Hurray!!

Chapter ini baru dibuat tadi pagi n langsung di apdet!

Dan Cha jamin, chapter ini lebih panjang dari yang sebelumnya...

mulai dari chapter ini, usia semua tokoh berubah...

Naruto : 17 tahun

Sasuke : !8 tahun

Sai : 22 tahun

warning: Yaoi

Naruto is belong to Masashi Kishimoto

###############################################################################################

8 tahun kemudian

"Tuan Muda…" pemuda berambut hitam itu mendekati ranjang bernuansa orange di depannya. Sebenarnya bukan hanya ranjang itu saja yang berwarna orange, tapi sebagian besar warna yang mendominasi kamar yang cukup luas itu pun berwarna serupa.

"Tuan Muda… kalau anda tidak cepat-cepat bangun, anda akan ketinggalan upacara pembukaan…" katanya sambil berusaha menarik selimut yang menyembunyikan tubuh seorang pemuda pirang di dalamnya.

"… ma… nit…" hanya kata-kata itu yang berhasil meluncur dari bibir pemuda yang kini berusaha menyembunyikan kepalanya di bawah bantal.

Walaupun tidak mendengar dengan jelas apa yang diucapkan pemuda yang lebih muda darinya itu, dia mengerti bahwa maksud dari kalimat itu adalah lima menit, yang bisa diartikan juga sebagai 'biarkan-aku-tidur'. Pengalaman membangunkan pemuda itu selama 8 tahun membuatnya hapal dengan kelakuan-kelakuannya dan trik-trik yang ampuh untuk membuatnya terbangun.

"Yah… kalau begitu, aku harus bilang pada Kakashi-san bahwa Tuan Muda tidak minat untuk sarapan," dia menghentikan ucapannya sebentar, "padahal ramen hari ini sepertinya spesial… sayang sekali…"

Dan dalam hitungan detik, pemuda berambut pirang itu menendang selimutnya dan loncat dari tempat tidurnya kemudian menuju pintu keluar tanpa menyadari bahwa dia tidak mengenakan apapun selain boxer berwarna –lagi-lagi – orange cerah yang melekat di tubuhnya.

Tapi bergerak secepat apapun, pemuda berambut hitam itu berhasil menangkap bahunya dan mengarahkannya ke kamar mandi yang ada di dalam kamar itu. "Tidak sebelum anda mandi, Tuan Muda…"

"Oh… Ayolah Sasuke… kamar mandi tidak akan ke mana-mana… aku masih bisa mandi sehabis makan…" pemuda pirang itu merajuk, mengeluarkan tatapan khasnya yang bisa membuat semua orang menuruti permintaannya, puppy eyes no jutsu andalannya. Semuanya, kecuali Sasuke sepertinya.

"Dan anda masih tetap bisa makan ramen setelah anda mandi…" kata Sasuke. "Dan Tuan Muda… saya bukan lagi anak kecil yang mudah tertipu oleh tatapan Tuan itu…" lanjutnya sambil menyeringai.

"Ugh… kamu nggak asik ah!" Naruto menutup pintu kamar mandi dengan membantingnya. Sasuke hanya bisa menarik napas panjang.

Delapan tahun sudah berlalu sejak saat itu. Naruto tetap menjadi seorang Tuan Muda Manja yang kekanak-kanakkan, dan Sasuke tetap menjalankan tugasnya dengan baik dengan menghindarkan Naruto dari hal-hal yang membahayakan dirinya dan orang lain. Tak ada yang berubah…

…betulkah begitu?…

Mungkin tidak. Hanya saja, Sasuke tidak ingin mengakui kehadiran desir-desir halus yang melanda hatinya ketika melihat Naruto tersenyum. Yang membuatnya setiap saat ingin selalu berada di dekatnya. Bahagia ketika melihatnya tertawa dan memeluknya ketika sedang bersedih. Dia tahu, ada perasaan lain selain kepada majikan dan bawahan. Perasaan yang lain, yang tidak pernah dirasakannya pada orang lain. Perasaan yang tidak bisa di dekripsikan oleh otak jeniusnya. Perasaan yang ia tak tahu namanya…

"Cklek.."

Sasuke menghentikan lamunannya ketika mendengar suara pintu yang dibuka.

Naruto keluar dari kamar mandi hanya dengan selembar handuk yang melilit di pinggangnya. Entah kenapa, Sasuke berharap ada angin yang menerbangkan handuk itu dan membuat apa yang berusaha ditutupi oleh selembar kain tersebut terekspos di depan matanya –oh… you're such a naughty boy, Sasuke…-

Naruto memandang Sasuke dengan tatapan bertanya-tanya. "Ne, teme, kenapa kau melihatku seperti itu?" dia mengalihkan pandangannya kemudian berjalan menuju lemari pakaiannya untuk mengambil seragam sekolahnya. Sasuke masih tidak merespon.

Setelah menutup kembali pintu lemarinya, dia melangkah ke arah Sasuke sambil sebelah tangannya masih memegang bajunya yang serupa dengan yang Sasuke pakai sekarang.

Kemudian dengan tersenyum jahil, dia berbisik di telinga kiri Sasuke, "Apa kau mau membantuku berganti baju, Sa-su-ke?"

Sasuke bergidik ketika merasakan napas hangat Naruto menerpa telinganya. Rambut pirang Naruto yang basah menyentuh pipinya, membuatnya bisa mencium harum jeruk yang menguar dari tubuhnya. Dia menyentuh pundak Naruto dan mendorongnya menjauh.

"A… aku tunggu di bawah…" kata Sasuke dengan gugupnya. Wajahnya sudah sewarna dengan makanan kesukaannya, tomat.

Ketika sampai di luar kamar dia masih bisa mendengar suara tawa Naruto dan kata-katanya, "Kita satu sama sekarang, Sasuke!"

Sialan! Rutuk Sasuke dalam hati.

#

#

SASUKE'S POV

"Ayo cepat sedikit Sasuke! Kita bisa terlambat nanti!"

Aku hanya melirik pemuda pirang di sampingku sambil terus berkonsentrasi pada jalanan di depanku.

"Berhenti mengeluh, Tuan Muda. Anda sendiri yang membuat kita terlambat seperti ini."

"Argh! Makanya biarkan aku yang menyetir! Aku pasti bisa lebih cepat darimu!"

"Anda belum punya SIM, Tuan…"

"Bulan depan aku sudah 17 tahun!"

"Kalau begitu, tunggulah sampai bulan depan," kataku tenang. Delapan tahun hidup satu atap dengannya membuatku maklum akan sikapnya yang suka seenaknya sendiri.

"Teme jelek!" Naruto merajuk. Pipinya digembungkan dan kedua tangannya disilangkan di depan dadanya.

"Anda tidak pernah bisa dewasa, Tuan Muda…" desisku.

"Apa peduliku!" dia mengalihkan pandangannya keluar jendela. "Kalau tahu begini sih, lebih baik aku berangkat dengan Sai-niisan saja…"

CKKKITT…

Tanpa sengaja, aku menginjak rem dan sukses membuat jidat Naruto berciuman dengan dashboard hingga mengeluarkan bunyi 'dukk' kecil.

"APA MAKSUDMU, TEME!" ujarnya sambil menggosok-gosok dahinya yang sekarang berwarna merah muda. "Bahkan tanpa SIM pun, aku bisa mengemudi lebih baik daripada kau…"

"Go… gomen… hanya saja…" aku bingung mencari kata-kata. "Saya memang sering mendengar anda memanggil Sai dengan sebutan 'aniki', tapi baru kali ini saya mendengar anda memanggilnya dengan sebutan… er… Sai-niisan." Aku kembali menyalakan mesin dan menjalankan mobil.

Naruto terdiam sebentar sebelum menjawab, "Bukan urusanmu, Teme…"

Aku tersenyum kecil, "Jawaban yang sudah diduga…"

Ingatanku melayang pada seorang pemuda yang mungkin kalau kau lihat secara sekilas terlihat seperti… aku. Mata dan rambut hitam yang mirip sepertiku.

Tapi jika kau perhatikan dengan seksama, maka akan ada perbedaan yang mencolok dari kami berdua. Wajahku yang selalu tanpa ekspresi dan terkesan kaku, sedangkan Sai adalah seorang yang tak pernah kehilangan senyum dari wajahnya. Tak pernah ada ekspresi lain yang ditunjukkannya pada orang-orang di sekitarnya, sehingga dia terkesan tidak punya masalah. Padahal, jauh di dalam hatiku, aku yakin senyum yang digunakannya adalah topeng untuk menyembunyikan segala macam perasaan yang berkecamuk dalam hatinya.

Sai Mizuno. Usianya baru 22 tahun. Pemuda jenius yang menarik perhatian banyak orang. Lulus cum laude dari Konoha University pada usia 20 tahun. Sekarang dia adalah tangan kanan yang sangat dipercayai oleh Namikaze Minato. Tentu saja, selain karena prestasinya, Minato-sama pun sudah mengenalnya dengan sangat baik.

Dia adalah anak angkat dari tukang kebun keluarga Uzumaki, Akira Mizuno. Dia dibawa ke Uzumaki's mansion pada usia 8 tahun –usia Naruto saat itu masih 3 tahun-. Minato-sama yang menyadari kejeniusannya, akhirnya menyekolahkannya hingga perguruan tinggi untuk membantu pekerjaannya dan Naruto kelak. Dan entah kenapa aku merasa, Sai itu sedikit… berbahaya. Maka dari itu, walaupun kami tinggal bersama-sama selama delapan tahun ini, aku sangat jarang berbicara dengannya. Tapi kebalikan dari diriku, Naruto amat menyayangi Sai… sebagai KAKAK! Ingat, sebagai KAKAK! Tidak lebih dan tidak kurang! Karena kalau lebih dari itu, aku rasa aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri.

Aku kembali memfokuskan pandangan dan pikiranku pada jalanan ketika aku melihat gerbang sekolah kami, Konoha High School. Banyak siswa yang sudah datang, bergerombol dengan teman-temannya sambil bertukar cerita sewaktu liburan ataupun hanya sekedar menanyakan kabar. Pertanyaan basa-basi. Beberapa anak berdiri sendiri-sendiri, menjauh dari kerumunan, mencoba beradaptasi dengan lingkungan yang asing baginya. Anak baru.

Setelah mendapatkan tempat kosong untuk parkir, aku dengan hati-hati memarkirkan mobil yang masih mulus itu. Tentu saja, tergores sedikit saja, maka Minato-sama akan menggantinya sesegera mungkin. Dasar orang kaya.

"Welcome back to school…" desis Naruto.

"Anda kelihatan tidak senang, Tuan Mu…" belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, seorang pemuda memanggil Naruto.

"Hey, Naruto!" pemuda beralis tebal itu merangkul pundak Naruto. "Sudah siap untuk memulai tahun ajaran baru ini dengan semangat jiwa mudamu?!" Naruto diam, kentara sekali dia tidak suka diperlakukan seperti itu.

"Bagus…!!" rupanya diamnya Naruto dianggap sebagai tanda setuju oleh pemuda itu. "Kalau begitu, ayo kita tularkan semangat masa muda ini kepada yang lainnya…" dia menarik tangan Naruto menuju gedung bertingkat 4 berwarna hijau-kuning di hadapannya. "Ah… dan selamat pagi, Sasuke-senpai…" ujarnya sebelum membawa 'kabur' Naruto ke dalam kerumunan orang-orang.

Aku hanya tertawa kecil melihat sedikit adegan yang yang sudah jadi santapan sehari-hari ini. Ada rasa senang yang menyelusup ke dalam hatiku. Karena akhirnya, Naruto memiliki teman-teman yang menerima dirinya apa adanya, tulus, dan tak pernah mempermasalahkan statusnya.

Ah… dan satu hal lagi. Di sekolah ini –sepertinya- tidak ada yang tahu tentang hubunganku dan Naruto sebagai majikan dan bawahan. Yang mereka semua tahu adalah bahwa aku sepupu jauh Naruto yang tinggal bersama dengannya karena orang tuaku sudah meninggal. Sebagian benar, dan sebagian lagi… bohong. Yah… terkadang ada baiknya sebuah kenyataan harus disembunyikan bukan??

#

#

NARUTO'S POV

Minggu yang buruk untuk memulai tahun ajaran baru. Lee, yang sepertinya sudah hafal dengan jadwalku datang ke sekolah, sekarang selalu menungguku di tempat parkir dan kemudian 'menculikku' untuk menyebarkan apa yang disebutnya sebagai 'semangat masa muda'. Dan dalam pembagian kelas –sepertinya Tuhan sedang membenciku- aku harus sekelas, bahkan sebangku, dengan dia! Haah… menyebalkan. Bukannya aku tidak suka pada Lee, dia cukup menyenangkan kok. Hanya saja… yah, tahu sendirilah bagaimana sifatnya.

Dan sudah hampir seminggu ini, Ayah dan Sai-niisan tidak pulang. Mereka bilang ada urusan bisnis di Suna. Jadi, di rumah sebesar ini hanya di huni oleh aku, Sasuke, Kakashi, Iruka, bibi Yumiko, dan beberapa pembantu yang lain juga penjaga-penjaga yang bahkan aku tidak hapal namanya. Tapi beberapa dari mereka tidak tinggal di rumah ini. Hanya bekerja dari pagi hingga sore hari, kemudian pulang ke rumah masing-masing ketika malam hari.

Kakashi, 30 tahun, adalah koki di rumah ini. Walaupun sifat mesumnya itu sangat menyebalkan, tapi harus kuakui masakannya adalah yang nomor satu. Sedangkan Iruka, 28 tahun, adalah kepala pelayan di sini. Tugasnya mengomandoi pelayan-pelayan lainnya agar melakukan tugas masing-masing dengan benar. Orangnya sangat menyenangkan. Dia memperlakukanku seperti anaknya sendiri. Oh, dan aku sudah tahu sejak lama kalau mereka berdua itu punya semacam… er… hubungan khusus. Pernah suatu malam aku terbangun di tengah malam karena lapar dan mendapati mereka berdua sedang… berciuman. Lebih tepatnya sih, Kakashi yang 'menyerang' Iruka. Nafsu makanku hilang seketika.

Bibi Yumiko, usianya sudah 57 tahun, tapi fisiknya masih sangat baik. Dia adalah pengasuhku. Sebelumnya, dia adalah pengasuh ayahku. Wanita yang sangat bijak. Sebenarnya Ayah sudah menyuruhnya untuk pensiun saja, tapi dia berkata bahwa dia tidak akan melepas tanggung jawabnya hingga aku dewasa. Yah… bukan salahku kalau sikapku kekanak-kanakkan kan?

Dan terakhir, tentu saja aku dan Sasuke, penghuni rumah yang paling setia. Ayah jarang memperbolehkanku untuk pergi keluar selain untuk sekolah. Ayah menjadi begitu overprotektif padaku sejak kematian ibu yang bisa dibilang cukup… tragis. Dan tidak pernah menyenangkan untuk mengungkit-ungkit hal itu lagi. Ah, dan itu merupakan salah satu penyebab aku sangat benci –lebih tepatnya takut– pada petir.

Karena dari itulah, dulu aku suka sekali kabur dari rumah dan pergi ke apartement Himawari, apartement bobrok yang sekarang sudah hampir 15 tahun tidak digunakan. Tempat yang menenangkan dan menyimpan banyak kenangan. Tempat aku 'membawa lari' Sasuke di hari pertama kami bertemu. Tapi sejak ada Sasuke, kebiasaan itu hilang sama sekali.

Sekarang aku merasa lebih tenang dengan bersamanya. Jadi, tidak ada alasan untuk mencari ketenangan di tempat lain. Sasuke yang tidak pernah banyak bicara, tapi itulah yang aku suka darinya…

Seperti saat ini, kami duduk berhadap-hadapan di meja makan. Sedari tadi dia tidak mengeluarkan sepatah katapun. Sepertinya, dia adalah penganut aliran dilarang-bicara-di-meja-makan.

"Terimakasih atas makanannya…" ujarnya sambil membereskan piringnya. Sasuke tidak pernah menyisakan makanan, walaupun itu adalah masakan uji coba milik Kakashi.

"Cepat sekali makanmu…"

"Tidak ada alasan untuk makan berlama-lama kan? Cukup kunyah dan telan. Selesai…" katanya sambil membawa piringnya ke dapur. Ugh… dasar menyebalkan…

"Dan tidak ada alasan untuk makan cepat-cepat! Makan itu harus sambil dinikmati tahu!!" teriakku padanya. Aku cepat-cepat menyelesaikan makanku dan membereskan bekasnya. Beberapa butir nasi terjatuh di meja. Huh, aku memang tidak pernah bisa rapi.

Sasuke sudah muncul lagi di ruang makan. "Saya akan mengerjakan tugas di kamar. Anda bisa ke sana jika membutuhkan saya," katanya sambil menaiki tangga ke lantai dua.

Aku membawa piringku ke dapur. Sebenarnya, dengan meninggalkannya di meja makan pun pasti akan ada pelayan yang membereskannya. Hanya saja, aku tidak suka kalau Sasuke terus-terusan menganggapku sebagai Tuan Muda yang Manja.

Setelah menaruhnya di dapur, aku pun menyusul Sasuke ke lantai 2. Kamarku tepat ada di depan tangga. Kamar di sebelahku adalah milik Sasuke. Pintunya tertutup. Dasar anak rajin. Ini masih hari Minggu, dan aku tahu bahwa tugas yang dimaksudnya adalah tugas yang akan dikumpulkan hari Jumat yang akan datang.

Aku masuk ke kamarku sendiri yang bernuansa orange. Sebuah meja kayu persegi berdiri dengan kokoh di tengah ruangan dengan delapan buah bantal duduk – tentu saja berwarna orange - di sekelilingnya. Sebuah TV layar datar menempati lemari yang berisi pajangan rubah berekor sembilan atau yang biasa disebut Kyuubi, tokoh utama dari serial kesukaanku, berada di seberang ruangan sehingga terlihat jelas jika duduk di tengah ruangan tersebut. Ranjang di sudut ruangan pun tak ketinggalan memamerkan wajah besar Kyuubi yang sedang beraksi. Lemari pakaian yang berada di sudut lainnya pun jika dibuka akan menampilkan sederet pakaian berwarna orange yang mendominasi lemari tersebut. Begitupun dengan meja belajar yang ada di sampingnya, tak kalah memperlihatkan sederet barang-barang berwarna orange. Cat yang menghiasi kamar ataupun karpet yang terhampar di sepanjang ruangan pun bekerja sama menambah nuansa orange di kamar ini. Aku benar-benar menyukai warna orange!

Aku berjalan menuju ranjangku kemudian membaringkan tubuhku dan menatap langit-langit. Haah… aku menarik napas panjang. Membosankan. Tidak ada yang menarik. Aku teringat akan pr fisika yang harus dikumpulkan besok dan bangkit menuju meja belajar kemudian mengambil pr yang di maksud. Aku duduk memandangi prku selama beberapa menit, sebelum akhirnya mendesah panjang. Aku tidak mengerti sama sekali. Untuk apa sih susah-susah menghitung kecepatan rata-rata dari mobil yang sedang melaju? Kalau sedang macet bagaimana? Atau tiba-tiba mobilnya mogok? Aku mendengus. Kemudian berdiri sambil membawa prku ke kamar Sasuke.

"Tok… tok… tok…"

"Masuk," aku mendengarnya berkata.

Aku membuka pintu pelan-pelan dan melihat nuansa yang amat berbeda dari kamarku. Kamar Sasuke lebih sederhana dengan dominasi warna biru tua di seluruh ruangan. Sebenarnya Ayah menawarkan pada Sasuke agar kamarnya diisi barang-barang seperti milikku. Tapi Sasuke tidak suka segala sesuatu yang berlebih-lebihan, dia lebih menyukai yang sederhana.

"Ada apa Tuan muda?" dia mengangkat wajahnya dari tugas yang sedang dikerjakannya. Bukunya penuh dengan gambar molekul-molekul yang membingungkan. Kimia, aku menyimpulkan.

Aku mengangkat buku tugasku dan menambahkan cengiran di sudut bibirku. "Fisika."

Sasuke hanya mengangguk. Dia tahu, aku paling benci pada pelajaran fisika.

Aku menarik sebuah bantal duduk dan mengambil tempat di sampingnya. Aku menyodorkan buku tugasku ke hadapannya segera setelah dia membereskan buku-bukunya.

Dia membacanya sebentar, kemudian mulai menjelaskannya padaku. Entah aku yang terlalu bodoh atau memang dia yang terlalu jenius, tapi aku sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkannya.

"Er… Sasuke…" aku menginterupsinya.

"Ya?" dia menatapku.

"Bisa kau ulangi lagi yang tadi?" tanyaku. "Tapi kali ini gunakan bahasa manusia ya?"

Dia mengernyitkan dahinya. "Maksud anda?"

Aku menarik napas panjang. "Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau katakan dari tadi. Kau menjelaskan padaku seolah-olah aku ini memiliki otak yang sama denganmu," aku menopang daguku dengan tangan kananku. "Aku bukan jenius sepertimu, Sasuke…"

"Tapi itu tadi hanya penjelasan dasar saja kok. Lagipula, yang tadi saya jelaskan itu sudah pernah ada di pelajaran kelas satu. Harusnya anda masih mengingatnya…" matanya masih menatapku. Pandangannya seperti menginterogasiku. "Anda tertidur lagi saat guru menjelaskan?"

Aku mengalihkan pandanganku. Aku tidak suka ketika dia melihatku dengan tatapan seperti itu. Dia seperti bisa membaca apa yang kupikirkan.

"Aku memang bodoh kok…" tatapanku kini memandang ke luar jendela. "Bukan jenius yang selalu jadi juara umum setiap tahun…" Ya, Sasuke langganan juara umum sejak dia masih SMP. Sebetulnya, ada yang menawarinya beasiswa untuk melanjutkan sekolahnya di sekolah Suna High School yang terkenal dengan siswanya yang cerdas karena nilai-nilainya yang selalu sempurna. Sai-niisan pun sekolah di tempat itu. Tapi dia memutuskan untuk meneruskan sekolahnya di Konoha High School karena tuntutan pekerjaannya, menjagaku. Tiba-tiba, aku merasa bersalah padanya.

"Harusnya kau menerima tawaran beasiswa itu Sasuke… Kau pasti akan jadi orang hebat seperti Sai-niisan," aku mengalihkan pembicaraan.

"Beasiswa?" dia berpikir sebentar. "Oh… saya sudah melupakan hal itu. Lagipula, saya kan harus menjaga anda."

"Aku menghalangi masa depanmu ya?" aku masih tak menatap matanya, memainkan pensil yang ada di tanganku.

"Eh…? Ti… tidak kok, Tuan Muda. Saya… saya hanya ingin melaksanakan tugas yang diberikan pada saya dengan sebaik-baiknya."

Betul kan? Aku hanya jadi beban untuknya.

"Sudahlah…" aku mengambil bukuku yang ada di tangannya. "Kau lanjutkan saja mengerjakan tugasmu. Aku tak mau mengganggumu. Lagipula nanti malam Sai-niisan akan pulang. Aku bisa bertanya padanya." Aku beranjak dari dudukku, namun Sasuke mencengkeram tangan kananku.

"Kenapa…?" ujarnya. Aku melihat ke dalam matanya. Ada kilatan terluka di sana.

"Apa maksudmu?" aku berusaha melepaskan cengkeraman tangannya yang mulai membuat pergelangan tanganku terasa sakit.

"Kenapa… selalu Sai…?"

Aku semakin bingung dibuatnya. "Aku tidak mengerti apa yang kau katakan," tanganku mulai memerah akibat cengkeraman tangannya. "Sasuke… sakit…" tapi sepertinya dia tidak mendengarkanku.

Lalu tiba-tiba, dia menarik tanganku dan mendorongku ke lantai hingga kepalaku sedikit terasa sakit karena membentur lantai. Kini kedua tangannya mencengkeram kedua tanganku. Dia berada di atasku. Matanya lurus menatapku. Aku tidak bisa membaca matanya. Terlalu banyak ekspresi di sana. Marah, sedih, kecewa, dan berbagai macam ekspresi yang belum pernah diperlihatkannya selama ini.

"Tak bisakah sehari saja kau berhenti berpikir tentang Sai?"

Aku tidak mengerti apa yang dibicarakannya dan juga tidak berani menjawabnya. Tatapan matanya membuatku takut.

"Tak bisakah sehari saja kau berhenti membicarakan Sai?" napas Sasuke semakin memburu. Aku bisa merasakan napasnya yang panas di wajahku.

"Tak bisakah…" dia berhenti sebentar, "…aku menggantikan tempatnya?"

"Eh…?" hanya itu yang bisa kukatakan. Aku benar-benar bingung dibuatnya.

Lalu seperti kelakuannya yang tiba-tiba tadi, seperti itulah dia melepaskan pegangan tanganku dan bangkit berdiri kemudian membalikkan badannya sehingga aku hanya bisa melihat punggungnya. Aku duduk perlahan-lahan dan memandang punggung Sasuke yang sepertinya sedang berusaha mengatur nafasnya.

"Sa… Sasuke…?" aku memanggilnya takut-takut.

Sasuke tidak mengindahkan panggilanku.

Aku berdiri dan menghampirinya. Aku berusaha memegang pundaknya. "Sasuke, apa yang…"

Dia menepiskan tanganku dan membuatku terkejut. "Aku…" dia berusaha mencari kata-kata yang tepat. "Ma… maaf…" hanya kata itu yang bisa ditemukannya dari sekian banyak perbendaharaan kata yang dimilikinya. Kemudian dia pergi begitu saja dan meninggalkanku sendirian.

Apa sih yang salahdengannya??

#

#

Sasuke berjalan tak tentu arah. Dia tak tahu ke mana tujuannya. Hanya mengikuti ke mana kakinya melangkah. Akhirnya dia sampai di halaman samping yang merupakan tempat favoritnya dan Naruto untuk membaca buku.

Naruto membaca buku? Ya, itu adalah fakta yang baru diketahui Sasuke setelah beberapa lama dia tinggal di rumah ini. Tadinya dia berpikir bahwa ruang perpustakaan yang ada di lantai satu rumah ini adalah milik Minato-sama. Tapi setelah beberapa kali dia menangkap basah Naruto yang sedang membaca buku, barulah dia tahu bahwa sebagian besar koleksi buku di perpustakaan itu adalah milik Naruto. Suatu kebiasaan yang tidak sesuai dengan kepribadiannya.

Sasuke berjalan mendekati satu-satunya pohon yang ada di tempat itu. Kemudian dia duduk di ayunan kayu yang sudah terlihat usang namun masih kuat untuk menahan berat tubuhnya. Ayunan kayu ini sedikit kependekan untuknya yang jelas-jelas memiliki tinggi lebih dari 170 cm. Tentu saja, ayunan ini dibuat oleh Sai untuk Naruto yang waktu itu masih berumur 6 tahun.

Haah… Sasuke menarik napas panjang. Sai lagi…

Dada Sasuke terasa sakit kalau mendengar Naruto mengucapkan nama itu. Sai-niisan… bahkan ketika orangnya sedang tidak ada, paling tidak sehari sekali dia akan mendengar Naruto mengucapkannya. Apalagi kalau Sai ada di rumah. Sepertinya, setiap saat dia melihat Naruto, pasti ada Sai di sampingnya. Dan satu-satunya yang bisa memanggil Naruto dengan namanya saja, bukan Tuan Muda ataupun Naruto-sama, tanpa tatapan sinis dari pelayan yang lain hanyalah Sai. Bahkan Bibi Yumiko yang bekerja sebagai pengasuh Naruto sejak kecil pun tetap memanggilnya dengan Tuan Muda. Memang Sasuke memanggil nama Naruto dengan namanya sendiri di sekolah, tapi itu agar tidak ada yang tahu tentang pekerjaan Sasuke sebagai bodyguard Naruto.

Wajar saja, Naruto sudah mengenal Sai sejak dia masih berusia 3 tahun. Sedangkan Sasuke, baru 6 tahun kemudian mengenal Naruto. Ketika pertama kali datang ke rumah ini, saat itu Sai sedang melanjutkan sekolahnya di Suna High School yang memiliki sistem asrama sehingga Sasuke baru bertemu dengannya empat tahun kemudian ketika Sai lulus dan kembali ke Uzumaki's mansion ini. Dan Sasuke merasa, ada sesuatu yang berubah pada Naruto sejak saat itu.

Setiap kali Sasuke bertanya, Naruto selalu bilang bahwa dia menganggap Sai seperti kakaknya sendiri. Sasuke berusaha mempercayainya, namun dia tahu ada sesuatu yang disembunyikan Naruto darinya.

Sikap Sai pada Naruto sangat baik. Dia lebih sering tertawa ketika bersama Sai. Sedangkan ketika bersama Sasuke? Sasuke mengggelengkan kepalanya mengingat apa yang baru saja terjadi. Apa yang dilakukannya? Dia sendiri tidak sadar ketika tubuhnya melakukan tindakan lebih dulu daripada akal sehatnya. Ketika menyadari apa yang dilakukannya, dia melihat mata Naruto yang menatapnya dengan ketakutan. Dasar Sasuke bodoh. Ada apa sih denganmu?

"Ah… Sasuke-kun…" suara lembut seorang wanita yang usianya sudah lebih dari separuh abad menyadarkannya dari lamunannya. Rambut pirang panjangnya yang diikat di belakang tertiup angin. Mata hijaunya menatap Sasuke dengan lembut.

"Yumiko-san…" Sasuke menatapnya. Dia berjalan menuju ke arahnya.

Ketika sudah sampai di depan pemuda berambut hitam itu, dia tersenyum. "Sedang apa kau di sini?"

Sasuke hanya menggeleng lemah. "Tidak sedang apa-apa."

"Tadi Tuan Muda mencarimu. Kelihatannya dia sedikit khawatir."

"Aa…" hanya kalimat itu yang berhasil meluncur dari mulutnya. Dia mengalihkan pandangannya pada rumput di bawah kakinya.

Kemudian wanita itu meletakkan tangannya di pundak Sasuke. "Kau bertengkar dengannya?"

Sasuke tidak menjawab.

"Yah… itu hakmu jika tidak mau menceritakannya padaku," wanita tua itu mengelus kepala Sasuke. "Aku masuk dulu ya. Udaranya mulai dingin."

Ketika wanita itu berbalik, Sasuke menemukan suaranya. "Apa bibi pikir… Tuan Muda benci padaku?"

Yumiko sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, tapi segera dia kembali tersenyum menenangkan pemuda di hadapannya.

"Kupikir tidak, Sasuke-kun. Tuan Muda tidak akan begitu baiknya pada orang yang dibencinya," sekarang, bola mata hijau bertemu dengan bola mata hitam. "Malah kupikir, dia menyayangimu…"

Sasuke terlihat tidak percaya. Dia menggeleng lagi. "Tuan Muda hanya menyayangi Sai…"

Wanita itu tertawa kecil. "Jadi itu masalahnya…" dia berhenti sebentar. "Tuan Muda menyayangi kalian berdua… Kau dan Sai… masing-masing dengan cara yang berbeda…"

Sasuke berusaha mencerna perkataan itu. "Tadi aku melakukan hal yang sangat bodoh. Dia pasti menganggapku aneh…"

Lagi-lagi, wanita itu mengelus kepala Sasuke. "Itu berarti kau masih harus mengenal Tuan Muda dengan lebih baik lagi. Dia tidak akan marah hanya karena sebuah hal bodoh, apalagi pada orang yang disayanginya. Kalaupun iya, besok pagi pasti dia sudah lupa dan tak akan mengungkitnya lagi…"

Dalam hati, Sasuke tersenyum. Dia memang tidak pernah melihat Naruto marah, apalagi sampai membenci orang lain. Dia merasa sedikit lega sekarang.

"Terimakasih, Yumiko-san…" dia tersenyum kecil.

Wanita itu tertawa lagi dan berkata, "Ternyata betul kata Tuan Muda. Kau terlihat lebih tampan ketika tersenyum, Sasuke-kun…"

Sasuke merasa wajahnya sedikit memanas. Ternyata Naruto menceritakan hal yang seperti itu pada orang lain.

Dan senyum itu lalu menghilang seketika saat sebuah sedan BMW silver memasuki gerbang depan.

Sai…

#

#

Nya...

Ada apa antara Naruto dan Sai??

baca chapter selanjutnya, keyz??

ah, dan di sini ada OC karena Cha nggak bisa nemuin karakter yang pas untuk bagian Yumiko itu..

So,

Cha tunggu reviewnya!!!