Cha's Note:

Akhirnya Cha memutuskan untuk tidak menelantarkan (?) fict ini dulu…

Mau Cha lanjutin aja sekalian,

Sebelum Cha lupa apa yang mau ditulis…

Maklum, Cha tipe orang yang selalu nyimpen plot cerita di kepala,

Nggak ditulis di kertas atau di manapun…

Jadi sekalinya lupa, ya wassalam…

Hehehe…

-dikeroyok massa-


MY BODYGUARD

Story by Charlotte. d'Cauchemar

Naruto by Masashi Kishimoto

Warning:

AU. OOC. Yaoi.

Chapter 6

Summary:

Mungkin… selama ini aku yang nggak pernah mengakuinya. Rasa sayang yang kurasakan terhadap Naruto, mungkinkah itu…

… cinta?


"Sejak kemarin, anda tidak bersemangat, Tuan Muda," ujar Sasuke sambil menaruh sepiring nasi goreng di depan Naruto. Kemudian dia mengambil tempat di samping majikannya itu dan mulai memakan sarapan paginya yang serupa dengan milik Naruto hanya saja dengan ekstra tomat –well, bisa dibilang itu nasi goreng tomat-.

"Hmm…" Naruto menjawab dengan tidak semangat.

"Sakit?"
Naruto menggeleng dan mulai mengaduk-aduk nasi gorengnya tanpa ada niat untuk memakannya. "Cuma kurang tidur…"

Sasuke mengangkat alisnya, heran. "Tapi tadi malam, anda masuk kamar jam 7, bahkan melewatkan waktu makan malam. Ada masalah?"

Naruto menarik napas panjang. Gini nih, susahnya punya bodyguard yang matanya nggak bisa ditipu… pengen tahu aja urusan orang… Mana bisa aku bilang semaleman aku mikirin perkataan Ino kemarin…

"Sasuke… menurut kamu… kalau… er… kalau…"

"Ya?" Sasuke dengan sabar menanti tuan mudanya untuk melanjutkan kalimatnya.

Ayo… kamu bisa Naruto!

"Gimana rasanya kalau kamu… er… suka ama seseorang?"

Hampir Sasuke menyemburkan nasi goreng yang tengah dilahapnya. Hampir, tapi ditahannya demi menjaga harga dirinya di hadapan majikannya.

"Kenapa… uhuk… tiba-tiba tanya seperti itu?" Diambilnya segelas jus tomat yang ada di samping piringnya. Beberapa butir nasi berhasil lolos ke tenggorokannya, membuatnya terbatuk.

"Nggak apa-apa sih… Cuma… kalau misalnya kamu suka sama seseorang, apa yang kamu lihat dari orang itu?"

Sasuke terlihat berpikir sebentar sebelum menjawab. "Alasan untuk menyukai setiap orang itu berbeda-beda, Tuan Muda. Karena setiap orang masing-masing memiliki 'sesuatu' yang membuatnya bersinar. Entah itu kebaikan hatinya, ataupun hanya sekedar senyum yang bisa menghangatkan hati."

"Lalu… kalau menurutmu, apa yang ada pada diriku yang bisa membuatku 'bersinar'?" Naruto membentuk tanda kutip dengan kedua tangannya pada kata terakhir.

Sasuke menghabiskan suapan terakhir dari sarapannya dan menyingkirkannya ke samping. "Hmm… Tuan Muda itu… orang yang menarik. Egois, manja, dan terlalu kekanak-kanakan…" Sasuke tertawa kecil ketika dilihatnya Naruto menggembungkan pipinya. "… tapi, kalau orang-orang bisa mengenalnya lebih dekat lagi, dia itu pribadi yang menyenangkan, walaupun tidak pernah memperlihatkannya, tapi sebenarnya dia sangat menyayangi orang-orang yang ada di sekelilingnya…

"… banyak orang selalu melihatnya sebagai pribadi yang ceria seakan tidak punya beban. Tapi, sebenarnya dia melakukan semua itu hanya karena tidak mau membuat orang lain khawatir. Banyak orang yang menghormatinya hanya karena harta dan kedudukan yang dimilikinya, bukan karena apa yang ada di dalam dirinya. Padahal, hatinya betul-betul tulus dalam membuat orang lain bahagia. Dan senyum yang diberikannya pada setiap orang itulah yang membuatnya disukai banyak orang…"

Sasuke terus berbicara, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Naruto yang kini memandangnya dengan penuh perhatian. Ada sebuah perasaan hangat yang menelusup ke dalam hatinya ketika mendengar apa yang dikatakan Sasuke tentang dirinya.

Rupanya… orang yang paling mengerti tentang aku memang Sasuke…

"Ne, Sasuke…" katanya menginterupsi perkataan Sasuke yang masih asyik dengan penjelasannya sendiri, "… apa kamu menyukaiku?"

"Tentu saja…" katanya tanpa pikir panjang. Segera setelah menyadari apa yang dikatakannya, wajahnya sedikit memerah dan buru-buru melanjutkan, "… maksud saya… bukan suka seperti itu, tapi…"

"Aku juga menyukaimu kok, Sasuke…"

Sasuke memandang Tuan Mudanya dengan tatapan tidak percaya.

Ma… masa sih Tuan Muda…

"… terus aku juga suka Yumiko-baachan, Iruka juga! Kakashi juga sih, walaupun dia menyebalkan…"

Seulas senyum pahit muncul di sudut bibir Sasuke. Memang khas Tuan Muda… Apa sih yang kuharapkan…?

XxXxX

SASUKE'S POV

'Aku juga menyukaimu kok, Sasuke…"

Uh… kenapa sih, aku malah inget kalimat itu terus?! Maksud Naruto kan 'menyukai' dalam arti sebagai 'teman'. Dia menyukaiku hanya karena aku adalah bodyguardnya, dan sudah seharusnya aku menyukainya karena dia majikanku. Itu hal yang wajar, kan?

Memang, apalagi yang bisa aku harapkan lebih dari ini?

Nggak… aku nggak bisa mengharapkan apa pun lebih dari yang selama ini sudah kudapatkan. Majikan dan bawahan. Hanya sebatas itulah hubungan kami berdua. Nggak kurang, nggak lebih.

Naruto… semua yang aku katakan tadi pagi kepadanya itu memang apa yang benar-benar aku rasakan terhadap pemuda ceria itu. Walaupun kekanak-kanakkan, tapi itu adalah salah satu usahanya untuk mendapat perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Aku masih bisa mengingat ketika kami masih kecil dulu. Bagaimana dia selalu menghabiskan waktunya sendirian, diacuhkan orang-orang di sekitarnya karena kedudukannya. Tapi… dia selalu tersenyum, seakan tidak mau membagi beban yang sedang dipikulnya.

Padahal… sekali-sekali aku juga ingin dia percaya padaku untuk meringankan semua masalahnya. Tapi memang sudah sifatnya tidak mau membuat orang lain khawatir. Menurutnya… lebih baik dia yang merasa sakit daripada orang lain yang merasakannya.

Maka, hanya satu hal yang bisa aku lakukan untuknya. Selalu ada di sampingnya setiap saat. Sebagai bodyguardnya.

Bodyguard. Bodyguard. Bodyguard.

Ukh… aku meremas seragamku di bagian dada.

Sakit… kenapa sesakit ini mengingat aku nggak lebih dari seorang bodyguard untuknya? Dan lagi… memangnya Naruto merasakan hal yang sama?

Tapi, kalau tidak begitu… maksud dari ciuman waktu itu… apa? Apa nggak ada arti apa pun buatnya? Itukan… ciuman pertamaku…

Mungkin… selama ini aku yang nggak pernah mengakuinya. Rasa sayang yang kurasakan terhadap Naruto, mungkinkah itu…

… cinta?

Am I… falling for him?

-

-

"…-kun…"

"Sasuke-kun!"

Tersentak, aku memandang bola mata hijau yang kini menatapku dengan tatapan khawatir. "Kau tidak apa-apa kan? Sejak pelajaran tadi, kau sama sekali nggak konsentrasi…"

"Aku nggak apa-apa, Sakura." Aku berusaha sebisa mungkin menjaga suaraku. Sedikit terkesiap ketika melihat hampir seisi kelas sudah kosong. "Pelajaran?"

"Sudah selesai beberapa menit yang lalu…" Sakura bangkit dari kursinya dan menghampiriku. "Kamu ngelamunnya serius banget sih…" dia tertawa kecil.

Aku tidak mengindahkan perkataannya, hanya membereskan buku-bukuku yang masih ada di atas meja dan memasukkannya ke dalam tas.

"Tu… er… Naruto sudah ke sini?"

Sakura menggelengkan kepalanya. "Mungkin dia menunggu di kelasnya? Atau di tempat parkir?"

Aneh… tadi pagi… dia bilang dia yang akan ke kelasku. Katanya sekalian mau ketemu Sakura. Tapi kok…

"Sasuke-senpai!"

Sebuah suara yang kelewat semangat membuatku mengalihkan pandangan ke arah pintu kelas.

"Lee?"

Dengan penuh percaya diri, pemuda beralis –kelewat- tebal itu berjalan ke arahku dengan langkah lebar-lebar. Kemudian, dia mengulurkan sebuah ransel berwarna hitam bertuliskan 'Out Line' di bagian depannya ditambah gantungan kunci Kyuubi di setiap resletingnya. Tas yang sama yang aku kenali sebagai milik Naruto.

Aku tak berkata apa-apa, hanya mengambil tas itu dan menatapnya dengan pandangan bertanya.

Seakan mengerti apa maksudku, Lee kemudian berbicara, "Waktu pelajaran terakhir, Naruto sama sekali nggak muncul sampai pelajaran selesai. Aku kira dia ada di UKS. Tapi, dia nggak ada di sana. Jadi… aku ke sini aja… Padahal… semangat masa mudanya nggak boleh di sia-siain buat bolos pelajaran…" jelasnya panjang lebar.

Perkataannya langsung membuatku merasa cemas. Nggak muncul di pelajaran terakhir? Tapi… Naruto bukan tipe orang yang akan melewatkan jam pelajaran, kalau bukan karena ada sesuatu…

"HP-nya?" tanyaku sambil berharap.

"Ada di tasnya tuh. Tadi aku coba misscalled," jawab Lee lagi.

Kali ini, aku benar-benar panik.

Segera aku meraih HP-ku sendiri, menghubungi Uzumaki's mansion. Siapa tahu dia ada di sana.

Iruka yang mengangkatnya. Dan jawabannya membuatku bertambah pucat.

"Gimana?" Sakura bertanya begitu melihat perubahan air mukaku. Aku hanya menggeleng sebagai jawabannya.

"Aku… harus segera mencarinya…" kataku tanpa mempedulikan Sakura dan Lee yang masih menatapku dengan tatapan khawatir.

Naruto… kalau sampai terjadi apa-apa denganmu, aku nggak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri…

XxXxX

NARUTO'S POV

Aku berjalan menuju kelasku sendiri. Dengan perut kenyang, lebih enak menghabiskan waktu dengan tidur siang. Tapi sayangnya, aku masih punya satu pelajaran terakhir sebelum bisa pulang.

Sasuke masih menolak untuk makan siang bersamaku dan yang lainnya. Padahal… kukira setelah kami bicara seperti biasa tadi pagi, sikapnya bisa kembali seperti semula.

Ketika hampir menaiki tangga ke lantai dua, aku menghentikan langkahku ketika mendengar seseorang memanggil namaku.

"Naruto-kun!"
"Kabuto-senpai…" aku tersenyum lebar kepadanya. Yakushi Kabuto, anak kelas 3, tapi beda kelas dengan Sasuke. Sebenarnya, dia anak yang cukup baik, ramah pada setiap orang. Hanya saja… dia itu anak kesayangan Orochimaru-sensei, guru Biologi yang… er… aneh? Sedikit murid yang mau berurusan dengannya. Makanya aku heran, kenapa Kabuto-senpai yang seperti ini bisa begitu dekat dengannya.

"Ada perlu apa, Senpai?"

Kabuto mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum akhirnya menjawab, "Aku bisa minta bantuanmu? Sebentar saja…"

Aku memiringkan kepalaku sedikit. "Bantuan? Apa?"

"Ada barang yang harus aku ambil di gedung olahraga. Kau bisa bantu aku membawanya?"

Aku tidak heran dia memintaku. Karena kedekatannya dengan Bakoro-sama –well, itu nama panggilan kami untuk Orochimaru- sedikit pula teman yang bisa didapatnya. Dan aku… walaupun tidak terlalu dekat dengannya, tapi aku juga tidak menolak kalau diminta bantuan.

Berpikir sebentar, akhirnya aku mengangguk mengiyakan. Dia dengan senangnya menarik tanganku menjauhi gedung utama sekolah.

Setelah beberapa saat, aku baru menyadari bahwa Kabuto menghentikan langkahnya.

"Kenapa, Senpai? Ada yang kelupaan?"

Dia tertawa kecil. "Iya…"

"Apa?"

"Well… kamu harus tidur sebentar, Naruto-kun?"

"Eh…"

Belum sempat aku mencerna kalimatnya, tangannya dengan cepat membekapku. Ada bau yang sangat menyengat yang tiba-tiba memasuki penciumanku dari sapu tangan yang dia gunakan untuk membekapku. Lalu… semuanya gelap.

XxXxX

Naruto membuka matanya perlahan. Sedikit perih ketika secercah cahaya jatuh di retinanya. Untungnya, ruangan tempatnya berada tidak memiliki pencahayaan yang cukup untuk membutakan matanya. Dirasakannya kepalanya yang sedikit berat.

Dicobanya untuk menggerakkan tangannya hanya untuk mendapati kedua tangannya terikat di belakang kursi tempatnya duduk. Sebuah sapu tangan di ikat di mulutnya. Sedikit bersyukur karena kedua kakinya tidak mengalami hal yang sama.

Begitu penglihatannya sudah kembali dengan sempurna, dia mengamati tempatnya berada. Sebuah gudang –sepertinya salah satu gudang yang ada di sekolah, tapi dia tidak tahu yang mana tepatnya-. Tak ada jendela. Satu-satunya pintu ada di seberang ruangan dan sepertinya terkunci. Penerangan pun hanya berupa sebuah lampu kuning tepat di tengah-tengah ruangan. Di sekelilingnya terdapat banyak meja, kursi, lemari, dan berbagai peralatan sekolah yang sepertinya sudah tidak layak pakai.

"Kau sudah bangun, Naruto-kun?"

Naruto memandang pemilik suara itu dengan tatapan marah. Dia mencoba berbicara, tapi sapu tangan di mulutnya menghalanginya untuk mengeluarkan suara.

Kabuto tertawa kecil. "Maa Naruto-kun… percuma memberontak… kau nggak akan bisa lepas semudah itu…"

"Bisa cepat kita selesaikan? Aku capek tahu…"

Sebuah suara menyadarkan Naruto kalau mereka tidak hanya berdua di ruangan itu. Dari balik bayang-bayang, bisa dilihatnya empat orang lain berdiri di samping Kabuto.

Ketika kelima orang itu akhirnya maju ke tempat yang disirami cahaya, mata Naruto melebar karena ngeri. Kimimaro, Kidoumaro, Zabuza, dan Sakon. Empat orang yang akan jadi pilihan terakhir untuk mencari masalah. Mereka dikenal sering keluar masuk ruang BP karena segudang masalah. Mulai dari yang ringan hingga hampir dikeluarkan dari sekolah jika bukan karena uang yang dikeluarkan oleh orang tua mereka.

"Mau diapakan?" Naruto menyadari itu suara orang yang berbicara sebelumnya. Kimimaro.

Kabuto hanya tersenyum sambil membetulkan letak kacamatanya. "'Tuan' bilang, terserah… yang penting kita harus membuatnya menyesal karena berani membuat masalah…"

"Yang penting… hancurkan dia, kan?" kali ini, Sakon yang sumbang suara.

Zabuza maju mendekati Naruto yang masih memandang mereka dengan tatapan horor. Tangannya meraih dagu Naruto dan mengamati wajahnya.

"Kau mau apa, Zabuza?" tanya Kabuto. "Aku pemimpin kali ini, jadi apapun yang kau lakukan harus menurut persetujuanku."

Zabuza mendengus. "Kalau bukan karena kau tangan kanan 'Tuan', aku sudah lama menghajarmu," katanya.

'Kriiett…'

Enam pasang mata memandang siluet yang kini berdiri di depan pintu masuk. Cahaya dari luar membantu Naruto untuk mengenali sosok itu.

Ino.

"Kalian mendapatkannya?" Ino berjalan menuju tengah ruangan di mana semuanya berkumpul.

"Tentu saja, Nona… kami tidak mungkin mengecewakan 'Tuan'…" jawab Kabuto.

Seulas senyum licik terlukis di bibirnya. "Baguslah…"

Tatapannya tertuju kepada Naruto yang kini memandanganya penuh benci. Langkahnya berhenti tepat di depan Naruto.

"Sudah kubilang Naruto-kun… kalau aku tidak bisa mendapatkanmu, maka tidak ada yang bisa. Bahkan si Uchiha brengsek itu…" Kemudian ia kembali menuju pintu.

"Kau mau kami apakan anak ini?" Sakon akhirnya bersuara.

Ino mengangkat bahu. "Terserah kalian…" ujarnya sebelum kembali menutup pintu.

"Kalau bukan 'Tuan' yang menyuruh, aku nggak akan pernah mau menuruti perintah cewek sialan itu…" Zabuza kembali bicara.

"Jaga bicaramu… kalau 'Tuan' tahu, kau akan dihukumnya…"

"Cih…" rutuknya.

"Lalu… apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang untuk membuat anak ini menyesal?" tanya Sakon.

"Dia… manis juga… pantas saja si Uchiha itu selalu ada di sekelilingnya…"

Seakan mengerti apa yang dimaksud oleh Zabuza, kelima orang itu bertukar pandang dan menyeringai licik kemudian memandang Naruto dengan tatapan… liar? Pokoknya Naruto merasa ini bukan suatu tanda yang baik. Keringatnya semakin deras membasahi seragamnya.

Dengan gerakan cepat, mereka berlima berhasil melepaskan Naruto dari ikatannya di kursi dan mendorongnya sampai terlentang di lantai. Tak butuh waktu lama sampai Naruto terkunci sempurna, dengan seorang memegang masing-masing tangan dan kakinya dan Kabuto berada di antara kakinya yang terbuka lebar. Ketakutan semakin menguasai dirinya.

Kemudian, Kabuto melepaskan sapu tangan yang ada di mulutnya. Belum sempat berteriak, dirasakannya sepasang bibir yang menekan bibirnya dengan kasar. Dia berusaha memberontak dengan menggerakkan kepalanya, namun tangan Kabuto mencengkeram rambutnya sehingga dia benar-benar tidak bisa bergerak.

Tangan Kabuto yang bebas berusaha melepaskan seragamnya dengan paksa yang membuat beberapa kencingnya terlepas dari tempatnya. Didengarnya empat orang yang lain tertawa melihat aksi Kabuto. Air mata mulai membasahi pipinya.

"Maa… Naruto-kun… kau cengeng ya…" Kabuto tertawa kecil kemudian menjilat air mata di pipi Naruto sebelum beralih ke lehernya.

"Please… stop…" Naruto tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Disadarinya, gudang ini pasti gudang yang terjauh dari gedung utama dan juga jarang dimasuki orang. Sekarang… dia hanya bisa berharap pada satu orang. Sasuke… please… help me…

"Well… kau mau aku berhenti?" kini mata Kabuto menatap lurus pada Naruto yang ada di bawahnya. "… tapi, tubuhmu nggak bilang begitu kok…" Kabuto menyentuh bagian di celana Naruto yang sedikit menonjol yang membuatnya mengerang.

"Tuh kan…" Kali ini, tawanya semakin keras diikuti oleh teman-temannya.

Bibirnya kembali menjelajahi tubuh Naruto. Meninggalkan beberapa bekas merah di sana sini.

"Jangan… please…" rengeknya. "Aku… nggak pernah menyakiti kalian… kenapa…"

"Salahkan nasibmu yang jadi pewaris tunggal perusahaan ayahmu itu…" kali ini, Kidoumaro yang menjawabnya di sela-sela tawanya.

Ketakutan semakin menerpanya ketika tangan Kabuto mulai sibuk melepaskan sabuknya.

"Kumohon… berhenti… jangan lakukan ini…" dia berusaha memberontak.

"AH!" teriaknya ketika dirasakan sebuah benda menusuk kulitnya. Dilihatnya Zabuza yang memegang kakinya menusukkan sebuah pisau ke paha kirinya. Darah mulai mengucur dari luka yang terbuka itu. Walaupun tidak terlalu dalam, tapi cukup untuk membuatnya kesakitan.

"Diam atau kulitmu yang mulus ini akan penuh dengan luka…" ancamnya.

Naruto tidak tahu harus berbuat apalagi. Air matanya masih terus mengalir, begitu juga dengan darah di kakinya. Tubuhnya lemas. Apalagi ketika Kabuto sudah berhasil membuka sabuknya dan berusaha menurunkan resletingnya. Dia hanya bisa mengulang-ulang sebuah nama di kepalanya.

Sasuke… Sasuke… Sasuke…

"BRENGSEK!!"

Dengan cepat, kelima orang yang sedang 'sibuk' itu memandang pintu yang kini terbuka lebar dengan sesosok yang memandang mereka dengan tatapan membunuh.

"Lepaskan dia, brengsek!"

Oke, seorang Uchiha yang sedang marah jelas bukan pemandangan yang menyenangkan. Mereka berlima segera bangkit dan membiarkan Naruto yang masih terengah-engah di lantai.

"Well… sepertinya ada pahlawan kesiangan, ne, Sasuke-kun?" ujar Kabuto. Walaupun berusaha berbicara sebiasa mungkin, terdengar suaranya sedikit bergetar. Hampir semua orang tahu, tidak ada kesempatan menang melawan Uchiha dalam berkelahi.

Dengan isyarat tangannya, keempat rekan Kabuto menyerang Sasuke secara bersamaan. Pukulan dan tendangan menghujani pemuda berambut hitam itu yang dengan mudah dihindarinya.

Kabuto yang melihat Sasuke yang sepertinya di atas angin, segera menarik Naruto dengan kasar. Kemudian dia menahannya dengan tangannya dan mengeluarkan sesuatu dari sakunya yang membuat mata Naruto melebar. Sebuah pistol.

"Ne, Sasuke-kun… kau tak mau isi kepala Tuan Muda kesayanganmu ini menghambur keluar, bukan?" Kabuto mengarahkan pistol itu tepat di pelipis kanan Naruto. Sebelah tangannya yang lain digunakan untuk menahan leher Naruto agar tetap di tempatnya. Naruto sedikit kehilangan keseimbangannya karena luka di paha kirinya.

Sasuke yang masih sibuk dengan empat orang yang lain, mencuri pandang ke arah Kabuto. Sialnya, saat perhatiannya tidak penuh pada pertarungannya sendiri, Zabuza menggunakannya untuk menyerangnya.

"SASUKE!!" teriakan Naruto berhasil menyadarkannya dari apa yang baru saja terjadi. Dilihatnya Zabuza yang sudah menarik pisaunya dari tubuhnya. Darah mengucur deras dari luka di perutnya.

Kabuto tertawa. "Dia bodoh…"

Naruto hanya bisa menyaksikan Sasuke yang kini sepertinya kewalahan menghadapi 2 orang yang tersisa. Kidoumaru dan Sakon sudah berhasil dijatuhkannya. Gerakannya tidak selincah sebelumnya karena luka yang dibuat Zabuza di perutnya tadi.

BRUKK

Satu orang lagi tumbang. Kini, tinggal Zabuza yang masih berdiri.

"Si bodoh itu… mereka memang tidak bisa diandalkan…" Kabuto kini menarik pemicunya, kemudian mengarahkannya kepada dua orang yang masih bertarung. Jarinya bersiap untuk menarik pelatuknya.

"Kau bisa mengenai temanmu sendiri…"

"Asalkan tugas selesai, aku tidak peduli walaupun mereka mati…"

Naruto merasakan perasaan aneh dalam dirinya. Kabuto serius, dia tidak ragu menghabisi siapapun. Dan Naruto tidak akan pernah membiarkan Sasuke mati di hadapannya.

Tanpa pikir panjang, digigitnya tangan Kabuto yang menahan dirinya. Kabuto berteriak kesal. Naruto lalu berbalik menghadapinya dan menendang pemuda berkacamata itu tepat di selangkangannya menyebabkannya meraung dengan keras.

Akhirnya Sasuke berhasil menjatuhkan Zabuza ketika didengarnya raungan Kabuto. Dia segera mengalihkan pandangannya dan melihat Naruto yang sudah berhasil melepaskan diri dari Kabuto dan berlari tertatih-tatih menuju tempatnya.

Namun yang membuat mata onyx Sasuke melebar adalah Kabuto yang sudah berhasil mengatasi rasa sakitnya dan sekarang mengangkat pistolnya ke arah Naruto. Tidak, sampai mati pun dia tidak akan membiarkan Naruto mati di hadapannya.

Segera diraihnya pisau Zabuza yang jatuh di dekat kakinya dan melemparnya tepat ke tangan kanan Kabuto yang menyebabkan dia menjatuhkan pistolnya. Kesempatan itu digunakannya untuk berlari menuju Kabuto dan langsung menjatuhkannya dengan satu pukulan di kepalanya.

Puas dengan hasil kerjanya, dilihatnya Naruto yang memandangnya masih tetap dengan berurai air mata.

"Kau selamat, Naruto…"

Kehilangan terlalu banyak darah, membuatnya tidak bisa menjaga kesadarannya lagi. Dengan cepat, Sasuke terjatuh ke lantai diiringi tatapan ngeri Naruto yang segera berlari untuk mencapainya.

"Sasuke!! Bangun, baka!"

Naruto menaruh kepala Sasuke di pangkuannya. Mata onyx itu tetap terpejam.

"Jangan mati, teme… kumohon…"

Dipejamkannya matanya kemudian didekatkannya bibirnya menuju bibir pucat milik Sasuke. Air matanya jatuh ke pipi pemuda itu. Tidak ada respon.

"Nggak ada gunanya aku selamat sementara kamu…"

Didekapnya kepala pemuda itu di dadanya dengan hati-hati.

"Jangan mati setelah bikin aku jatuh cinta sama kamu, Sasuke…"

Naruto mencium puncak kepala Sasuke dengan sayang.

"… Aishiteru…"

-TO BE CONTINUED-


Cha's Note:

Er…

Bad Scene!

Bad Chapter!

Bad Cha!

No comment!

Need Review, Key??!

Balas review dulu:

# Nazuki. Rinchan: yeh… Rinchan loncat-loncatan bacanya? Nggak capek ya? –lemot mode on- Makasih udah nunggu. Semoga chapter ini dan yang berikutnya ditunggu juga…

# FreiyA_SnowDropS: Makasih udah setia nungguin cerita Cha. Cha juga bakal setia ngeapdet walopun banyak halangan rintangan membentang tak jadi masalah dan tak jadi beban pikiran (??). wah… Frey jangan ampe mati penasaran… Cha nggak mau ditangkap sebagai pembunuh… -lebay mode on- Terus RnR yo…

# D1aNdr4_g0n: akhirnya… Cha bisa bikin lo bilang fict Cha menarik… hohohho… senangnya… Mau curhat… FS CHA SEPI!!! Huhuhu… baru ditinggal 2 bulan juga… fs lo gimana kabarnya tuh?

# Chiaki Megumi: Sasuke mah di fict Cha perasaan salah tingkah mulu dah… kepalanya kebentur tembok kali ya?

# Lovely Lucifer: ya ya… Naruto emang hebat! Cuma dia yang bisa bikin Sasuke kaya gitu. Kencan ya? Tunggu aja di chap selanjutnya. Nggak akan gitu-gitu aja kok. Emang ini agak lambat alurnya, jadi untuk hubungan mereka sedikit lebih maju, agak lama juga. Tungguin aja ya!

# dilia shiraishi: dilia, jangan jatuh cinta ama Cha! –digebuk massa-. Ya ya, ayo kita benci Ino!! Hehe… bukan berarti Cha benci Ino ya, emang dia lagi sial aja tuh dapet peran antagonis… -lo kata film Cha?-

Thanks for all reviewers:

BrunoNadhGravano, Nazuki. Rinchan, Niero-SilvaUchiSa, 5 Sekawan, FreiyA_SnowDropS, D1aNdr4_g0n, Chiaki Megumi, Kristi Tamagochi, VongoLa-al, Lovely Lucifer, yue asahi, dilia shiraishi, Uzumaki-Uchiha-Inuzuka, Sefa-sama, Aiko-tantan.

With Love

_Charlotte.d'Cauchemar_