Okey...

Chapter 4 di sini...

mungkin sedikit membingungkan -karena Cha bikinnya sambil sakit kepala-

enjoy...

Warning: sama aja kaya yang udah-udah

*Naruto belongs to Masashi Kishimoto

#####################################################################################################

Jumat pagi.

Hari itu kalender di meja belajarnya menunjukkan tanggal 10 Oktober. Dia tersenyum kecil. Akhirnya, hari ini tiba juga… pikirnya.

Sasuke bangkit dari ranjangnya, kemudian membenahinya. Setelahnya, dia menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

"Ohayou, Sasuke!" sebuah suara ceria yang khas menyapanya ketika dia berjalan menuruni tangga. Dilihatnya pemuda berambut pirang itu sedang merebahkan kepalanya di pangkuan Sai sambil mengelus-elus seekor kucing anggora berbulu putih di atas perutnya.

"Ohayou, Naruto-sama…" ujarnya tanpa mempedulikan Sai yang sedang tersenyum kepadanya sambil menggumamkan selamat pagi. "Selamat ulang tahun…" Dilihatnya tangan pemuda itu sedang bermain-main dengan rambut Naruto. Naruto hanya terkikik kecil merasakan sentuhan tangan Sai. Shit! Umpatnya dalam hati.

"Anda belum siap-siap untuk berangkat sekolah, Tuan Muda?" tanyanya ketika menyadari bahwa Naruto masih menenakan piyama orange yang bergambar Kyuubi di baggian dada.

"Um…" Naruto bangkit dari posisi tidurnya dan duduk sambil tetap mengelus-elus kucing kesayangannya. "Aku baru berpikir bahwa mungkin aku bisa mengambil libur sehari. Toh hari ulang tahunku ini cuma setahun sekali…"

Sasuke mengangkat alisnya. "Maksud anda… bolos?"

"Well…" Naruto terlihat salah tingkah, "… mungkin?"

Sasuke menggelengkan kepalanya. "Tidak ada alasan untuk tidak masuk sekolah hanya karena…"

"Hanya hari ini, kurasa tidak apa-apa, Sasuke-kun. Minato-sama pasti akan mengijinkannya…" potong Sai. Senyum khasnya masih tergantung di bibirnya.

"Anda terlalu memanjakannya, Sai-san…" ujar Sasuke sembari memberikan penekanan pada kata –san. Dia tak pernah suka jika harus berbicara dengan Mr. Smile itu.

"Yah… absen sehari tidak akan membuatnya dikeluarkan dari sekolah, Sasuke-kun…" jawabnya masih dengan tersenyum, tapi Sasuke bisa mendengar bahwa pemuda di hadapannya itu memberikan penekanan pada kata –kun, membalasnya.

"Tapi jika dia terus menerus dibiarkan melakukan hal-hal yang ingin dilakukannya tanpa mendengarkan perkataan orang lain, itu hanya akan membuatnya semakin egois dan manja."

"Well, mengingat yang kita bicarakan ini adalah pewaris tunggal dari Uzumaki Corporation, sepertinya wajar saja."

"Kalau sifatnya yang seperti itu tidak dihilangkan, nantinya dia sendiri yang akan sudah jika harus terjun dalam masyarakat."

"Kupikir tidak perlu mengkhawatirkan hal yang seperti itu. Melihat statusnya, dia pasti akan dihormati."

"Tetap tidak baik membiarkannya seperti itu…"

"Tapi tidak ada alasan khusus bagimu untuk melarangnya…"

"Menurut saya…"

"Cukup!!!"

Kedua pemuda berambut hitam itu mengalihkan pandangannya pada pemilik mata biru yang kini sudah berdiri dengan kesal. Sampai-sampai kucing yang tadi di pangkuannya meloncat dengan kaget dan pergi entah ke mana.

"Ini masih pagi dan kalian berdua sudah membuatku sakit kepala," katanya sambil berjalan menuju ke tangga.

"Anda mau ke mana, Tuan Muda?" Sasuke yang pertama kali tersadar.

"Ke kamar. Kau menyuruhku untuk sekolah kan?" katanya sambil terus berjalan menaiki tangga. "Aku mau mandi…" dia berpikir sebentar kemudian melanjutkan, "… dan bilang pada Kakashi untuk menyiapkan ramen untuk mengembalikan mood-ku yang hilang gara-gara kalian." Akhirnya Naruto hilang dari pandangan mereka berdua.

Sasuke menyeringai senang sambil menatap pemilik bola mata hitam yang balik menatapnya, kali ini sudah kehilangan senyum kebanggannya itu. Aku menang! Teriaknya dalam hati.

#

#

NARUTO'S POV

"Anda masih marah pada saya karena memaksa anda untuk sekolah, Tuan Muda?" tanya Sasuke yang berjalan di sampingku. Akhirnya, aku mengikuti keinginannya agar tidak 'meliburkan diri'.

"Menurutmu?" Aku tidak mengalihkan pandanganku padanya. Mataku mencari-cari pemuda beralis tebal yang biasanya sudah duduk manis menungguku di tempat parkir. Tapi aku sama sekali tidak bisa menemukannya. Baguslah. Mungkin dia sudah berhenti mengerecokiku dengan 'semangat muda'-nya.

"Ah…" Aku mencuri pandang ke arah Sasuke dari sudut mataku. Ekspresi bersalah terpancar dari wajahnya. Well, aku menikmatinya. Jarang-jarang bisa melihat seorang Uchiha seperti itu. Tentunya aku sudah melupakan masalah tadi pagi itu. Mungkin dia benar, hanya karena ini hari ulang tahunku, bukan berarti aku bisa melakukan apapun yang aku mau.

"Tapi kan saya sudah minta maaf…" katanya, alih-alih memandangku, dia malah mengalihkan pandangannya pada sepatunya. "Tuan Mu…"

"Naruto," ralatku cepat. "Ini sudah hampir sampai di kelasku, Sasuke. Aku tidak mau kedapatan dipanggil seperti itu oleh seorang senpai, terlebih lagi seorang Uchiha-senpai."

"Maaf…" ucapnya dengan penuh penyesalan

Hmph… aku berusaha menahan tawaku sambil terus berjalan ke kelasku, kelas 2-3 yang ada di lantai 2. Aku berpapasan dengan beberapa siswa yang mengucapkan 'ohayou' padaku dan Sasuke kemudian membalas salam mereka –dalam kasus Sasuke, dia hanya mengangguk pada mereka-. Juga dengan beberapa gadis yang cekikikan sendiri ketika kami lewati. Telingaku sempat menangkap beberapa potong kata yang mereka ucapkan.

"Uchiha-senpai…"

"Keren…"

"Seperti biasanya…"

"Andaikan dia mau sekali saja pergi denganku…"

"Sepertinya, kau punya banyak fans ya, Sasuke?" kataku menggodanya. Tentu saja, Sasuke yang tampan dan pintar termasuk dalam daftar 10-cowok-penerima-cokelat-valentine-terbanyak setiap tahun. Mungkin, hanya sedikit –atau tidak ada sama sekali- cewek-cewek yang tidak melirikkan matanya pada Sasuke ketika berpapasan dengannya.

"Cewek-cewek bodoh…" gumam Sasuke, namun masih cukup keras untuk ditangkap oleh telingaku.

"Hahaha… kau benar-benar jahat Sasuke…" Kali ini, aku berhenti melangkah dan memandangnya. Kami sudah sampai di depan kelasku. Beberapa teman sekelasku mengucapkan salam atau hanya sekedar menepuk pundakku. "Kalau mereka sampai dengar, aku tidak ragu kalau mereka langsung bunuh diri…"

"Siapa peduli? Yang penting, kau akhirnya tertawa juga, Naruto. Itu artinya kau tidak marah padaku kan?" katanya sambil tersenyum padaku.

Blush… Aku bisa merasakan wajahku memerah. Akhir-akhir ini, semenjak Sai-niisan di rumah terus, dia jarang sekali tersenyum. Yah, bukan berarti sebelumnya dia sering tersenyum. Hanya saja, dia jadi agak sedikit aneh.

"Terserah kaulah, teme…" Dan dengan itu, aku masuk ke dalam kelasku, sementara Sasuke melanjutkan berjalan menuju kelasnya sendiri yang ada di lantai 4.

"Naruto!!"

Aku mengalihkan pandanganku pada suara yang sudah amat kukenal itu. Seorang pemuda beralis tebal berjalan mendekatiku yang sedang menaruh tas di meja.

"Selamat ulang tahun, Naruto!" ujar Lee sambil memasang pose nice guy-nya.

Aku memandangnya dengan tercengang. Aku sadar, Lee memang sedikit 'unik'. Tapi… sejak kapan ada orang yang memberi selamat dengan cara seperti itu?

"Eh… iya… Terimakasih, Lee…"

"Dan… aku juga punya kado untukmu…" Lee berjalan ke kursi di sebelahku –mengingat kami memang duduk sebangku- dan mengambil sesuatu dari bagian depan ransel hijaunya. Sebuah kotak persegi panjang dengan bungkus berwarna hijau dengan hiasan polkadot kuning kini ada di tangannya. Dia menyerahkannya padaku.

"Waw… Thanks Lee…" kataku sambil memeluk hadiah itu. "Kau benar-benar teman yang baik." Aku berusaha membuka hadiah itu, tapi tangan Lee menahanku.

"Jangan…" dia menggelengkan kepalanya. "Nanti saja dibukanya. Aku masih punya hadiah yang lainnya untukmu."

"Eh…?" Aku menatapnya dengan bingung. Hadiah lainnya?

"Harusnya mereka datang sebentar la… Ah, itu mereka!"

Dengan masih penuh keheranan, aku memperhatikan ke mana jari Lee menunjuk.

Di depan pintu, terlihat beberapa orang anak yang amat familiar di mataku. Satu persatu mereka memasuki kelas dan menuju ke arahku.

"Yo, Naruto!" seorang pemuda yang berada di barisan paling depan menyapaku.

"Kiba!" Dia menghampiriku dan kami ber-highfive. Hal yang sudah lama tidak kami lakukan karena berbeda kelas –ketika kelas 1, aku dan Kiba ada di kelas yang sama-.

"Hei… kau tidak tambah tinggi juga ya?" katanya sambil menepuk-nepuk kepalaku. Tinggiku memang tidak lebih dari hidungnya. Padahal, ketika kelas 1 kami hanya berbeda beberapa senti.

"Brengsek…" aku menyingkirkan tangannya dari kepalaku. "Kau saja yang pertumbuhannya terlalu cepat, tahu!"

"Na… Naruto-kun…" suara seorang gadis yang terbata-bata membuatku melihat ke belakang Kiba. Dia terlihat kecil jika ada di dekat Kiba karena tingginya yang tidak lebih dari bahu Kiba.

"Hinata-chan!"

Gadis berambut biru itu tersenyum. "Se… Selamat ulang tahun…"

Sebelum aku sempat berkata apa-apa, seorang gadis bermata hijau memandangku dan tersenyum. "Selamat ulang tahun, Naruto-kun…"

"Sakura-chan!" aku tersenyum lebar dan menghampiri gadis berambut merah muda itu yang masih berdiri di dekat pintu, karena sudah tidak ada lagi ruang di sekitar mejaku –disebabkan oleh Chouji yang tiba-tiba muncul dan segera memenuhi semua tempat-.

"Kau sombong sekali Naruto-kun, tidak pernah main ke kelasku lagi…" ujarnya dengan nada bercanda.

"Haha… Habisnya, kelasmu kan ada di lantai 4. Dan lagi, kau kan sudah jadi kakak kelasku sekarang…" kataku. Yah, gadis di hadapanku ini memang tidak kalah jeniusnya dari Sasuke. Ketika SMP, dia mengambil kelas aksel sehingga sekarang dia sudah duduk di kelas 3. Ngomong-ngomong soal kelas 3… "Mana Sasuke?"

"Hm…" dia memandang sebentar ke luar pintu. "Tadi aku sudah bilang padanya kalau aku akan ke kelasmu. Tapi tadi sepertinya ada beberapa anak cewek yang mengerubunginya tadi…"

"Oh… yeah… dasar orang terkenal…"

"Oh ayolah Naruto-kun… kau baru saja bertemu dengannya. Masa sudah kangen lagi sih?" katanya dengan nada menggodaku.

Aku merasakan pipiku menghangat mendengarnya. Sakura adalah satu dari sedikit orang yang tahu bahwa Sasuke adalah bodyguardku. Tentu saja. Kami berteman sejak kecil. Ayahnya adalah pegawai di kantor ayahku. Dan aku tidak takut dia akan membocorkannya kepada orang lain. Aku bisa mempercayainya.

"Hei Naruto…" seorang pemuda muncul di samping Sakura. Rambutnya yang di kuncir ke atas merupakan ciri khasnya.

"Hei Shikamaru… tumben kau mau repot-repot ke sini…"

Dia hanya mengangguk dengan malas-malasan. Kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak kecil berwarna hitam dengan pita putih dan menyerahkannya padaku.

"Wah Shika… tumben kau ingat ulang tahunku…"

Dia menggeleng. "Bukan dariku…"

"Lalu?"

"Dari Gaara, dia menitipkannya padaku ketika aku pergi ke Suna minggu lalu. Dia bilang untuk memberikannya padamu ketika hari ulang tahunmu."

Aku mengangkat alisku ke heranan. "Kau yang pemalas ini mau repot-repot ke Suna? Untuk apa?"

"Dia kan sekarang pacaran dengan Temari… Kurasa dia diancam Gaara kalau tidak mau memberikan hadiah itu padamu, dia tidak boleh lagi dekat-dekat kakaknya itu…" suara Kiba menjawab pertanyaanku.

Aku mengangguk-angguk sambil tersenyum pada Shikamaru. Aku mendengar dia menggumamkan sesuatu seperti 'sungguh merepotkan'.

"Lalu… kalian juga…" aku berbalik menghadap teman-temanku yang sekarang sudah berkumpul di belakangku. "Tumben kalian semua ingat ulang tahunku…"

Chouji –yang masih sibuk dengan bungkus keripik kentang di tangannya- yang pertama kali buka suara. "Tadi pagi Lee keliling ke kelas kami semua mengingatkan kalau hari ini adalah hari ulang tahunmu…" Sekarang aku tahu kenapa tadi pagi Lee tidak menungguku di tempat biasa.

Aku mengalihkan pandanganku pada Lee. "Oh Lee… Kau benar-benar baik…" aku berusaha memeluknya tapi dia menghindar.

"Aku hanya ingin agar semua orang merasakan kegembiraan pada hari ulang tahunmu ini. Jadi aku memberitahu mereka semua."

"Jadi nanti siang kita makan di mana, Naruto?" Chouji –yang akhirnya sudah menyerah dengan bungkus keripiknya yang sudah kehabisan isi- bertanya padaku.

"Eh…?" aku memandangnya bingung.

"Yah… Le- Lee bilang, hari ini ka-kau akan mentraktir kami makan siang sebagai pe- perayaan ulang tahunmu… Ya kan Lee?"Hinata mengalihkan pandangannya pada Lee.

"Um yahh…" Lee menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Kupikir begitu sih…"

Dasar anak ini, memutuskan seenaknya sendiri saja.

"Baiklah… nanti siang kalian semua berkumpul di sini kemudian kita berangkat bersama-sama ke 'Ichiraku'. Setuju?" akhirnya, kuputuskan untuk mentraktir mereka semua, walaupun sebenarnya tidak ada rencana seperti itu sebelumnya. Thanks to Lee…

"Yey! Baiklah… sampai ketemu pulang sekolah nanti, Naruto…" Kiba melambaikan tangannya sambil berjalan menuju keluar kelas.

"Ya, sampai nan…"

"Naruto-kun!!!" seorang gadis berambut pirang memotong perkataanku kemudian memeluk lenganku. Kiba dan yang lainnya berhenti melangkah dan melihat ke arahku.

"I… Ino-chan…" aku tersenyum ke arahnya, berusaha melepaskan tangan Ino yang melingkar di lenganku. Tapi sepertinya dia tidak sadar kalau aku merasa risih.

"Sudah lama aku tidak bertemu denganmu…" Lama? Sepertinya aku baru bertemu dengannya kira-kira dua hari yang lalu. "Kau tidak kangen padaku?"

"Eh…?" aku terkejut dengan perkataannya. Sejak naik ke kelas dua, sikap Ino jadi sedikit aneh padaku. Seperti berusaha… er… mencari perhatianku?

"Ya sudahlah…" akhirnya dia melepaskan tangannya dariku. Aku menarik napas lega. "Selamat ulang tahun, Naruto!" kemudian dia berjinjit sedikit dan mencium pipiku.

Dan saat itu, aku melihat Sasuke yang baru saja muncul di depan pintu kelasku dengan mata yang melebar karena terkejut.

#

#

SASUKE'S POV

"Ne, Teme… sejak tadi kau diam saja… Tadi kau salah makan ya?" aku mendengar Naruto bertanya dari kursi penumpang di sampingku. Kami sedang dalam perjalanan pulang dari 'Ichiraku', café favorit Naruto. Alasannya? Karena di sana ada ramen paling enak di seluruh Konoha –itu kata Naruto-. Dia baru saja menghabiskan entah-berapa-ratus-ribu untuk mentraktir teman-temannya yang berisik itu. Apalagi gadis berambut pirang yang centil itu. Sepertinya tadi sepanjang waktu dia tidak melepaskan pegangannya pada Naruto. Siapa namanya? … Ino… Ya, itu dia… Padahal seingatku, tahun lalu dia tidak ada bosan-bosannya mengajakku untuk kencan dengannya. Mungkin akhirnya dia menyerah.

Aku memandang jok belakang dari kaca spion. Berbagai hadiah kini tertumpuk di sana. Milikku tentu saja masih ada di rumah. Aku berencana memberikannya ketika kami sudah sampai di rumah.

"TEME!!! Jangan kebanyakan bengong!!! Lampunya udah ijo tuh!!!" suara Naruto menyadarkanku dari lamunanku. Samar-samar terdengar suara klakson dari belakang mobil kami. Aku segera menginjak gas dan menjalankan mobil.

"Kau kenapa sih??? Dari tadi pertanyaanku nggak dijawab, bengong terus… Marah sama aku nih??" Naruto memandangku dengan pandangan khawatir.

"Hn."

"Terus kalau nggak marah sama aku, kenapa dong?"

"Hn."

"Argh!" teriaknya dengan frustasi sambil mengacak-acak rambutnya. "Kau tidak bisa mengatakan yang lainnya kecuali 'hn'-mu yang menyebalkan itu?"

"Hn."

"Kau. Betul-betul. Menyebalkan!" ujarnya memberikan penekanan pada setiap kata. Tangannya disilangkan dan mengembungkan pipinya tanda bahwa dia sedang sebal.

"H…"
"Jangan ngomong apa-apa!" sekarang dia mengalihkan pandangannya ke jendela. "Aku nggak mau ngomong sama kamu lagi hari ini!"

Oh… bagus Sasuke… Sekarang kau betul-betul membuatnya marah. Aku memandangnya dari sudut mataku.

"Tuan Muda…"

"Kubilang jangan ajak aku ngomong sebelum kamu bisa belajar kata lain kecuali 'hn'-mu itu!"

"Tapi…"

"Ini perintah!"

Degg. Aku benci satu kata itu. Perintah. Naruto biasanya tidak pernah menggunakan kata-kata itu. Dia lebih sering menggunakan kata 'tolong'.

Akhirnya aku memutuskan untuk diam saja. Karena keheningan yang sekarang menguasai atmosfer, akhirnya aku memutuskan untuk melayangkan ingatanku pada kejadian beberapa hari yang lalu…

#

#

FLASHBACK

Konoha Road.

Hari itu, aku menemani Naruto untuk memilih hadiah ulang tahunnya. Well… sebenarnya ada Sai juga sih. Dan sejujurnya dia yang mengajak Naruto pergi. Lalu dengan alasan 'harus menjaga tuan muda', aku pun ikut mereka. Dan itu sungguh suatu keputusan yang salah.

Mulai dari ketika kami berangkat. Naruto duduk di kursi samping pengemudi, tertawa-tawa mendengar lelucon konyol yang Sai lontarkan padanya. Aku? Duduk terpuruk di kursi belakang sambil menyilangkan tangan di depan dada, mencoba mengambil perhatian Naruto yang ada di kursi depan dengan berdehem, yang ditanggapi dengan tawaran Sai untuk mampir di apotek untuk membeli obat batuk untukku. Shit.

Kemudian, setelah sampai di tempat tujuan kami, yaitu Konoha Super Mall, -lagi-lagi- Naruto dan Sai berjalan di depanku, tangan Naruto memeluk lengan Sai sambil menunjuk barang-barang yang ada di etalase. Sambil memasukkan tanganku ke kantung jaket yang kukenakan, aku menatap pemandangan di depanku itu dengan tatapan… er… apa ya? Aku sendiri tidak tahu apa namanya, yang pasti aku tidak suka melihat mereka berdua.

Kemudian, mereka berbelok masuk ke salah satu toko. Aku melihat ke atas pintu masuk yang terdapat sebuah papan nama berwarna pink cerah dengan gambar tiga ekor anak kucing yang sedang bermain dengan gulungan benang. Papan itu bertuliskan 'Hi-Pets' dengan tulisan besar berwarna putih-merah yang meliuk-liuk. Aku berjalan masuk mengikuti dua orang yang sudah terlebih dahulu masuk.

Berbagai macam hewan menatapku dari balik kandang mereka, seakan-akan berharap bahwa akhirnya akan ada yang membebaskan mereka dari kandang-kandang terkutuk itu. Sai dan Naruto berada di salah satu sudut, sedang mengamati seekor kucing anggora berbulu putih yang sedang tertidur dengan malasnya. Aku menghampiri mereka berdua.

"Ya ya ya?" Naruto menarik-narik lengan Sai manja.

Sai terlihat berpikir sebentar. "Baiklah… Untuk Naru-chan-ku tersayang…" katanya sambil mengacak-acak rambut Naruto. Apa tadi dia bilang, Naru-chan?

"Ah… Arigatou, Sai-niisan…!!" Naruto memeluk 'aniki'-nya itu. Sai hanya tertawa kecil. OK, That's enough!

"Ehem… sepertinya sedikit panas di sini… Bisa anda selesaikan lebih cepat Tuan Muda?" kataku sambil mengibas-ngibaskan tanganku.

Bukannya Naruto, Sai yang lebih dulu buka suara. "Tentu saja, Sasuke-kun. Kau memakai jaket kulit di hari secerah ini, tentu saja akan terasa panas," katanya tanpa kehilangan senyum palsunya itu. God, I wanna kick his face now!

Untung saja, setelah itu, dia segera memangil seorang pramuniaga wanita dan berbicara dengannya sebentar. Setelah itu, wanita itu mengambil kandang berisikan kucing putih yang tadi diamati oleh Naruto.

"Lebih baik kau tunggu di luar, Naruto-kun. Kasihan Sasuke-kun kalau harus kelamaan di tempat seperti ini. Kau tidak mau dia sampai dehidrasi, bukan?" katanya pada Naruto. Walaupun tanpa melihat wajahnya, aku bisa menebak dari suaranya, bahwa dia sedang mengejekku.

Naruto kemudian berbalik menghadapku, menarikku ke luar dari tempat itu sambil menggumamkan sesuatu seperti 'baiklah' dan 'dasar teme'. Tapi kali ini aku tidak berkata apa-apa. Aku masih ingin meninju wajah sang-tuan-selalu-tersenyum itu.

Akhirnya, Sai keluar sambil menenteng sebuah kandang berisikan seekor kucing putih yang kini tengah membuka matanya. Aku bisa melihat bola matanya yang berwarna biru balik menatapku. Mata yang sama seperti milik Naruto.

Dan, nama yang diberikan oleh Naruto, benar-benar tidak masuk akal. Kuro. Ya, itu namanya. Dia tidak mau selain nama itu. Alasannya? Dulu Sai pernah memberikannya seekor kucing hitam ketika dia masih kecil dan menamainya dengan Kuro. Geez, aku tidak pernah bisa mengerti apa yang ada di dalam pikirannya,

Dan sepanjang sisa hari itu, tidak berjalan dengan lebih baik. Mereka berdua tetap pada dunianya sendiri-sendiri. Sedangkan aku harus menenteng si kucing Kuro sialan sepanjang jalan mereka berputar-putar di Konoha Super Mall ini hingga menjelang petang. Sebenarnya, bisa saja aku meningalkan mereka dan pergi menunggu di mobil. Tapi, hey, aku seorang bodyguard yang baik dan tidak akan begitu saja meninggalkan tuanku sendirian dengan seorang smile-freak yang berbahaya seperti Sai.

Tabahlah Sasuke… hari ini akan segera berakhir…

END OF FLASHBACK

#

#

"Have you done daydreaming?"

Suara Naruto kembali membangunkanku dari lamunanku. Tanpa menatapku, dia kembali bersuara, "Kau mau membawa kita ke mana, Sasuke-teme? Uzumaki's mansion sudah hampir terlewati…"

Aku melihat ke luar jendela, menyadari bahwa kami sudah berada di depang gerbang, bahkan hampir melewatinya. Seorang penjaga memandang keheranan dari posnya.

"Ah…" aku segera membelokkan stir.

Ketika sudah mencapai depan mansion, Naruto tidak menyuruhku untuk berhenti seperti biasanya, jadi aku terus menjalankan mobil menuju garasi yang berada di samping rumah.

Naruto langsung turun dan menutup pintu mobil dengan membantingnya. Well, at least… aku tahu satu hal sekarang. Moodnya pasti sedang benar-benar jelek. Lebih baik tidak mengganggunya hari ini.

Aku segera turun dari mobil dan menguncinya. Ketika mengedarkan pandanganku ke sekitar, aku menyadari ada keanehan di sini. Hey, di mana mobil BMW silver sang-tuan-senyum itu? Bukannya dia ada janji untuk merayakan ulang tahun Naruto bersama dengan Minato-sama di restoran malam ini?

Lalu, ke mana dia sekarang?

"ARGH!!! BRENGSEK!!!"

Itu suara teriakan Naruto. Sepertinya, moodnya akan bertambah buruk di sisa hari ini.

#

#

Sasuke segera berjalan menuju Iruka yang masih mematung di ruang keluarga itu.

"Iruka-san, apa yang…?"

"Ano, Sasuke…" suara berat seorang pria memotong ucapanku. Aku berbalik dan mendapati lelaki berambut perak dengan masker yang menutupi wajahnya baru saja keluar dari arah dapur. Tangan kanannya masih memegang sebuah celemek berwarna biru tua yang sepertinya baru saja dilepasnya.

"Kakashi-san… bisa beritahu saya apa yang terjadi?"

Dia menggelengkan kepalanya. "Lebih baik kau segera ke atas, Sasuke. Tuan Muda perlu sedikit… er… didinginkan…" katanya sambil berjalan ke arah Iruka yang sepertinya masih shock akibat teriakan Naruto tadi, kemudian memeluknya dengan sebelah tangannya yang bebas. "Ssstt… sudahlah Iruka… Tuan Muda pasti tidak bermaksud untuk membentakmu seperti itu…"

"Kakashi…" Iruka memandang Kakashi dengan mata yang berkaca-kaca. "Terimakasih…" ujarnya. Dibenamkannya kepalanya ke dada bidang laki-laki yang lebih tua darinya itu.

"Oh…" kata Sasuke frustasi melihat pemandangan di hadapannya itu. Dia berjalan meninggalkan dua orang yang berada dalam dunia mereka itu sendiri menuju ke lantai 2.

Setibanya di sana, dia melihat seorang wanita paruh baya berambut pirang yang digelung di belakang sedang mengetok-ngetok pintu kayu, yang Sasuke tahu adalah pintu kamar Naruto, dengan pandangan khawatir.

"Tuan Muda… Tolong buka pintunya…"

"Yumiko-san…" Sasuke memanggil wanita itu, berusaha untuk mendapatkan perhatiannya.

"Ah, Sasuke-kun… untunglah…" Yumiko berbalik menghadap pemuda berambut hitam itu.

"Ada apa dengan Tuan Muda? Tadi saya dengar teriakan Tuan Muda…"

"Sebenarnya… Tadi tiba-tiba ada telepon dari kantor cabang Uzumaki Corporation yang ada di Suna. Mereka menghadapi sedikit masalah, sehingga Sai dan Minato-sama harus segera pergi ke sana. Sai menitipkan pesan untuk memberitahu Tuan Muda jika dia sudah pulang, untuk tetap melaksanakan makan malam yang sudah direncanakan tanpa kehadirannya dan Minato-sama karena tempatnya sudah dipesan sejak lama. Jadi…"

"Tuan Muda marah karena Sai tidak menepati janji?"

Wanita tua itu mengangguk. "Begitu Iruka memberitahunya, Tuan Muda langsung pergi ke kamarnya dan membanting pintu sambil berkata untuk membatalkan pesanan itu."

"Dan keadaannya jadi lebih buruk karena sejak tadi mood Tuan Muda sedang tidak baik…" ujar Sasuke sambil mengangguk-angguk, membuat Yumiko bingung melihatnya.

"Kalau begitu, batalkan saja pesanan itu," kata Sasuke setelah berpikir sebentar. "Aku tidak yakin Tuan Muda akan pergi dalam keadaan seperti ini."

"Eh…? Tapi Sasuke-kun…"

"Aku punya rencana lain…" katanya sambil tersenyum dan berjalan menuju kamarnya sendiri dengan rencana yang tersusun di kepalanya.

#

#

Oh yeah… hari ulang tahun terhebat sepanjang sejarah. Naruto terlentang di atas tempat tidurnya, memandang langit-langit kamarnya yang berwarna orange terang.

Apa segitu pentingnya pekerjaan itu sampai-sampai aniki membatalkan janjinya denganku? padahal kan rencana ini sudah disusun dari berminggu-minggu yang lalu...

Yah… bukan berarti setiap tahun dia merayakan ulang tahunnya. Sai-niisan dan ayahnya selalu sibuk setiap saat. Dan Naruto tidak terlalu menyukai pesta, karena Sasuke tidak suka jika harus berinteraksi dengan banyak orang. Jadi daripada harus menikmati pesta sendirian, sedangkan Sasuke berusaha bersembunyi sebanyak mungkin dari kejaran penggemar wanitanya –Naruto tersenyum ketika mengingat Sasuke yang tidak sempat bersembunyi pada suatu pesta dan dipaksa berdansa dengan lebih dari 10 orang wanita berbagai usia-, Naruto lebih memilih untuk tidak pernah merayakan ulang tahunnya dengan pesta.

Dan Naruto tahu, Sasuke tidak terlalu menikmati acara tadi siang ketika Naruto mentraktir teman-temannya di 'Ichiraku'. Terlalu banyak orang. Apalagi dengan Ino yang bergelayutan di lengannya sepanjang waktu. Naruto bisa merasakan pandangan aneh Sasuke kepadanya. Apa dia cemburu karena Ino sekarang lebih sering menempel pada Naruto? Haah… dia hanya bisa menarik napas panjang.

Tapi… Hey, ini ulang tahunku yang ke 17, harusnya aku bisa mendapat sesuatu yang lebih baik dari ini... Naruto memiringkan badannya menghadap ke samping. Bahkan Sasuke belum memberikan hadiah ulang tahun untukku… pikirnya.

Tak berapa lama kemudian, matanya terasa sangat berat. Akhirnya kantuk pun menguasainya dan ia jatuh tertidur.

Langit berubah gelap. Matahari sudah sedari tadi meninggalkan singgasananya. Bergantikan oleh bulan yang tampak malu-malu memperlihatkan wujudnya. Menyebabkan langit malam itu berwarna hitam kelam.

Perlahan-lahan, Naruto kembali membuka matanya. Mengerjap-ngerjapkannya sejenak, untuk membiasakan bola mata biru itu dengan kegelapan. Sambil masih mengucek-ngucek matanya, dia bangkit dari ranjangnya yang nyaman, menuju saklar lampu yang berada di samping pintu dan menyalakannya. Membuatnya kembali mengerjapkan matanya, kali ini untuk membiasakan dirinya dengan cahaya. Diliriknya jam di meja belajar, pukul 20.00.

Sunyi, pikirnya. Terlalu sunyi malahan. Tak seperti biasanya. Walaupun memang rumah mewah ini tidak terbiasa dengan keramaian namun kesunyian yang di luar kewajaran membuatnya cukup bertanya-tanya.

Ditajamkannya telinganya, berharap bisa menangkap suara penjaga yang sedang patroli atau pelayan yang sedang membersihkan ruangan. Tidak ada. Kemudian dia berjalan menuju pintu kaca yang menghubungkannya dengan balkon. Diarahkannya pandangannya keluar untuk sekedar mendapati bahwa lampu di halaman sama sekali belum dinyalakan. Panik mulai melanda dirinya. Ada yang tidak beres di sini.

Tanpa sempat mengganti seragam yang sedari tadi masih dikenakannya, pemuda berambut pirang itu berjalan ke luar dari kamarnya. Dan didapatinya suasana seperti yang baru saja dilihatnya . Gelap. Tidak ada tanda-tanda kehidupan.

What the hell is going on in here?

Dengan panik, dibukanya pintu kamar yang ada di samping kamarnya. Kosong. Pemilik kamar itu tidak ada di sana.

Dengan setengah berlari, dia menuruni tangga. Dan pemandangan yang dilihatnya tak berubah. Seluruh penjuru rumah itu masih gelap, tidak ada lampu yang menyinari. Dan tetap tidak ditemukannya seorang pun yang dia kenal.

Dilangkahkan kakinya menuju dapur, berharap dapat mencium wangi masakan lelaki berambut perak yang dikenalnya. Nihil.

Kali ini, keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Berbagai piliran buruk melintas di otaknya.

Bagaimana kalau mereka semua menghilang seperti ibu? Tanyanya.

Tidak... tidak... Sasuke tidak akan mungkin meninggalkanku seperti itu... iya kan? Iruka juga, Kakashi, Yumiko-baasan...

Kakinya yang telanjang sekarang terasa beku karena berjalan di luar rumah yang hangat tanpa mengenakan alas kaki. Ditengoknya garasi yang berisikan beberapa buah mobil bermerek. Lengkap, tidak ada bekas mobil yang dipakai -kecuali yang dipakainya pagi tadi untuk sekolah-.

Kali ini dilangkahkan kakinya menuju halaman belakang tanpa mengindahkan rasa dingin yang mulai menjalari ke tubuh bagian atasnya.

Berjalan melewati kolam renang, dia bisa melihat riak-riak air yang ditimbulkan oleh angin yang saat itu lumayan kencang berhembus. Harusnya aku memakai jaket tadi...

Terus berjalan -sambil setengah berlari- dia mulia mengarahkan kakinya menuju paviliun-paviliun yang ada di halaman belakang. Sambil harap-harap cemas, dibukanya satu persatu pintu paviliun, berharap menemukan wajah yang familiar baginya.

Setelah mendapati 3 paviliun yang kosong, dia mulai merasa putus asa. Mereka benar-benar pergi... meninggalkanku di hari ulang tahunku...

Dengan langkah yang sedikit terseok, dia menuju ke paviliun yang keempat. Dengan sedikit berdoa, dia memutar kenop pintu dan masuk ke dalamnya. Sama saja, kegelapan yang menyambutnya.

'Tap... Tap...'

Tadi itu, suara langkah kaki kan? Secercah harapan muncul baginya.

"Sasuke?" perlahan, dia semakin masuk ke dalam paviliun. Telinganya tetap terjaga dengan baik. "Iruka? Kakashi? Yumiko-baasan?"

Dan tanpa disangka-sangkanya, sebuah tangan menutup matanya dari belakang, membuatnya pandangannya manjadi gelap. Tangannya mencoba mengapai-gapai liar di udara mencoba menjatukan pemilik tangan yang kini sedang menahannya.

"Get off!!!" Pemuda pirang itu berusaha melepaskan dirinya hanya untuk mendapati bahwa dia kalah kuat dari siapapun-itu-yang-sedang-menutup-matanya-dan-sekarang-berusaha-menyeretnya-ke-bagian-paviliun-yang-lebih-dalam.

Perlawanan yang sia-sia... pikirnya. Diturunkannya tangannya dan menyerah pada si penyerang itu. Aku akan mati seperti ibu...

Seperti kelakuannya yang tiba-tiba, seperti itu pula penyerang itu melepaskan pegangannya.

Dengan perlahan-lahan, dibukanya matanya yang sedikit perih karena cahaya yang tiba-tiba saja menyapa.

Begitu penglihatannya menjadi lebih jelas, apa yang ada di hadapannya itu sungguh membuatnya tercengang.

#

TBC

############################################################################################################

Maaf karena update yang lama...

kesalahan bukan pada komputer anda, tapi pada babeh Cha yang seenaknya membawa kabur laptop...

apalagi, bentar lagi mau UAS dan Cha belum ada persiapan sama sekali...

maklum, pengguna SKS sejati...

chapter selanjutnya pas liburan aja ya...

#

Thanks 4 all reviewers:

Nakamura Arigatou, 5 Sekawan, , dilia shiraishi, VongoLa-aI, Deeandra Hihara, Kristi Tamagochi, ., yuu aja, UcHiHa MixMiu, D1Ndr4_g0n (dra, cha rehat dulu dari fs!), The Supernova, Ryu.

Jangan bosen ngereview ya!

saran dan kritik di terima!

ps: ada yang ngrasa kalo cara nulis cha di chapter ini agak beda?

ps2: ada yang baca Yami No Matsuei? Muraki-nya keren!!!