Cha's Note:

Akhirnya…

Dilanjutin juga…

Bangganya…

Makasih buat yang udah setia menunggu…

Cha seneng banget…

Selamat menikmati chap berikut…


Uzumaki's Mansion. Sehari setelah ulang tahun Sang Tuan Muda.

Seorang pemuda berambut pirang duduk dengan tenang di atas ayunan kayu yang tergantung pada satu-satunya pohon yang berada di halaman samping rumah mewah itu. Padahal, hanya beberapa langkah dari tempat itu terdapat sebuah gazebo yang terlihat nyaman. Namun sepertinya Sang Tuan Muda tidak terlalu begitu peduli di mana dia duduk. Pun dengan kucing anggora putih yang dengan manjanya tidur di samping kaki majikannya itu.

Di pangkuannya terdapat sebuah buku yang terbuka halamannya. Dengan serius, diresapinya satu per satu kalimat yang ada di buku itu. Sampai-sampai tidak menyadari kehadiran seorang pemuda lain yang kini berjalan mendekatinya.

"Anda bisa masuk angin kalau berada di luar tanpa mengenakan jaket, Tuan Muda," ujarnya. "Dan sepertinya sebentar lagi akan hujan."

Pemuda yang dipanggil Tuan Muda itu menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari objek di tangannya. "Kau sendiri ngapain di luar sini? Kalau memang dingin, kau masuk saja ke dalam."

Pemuda berambut hitam itu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Anda seharusnya lebih mengkhawatirkan kesehatan anda daripada mengurusi saya."

"Lebih baik katakan hal itu pada dirimu sendiri."

"Haah…" dia menarik napas panjang. "Kalau anda tidak masuk juga, saya terpaksa harus menarik anda dengan paksa, Naruto-sama."

Naruto mendengus kemudian menutup bukunya setelah sebelumnya menaruh pembatas buku untuk menandai halamannya. "Kau ini… bisa nggak sih sekali-kali memikirkan dirimu sendiri sebelum orang lain? Terkadang egois itu juga perlu, tahu!" katanya sambil memandang pemuda yang kini berjarak dua langkah darinya.

"Sudah cukup satu anak kecil di rumah ini, tidak perlu ditambah lagi."

"Kau mengejekku, teme?"

Sasuke hanya mengangkat bahu.

Naruto mengalihkan perhatiannya kepada Kuro, kucing yang kini menggeliat malas dalam tidurnya, dan mengangkatnya kemudian menaruhnya di pangkuannya, di atas buku yang barusan dibacanya. "Ngomong-ngomong, pipimu gimana? Masih sakit?"

Refleks, Sasuke mengusap pipi kanannya yang terlihat sedikit membiru. "Hanya sedikit memar. Tidak usah khawatir."

"Aku juga nggak akan merasa bersalah kok. Habis, itu kan salahmu sendiri…"

XxXxX

FLASHBACK

"Happy Birthday, Naruto-sama!"

Naruto mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, berusaha menyesuaikan dengan cahaya yang tiba-tiba menyapanya.

"Eh?" tanyanya dengan ekspresi bodoh.

Di hadapannya, terdapat sebuah kue ulang tahun berwarna coklat dengan hiasan wajah Kyuubi di atasnya, juga krim putih yang meliuk-liuk di bawah gambar itu yang menyusun namanya. Tak hanya itu, di atas meja bertaplak warna hijau polkadot yang ada di tengah ruangan itu terdapat berbagai macam kue-kue sederhana dan minuman warna-warni. Di sekeliling yang cukup besar tersebut, walaupun tidak terlalu ramai, terdapat hiasan-hiasan yang terlihat dipasang terburu-buru.

Kemudian dia menyapukan pandangannya kepada orang-orang yang ada di ruangan. Dikenalinya beberapa laki-laki yang memakai jas dan kacamata hitam –pengawal dan penjaga rumah yang dicurigainya sebagai mantan yakuza-, lalu para wanita yang mengenakan kemeja putih dengan rok krem kotak-kotak –pelayan yang selalu menjaga barang-barang di rumahnya selalu pada tempatnya-, kemudian Yumiko, Iruka dan Kakashi.

Irukalah yang pertama kali buka suara. "Selamat ulang tahun, Naruto-sama," katanya sambil tersenyum. "Kami harap, Anda suka dengan pesta yang kami adakan ini. Yah… walaupun tidak terlalu sempurna sih…"

"Kenapa…?" Naruto masih terkejut dengan pemandangan di depannya itu.

Suara berat Kakashi yang menjawabnya. "Karena Tuan Muda ngambek seperti tadi sore, kami terpaksa mengadakan pesta yang merepotkan ini agar Tuan Mu… AUCH! Ruka!"

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, siku Iruka sudah lebih dulu menyodok dadanya. "Jaga mulutmu, Kakashi…" ujarnya dengan tatapan jangan-macam-macam-kau-pada-anakku. "Maksudnya… kami tidak ingin melihat anda sedih di hari ulang tahun anda, Tuan Muda… Kami semua sayang pada anda…"

Naruto tidak percaya akan apa yang didengarnya. Matanya berkaca-kaca. Aku lupa… masih banyak orang yang sayang padaku…

"Terimakasih semua…"

Yumiko maju mendekati majikan mudanya itu dan menggenggam kedua tangannya. "Anda berhak mendapatkan ini, Tuan Muda…" Senyumnya mengembang, "… Lagipula, anda sebaiknya berterimakasih kepada Sasuke yang sudah merencanakan acara ini…"

Seakan sadar akan sesuatu, Naruto melepaskan tangannya dari Yumiko. "Mana Sasuke?" tanyanya. Matanya kembali menyapu ruangan itu, tapi tidak menemukan pemuda berambut hitam yang dimaksudnya. "Aku akan menghajarnya karena sudah membuatku ketakutan setengah mati…"

"Tidak usah anda hajar juga anda sudah berhasil membuat pipi saya bengkak." Sebuah suara yang dikenalnya terdengar dari balik punggungnya.

Naruto berbalik dengan cepat hanya untuk menemukan Sasuke yang tengah menggosok-gosok pipinya sambil meringis kesakitan. "Kau kenapa? Sudah babak belur sebelum aku sempat menghajarmu."

"Ini… tadi waktu anda memberontak dan bergerak-gerak seenaknya, anda berhasil menonjok pipi saya…"

"Oh… sakit ya?" tanyanya dengan wajah tanpa dosa. "Salahmu… mengerjaiku…"

"Tuan Muda… saya melakukan hal itu agar setidaknya sifat egois Tuan Muda sedikit berkurang. Tadi sore anda marah-marah dan membentaki Iruka atas kesalahan yang tidak dilakukannya. Saya ingin anda sedikit merasakan bagaimana jika sampai tidak ada kami semua di dekat anda. Dan benar dugaan saya, anda betul-betul ketakutan…" Sasuke tertawa kecil di akhir kalimatnya yang menyebabkan Naruto menggembungkan pipinya tanda kesal.

"Yare-yare…" Kakashi kembali berbicara sambil masih menggosok-gosok dadanya. "Sudahlah… berhenti bertengkarnya, lanjutkan saja besok. Sekarang mulai pestanya. Aku sudah susah payah membuat semua makanan ini dalam waktu yang singkat, kalian harus menghargainya!"

Dan dengan perkataan itu, Naruto meninggalkan Sasuke untuk meniup lilin yang berbentuk angka 17 dan memotong kuenya. Potongan pertama diberikan kepada Iruka sebagai permintaan maafnya. Potongan kedua malah dimakannya sendiri ("Kalau mau kuenya, potong sendiri dong!"). Setelah itu, semua orang yang ada di ruangan itu menyerbu meja untuk mengisi perut mereka yang mulai bernyanyi.

Tawa dan canda menghiasi ruangan itu hingga malam mulai menuju pertengahan. Tak ada lagi Naruto yang ngambek dan kesal. Sepertinya sudah lupa akan kemarahan yang tadi dirasakannya. Semua orang bergembira di pesta dadakan itu. Mungkin kalau tidak diperingatkan oleh Yumiko ("Kalian ini masih punya pekerjaan untuk besok pagi, kan? Tuan Muda juga butuh tidur!"), pesta itu akan berlanjut sampai pagi…

END FLASHBACK

XxXxX

"Kau dan ide bodohmu…" gumam Naruto.

"Tapi, anda senang bukan?" goda Sasuke.

Naruto tidak menjawab pertaannya. Mana mungkin aku bilang kalau itu adalah pesta yang sangat menyenangkan? Bisa mati aku…

Sasuke yang menangkap gelagat Tuan Mudanya hanya tertawa kecil, seakan tahu apa yang ada di dalam pikiran pemuda berambut pirang itu. Akhirnya, dia mengalihkan pembicaraannya, "Anda suka buku yang saya berikan?"

Sedikit terkejut karena topik yang berubah, Naruto tergesa-gesa mengambil buku yang ada di pahanya menyebabkan Kuro terjatuh dari pangkuannya. "Ini?" katanya sambil mengangkat buku bersampul coklat dan memperlihatkannya pada Sasuke yang mengangguk membenarkan.

"Ya… aku suka ceritanya…" Naruto memandangi buku berjudul 'For One More Day' itu sejenak sebelum pandangannya menerawang. "Seandainya… kalau aku bisa bertemu Kaa-san sekali lagi, aku akan bilang padanya bahwa aku sangat menyayanginya. Kemudian, aku akan minta maaf sebanyak-banyaknya, atas kesalahanku yang menyebabkannya pergi untuk selamanya…" tatapannya berubah sedih.

Sasuke memandangnya bingung. Setelah 8 tahun menjadi bodyguardnya, dia masih belum tahu kenapa Kushina-sama, ibu Naruto, meninggal. Dari apa yang dibacanya di koran, Kushina disebutkan meninggal karena sakit, tapi tidak disebutkan penyebabnya. Bertanya pada pelayan yang lain pun percuma, mereka hanya akan tutup mulut. Apalagi pada Naruto. Sama saja menyuruh orang bisu bernyanyi.

"Maaf… seharusnya saya tidak memberikan anda buku itu…"

Naruto tertawa hambar. "Sudahlah…" Naruto bardiri sambil menepuk-nepuk celananya. "Sudah hampir hujan, lebih baik kita masuk ke dalam…"

Naruto berjalan menuju ke arah Sasuke yang masih diam di tempatnya. Karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, dia tidak memperhatikan langkahnya. Akibatnya, ekor Kuro yang ada di dekatnya terinjak dan Kuro yang terkejut, refleks menancapkan cakarnya ke kaki Naruto yang hanya memakai sandal.

"AUCH!!" Naruto segera menjauhkan kakinya dari jangkauan Kuro. Karena mengangkat kaki yang terluka, pemuda pirang itu kehilangan keseimbangan. Dan sesuai dengan hukum gravitasi, Naruto pun tertarik ke tanah. "Wa…

"Naruto!" Sasuke yang demi melihat majikannya terjatuh, tidak sadar dengan apa yang dilakukannya –memanggil nama Naruto dengan namanya sendiri di luar jam sekolah-.

-

-

BRUUKK

-

-

Dan terjatuhlah mereka berdua.

-

-

Dengan posisi yang sudah bisa ditebak.

Karena Sasuke menahan Naruto mencium tanah dengan tubuhnya sendiri, maka bisa ditebak bahwa Naruto terjatuh di atas badan bodyguardnya itu.

Perlu beberapa detik bagi mereka berdua untuk menyadarinya.

"Tu… Tuan Muda! Anda tidak apa-apa?" Sasuke mangkhawatirkan majikannya yang hanya menatapnya balik dengan mata birunya.

Sebentar kemudian, Naruto menggeleng.

"Syukurlah…" Sasuke menarik napas panjang. Ketika menyadari bahwa posisi mereka berlum berubah, wajahnya mulai sedikit memerah karena wajah Naruto yang berada sangat dekat dengannya.

"Mm… an… anda sudah bisa bangun, Tuan? Sudah mulai gerimis, anda bisa kehujanan."

Lagi, Naruto menggeleng.

Sasuke tidak mengerti dengan apa yang ada di pikiran majikannya itu. Apalagi, ketika tiba-tiba, Naruto menurunkan wajahnya menuju telinga kiri Sasuke. Kedua tangannya masing-masing berada di samping kepala Sasuke.

"Ne, Sasuke…" Nafas Naruto yang begitu dekat dengan telinganya membuatnya sedikit bergidik. "… tadi kau memanggil namaku kan? Tanpa embel-embel apapun?"

Hening. Sasuke tidak menjawab –tidak bisa menjawab lebih tepatnya- pertanyaan barusan. Ada sensasi aneh yang menjalar di punggungnya ketika napas Naruto kembali menyapa telinganya. Wangi jeruk semakin jelas menggelitik hidungnya.

"Kok diam?" Bisa didengarnya, pemuda 17 tahun itu tersenyum.

"Saya…" Urgh… pemuda berambut hitam itu menahan keinginannya untuk berteriak.

"Ne, Sasuke…" ulang Naruto lagi, "… kau ingat pertanyaan yang pernah kau tanya waktu itu?"

Dan –lagi-, Sasuke tidak menjawab.

"Kau pernah tanya, kan, apa kau bisa menggantikan tempat Sai-niisan?"

Sasuke mengangguk dengan bodohnya. Dia sama sekali tidak tahu ke mana arah pembicaraan ini. Apalagi dengan panas tubuh Naruto yang menimpanya, membuat otaknya membeku untuk sementara waktu.

"Jawabannya…" Naruto mengangkat wajahnya, kali ini memandang bola mata hitam yang memandangnya dengan keheranan. "… tidak."

Dan dengan itu, Naruto kembali menurunkan wajahnya, mendaratkan bibirnya ke pipi kanan Sasuke.

"Ini…" katanya tanpa melepaskan ciumannya, "… maaf ya?"

Kali ini, Sasuke benar-benar tidak bisa berpikir apa-apa.

Perlahan, Naruto menggerakkan bibirnya…

… menuju bibir Sasuke.

Mata Sasuke terbuka lebar ketika bibir Naruto menekan bibirnya dengan lembut. Mata biru langitnya terpejam.

Tak ada yang bergerak. Untuk Sasuke, dia terlalu takut untuk bergerak. Dia tak mau kehilangan sentuhan yang menyenangkan itu.

Dan perlahan pula, Sasuke menutup mata onyxnya, berusaha merasakan ciuman itu lebih lama. Dia tidak membalasnya, tapi tidak juga menolaknya. Dia hanya ingin menikmatinya.

Entah berapa detik kemudian, Naruto menjilat bibir bawah Sasuke dengan lembut. Seakan mengerti apa yang dilakukan Tuan Mudanya, Sasuke membuka mulutnya sedikit…

… hanya untuk mendapati sentuhan yang memabukkan itu telah berakhir. Bola mata biru itu telah terbuka dan kembali memandang ke dalam matanya. Pipinya terlihat memerah.

"… karena Sai-niisan tidak akan pernah menjadi lebih dari seorang kakak bagiku… dan kamu…" Naruto menggeleng. Dan tanpa pernah menyelesaikan kalimatnya, Naruto bangkit dari posisinya di atas pemuda bermata hitam yang masih memandangnya dengan tatapan tidak percaya.

"Gerimis…" hanya itu yang dikatakannya sebelum berlari menuju rumah yang hangat.

Tinggallah Sasuke yang masih berusaha mencerna arti dari kelakuan dan perkataan majikannya tadi. Disentuhnya bibirnya, baru disadarinya bahwa wajahnya memanas dan degup jantungnya lebih cepat dari biasanya

Ini… bukan mimpi, kan?

XxXxX

NARUTO'S POV

Haah… hari Senin lagi… sekolah lagi… dan yang paling buruk, pelajaran bejat bernama FISIKA itu lagi!!!

Untuk kesekian kalinya, aku menarik napas panjang. Lee yang duduk di sampingku sudah tidak heran lagi. Aku memang selalu begini setiap hari Senin. Bayangkan saja, pelajaran pertama saja sudah langsung kimia. Setelah itu disusul biologi, dan setelah istirahat masih ada matematika. Dan, seakan semua itu belum cukup, masih ditambah dengan pelajaran fisika!

Siapa sih yang bikin jadwal seperti itu! Betul-betul nggak punya perikemuridan! Terus kenapa fisika harus ditaruh di jam terakhir! Kepalaku keburu udah penuh sama konfigurasi elektron, sel-sel tumbuhan, sama permutasi dan kombinasi! Sudah nggak akan cukup tempat untuk hukum-hukum Newton dan gaya gravitasi!

Haah… lagi-lagi aku menarik napas panjang. Kalau memang benar gaya gravitasi segitu kuatnya, aku ingin ditarik ke dalam pusat bumi saat ini juga!

RRRIIINNGGG…

Dan betapa gembiranya hatiku mendengar bel makan siang itu!

"Kantin!" teriakku lantang sambil mengacungkan tinjuku ke udara. Bisa kudengar beberapa anak menertawaiku. Sebodo ah!

"Bagus! Ayo kita isi ulang semangat jiwa muda kita!" Lee ikut-ikutan memasang pose nice guy-nya dan menarikku keluar dari kelas.

Untuk beberapa alasan, aku bersyukur sekarang aku memiliki teman-teman yang baik seperti sekarang. Karena dulu, hanya ada Sasuke yang menemaniku. Dan sekarang, alasan kali ini aku bersyukur karena kelas Kiba dan Chouji ada di lantai 1 dan kelas yang paling dekat dengan kantin. Jadi mereka berdua selalu bisa mendapatkan tempat untuk kami setiap jam makan siang yang selalu menyebabkan kantin penuh sesak.

Kami kembali akrab seperti kelas 1 dulu. Sudah seminggu lebih kami makan siang bersama di kantin.

Begitu sampai di kantin, terlihat Kiba dan Chouji sudah mulai sibuk berkutat dengan makanannya. Di samping mereka sudah ada Shikamaru dan Sakura. Kami segera menghampiri dan duduk di tempat yang sudah mereka siapkan. Aku di samping Sakura, sedangkan Lee di samping Shikamaru yang kelihatannya sedang tidur.

"Hei Kiba, Chouji!" sapa Lee kepada mereka berdua yang hanya dibalas dengan anggukan karena mulut keduanya yang masih penuh.

"Kalau kau mau tidur, bukannya lebih baik di kelas, Shika?" tanyaku. Shikamaru sebenarnya adalah kakak kelasku, sama seperti Sakura. Tapi… rasanya nggak pantas kalau harus panggil dia dengan sebutan Senpai.

"Tadi kami nggak ada pelajaran, trus karena ribut, Shika ngungsi ke sini…" Sakura yang menjawab pertanyaanku. Tangannya sedang sibuk memotong-motong roti bakarnya. "Terus karena malas balik ke kelas, dia keterusan tidur di sini deh…"

Aku hanya mengangguk-angguk mengerti.

Setelah menitipkan pesananku pada Lee, aku segera menghadap Sakura lagi. "Sasuke mana?"

Sakura berhenti sebentar dari kegiatannya, sepertinya sedang bepikir. "Tadi katanya sih mau mengerjakan tugas di kelas. Padahal aku yakin, dia pasti sudah mengerjakannya," dia mengginggit sedikit rotinya sebelum melanjutkan. "Seminggu ini dia aneh, sepertinya nggak fokus. Aku nggak pernah lihat dia kaya gitu…"

Aku tersenyum dalam hati. "Oh…"

Sakura menatapku heran. Sebelum dia sempar bertanya lagi, seorang pria setengah baya mengantarkan mengantarkan ramen pesananku.

"Itadakimasu!"

Tanpa aba-aba, aku memakan ramen porsi jumboku. Sakura akhirnya kembali berkutat dengan rotinya.

Sasuke… aku tersenyum memikirkannya. Aku juga merasa, selama seminggu ini, tepatnya seminggu sete;ah hari ulang tahunku itu, sikapnya jadi sedikit aneh. Jika aku berbicara dengannya, dia menolak untuk melihat mataku seperti biasanya. Dan dia menjadi sangat sensitif dengan kata-kata yang menyangkut 'bibir', 'ciuman', dan sebagainya.

Seperi tadi pagi waktu kami sarapan bersama. Sasuke yang duduk di hadapanku tidak mengangkat wajahnya, tapi aku bisa melihat ada sedikit saus yang menempel di bibirnya.

"Sasuke… ada saus di bibirmu…" kataku memberitahunya.

Seketika itu juga, Sasuke langsung menundukkan kepalanya lebih dalam dan menyelesaikan sarapannya. Aku hanya memandangnya dengan bingung. Sekilas aku bisa melihat pipinya yang memerah.

Tapi setelah aku pikir lagi, sepertinya aku bisa mengerti sebab kelakuannya itu.

Ciuman yang aku berikan sehari setelah ulang tahunku. Aku sendiri tidak tahu apa yang waktu itu aku lakukan. Kami begitu dekat. Aku hanya ingin menyentuhnya. Padahal itu ciuman pertamaku. Tapi… karena itu dengan Sasuke… kenapa tidak?

"Na… Naruto-kun… kau senyum-senyum sendiri…" Tanpa sadar, Hinata sudah duduk di sampingku.

Aku tertawa kecil, malu karena tertangkap basah sedang memikirkan Sasuke. "Hehe… nggak apa-apa kok…"

"Aku duluan ya, Naruto. Ada urusan sebentar…" Sakura bangkit darn kursi di sampingku. "Tidak usah bangunkan Shikamaru. Jam pelajaran habis ini kosong…" tambahnya sebelum pergi dari kantin. Aku hanya mengangguk.

"Hinata-chan… mana Ino-chan?" tanyaku ketika menyadari cewek berambut pirang itu tidak ada. Bukannya aku ingin bertemu dengannya, hanya saja, selama seminggu belakangan, Ino juga selalu muncul di kantin bersama dengan Hinata karena mereka teman satu kelas.

"Diet…" Chouji yang menjawabnya. "Dia yang bilang sendiri kemarin…"

Aku hanya mengangguk-angguk mendengar jawabannya. Paling tidak, sekarang aku bisa bebas darinya setiap jam makan siang. "Aku duluan balik ke kelas ya! Habis ini Fisika. Mau menyiapkan hati…"

"Halah… tetep aja nggak ada yang nyangkut di kepala. Dari kelas satu juga gitu kan…" Kiba tertawa mengejekku. Sebagai hadiah, aku memberinya pukulan kecil di kepala yang membuatnya tersedak.

XxXxX

"Niatmu tak bisa diluruskan lagi? Kalau begitu sih, kau hanya akan menyakiti anak itu…" gadis berambut merah muda itu berbicara kepada sahabatnya.

"Sakura…" potongnya, "… ini bukan cuma sekedar masalah perasaan. Cowok seperti dia itu nggak boleh dianggurin. Sayang banget lagi…" tak dilepaskan pandangannya dari cermin di dinding di hadapannya.

"Kenapa sih? Kamu dulu nggak kaya gini kok! Dulu kamu ngotot banget harus dapetin Sasuke, kenapa sekarang…"

"Kamu yang seharusnya merubah pandanganmu, Sakura… Sasuke itu nggak punya masa depan yang cerah. Dia cuma bodyguardnya Naruto. Daripada sama budaknya, mending sama majikannya sekalian kan?"

"Ino! Jaga bicaramu!"

"Apa yang harus dijaga? Aku bicara sesuai kenyataan kok!" kali ini, gadis pirang itu menatap sahabatnya. Tangannya disilangkan di depan dadanya, seakan menantang gadis berambut merah muda itu. "Dan kamu nggak usah sok suci deh! Paling juga kamu nyesel dalam hati karena kamu naruh hati ama Sasuke."

"Aku nggak nyangka… aku piker kamu…"

"Apa? Kamu tahu apa tentang aku? Keluargaku hanya punya toko bunga kecil-kecilan, penghasilan juga nggak seberapa. Dan itu semua nggak akan cukup untuk aku. Paling nggak, kalau aku punya cowok seperti Naruto, hidupku bias terjamin."

"Cukup! Aku nggak mau dengar kata-kata kamu lagi!" dengan itu, sakura menghentakkan kakinya dengan keras dan meninggalkan Ino sendirian di bawah tangga dan menuju kelasnya sendiri. Ino… kamu bukan seperti yang kukenal dulu…

"Dasar cewek bodoh… mana mungkin aku mau sama seseorang yang nggak punya masa depan yang cerah. Kalau dia memang jenius seperti yang dikatakan orang-orang, harusnya dia juga segera melupakan cowok pecundang seperti Sasuke…"

"Yang pecundang itu kamu, Ino…" suara seseorang terdengar dari belakangnya.
"Na.. Naruto-kun!" ujarnya. Dia terlihat sangat salah tingkah. "Er… sedang apa kamu di sini?"

"Nggak penting ngapain aku di sini… Apa maksud kamu bicara seperti tadi?" Mata biru langit Naruto yang biasanya bersinar cerah terlihat sedikit gelap.

"Bi… Bicara apa? Aku… aku nggak ngerti apa maksud kamu…"

"Jangan pura-pura nggak tahu!" teriaknya pada Ino yang kini matanya melebar karena ketakutan sambil memukul tembok di sampingnya. "Aku nggak sebego itu untuk nggak mengerti apa maksud perkataanmu tadi…"

"Itu… a… aku hanya bercanda. Jangan marah gitu dong, Naruto-kun…" tangan Ino berusaha memeluk lengan Naruto yang segera ditepisnya dengan kasar.

"Jangan sentuh aku…" desis Naruto. "Kamu nggak punya hak untuk ngomong hal seperti itu tentang Sasuke. Kamu nggak tahu apa-apa tentang dia."

"Naruto… aku minta maaf… Tadi hanya keceplosan…" lagi, Ino berusaha menyentuh Naruto hanya untuk mendapat perlakuan yang sama seperti sebelumnya.

"Keceplosan? Tapi tadi kamu ngomong dengan sangat lancar pada Sakura. Makanya, kalau kau mau menjelek-jelekkan seseorang, cari tempat yang lebih tersembunyi daripada di bawah tangga seperti ini…" ujarnya dengan suara yang sedingin es, kemudian dia berbalik dan meninggalkan gadis itu.

"Naruto-kun…"

"Satu hal lagi, Ino… Jangan dekati aku ataupun Sasuke jika kau masih punya pikiran seperti itu…" katanya tanpa menghadap Ino dan segera hilang menaiki tangga.

"Shit… sekarang hilang tambang emasku…" Ino menggerutu pada dirinya sendiri. "Tapi jangan kau kira kau menang dariku, Naruto-kun. Aku nggak pernah menyerah begitu aja. Kalau memang aku nggak bisa mendapatkanmu, maka nggak ada yang bisa…" Seulas senyum licik tersirat di bibirnya.

"Kau akan kubuat menyesal, Naruto-kun…"

-TO BE CONTINUED-


Yey!

Chap 5 selesai juga…

Sepertinya kecepetan ya?

Aduh… gomen…

Lagi nggak mood nih...

-halah, pake alesan segala-

Okey… Cha nggak sabar pengen chapter selanjutnya…

Ada apa?

Tunggu saja… hohoho… -evil laugh-

Tapi sepertinya akan agak lama,

Cha pengen fokus ke fict Cha yang baru…

'The Last Thing Lost'. Rate M lho…

Baca juga ya! –promosi mode on-

Thank's For All Reviewers:

Deeandra Hihara, 5 Sekawan, Sabaku No Kaoru, Chiba Asuka, dilia shiraishi, , .UchiSa, D1Ndr4_gOn, Chiaki Megumi.