tidak berbunyi dan membuat wanita berkaca mata itu berlari seperti seorang anak kecil ia kembali keruang tamu membawa 4 box pizza yang disambut sorakan girang dari Eren.

Armin mengambil tasnya yang berda di kamar Erwin, pria itu mengikutinya. Remaja itu mersakan sepasang tangan memeluknya dari belakang.

"Menginaplah, aku merindukanmu." Erwin meminta kekasihnya untuk menemaninya malam ini. Ia menelusupkan kepalanya dilekukan leher Armin menghirup wangi tubuh kekasihnya.

"Maafkan aku, aku tidak bisa kakek sedang kurang sehat." Armin menyentuh tangan kekasihnya dan meremasnya lembut.

"Baiklah," Erwin melepaskan pelukannya dan memutar tubuh kekasihnya. "Datanglah ke kafe besok." Armin mengangguk dan berjinjit mengecup pipi kekasihnya.

Erwin ingin menantar kekasihnya pulang tapi Mikasa dan Eren tidak menyetujuinya, mereka menganggap Armin tidak akan aman jika bersamanya. Sebenarnya apa yang kedua remaja itu pikirkan tentangnya, ia bukan seorang kriminal dan lagi pula remaja pirang itu adalah kekasihnya sangat tidak mungkin ia melukai Armin.

"Oi Erwin! Apa kau menikmatinya?" Hanji tertawa mengejek.

"Cih." Erwin mendecih danmengabaikan Hanji. Ia tahu sahabat wanitanya itu sengaja melakukan semua itu.

"Hei aku tidak menyangka jika kau ingin menerkam Armin seperti itu hahahaha." Hanji tertawa mengingat bagaimana keadaan Armin saat membuka pintu, rambut berantakan, wajah merah dan nafas yang sedikit tersenggal serta beberapa bercak merah samar di leher.

"Berterimakasihlah padaku sobat." Hanji tersenyum bodoh dan menepuk nepuk bahu Erwin.

Pria bersurai pirang itu menyandarkan tubuhnya pada sofa, ia tidak bisa melupakan bayangan kakasihnya saat diatas ranjang. Tanpa sadar miliknya kembali mengeras hanya mengingat bagaimana kekasihnya mengerang dan mendesah.

"Shit!" Erwin bangkit dari sofa menuju kamarnya.

"Erwin apa kau butuh bantuan? Aku akan dengan senang hati membantumu!" Hanji berteriak menggoda sahabatnya.

"Tutup mulutmu dan enyahlah." Erwin menggeram marah dan tawa Hanji semakin keras.

.

.

.

Tbc

.

.

.

a/n : maaf atas ketrlambatan update ff ini. bulan juli kemaren q flare dan harus dirujuk ke Bandung. sebenernya dari awal taun q udah mulai drop karna obat obatan buat penyakit q ga di kasih ma RS di Cirebon dengan alasan kosong. keluhan aku makin banyak dan berakhir flare ampe harus pake kursi roda karna nyeri sendi akut. alhamdulillah sekarang q udah baikan n ga harus ke bandung lagi karna obat yg dokter RSHS resepin juga ada disini. q harap chap ini cukup bagus karna q juga kena brain fog jadi lupa alur ff ini dan ga tau kenapa smua draft q di aplikasi ffn ilang T.T

thanks buat yg kemaren udah review, kalian bikin a semangat buat fight penyakit q n ngelanjutin ff ini.

Thanks for reading

RnR please!!!!

With love,

Odapus girl

161118