-MY BODYGUARD-

Story by cha-chan.d-psycoholic

Naruto by Masashi Kishimoto

Warning: AU. OOC. Yaoi

Chapter 2


Ruang kerja Namikaze Minato.

"Jadi.. dia bodyguardku yang baru?" tanya Naruto pada orang-orang dewasa yang mengelilinginya. Di ruangan kerja yang lumayan besar itu saat ini berisikan Naruto, Sasuke dan kakaknya, Itachi, Iruka, dan –tentu saja sang pemilik ruangan kerja itu sendiri- Namikaze Minato. Mereka semua –kecuali Iruka yang dengan setia berdiri di samping majikannya- duduk mengelilingi sebuah meja kayu berornamen di ruangan itu.

Itachilah yang pertama kali angkat bicara. "Betul sekali, Tuan Muda.. Dia adalah adik saya satu-satunya," ujarnya sambil menatap adiknya yang sedari tadi masih salah tingkah. "Sepertinya Anda sudah bertemu dengannya tanpa sengaja tadi siang. Saya harap Anda bisa menerimanya dengan baik."

"Ya ya ya.. Menerimanya dengan baik setelah setelah dia mengata-ngataiku tadi siang?" tanya Naruto dengan suara yang terkesan bosan.

Mereka semua –minus Sasuke- memandang Sasuke dengan pandangan bertanya. Itachi malah menatap adiknya dengan pandangan yang seolah-olah mengatakan apa-kubilang-tadi-jangan-buat-masalah. Yang ditatap semakin salah tingkah.

"Ma.. maafkan saya, Tuan Muda.. Saya.. Saya tidak tahu kalau Anda adalah majikan saya yang baru.." ujarnya terbata-bata, tanpa mengalihkan pandangannya dari lantai.

"Pandang lawan bicaramu, Uchiha.." desis Naruto.

Sasuke tersentak mendengarnya. Dia merasa sangat heran, anak laki-laki periang yang tadi siang dikenalnya sekarang sudah tergantikan dengan seseorang yang –menurutnya- berbeda.

Perlahan-lahan, Sasuke mengangkat kepalanya hanya untuk mendapati bahwa Naruto tengah memandangi dirinya dengan tatapan jahil dan cengiran di sudut bibirnya, yang segera berubah menjadi tawa .

"Hahaha!!!" Kembali, orang-orang di ruangan itu mengalihkan pandangannya, tapi kali ini kepada Naruto.

"Hmph.." Naruto berusaha menghentikan tawanya dengan sekuat tenaga. "Mukamu yang ketakutan seperti itu sungguh lucu sekali!!!"

Sasuke, yang sepertinya lupa dengan siapa dia sedang berbicara, merasa kesal dibodohi seperti itu. "Jangan main-main denganku, Dobe!" ujarnya sambil berdiri dan dan menggebrak meja yang ada di hadapannya.

Seketika itu juga, keheningan tiba-tiba datang menjelma. Sasuke yang sadar akan kesalahannya, kembali duduk dengan kepala yang menunduk dalam-dalam. "Go.. gomen.."

Kemudian, Naruto berdiri dengan tiba-tiba dan berjalan menuju ke arah pintu keluar. Iruka yang pertama-tama mengambil tindakan.

"Tu.. Tuan Muda mau ke mana?" tanyanya sambil menghampiri Naruto yang sudah mencapai ambang pintu.

Naruto berbalik dan berkata, "Mau ke kamar. Pembicaraan ini sudah selesai, kan?"

Sasuke merasa kedudukannya terancam, ditambah lagi pandangan kakaknya yang serasa menusuk tulang dan terus menyalahkannya, segera berdiri dan berjalan ke arah Naruto.

"Ma.. maafkan saya, Tuan Muda! Saya tadi.. kehilangan kendali.." Dibungkukkannya badannya dalam-dalam. "Saya.. saya janji, hal seperti itu tidak akan terulang lagi.. Tolong beri saya kesempatan lagi.."

"Iruka.. bawa dia pergi.."

"Eh? Ta.. tapi Tuan Muda.." Iruka berusaha membela Sasuke yang masih membungkukkan badannya.

Itachi yang merasa kasihan pada adiknya turut berdiri dan menghampiri Naruto kemudian ikut membungkukkan badannya. "Maafkan adik saya yang bodoh ini, Tuan Muda.. Sepertinya saya kurang keras dalam mendidiknya.."

"Kubilang bawa dia pergi Iruka.. Ini perintah.."

"Tuan.."

"Sudahlah Iruka.. kalau itu memang kemauan Naruto, turuti saja.." Akhirnya Minato pun buka suara, masih duduk di tempatnya. "Kita bisa mencari bodyguard lain lagi besok.."

Naruto mendengus mendengarnya. "Siapa yang bilang harus cari bodyguard lain? Aku hanya bilang untuk membawanya pergi.. bukan minta dicarikan bodyguard baru. Untuk apa?"

"Tapi tadi.." Iruka berusaha mencerna perkataan majikannya itu.

"Aku menyuruhmu untuk membawanya pergi.. ke kamarnya.."

Sasuke tersentak mendengarnya. Diangkatnya kepalanya untuk memandang Naruto. "Jadi.. saya tidak dipecat?"

"Aku tidak ingat pernah bilang begitu.. Hitung-hitung balas budi karena melibatkanmu dalam masalah seperti ini.."

Sasuke sungguh tidak percaya akan apa yang didengarnya. Anak laki-laki di hadapannya ini sungguh tidak bisa ditebak.

"Te.. terima kasih Tuan Muda.. Terima kasih banyak.." ujar Sasuke yang diikuti oleh kakaknya.

"Ya ya ya.. terserah.." kata Naruto sambil melangkah ke luar ruangan. Kemudian, dia berbalik lagi. "Dan aku mau ramen untuk makan malamku, Iruka.. Tolong bawakan ke kamarku.."

Tanpa disangka, Iruka tersenyum jahil. "Wah, maafkan saya Tuan Muda.. tapi tidak ada ramen selama seminggu sebagai hukuman karena Tuan Muda kabur dari rumah dan membuat semua orang khawatir.. Sepertinya saya sudah mengatakan hal itu pada Tuan Muda.."

Naruto terkejut mendengarnya. Mulutnya sedikit terbuka.

"Mari Sasuke-kun, akan saya tunjukkan kamar anda.." kata Iruka tanpa mempedulikan Naruto yang membatu di depan pintu. Sasuke mengikutinya tanpa banyak bicara. Terlalu takut untuk mengeluarkan suara melihat Naruto yang sepertinya sudah siap untuk meledak.

Setelah beberapa langkah, mereka bisa mendengar suara menggelegar yang untuk kedua kalinya mengagetkan seisi rumah itu.

"UMINO IRUKA!!! DILARANG PACARAN DENGAN KAKASHI SELAMA SEMINGGU!!!"

Dan dengan teriakan itu, wajah Iruka berubah menjadi merah padam, Sasuke dan Itachi terbatuk-batuk, dan Minato terjungkal dari kursinya.

XxXxX

NARUTO'S POV

Aku memandang anak laki-laki di sebelahku. Tatapannya lurus menatap jalan di depannya. Langkahnya tegap, berjalan tanpa ragu. Kemudian, sepertinya dia merasa aku memperhatikannya karena dia mengalihkan pandangannya padaku.

"Ada apa, Tuan Muda?" tanyanya.

Ugh.. aku tidak suka panggilannya padaku itu. Seakan membuat perbedaan status antara aku dan dia semakin jelas.

"Tidak ada apa-apa kok.." jawabku sambil mengalihkan pandanganku.

Kami kembali melanjutkan perjalanan dalam diam. Jam pelajaran pertama akan dimulai 30 menit lagi, dan kami akan sampai di sekolah dalam waktu 10 menit. Masih banyak waktu..

Hei, kalian mungkin berpikir, kenapa aku, sang pewaris tunggal Namikaze Corporation yang sangat sukses itu pergi sekolah dengan jalan kaki? Ya, jawabannya mudah. Aku hanya ingin menjadi anak biasa seperti yang lainnya. Aneh kan?

Mungkin untuk kalian, pergi ke sekolah dengan berjalan kaki, tertawa bersama teman-teman adalah hal yang sangat biasa, bahkan terkadang membosankan. Tapi untukku, itu adalah hal yang amat kuimpikan.

Biasanya, aku melihat anak-anak seumuranku bergembira hanya dari kaca mobil yang kutumpangi. Pulang sekolah pun aku tidak bisa bermain bersama dengan yang lainnya. Ayah mengharuskanku untuk langsung pulang begitu bel sekolah berbunyi. Ini menyebabkanku tidak punya banyak teman. Begitu pula dengan bodyguard-bodyguard yang ayah sewa. Selama ini, tak ada yang betah dengan kelakuanku. Aku sering kabur begitu mereka lengah. Dan seringkali aku sengaja membuat masalah agar mereka cepat-cepat mengundurkan diri atau malah dipecat. Bukannya aku punya dendam pribadi dengan mereka. Hanya saja, coba kau rasakan bagaimana diawasi selama 24 jam oleh seseorang. Jujur saja, tidak enak!!!

Tapi sekarang, ayah mengijinkanku untuk pergi dengan berjalan kaki. Yippi!! Senang sekali aku rasanya. Terima kasih kepada Sasuke yang sudah berhasil membantuku untuk membujuk ayah.

Ah.. Sasuke.. Aku kembali menatap anak laki-laki berambut hitam itu. Wajahnya tanpa ekspresi, seperti biasa. Walaupun aku tahu, dia juga memiliki berbagai macam akspresi yang tidak pernah diperlihatkannya pada siapa pun. Apalagi senyumnya. Meski aku baru sekali melihatnya, tapi itu cukup untuk membuatku tetap mengingatnya.

Dan baru sekali ini aku merasa nyaman berada di dekat bodyguardku. Selama ini aku selalu berusaha untuk sejauh mungkin dari mereka. Tapi di dekat Sasuke terasa sangat.. berbeda. Hangat. Nyaman. Seperti waktu dia memelukku di hari pertama kami bertemu. Aku masih bisa samar-samar merasakan kehangatan tangannya yang melingkar di tubuhku.

Tiba-tiba, aku teringat akan sesuatu..

"Sasuke.." Dia mengalihkan pandangannya padaku.

"Hn?" katanya singkat.

"Tolong jangan panggil aku Tuan Muda di sekolah ya? Sepertinya sedikit.. memalukan.. Lagipula, mulai hari ini kau akan jadi kakak kelasku,kau kelas 4, sedangkan aku kelas 3, jadi paling tidak, kau bisa panggil namaku.."

Dia terlihat ragu. "Baiklah, Tuan Mu.."

"Naruto," potongku, "dan jangan tambahkan embel-embel apapun di belakangnya."

"Baiklah.. Naruto.."

Aku tersenyum mendengarnya.

"Ah.. dan terima kasih ya.." tambahku ketika gerbang Konoha Elementary School sudah terlihat di depan mata.

"Untuk?" Mata hitamnya menatap bingung.

Senyumku bertambah lebar. "Untuk menjadi orang pertama yang bersedia berteman denganku.."

Sasuke menghentikan langkahnya, tapi aku terus berjalan menuju gerbang dengan mantap meninggalkan Sasuke yang entah sedang memikirkan apa.

END OF NARUTO'S POV

-

SASUKE'S POV

"Untuk menjadi orang pertama yang bersedia menjadi temanku.."

Kata-kata itu dengan sukses membuat wajahku menjadi matang. Bukan hanya itu. Dia tersenyum padaku. Padaku! Bukan pada orang lain.

Argh! Ada apa sih denganku. Sejak bertemu dengan Naruto, sepertinya aku terlalu banyak mengeluarkan ekspresi. Tapi, aku tidak keberatan jika yang melihat semua itu adalah Naruto. Jauh di dalam hati, aku ingin agar dia mengetahui diriku lebih banyak lagi, sebagaimana aku ingin tahu segala hal tentang dirinya.

Dan sejak saat ini, aku, Uchiha Sasuke, bersumpah akan selalu menjaga agar senyuman itu akan terus ada di wajahnya.

I'm promise.

-TO BE CONTINUED-


Er.. review?